- Petani Damar di Tabarano, Sulawesi Selatan, waswas kebun damarnya jadi tambang nikel PT Vale.
- PT Vale telah mengeluarkan rencana penambangan di wilayah sebaran pohon damar milik warga. Perusahaan menyebutnya sebagai Blok Cinacina. Tapi dokumen resmi menyebutnya bagian dari Sorowako Outer Area (SOA) dalam blok Larona.
- Huali Nikel akan membangun pabrik di wilayah Gunung Batu, bersisian dengan kompleks pabrik pemurnian Vale di Sorowako. Pabrik ini kelak akan mengelola ore jenis limonit yang kemudian dijadikan seperti lumpur, yang selanjutnya dikirim melalui saluran pipa ke PT IHIP di Desa Harapan, yang juga berdekatan dengan Mangkasa Point – dermaga angkut minyak Vale.
- Dalam peta tumpang susun tingkat kerawanan bencana, KPA menemukan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Vale berada dalam zona rawan gempa dengan tingkatan sedang dan tinggi. Praktik itu, menempatkan masyarakat dalam ancaman yang nyata.
Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu.
“Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata pria 38 tahun itu.
Sejak pagi, Alex dan puluhan pria dari berbagai usia bekerja di sana. Mereka berkumpul, bersendagurau, saling mengingatkan untuk hati-hati dan saling meledek. Ada yang tertawa, ada yang berteriak girang. Beberapa orang bilang pada saya, jika hidup secara gotong royong di Tabarano masih berlangsung.
Orang-orang itu mengundang saya datang pada Minggu, dua hari selanjutnya. Mereka akan menggelar pesta syukur panen atas limpahan penghasilan dari tanah kebun dan pertaniannya.
Dalam gelaran syukur panen itu akan ada tarian dan hiburan. Makanan tentu saja akan tersaji di meja dan semua orang bisa mencicipinya. Setiap rumah akan membuat peong–sejenis lemang–yang selalu menjadi rebutan. Hingga berbagai macam kue olahan.
Selanjutnya pada malam syukur akan ada tarian dero. Tarian yang memungkinkan siapa pun untuk ikut bergabung. Tarian bagi anak muda hingga orang tua meluapkan kegembiraan. Gerakan saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran.
Saat beberapa pria masih saling berbagi rokok di pinggir lapangan sembari mengawasi pembangunan rangka, seorang pria lain berteriak. Makan siang sudah siap di salah satu rumah warga. Beberapa saat kemudian, orang-orang berjalan meninggalkan lapangan.
Saya menjadi bagian dari kumpulan warga yang menyantap menu makan siang itu. Rasanya sungguh menyenangkan, memegang piring dan mencari sendiri tempat duduk. Ada yang duduk di batu, ada yang berjongkok, ada pula yang berdiri.
“Makan memang, siapa tahu ini pesta panen terakhir, sebelum kebun-kebun ditambang,” kata beberapa warga.
Ketika orang-orang membubarkan diri, kami duduk di kursi plastik. Dia menunjuk satu kawasan kecil tepat di belakang kampung. Tampak beberapa pohon berdiri tegak, tetapi sekeliling menjadi kebun merica dan tanaman palawija.
“Hanya itu yang tersisa dari kebun damar yang dekat kampung. Kebun damar lainnya, ada di sebelah bukit,” katanya.
“Di belakang itu kebun, rencananya perusahaan akan tambang. Sudah ada yang membuat jalan. Kalau masuk ke sana, beberapa penjaga dari perusahaan akan meminta KTP (identitas). Mungkin untuk pastikan pendatang atau bukan.”

Petani damar mulai waswas
Alex adalah petani penyadap getah damar. Dia generasi ketiga yang meneruskan pekerjaan itu dan sangat bangga menceritakannya. “Saya tidak pernah kerja di tempat lain. Saya dan keluarga hidup dari damar,” katanya.
Pohon-pohon damar itu warisan leluhurnya, beberapa pohon sudah sangat besar. Dia selalu terkesan ketika berjalan di bawah naungannya. Untuk mencapai wilayah kelola damarnya, Alex menggunakan motor melalui jalan tani, sekitar 30 menit.
Di sekitar hamparan damar itu, ada kolam pemancingan warga. Sejatinya, kolam itu hanyalah penanaman yang merupakan bantaran sungai Larona yang memiliki genangan tinggi di sisi tebing batu.
Permukaan air yang naik itu karena PT Vale membangun bendungan yang jadi PLTA Larona. Di tempat pemancingan, warga biasanya mendapatkan ikan gabus, nila, mas, bahkan sidat jika beruntung.
Alex mengelola sekitar 200 pohon damar yang tersebar di hamparan hutan. Dia tak tahu berapa luasannya, tetapi bersama rumpun keluarga lain, mereka saling mengenal kepemilikan damar.
Tahun 2025, Alex pernah memanen 500 kg getah damar dari 50 pohon. Jika saat ini harga setiap kilogram damar Rp17.000, maka nilai panen Rp8.500.000.
Baginya, uang dari panen damar sudah memenuhi kebutuhan keluarga.
“Damar itu bisa panen empat kali setahun. Jadinya, kalau lagi kuat dan punya kebutuhan mendadak lainnya, saya panen lebih banyak. Kalau kebutuhan sudah dianggap cukup, saya istirahat,” katanya.

Kini dia gundah. Vale sudah mengeluarkan rencana penambangan di wilayah sebaran pohon damar miliknya. Perusahaan menyebutnya sebagai Blok Cinacina tetapi dokumen resmi menyebut bagian dari Sorowako Outer Area (SOA) dalam Blok Larona.
Vale adalah perusahaan pertama Indonesia yang mengelola pertambangan nikel. Pabrik utamanya berada di Sorowako, Kecamatan Nuha. Pembangunannya dimulai tahun 1968 dan produksi komersil pertamanya tahun 1978.
Perusahaan mendapat konsesi melalui skema Kontrak Karya pertambangan dan pengolahan biji besi tahun 1968, yang luasnya mencapai 118.435 hektar, meliputi wilayah Sulawesi Selatan (70.566 hektar), Sulawesi Tengah (22.699 hektar) dan Sulawesi Tenggara (24.752 hektar).
Setiap tahun, Vale memproduksi 73.000 ton nikel dalam bentuk produk nickel matte, bahan setengah jadi yang berbentuk pasir hitam. Produk matte itu kemudian mereka angkut dari Sorowako menuju Pelabuhan Balantang di Malili, kemudian sebagian besar di ekspor ke Jepang melalui perusahaan Sumitomo Metal Mining.
Jarak Sorowako menuju Malili, juga merupakan pusat Kabupaten Luwu Timur sekitar 60 kilometer. Jalan tambang produksi itu menerobos hutan yang melintasi Kampung Karebbe, Balambano, Togo, Wasuponda, Asuli, dan Sorowako.
Vale membangun jalur itu. Sementara jalur awal lebih jauh dan memutar melewati Ussu, Landangi, Wasuponda, Tabarano, Lioka, Timampu, dan Sorowako. Jalur lama ini memerlukan sekitar tiga jam perjalanan. Sedang jalur baru lebih cepat, hanya 1,5 jam.
Siang itu, saat sedang makan bersama warga, beberapa orang membicarakan ihwal kampung dan wilayah kelola mereka jadi bagian dari konsesi. Mereka terusik karena rencana penambangan sudah mulai. “Kenapa baru sekarang. Kenapa tidak dari dulu. Ada apa?” kata mereka.
Seorang analis sampel batuan dan mineral Vale bercerita pada saya. Dia bilang, perusahaan tidak melirik Tabarano, karena grade nikelnya grade 1,2. Nikel dengan grade antara 1-1,5 tergolong rendah, yang selanjutnya mereka sebut limonit.
“Itu smelter di Vale teknologi lama. Jadi bahan bakunya harus nikel yang grade-nya 1,7 ke atas,” katanya.
Dia bilang, karena sudah ada kerjasama dengan perusahaan PT Huali Nickel Indonesia (HNI) maka mulai mereka kerjakan.
HNI mengelola Indonesia Huali Industry Park (IHIP), ini salah satu proyek ambisius Pemerintah Indonesia dalam skema proyek strategis nasional (PSN) dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) 21/2022. Pada 28 November 2023, keluar Surat Keterangan Status PSN oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).
IHIP akan membangun kompleks industri pemurnian nikel di pesisir laut Teluk Bone. Dalam dokumen pengajuan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) , November 2025, secara total luasan kawasan itu mencapai 13.104,05 hektar dan fasilitas pendukung di sisi perairan seluas 180,86 hektar. Lokasi IHIP ini berada di Desa Harapan, Laskap, dan Pongkeru, Kecamatan Malili, Luwu Timur.
HLNI akan beroperasi di Sorowako, tanpa area pertambangan. Perusahaan itu akan menampung penambangan dari perusahaan lain, seperti Vale. HLNI dan IHIP adalah bagian yang sama dalam naungan grup besar, Huaxing Nickel Limited di Hongkong.
Dokumen Ditjen AHU yang Mongabay akses pertengahan Juni menyebut, IHIP memiliki modal total 75.000 lembar saham atau setara Rp75 miliar. Pemegang dan pengurusnya masing-masing, GT Denny Ramdhani (direktur), Huaxing Nickel Limeted, Nyonya Xi Hong, PT Malili Industrial Nusa Utama, PT Rimau Jaya Investama, PT Rimau Multi Investama, Tuan Zou Chenjie dan Welly Susanto sebagai komisaris utama.
Denny Ramdhani dan Welly Susanto, bermukim di Kalimantan Selatan. Denny dan Welly adalah nama pengusaha yang mengelola pertambangan batubara melalui perusahaan PT Dana Brata Luhur Tbk (DBL), juga menjabat sebagai direktur utama dan direktur.
DBL juga terafiliasi dengan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Dia mengendalikan perusahaan ini melalui PT Dua Samudera Perkasa dengan kepemilikan saham 76,91%. Hal ini juga mengonfirmasi kedatangan Haji Isam pada 13 Juli 2026, di lahan yang akan jadi lokasi IHIP.
Mongabay coba mengontak Haris, Manager External HLNI, 19 Agustus 2026, namun tidak ada tanggapan. Meski, dia membalas pesan. “Saya ingin tahu jelas dahulu terkait perusahaan dan untuk apa ini,” tulisnya.
Ketika saya menjelaskan tentang konfirmasi sebagai kerja jurnalistik. Dia hanya membaca pesan dan tak lagi merespons.

Masa depan petani Luwu Timur suram?
Huali Nikel akan membangun pabrik di Gunung Batu, bersisian dengan kompleks pabrik pemurnian Vale di Sorowako. Pabrik ini kelak akan mengelola ore jenis limonit yang kemudian jadi seperti lumpur, yang selanjutnya kirim melalui saluran pipa ke IHIP di Desa Harapan, yang juga berdekatan dengan Mangkasa Point–dermaga angkut minyak Vale.
Di Sorowako proses kerjasama ini mulai nampak. Di kawasan Enggano, persimpangan jalan menuju Sorowako dan Kecamatan Towuti, sudah terlihat beberapa kendaraan alat berat berjejer rapi milik perusahaan lain.
“Kerjasama ini merupakan bagian dari proses kerjsama pengembangan hilirisasi nikel dimana Huayou Nickel Cobalt sebagai teknologi providernya,” kata Budiawansyah, Direktur & Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale.
Budiawansyah adalah wajah Vale di beberapa media. Dalam keterangan resminya, dia bilang Vale sebagai pemegang amanat pengelolaan kawasan tambang mendukung hilirisasi mineral, akan terus evaluasi atas kondisi penghidupan masyarakat, baik keberadaan kebun, akses memanfaatkan hasil hutan seperti damar.
“Sesuai peraturan perundangan dilakukan proses pergantian tanam tumbuh, beserta potensi kehilangan penghasilan dan faktor lainnya,” katanya.
Perjalanan pipa pengantar ore ini, berjarak sekitar 60 kilometer. Pipa ini kelak akan mengikuti jalur minyak Vale. Ali Bastian, tokoh masyarakat Desa Lioka, Kecamatan Timampu, terkejut mendengar rencana itu.
“Jadi benar juga, lahan warga yang dilewati pipa minyak Vale itu sudah dibebaskan seluas 15 meter masing-masing sisi. Jadi nanti pipa ore itu akan berada di dekatnya,” kata kakek 71 tahun ini.
“Wah cerdas memang orang-orang. Jadi, perusahaan baru sudah tidak mengeluarkan uang lagi untuk pembebasan karena sudah dilakukan Vale,” lanjutnya.
Di Tabarano saya meyaksikan pipa minyak itu menerobos areal persawahan warga. “Jadi nanti akan ada dua pipa di sawah itu. Pasti itu berbahaya juga untuk petani,” kata Alex.
Wahyu, anak muda di Tabarano, geram. Pada 3 Juni 2026, Pemerintah Kecamatan Wasuponda mengirimkan surat untuk fasilitasi pertemuan petani Tabarano dengan Vale. Pembahasannya mengenai upaya kompensasi perusahaan.
“Kalau dikompensasi apakah itu selesai. Berapa nilai uangnya. Bisa bertahan berapa lama itu,” katanya.
Baginya, pertanian adalah menyelamatkan tanah untuk terus dapat mereka teruskan ke generasi selanjutnya.
“Kalau sudah tidak ada tanah, semua orang kerja di perusahaan seperti yang dijanjikan, apakah ada jaminan mereka bisa hidup sejahtera?”
Dia terus melampiaskan kekesalannya. Di halaman Kantor Kecamatan Wasuponda, bersama beberapa petani, mereka berdiri dan saling menguatkan. Bagi mereka, orang-orang yang sudah tinggal di luar Tabarano, akan lebih mudah melepaskan lahannya dengan kompensasi.
“Tapi kami yang akan tinggal di Tabarano, kami dapat apa. Dapat kerusakan lingkungan, dapat debu.”
Dokumen Adendum Amdal Vale menyebut Tabarano bagian dari Blok Larona. Tahun 2005, Vale telah menyelesaikan 365 lubang bor. Penambangannya mulai 2023-2045. Kemudian lanjut di Blok Lantoa 2026-2040. Lalu di Blok Tanamalia 2041-2045.
Ekspansi Vale dalam produksi nikel terus meningkat. Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang terbit Januari 2018 itu merencanakan produksi hingga 225 juta pon nikel pertahun, setara 102.000 ton nikel matte per tahun.

Pohon-pohon damar akan musnah…
Dalam peta pengoboran Vale, Tabarano masuk dalam wilayah konsesi Kontrak Karya. Luasan itu kelak akan menjadikan kawasan pertanian warga makin menyempit. Ribuan pohon damar yang tersebar kelak akan musnah.
“Kini warga bicara mengenai nilai dan besaran ganti rugi tanaman. Mereka tidak pernah memikirkan, jika hutan itu lenyap, sumber air dan kesehatan pada tanaman pertanian lainnya akan menurun,” kata seorang warga.
Di Tabarano suara warga mulai terpecah. Ada yang mendukung dan ada yang menolak.
Alex berada di tengah-tengah kisruh itu. “Saya ini orang biasa. Kalau saya bertahan, sementara yang lain menerima, itu bagaimana? Damar saya pasti tidak bisa dipanen lagi,” katanya.
“Saya mau jika semua petani damar, bersepakat untuk menolak. Pasti saya juga ikut, Kalau mau hitung-hitungan, ganti rugi itu, apakah bisa Vale memberikan kompensasi ekonomi hingga generasi cucu saya,”
“Perusahaan tidak akan melihat itu. Mereka patuh pada kepemilikan aset dan berburu produksi dan keuntungan,” kata Rizki Anggriana Arimbi, Koordinator Wilayah Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulawesi Selatan.
Menurut dia, demam nikel yang terus berlanjut dan akan mencapai puncaknya pada 2030. Maka, konflik dengan warga pun akan terus terjadi.
Di Luwu Timur, Vale yang menguasai seluas 70.566 hektar, yang juga bersisian sebanyak 20 desa.
“Jika fakta ini diperhitungkan sebagai ancaman yang akan menjadi fenomena gunung es, maka konflik agraria akan meledak secara terus menerus dan bencana ekologis seperti kerusakan hutan, kerusakan sungai, danau hingga sumber-sumber pertanian pangan akan terus terjadi hingga tiga dekade ke depan,” katanya.
“Jika tak ada perubahan mendasar dan ironisnya Luwu Timur merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki resiko bencana tingkat tinggi dengan jalur patahan sesar Matano.”
Apa yang masyarakat Tabarano alami, katanya, melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan dalam struktur agraria yang tajam. Kemiskinan, kriminalisasi hingga kerusakan lingkungan, bagi Vale menyelesaikannya dengan biaya ganti rugi atau kompensasi tanaman.
“Jadinya, investor termasuk Vale mendapatkan perlindungan absolut dari rezim pemerintah Indonesia.”
Dalam peta tumpang susun tingkat kerawanan bencana, KPA menemukan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Vale berada dalam zona rawan gempa dengan tingkatan sedang dan tinggi. Praktik itu, menempatkan masyarakat dalam ancaman yang nyata.
Hutan yang terbuka menjadikan resiko berlipat. Maka wilayah rawan bencana, harusnya mendapatkan perhatian dengan adaptasi dan mitigasi yang tepat.
Seharusnya, kebijakan pembangunan terintegrasi dalam kajian risiko sehingga Rencana Tata Ruang Wilayah terintegrasi dengan daerah atau zona merah rawan bencana. Namun yang terjadi, karena kepentingan investasi, Pemerintah abai dalam melakukan sinkronisasi. Sementara daya dukung dan daya tampung lingkungan semakin melemah akibat aktivitas destruktif termasuk tambang.
Ali Bastian menghela napas. Desanya yang bersisihan langsung dengan Tabarano pelan-pelan ditempatkan dalam resiko besar. “Dulu tempat ini tak pernah ditambang. Orang Lioka dan Tabarano hidup tenang. Warga bertani dan berkebun. Saya sudah tua, kalau semua hutan itu dijadikan tambang, apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” katanya.
Pernyataan Ali Bastian, ketakutan Alex Pius, serta kekhawatiran pendamping lapangan seperti KPA, tak pernah menemukan jawaban.
“Lahan-lahan pertanian, bentang alam, hutan tropis, sungai dan laut menjadi sumber dan tumbuhnya peradaban manusia di Luwu Timur sejak ribuan tahun lalu. Jika terjadi konflik yang menyebutkan warga memasuki wilayah konsesi, maka itu tidak cocok lagi disebut sebagai tumpang tindih, sebab sejak awal kehidupan sudah berlangsung, jauh sebelum perusahaan pertambangan ada,” kata Rizki.

*****
Nestapa Petani Luwu Timur Terdampak Kebocoran Minyak PT Vale