- Menghitung jejak karbon bisa jadi salah satu cara untuk mengatasi krisis iklim dari gaya hidup perkotaan. Website Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, bisa sekaligus hitung jejak karbon individu maupun komunitas.
- Mereka mendesain platform ini supaya mudah akses bagi semua kalangan, terutama generasi boomer, mengingat banyak pengelola dari kelompok usia itu. Dia bilang, penggunaan kalkulator jejak karbon juga tidak rumit.
- IESR pun melakukan upaya perubahan perilaku dengan platform jejak karbon, bahkan sudah sejak 2010. Metode itu, cukup efektif terutama untuk kelompok muda. Replikasi platform serupa yang komunitas-komunitas lakukan akan membuat masyarakat memiliki akses yang lebih luas atas kesadaran krisis iklim.
- Feby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menyebut, upaya tersebut sebagai terobosan dalam mitigasi krisis iklim. Apalagi, Muhammadiyah memiliki basis massa besar.
Nur Fitriani kaget ketika mengetahui penghitungan karbon yang dia hasilkan selama sebulan mencapai 450 kilogram karbon, awal tahun 2026. Sejak saat itu, perempuan 27 tahun ini bertekad mengurangi jejak karbonnya dengan mengurangi penggunaan energi fosil.
Berbagai cara dia tempuh, terutama, meminimalisasi penggunaan sepeda motor dan kebutuhan listrik kamar kostnya di Kota Yogyakarta. Perlahan, dia pun mulai menggunakan TransJogja untuk transportasi dalam kota.
“Kalau untuk ke luar kost untuk ke warung sekarang jalan kaki saja,” katanya.
Ketertarikannya menghitung jejak karbon muncul karena dia tak sadar aktivitasnya selama ini menimbulkan emisi. Setelah pemahaman dasar itu dia terima, rasa penasaran menggunakan kalkulator jejak karbon yang berbasis website milik 1.000 Cahaya Muhammadiyah pun tumbuh.
Sejak Januari, karyawan perbankan ini rutin mengecek jejak karbon setiap bulan. Tujuannya, agar tahu sejauh mana aktivitasnya berpengaruh terhadap krisis iklim.
“Mudah menggunakannya, tidak rumit dan hasilnya keluar seketika. Jadi bisa langsung evaluasi kalau melebihi bulan sebelumnya,” katanya setelah menggunakan website itu.
Guna mendapat perhitungan karbon yang dalam sebulan, tiap malam sebelum tidur, dia rutin mencatatkan kegiatan hariannya. Sekarang, rata-rata karbon yang dia hasilkan sebulan sebesar 260 kilogram.
Nilai itu dari emisi transportasi yang sebesar 120 kilogram karbon, listrik rumah 130 kilogram, dan konsumsi makanan 10 kilogram karbon.
“Hasil kalkulator ini linier dengan pengeluaran bulanan, kalau jejak karbonnya tinggi maka biaya bulanan juga tinggi. Jadi bisa buat mengendalikan pengeluaran juga.”

Ubah perilaku
Tak hanya menyediakan fitur berbasis individu, kalkulator jejak karbon ini juga punya layanan untuk komunitas. Sasarannya di internal lembaga badan amal usaha organisasi keagamaan yang beranggotakan 60 juta orang itu.
Ahid Mudayana, Wakil Manajer Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, menjelaskan, tujuan utama platform ini untuk mengubah perilaku berbasis komunitas.
“Terutama badan amal usaha di bidang pendidikan, dari sekolah sampai perguruan tinggi yang menggunakan platform kami mengalami penurunan emisi,” katanya.
Mereka mendesain platform ini supaya mudah akses bagi semua kalangan, terutama generasi boomer, mengingat banyak pengelola dari kelompok usia itu. Dia bilang, penggunaan kalkulator jejak karbon juga tidak rumit.
Sejak rilis 2025, ada perubahan perilaku signifikan lewat amatan di platform.
“Perubahannya bisa dilihat dari turunnya emisi dari riwayat akun yang menggunakannya,” katanya.
Misal, sekolah dan pesantren di Prambanan, Klaten yang sampai menginisiasi pembatasan waktu penggunaan peralatan listrik.
“Termasuk beberapa kampus yang jadi sasaran kami, seperti Universitas Ahmad Dahlan di Yogyakarta yang bahkan mulai menggunakan panel surya untuk mengurangi karbon.”
Platform ini menggunakan metode terbaru dalam penghitungan jejak karbonnya. Penjelasan atas metode pun ada dalam keterangan hasil supaya pengguna turut memahaminya.
Penurunan emisi berkat platform ini makin kuat dengan hukum-hukum syariat praktis di lingkungan Muhammadiyah melalui Fiqih Transisi Energi Berkeadilan. “Jadi edukasi dan kampanye kalkulator jejak karbon juga disisipkan fiqih yang sudah ada.”
Gabungan aturan Islam dan metode sains ini, lebih efektif membangun kesadaran mitigasi krisis iklim. Sebab berbagai sumber mencatat keterkaitan agama dengan mitigasi krisis lingkungan cukup tinggi, seperti 92% Muslim percaya menjaga bumi adalah kewajiban dan 78% umat Hindu mengubah perilaku konsumsi demi lingkungan.

Transisi energi dan peran agama
Fikih transisi energi berkeadilan yang terbit pada 2024 jadi tonggak peran agama, khususnya Islam dalam merespon krisis iklim di Indonesia. Ustaz Niki Alma Febriana Fauzi, salah satu penyusun aturan itu, menjelaskan prinsip utama dalam fiqih itu adalah keadilan.
Sebagai bagian dari pedoman keagamaan, fiqih transisi energi tidak bersifat koersif atau memaksa dengan sanksi. “Memang tidak mengikat dengan memaksa, tapi mengedukasi dan jadi panduan keseharian yang harapannya menjadi gerakan kolektif untuk mengubah kondisi.”
Pendakwah sekaligus dosen ini rutin menyiarkan fiqih itu pada jamaahnya. Menurut dia, kebanyakan respon umat terhadap aturan yang tergolong baru ini cukup antusias dan mendukung.
Kelompok muda jadi yang paling utama mendukung dan mempraktikkan pedoman keagamaan ini.
“Dalam menyiarkan fiqih ini memang perlu pelan-pelan karena krisis iklim sendiri adalah isu baru, tapi tidak sulit untuk menjelaskannya karena contohnya banyak dalam keseharian dan dekat dengan umat.”
Niki bilang, panduan keagamaan ini juga menjunjung tinggi keadilan dalam transisi energi. Contoh, penggunaan motor listrik tidak kemudian dia anjurkan karena dalam proses produksinya, terutama baterainya, ternyata menghancurkan lingkungan dengan pertambangan nikel.
Penting untuk memprioritaskan prinsip keadilan, karena, banyak proses transisi energi justru menciptakan ketimpangan.
Feby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menyebut, upaya itu sebagai terobosan dalam mitigasi krisis iklim. “Apalagi organisasi Islam seperti Muhammadiyah punya basis warga yang cukup besar, perubahan perilaku anggotanya akan berdampak signifikan,” katanya.
IESR pun melakukan upaya perubahan perilaku dengan platform jejak karbon, bahkan sudah sejak 2010. Metode itu, menurutnya, cukup efektif terutama untuk kelompok muda.
Replikasi platform serupa yang komunitas-komunitas lakukan akan membuat masyarakat memiliki akses yang lebih luas atas kesadaran krisis iklim.
“Semakin banyak platform penghitung jejak karbon akan semakin baik, karena kalau yang kami pantau budaya ramah lingkungan jadi lebih masif tumbuh.”
Dia mencontohkan, maraknya penggunaan tumbler yang mengurangi botol sekali pakai.
“Plastik dari botol minum itu, kan, menyumbang jejak karbon yang tidak sedikit juga, dari bahannya yang mengandung fosil sampai sampahnya yang mencemari lingkungan.”
Platform IESR ini juga rutin pembaruan, terutama metode penghitungan karbonnya. Fiturnya juga rutin menyesuaikan kebutuhan penggunanya, terutama menyangkut aktivitas keseharian yang menyumbang emisi tapi tak ada dalam pilihan perhitungan detail.
Selain itu juga terdapat rekomendasi dalam platform tersebut untuk mengurangi jejak karbon. Mereka mempersonalisasi rekomendasi itu dengan kebiasaan dan kebutuhan penggunaannya, ada juga pengingat khusus tergantung pemakaiannya.
Meski begitu, katanya, perlu dorong aksi perubahan perilaku jadi gerakan kolektif untuk mengubah masalah struktural krisis iklim.
“Untuk itu kami selalu menambahkan konteks krisis iklim yang terjadi dan memberikan edukasi tambahan soal ketimpangan yang terjadi.”

*****
Urban Farming dan Kontribusinya bagi Pengurangan Jejak Karbon