- Kehidupan Krisna tidak bisa jauh dari penyelamatan orangutan.
- Bersama tim Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL-OIC, Krisna mendatangi berbagai lokasi untuk menyelamatkan orangutan. Tidak jarang, mereka manjat pohon besar untuk menyelamatkan orangutan dan memindahkannya ke tempat rehabilitasi.
- Keberhasilan tidak selalu berarti ketika ada individu orangutan berhasil dievakuasi. Konflik yang dapat diselesaikan tanpa memindahkan satwa, justru keberhasilan nyata.
- Orangutan harus tetap liar di hutan, hidup bebas di rumahnya sendiri.
Telepon genggam Krisna tidak pernah mati. Dering itu menjadi bagian hidupnya, sepanjang 15 tahun. Setiap panggilan, artinya ada orangutan dalam bahaya.
“Tidak jarang, kondisinya lemah, terluka, atau terisolasi,” jelasnya, Jumat (14/8/26).
Bersama tim Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL-OIC, pemilik nama asli Suhendar ini, mendatangi berbagai lokasi. Tim terkadang berhari-hari mencari orangutan sumatera yang terjebak di kebun warga atau kawasan hutan.
“Tidak jarang, kami manjat pohon besar. Kemudian, kami pindahkan orangutan itu ke tempat rehabilitasi.”
Bagi Krisna, belasan tahun di lapangan, hutan dan kebun seperti dua ruang saling berhimpitan. Di satu sisi, ada manusia yang menggantungkan hidup dari kebun, di sisi lain ada orangutan yang datang mencari pakan, karena habitatnya menyempit.

Di tengah dua kepentingan itu, Krisna berdiri. Dia tidak hanya berhadapan dengan satwa liar, tetapi juga dengan manusia yang memiliki kebutuhan dan hak untuk merasa aman.
“Ketika orangutan masuk kebun, masyarakat merasa tanaman mereka dirusak. Di sisi lain, orangutan hanya mencari makan karena sumber pakan di wilayah jelajahnya makin sulit.”
Bagi Krisna, konservasi bukan hanya menentukan siapa yang benar atau salah. Hal paling penting adalah solusi agar perjumpaan manusia dengan orangutan tidak berakhir dengan penderitaan.
Keberhasilan juga tidak selalu berarti ketika ada individu orangutan yang dievakuasi. Konflik yang dapat diselesaikan tanpa memindahkan satwa, justru keberhasilan nyata.
“Harapan saya, manusia dan orangutan bisa hidup harmonis dan evakuasi menjadi pilihan terakhir.”

Berawal dari kebingungan
Krisna lahir di Langkat, Sumatera Utara, pada 1987. Setelah menamatkan sekolah menengah atas, awalnya dia tidak memiliki rencana bekerja di wilayah konservasi.
Syafrizaldi Jpang, Direktur YOSL-OIC, menyebut Krisna pernah berada dalam kegelisahan seperti banyak anak muda seusianya.
“Krisna tumbuh dari kegelisahan yang berkecamuk di angkatan seusianya,” jelasnya, Jumat (14/8/26).
Kesempatan datang pada 2008. Saat itu, YOSL-OIC melakukan restorasi hutan Taman Nasional Gunung Leuser di Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Sumatera Utara.
“Dia bergabung kegiatan tersebut. Dari restorasi, kecintaannya pada alam berkembang.”

Tahun 2010, Krisna bergabung dengan tim HOCRU. Setahun kemudian, dipercaya menjadi koordinator lapangan hingga 2020. Sejak itu, hutan, kebun, dan satwa liar menjadi bagian kesehariannya.
Krisna awalnya lebih banyak mengandalkan pengalaman lapangan. Namun, kesadarannya berubah. Dia mengikuti berbagai pelatihan, mulai mitigasi konflik manusia-orangutan, respons satwa dalam bencana, teknik penyelamatan, Conservation Peacebuilding Training di Tanzania pada 2019, hingga Durrell Endangered Species Management Graduate Certificate di Jersey, Inggris, tahun 2025.
“Dia sosok gigih dan berpihak pada kepentingan konservasi satwa liar liar.”
Pada 2021, Krisna sempat meninggalkan HOCRU dan dipercaya sebagai Head Keeper serta Rescue Coordinator Sumatran Rescue Alliance (SRA), yang menangani rehabilitasi orangutan, siamang, serta beruang.
Namun, konflik antara manusia dan orangutan memiliki tempat spesial di hidupnya. Pada Juni 2022, dia kembali ke HOCRU dan terhitung Januari 2023, Krisna dipercaya sebagai Manager HOCRU.
Tanggung jawabnya bukan hanya pada penyelamatan orangutan. Dia juga memikirkan bagaimana konflik dicegah, masyarakat dilibatkan, tim bekerja, dan satwa kembali ke alam liar.
“Dia tulang punggung tim, mulai penyelamatan hingga pelepasan ke alam liar.”

Bukan sekadar menyelamatkan
Krisna kini bekerja di dua bentang alam penting orangutan, Kawasan Ekosistem Leuser (orangutan sumatera) dan hutan Batang Toru (orangutan tapanuli). Di kawasan tersebut, ruang hidup orangutan makin dekat dengan kehidupan manusia.
“Tantangan terbesar kehidupan orangutan adalah konflik dengan manusia karena habitatnya rusak,” ujarnya.
Dia tidak ingin pekerjaannya berhenti pada evakuasi. Setiap ada orangutan yang diselamatkan, merupakan tanda ada persoalan besar di hutan.
“Setiap orangutan yang harus dievakuasi merupakan tanda terganggunya ekosistem,” ujar Krisna.

Dia berharap, kedepannya tidak ada orangutan terluka akibat konflik. Tidak ada lagi orangutan yang diambil dari rumah seseorang.
“Orangutan tetap liar di hutan, hidup bebas di rumahnya sendiri.”
*****
Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?