- Tsunami Biak 17 Februari 1996 menjadi titik balik kesadaran warga Kampung Tanjung Barari (Menurwar), Distrik Oridek,Kabupaten Biak Numfor, Papua tentang pentingnya perlindungan pesisir.
- Hilangnya lebih dari 10 hektar mangrove memicu abrasi dan menurunkan hasil tangkapan biota seperti kepiting dan udang.
- Dipelopori mama-mama jemaat gereja, warga menargetkan penanaman 10 ribu bibit mangrove jenis mampiu (rhizophora sp.) dan aibon (bruguiera sp.) melalui sistem pembibitan mandiri di pekarangan rumah.
- Gerakan berbasis komunitas ini tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi keluarga dan ekowisata berbasis mangrove.
Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba.
Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1996. Gempa utama terjadi kira-kira pukul 12.59 WIT, dengan kekuatan sekitar 8,2 Moment Magnitude (Mw), akibat aktivitas tektonik lempeng Samudera Pasifik. Di beberapa tempat di lokasi pesisir, ketinggian gelombang mencapai hingga tinggi 7 meter.
Dalam kepanikan di sore itu, Efraim mencari tempat tertinggi yang bisa ia jangkau. Dia menemukan sebatang pohon, lalu bersama saudaranya, dia memanjat hingga sekitar sepuluh meter. Di atas sana, mereka bertahan berjam-jam, menunggu air surut.
Ketika gelombang akhirnya mereda, ia turun dan menyaksikan wajah kampungnya, Kampung Tanjung Barari—yang oleh warga juga disebut Menurwar—Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Papua telah berubah. Banyak kerusakan terjadi, meski syukurnya tidak ada korban jiwa.
Peristiwa itu tertanam kuat dalam ingatannya—bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai titik balik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap alam.

Tiga puluh tahun berselang, sebagai saksi sejarah kampungnya, Efraim melihat perubahan yang tak kalah mengkhawatirkan. Garis pantai bergeser semakin masuk ke daratan. Di depan Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Bahtera Injili, ia memperkirakan pergeseran itu mencapai sekitar 30 meter. Abrasi itu nyata.
Dia pun mulai menghubungkan antara bencana tsunami 30 tahun lalu, dengan perubahan geofisik yang terjadi saat ini. Kekuatan alam yang bisa mengubah bentang dan komposisi vegetasi pesisir.
Di tempat yang dahulu dipenuhi hutan mangrove yang lebat, kini hanya tersisa batang-batang kering dan kayu mati. Biota pun telah lama menghilang. Dampaknya terasa langsung: hasil tangkapan kepiting bakau, udang, dan berbagai biota pesisir menurun drastis.
“Dulu itu gampang cari kepiting, cari udang. Setelah gempa dan tsunami itu, jadi sulit. Mencari juga sulit,” katanya. Efraim memperkirakan lebih dari 10 hektar lebih mangrove hilang sejak tsunami.
Dari situ muncul satu kesadaran dirinya: mangrove harus kembali ditanam. “Setidaknya, meski tidak bisa kembali seperti dulu, mangrove mesti harus ada. Karena mangrove melindungi wilayah pesisir dan sumber biota dan pangan,” ujarnya.

Dia lalu mulai menghitung kebutuhan. Untuk merehabilitasi sekitar 10 hektar lahan, dibutuhkan sedikitnya 10 ribu bibit mangrove. Tantangannya kedua: lebih sekedar soal teknis yaitu dari mana bibit diperoleh—tetapi juga bagaimana menggerakkan masyarakat untuk terlibat.
Saat ini, kebetulan posisi Efraim di kampung cukup strategis. Dia dikenal sebagai tokoh warga dan terlibat dalam panitia renovasi gereja.
Dia pun menyadari hasil dari observasinya, bahwa di dalam kehidupan sosial kampung, maka kaum perempuan yang memegang peran kunci, khususnya dengan mangrove.
“Di sini yang lebih paham mangrove itu mama-mama. Mereka lebih aktif dibanding bapak-bapak yang lebih banyak pergi melaut. Mama-mama biasa masuk ke bakau—kaki di lumpur, cari kepiting, bia (kerang), bahkan buah aibon (Bruguiera sp) untuk dimakan,” jelasnya.
Dari situlah ide mulai menemukan bentuknya yang solid.
Efraim melihat potensi pada kelompok perempuan di gereja, dalam Kelompok Sel Pemuridan (KSP). Meski biasanya, kelompok ini menjadi ruang persekutuan dan doa. Namun kali ini, peran mereka bisa diperluas: menjadi penggerak penanaman mangrove.
Gagasan ini kemudian dibicarakannya bersama berbagai pihak, termasuk ILMMA, sebuah organisasi nirlaba yang telah lama terlibat dalam penyusunan aturan kampung terkait pengelolaan sumber daya alam. Pucuk dicinta, ulam tiba, ILMMA dengan dukungan dari COAST Facility Indonesia menyambut inisiatif ini dan memberikan dukungan berupa insentif untuk setiap bibit yang ditanam.
Strategi pun dilakukan. Di Kampung Tanjung Barari, teridentifikasi 146 mama-mama dan keluarganya yang tergabung dalam 16 KSP, masing-masing beranggotakan sekitar 10 mama-mama.

Tiga kepentingan pun bertemu dalam satu titik: kebutuhan gereja akan dana renovasi, keberadaan kelompok perempuan yang solid, dan kebutuhan pemulihan mangrove.
Skemanya sederhana: mama-mama menyiapkan dan menanam bibit dari kebun pembibitan mereka sendiri. Dari setiap bibit mangrove yang tumbuh ditanam, para mama akan mendapat insentif, sedangkan untuk penanda bibit atau ajir (patok kayu) akan didonasikan ke gereja.
“Melibatkan perempuan penting karena mereka adalah motor ekonomi keluarga. Melalui gereja, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya penggalangan dana. Pendekatan kelembagaan gereja membuat gerakan ini lebih mudah diterima,” ujar Fransisca Ferderica Sinom, pendamping masyarakat dari ILMMA.
Segalanya kemudian bergerak dari pengorganisasian yang rapi. Uniknya, alih-alih membuat persemaian besar terpusat, mereka memilih pendekatan sederhana: pembibitan dilakukan di pekarangan rumah masing-masing.
Bibit diletakkan di petak kecil, dinaungi pelepah daun kelapa agar tidak terpapar langsung sinar matahari. “Alasannya, karena dekat rumah, mama-mama bisa rawat dan pantau setiap hari—pagi dan sore,” lanjut Fransisca.

Kebiasaan baru pun terbentuk. Sepulang dari kebun atau dari pesisir, para mama mengumpulkan buah mangrove—rhizophora (mampiu) dan bruguiera (aibon) dari lingkungan sekitar. Buah itu kemudian ditanam di polibag berisi lumpur.
“Kita bawa pulang, kita tanam di pinggir rumah. Ambil tanah lumpur, masukkan ke polybag, lalu tancap bibit,” ujar May Yosina Imbir (34), salah seorang pemudi kampung yang selalu aktif saat tanam mangrove.
Dalam dua hingga tiga minggu, bibit yang ditanam di persemaian biasanya mulai bertunas. Sebulan kemudian, bakal daun-daun muda muncul. Setelah tiga bulan, dengan tinggi sekitar 20 sentimeter dan dua hingga tiga helai daun, bibit siap dipindahkan ke lokasi tanam.
Setiap kelompok KSP memiliki target. Untuk mencapai 10 ribu bibit, masing-masing kelompok harus menyiapkan sekitar 625 bibit. Proses ini tidak hanya soal produksi, tetapi juga membangun disiplin kolektif. Mereka saling mengingatkan, saling mengevaluasi, dan saling mendorong.
“Kalau mama-mama digerakkan, mereka cepat. Mereka gotong royong, dan mereka paling tahu wilayah mangrove—itu tempat mereka cari penghidupan. Kelompok itu untuk mengorganisir tujuan bersama. Menanam mangrove juga bisa jadi insentif ekonomi rumah tangga,” kata Efraim.

Setiap informasi kegiatan penanaman mangrove pun disampaikan melalui mimbar gereja saat Kebaktian Minggu. Cara ini terbukti efektif. Para koordinator sel kemudian meneruskan informasi kepada anggota masing-masing.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam periode Januari hingga Maret 2026, penanaman dilakukan dalam empat gelombang. Target 10 ribu bibit mulai dikejar, evaluasi masih terus dilakukan untuk melihat berapa bibit yang bertahan hidup dan berapa yang perlu kembali disulam.
“Ini langkah awal kami. Kalau berhasil, kami akan lanjutkan ke tempat lain—di pinggir sungai, di lahan kosong,” ujar Efraim. “Kami berharap suatu hari nanti, kawasan ini bisa pulih. Bahkan mungkin jadi ekowisata.”
Dari trauma yang pernah datang dalam bentuk gelombang tsunami, kini tumbuh harapan—perlahan, melalui tangan-tangan mama-mama yang menanam masa depan di lumpur pesisir dan visi masa depan yang dapat diteladani.
Foto utama: mangrove penjaga pesisir pantai Kampung Tanjung Barari, Biak Numfor. Foto: Donny Iqbal
*****
Keluarga Mak Jah ‘Penyintas Terakhir Dusun Rejosari’: Kami akan Tetap Tanam Mangrove