- Dulu Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh terkenal dengan cengkihnya. Saat musim panen tiba, angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau.
- Namun kini, aroma khas cengkih itu semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih petani tidak berbunga, banyak pula yang mati. Seluruh daunnya berguguran, hanya menyisakan batangnya yang kering.
- Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang menunjukkan selama lima tahun terakhir, jumlah tanaman cengkih yang rusak terus meningkat. Pada tahun 2025, jumlahnya naik mencapai 519 tanaman.
- Selain itu, puluhan tahun terakhir, musim panen cengkih di Kota Sabang juga sudah tidak lagi menentu. Siklusnya berubah.
Dulu aroma cengkih semerbak menguar dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Apalagi, ketika musim panen tiba, para petani menjemur cengkih di teras depan rumah. Angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau.
Sebelum Sabang berkembang sebagai destinasi wisata, ia terkenal sebagai salah satu sentra penghasil cengkih unggulan di Aceh, selain Kabupaten Aceh Besar, Simeulue, dan Aceh Barat Daya. Pada masa itu, banyak orang menyeberang ke Sabang untuk ikut memanen kuncup bunga cengkih ini.
Di Kota Sabang, tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) dari keluarga Myrtaceae tumbuh dan tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Weh, mulai dari Balohan, Jaboi, Anoi Itam, dan di desa-desa lain di Kecamatan Sukamakmue, Sukajaya, dan Sukakarya.
Kini, Kota Sabang mulai kehilangan aroma cengkihnya terganti dengan pekatnya aroma laut. Tahun ini, banyak pohon cengkih tak berbunga, banyak yang mati. Seluruh daun berguguran dan menyisakan batang yang kering.
Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, bilang, dari kebun yang dia jaga seluas empat hektar dengan 520 pohon hanya 40 yang berbunga dan bisa panen tahun ini.
“Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya, Senin (20/7/26).
Setidaknya, selama 10 tahun terakhir, Sayuti merasakan panen cengkih tak lagi tiap tahun seperti sebelumnya. “Kalau tahun ini semua pohon berbunga, biasanya tahun berikutnya sering kali banyak yang tidak berbunga,” katanya.
Tak hanya itu, pohon cengkih juga lebih sensitif dan perlu perawatan ekstra seperti pupuk agar tak mudah mati dan punya hasil panen yang berkualitas. “Dulu, itu tidak perlu pupuk, kalau sekarang wajib diberi pupuk biar tidak mati,” katanya.

Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Hasil panen tak menentu
Serupa dengan kebun Hendra, petani cengkih lain di Desa Balohan, Kecamatan Sukajaya, Sabang. Musim panen tahun ini jauh dari harapannya, 10 dari 35 batang cengkih mati. Pohon tersisa pun tidak berbunga lebat. Biasanya satu batang dia dapat tujuh kg bunga cengkih per batang, tahun ini hanya dua kg saja.
“Sudah sering seperti ini. Habis panen, kemudian kalau masuk musim kemarau, rata-rata banyak pohon yang mati,” kata Hendra, Selasa (21/7/26).
Baginya, itu sudah gagal panen. “Kalau hasilnya begini, anggap saja gagal panen karena nggak dapat untung.”
Hasil panen mereka, katanya, bahkan belum mampu menutupi biaya perawatan cengkih yang butuh waktu panjang untuk menghasilkan bunga. Sejak tanam, pohon cengkih baru dapat panen pertama kali setelah sekitar 4–5 tahun. Setelah itu pun, bunga cengkih hanya bisa petik setiap 7–9 bulan sekali.
Kondisi penurunan hasil panen juga terlihat dari jumlah cengkih yang masuk ke Munar, pengepul terbesar di Kota Sabang. Tahun ini, hanya 110 ton cengkih yang dia terima, jauh lebih rendah dari normalnya 250 ton tiap musim panen.
“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini yang sudah dikirimkan sampai tanggal 15 Juli kemarin memang jauh lebih berkurang karena musim panen kecil,” kata Toke Munar, Kamis (23/7/26).
Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang juga menunjukkan, bahwa selama lima tahun terakhir, tanaman cengkih yang rusak terus meningkat. Pada 2025, jumlah naik sampai 519 tanaman.
Siklus panen bergeser
Puluhan tahun terakhir, musim panen cengkih di Kota Sabang sudah tak menentu. Siklus berubah. Setelah panen melimpah, hasil panen tahun berikutnya akan menurun bahkan bisa jadi tidak ada hasil sama sekali. Petani panen banyak lagi cengkih pada tahun setelahnya.
Petani di Sabang mengenal pola ini dengan musim panen besar dan musim panen kecil. Munar bilang tanaman cengkeh di Kota Sabang biasanya berbunga lebat dua tahun sekali karena membutuhkan masa pemulihan batang setelah panen besar. Biasanya petani memberikan pupuk tambahan agar tetap panen tiap tahun.
“Tahun ini penyebab kurangnya karena lagi di musim panen kecil, selain juga karena kemarau panjang,” katanya.
Nasib Mariani, petani di Paya Seunara, lebih buruk. Dia yang sudah 40 tahun menggarap kebun cengkih bilang, tidak mengenal musim panen besar dan panen kecil. Sebab, hampir tiap tahun, pohon-pohon cengkihnya selalu berbunga.
Namun, tiga tahun terakhir, siklusnya berubah. Tanaman cengkih di kebunnya sulit berbunga. “Kalau tahun ini di kebun petani lain ada. Di kebun kami, memang tidak ada sama sekali. Tahun-tahun sebelumnya padahal ada, walaupun cuma 200–300 kg,” katanya Rabu, (21/7/26).
Normalnya, Mariani bisa memanen cengkih hingga satu ton dari 100 batang cengkih di kebun seluas satu hektar tetapi tahun ini, dia hanya panen 10 kg saja. Padahal, pohon cengkihnya terlihat sehat, hanya tidak berbunga.

Iklim dan hama
Marizal, Plt. Kabid Perkebunanm Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, menjelaskan, siklus panen cengkih di Kota Sabang mulai berubah sejak 2000-an.
Tahun-tahun sebelumnya, komoditas unggulan di Sabang itu bisa panen tiap tahun dan hampir merata di seluruh wilayah. Tak ada istilah panen selang setahun atau musim panen besar dan panen kecil.
Sekarang, masa panen berlangsung selang setahun dan bergiliran antar kecamatan. Sebagai contoh, jika tahun ini panen melimpah di Kecamatan Sukakarya, maka tahun depan akan bergeser ke Kecamatan Sukajaya, begitu seterusnya.
“Bagi petani, karena masih kurang pengetahuan tentang perubahan iklim, jadi menganggap masa panen seperti itu normal, padahal sudah terganggu oleh perubahan iklim. Kalau dulu kita bisa deteksi kapan terjadi musim hujan dan kemarau. Kalau sekarang sudah tidak bisa lagi,” katanya, Kamis (23/7/26).
Selain itu, gagal panen cengkih tahun ini juga karena hama penggerek batang dan cacar daun yang membuat batang cengkih mati total.
Kemudian, jamur akar putih (Rigidoporus sp.) juga memicu gagal panen. Bakteri atau jamur ini menyerang akar, lalu membuatnya membusuk dan menghitam.
Serangan biasa terjadi saat peralihan musim. Ketika musim kemarau, kurangnya ketersediaan air tanah membuat tanaman cengkih yang terinfeksi tidak mampu bertahan sehingga batang mengering dan mati.
Serangan hama ini pernah membuat cengkih gagal panen massal di Kecamatan Sukajaya, Sabang pada 2023–2024. Hama baru mereka ketahui setelah ada penelitian tim Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Sumatra Utara.
Penanggulangan pun melalui tim organisme pengganggu tanaman (OPT) Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang dengan cara memberikan biofungisida trikoderma untuk mengendalikan hama secara alami.
“Saat ini serangan hamanya sudah normal, hanya 1–2 batang saja, tidak seperti pada 2023 semacam virus yang mewabah,” katanya.
Menurut Marizal, musim kemarau tidak menjadi satu-satunya penyebab dari gagal panen pada tahun ini. Sebab, kekeringan bisa jadi memperparah kondisi tanaman yang sudah terinfeksi hama sebelumnya.
“Kalau petani awam memang mengatakan musim kemarau menjadi penyebab gagal panen tahun ini karena tanamannya kekurangan air, sebagian juga ada yang sudah memahami bahwa ada bakteri di akar.”

Tren curah hujan turun, suhu meningkat
Petani cengkih kini menghadapi musim yang tak menentu. Data iklim menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perlahan berubah, curah hujan kian berkurang dan suhu udara yang meningkat.
Rentang 1981–2025, Stasiun Meteorologi Maimun Saleh di Sabang mencatat, curah hujan tahunan turun dengan laju 15 mm per tahun serta suhu udara rata-rata harian meningkat sebesar 0,012°C per tahun.
Muhajir, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Aceh, menjelaskan, pada 2016–2024 juga terjadi variabilitas iklim yang tinggi di Kota Sabang. Seringkali terjadi hujan dengan intensitas >50 mm/dasarian di tengah periode musim kemarau, atau sebaliknya, curah hujan justru berkurang saat musim hujan.
Dia juga menyebutkan, secara klimatologis, Sabang masuk dalam Zona Musim Aceh 05 dengan normal musim selama delapan bulan mulai Februari–September. Namun, awal musim kemarau mengalami variasi dalam periode 2016–2025. Awal kemarau bahkan terjadi lebih cepat pada 2018–2023.
Kondisi kering di Sabang, katanya, makin parah ketika ada fenomena El-Nino tahun ini pada periode Mei–Agustus yang merupakan musim puncak kemarau. Sedang El-Nino memicu penurunan curah hujan hingga 30%.
“Peta Komposit Hujan saat kondisi La Nina menunjukkan pada periode OND (Oktober–November–Desember) ada penurunan curah hujan hingga 10%. Periode DJF (Desember–Januari–Februari) menunjukkan, ada peningkatan curah hujan hingga 10%,” katanya, Rabu (28/7/26).
Data BMKG memproyeksikan, curah hujan di Sabang akan terus menurun pada 2071–2100 hingga 5%, sedangkan suhu naik hingga 1.6°C.

Ireng Darwati, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bilang, idealnya cengkih perlu curah hujan sekitar 1.500–3.500 mm pertahun untuk dapat berbunga.
Kemudian, fase kering sekitar 2–3 bulan untuk pembungaan. Jika musim kering memendek atau hujan turun terus, bunga bisa gagal terbentuk.
“Pucuk tunas yang sudah membentuk bunga akan berubah menjadi daun jika hujan turun terus-menerus,” katanya, Jumat (28/7/26).
Dia juga bilang hal itu bukan hanya akan berdampak pada lebih sedikit bunga, melainkan juga pada pergeseran waktu berbunga yang menyebabkan fluktuasi hasil antar tahun akan terjadi lebih sering jika kondisi iklim mikro tidak mendukung pada waktu pembungaan.
“Umumnya cengkih akan berfluktuasi setiap 3-4 tahun sekali.”

Adaptasi dan intervensi pada tanaman cengkih
Marizal mengklaim, dampak perubahan iklim sebenarnya tidak akan terlalu signifikan jika petani melakukan perawatan intensif seperti penanggulangan dan pemupukan jauh-jauh hari.
“Kami juga menyarankan agar menanam tanaman hortikultura seperti pisang di sela-sela tanaman cengkih untuk membantu penyerapan unsur hara lebih optimal. Kalau ada ilalang atau rumput-rumput juga dibiarkan saja, jangan dibersihkan. Karena dapat menahan air sehingga dapat melindungi tanah dari kekeringan,” katanya.
Sejalan dengan itu, Ireng juga bilang, pemupukan pada tanaman cengkih kini menjadi makin penting. Menurut dia, kombinasi faktor seperti penurunan kesuburan tanah, perubahan pola budidaya, dan perubahan iklim membuat petani tidak lagi dapat mengandalkan kesuburan alami tanah seperti sebelumnya.
“Dengan kata lain, dulu cengkih bisa terlihat ‘mandiri’ karena kondisi lahan dan iklim lebih mendukung, sedangkan sekarang sistem produksinya menuntut pengembalian hara yang lebih aktif,” katanya.
Perubahan iklim, kata Ireng, ikut memperkuat kebutuhan pupuk karena mengganggu efisiensi penyerapan hara dan kestabilan produksi. Terlebih, curah hujan yang terlalu tinggi dapat melindi unsur hara, sementara kemarau atau pola hujan yang tidak menentu membuat akar sulit menyerap nutrisi.
“Pada cengkih, perubahan musim hujan, penyinaran, dan suhu juga berkaitan dengan fluktuasi pembungaan dan produksi sehingga pemupukan sering dipakai sebagai strategi adaptasi agar tanaman tetap produktif,” katanya.
Meskipun begitu, kata Ireng, bahwa strategi adaptasi untuk cengkih di kondisi cuaca makin tak menentu ini ialah dengan meningkatkan manajemen kebun, bukan hanya menambah pupuk terus-menerus.
“Penggunaan bibit dari pohon induk terpilih, pemupukan berimbang, sanitasi kebun, pengendalian hama penyakit, dan perbaikan pola tanam tetap menjadi kunci menjaga produktivitas.”
*****