<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ms-ardan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ms-ardan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 24 Aug 2026 10:00:00 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Babi Kutil Jawa Terancam Punah, Mengapa Belum Dilindungi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/21105703/Babikutil.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132317</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, jawa timur, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Babi kutil jawa bukan sekadar babi hutan biasa. Satwa bernama ilmiah Sus verrucosus ini merupakan satu dari tujuh spesies babi endemik Indonesia. Persebarannya terbatas di Pulau Jawa sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain. Secara fisik, babi kutil jawa memiliki tubuh dan tulang lebih besar. Kepalanya besar dan berat, wajahnya memanjang, serta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/">Babi Kutil Jawa Terancam Punah, Mengapa Belum Dilindungi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Babi kutil jawa bukan sekadar babi hutan biasa. Satwa bernama ilmiah Sus verrucosus ini merupakan satu dari tujuh spesies babi endemik Indonesia. Persebarannya terbatas di Pulau Jawa sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain. Secara fisik, babi kutil jawa memiliki tubuh dan tulang lebih besar. Kepalanya besar dan berat, wajahnya memanjang, serta telinganya lebar. Rambut panjang menyerupai surai tumbuh dari tengkuk hingga bagian belakang tubuh. Kakinya relatif ramping, sementara ekornya panjang dengan sedikit rambut di ujungnya. Satwa ini menghuni hutan sekunder pada ketinggian kurang dari 800 meter. Babi kutil jawa juga dapat ditemukan di hutan dataran rendah, perkebunan, semak belukar, dan hutan jati. Namun, perubahan kawasan menjadi lahan pertanian telah mengurangi banyak habitat alaminya. Di alam, babi kutil jawa memiliki peran penting. Aktivitasnya membantu menggemburkan tanah dan menyebarkan biji tumbuhan. Peran tersebut dapat mendukung pemulihan lahan yang rusak serta menjaga regenerasi pohon. Jika populasinya terus berkurang, keseimbangan ekosistem tempat satwa ini hidup juga dapat terganggu. Keberadaannya kini semakin mengkhawatirkan. Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN memasukkan babi kutil jawa dalam kategori terancam punah. Populasinya terus menurun akibat perburuan ilegal dan hilangnya habitat. Jumlahnya di alam belum diketahui secara pasti. Di Taman Nasional Baluran, babi kutil jawa semakin sulit ditemukan sejak tahun 2000-an dan dianggap telah punah secara lokal. Upaya pemulihan dilakukan sejak 2018 melalui penyelamatan dan pelepasliaran. Namun, kematian janin menjadi salah satu kendala dalam pengembangbiakannya. Selain daya reproduksi yang rendah dan sifatnya yang soliter, babi kutil jawa menghadapi sedikitnya enam ancaman utama. Ancaman itu mencakup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/babi-kutil-jawa-terancam-punah-mengapa-belum-dilindungi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Kakatua, Apakah Ada Hubungannya dengan Burung Kakatua?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 07:51:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235134/perempuan-nelayan-gurita-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132333</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kakatua bukan hanya nama jenis burung, tapi juga ada pada spesies ikan. Jenis ini dinamakan kakatua karena mulutnya mirip dengan paruh burung kakatua. Ikan kakatua merupakan spesies penting yang ikut mengendalikan kesehatan terumbu karang dunia. Kehadirannya membantu terumbu karang tetap sehat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lautan. Parrotfish, nama populer ikan tersebut, juga menjadi bagian penting [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/">Ikan Kakatua, Apakah Ada Hubungannya dengan Burung Kakatua?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kakatua bukan hanya nama jenis burung, tapi juga ada pada spesies ikan. Jenis ini dinamakan kakatua karena mulutnya mirip dengan paruh burung kakatua. Ikan kakatua merupakan spesies penting yang ikut mengendalikan kesehatan terumbu karang dunia. Kehadirannya membantu terumbu karang tetap sehat untuk mendukung keberlanjutan ekosistem lautan. Parrotfish, nama populer ikan tersebut, juga menjadi bagian penting laut Indonesia yang diapit dua samudera dan sekaligus pusat segitiga terumbu karang dunia. Diperkirakan, sedikitnya ada 30 jenis ikan kakatua yang hidup di perairan Indonesia hingga kini. Ikan tersebut memiliki kebiasaan unik saat mencari makan, yaitu dengan menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur. Namun, cara itu bukan untuk memakan terumbu karang, melainkan mencari alga dan mikroorganisme yang menempel pada karang. Adriani Sunuddin, Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, bahkan menyebut ikan yang masuk famili Scaridae itu, sebagai insinyur pada ekosistem terumbu karang. Sebutan yang benar adanya. Selain sebagai pengendali pertumbuhan alga di permukaan karang, ia membantu pembentukan pasir laut melalui proses pencernaan fragmen karang mati, dan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang, sehingga pemulihan menjadi lebih cepat saat ada gangguan. “Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkan,” ucapnya dilansir portal resmi IPB University, Minggu (31/7/26). Kakatua yang berperan menjadi pengikis, melakukan pencegahan alga agar tidak mendominasi permukaan terumbu karang. Jika itu terjadi, maka larva atau anakan karang akan mendapatkan ruang lebih luas untuk bisa menempel dan tumbuh menjadi koloni baru. Sementara untuk pengeruk, itu adalah tugas yang bertujuan untuk meluaskan sebaran fragmen karang atau alga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ikan-kakatua-apakah-ada-hubungannya-dengan-burung-kakatua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat, Waswas di Tanah Leluhur, Keadilan Senyap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 06:19:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/20232543/Papua-Pusaka-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132326</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Jerat hukum masyarakat adat maupun komunitas lokal kerap jadi alat membungkam upaya mereka menjaga dan mempertahankan tanah dan lingkungan. Kasus terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu di Sagea-Kiya di Halmahera Tengah, Maluku Utara, masyarakat berhadapan dengan perusahaan tambang nikel. Sebanyak 14 orang berhadapan dengan hukum, enam adalah perempuan. Mereka terjerat Pasal 162 UU [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/">Masyarakat Adat, Waswas di Tanah Leluhur, Keadilan Senyap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Jerat hukum masyarakat adat maupun komunitas lokal kerap jadi alat membungkam upaya mereka menjaga dan mempertahankan tanah dan lingkungan. Kasus terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu di Sagea-Kiya di Halmahera Tengah, Maluku Utara, masyarakat berhadapan dengan perusahaan tambang nikel. Sebanyak 14 orang berhadapan dengan hukum, enam adalah perempuan. Mereka terjerat Pasal 162 UU Nomor 3/2020 dan aturan perubahan soal Pertambangan Mineral dan Batubara setelah menghadang aktivitas tambang PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia. Rifya Rusdi, perempuan Sagea-Kiya—satu dari 14 warga&#8211; mengatakan, dampak tambang mencemari lingkungan mereka. Hutan rusak, sungai-sungai utama, termasuk Sungai Kobe, menjadi keruh kecoklatan. Masyarakat protes karena Sagea bukan sekadar aset ekonomi, melainkan fondasi kehidupan. &#8220;Sagea itu bukan hanya sebatas kampung atau desa, tapi di sana tempat kehidupan kami. Sudah seperti ibu yang menghidupi masyarakat,” katanya kepada Mongabay Sabtu, (8/8/26). Di Sikka, Nusa Tenggara Timur, Masyarakat Adat Suku Soge Natarmage dan Goban Runut alami nasib tak jauh beda.  Masyarakat Sub Suku Tana Ai ini juga berhadapan dengan jerat hukum. Ada yang sudah vonis, ada yang masih proses hukum. Di Ketapang, Kalimantan Barat, Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang juga alami masalah hukum. Pada Desember 2025 jadi tersangka atas tuduhan pemerasan dengan kekerasan atau ancaman setelah denda adat kepada perusahaan hutan tanaman industri, PT Mayawana Persada. Masyarakat sejak lama suarakan protes dan penolakan bahkan, berulang kali berurusan dengan aparat. Sejumlah juga warga alami kriminalisasi sebelum Fendy. “Semangat kami mempertahankan adat dan budaya tidak akan pudar. Kami tidak bergantung kepada perusahaan, kami bergantung kepada alam. Kalau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/masyarakat-adat-waswas-di-tanah-leluhur-keadilan-senyap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ghost Gear, Ancaman Senyap Ekosistem Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 03:30:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235750/Nelayan1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132315</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jakarta, jawa, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah plastik bukan satu-satunya ancaman bagi laut Indonesia. Alat penangkapan ikan yang hilang, ditinggalkan, atau sengaja dibuang juga dapat terus menjerat satwa meski tidak lagi digunakan nelayan. Sampah yang dikenal sebagai Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear ini dapat merusak habitat dan membunuh berbagai satwa laut. Pengelolaannya menjadi tantangan karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/">Ghost Gear, Ancaman Senyap Ekosistem Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah plastik bukan satu-satunya ancaman bagi laut Indonesia. Alat penangkapan ikan yang hilang, ditinggalkan, atau sengaja dibuang juga dapat terus menjerat satwa meski tidak lagi digunakan nelayan. Sampah yang dikenal sebagai Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear ini dapat merusak habitat dan membunuh berbagai satwa laut. Pengelolaannya menjadi tantangan karena sekitar 90 persen nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2024 mencatat jumlah mereka mencapai 2,91 juta orang, sedangkan nelayan bukan skala kecil sekitar 323 ribu orang. Salah satu alat tangkap yang berisiko tinggi menjadi sampah laut adalah gillnet atau jaring insang. Alat ini lazim digunakan nelayan kecil dengan kapal berukuran kurang dari lima gros ton untuk menangkap rajungan dan tongkol. Jaring tersebut dibentangkan seperti dinding vertikal. Bagian atasnya dibuat mengapung, sedangkan bagian bawah diberi pemberat. Ikan yang berenang melewati mata jaring akan terjerat pada insang atau tubuhnya. Ketika hilang atau dibuang ke laut, jaring dapat terus menangkap ikan dan satwa lain tanpa terkendali. Masa pakai gillnet juga relatif singkat. Jaring untuk menangkap tongkol, misalnya, perlu diganti setelah digunakan paling lama dua bulan. Diperkirakan terdapat sekitar 18.206 ton gillnet yang harus diganti setiap tahun. Tanpa sistem pengumpulan yang memadai, alat tangkap bekas tersebut berpotensi menjadi sampah laut. Salah satu upaya penanganannya dilakukan melalui program Net Free Seas. Pada fase pertama sepanjang 2023–2025, program ini mengumpulkan dan mendaur ulang 10 ton sampah alat tangkap di Indonesia. Nelayan dari Pemalang, Pangandaran, dan Cilincing terlibat karena lokasinya relatif dekat dengan pabrik daur ulang di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ghost-gear-ancaman-senyap-ekosistem-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Kembali Gugat Izin Lingkungan Tambang Seng Dairi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Agu 2026 02:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012255/Dairi-Ajun-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132288</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putusan hukum tertinggi di negeri ini seolah tak berarti. Gugatan warga Dairi kepada pemerintah sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi keluar izin lingkungan lagi. Penerbitan izin lingkungan baru oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk perusahaan tambang, PT Dairi Prima Mineral (DPM) ini pun kembali warga gugat  ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, bulan lalu. Gugatan warga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/">Ketika Warga Kembali Gugat Izin Lingkungan Tambang Seng Dairi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putusan hukum tertinggi di negeri ini seolah tak berarti. Gugatan warga Dairi kepada pemerintah sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi keluar izin lingkungan lagi. Penerbitan izin lingkungan baru oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk perusahaan tambang, PT Dairi Prima Mineral (DPM) ini pun kembali warga gugat  ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, bulan lalu. Gugatan warga dengan nomor perkara 271/G/LH/2026/PTUN.JKT itu menuntut pembatalan izin karena sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA) 2024 yang membatalkan izin yang sama. Nurleli Sihotang, kuasa hukum warga sekaligus Koordinator Divisi Bantuan Hukum Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumut (Bakumsu) menjelaskan, putusan Mahkamah Agung pada 2024 tetap berlaku saat izin baru terbit, Maret 2026. Aturan tata ruang tidak berubah, namun kementerian menerbitkan izin baru seolah-olah putusan tertinggi itu tidak pernah ada. Warga, katanya, menilai izin baru itu tidak menyelesaikan persoalan hukum dan teknis yang  mereka adukan sebelumnya. Perusahaan juga gagal melakukan konsultasi bermakna kepada warga terkait perubahan desain proyek yang jauh lebih besar dan berisiko. Marlince Sinambela sedang memetik daun gambir. Foto: Irfan Maulana/Monhgabay Indonesia Secara spesifik, gugatan menyatakan penerbitan izin terbaru adalah tindakan melanggar hukum. Izin baru itu berdasarkan klaim perusahaan yang menyatakan akan timbun seluruh limbah tambang ke bawah tanah. hingga tidak perlu membangun fasilitas penampungan limbah di permukaan. Dalam dokumen pengajuan izin lingkungan hidup yang baru kepada pemerintah, perusahaan mengklaim akan menimbun kembali 100% limbah ke dalam lubang tambang melalui metode penimbunan pasta semen dan menyebut proyek bebas limbah tambang. Namun, Steven Emerman, pakar hidrologi tambang, menyatakan,  maksimal hanya 50-60% limbah bisa kembali &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/24/ketika-warga-kembali-gugat-izin-lingkungan-tambang-seng-dairi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik Bisa Bawa Penyakit ke Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 13:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/19150355/Kucing-Kuwuk-di-Ujung-Kulon-Dok_-Uci-Sanusi_YIARI5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132294</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video kucing berbintik yang berinteraksi dengan kucing peliharaan sering mengundang kekaguman di media sosial. Sebagian warganet bahkan berharap dapat memiliki anak hasil persilangan keduanya. Namun, bagi ilmuwan konservasi, perkawinan itu bukan sekadar peristiwa menggemaskan. Proses tersebut disebut hibridisasi, yaitu kawin silang antara satwa dari jenis berbeda. Jika terjadi tanpa kendali, hibridisasi dapat mengikis identitas genetik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/">Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik Bisa Bawa Penyakit ke Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video kucing berbintik yang berinteraksi dengan kucing peliharaan sering mengundang kekaguman di media sosial. Sebagian warganet bahkan berharap dapat memiliki anak hasil persilangan keduanya. Namun, bagi ilmuwan konservasi, perkawinan itu bukan sekadar peristiwa menggemaskan. Proses tersebut disebut hibridisasi, yaitu kawin silang antara satwa dari jenis berbeda. Jika terjadi tanpa kendali, hibridisasi dapat mengikis identitas genetik satwa liar dan membuka jalan bagi penularan penyakit. Di Indonesia, salah satu satwa yang rentan adalah kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus javanensis). Felid berukuran kecil ini hidup di sawah, pinggiran hutan, kawasan agroforestri, hingga perkebunan sawit. Ukuran tubuhnya hampir sama dengan kucing peliharaan. Karena itu, kucing kuwuk sering disangka kucing kampung, meskipun bulunya memiliki pola bintik cokelat. Padahal, satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018. Erwin Wilianto, pendiri Yayasan Sintas Indonesia, menuturkan hibridisasi yang melibatkan satwa liar dilindungi merupakan tindakan ilegal. Persilangan dapat merusak kemurnian genetik, memengaruhi kesuburan keturunan, melemahkan kekebalan tubuh, atau menimbulkan kecacatan. Secara alami, kucing liar cenderung menghindari perkawinan dengan jenis lain. Jika perilakunya telah berubah akibat campur tangan manusia, satwa tersebut juga semakin sulit dikembalikan ke alam. Ancaman lain muncul melalui kontak langsung dengan kucing domestik. Kucing peliharaan dapat membawa penyakit atau menjadi perantara patogen yang sebelumnya tidak ditemukan di alam. Sistem kekebalan kucing hutan berbeda sehingga paparan tersebut dapat membahayakan kesehatannya. Risiko ini terlihat dalam penelitian University of Edinburgh yang diterbitkan pada 2023. Peneliti memeriksa 120 kucing liar di enam kawasan prioritas konservasi Skotlandia Utara selama 2015–2019. Hasilnya, sedikitnya 11 agen infeksius&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kawin-silang-kucing-hutan-dengan-kucing-domestik-bisa-bawa-penyakit-ke-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 10:40:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/13074823/WhatsApp-Image-2025-11-09-at-11.37.49-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132250</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yupin bersiap menurunkan pancing ulurnya di perairan  Anambas, Kepulauan Riau, Kamis siang (16/8/26). Dari kejauhan dia  melihat dua pasang kapal ikan asing Vietnam tengah bergerak melakukan aktivitas penangkapan ikan. Melihat itu, Yupin pilih membatalkan niatnya. Dia tarik jangkar dan bergeser untuk mencari fishing ground lain. “Kalau tidak pindah risiko jangkar bisa nyangkut di jaring kapal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/">Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yupin bersiap menurunkan pancing ulurnya di perairan  Anambas, Kepulauan Riau, Kamis siang (16/8/26). Dari kejauhan dia  melihat dua pasang kapal ikan asing Vietnam tengah bergerak melakukan aktivitas penangkapan ikan. Melihat itu, Yupin pilih membatalkan niatnya. Dia tarik jangkar dan bergeser untuk mencari fishing ground lain. “Kalau tidak pindah risiko jangkar bisa nyangkut di jaring kapal trawl mereka, karena kawan saya sudah ada pernah kena, terseret jaring mereka,” kata nelayan Palmatak, Kabupaten Anambas itu. Bagi nelayan seperti Yupin, kehadiran kapal Vietnam adalah momok. Bukan hanya aktivitasnya yang ‘mengobok-ngobok’ wilayah tangkap mereka, tetapi juga alat penangkapan ikan (API) yang mereka gunakan, yakni trawl. Penggunaan API  adalah dengan menariknya menggunakan dua kapal. Dengan begitu, jaring trawl yang berukuran besar menyapu dasar laut. “&#8221;Makanya, kami harus menghindar, kalau tidak habislah disikat mereka pakai jaring trawl,” kata Yupin bercerita ke Mongabay, Sabtu (15/8/26). Pertemuannya dengan kapal Vietnam itu berada di koordinat 04°33&#8217;56.0&#8243;N, 106°52&#8217;23.2&#8243;E yang merupakan teritorial Indonesia. Dari Pulau Anambas, jaraknya sekitar 80 mil. “Itu kejadian siang, malam juga saya bertemu dengan mereka. Siang malam mereka kerja,” katanya. Bagi Yupin, kehadiran kapal asing itu membuat nelayan Anambas tak merasa tenang untuk beraktivitas. “Jadi kita melaut sekarang seperti dikejar-kejar, pas kita mancing, disitu mereka ada juga. Kita terpaksa menghindarlah.&#8221; ABK Vietnam saat digiring di pangakalan PSDKP Batam. Foto Yogi Eka Sahputra Pengawasan lemah? Bagi Yupin, intrusi kapal asing terjadi hampir sepanjang tahun dan memiliki sejumlah rekaman atas keberadaan mereka. Dia pun mengaku telah meneruskan informasi itu ke pemerintah tetapi sejauh ini tidak ada respons berarti. “Jadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/jerit-nelayan-anambas-hadapi-kapal-ikan-asing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>30 Tahun Dokter Hewan Ini Menyelamatkan Satwa Liar di Hutan Leuser</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 10:15:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/15074239/Anhar1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132044</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, sumatera, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/">30 Tahun Dokter Hewan Ini Menyelamatkan Satwa Liar di Hutan Leuser</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja pemburu. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat dan sulit bergerak. Selama lebih dari dua jam, Anhar dan tim berusaha menariknya keluar dari gua. Pertolongan pertama segera diberikan. Namun, mereka masih harus menggiring Salma keluar dari hutan menuju Conservation Response Unit Serbajadi. Proses itu baru dapat dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB. Meski telah dirawat intensif, nyawa Salma akhirnya tidak dapat diselamatkan. Bagi Anhar, menemukan satwa liar dalam kondisi terluka bukan pengalaman baru. Sekitar 30 tahun hidupnya dihabiskan untuk merawat satwa, terutama gajah sumatera. Anhar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, pada September 1968. Sejak kecil, dia terbiasa melihat satwa liar di sekitar Hutan Ulu Masen. Ia meraih gelar dokter hewan dari Universitas Syiah Kuala pada 1996, kemudian memulai kariernya di Medan Zoo pada tahun yang sama. Kebun binatang menjadi tempatnya mempelajari anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa. Pada 2001, ia bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme dan merawat orangutan korban perburuan serta perdagangan. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa menyelamatkan satwa bukan hanya soal mengobati luka fisik. Satwa yang pernah disakiti manusia juga dapat mengalami trauma dan membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan. Sejak 2006, Anhar menjadi dokter hewan utama dalam Program Perawatan Kesehatan Gajah yang dijalankan Vesswic. Ia berkeliling Sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/30-tahun-dokter-hewan-ini-menyelamatkan-satwa-liar-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 06:20:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132270</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggila terutama di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, maupun Sumatera Selatan. Badan Nasioan Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah saat ini, termasuk di Kalimantan yang merupakan zona terparah. BNPB menyebut, hingga Jumat (21/8/26), karhutla di Kalimantan terdeteksi terjadi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggila terutama di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, maupun Sumatera Selatan. Badan Nasioan Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah saat ini, termasuk di Kalimantan yang merupakan zona terparah. BNPB menyebut, hingga Jumat (21/8/26), karhutla di Kalimantan terdeteksi terjadi di sembilan wilayah, yakni,  Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Balangan dengan total area terbakar capai 595 hektar. Wilayah dengan estimasi luasan terbesar berada di Kabupaten Banjar sekitar 174 hektar, Kabupaten Tanah Laut 107 hektar, Kabupaten Barito Kuala 96 hektar, dan Kabupaten Tapin 85 hektar. Selain darat, BNPB siagakan armada udara di Lanud Sjamsudin Noor berupa dua unit patroli udara dan tiga  helikopter water bombing. Operasi water-bombing menggunakan tiga helikopter jenis AS 322C1 Super Puma, M18-AMT dan Sikorsky Black Hawk dengan lebih dari 1,5 juta liter air. Kobaran api muncul di tengah hamparan lahan kosong di kawasan Awang Peramuan, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Rabu (22/7/26). Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. &nbsp; Tak serius? Sejumlah kalangan menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua tak sekadar soal cuaca tetapi cerminan atas buruknya tata kelola sumber daya alam (SDA). Ironisnya, kendati sudah menjadi bencana tahunan, pemerintah terkesan tak serius melakukan antisipasi. Hasil pantauan Greenpeace 11–16 Agustus, jumlah titik sumber asap di Kalimantan meluas, dengan 592 titik, 455 di antaranya berada di lanskap gambut. Sebanyak 322 titik terdeteksi di Kalimantan Barat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/mempertanyakan-keseriusan-pemerintah-antisipasi-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lukisan 67 Ribu Tahun Silam di Sulawesi jadi Karya Seni Tertua Homo Sapiens</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 03:08:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23142338/Lukisan-di-Gua-Sulawesi-Selatan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132278</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gambar cap tangan di dinding gua era prasejarah di Sulawesi itu, seperti hendak mengatakan sesuatu kepada manusia di zaman ini. Saat menyapa, manusia modern akan mengangkat tangan sambil memperlihatkan telapaknya menghadap ke muka. Manusia prasejarah meletakkan tangannya di dinding gua dan mengabadikannya dalam bentuk lukisan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan manusia prasejarah dari Sulawesi? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/">Lukisan 67 Ribu Tahun Silam di Sulawesi jadi Karya Seni Tertua Homo Sapiens</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gambar cap tangan di dinding gua era prasejarah di Sulawesi itu, seperti hendak mengatakan sesuatu kepada manusia di zaman ini. Saat menyapa, manusia modern akan mengangkat tangan sambil memperlihatkan telapaknya menghadap ke muka. Manusia prasejarah meletakkan tangannya di dinding gua dan mengabadikannya dalam bentuk lukisan. Pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan manusia prasejarah dari Sulawesi? Riset yang dikerjakan peneliti Indonesia dan Australia atas gambar itu, justru menemukan fakta baru. Terlihat kusam, mirip goresan yang menempel di tembok lembap, dan cat yang mengelupas, gambar cap tangan itu ditengarai sebagai yang tertua di dunia. “Motif ini sebagian tertutup speleothem coralloid kuno. Cap ini dalam kondisi pengawetan yang buruk, hanya terdiri bercak pigmen pudar sepanjang 14 × 10 cm yang memuat sebagian jari dan area telapak tangan berdekatan,” tulis Adhi Agus Oktaviana, penulis pertama laporan penelitian yang dimuat di jurnal Nature, edisi 21 Januari 2026, berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi.”  Adhi adalah peneliti BRIN yang memiliki kepakaran dalam seni gua. Uniknya, gambar ini hanya ditemukan di Sulawesi. Gambar jari-jari yang ujungnya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai cakar hewan. Manusia prasejarah membuat lukisan dengan teknik sederhana, namun kreatif. Setelah telapak tangan ditempelkan ke dinding gua, langkah selanjutnya adalah menyemprotkan warna di sekeliling tangan. Warna ini bisa berasal dari tanah, arang, atau mineral lain. Caranya, disemprotkan menggunakan mulut atau pipa terbuat dari bambu atau tulang. “Mengubah gambar tangan manusia dengan cara ini mungkin memiliki makna simbolis, barangkali terkait dengan pemahaman masyarakat kuno tentang hubungan manusia dan hewan,” tulis Maxime&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/23/lukisan-67-ribu-tahun-silam-di-sulawesi-jadi-karya-seni-tertua-homo-sapiens/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Perempuan Wujudkan Ketahanan Pangan di Pulau Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>23 Agu 2026 00:01:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07064905/SaveClip.App_568176351_18382487137183415_733977403012204759_n-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132185</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap ada kapal sayur merapat di Dermaga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta, warga langsung berkerumun. Semua sayuran berasal dari Jakarta, perjalanan lebih dari dua jam untuk merapat ke pulau. Kondisinya banyak tak lagi segar.  Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengatakan sayuran yang tiba sering sudah layu, tetapi tetap diburu warga karena tak ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/">Cara Perempuan Wujudkan Ketahanan Pangan di Pulau Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap ada kapal sayur merapat di Dermaga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta, warga langsung berkerumun. Semua sayuran berasal dari Jakarta, perjalanan lebih dari dua jam untuk merapat ke pulau. Kondisinya banyak tak lagi segar.  Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengatakan sayuran yang tiba sering sudah layu, tetapi tetap diburu warga karena tak ada pilihan. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian. Ketergantungan pada pasokan dari Jakarta juga membuat harga sayuran lebih mahal, kenaikkan bisa mencapai 50%. Saat cuaca buruk, kapal bahkan tidak dapat merapat sehingga pasokan sayur bisa terhenti hingga tiga hari. Kondisi itu mendorong para perempuan Pulau Kelapa membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun sejak 2018. Mereka memilih hidroponik karena kondisi tanah yang berpasir, keterbatasan air bersih, serta ancaman banjir rob membuat sayuran sulit ditanam langsung di lahan. Mereka menanam kangkung, bayam, sawi, pakcoi, dan cabai dengan memanfaatkan rak hidroponik. “Dengan menanam sayur sendiri secara alami, kita bisa memenuhi kebutuhan dapur sekaligus mendapat banyak manfaat,” ujar Rosda, Ketua KWT Hijau Daun Pulau Kelapa Dua. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka menampung air hujan di bawah rumah panggung. Saat kemarau panjang, warga juga mengumpulkan air buangan AC secara urunan. Upaya tersebut membuat KWT Hijau Daun meraih penghargaan sebagai program urban farming terbaik se-DKI Jakarta pada 2025 setelah berhasil memanen 21 kilogram kangkung di lahan terbatas. Namun, hasil panen masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Pada April, misalnya, mereka memanen&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cara-perempuan-wujudkan-ketahanan-pangan-di-pulau-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 10:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fachri HamzahRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001741/UDARA-JAKARTA-KEMBALI-TIDAK-SEHAT-1-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132254</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa hal yang sama. Perempuan 52 tahun harus mengeluarkan uang lebih untuk berobat. Sebab, dia alami batuk dan dehidrasi. ”Itu (beli obat) sangat mahal dibanding pendapatan,” kata pekerja rumah tangga itu. Mongabay memantau langit Jakarta Sepanjang Agustus. Kabut tipis membuat penampakan gedung-gedung pencakar langit samar, 13-20 Agustus. Beberapa kali napas terasa sesak dan mata perih. Laman pemantauan kualitas udara IQAir 16 Agustus pukul 06.01 WIB, pun mencatat Ibu Kota Indonesia itu menempati peringkat kedua kota dengan udara terburuk di dunia. Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 167 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 79 mikrogram per meter kubik. Begitu juga pada 22 Agustus 2026, AQI 158 dengan 68 PM2,5. Angka itu jauh di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sepanjang bulan kemerdekaan tahun ini, Jakarta bahkan nyaris tak pernah absen dari daftar 10 kota paling berpolusi di dunia. Pada 1 Agustus, misal, berada di peringkat ketiga dengan AQI 163. Konsentrasi PM2.5 melonjak ke 83 mikrogram per meter kubik—level tertinggi dalam sebulan terakhir, lima hari kemudian. Tangkapan layar aplikasi pemantau kualitas udara terhadap kondisi udara Jakarta, 10 Agustus. Kegagalan pengelolaan lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai buruknya kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bukan sekadar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 02:25:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22022200/8364413312_9b4b6f6372_o-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132243</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan Amazon ini. Semut peluru atau Paraponera clavata menempati posisi tertinggi dalam Schmidt Sting Pain Index, skala yang disusun entomolog Amerika Serikat Justin O. Schmidt sejak 1984 untuk membandingkan rasa sakit sengatan lebah, tawon, dan semut, dengan nilai maksimal 4 yang hanya diraih segelintir spesies. Panjang tubuhnya bisa mencapai 18 hingga 30 milimeter dengan warna cokelat kemerahan hingga kehitaman yang membuatnya lebih mirip tawon tak bersayap ketimbang semut pada umumnya. Semut peluru tersebar di hutan hujan dataran rendah mulai dari Honduras dan Nikaragua di Amerika Tengah sampai Bolivia dan Brasil di Amerika Selatan, dengan beberapa koloni bahkan ditemukan di ketinggian 1.500 meter. Racun yang Dirancang untuk Menyakitkan Rasa sakit dari sengatan semut peluru datang dari poneratoksin, peptida neurotoksik yang jadi komponen utama racunnya sejak pertama kali diisolasi para peneliti pada awal 1990-an. Racun ini menempel pada kanal ion natrium di sel saraf, gerbang yang biasanya membuka dan menutup untuk mengalirkan sinyal listrik antar neuron. Poneratoksin membuat kanal itu tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, sehingga sinyal rasa sakit terus dikirim ke otak tanpa jeda. Belakangan, penelitian lanjutan bahkan menemukan bahwa yang selama ini disebut poneratoksin ternyata terdiri dari beberapa varian peptida yang strukturnya berbeda satu sama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 01:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22001342/Banjang-Tupai-Foto-Fariq-Izzudien-Ash-Shidiq-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132233</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian mereka tertuju pada seekor ular. “Pepohonan cukup tinggi, sementara tumbuhan bagian bawah relatif rapat,” ujar Fariq, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Senin (10/8/26). Ular banjang tupai yang jago kamuflase. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Kondisi tersebut membuat warna tubuh banjang tupai menyatu dengan lingkungan. Kemampuan menyarunya tidak mudah diketahui bila tidak dilihat teliti. Fariq dan rekannya coba mendokumentasikan jenis itu. Menariknya, Boiga drapiezii tidak menunjukkan perilaku agresif. Saat didekati, posisinya yang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, cenderung menjauh. Tak terlihat upaya menyerang ataupun melakukan gerakan agresif untuk mempertahankan diri. “Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada” Karakter itu membuat proses pengamatan berlangsung relatif mudah. Baginya, respons banjang tupai berbeda dengan sejumlah ular lain yang pernah ditemui dan didokumentasikan. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global. Banjang tupai yang menyukai hutan vegetasi rapat. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Mata mirip kucing Saat pengamatan, langit mendung. Tak lama setelah dokumentasi dilakukan, hujan turun. Fariq memperkirakan, pengamatan hanya berlangsung lima hingga sepuluh menit. Setelah mendapatkan foto yang diperlukan, mereka membiarkan ular tersebut kembali ke habitatnya. Keputusan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 00:01:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01035446/Nengah-Bantat-menunjukkan-garam-metode-geomembran-yang-hampir-siap-panen.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132184</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, produk kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/">Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di generasinya. Bantat mulai menjadi petani garam pada 1979. Saat itu, ratusan warga di sepanjang pesisir Kusamba hingga Pesinggahan menggantungkan hidup dari produksi garam tradisional. Kini, jumlah petani garam terus menyusut. Anaknya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan tersebut karena penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi alam. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Bantat, pada Juni lalu. Kondisi serupa dialami Nengah Diana, petani garam generasi terakhir di keluarganya. Menurutnya, tidak ada lagi anggota keluarga yang bersedia melanjutkan usaha penggaraman. Padahal, garam Kusamba dikenal memiliki metode pembuatan tradisional yang khas menggunakan palung, cekungan dari batang pohon yang menjadi warisan budaya masyarakat pesisir Bali. Produksi garam di Kusamba terus mengalami penurunan. Pada 1970-an terdapat sekitar 180 petani garam. Saat penelitian pada 2022 jumlahnya tinggal 19 orang, dan ketika Mongabay berkunjung pada 2026, tersisa sekitar 14 petani. Produksi garam juga merosot drastis. Jika dibandingkan dengan 2014, produksinya turun hampir 100% pada 2024. Padahal, Klungkung pernah menjadi kabupaten penghasil garam terbesar di Bali. Di balik penurunan produksi, abrasi menjadi ancaman terbesar bagi petani garam. Bantat mengaku belum pernah mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 23:59:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/21235334/Foto-7-Delta-Mahakam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak. Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam. Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/">Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak. Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam. Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, dia rutin mendatangi tambak kerabatnya, Rustam di Sepatin, Delta Mahakam. Tambak itu seluas sekitar 40 hektar. Rustam memilih mempertahankan mangrove alami di dalam tambak. Awalnya Asharduddin heran mengapa tambak itu bisa panen jauh lebih baik dari tambak lain. Belakangan dia tahu karena pemilik tambak tetap mempertahankan mangrove. “Waktu itu saya lihat kok banyak pohonnya (mangrove). Saya pikir kenapa bisa tetap bagus hasilnya. Ternyata, mangrove juga menghisap racun-racun yang terpendam di lumpur. Itu sebenarnya salah satu kuncinya,” katanya. Dari informasi Asharuddin, sistem budidaya di tambak itu menggunakan pola tebar benih bertahap bersama mangrove atau yang dikenal dalam sistem silvofishery (tambak tumpang sari). Metode budidaya perikanan,  seperti bandeng atau udang selang seling dengan penanaman mangrove secara periodik agar fungsi ekologis dan produktivitas tambak tetap seimbang. “Panen bisa setiap dua bulan sekali. Biasanya lebih dari satu ton, terkadang hampir dua ton. Kalau dijual bisa ratusan juta rupiah.” Bibit mangrove yang baru ditanam di salah satu lokasi rehabilitasi Delta Mahakam. Penanaman kembali ini merupakan bagian dari upaya pemulihan fungsi ekosistem dan penyerap karbon pesisir yang terdegradasi. Foto: Yuda Almerio/Mongabay Indonesia Giat rawat mangrove Setelah melihat perubahan itu, keyakinannya berbalik. Kini, dia menjadi salah satu orang yang paling giat merawat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Khawatir Terdampak, Warga Tolak Tambang Pasir Sungai Serayu </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 15:50:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20173621/tambang2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132190</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mendatangi lokasi tambang pasir di Sungai Serayu, Selasa (17/8/26). Mereka mendesak penyetopan aktivitas tambang pasir laut di sana. Sarno, koordinator aksi mengatakan, aktivitas tambang pasir dalam dua bulan itu resahkan warga. “Kami khawatir penambangan tersebut dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama nanti pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/">Khawatir Terdampak, Warga Tolak Tambang Pasir Sungai Serayu </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mendatangi lokasi tambang pasir di Sungai Serayu, Selasa (17/8/26). Mereka mendesak penyetopan aktivitas tambang pasir laut di sana. Sarno, koordinator aksi mengatakan, aktivitas tambang pasir dalam dua bulan itu resahkan warga. “Kami khawatir penambangan tersebut dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama nanti pada saat musim penghujan datang. Kami menolak tambang pasir menggunakan mesin,&#8221; katanya Keresahan warga itu cukup beralasan. Dulu, longsor pernah terjadi hingga paksa beberapa warga pindahkan rumah. Kendati peristiwa itu berlangsung 30 tahun silam, dia dan warga lain masih mengingatnya. “Kami merasa resah, terancam, dan terganggu. Selama hampir 30 tahun kami masih ingat kejadian longsor dulu, termasuk rumah warga yang sampai harus pindah beberapa kali,” katanya. Rasa was-was makin menjadi-jadi, karena pengambilan pasir di Sungai Serayu bertambah besar. “Bayangkan saja, di sini sudah ada 11 mesin penyedot pasir. Kami mencatat, awalnya hanya tiga mesin, kemudian bertambah delapan dan saat ini telah mencapai 11 mesin penyedot,”katanya. Sarno juga mendapat keluhan warga yang mencemaskan keselamatan anak-anak yang beraktivitas di sekitar lokasi. Setiap sore, banyak anak-anak melintas di kawasan tersebut untuk mengikuti kegiatan mengaji. Dia memperkirakan jumlah truk pengangkut pasir sekitar 50 unit truk ukuran besar. “Bisa dibayangkan bagaimana jalan yang dilewati truk tersebut,”ujarnya. Selain mendatangi lokasi tambang, dalam aksinya, warga juga memasang patok dan portal untuk menghalau kendaraan tambang masuk. Langkah itu warga lakukan setelah penambang ingkari hasil kesepakatan. &#8220;Kami sudah melalui jalur prosedural, sudah bertemu dengan Pemdes dan pihak penambang, bahkan sudah ada kesepakatan. Namun, akhirnya kesepakatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerang Darah dan Perubahan Lanskap Pantai Timur Pulau Bangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 00:15:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20233940/Eliana-Zuki-berlindung-dari-sengatan-matahari-di-sekitar-pantai-Kedimpal-yang-telah-berubah-menjadi-hamparan-pasir.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132198</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Lahan Basah, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari tepat di atas kepala Eliana Zuki (51) yang mencari kerang darah (Anadara granosa). Di pesisir, terik matahari terasa lebih menyengat. Memasuki pertengahan tahun, suhu di Pulau Bangka dapat menyentuh angka 31-34 derajat Celsius. “Istirahat dulu, kalau tidak nanti bisa migren,” kata Eliana, yang menetap di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/">Kerang Darah dan Perubahan Lanskap Pantai Timur Pulau Bangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari tepat di atas kepala Eliana Zuki (51) yang mencari kerang darah (Anadara granosa). Di pesisir, terik matahari terasa lebih menyengat. Memasuki pertengahan tahun, suhu di Pulau Bangka dapat menyentuh angka 31-34 derajat Celsius. “Istirahat dulu, kalau tidak nanti bisa migren,” kata Eliana, yang menetap di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, kepada Mongabay Indonesia, Kamis (6/8/26). Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan sederhana dengan empat tiang kayu kecil yang menyangga atap karung. Eliana dan rekannya bergegas menuju pondok yang sengaja mereka bangun beberapa bulan lalu. “Kalau tidak ada ini (pondok), bisa mati kena matahari ini,” ujar Indira Wahyu, rekan Eliana, sembari menyantap makan siang yang sudah mereka siapkan dari rumah. Eliana Zuki berlindung dari sengatan matahari di sekitar pantai Kedimpal yang telah berubah menjadi hamparan pasir. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Saat sebagian besar perempuan memilih untuk ngereman (meminta jatah timah), Eliana dan Indira adalah sedikit perempuan di pesisir timur Pulau Bangka, khususnya di Dusun Kedimpal yang bertahan mencari kerang. “Anak-anak saya juga tidak saya sarankan untuk pekerjaan ini,” kata Eliana. Mereka mencari kerang menyesuaikan jadwal pasang surut laut. Saat Agustus, air laut pasang saat sore hari. Kesempatan mereka mencari kerang pagi hingga siang hari. “Kalau surutnya sore lebih enak, agak teduh.” Dalam sehari, paling banyak Eliana membawa pulang tiga kilogram kerang darah. Di tingkat pengepul, harga per kilogram hanya Rp7.000. “Dulu, cari 10 kilogram kerang itu mudah, sekarang susah sekali.” Indriana sedang mencari kerang, dengan latar belakang ponton penambangan timah lepas pantai. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menakar Ekowisata di Taman Nasional Gede Pangrango</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 23:59:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20235318/Eiger-Nature-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132206</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah mulai mendorong transformasi pengelolaan 57 taman nasional menuju model ekowisata awal 2026, tak terkecuali di Taman Nasional Gede Pangrango. Pemerintah mengklaim langkah itu demi memutus ketergantungan pada anggaran negara sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan satwa. Klaim pemerintah, dengan model ini mampu menggeser posisi taman nasional dari cost center menuju pengelolaan mandiri secara pembiayaan. Hasilnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/">Menakar Ekowisata di Taman Nasional Gede Pangrango</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah mulai mendorong transformasi pengelolaan 57 taman nasional menuju model ekowisata awal 2026, tak terkecuali di Taman Nasional Gede Pangrango. Pemerintah mengklaim langkah itu demi memutus ketergantungan pada anggaran negara sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan satwa. Klaim pemerintah, dengan model ini mampu menggeser posisi taman nasional dari cost center menuju pengelolaan mandiri secara pembiayaan. Hasilnya untuk kebutuhan pengelolaan kawasan termasuk pengamanan dan pemberdayaan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan. Sadtata Noor Adirahmanta,  Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), mengatakan, kawasan konservasi tak sepenuhnya tertutup bagi aktivitas ekonomi. Di luar zona inti dan zona rimba, yakni, zona pemanfaatan, katanya, ruang perizinan usaha tetap terbuka. “Memang secara aturan, di zona pemanfaatan itu dibuka ruang-ruang usaha seperti jasa wisata alam,” kata Sadtata saat ditemui di Kantor TNGGP, Gunung Putri, Kabupaten Cianjur, beberapa waktu lalu. Berdasarkan Rencana Strategis TNGGP 2025–2029, sebanyak delapan izin usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA) terbit. Baru dua perusahaan resmi beroperasi. Izin usaha penyediaan sarana wisata alam berlaku dengan masa konsesi 55 tahun dan opsi perpanjangan selama 20 tahun. Kelanjutan hak kelola ini bergantung pada instrumen evaluasi berkala. Bila pemegang izin terbukti tidak patuh, katanya, pemerintah berwenang melakukan pencabutan izin. Pertama, PT Ponties yang mengelola kawasan Situ Gunung Suspension Bridge seluas 102,76 hektar di Kabupaten Sukabumi sejak 2017. Kedua, PT Eigerindo Multi Produk Industri yang mengantongi hak kelola 253,66 hektar di zona pemanfaatan Barubolang, Kabupaten Bogor, sejak 2019. Kemudian izin lain oleh sejumlah perusahaan, antara lain,  PT Santa Monica Indonesia, PT Fontis Aquam Vivam, PT Bumi Paseban&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 12:30:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Rusdianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18044821/VAle-Industri-FOTO-Iqbal-Lubis-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132116</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang  berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu. “Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/">Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang  berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu. “Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata pria 38 tahun itu. Sejak pagi, Alex dan puluhan pria dari berbagai usia bekerja di sana. Mereka berkumpul, bersendagurau, saling mengingatkan untuk hati-hati dan saling meledek. Ada yang tertawa, ada yang berteriak girang. Beberapa orang bilang pada saya, jika hidup secara gotong royong di Tabarano masih berlangsung. Orang-orang itu mengundang saya datang pada Minggu, dua hari selanjutnya. Mereka akan menggelar pesta syukur panen atas limpahan penghasilan dari tanah kebun dan pertaniannya. Dalam gelaran syukur panen itu akan ada tarian dan hiburan. Makanan tentu saja akan tersaji di meja dan semua orang bisa mencicipinya. Setiap rumah akan membuat peong–sejenis lemang–yang selalu menjadi rebutan. Hingga berbagai macam kue olahan. Selanjutnya pada malam syukur akan ada tarian dero. Tarian yang memungkinkan siapa pun untuk ikut bergabung. Tarian bagi anak muda hingga orang tua meluapkan kegembiraan. Gerakan saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Saat beberapa pria masih saling berbagi rokok di pinggir lapangan sembari mengawasi pembangunan rangka, seorang pria lain berteriak. Makan siang sudah siap di salah satu rumah warga. Beberapa saat kemudian, orang-orang berjalan meninggalkan lapangan. Saya menjadi bagian dari kumpulan warga yang menyantap menu makan siang itu. Rasanya sungguh menyenangkan, memegang piring dan mencari sendiri tempat duduk.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>