<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=luh-de-suryani-denpasar&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/luh-de-suryani-denpasar/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 09 May 2026 05:17:03 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/#respond</comments>
					<pubDate>09 Mei 2026 01:58:51 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/28041924/Tiger_Quoll_6178-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=127558</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekayaan hayati Papua menyimpan keunikan luar biasa melalui keberadaan mamalia bertelur ekidna yang dianggap keramat serta spesies langka seperti kanguru pohon, tikus babi, dan karnivora mungil quoll. Satwa-satwa endemik ini memegang peran krusial sebagai arsitek alam dan petani hutan yang menjamin regenerasi ekosistem hutan hujan tropis. Namun, masa depan benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/">Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekayaan hayati Papua menyimpan keunikan luar biasa melalui keberadaan mamalia bertelur ekidna yang dianggap keramat serta spesies langka seperti kanguru pohon, tikus babi, dan karnivora mungil quoll. Satwa-satwa endemik ini memegang peran krusial sebagai arsitek alam dan petani hutan yang menjamin regenerasi ekosistem hutan hujan tropis. Namun, masa depan benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini terancam oleh ekspansi perkebunan sawit, ambisi proyek pangan dan energi, serta maraknya upaya penyelundupan satwa ilegal. The post Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kuat Dugaan Emas Selundupan 190 Kg di Bandara Halim dari Tambang Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>09 Mei 2026 00:19:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/09001130/Emas-Sitaan-Bea-Cukai-3-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127552</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 190,265 kilogram emas hampir saja lolos ke luar negeri melalui Bandara Halim Perdanakusuma, 27 April lalu. Bea Cukai yang mengendus rencana itu pun menggagalkan upaya penyelundupan  611 perhiasan emas berbentuk gelang seberat 60,3 kg dan 2.971 koin emas 130,262 kilogram dengan perkiraan US$28,349 juta setara Rp502,546 miliar. Dalam penyitaan enam koli paket berisi perhiasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/">Kuat Dugaan Emas Selundupan 190 Kg di Bandara Halim dari Tambang Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 190,265 kilogram emas hampir saja lolos ke luar negeri melalui Bandara Halim Perdanakusuma, 27 April lalu. Bea Cukai yang mengendus rencana itu pun menggagalkan upaya penyelundupan  611 perhiasan emas berbentuk gelang seberat 60,3 kg dan 2.971 koin emas 130,262 kilogram dengan perkiraan US$28,349 juta setara Rp502,546 miliar. Dalam penyitaan enam koli paket berisi perhiasan dan koin emas yang tidak terlaporkan dalam dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) ini, Bea Cukai juga mengamankan pelaku berinisial HH, AH, HG, dan PP, warga India. Jaka Budi Utama, Direktur Jenderal Badan Cukai mengatakan, barang itu akan diangkut menggunakan pesawat Learjet 55 sewaan dengan nomor registrasi N117LR. Petugas yang sebut dapat informasi soal ekspor ilegal itu dari masyarakat kemudian melakukan pemeriksaan mendalam muatan pesawat di area apron bandara hingga menemukan perhiasan dan koin itu. Bea Cukai memperlihatkan barang bukti sitaan emas sekitar 190 kg. Foto: Bea Cukai Jaka bilang, pengawasan ekspor komoditas bernilai tinggi seperti emas untuk memastikan bahwa ekspor emas transparan dan sesuai ketentuan. “Ekspor emas harus transparan dan sesuai ketentuan agar hak negara dapat terpenuhi dan stabilitas pasokan dalam negeri tetap terjaga. Penerimaan negara dari sektor ini pada akhirnya kembali untuk membiayai pembangunan, pelayanan publik, serta mendukung kesejahteraan masyarakat.” Kombes Pol Victor Dean Mackbon, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, bilang,  keberhasilan Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan melalui sinergi lintas instansi sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi. &#8220;Diharapkan perdagangan ekspor dapat berjalan secara adil, sehat, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada perekonomian nasional dan masyarakat Indonesia.” Jejak kerusakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hitung-hitung Jejak Karbon Bisa Ubah Perilaku?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 14:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06055106/IMG_1429-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127416</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nur Fitriani kaget ketika mengetahui penghitungan karbon yang dia hasilkan selama sebulan mencapai 450 kilogram karbon, awal tahun 2026. Sejak saat itu, perempuan 27 tahun ini bertekad mengurangi jejak karbonnya dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Berbagai cara dia tempuh, terutama, meminimalisasi penggunaan sepeda motor dan kebutuhan listrik kamar kostnya di Kota Yogyakarta. Perlahan, dia pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/">Hitung-hitung Jejak Karbon Bisa Ubah Perilaku?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nur Fitriani kaget ketika mengetahui penghitungan karbon yang dia hasilkan selama sebulan mencapai 450 kilogram karbon, awal tahun 2026. Sejak saat itu, perempuan 27 tahun ini bertekad mengurangi jejak karbonnya dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Berbagai cara dia tempuh, terutama, meminimalisasi penggunaan sepeda motor dan kebutuhan listrik kamar kostnya di Kota Yogyakarta. Perlahan, dia pun mulai menggunakan TransJogja untuk transportasi dalam kota. “Kalau untuk ke luar kost untuk ke warung sekarang jalan kaki saja,” katanya. Ketertarikannya menghitung jejak karbon muncul karena dia  tak sadar aktivitasnya selama ini menimbulkan emisi. Setelah pemahaman dasar itu dia terima, rasa penasaran menggunakan kalkulator jejak karbon yang berbasis website milik 1.000 Cahaya Muhammadiyah pun tumbuh. Sejak Januari, karyawan perbankan ini rutin mengecek jejak karbon setiap bulan. Tujuannya, agar tahu sejauh mana aktivitasnya berpengaruh terhadap krisis iklim. “Mudah menggunakannya, tidak rumit dan hasilnya keluar seketika. Jadi bisa langsung evaluasi kalau melebihi bulan sebelumnya,” katanya setelah menggunakan website itu. Guna mendapat perhitungan karbon yang dalam sebulan, tiap malam sebelum tidur, dia rutin mencatatkan kegiatan hariannya. Sekarang, rata-rata karbon yang dia hasilkan sebulan sebesar 260 kilogram. Nilai itu dari emisi transportasi yang sebesar 120 kilogram karbon, listrik rumah  130 kilogram, dan konsumsi makanan 10 kilogram karbon. “Hasil kalkulator ini linier dengan pengeluaran bulanan, kalau jejak karbonnya tinggi maka biaya bulanan juga tinggi. Jadi bisa buat mengendalikan pengeluaran juga.” Ilustrasi. Penggunaan kendaraan bermotor menjadi faktor signifikan emisi perkotaan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Ubah perilaku Tak hanya menyediakan fitur berbasis individu, kalkulator jejak karbon ini juga punya layanan untuk komunitas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Timotius Suage, Pendeta yang Dedikasikan Diri Lindungi Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 12:11:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08081334/Timotius-lakukan-Pengawsan-ke-zona-inti-kawasan-konservasi-perairan-Pulau-RaoMorotai-foto-pribadi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127520</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Timotius Suage bergegas dari Morotai Jaya ke Desa Aru Burung di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Morotai, Maluku Utara (Malut), pagi pertengahan April 2026. Dari tempat tinggalnya, jarak sekitar 70 kilometer. Hari itu, Timo sejatinya ada agenda keluarga di rumah tetapi sengaja meninggalkan dan lebih memilih  hadiri pertemuan dengan pendamping Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di Aru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/">Timotius Suage, Pendeta yang Dedikasikan Diri Lindungi Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Timotius Suage bergegas dari Morotai Jaya ke Desa Aru Burung di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Morotai, Maluku Utara (Malut), pagi pertengahan April 2026. Dari tempat tinggalnya, jarak sekitar 70 kilometer. Hari itu, Timo sejatinya ada agenda keluarga di rumah tetapi sengaja meninggalkan dan lebih memilih  hadiri pertemuan dengan pendamping Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di Aru Burung yang berlangsung siang harinya. Turut hadir dalam pertemuan itu, perwakilan dari Balai Konservasi Perairan Daerah (BKPD) Malut dan  Penyuluh Perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Baginya, pertemuan itu sangat penting. Selain untuk mengetahui langsung kondisi di lapangan dari koleganya, juga berdiskusi terkait upaya  yang harus dilakukan guna memperkuat pengawasan kawasan konservasi perairan di wilayahnya. Timo adalah Ketua Pokmaswas  di kawasan konservasi perairan Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Rao di Morotai. Selain sebagai Ketua Pokmaswas, dia juga  tokoh agama di desanya. Dia seorang  pendeta.   Keseharian dia juga ikut mengawasi dan melindungi laut yang sudah jadi  kawasan konservasi. “Saya tahu konsekuensinya, tapi ini punya hubungan dengan nasib kita dan anak cucu  sekarang dan masa depan. Karena itu tetap mengambil kerja-kerja ini,” katanya,  kepada Mongabay, April. Dia bilang, peran sebagai pengawas itu dia emban setelah pemerintah tetapkan TWP Pulau Rao sebagai kawasan konservasi laut sekitar 2019. Dia tak menolak ketika diminta menjadi Ketua Pokmaswas. Baginya itu ladang pengabdian untuk manusia, sesuatu yang lekat dengan kesehariannya. Timotius Suage menunjukkan peta kawasan konservasi. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia. Banyak tantangan Meski begitu, tugas sebagai Ketua Pokmaswas tak mudah. Beberapa kali dia bahkan nyaris terlibat baku hantam dengan para nelayan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Jayapura Terdampak Rencana Blok Migas Northern Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 09:00:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08043752/WhatsApp-Image-2026-05-07-at-6.22.13-PM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127462</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jayapura dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, Kabupaten Jayapura, Papua ramai dengan aktivitas nelayan. Beberapa perahu bersandar, para nelayan ada yang sibuk memperbaiki dan merapikan perahu maupun  alat pancing. Sejak akhir tahun lalu, mereka resah karena hasil tangkapan terus menurun dan wilayah tangkap terancam operasi Blok Migas Northern Papua.  Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/">Nelayan Jayapura Terdampak Rencana Blok Migas Northern Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, Kabupaten Jayapura, Papua ramai dengan aktivitas nelayan. Beberapa perahu bersandar, para nelayan ada yang sibuk memperbaiki dan merapikan perahu maupun  alat pancing. Sejak akhir tahun lalu, mereka resah karena hasil tangkapan terus menurun dan wilayah tangkap terancam operasi Blok Migas Northern Papua.  Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di Inpres Dok 9 Jayapura khawatir masa depan mereka  terancam. Tak hanya cuaca yang seringkali tak menentu, rumpon kelompok nelayan, yang menjadi sumber utama tangkapan kena putus paksa oleh kapal surveyor PT Huatong Service Indonesia (HSI). Kapal ini sedang melakukan pemetaan potensi migas dalam proyek Blok Migas Northern Papua.  Padahal satu rumpon bisa menelan biaya Rp50-Rp100 juta. Tiap kelompok nelayan yang terdiri setidaknya 10 orang, biasa memiliki dua rumpon dengan jarak beragam.   “Kami kaget, kami rasakan mereka sudah ganggu kami punya piring makan,” kata  Yones, Selasa (14/4/26).  Bagi nelayan, rumpon adalah nadi kehidupan nelayan pesisir utara dan selatan Kota Jayapura. Mereka menangkap tuna, cakalang, tongkol dan ikan lainnya untuk kehidupan sehari-hari.  Para nelayan Kosmos Kendi (kanan) dan Koordinator Nelayan BW Woi Asbani Wiyawari di Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua pada Senin (14/4/2026). Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia Yonas bilang, bisa menyekolahkan keenam orang anaknya, bahkan ada satu yang sudah menjadi sarjana dan bekerja.  “Kehidupan nelayan tergantung dari rumpon. Kita tak diberitahu, rumpon nelayan diputuskan (oleh tim surveyor), lalu dibawa ke darat,” katanya. Dia bingung harus bekerja apa jika wilayah tangkap dan rumpon-rumpon mereka hilang. Kekhawatiran sama juga Kosmos Kendi, nelayan dari Kelompok BW&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Maja dan Berenuk, Apakah Jenis Buah yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 08:16:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08080014/Buah-maja-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127515</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda. Bentuk berenuk dan maja memang sama-sama bulat, namun daging buah, rasa, dan ukurannya berbeda. Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur. Berenuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/">Maja dan Berenuk, Apakah Jenis Buah yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda. Bentuk berenuk dan maja memang sama-sama bulat, namun daging buah, rasa, dan ukurannya berbeda. Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur. Berenuk berasal dari Amerika Selatan, tergolong keluarga Bignoniaceae. Daging buahnya halus, rapat, putih seperti sirsat, namun hitam setelah dibiarkan lama. Bijinya kecil, berbentuk hati, dan pipih. Rantingnya tanpa duri, dengan daun tunggal, oval, terbalik, dengan ujung meruncing. Sedangkan maja dari Asia Selatan termasuk Indonesia, tergolong keluarga Rutaceae atau jeruk-jerukan. Daging buahnya berongga dan kuning, dengan biji berukuran besar dan agak bulat. Rantingnya berduri, berdaun majemuk, bertangkai 3, dan berukuran kecil panjang. Pohon maja dapat tumbuh di lingkungan basah seperti rawa maupun di lahan kering, sementara buahnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. “Masyarakat lokal menyebut berenuk buah maja, meski secara nama ilmiah berbeda. Warga lokal banyak mengira berenuk beracun, padahal tidak,” papar Aletheia Threskeia, Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Petra Surabaya, pertengahan April 2026. Beberapa penelitian mengenai ekstrak daun berenuk dapat dimanfaatkan sebagai obat luka, diabetes, serta kanker. Sedangkan penelitian potensi buah berenuk dimanfaatkan sebagai bahan bioalkohol atau biofuel. Filipina mengolah berenuk menjadi minuman kesehatan. Tanaman ini juga sedang diteliti untuk pengobatan penurunan fungsi organ tubuh serta penyakit degeneratif lainnya. Buah maja yang dikaitkan dengan nama kerajaan Majapahit. Foto: Wikimedia Commons/Asit K. Ghosh/CC BY-SA 3.0 Pemanfaatan untuk kesehatan Lima mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, yaitu Ardan Rezon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hujan Terpanjang dalam Sejarah Planet Bumi: Misteri yang Berujung pada Kebangkitan Dinosaurus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 03:25:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235140/3503-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127492</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Daratan yang sebelumnya kering berubah menjadi rawa dan hutan lembap. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar. Danau meluas hingga ke pedalaman benua. Peristiwa ini dikenal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/">Hujan Terpanjang dalam Sejarah Planet Bumi: Misteri yang Berujung pada Kebangkitan Dinosaurus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Daratan yang sebelumnya kering berubah menjadi rawa dan hutan lembap. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar. Danau meluas hingga ke pedalaman benua. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode, fase penting pada akhir periode Trias yang mengubah ekosistem global dan membuka jalan bagi kebangkitan dinosaurus. Sebelum periode ini terjadi, hampir seluruh daratan Bumi masih tergabung dalam satu superkontinen raksasa bernama Pangea. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah pedalaman memiliki iklim sangat panas dan kering. Gurun mendominasi banyak area, terutama di bagian tengah benua yang jauh dari pengaruh laut. Penelitian terhadap batuan sedimen dari periode Trias menunjukkan banyak wilayah saat itu dipenuhi endapan gurun dan mineral evaporit, tanda bahwa curah hujan sangat rendah selama jutaan tahun. Ekosistem yang berkembang pada masa itu harus beradaptasi dengan lingkungan keras. Tumbuhan memiliki akar panjang untuk mencari air tanah. Reptil purba mengembangkan kulit bersisik yang membantu mengurangi kehilangan cairan. Banyak hewan hidup di sekitar sumber air musiman yang terbatas. Dunia Trias awal sangat berbeda dibanding gambaran hutan hijau yang sering diasosiasikan dengan zaman dinosaurus. Hujan Ekstrem yang Mengubah Planet Namun sekitar 232 juta tahun lalu, sistem iklim global berubah drastis. Catatan geologi dari berbagai belahan dunia menunjukkan transisi cepat dari kondisi kering menuju lingkungan jauh lebih basah. Lapisan batuan gurun mulai digantikan oleh endapan sungai, rawa, dan lumpur kaya bahan organik.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kajian Komnas HAM Sebut Kawasan Industri Nikel Korbankan Lingkungan dan Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 02:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22004934/Hilirisasi02-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127469</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Industri Nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) membawa dampak kesehatan dan lingkungan. Studi terbaru Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan kerusakan tidak hanya pada pada ruang hidup fisik, melainkan juga pada udara karena polusi debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel. Laporan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/">Kajian Komnas HAM Sebut Kawasan Industri Nikel Korbankan Lingkungan dan Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Industri Nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) membawa dampak kesehatan dan lingkungan. Studi terbaru Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan kerusakan tidak hanya pada pada ruang hidup fisik, melainkan juga pada udara karena polusi debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel. Laporan itu menyajikan data Dinas Kesehatan Sulteng yang mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 305.191, melonjak dari tahun sebelumnya 262.160 kasus.  Morowali menjadi daerah dengan tingkat ISPA tertinggi  57.190 kasus yang berpusat di sekitar kawasan industri pemurnian nikel. Per Januari 2025, Pemkab Morowali bahkan mencatat 51.850 kasus, jadikan kabupaten ini  pengidap ISPA terbanyak di Indonesia, dengan terbanyak di Kecamatan Bahodopi. Uli Parulian Sihombing, Koordinator Subkomisi Penegakan HAM Komnas HAM, menduga, peningkatan kasus ini berkaitan dengan polusi dan kualitas udara yang menurun akibat aktivitas industri nikel dan smelter. “Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan dan smelter berada dalam risiko yang lebih tinggi karena terpapar debu dan emisi dari proses produksi,” katanya. Saking banyak debu dan uap dari smelter, warga sampai menyebut polusi  ‘kabut permanen’. Hasil observasi tim Komnas HAM, kabut itu pekat dan menyelimuti pemukiman dan jalanan di sekitar kawasan industri. Masalah kesehatan lain, Komnas HAM mengungkapkan ada peningkatan HIV di wilayah lingkar industri. Kuat dugaan berkaitan dengan masifnya migrasi penduduk tanpa pengawasan sosial yang memadai. Namun, fasilitas kesehatan di kawasan industri nikel ini tidak memadai. Rasio pasien sudah melampaui kapasitas fasilitas kesehatan yang ada. Di Bahodopi, hanya ada satu puskesmas dan satu klinik industri.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Enrekang Bertahan, Tak Mau Ada Tambang Emas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-warga-enrekang-bertahan-tak-mau-ada-tambang-emas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-warga-enrekang-bertahan-tak-mau-ada-tambang-emas/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mei 2026 23:51:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Rusdianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/07234425/Yansong-64-tahun-menyeberangi-sungai-menuju-kebunnya-di-kampung-Baba-Kecamatan-Cendana-yang-menjadi-lokasi-pengambilan-sampel-emas-CV.Hadaf-Karya-Mandiri-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127478</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Orang-orang berkumpul dari beberapa kampung di Kecamatan Enrekang dan Cendana, hari itu. Pertemuan di satu masjid Kampung Pinang, Enrekang pada 2015 itu untuk mendengar penyampaian dari orang-orang perwakilan perusahaan, CV Hadaf Karya Mandiri (HKM). Muhammad Yakub Abbas, berdiri menjadi wajah perusahaan. Dalam dokumen sosialisasi rencana penambangan emas, pertemuan itu diklaim sebagai skema focus group [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-warga-enrekang-bertahan-tak-mau-ada-tambang-emas/">Ketika Warga Enrekang Bertahan, Tak Mau Ada Tambang Emas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Orang-orang berkumpul dari beberapa kampung di Kecamatan Enrekang dan Cendana, hari itu. Pertemuan di satu masjid Kampung Pinang, Enrekang pada 2015 itu untuk mendengar penyampaian dari orang-orang perwakilan perusahaan, CV Hadaf Karya Mandiri (HKM). Muhammad Yakub Abbas, berdiri menjadi wajah perusahaan. Dalam dokumen sosialisasi rencana penambangan emas, pertemuan itu diklaim sebagai skema focus group discussion (FGD) bersama warga, pemerintah daerah dan perusahaan. Hanya sekali itu sosialisasi mengenai tambang di Pinang. Meski beberapa orang berseloroh, kalau itu bukan sosialisasi karena tidak ada diskusi melainkan seperti pidato. HKM mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) seluas 1.711 hektar pada 2019. Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) disetujui pada 2018. Rencananya,  penambangan tahap awal akan di area lapisan tanah muda (litologi alluvial) seluas 694,42 hektar. Kemudian tahap lanjutan di satuan konglomerat seluas 824,13 hektar. Izin lingkungan tentang penambangan dan pengelolaan bijih emas di Kecamatan Cendana dan Enrekang terbit pada 10 Desember 2018.  Tanda tangan izin oleh Harwan Sawati,  Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) atas nama Bupati Enrekang. Surat itu menguraikan, jika terhitung sejak tiga tahun keputusan, pemrakarsa tidak melaksanakan rencana usaha dan, atau kegiatan, maka keputusan ini dinyatakan tidak berlaku. “Ini yang selalu kami sampaikan jika ada pertemuan,” kata Yarsin Gau, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Enrekang. Dia bilang, jika menghitung mundur, perusahaan baru melakukan kegiatan seperti sosialisasi kembali pada 2026, tujuh tahun sudah hilang. “Apakah itu ilegal, kami tidak bisa memastikan. Sebab belum ada pemberitahuan atau penyesuaian dalam UU Cipta Kerja. Kalau perusahaan sudah punya pun, misalnya, seharusnya kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-warga-enrekang-bertahan-tak-mau-ada-tambang-emas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-warga-enrekang-bertahan-tak-mau-ada-tambang-emas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Api &#8216;Gerbang Neraka&#8217; di Kawah Darvaza Meredup, Para Ilmuwan Waspadai Bahaya yang Mengintai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/07/api-gerbang-neraka-di-kawah-darvaza-meredup-para-ilmuwan-waspadai-bahaya-yang-mengintai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/07/api-gerbang-neraka-di-kawah-darvaza-meredup-para-ilmuwan-waspadai-bahaya-yang-mengintai/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mei 2026 13:13:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/07130625/standard_compressed_DSC_1112-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127471</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setelah lebih dari 50 tahun terus menyala tanpa henti, api di Kawah Darvaza, Turkmenistan; yang populer dengan julukan &#8220;Gerbang Neraka&#8221;, kini menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Bagi banyak orang, ini mungkin terdengar seperti kabar baik: akhirnya &#8220;neraka&#8221; di tengah gurun itu mulai meredup. Namun, para ilmuwan justru memberi peringatan: jangan senang dulu. Di balik api yang redup, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/api-gerbang-neraka-di-kawah-darvaza-meredup-para-ilmuwan-waspadai-bahaya-yang-mengintai/">Api &#8216;Gerbang Neraka&#8217; di Kawah Darvaza Meredup, Para Ilmuwan Waspadai Bahaya yang Mengintai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setelah lebih dari 50 tahun terus menyala tanpa henti, api di Kawah Darvaza, Turkmenistan; yang populer dengan julukan &#8220;Gerbang Neraka&#8221;, kini menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Bagi banyak orang, ini mungkin terdengar seperti kabar baik: akhirnya &#8220;neraka&#8221; di tengah gurun itu mulai meredup. Namun, para ilmuwan justru memberi peringatan: jangan senang dulu. Di balik api yang redup, ada bahaya yang mengintai dan berpotensi memperburuk krisis iklim jika tidak ditangani dengan tepat. Kawah selebar 70 meter dan sedalam 20 meter ini terbentuk pada 1971, ketika tim pengeboran Uni Soviet tidak sengaja menemukan kantong gas alam raksasa di Gurun Karakum. Saat itu, untuk mencegah kebocoran gas beracun seperti hidrogen sulfida yang bisa membahayakan warga sekitar, otoritas Soviet memutuskan membakar cadangan gas tersebut. Perkiraan awal, api akan padam dalam beberapa minggu. Kenyataannya, api terus menyala selama lebih dari lima dekade karena pasokan metana dari bawah tanah tidak pernah habis. Fenomena unik ini memang memikat—bahkan masuk dalam daftar destinasi &#8220;wajib kunjung&#8221; bagi petualang ekstrem—tapi di balik kecantikannya, tersimpan risiko iklim yang nyata. Dan kini, risiko itu bisa berubah bentuk. Baca juga: Bakteri Penghuni &#8220;Pintu Neraka&#8221; Penurunan Intensitas Api Terekam Data Satelit Pada 2025, pemerintah Turkmenistan mengumumkan dalam konferensi energi bahwa intensitas api di Kawah Darvaza mengalami penurunan signifikan. &#8220;Penurunan intensitas api mencapai hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya,&#8221; ujar Irina Luryeva, direktur Turkmengaz, perusahaan energi milik negara Turkmenistan. Pernyataan ini didasarkan pada pemantauan lapangan dan data operasional dari fasilitas ekstraksi gas di sekitar lokasi. Klaim tersebut diperkuat oleh data satelit independen dari Capterio, perusahaan konsultan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/api-gerbang-neraka-di-kawah-darvaza-meredup-para-ilmuwan-waspadai-bahaya-yang-mengintai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/07/api-gerbang-neraka-di-kawah-darvaza-meredup-para-ilmuwan-waspadai-bahaya-yang-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Lautan Perlahan Kehilangan Suaranya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-lautan-perlahan-kehilangan-suaranya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-lautan-perlahan-kehilangan-suaranya/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mei 2026 08:31:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/07082513/indonesia_komodo_uw_170151-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127456</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lautan ternyata tidak sepenuhnya sunyi. Terumbu karang yang sehat justru sangat berisik. Kegaduhan ini bukan gangguan, melainkan tanda kehidupan yang semarak. Ada bunyi &#8220;krek-krek&#8221; dari udang pistol, gemuruh rendah ikan karang, hingga dengungan samar larva yang berenang mencari tempat tinggal. Suara-suara tersebut bukan sekadar latar belakang, melainkan elemen vital yang menentukan keberlangsungan ekosistem di bawah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-lautan-perlahan-kehilangan-suaranya/">Ketika Lautan Perlahan Kehilangan Suaranya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lautan ternyata tidak sepenuhnya sunyi. Terumbu karang yang sehat justru sangat berisik. Kegaduhan ini bukan gangguan, melainkan tanda kehidupan yang semarak. Ada bunyi &#8220;krek-krek&#8221; dari udang pistol, gemuruh rendah ikan karang, hingga dengungan samar larva yang berenang mencari tempat tinggal. Suara-suara tersebut bukan sekadar latar belakang, melainkan elemen vital yang menentukan keberlangsungan ekosistem di bawah permukaan air. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai reef soundscape. Ini adalah lanskap akustik yang terbentuk dari kombinasi suara makhluk hidup di dalam ekosistem. Terumbu karang yang sehat dipenuhi suara khas dari derik udang snapping serta lenguhan berbagai jenis ikan. Bagi organisme laut, soundscape yang keras dan beragam berfungsi sebagai panduan orientasi. Ikan muda dan larva karang yang menghabiskan masa awal mereka di lautan terbuka sangat bergantung pada suara ini untuk menemukan rumah yang tepat untuk tumbuh. Ekosistem terumbu karang menunjukkan bahwa laut sebenarnya sangat “berisik”. Terumbu karang sehat menghasilkan reef soundscape yang khas. Foto oleh Rhett A. Butler/Mongabay . Riset dari Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) membuktikan bahwa suara sebelum kerusakan jauh lebih menarik bagi larva ikan. Sebagai perbandingan, area yang rusak rata-rata 15 dB lebih sunyi. Penurunan intensitas suara ini diiringi dengan hilangnya kompleksitas akustik. Hal ini menyebabkan larva kehilangan arah karena sinyal navigasi alami mereka menghilang seiring rusaknya struktur karang. Laut yang Sunyi Membuat Ikan Bingung Kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan besar. Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat dari 1.153 titik pantau, sekitar 33,82 persen dalam kondisi buruk. Hanya 6,42 persen yang masih dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-lautan-perlahan-kehilangan-suaranya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/07/ketika-lautan-perlahan-kehilangan-suaranya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Perlindungan Orangutan Tapanuli Pasca Bencana?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/07/bagaimana-perlindungan-orangutan-tapanuli-pasca-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/07/bagaimana-perlindungan-orangutan-tapanuli-pasca-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mei 2026 06:08:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/11103845/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127438</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peneliti memperkirakan puluhan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) mati terdampak banjir bandang di Sumatera Utara (SUmut) akhir November 2025. Temuan survei sekitar 33-58 orangutan Tapanuli atau 10% dari populasi kemungkinan besar mati karena  tanah longsor, pohon tumbang, atau banjir. Mereka memperkirakan, sebelum bencana ada sekitar 581 orangutan Tapanuli. Tanah longsor dan banjir di Sumatera meluas hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/bagaimana-perlindungan-orangutan-tapanuli-pasca-bencana/">Bagaimana Perlindungan Orangutan Tapanuli Pasca Bencana?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peneliti memperkirakan puluhan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) mati terdampak banjir bandang di Sumatera Utara (SUmut) akhir November 2025. Temuan survei sekitar 33-58 orangutan Tapanuli atau 10% dari populasi kemungkinan besar mati karena  tanah longsor, pohon tumbang, atau banjir. Mereka memperkirakan, sebelum bencana ada sekitar 581 orangutan Tapanuli. Tanah longsor dan banjir di Sumatera meluas hingga Blok Barat ekosistem Batang Toru, Sumut. Kawasan itu  merupakan habitat utama orangutan Tapanuli yang terancam punah. Dengan menggunakan metode yang valid, juga estimasi hutan lenyap akibat banjir dan tanah longsor sekitar 8.303 hektar. Erik Meijaar, peneliti utama dari Liverpool John Moores University, Liverpool, sekaligus peneliti di Durrell Institute of Ecology and Conservation, University of Kent, Canterbury, Inggris menjelaskan data itu berdasarkan citra satelit, yang mengukur tingkat kehilangan hutan. Dia menggunakan empat citra untuk menentukan tutupan lahan sebelum dan sesudah bencana banjir dan tanah longsor. Bencana banjir dan tanah longsor menggambarkan ancaman besar akibat perubahan iklim terhadap orangutan Tapanuli yang selama ini berada di ambang kepunahan akibat hilangnya habitat. Meijaar publikasikan penelitiannya berjudul &#8220;Extreme Rainfall Event in Sumatra Caused Critical Habitat Loss and Lethal Impacts to the Critically Endangered Tapanuli Orangutan&#8221; di preprints.org pada Februari 2026. &#8220;Tanpa intervensi segera, orangutan Tapanuli menghadapi risiko nyata menjadi spesies kera besar pertama yang punah,&#8221; tulis  Meijaar. Untuk itu, perlu tindakan kolaboratif yang mendesak mengurangi risiko dan mencegah kepunahan orangutan Tapanuli. Para peneliti mendorong Pemerintah Indonesia, komunitas internasional, dan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah itu. Para peneliti meminta pemerintah segera bertindak dan memberikan dukungan untuk memastikan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/bagaimana-perlindungan-orangutan-tapanuli-pasca-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/07/bagaimana-perlindungan-orangutan-tapanuli-pasca-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Potret Perajin Kayu Suku Penesak dan Jejak Pengetahuan yang Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/07/potret-perajin-kayu-suku-penesak-dan-jejak-pengetahuan-yang-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/07/potret-perajin-kayu-suku-penesak-dan-jejak-pengetahuan-yang-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mei 2026 03:43:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/07033447/Berkurangnya-pasokan-kayu-menjadi-ancaman-hilangnya-para-perajin-kayu-Suku-Penesak.-Foto-Ariadi-Damara-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127443</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Suku Penesak di Sumatera Selatan, dikenal melahirkan banyak maestro perajin kayu. Mereka membangun rumah panggung, perahu, serta furnitur seperti kursi, lemari, dan ranjang atau tempat tidur. Keahlian mereka bukan hanya digunakan oleh masyarakat di Sumatera Selatan, juga di Lampung, Bengkulu, hingga Pulau Bangka. Saat ini, mereka dikenal sebagai produsen rumah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/potret-perajin-kayu-suku-penesak-dan-jejak-pengetahuan-yang-hilang/">Potret Perajin Kayu Suku Penesak dan Jejak Pengetahuan yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Suku Penesak di Sumatera Selatan, dikenal melahirkan banyak maestro perajin kayu. Mereka membangun rumah panggung, perahu, serta furnitur seperti kursi, lemari, dan ranjang atau tempat tidur. Keahlian mereka bukan hanya digunakan oleh masyarakat di Sumatera Selatan, juga di Lampung, Bengkulu, hingga Pulau Bangka. Saat ini, mereka dikenal sebagai produsen rumah panggung bongkar pasang, yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Namun, keberlanjutan pengetahuan pertukangan kayu di Suku Penesak mulai terancam. Ini dikarenakan terus berkurangnya pasokan kayu. Wilayah hidup Suku Penesak yang paling banyak melahirkan perajin kayu berada di Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai. Tapi, selama ini para perajin tersebut dikenal berasal dari Meranjat. Ini dikarenakan, di masa lalu, Meranjat merupakan pusat pemerintahan marga, sebelum berubah menjadi pemerintahan desa. Sejak terbentuknya Kabupaten Ogan Ilir (OI), Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai menjadi desa. Hampir semua rumah limas, rumah tradisional Palembang, yang masih bertahan dan usianya mencapai ratusan tahun, dulunya dikerjakan para maestro perajin kayu dari Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai. Perajin kayu Suku Penesak dikenal memiliki keahlian atau pengetahuan jenis kayu yang tepat untuk digunakan sebagai tiang, tangga, rangka bangunan, bubungan, lantai, dinding, pintu, jendela, kursi, meja, dan dipan. Artinya satu jenis kayu, seperti ulin (Eusideroxylon zwageri), tidak dapat digunakan untuk semua kebutuhan rumah atau bangunan. Kayu ulin sangat baik digunakan sebagai tiang rumah, tangga, atap sirap, kusen, serta pintu dan jendela. Bahkan, usia kayu yang digunakan harus tua atau ukuran besar. Pengetahuan ini menciptakan kearifan dalam memanfaatkan kayu di hutan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/07/potret-perajin-kayu-suku-penesak-dan-jejak-pengetahuan-yang-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/07/potret-perajin-kayu-suku-penesak-dan-jejak-pengetahuan-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Guru di Bungo Melawan Ketika Sekolah Terkepung Tambang Emas Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 13:22:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06131444/Guru-SMAN-8-Bungo-saat-menggerebek-lokasi-tambang-emas-ilegal-di-samping-sekolah.-dok-Khoirul-720x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127430</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Perjuangan guru menjaga siswa mereka tetap berada dalam keadaan aman tak hanya di dalam lingkungan sekolah. Di Jambi, salah satu contohnya. Ketika lingkungan sekolah tak aman karena aktivitas tambang emas ilegal membahayakan, para guru pun melawan dengan ramai-ramai menggeruduknya, pekerja tambang pun lari kocar kacir. Gemuruh alat berat merayap ke ruang kelas, memecah konsentrasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/">Para Guru di Bungo Melawan Ketika Sekolah Terkepung Tambang Emas Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Perjuangan guru menjaga siswa mereka tetap berada dalam keadaan aman tak hanya di dalam lingkungan sekolah. Di Jambi, salah satu contohnya. Ketika lingkungan sekolah tak aman karena aktivitas tambang emas ilegal membahayakan, para guru pun melawan dengan ramai-ramai menggeruduknya, pekerja tambang pun lari kocar kacir. Gemuruh alat berat merayap ke ruang kelas, memecah konsentrasi siswa. Di ruangan, Khoirul Hadi, Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Bungo, menatap ke luar pagar dengan perasaan resah, sekaligus amarah. Aktivitas tambang emas ilegal di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Jambi mulai mendekati SMA Negeri 8 Bungo. Jaraknya kurang dari 50 meter. Yang lebih mengkhawatirkan, katanya, adalah ancaman banjir. SMAN 8 Bungo berdiri persis di tepi Sungai Batang Bungo. Tambang emas ilegal beroperasi di samping sekolah, membuat mereka rentan kena banjir bandang. Akhir 2025, alat berat mencacah habis lahan di sebelah kanan sekolah. Menyisakan kolam-kolam tambang di pinggiran sungai. Pagar sekolah rusak, tanpa ada yang bertanggung jawab. “Sekarang mereka garap lagi lahan sebelah kiri sekolah,” kata Khoirul. Pohon-pohon besar yang selama ini menjadi benteng alami sekolah dari banjir, satu per satu mulai tumbang. “Sebelum ada PETI (pertambangan emas tanpa izin) aja sudah sering kena banjir, apalagi sekarang pohon-pohon besar kayak duku, durian yang jadi benteng dari banjir malah ditebangi. Saya khawatir kalau ada banjir bandang, sekolah bisa roboh.” Khoirul katakan, tambang emas ilegal itu sudah sebulan beroperasi. Dia sudah melaporkan ke Polsek Rantau Pandan, tetapi tak ada tindakan. Dia juga sudah mendatangi langsung lokasi tambang bersama Plt Kepala Desa Rantau Pandan, BPD&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 06:26:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06061908/Pakis-ekor-monyet-tumbuh-di-lereng-Gunung-Muria-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127420</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib. Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya. Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/">Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib. Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya. Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau Peka Muria, menuturkan pemanfaatan pakis sejak awal, sebenarnya bukan sesuatu yang dianjurkan. Namun, gelombang tren yang datang dari luar, ditambah minimnya regulasi masa itu, membuat eksploitasi tak terhindarkan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan, sejak masih muda,” jelasnya, Minggu (26/4/2026). Saat itu, bagian dalam Cibotium barometz yang bermotif unik dipotong dan dijual sebagai ‘kayu tolak tikus’. Kulitnya, digunakan sebagai media tanam, terutama untuk anggrek. Aktivitas ini, seingat Teguh berjalan masif. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis, lalu menjualnya tanpa mempertimbangkan kelanjutan. Waktu berjalan, tren mereda. Namun, dampaknya tidak ikut hilang. Teguh menyebut, bila dibandingkan dengan kondisi masa lalu, populasi pakis di Muria kini diperkirakan menurun. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang.” Pakis ekor monyet yang tumbuh di hutan Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Indikator sumber air Secara ekologis, pakis ekor monyet memiliki peran penting. Tak hanya tumbuh di sela pohon besar, tetapi juga sebagai indikator alami kesuburan tanah dan keberadaan sumber air. Pakis ini juga membantu kelembapan tanah dan berkontribusi pada kestabilan ekosistem hutan. “Kalau ada pakis, dekat mata air.” Meski tekanan pengambilan pakis di Muria mulai berkurang, menurut Teguh, ancaman tak sepenuhnya hilang. Praktik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 03:53:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/04054716/Foto-1_-Nelayan-sedang-memancing-di-Danau-Batur-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127336</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Made geleng-geleng kepala saat umpan pancing dilempar ke Danau Batur tetapi tak kena sasaran. Dia bawa tiga pancing dengan harapan dapat ikan mujair. Satu, dua, tiga, bahkan lebih, kail pancing dia lempar. Hasilnya, hanya dapat ikan red devil. “Di mana aja sama, entah ulah siapa niki,” kata Made, nelayan Desa Songan di Dermaga Pura Jati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/">Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Made geleng-geleng kepala saat umpan pancing dilempar ke Danau Batur tetapi tak kena sasaran. Dia bawa tiga pancing dengan harapan dapat ikan mujair. Satu, dua, tiga, bahkan lebih, kail pancing dia lempar. Hasilnya, hanya dapat ikan red devil. “Di mana aja sama, entah ulah siapa niki,” kata Made, nelayan Desa Songan di Dermaga Pura Jati sambil menunggu kailnya bergerak, Kamis, (16/4/26). Secara turun-temurun, Made merupakan nelayan tangkap dan juga punya keramba jaring apung di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Selama tiga dekade, dia jalani turun temurun, setidaknya dia generasi ketiga. Namun, sejak 2022, pekerjaan itu tak lagi menjanjikan, kini jadi buruh tani. Memancing menjadi salah satu pelipur lara ketika  senggang. “Mih, bangkrut tiang ulian red devil niki (aduh, bangkrut saya gara-gara red devil ini),” kata Made. Red devil (Amphilopus citrinellus) merupakan jenis ikan pemangsa daging bergigi tajam. Ikan ini tergolong ikan  hias air tawar dari Nikaragua dan Costa Rika, Amerika Tengah. Red devil punya daya tahan tinggi, sangat mudah beradaptasi pada perubahan lingkungan, dan mampu berkembang biak dengan cepat. Sifat ini jadikan red devil masuk dalam jenis ikan invasif yang dapat merusak ekosistem asli perairan. Ikan-ikan lokal di Danau Batur perlahan menghilang. Tak hanya di Danau Batur, penelitian Dampak Invasif Ikan Red Devil terhadap Keanekaragaman Ikan di Perairan Umum Daratan di Indonesia (2015) memperkirakan 87 jenis ikan Indonesia terancam punah. Faktor utama penyebab kepunahan ini adalah masuknya ikan red devil ke perairan umum daratan di Indonesia. Seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Sentani,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Terpanjang dalam Sejarah Bumi Ternyata Dua Kali Lipat Panjang Ibu Baron, Ular Raksasa dari Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 02:58:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074154/titanoboa_darren_pepper-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127405</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus) betina dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Guinness World Records mengonfirmasi rekor ini pada 18 Januari 2026. Ular yang diberi nama Ibu Baron ini memiliki panjang 7,22 meter, diukur dari kepala hingga ujung ekor menggunakan pita ukur survei standar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/">Ular Terpanjang dalam Sejarah Bumi Ternyata Dua Kali Lipat Panjang Ibu Baron, Ular Raksasa dari Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus) betina dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Guinness World Records mengonfirmasi rekor ini pada 18 Januari 2026. Ular yang diberi nama Ibu Baron ini memiliki panjang 7,22 meter, diukur dari kepala hingga ujung ekor menggunakan pita ukur survei standar. Angka ini hanya terpapat 10 sentimeter dari lebar gawang sepak bola standar FIFA (7,32 meter). Pengukuran dilakukan dalam kondisi ular sadar. Protokol Guinness World Records tidak mengizinkan pembiusan kecuali untuk alasan medis atau keselamatan. Dalam kondisi tubuh sepenuhnya rileks, panjang ular diperkirakan dapat bertambah sekitar 10 persen. Berat tubuh Ibu Baron tercatat 96,5 kilogram saat penimbangan, dan itu pun sebelum ia mengonsumsi mangsa besar. Pada sanca kembang dewasa, berat tubuh dapat meningkat tajam setelah makan, dalam kondisi perut penuh, bobotnya diperkirakan melampaui 100 kilogram. Seekor sanca kembang betina raksasa dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Foto Guiness Book of Records Ibu Baron saat ini berada dalam perawatan konservasionis lokal Budi Purwanto di Maros. Ia dievakuasi segera setelah ditemukan untuk mencegah pembunuhan oleh warga. Proses pemeriksaan dan pengukuran dilakukan oleh Diaz Nugraha, pemandu dan penyelamat satwa liar berlisensi dari Kalimantan, bersama Radu Frentiu, penjelajah dan fotografer alam yang bermukim di Bali. Keduanya datang ke Sulawesi setelah mendengar laporan tentang keberadaan sanca berukuran ekstrem. Konteks Spesies dan Rekor Sebelumnya Secara biologis, sanca kembang adalah ular terpanjang yang hidup saat ini, dengan distribusi alami mencakup Asia Tenggara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Petani Way Pisang di Tengah Rencana Pembangunan Rindam XXI</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 23:56:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/05234906/Konflik-Agraria-Lampung_Foto-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127397</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Mentari begitu terik siang itu. Meski begitu tak menyurutkan langkah Alvin Gini menuju ladang jagungnya di Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, penghujung tahun lalu. Belum sampai ke ladang jagung, tiba-tiba saja beberapa orang berseragam loreng hijau berambut cepak mencegatnya. “Ada lima orang TNI yang tiba mendatangi saya,” ujar Gini saat Mongabay hubungi, Desember [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/">Nasib Petani Way Pisang di Tengah Rencana Pembangunan Rindam XXI</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Mentari begitu terik siang itu. Meski begitu tak menyurutkan langkah Alvin Gini menuju ladang jagungnya di Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, penghujung tahun lalu. Belum sampai ke ladang jagung, tiba-tiba saja beberapa orang berseragam loreng hijau berambut cepak mencegatnya. “Ada lima orang TNI yang tiba mendatangi saya,” ujar Gini saat Mongabay hubungi, Desember lalu. Kelima orang itu langsung mengajukan sejumlah pertanyaan. Mereka menanyakan identitas dirinya, kepemilikan lahan, hingga status tanah yang sedang dia garap. “Waktu itu,  saya berangkat cari rumput sekitar jam 1.00 siang. Di kebun saya dicegat, ditanya nama siapa, punya lahan atau tidak, lahannya yang mana,” katanya menirukan pertanyaan mereka waktu itu. Kala itu dia jawab, lahan berada di tanah register. Mendengar itu, salah satu dari mereka kembali bertanya apakah Gini mengetahui siapa pemilik tanah itu. “Saya jawab tanah ini tanah register,” kata Gini. Anggota TNI terus lanjut bertanya termasuk soal bagaimana jika lahan itu diminta untuk dikosongkan. “Saya jawab, kalau diminta dikosongkan, saya mau tinggal di mana? Sedangkan pekerjaan saya hanya di sini, bertani,” katanya. Pertanyaan itu berlanjut pada kemungkinan ganti rugi, meski dia memilih untuk tidak memberikan jawaban. Setelah pertanyaan berantai itu, lantas Gini meninggalkan orang-orang itu dan mulai menggarap ladang. Sebelum beranjak, dia sempat melihat salah satunya melakukan pengukuran tanah di ladang-ladang jagung dan permukiman warga. Selepas mengukur tanah, kelima orang itu dijemput dengan satu mobil dan tujuh motor trail sebagai iring-iringannya. Sekitar lebih 15 orang datang di Desa Kemukus, siang itu. Plang Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) Desa Kemukus. Foto: Anggita Raissa/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Satwa Migran Kian Terancam Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 22:39:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094806/jussi_mononen-768x424.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127031</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Perikanan Kelautan dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Satwa liar spesies migran makin terancam, bahkan mendekati kepunahan. Konferensi Para Pihak XV Konvensi Spesies Migran (COP15 CMS) yang berlangsung di Brazil putuskan untuk meningkatkan perlindungan terhadap spesies migran. Total ada 40 spesies yang statusnya naik dalam status perlindungan dan masuk dalam Appendix I dan II. Puluhan spesies itu mencakup populasi burung, satwa liar akuatik, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/">Nasib Satwa Migran Kian Terancam Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Satwa liar spesies migran makin terancam, bahkan mendekati kepunahan. Konferensi Para Pihak XV Konvensi Spesies Migran (COP15 CMS) yang berlangsung di Brazil putuskan untuk meningkatkan perlindungan terhadap spesies migran. Total ada 40 spesies yang statusnya naik dalam status perlindungan dan masuk dalam Appendix I dan II. Puluhan spesies itu mencakup populasi burung, satwa liar akuatik, dan hewan darat. Appendix I adalah kelompok dengan spesies terancam punah yang perdagangannya dilarang penuh. Sementara Appendix II  masih memperbolehkan dengan ketentuan ketat. Menyusul kesepakatan ini, konvensi yang sudah berusia 47 tahun itu kini mencakup 1.200 spesies unik. Amy Fraenkael, Sekretaris Eksekutif CMS mengatakan, setengah dari spesies yang masuk daftar perlindungan sedang alami penurunan populasi. Dia pun lega karena pertemuan yang berlangsung akhir Maret itu menghasilkan kesepakatan untuk memperluas perlindungan hingga menyentuh hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, hingga hiu martil besar. Menurut Amy, kesepakatan itu menunjukkan perhatian negara terhadap upaya perlindungan spesies semakin meningkat. Saat konvensi berlangsung, semua negara sepakat perlindungan harus lebih kuat dengan rencana yang lebih terarah dan matang. “Tak perlu menunggu pertemuan berikutnya. Pelaksanaan harus dimulai besok. Tugas kita sekarang adalah menjembatani kesenjangan antara apa yang telah kita sepakati dan apa yang terjadi di lapangan bagi hewan-hewan ini.” Spesies yang masuk perlindungan terkini itu, habitatnya mendiami wilayah-wilayah kunci seperti Amazon. Kondisi itu bisa terjadi, karena habitat terus berkurang luasannya, eksploitasi berlebihan, dan infrastruktur terbatas yang memicu penurunan populasi yang melintasi batas negara menjadi lebih cepat. Di luar hal tersebut, ancaman penurunan populasi dan degradasi habitat juga bisa terjadi karena ada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kala Rumah Sakit Mulai Gunakan Energi Terbarukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 15:30:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/30073951/WhatsApp-Image-2026-04-30-at-14.35.00-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, komunitas lokal, politik dan hukum, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tren transisi energi mulai bermunculan di berbagai sektor, termasuk di rumah-rumah sakit. Aksi ini membuat mereka bisa mengurangi beban listrik secara signifikan. Di Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah Gamping, di Yogyakarta, misal, yang menggunakan panel surya. Alif Khoiruddin Azizi, Manajer Umum RS PKU Muhammadiyah Gamping, menyebut, lampu taman dan jalan serta pemanas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/">Kala Rumah Sakit Mulai Gunakan Energi Terbarukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tren transisi energi mulai bermunculan di berbagai sektor, termasuk di rumah-rumah sakit. Aksi ini membuat mereka bisa mengurangi beban listrik secara signifikan. Di Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah Gamping, di Yogyakarta, misal, yang menggunakan panel surya. Alif Khoiruddin Azizi, Manajer Umum RS PKU Muhammadiyah Gamping, menyebut, lampu taman dan jalan serta pemanas air di kamar mandi sebagian sudah bersumber listrik dari energi terbarukan bersumber matahari. Langkah sama juga RS Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur, lakukan. Masjid utama layanan kesehatan itu sudah menggunakan panel surya. Tak hanya itu RSUD Karang Asem di Bali juga menerapkan PLTS Atap dengan kapaistas 50.000 watt. Total, 72 panel surya terpasang dengan tujuan hemat anggaran dan memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski PLN melakukan pemadaman. Inisiasi serupa di RSUP Sardjito di Yogyakarta, yang memanfaatkan PLTS Atap sebagai sumber listrik mereka. Rumah sakit ini juga menggunakan solar dryer untuk pengeringan limbah dengan energi terbarukan. Mereka juga desain bangunan baru yang hemat energi, hingga pengelolaan limbah tanpa listrik. Junediyono, Asisten Manajer Humas RSUP Sardjito, mengatakan, setidaknya sudah ada dua bangunan yang menggunakan PLTS atap. Hasil listrik dari PLTS atap itu untuk operasional masing-masing gedung. “Pertama, di gedung lama, lalu yang kedua dipasang di gedung yang sedang dibangun ini,” katanya. Penggunaan energi surya juga untuk lampu penerangan jalan dan taman. Upaya ini sejak lima tahun terakhir dan akan lanjut bertahap ke depan. Untuk memperkuat komitmen ramah lingkungan ini, perencanaan bangunan baru pun memprioritaskan desain hemat energi. “Sudah jadi komitmen manajemen untuk ramah lingkungan kedepannya, ditunjukan dengan setiap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>