- Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda.
- Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur.
- Berenuk berasal dari Amerika Selatan, tergolong keluarga Bignoniaceae. Daging buahnya halus, rapat, putih seperti sirsat, namun hitam setelah dibiarkan lama. Sedangkan maja dari Asia Selatan termasuk Indonesia, tergolong keluarga Rutaceae atau jeruk-jerukan. Daging buahnya berongga dan kuning, dengan biji berukuran besar dan agak bulat.
- Crescentia cujete memiliki banyak kandungan bermanfaat sebagai antiimflamasi, antibakteri, antidiabetes, hingga antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan, buah ini memiliki kandungan polivenol, tanin, alkaloid, dan saponin.
Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda. Bentuk berenuk dan maja memang sama-sama bulat, namun daging buah, rasa, dan ukurannya berbeda.
Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur.
Berenuk berasal dari Amerika Selatan, tergolong keluarga Bignoniaceae. Daging buahnya halus, rapat, putih seperti sirsat, namun hitam setelah dibiarkan lama. Bijinya kecil, berbentuk hati, dan pipih. Rantingnya tanpa duri, dengan daun tunggal, oval, terbalik, dengan ujung meruncing.
Sedangkan maja dari Asia Selatan termasuk Indonesia, tergolong keluarga Rutaceae atau jeruk-jerukan. Daging buahnya berongga dan kuning, dengan biji berukuran besar dan agak bulat. Rantingnya berduri, berdaun majemuk, bertangkai 3, dan berukuran kecil panjang. Pohon maja dapat tumbuh di lingkungan basah seperti rawa maupun di lahan kering, sementara buahnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
“Masyarakat lokal menyebut berenuk buah maja, meski secara nama ilmiah berbeda. Warga lokal banyak mengira berenuk beracun, padahal tidak,” papar Aletheia Threskeia, Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Petra Surabaya, pertengahan April 2026.
Beberapa penelitian mengenai ekstrak daun berenuk dapat dimanfaatkan sebagai obat luka, diabetes, serta kanker. Sedangkan penelitian potensi buah berenuk dimanfaatkan sebagai bahan bioalkohol atau biofuel.
Filipina mengolah berenuk menjadi minuman kesehatan. Tanaman ini juga sedang diteliti untuk pengobatan penurunan fungsi organ tubuh serta penyakit degeneratif lainnya.

Pemanfaatan untuk kesehatan
Lima mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, yaitu Ardan Rezon Prasetio, Audrey Hadara Wattimena, Aurelia Callysta, Fedilia Yanson Widio, dan Samuel Jason Liwanto Lie, membuat produk pangan fungsional GO! MAJA, berbahan dasar Greek Yoghurt yang dipadukan ekstrak berenuk.
Ardan Rezon Prasetio, ketua tim, mengatakan inovasi yoghurt ekstrak berenuk telah melalui riset mendalam.
“Sering terabaikan, padahal manfaatnya sangat besar untuk kesehartan. Ada kandungan Lektin dan Quercetin, yang melindungi dinding lambung dan saluran pencernaan kita,” terangnya, Senin (16/3/2026).

Ada tiga persoalan terkait berenuk di masyarakat. Pertama, potensi buahnya belum dikembangkan. Kedua, anggapan rasanya pahit tidak benar, justru setelah melalui proses fermentasi rasanya manis dan asam. Ketiga, anggapan buah ini beracun salah, justru bermanfaat bagi kesehatan terutama melindungi pencernaan tubuh.
“Perpaduan yoghurt dan ekstrak buah berenuk saling melengkapi kesehatan, seperti mengatasi diare, sembelit, infeksi kulit, mencegah asam lambung naik, hingga mengurangi risiko terkena penyakit kanker.”
Fedilia Yanson Widio menambahkan, pengolahan berenuk dimulai dengan melakukan fermentasi 1-2 hari, untuk mendapatkan airnya. Air fermentasi diolah menjadi dua produk yakni sirup yang lebih kental, serta air buah yang dijadikan agar-agar.
“Semakin lama fermentasi, airnya semakin banyak. Kami peras buahnya hingga yang tersisa ampas,” ujarnya.

David Kristanto, Dosen School of Business and Management UK Petra, menyebut produk ini menjadi bukti biodiversitas lokal yang terabaikan dapat diolah menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.
Potensinya yang melimpah di Desa Kebon Tunggul, Mojokerto, belum dimanfaatkan. Padahal, berat satu buah berenuk sekitar satu kilogram.
“Banyak yang mengira buah ini pahit dan beracun, padahal tidak.”
Secara ilmiah, sari berenuk di produk ini efektif meningkatkan imunitas tubuh, menangkal radikal bebas, serta menjaga kesehatan jantung dan sistem pencernaan.
“Meski kita tahu buah ini aman dikonsumsi, namun kami masak di atas suhu 65 derajat Celcius, antisipasi bila ada bakteri,” ujarnya.

Aletheia menambahkan, Crescentia cujete memiliki banyak kandungan bermanfaat sebagai antiimflamasi, antibakteri, antidiabetes, hingga antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan, buah ini memiliki kandungan polivenol, tanin, alkaloid, dan saponin.
“Paling tinggi kadarnya saponin dan akaloid, sampai empat persen, yang merupakan antioksidan. Itu yang dinamakan molekul bioaktif, bermanfaat untuk tubuh dan kesehatan,” terangnya.
Aletheia yang sedang meneliti manfaat berenuk sebagai antidiabetes, meyakini khasiat buah ini sangat besar untuk kesehatan.
“Di beberapa negara pemafaatannya berbeda, paling banyak antidiabetes,” tandasnya.
*****