Ular merupakan salah satu kelompok reptil paling sukses dan beragam di dunia, dengan lebih dari 4.000 spesies yang tersebar di berbagai benua. Namun asal-usul evolusi mereka, apakah nenek moyang ular pertama hidup di air, di permukaan tanah, atau di bawah tanah, masih menjadi perdebatan ilmiah selama lebih dari seabad.
Sebuah fosil ular yang tersimpan dengan sangat baik dari Brasil memberi para ilmuwan gambaran paling jelas soal bagaimana ular pertama kali berevolusi. Fosil berbentuk tiga dimensi ini menunjukkan bahwa sebagian ular purba sudah beradaptasi hidup di bawah tanah, jauh sebelum spesies ular modern muncul.
Spesies baru ini diberi nama Tametara mirim, diambil dari bahasa Tupi-Guarani yang berarti “berhias” dan “kecil”. Fosil itu ditemukan di batuan berusia sekitar 80 juta tahun di negara bagian São Paulo, Brasil, dan hidup pada Zaman Kapur Akhir, berdampingan dengan burung purba dan dinosaurus sauropoda.
Penelitian yang dipimpin Tiago Simões dari Princeton University ini melibatkan peneliti dari University of Helsinki dan Museums Victoria Research Institute, dan telah terbit di jurnal Nature.
Fosil Langka yang Tersimpan Utuh
Sebagian besar fosil ular hanya berupa lempengan pipih akibat tekanan batuan selama jutaan tahun. Dari hanya sepuluh fosil ular Zaman Mesozoikum yang pernah ditemukan, cuma tiga yang tersimpan dalam bentuk tiga dimensi. Keterbatasan ini membuat asal-usul ular, apakah dari laut, permukaan tanah, atau bawah tanah, masih diperdebatkan selama lebih dari satu abad.
Tametara mirim menjadi pengecualian langka. Tengkoraknya yang hanya berukuran 20 milimeter tetap utuh berbentuk tiga dimensi, lengkap dengan rongga otak di dalamnya. Fosil ini juga menjadi kerangka ular berartikulasi pertama yang ditemukan di Brasil, dengan susunan tulang yang masih tersambung seperti aslinya.

“Snakes are just amazing in how they have been transforming their body plan,” kata Nicolas Di-Poï, peneliti dari University of Helsinki, kepada Earth.com. Ia menambahkan bahwa ular purba tampaknya bereksperimen dengan berbagai cara hidup, bukan mengikuti satu jalur evolusi tunggal.
Bukti dari Otak dan Tulang Tengkorak
Untuk mengetahui gaya hidup Tametara mirim, tim peneliti menggunakan pemindaian CT resolusi tinggi guna merekonstruksi rongga otak dan tengkoraknya. Hasilnya menunjukkan bentuk telensefalon, bagian otak depan yang mengatur penglihatan dan penciuman, berbeda dari ular modern maupun ular purba lain yang sudah dikenal.
Bagian otak yang mengurus penglihatan, yaitu tektum optik, juga tampak mengecil. Ciri ini umum ditemukan pada hewan yang hidup di bawah tanah dan kurang mengandalkan indra penglihatan. Sistem saluran telinga bagian dalamnya pun sangat sederhana, berbeda dengan hewan permukaan atau pemanjat pohon yang butuh struktur telinga lebih rumit untuk menjaga keseimbangan.

Bukti lain datang dari struktur tulang tengkorak. Hewan yang menggali tanah dengan kepala lebih dulu umumnya memiliki tulang tengkorak yang padat dan tebal untuk menahan tekanan mekanis saat menerobos tanah. Tengkorak Tametara mirim menunjukkan pola serupa, ciri yang juga ditemukan pada berbagai kadal penggali tanah.
Sebagai pembanding, tim peneliti menganalisis ular purba lain bernama Dinilysia, yang justru menunjukkan tulang tengkorak kurang padat dan lebih pendek, ciri khas hewan yang hidup di permukaan tanah, bukan penggali.
Menurut Di-Poï, alasan pasti mengapa Tametara mirim memilih hidup di bawah tanah belum bisa dipastikan. Ia menduga perilaku menggali bisa jadi strategi menghindari predator. Ukuran tubuh juga mungkin berperan, karena hanya ular berukuran kecil yang mampu membuat lorong di dalam tanah, sementara ular purba berukuran besar cenderung hidup di air atau daratan terbuka.
Temuan pada Tametara mirim dan Dinilysia bersama-sama menunjukkan bahwa ular purba tidak berasal dari satu jalur evolusi tunggal. Sebaliknya, kelompok ini tampaknya berkembang melalui berbagai jalur hidup yang berbeda sejak awal kemunculannya, sebagian menggali tanah, sebagian lain tetap di permukaan.
**
Referensi
Simões, T. R., Di-Poï, N., Hsiou, A. S., Ebel, R., Martinelli, A., et al. (2026). Exceptional brain and ecological diversity in the earliest snakes. Nature. https://doi.org/10.1038/s41586-026-10809-9