<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ms-ardan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ms-ardan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 04:15:00 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mei 2026 04:15:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/24032238/Pterygoplichthys_sp-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127777</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di  perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/">Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di  perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk. Kilas balik ke belakang, periode 1970-an menjadi momen awal masuknya ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) ke Indonesia. Ikan asli sungai Amazon di Amerika Selatan itu, masuk melalui jalur perdagangan ikan hias untuk kebutuhan akuarium yang saat itu sedang populer. Di dalam akuarium, sapu-sapu menjadi primadona karena kemampuan yang unik dengan membersihkan kaca. Tak pelak, para pecinta ikan hias langsung memburunya dan menjadikan ikan ini sebagai komoditas ikan hias paling dicari. Walau belum terungkap di pulau mana sapu-sapu pertama kali masuk, kini Sulawesi tercatat menjadi pemilik populasi terbesar di Indonesia. “Sayangnya, perkembangan yang pesat itu tidak dibarengi dengan edukasi yang baik tentang sapu-sapu,” kata Gema Wahyudewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum lama ini. Saat ikan itu tumbuh besar dalam bak akuarium, pemiliknya segera mengeluarkan, karena mereka nilai sudah tidak cocok menghiasi bak lagi. “Mungkin, karena kurangnya pengetahuan, saat itu ikan kemudian dilepaskan di sungai. Padahal, itu ikan asing yang belum tahu seperti apa dampaknya jika ada di perairan kita,” katanya. Dia menduga, selain perdagangan ikan hias, sapu-sapu masuk ke perairan darat Indonesia karena ada program pengisian kembali (restocking) ikan pada ekosistem sungai atau danau (situ). Mengingat kemampuan kemampuan adaptasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/15/ikan-sapu-sapu-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jutaan Ular Menginvasi Pulau Kecil ini, Burung Hilang dan  Hutan Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mei 2026 03:13:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15030551/1280px-20140402-APHIS-UNK-0004_13592983734-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127796</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Keseimbangan ekosistem hutan tropis terbentuk melalui hubungan yang sangat kompleks antarspesies. Burung membantu menyebarkan biji, serangga menjaga siklus dekomposisi, sementara predator mengontrol populasi mangsa agar tetap stabil. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan yang tidak memiliki mekanisme pertahanan alami, seluruh jaringan ekologis dapat terganggu. Dalam banyak kasus, dampaknya tidak langsung terlihat. Namun di Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/">Jutaan Ular Menginvasi Pulau Kecil ini, Burung Hilang dan  Hutan Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Keseimbangan ekosistem hutan tropis terbentuk melalui hubungan yang sangat kompleks antarspesies. Burung membantu menyebarkan biji, serangga menjaga siklus dekomposisi, sementara predator mengontrol populasi mangsa agar tetap stabil. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan yang tidak memiliki mekanisme pertahanan alami, seluruh jaringan ekologis dapat terganggu. Dalam banyak kasus, dampaknya tidak langsung terlihat. Namun di Pulau Guam, sebuah wilayah kecil milik Amerika Serikat di Pasifik Barat, perubahan itu terjadi secara drastis dan kini menjadi salah satu contoh paling ekstrem invasi spesies di dunia. Pulau seluas sekitar 544 kilometer persegi tersebut mengalami krisis ekologis akibat ledakan populasi ular pohon cokelat (Boiga irregularis). Spesies asal Papua Nugini dan Australia bagian utara itu diduga masuk ke Guam melalui pengiriman logistik militer setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, Guam menjadi pusat aktivitas militer penting di kawasan Pasifik. Beberapa ekor ular yang terbawa dalam kargo diperkirakan berhasil bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan baru yang hampir tidak memiliki predator alami. Lokasi pulau Guam | Sumber: WorldMap Dalam beberapa dekade, populasi ular meningkat sangat cepat. Berbagai penelitian memperkirakan jumlahnya mencapai  jutaan ekor. Di beberapa area hutan, kepadatan ular dilaporkan dapat mencapai ribuan individu per kilometer persegi. Kondisi tersebut menciptakan tekanan predator yang sangat tinggi terhadap fauna lokal, terutama burung yang sebelumnya berevolusi tanpa ancaman predator semacam ini. Banyak spesies burung di Guam terbiasa bersarang di tempat terbuka dan tidak memiliki perilaku defensif terhadap ular arboreal yang aktif berburu pada malam hari. Burung Menghilang dari Hutan Guam Dampak paling terlihat dari invasi ini adalah hilangnya populasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/15/jutaan-ular-menginvasi-pulau-kecil-ini-burung-hilang-dan-hutan-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laporan Sebut Krisis Energi Rakyat Buntung, Industri Raup Untung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 23:56:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230703/IMG_3607-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127784</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kenaikan harga energi global tak hanya terasa di SPBU, tetapi merembet hingga ke dapur rumah tangga. Mulyati, ibu dua anak di Tangerang Selatan biasa menghabiskan Rp100.000 untuk tiga kali memasak. Belakangan ini, jumlah sama bahkan tak cukup untuk satu kali. “Bumbu-bumbu aja udah Rp60.000, belum lauk,” katanya. Sebagai pengelola keuangan keluarga, Mulyati dan banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/">Laporan Sebut Krisis Energi Rakyat Buntung, Industri Raup Untung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kenaikan harga energi global tak hanya terasa di SPBU, tetapi merembet hingga ke dapur rumah tangga. Mulyati, ibu dua anak di Tangerang Selatan biasa menghabiskan Rp100.000 untuk tiga kali memasak. Belakangan ini, jumlah sama bahkan tak cukup untuk satu kali. “Bumbu-bumbu aja udah Rp60.000, belum lauk,” katanya. Sebagai pengelola keuangan keluarga, Mulyati dan banyak perempuan lain bertanya-tanya. “Apakah kami yang boros? Apakah ini ada kaitannya dengan ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah, selain kondisi pasokan dan distribusi domestik?” Bagi Indonesia, situasi ini menjadi kerentanan ketahanan energi nasional karena masih bertumpu pada impor energi fosil seperti minyak dan gas. Ketika harga minyak dunia terus naik seiring memanasnya situasi di Selat Hormuz–salah satu jalur utama transportasi minyak dunia– risiko gangguan distribusi meningkat dan menimbulkan tekanan besar terhadap biaya impor energi, nilai tukar dan keuangan negara. Ketika biaya transportasi naik, harga barang di pasar pun ikut naik. Sebuah laporan terbaru dari 350.org berjudul Out of Pocket yang terbit tahun ini menunjukkan, masyarakat menanggung beban berlapis dari sistem energi fosil.  Saat yang sama perusahaan energi fosil justru meraup keuntungan besar dari situasi ini. “Ada dampak yang tidak terlihat dari krisis ini, yaitu,  kenaikan seluruh biaya hidup rumah tangga. Ini paling dirasakan oleh kelompok rentan yaitu nelayan, petani, pekerja informal, dan terutama perempuan yang mengelola ekonomi keluarga,” kata Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Country Manager 350.org saat diskusi laporan ini di Jakarta akhir April lalu. Krisis ini, katanya,  bukan sekadar statistik, tetapi kenyataan sehari-hari. Di Indonesia, pemerintah mengalokasikan Rp381 triliun pada APBN 2026&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/laporan-sebut-krisis-energi-rakyat-buntung-industri-raup-untung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 10:26:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14082438/3-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127765</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balinar tengah sibuk merapikan kayu di dapurnya yang dalam perbaikan usai terdampak banjir bandang akhir 2025 di Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kota Padang, Selasa (5/5/26). Satu rumah yang ada di belakang tempat tinggalnya hilang tersapu banjir. Memang, galado yang terjadi jelang tutup tahun itu tak sampai menghancurkan rumah Balinar. Namun, gara-gara peristiwa itu, kini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/">Petani Padang Menanti Pemerintah Bantu Pulihkan Lahan Sawah Pasca Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balinar tengah sibuk merapikan kayu di dapurnya yang dalam perbaikan usai terdampak banjir bandang akhir 2025 di Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Kota Padang, Selasa (5/5/26). Satu rumah yang ada di belakang tempat tinggalnya hilang tersapu banjir. Memang, galado yang terjadi jelang tutup tahun itu tak sampai menghancurkan rumah Balinar. Namun, gara-gara peristiwa itu, kini dia tak punya penghasilan setelah sawahnya yang berada tak jauh dari sungai porak-poranda. Praktis, perempuan 73 tahun itu bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan. Sebelum peristiwa itu terjadi, Balinar hidup dari tujuh petak sawah, delapan pohon kelapa dan puluhan tanaman kakao miliknya. Setahun, dia bisa dua kali panen dari sawah dengan rata-rata hasil panen 10 karung. Dengan harga Rp400.000 untuk satu karung gabah, Balinar merasa cukup. Apalagi, dia masih bisa mendapat tambahan dari kelapa yang biasa dia panen setiap dua bulan sekali. “Tapi sekarang sudah tidak ada yang bisa saya panen, satu petak pun tidak ada sisanya,” kata Balinar, Selasa (5/5/26). Ironisnya, saat kondisi ekonominya berantakan, nyaris tak ada bantuan dari pemerintah yang dia terima. Rumah warga di Batu Busuak Kecamatan Pauh hancur dihantam banjir bandang akhir November 2025. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Balinar berulang kali mengadukan kondisi sawahnya itu ke kantor kelurahan tetapi tak ada hasil. “Belum ada (respons) sampai sekarang, memang mati mata pencaharian kami,” ujarnya. Saat pembahasan lahan pertanian di kantor kelurahan, suaminya sempat mendapat bantuan bibit kelapa. Namun, dia tak ambil karena tak ada lahan untuk menanamnya. Meski begitu, dia tetap berharap pemerintah dapat mencarikan solusi atas lahan sawah yang hilang itu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/petani-padang-menanti-pemerintah-bantu-pulihkan-lahan-sawah-pasca-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Oranye dari Poso, Spesies Baru Rhododendron Abadikan Nama Pendeta Yombu Wuri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 05:20:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14014949/Orangye-Poso-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127749</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso. Temuan ini rilis dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/">Oranye dari Poso, Spesies Baru Rhododendron Abadikan Nama Pendeta Yombu Wuri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso. Temuan ini rilis dalam jurnal ilmiah Taiwania International Journal of Biodiversity dengan judul “Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia” oleh P. W. K. Hutabarat, Zulfadli, K. P. Bandjolu, Basrul, M. R. Hariri, A. Senatama dan S. H. Larekeng. Dalam publikasi itu, para peneliti menyajikan deskripsi morfologi terperinci, pengamatan mikroskopis komparatif, catatan mengenai distribusi, habitat, dan ekologi, serta penilaian konservasi awal. Sebelumnya, spesies ini berasal dari bahan koleksi di Pegunungan Tokorondo, sebelah barat laut Danau Poso. Saat ini dibudidayakan di ketinggian lebih rendah dekat Air Terjun Saluopa, tempat ia tumbuh secara menumpang pada tumbuhan lain (epifit) dan menghasilkan bunga-bunga kecil berwarna oranye cerah. Para peneliti menyebut spesies ini merupakan anggota baru subgenus Vireya, kelompok Rhododendron tropis yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara. Pemberian nama spesies “yombuwurii” sebagai penghormatan kepada almarhum Pendeta Yombu Wuri, aktivis, tokoh agama dan budaya terkemuka dari Suku Pamona, yang dikenal karena perjuangan dalam melawan perusakan lingkungan dan kampanye pada upaya pelestarian keanekaragaman hayati, kebudayaan dan perdamaian di Poso. &nbsp; Sumber: dokumen penelitian Yombu Wuri meninggal dunia pada 20 Mei 2024. Hingga akhir hayat Yombu Wuri kerap membawa isu perdamaian, lingkungan, keanekaragaman hayati dan kebudayaan Suku Pamona pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/oranye-dari-poso-spesies-baru-rhododendron-abadikan-nama-pendeta-yombu-wuri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mei 2026 01:30:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14012100/Ular-Pucuk-Daun-Foto-Clarissa-Amelia-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127744</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Untuk sebagian orang, ular identik sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut. Namun, bagi Clarissa Amelia (22), mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengalaman bertemu langsung ular pucuk, mengubah cara pandangnya terhadap reptil yang kerap disalahpahami ini. Ketua GARDA Nymphaea ITB itu, pertama kali mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung. Lokasinya bukan hutan lebat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/">Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Untuk sebagian orang, ular identik sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut. Namun, bagi Clarissa Amelia (22), mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengalaman bertemu langsung ular pucuk, mengubah cara pandangnya terhadap reptil yang kerap disalahpahami ini. Ketua GARDA Nymphaea ITB itu, pertama kali mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung. Lokasinya bukan hutan lebat, melainkan area cukup dekat aktivitas manusia dan di tengah kota. Ada juga di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, wilayah konservasi yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” ujarnya, Senin (12/5/2026). Di kawasan konservasi, ular pucuk hidup di antara pepohonan. Sementara, di wilayah yang mengalami gangguan manusia, reptil tersebut mampu bertahan. “Sungai Cikacika itu cukup dekat dengan manusia, tapi ularnya hidup di sana.” Ahaetulla prasina dikenal sebagai jenis arboreal atau lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Tubuhnya ramping memanjang dengan warna hijau terang yang membuatnya mudah berkamuflase di dedaunan. “Melingkar di batang atau di dedaunan.” Ular pucuk yang memiliki peran penting bagi ekosistem alam. Foto: Clarissa Amelia Perjumpaan malam hari Perjumpaan ular pucuk sebagian besar terjadi malam hari. Menariknya, saat Clarissa kembali ke lokasi yang sama pagi hari, ular yang tersebar luas di Asia Selatan ini, masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ucapnya. Meski dikenal berbisa (lemah), ular pucuk, tidak menunjukkan perilaku agresif selama proses pengamatan. Clarissa mengaku bisa memotretnya dari jarak cukup dekat, kurang dari satu meter. “Cenderung diam dan tenang.” Ada satu detail yang membuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/14/ular-pucuk-penjaga-keseimbangan-ekosistem-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Ungkap Orang Super Kaya Kuasai Sumber Daya Alam, Rakyat Tanggung Dampak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/13/riset-ungkap-orang-super-kaya-kuasai-sumber-daya-alam-rakyat-tanggung-dampak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/13/riset-ungkap-orang-super-kaya-kuasai-sumber-daya-alam-rakyat-tanggung-dampak/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mei 2026 08:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/21080919/DJI_0274-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127690</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumber daya alam Indonesia tereksploitasi masif. Penikmatnya segelintir orang super kaya, mengakibatkan ketimpangan ekonomi signifikan, sementara mayoritas rakyat kecil menghadapi biaya hidup yang kian meningkat. Laporan Center of Economic and Law Studies (Celios) berjudul Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026: Republik Oligarki, mengungkap, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bahkan, setara dengan kekayaan 55 juta warga kelas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/13/riset-ungkap-orang-super-kaya-kuasai-sumber-daya-alam-rakyat-tanggung-dampak/">Riset Ungkap Orang Super Kaya Kuasai Sumber Daya Alam, Rakyat Tanggung Dampak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumber daya alam Indonesia tereksploitasi masif. Penikmatnya segelintir orang super kaya, mengakibatkan ketimpangan ekonomi signifikan, sementara mayoritas rakyat kecil menghadapi biaya hidup yang kian meningkat. Laporan Center of Economic and Law Studies (Celios) berjudul Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026: Republik Oligarki, mengungkap, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bahkan, setara dengan kekayaan 55 juta warga kelas bawah. Sepanjang 2019-2025, kekayaan mereka meningkat, dari sekitar Rp2.508 triliun menjadi Rp4.651 triliun. Media Wahyudi Askar, Direktur Keadilan Fiskal Celios, mengatakan, kelompok ini mampu mengakumulasi kekayaan hingga Rp13 miliar per hari, sementara upah buruh hanya mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 per hari. Proyeksinya, kekayaan median superkaya pada 2050 melonjak 106% menjadi Rp107,7 triliun. Sebaliknya, median kekayaan penduduk hanya naik 20% menjadi Rp101 juta. Catatan Celios, peringkat orang terkaya pertama di Indonesia ialah Keluarga Hartono dengan kekayaan Rp650 trliun. Prajogo Pangestu peringkat kedua dengan kekayaan Rp483 triliun. Lalu, Keluarga Widjaja (Rp478 triliun), Low Tuck Kwong (Rp341 triliun), Anthony Salim (Rp221 triliun), dan keluarga Tahir (Rp179 triliun). Lima triliuner teratas ini, membutuhkan waktu hingga 603 tahun, hanya untuk menghabiskan hartanya jika mereka belanjakan Rp2 miliar setiap hari. Sebaliknya, masyarakat menengah dan bawah terus terjepit inflasi dan minimnya perlindungan sosial. &#8220;Ketimpangan itu mungkin bisa didefinisikan secara angka, tetapi ketimpangan itu nyata dirasakan,” katanya dalam peluncuran laporan  di Jakarta, April lalu. Dia bilang, pengaruh oligarki ini merambah sampai ke kendali sistemik atas nasib hidup orang banyak. Kelompok yang jumlahnya hanya sekitar 1.700 orang ini memiliki kekuatan menentukan harga komoditas strategis, mulai dari minyak goreng, LPG 3 kg, hingga tarif transportasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/13/riset-ungkap-orang-super-kaya-kuasai-sumber-daya-alam-rakyat-tanggung-dampak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/13/riset-ungkap-orang-super-kaya-kuasai-sumber-daya-alam-rakyat-tanggung-dampak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polisi Gagalkan Penyelundupan Kayu Mangrove dan Timah ke Singapura</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/13/polisi-gagalkan-penyelundupan-mangrove-ke-singapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/13/polisi-gagalkan-penyelundupan-mangrove-ke-singapura/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mei 2026 04:05:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan dan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11170959/WhatsApp-Image-2026-04-23-at-16.36.36-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127685</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perairan Selat Malaka terus menjadi  jalur penyelundupan berbagai komoditas. Terbaru, jajaran Polda Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 12.000 kayu mangrove ke Singapura dan 19 ton timah ke Riau. Kombes Pol. Nona Pricillia Ohei, Kabid Humas Polda Kepri dalam keterangannya katakan, ribuan batang mangrove yang diselundupkan itu sudah terpotong kecil-kecil. “Sampai sekarang kasusnya masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/13/polisi-gagalkan-penyelundupan-mangrove-ke-singapura/">Polisi Gagalkan Penyelundupan Kayu Mangrove dan Timah ke Singapura</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perairan Selat Malaka terus menjadi  jalur penyelundupan berbagai komoditas. Terbaru, jajaran Polda Kepulauan Riau (Kepri) berhasil gagalkan upaya penyelundupan 12.000 kayu mangrove ke Singapura dan 19 ton timah ke Riau. Kombes Pol. Nona Pricillia Ohei, Kabid Humas Polda Kepri dalam keterangannya katakan, ribuan batang mangrove yang diselundupkan itu sudah terpotong kecil-kecil. “Sampai sekarang kasusnya masih dalam proses pendalaman,” katanya, Kamis (23/4/26). Dia bilang, terungkapnya kasus ini berkat ada informasi pengiriman ribuan batang mangrove ke Singapura. Hingga Rabu (22/4/26), Satuan Polairud Polda Kepri melakukan penghadangan terhadap Kapal KM Citra Samudra 9 yang melintas di perairan Pulau Panjang, Batam. Saat  pemeriksaan, polisi dapati kapal berkapasitas 99 gross tonnage (GT) itu tengah mengangkut ribuan kayu mangrove tanpa  dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH). Dalam keterangannya, LE, nakhoda kapal mengaku barang  itu hendak dibawa ke Singapura. Polisi lantas mengamankan LE berikut enam anak buah kapal (ABK) untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Dari hasil interogasi, diketahui bahwa belasan ribu batang kayu bakau tersebut berasal dari Pulau Jaloh, Kelurahan Judah, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun,” kata Nona. Polisi menengarai seorang berinisial M sebagai otak sekaligus penyokong dana praktik ini. Warga negara Singapura itu bahkan disebut-sebut sempat menyewa sebuah kapal di Batam melalui seseorang. Sedangkan LE, selain nakhoda, juga turut mengatur langsung proses pengumpulan kayu hingga teknis keberangkatan ke Singapura. “Sementara aliran dana pembelian kayu diatur melalui orang kepercayaan pemodal yang berada di Batam.&#8221; Saat ini, barang bukti satu  KLM. Citra Samudra 9 beserta muatan 12.000 batang kayu bakau telah polisi amankan di markas Ditpolairud Polda Kepri untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/13/polisi-gagalkan-penyelundupan-mangrove-ke-singapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/13/polisi-gagalkan-penyelundupan-mangrove-ke-singapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hanya 4.000 KM dari Habitat Ular Paling Mematikan, Mengapa Selandia Baru Tak Dihuni Ular?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/12/hanya-4-000-km-dari-habitat-ular-paling-mematikan-mengapa-selandia-baru-tak-dihuni-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/12/hanya-4-000-km-dari-habitat-ular-paling-mematikan-mengapa-selandia-baru-tak-dihuni-ular/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mei 2026 23:16:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031810/Ka%CC%84ka%CC%84po%CC%84_head-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127727</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selandia Baru sering kali dianggap sebagai potongan surga yang tertinggal di Pasifik Selatan karena bentang alamnya yang murni. Namun, di balik keindahan perbukitan hijau dan puncaknya yang bersalju, terdapat sebuah anomali biologi yang justru menjadi berkah bagi para penghuninya. Negara ini berdiri sebagai salah satu dari sedikit wilayah di bumi yang sama sekali tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/hanya-4-000-km-dari-habitat-ular-paling-mematikan-mengapa-selandia-baru-tak-dihuni-ular/">Hanya 4.000 KM dari Habitat Ular Paling Mematikan, Mengapa Selandia Baru Tak Dihuni Ular?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selandia Baru sering kali dianggap sebagai potongan surga yang tertinggal di Pasifik Selatan karena bentang alamnya yang murni. Namun, di balik keindahan perbukitan hijau dan puncaknya yang bersalju, terdapat sebuah anomali biologi yang justru menjadi berkah bagi para penghuninya. Negara ini berdiri sebagai salah satu dari sedikit wilayah di bumi yang sama sekali tidak memiliki ular di alam liarnya. Keunikan ini terasa semakin mustahil jika kita melihat posisi geografisnya di peta. Selandia Baru hanya berjarak sekitar 4.000 kilometer dari daratan utama Australia, sebuah benua yang memegang rekor sebagai rumah bagi ular-ular paling berbisa di planet ini, seperti Taipan Pedalama (Oxyuranus microlepidotus) yang mematikan dan Ular-Cokelat Timur (Pseudonaja textilis). Di sebelah utaranya, terdapat Indonesia, sebuah negara kepulauan tropis dengan kekayaan herpetofauna yang luar biasa, mulai dari King Cobra (Ophiophagus hannah) yang legendaris hingga ular sanca raksasa, misalnya Sanca Kembang (Malayopython reticulatus). Namun, di tengah kepungan wilayah yang kaya akan reptil melata tersebut, Selandia Baru tetap menjadi benteng yang tak tertembus. New Zealand (Selandia Baru) yang tak jauh dari Australia dan Indonesia | WorldAtlas Ketiadaan ular di Selandia Baru bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau sekadar keberuntungan iklim semata. Fenomena ini merupakan hasil dari proses geologis yang dimulai jutaan tahun lalu. Untuk memahami mengapa tidak ada satu pun taring yang bersembunyi di balik semak semak hutan Selandia Baru, kita harus kembali ke masa ketika daratan bumi masih menyatu dalam superkontinen Gondwana. Sekitar delapan puluh juta tahun yang lalu, Selandia Baru mulai memisahkan diri dari daratan besar tersebut. Pemisahan ini terjadi jauh sebelum ular modern&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/hanya-4-000-km-dari-habitat-ular-paling-mematikan-mengapa-selandia-baru-tak-dihuni-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/12/hanya-4-000-km-dari-habitat-ular-paling-mematikan-mengapa-selandia-baru-tak-dihuni-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Hanya Orangutan, Rawa Singkil juga Habitat Burung Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/12/bukan-hanya-orangutan-rawa-singkil-juga-habitat-burung-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/12/bukan-hanya-orangutan-rawa-singkil-juga-habitat-burung-liar/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mei 2026 14:23:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/12140457/Foto-Rawa-Singkil-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127718</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam merupakan hutan rawa gambut tersisa di Provinsi Aceh. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 580 Tahun 2018, luasnya 81.765 hektar. Rawa Singkil selama ini lebih dikenal sebagai habitat penting orangutan sumatera. Padahal,  wilayah ini juga menyimpan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/bukan-hanya-orangutan-rawa-singkil-juga-habitat-burung-liar/">Bukan Hanya Orangutan, Rawa Singkil juga Habitat Burung Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam merupakan hutan rawa gambut tersisa di Provinsi Aceh. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 580 Tahun 2018, luasnya 81.765 hektar. Rawa Singkil selama ini lebih dikenal sebagai habitat penting orangutan sumatera. Padahal,  wilayah ini juga menyimpan keragaman jenis burung. Di sejumlah titik rawa dan tepian sungai, burung kuntul tampak mencari makan. Sesekali terdengar suara rangkong melintas di atas kanopi hutan. Ada juga jenis elang, raja udang, bangau, hingga burung migran yang singgah saat musim tertentu. Mongabay Indonesia bersama Tedi Wahyudi dari LetsBirding Sumatera, dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Center (YOSL-OIC) mengunjungi Rawa Singkil, pada 29 April sampai 1 Juni 2026. Syafrizaldi Jpang, Direktur YOSL-OIC, mendorong adanya penelitian khusus terkait burung di kawasan ini. “Banyak spesies yang belum terdata, termasuk mamalia. Rawa Singkil menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang belum terungkap dan berpeluang menjadi habitat penting bagi satwa liar langka di Sumatera,” terangnya, Minggu (10/5/2026). Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan hutan rawa gambut tersisa di Aceh yang merupakan habitatnya orangutan sumatera beserta burung liar. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Tedi Wahyudi menuturkan, pendataan keragaman hayati terakhir yang menjadi rujukan penting, dilakukan Giesen dan Bas van Balen pada 1992. Hasil kajian tersebut menjadikan kawasan Trumon–Singkil ditetapkan sebagai Important Bird Area (IBA) oleh BirdLife International pada 2001, dengan cakupan sekitar 157 ribu hektar. Ini termasuk sebagian kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Ada tiga spesies kunci yang menjadi dasar penetapan IBA tersebut, yakni White-winged Duck&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/bukan-hanya-orangutan-rawa-singkil-juga-habitat-burung-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/12/bukan-hanya-orangutan-rawa-singkil-juga-habitat-burung-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Pesisir Lombok Hasilkan Cuan dari Limbah Cangkang Kepiting</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/12/perempuan-pesisir-lombok-ubah-cangkang-kepiting-jadi-kerupuk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/12/perempuan-pesisir-lombok-ubah-cangkang-kepiting-jadi-kerupuk/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mei 2026 07:21:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/09162205/Seorang-anggota-kelompok-sedang-menjemur-kerupuk-kepiting-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127603</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin laut berhembus halus membawa aroma asin laut pesisir Dusun Kuranji, Desa Paremas, Kabupaten Lombok Timur, pada Selasa (31/3/26) pagi. Di tepian dermaga sederhana, beberapa perempuan berdiri menatap laut, menunggu perahu-perahu kecil setelah semalaman melaut. Harniati berdiri dengan keranjang di tangan. Matanya menatap ke kejauhan, mencari siluet perahu suaminya di antara riak gelombang pagi. Dia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/perempuan-pesisir-lombok-ubah-cangkang-kepiting-jadi-kerupuk/">Para Perempuan Pesisir Lombok Hasilkan Cuan dari Limbah Cangkang Kepiting</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin laut berhembus halus membawa aroma asin laut pesisir Dusun Kuranji, Desa Paremas, Kabupaten Lombok Timur, pada Selasa (31/3/26) pagi. Di tepian dermaga sederhana, beberapa perempuan berdiri menatap laut, menunggu perahu-perahu kecil setelah semalaman melaut. Harniati berdiri dengan keranjang di tangan. Matanya menatap ke kejauhan, mencari siluet perahu suaminya di antara riak gelombang pagi. Dia hafal betul ritme laut,  kapan ombak ramah, kapan angin berubah arah, kapan langit memberi tanda hujan tetapi  beberapa tahun terakhir, semua itu terasa berbeda. “Sekarang susah ditebak. Kadang cuaca bagus waktu berangkat, tapi tengah malam tiba-tiba angin besar. Kadang laut tenang, tapi ikan tidak ada,” katanya. Harniati berasal dari keluarga nelayan dan menikah dengan nelayan. Selama puluhan tahun, kehidupan rumah tangganya mengikuti musim laut. Jika tangkapan bagus, dapur mengepul tenang. Jika musim paceklik datang, mereka menahan belanja dan berutang ke warung. Menurut perempuan 52 tahun ini, perubahan beberapa tahun terakhir bukan lagi sekadar musim buruk tahunan. Cuaca ekstrem datang lebih sering, angin berubah tak menentu, gelombang meninggi di luar kebiasaan, dan hasil tangkapan makin sulit. Ketika perahu suaminya merapat pagi itu, isi palka perahu mesin 10 PK tidak banyak. Beberapa ikan campuran dan dua keranjang kepiting. Tidak cukup untuk menutup biaya solar, es batu, dan bekal melaut. Meski begitu, Harniati tak terkejut karena sudah terbiasa dengan hasil yang tak menentu itu. Perempuan di Lombok Timur menjemur bahan kerupuk. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Manfaatkan cangkang kepiting Yang tidak biasa adalah langkah yang kemudian dia ambil,  membawa pulang cangkang kepiting yang dulu terbuang, lalu mengolahnya menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/perempuan-pesisir-lombok-ubah-cangkang-kepiting-jadi-kerupuk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/12/perempuan-pesisir-lombok-ubah-cangkang-kepiting-jadi-kerupuk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menagih Keseriusan Pemerintah Pulihkan Alam Pasca Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mei 2026 00:39:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemarna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/06064725/Bencana-Batang-Toru-BNPB-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127692</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bencana Sumatera sudah enam bulan berlalu, tetapi dampaknya masih berlangsung hingga saat ini. Nasib ribuan warga terdampak masih terombang-ambing dalam ketidakpastian hak dasar pasca bencana. Hunian belum pasti, krisis air bersih, akses jalan yang hancur hingga ancaman bencana susulan karena aktivitas ekstraktif masih terus terjadi. Kondisi ini membuat pemulihan pasca dianggap mengkhawatirkan dan terkesan lambat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/">Menagih Keseriusan Pemerintah Pulihkan Alam Pasca Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bencana Sumatera sudah enam bulan berlalu, tetapi dampaknya masih berlangsung hingga saat ini. Nasib ribuan warga terdampak masih terombang-ambing dalam ketidakpastian hak dasar pasca bencana. Hunian belum pasti, krisis air bersih, akses jalan yang hancur hingga ancaman bencana susulan karena aktivitas ekstraktif masih terus terjadi. Kondisi ini membuat pemulihan pasca dianggap mengkhawatirkan dan terkesan lambat. Berbagai kalangan mengingatkan pemerintah untuk restorasi alam dan pemulihan ruang ekonomi masyarakat terdampak seperti lahan pertanian maupun perkebunan dan sarana pendukungnya. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) mendesak daerah yang terkena bencana jadi episentrum restorasi alam antara lain, restorasi DAS dan pemulihan lahan longsor. Langkah ini, bahkan berpotensi besar menyerap tenaga kerja lokal dalam skala masif. Di tengah bencana, ladang pertanian, seperti kopi dan kelapa menunjukkan resiliensi luar biasa. Seharusnya ini menjadi kompas bagi pemerintah dalam menyusun ulang peta jalan ekonomi rakyat. Untuk itu, dia menawarkan langkah konkret dengan mendesak realisasi anggaran lebih berani. Dari sisi pemulihan ekonomi warga, kata Bhima, perbaikan irigasi dan sarana distribusi menuju ke kebun-kebun rakyat lebih mendesak ketimbang memfasilitasi jalur logistik industri ekstraktif. Dia bilang, perlu memperbesar skala rehabilitasi pertanian. Jika perlu, ambil 20% dari anggaran makan bergizi gratis (MBG) untuk memulihkan ladang rakyat. “Kita harus membangun ulang sentra produksi kopi dan kelapa, lengkap dengan hilirisasi dan jalur logistik yang murah di tingkat lokal,” katanya. Riset Celios kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp68,67 triliun.  Sedangkan BNPB, memperkirakan total kebutuhan anggaran pemulihan bencana ini mencapai Rp51,82 triliun. Bhima bilang, kondisi ini sebagai ancaman permanen bagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nanaimoteuthis haggarti: Gurita Raksasa Terbesar dalam Sejarah dengan Panjang hingga 19 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 14:13:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11140646/giant-octopus-nanaimoteuthis-reconstruction-full-width-pr-no-reuse.jpg.thumb_.1920.1920-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127677</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh sebelum manusia mengenal lautan, pada masa Kapur Akhir ketika dinosaurus non-avian masih mendominasi daratan, perairan dalam Samudra Pasifik Utara kuno menyimpan predator yang hingga kini sulit dibayangkan skalanya. Nanaimoteuthis haggarti; gurita bersirip dari ordo Cirrata, diestimasi mencapai panjang total 7 hingga 19 meter berdasarkan analisis fosil rahangnya. Batas atas estimasi tersebut menempatkannya sejajar dengan paus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/">Nanaimoteuthis haggarti: Gurita Raksasa Terbesar dalam Sejarah dengan Panjang hingga 19 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh sebelum manusia mengenal lautan, pada masa Kapur Akhir ketika dinosaurus non-avian masih mendominasi daratan, perairan dalam Samudra Pasifik Utara kuno menyimpan predator yang hingga kini sulit dibayangkan skalanya. Nanaimoteuthis haggarti; gurita bersirip dari ordo Cirrata, diestimasi mencapai panjang total 7 hingga 19 meter berdasarkan analisis fosil rahangnya. Batas atas estimasi tersebut menempatkannya sejajar dengan paus sperma dewasa (Physeter macrocephalus), salah satu mamalia laut terbesar yang masih hidup, dan menjadikannya kandidat terkuat sebagai invertebrata non-kolonial terbesar dalam sejarah Bumi. Tim peneliti dari Natural History Museum London dan Universitas Hokkaido, yang dipimpin oleh Shin Ikegami, baru-baru ini mengonfirmasi keberadaan spesies ini. Studi yang dipublikasikan 23 April 2026 di jurnal Science ini menganalisis 27 fosil rahang yang ditemukan di Kanada dan Jepang, mengindikasikan bahwa gurita raksasa ini pernah menguasai perairan dalam di Samudra Pasifik Utara kuno. Nanaimoteuthis haggarti menunjukkan bahwa gurita mencapai ukuran sangat besar cukup awal dalam evolusinya. © Yohei Utsuki. Universitas Hokkaido N. haggarti bukan sekadar besar. Ia adalah predator puncak yang ditakuti. Di lautan yang sama, berenang pula mosasaurus; reptil laut raksasa sepanjang 17 meter. Keduanya kemungkinan bersaing memperebutkan mangsa yang sama: ikan-ikan besar dan hewan bercangkang keras yang melimpah di lautan saat itu. Buktinya ada di rahang fosilnya. Analisis yang dilakukan para peneliti menunjukkan keausan luar biasa pada rahang fosil; tanda bahwa gurita ini terbiasa menghancurkan mangsa bercangkang keras. Yang lebih mengejutkan, keausan di sisi kanan dan kiri rahang tidak sama. Ini mirip dengan kecenderungan &#8220;tangan dominan&#8221; yang kita kenal pada manusia, dan pada hewan seperti lumba-lumba serta primata. Dengan kata lain, N. haggarti kemungkinan bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 09:21:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11091848/north_sumatra_0031-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127671</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/">Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, dan perubahannya belum tentu ke arah yang baik. Ular memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Lebih dari itu, kehadiran atau ketiadaannya dapat menjadi penunjuk tentang sehat atau tidaknya sebuah hutan. Saat ular mulai menghilang, bisa jadi hutan sedang mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 350 spesies ular, mulai dari sanca kembang di hutan Kalimantan hingga berbagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di satu pulau saja. Dalam jaring makanan, ular bekerja di beberapa lapisan sekaligus. Mereka memangsa tikus, katak, kadal, dan burung kecil, sekaligus menjadi mangsa bagi elang, biawak, dan mamalia besar. Ketika populasi ular turun, tikus dan hewan pengerat lain bisa meledak jumlahnya tanpa pengendali alami, yang berujung pada kerusakan pertanian dan potensi penyebaran zoonosis. Ular gadung (Ahaetulla prasina), salah satu ular tak berbisa yang mudah dijumpai di tepi hutan hingga taman dekat permukiman. Foto oleh Rhett A. Butler/Mongabay Penurunan populasi ular tidak hanya berdampak pada spesies yang memangsa ular, tapi juga berdampak di berbagai lapisan rantai makanan. Ada juga peran yang lebih tak terduga: ketika ular menelan hewan pengerat yang sebelumnya menyimpan biji di tubuhnya, biji-biji itu bisa keluar melalui kotoran dalam kondisi utuh, sehingga ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kepiting Berjalan Miring? Hasil Evolusi 200 Juta Tahun Lalu Buktinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 07:57:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127666</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa kepiting (Branchyura) berjalan miring? Ilmu pengetahuan telah menemukan jawabannya. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan. Ini memungkinkan kepiting membuat gerakan ke samping lebih panjang dan cepat dibandingkan jika harus bergerak ke depan. Sehingga, saat melarikan diri dari ancaman predator, kepiting lebih efektif bergerak ke samping [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/">Mengapa Kepiting Berjalan Miring? Hasil Evolusi 200 Juta Tahun Lalu Buktinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa kepiting (Branchyura) berjalan miring? Ilmu pengetahuan telah menemukan jawabannya. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan. Ini memungkinkan kepiting membuat gerakan ke samping lebih panjang dan cepat dibandingkan jika harus bergerak ke depan. Sehingga, saat melarikan diri dari ancaman predator, kepiting lebih efektif bergerak ke samping daripada mundur atau memutar tubuh. Kepiting merupakan infraordo Decapoda yang mencakup hampir semua kepiting yang kita kenal. Termasuk yang hadir di meja makan, kepiting bakau dan rajungan. Kepiting memiliki karapas lebar dengan abdomen pendek, serta 4 pasang kaki dan 1 pasang capit. Artikel berjudul “Evolution of sideways locomotion in crabs,” menerangkan bahwa kepiting hampir semuanya bergerak menyamping. Kepiting memiliki lebih dari 7.904 spesies, jauh lebih banyak dari kerabat dekatnya seperti Astacidea (lobster bercapit, udang karang). Habitatnya beragam, dari laut dangkal, air tawar, daratan, hingga laut dalam. Indukan kepiting bakau di fasilitas budidaya di pesisir timur Pulau Bangka. Foto: Nopri Ismi Mongabay Indonesia. Sejak kapan kepiting mulai bergerak ke samping? Pertanyaan inilah yang ingin dijawab oleh sekelompok peneliti yang bekerja untuk institusi Jepang, Taiwan, dan Amerika. “Asal-usul evolusi dari perilaku unik ini belum diketahui. Prevalensi pergerakan menyamping mencerminkan asal evolusi tunggal dari nenek moyang yang bergerak maju,” tulis Yuuki Kawabata bersama rekan, dalam artikel yang diterbitkan di eLife itu. Menurut mereka, dari 50 spesies kepiting yang dipelajari, pergerakan kepiting dapat dipisahkan menjadi dua jenis. Yaitu, bergerak maju dan menyamping. Menariknya, tidak ada yang berada di antara keduanya sekaligus. Dari analisis perbandingan filogenetik atau berdasarkan sejarah evolusinya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Derita Warga Buntut Karut Marut Pemerintah Urus Tanah buat Tambang Batubara di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 04:30:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/10065931/Kondisi-di-sekitar-lahan-Anton-Timur-dan-Abdul-Muthalib-yang-telah-rusak-akibat-aktivitas-pertambangan.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127623</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Karut marut tata kelola pertanahan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali mencuat di permukaan. Setelah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) membatalkan sepihak 717 tanah transmigran bersertifikat hak milik (SHM), pencaplokan lahan warga untuk tambang batubara terus terjadi. Haris Fadillah dan Yoni Gunawan, pasangan suami-istri dari Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/">Derita Warga Buntut Karut Marut Pemerintah Urus Tanah buat Tambang Batubara di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Karut marut tata kelola pertanahan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali mencuat di permukaan. Setelah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) membatalkan sepihak 717 tanah transmigran bersertifikat hak milik (SHM), pencaplokan lahan warga untuk tambang batubara terus terjadi. Haris Fadillah dan Yoni Gunawan, pasangan suami-istri dari Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara ini mendapati tanah kena garuk PT Sebuku Tanjung Coal (STC). Padahal, lahan yang dia beli 2020 itu merupakan investasi yang mereka jadikan kebun. Awalnya, mereka beli tanah 28.000 meter² Rp110 juta dengan status masih segel. Kemudian, mereka tanami 350.000 bibit porang dan puluhan pohon pinus dan pisang. Modalnya, dari pinjaman bank Rp2,7 miliar dengan masa cicil tiga tahun. Rumah dan tanah mereka di Banjarbaru jadi jaminannya. &#8220;Tanaman porang itu akan panen dalam empat tahun. Hasilnya, kami hitung cukup untuk melunasi hutang di bank,&#8221; kata Yoni, pertengahan Maret. Awal 2023, kebun itu menunjukkan hasil. Tanaman tumbuh subur, bahkan sebagian menghasilkan umbi kembar. Kebahagian buyar ketika STC klaim sebagian lahan masuk konsesi perusahaan batubara ini. “Seingat saya, 11 Oktober 2022, saya pertama kali mendapat pesan dari orang perusahaan. Mereka bilang kalau tanah saya masuk IUP (izin usaha pertambangan),” kata perempuan 36 tahun itu. Kabar itu membuatnya kaget. Sejak 2021, dia  mengajukan peningkatan status tanah ke Kanwil BPN Kotabaru, dari segel menjadi SHM. tetapi, sampai perusahaan datang, proses tak kunjung jalan. “Pada 2022, saya diminta membayar pajak dan berbagai keperluan lainnya. Setelah semua dipenuhi, proses juga tetap tidak berjalan. Mungkin karena masuk dalam IUP itu.” Perusahaan, katanya, sempat menawarkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gerakan Tanam Mangrove di Biak: Peran Mama-Mama dan Ingatan Tsunami 1996</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 02:26:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ridzki R Sigit]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11021323/BIAK-31-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127649</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, solusi iklim, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba. Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/">Gerakan Tanam Mangrove di Biak: Peran Mama-Mama dan Ingatan Tsunami 1996</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba. Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1996. Gempa utama terjadi kira-kira pukul 12.59 WIT, dengan kekuatan sekitar 8,2 Moment Magnitude (Mw), akibat aktivitas tektonik lempeng Samudera Pasifik. Di beberapa tempat di lokasi pesisir, ketinggian gelombang mencapai hingga tinggi 7 meter. Dalam kepanikan di sore itu, Efraim mencari tempat tertinggi yang bisa ia jangkau. Dia menemukan sebatang pohon, lalu bersama saudaranya, dia memanjat hingga sekitar sepuluh meter. Di atas sana, mereka bertahan berjam-jam, menunggu air surut. Ketika gelombang akhirnya mereda, ia turun dan menyaksikan wajah kampungnya, Kampung Tanjung Barari—yang oleh warga juga disebut Menurwar—Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Papua telah berubah. Banyak kerusakan terjadi, meski syukurnya tidak ada korban jiwa. Peristiwa itu tertanam kuat dalam ingatannya—bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai titik balik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap alam. Efraim Rumkoren, salah satu tokoh masyarakat dan penggagas restorasi mangrove di Tanjung Barari, Biak Numfor. Foto: Ridzki R SIgit/Mongabay Indonesia Tiga puluh tahun berselang, sebagai saksi sejarah kampungnya, Efraim melihat perubahan yang tak kalah mengkhawatirkan. Garis pantai bergeser semakin masuk ke daratan. Di depan Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Bahtera Injili, ia memperkirakan pergeseran itu mencapai sekitar 30 meter. Abrasi itu nyata. Dia pun mulai menghubungkan antara bencana&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Runtuhnya Kejayaan Budidaya Rumput Laut Tinanggea Karena Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 01:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30043323/Roon_LMMA3-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127544</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>La Ode Baharuddin,  baru saja pulang dari laut. Lumpur membalut punggung kaki sampai betis seusai mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium) di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pekerjaan itu dia tekuni sejak budi daya rumput laut, yang dulu menyejahterakan warga, mulai meredup sejak lima tahun lalu akibat limbah industri nikel.  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/">Runtuhnya Kejayaan Budidaya Rumput Laut Tinanggea Karena Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[La Ode Baharuddin,  baru saja pulang dari laut. Lumpur membalut punggung kaki sampai betis seusai mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium) di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pekerjaan itu dia tekuni sejak budi daya rumput laut, yang dulu menyejahterakan warga, mulai meredup sejak lima tahun lalu akibat limbah industri nikel.  “Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin. Sudah tiga tahun terakhir, budidaya rumput lautnya tak menghasilkan. Saat hujan turun, warna air laut menguning, rumput laut tak berkembang dan petani merugi. Sejak 2017, budidaya rumput laut di desa ini mulai menurun dugaan dampak limbah tambang nikel.  Petani pun mengeluhkan penampungan ore nikel di bibir pantai, aktivitas bongkar muat dan lalu lalang kapal. Hingga kini, tak ada solusi.  Sejak pendapatan terus menurun, Baharuddin pun mulai menjelajahi lumpur di sekitar pohon bakau untuk mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium).  “Burungo banyak, tetapi setengah mati. Tertanam kaki, (karena) jalannya di lumpur,” katanya.  Dia mencari dan menjual burungo untuk biaya hidup sehari-hari, sama seperti sebagian masyarakat pesisir Tinanggea yang berhenti budi daya rumput laut. Pelampung dan tali rumput laut telah lama disimpan dan diikat pada tiang rumah suku Bajo di Desa Bungin Permai. Sudah lama mereka tidak menggunakannya. Foto: La Ode Risman Hermawan/ Mongabay Indonesia Mayoritas pencari burungo di Tinanggea biasa menjual daging setelah diolah atau dimasak  Rp20.000 per kilogram. Burungo yang Baharuddin jual burango segar dengan hanya memecahkan cangkangnya. Harga Rp3.000-Rp5.000 per kg. Hasil penjualan tak cukup untuk memenuhi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 23:38:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010316/kawasi-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127639</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Halmahera Selatan dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pingkan berusia 1,5 tahun saat kena serangan sesak napas kali pertama,  delapan tahun lalu. Ibunya, Lily, panik. Dia bolak balik ke Pustu dan klinik perusahaan mencari obat untuk anaknya. Di Pustu, obat sesak napas tidak ada, di klinik perusahaan, kena tolak karena suaminya bukan pekerja tambang. “Puji Tuhan, dia masih umur panjang. Saya cari obat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/">Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pingkan berusia 1,5 tahun saat kena serangan sesak napas kali pertama,  delapan tahun lalu. Ibunya, Lily, panik. Dia bolak balik ke Pustu dan klinik perusahaan mencari obat untuk anaknya. Di Pustu, obat sesak napas tidak ada, di klinik perusahaan, kena tolak karena suaminya bukan pekerja tambang. “Puji Tuhan, dia masih umur panjang. Saya cari obat sampe dapa, kong kase minum,” cerita Lily kepada saya, pada 13 April lalu. Sejak saat itu, setiap satu atau dua bulan, Pingkan sesak napas. “Karena memang di sini badebu sekali. Debu dari jalan, dari alat-alat berat, dari tambang, dari batubara, samua ada di sini.” Lily tinggal di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perubahan lingkungan masif di kampung itu membuat dia harus  merawat dan melindungi anak-anaknya dari penyakit, terutama Pingkan yang sesak napas sejak kecil. Diagnosanya, Pingkan mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sejak saat itu, Lily menyiapkan berbagai peralatan medis di rumah. Dia menggambarkan rumahnya seperti “apotek.” Sebuah lemari terisi penuh obat-obatan, infus, suntik, hingga nebulizer, alat bantu pernapasan. Dia belajar mandiri gunakan peralatan itu untuk pertolongan awal anaknya. “Saat dia sesak napas, langsung saya kase obat. Kalu kondisi makin parah, saya bawa ke rumah sakit di Bacan. Kalau hanya berharap di Pustu, anak akan susah sembuh. Obat susah. Puskesmas deng rumah sakit juga jauh. Butuh biaya basar kalau bolak-balik.” Kini usianya sudah 10 tahun, penyakit asma masih sering kambuh. Sejak masuk sekolah dasar, Lily berhenti beri obat-obat sintesis karena khawatir anaknya overdosis. “Dari kecil dia minum obat kimia turus jadi saya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Proyek Kredit Plastik </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 05:18:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003219/Beberapa-pemulung-memungut-sampah-di-TPA-Punggur-Batam.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127597</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah organisasi masyarakat sipil soroti proyek kredit plastik (plastics credit) di Indonesia. Selain hanya menjadi solusi palsu untuk atasi krisis sampah plastik, hal itu tak menyelesaikan persoalan mendasar mulai dari kegagalan operasional, dampak kesehatan, hingga masalah lingkungan. Diseminasi hasil kajian oleh tiga lembaga, Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim), Ecoton, dan Pusat Pendidikan Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/">Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Proyek Kredit Plastik </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah organisasi masyarakat sipil soroti proyek kredit plastik (plastics credit) di Indonesia. Selain hanya menjadi solusi palsu untuk atasi krisis sampah plastik, hal itu tak menyelesaikan persoalan mendasar mulai dari kegagalan operasional, dampak kesehatan, hingga masalah lingkungan. Diseminasi hasil kajian oleh tiga lembaga, Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim), Ecoton, dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali bertajuk &#8220;Mitos Kredit Plastik: Kajian Atas Kegagalan Inisiatif Ekonomi Sirkular di Indonesia&#8221; mengungkap hal itu. Dalam kegiatan di Bali belum lama ini, ketiga lembaga itu  memaparkan hasil riset mengenai sejumlah proyek kredit plastik di Indonesia. Proyek ini merupakan skema kompensasi (offset) sampah plastik, di mana perusahaan memberikan pendanaan kepada proyek pengumpulan, pengelolaan, atau daur ulang sampah plastik untuk mengkompensasi jumlah plastik yang mereka hasilkan. Koalisi menelusuri tiga proyek besar yang terdaftar dalam Standar Pengurangan Sampah Plastik Verra, yakni Project STOP di Banyuwangi, proyek TPST Samtaku Jimbaran, Bali, serta proyek SEArcular–Greencore di wilayah Gresik dan Surabaya. Ketiga proyek ini menjual kredit plastik kepada korporasi global sebagai bentuk kompensasi atas produksi plastik. Dari ketiga daerah yang menjadi lokasi percontohan proyek, koalisi temukan kesenjangan signifikan antara klaim dan realitas. Alih-alih menyasar akar permasalahan, yaitu,  produksi dan konsumsi plastik yang berlebihan, inisiatif ini cenderung berfokus pada penanganan di hilir melalui pemanfaatan ekonomi dari pemulihan plastik. Berbagai kelemahan sistemik muncul, termasuk ketergantungan pada pendanaan jangka pendek, minimnya integrasi dengan sistem pengelolaan sampah publik, serta ketidakmampuan mempertahankan operasional. Kinerja sejumlah fasilitas menurun, bahkan berhenti beroperasi, sementara plastik bernilai rendah dan residu tetap tidak tertangani dan sering kali berujung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>