Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, dan perubahannya belum tentu ke arah yang baik. Ular memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Lebih dari itu, kehadiran atau ketiadaannya dapat menjadi penunjuk tentang sehat atau tidaknya sebuah hutan. Saat ular mulai menghilang, bisa jadi hutan sedang mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan.
Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 350 spesies ular, mulai dari sanca kembang di hutan Kalimantan hingga berbagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di satu pulau saja. Dalam jaring makanan, ular bekerja di beberapa lapisan sekaligus. Mereka memangsa tikus, katak, kadal, dan burung kecil, sekaligus menjadi mangsa bagi elang, biawak, dan mamalia besar. Ketika populasi ular turun, tikus dan hewan pengerat lain bisa meledak jumlahnya tanpa pengendali alami, yang berujung pada kerusakan pertanian dan potensi penyebaran zoonosis.

Penurunan populasi ular tidak hanya berdampak pada spesies yang memangsa ular, tapi juga berdampak di berbagai lapisan rantai makanan. Ada juga peran yang lebih tak terduga: ketika ular menelan hewan pengerat yang sebelumnya menyimpan biji di tubuhnya, biji-biji itu bisa keluar melalui kotoran dalam kondisi utuh, sehingga ular turut berkontribusi dalam penyebaran benih di hutan.
Mengapa Ular Bisa Jadi Indikator Ekosistem?
Riset dari Beaupre & Douglas yang diterbitkan dalam buku Snakes: Ecology and Conservation menjadi fondasi penting di bidang ini. Predator reptil besar seperti ular semakin diakui sebagai bioindikator ekosistem yang sangat baik karena posisi trofik mereka yang tinggi mencerminkan dinamika proses dari bawah ke atas dalam ekosistem. Sederhananya, ular berada di puncak atau dekat puncak rantai makanan. Jika ada masalah di lapisan bawah; seperti berkurangnya mangsa, hilangnya habitat, atau polusi, efeknya akan terlihat lebih cepat dan lebih jelas pada populasi ular dibanding spesies lain.
Pemantauan populasi ular secara berkelanjutan sangat penting untuk menilai ancaman yang ada dan yang akan datang, serta untuk menjadikan ular sebagai indikator kesehatan lingkungan yang lebih luas. Sebuah studi di Yogyakarta bahkan secara spesifik memantau komunitas ular di kawasan pertanian dan menemukan bahwa keberadaan dan keragaman spesies sangat erat kaitannya dengan kondisi habitat di sekitarnya.
Ancaman Nyata Terhadap Ular-ular di Indonesia
Di Indonesia, tekanan terhadap populasi ular datang dari dua arah sekaligus. Pertama adalah kehilangan habitat. Riset Auriga Nusantara menunjukkan lonjakan deforestasi hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar menjadi 433.751 hektar. Ketika hutan dibuka untuk perkebunan, permukiman, atau infrastruktur, ular kehilangan ruang hidup, jalur pergerakan, dan sumber mangsanya sekaligus.
Kedua, perburuan dan pembunuhan langsung. Predator alami ular populasinya menurun akibat perburuan manusia atau hilangnya habitat karena alih fungsi lahan. Akibatnya, ketika populasi ular berbisa meningkat di beberapa tempat karena suhu yang lebih hangat, tidak ada pengendali alami yang cukup untuk menyeimbangkannya. Ironisnya, ketakutan manusia terhadap ular justru memperparah masalah ini. Banyak ular dibunuh karena dianggap berbahaya, padahal sebagian besar spesies ular di Indonesia tidak berbisa dan justru membantu menjaga keseimbangan populasi hama.