Lautan ternyata tidak sepenuhnya sunyi. Terumbu karang yang sehat justru sangat berisik. Kegaduhan ini bukan gangguan, melainkan tanda kehidupan yang semarak. Ada bunyi “krek-krek” dari udang pistol, gemuruh rendah ikan karang, hingga dengungan samar larva yang berenang mencari tempat tinggal. Suara-suara tersebut bukan sekadar latar belakang, melainkan elemen vital yang menentukan keberlangsungan ekosistem di bawah permukaan air.
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai reef soundscape. Ini adalah lanskap akustik yang terbentuk dari kombinasi suara makhluk hidup di dalam ekosistem. Terumbu karang yang sehat dipenuhi suara khas dari derik udang snapping serta lenguhan berbagai jenis ikan. Bagi organisme laut, soundscape yang keras dan beragam berfungsi sebagai panduan orientasi. Ikan muda dan larva karang yang menghabiskan masa awal mereka di lautan terbuka sangat bergantung pada suara ini untuk menemukan rumah yang tepat untuk tumbuh.

Riset dari Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) membuktikan bahwa suara sebelum kerusakan jauh lebih menarik bagi larva ikan. Sebagai perbandingan, area yang rusak rata-rata 15 dB lebih sunyi. Penurunan intensitas suara ini diiringi dengan hilangnya kompleksitas akustik. Hal ini menyebabkan larva kehilangan arah karena sinyal navigasi alami mereka menghilang seiring rusaknya struktur karang.
Laut yang Sunyi Membuat Ikan Bingung
Kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan besar. Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat dari 1.153 titik pantau, sekitar 33,82 persen dalam kondisi buruk. Hanya 6,42 persen yang masih dalam kategori sangat baik. Ketika karang mati dan populasi ikan menyusut, suasana bawah laut berubah drastis. Terumbu yang terdegradasi menjadi senyap layaknya kota hantu karena penghuninya telah pergi atau mati.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang berbahaya bagi ekosistem. Saat laut menjadi sunyi, generasi ikan berikutnya kehilangan kompas alami untuk pulang. Soundscape yang miskin menjadi kurang menarik bagi invertebrata dan ikan muda. Akibatnya, perilaku pemukiman yang dipandu secara akustik terganggu. Tanpa kedatangan penghuni baru, proses pemulihan alami karang menjadi semakin sulit dan lambat.
Inovasi Speaker Bawah Laut
Sains menawarkan solusi unik melalui pengayaan akustik. Beberapa tim peneliti mencoba memulihkan ekosistem dengan memasang speaker bawah air yang memutar rekaman suara terumbu karang sehat. Studi tahun 2024 dari Woods Hole Oceanographic Institution menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tingkat pemukiman larva karang ditemukan bisa tujuh kali lebih tinggi di area yang diberi suara buatan. Hal ini secara langsung meningkatkan peluang kelangsungan hidup larva di wilayah tersebut.
Penelitian serupa di Great Barrier Reef juga menunjukkan perbaikan nyata pada komunitas ikan setelah suara sehat diperdengarkan kembali. Para peneliti kini mendorong pembentukan jaringan pemantauan soundscape global sebagai bagian dari strategi konservasi. Meskipun bukan solusi tunggal untuk mengatasi polusi atau perubahan iklim, metode ini memberikan harapan baru. Pemahaman ini menyadarkan kita bahwa kesehatan laut tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga dari apa yang bisa didengar di kedalaman.
**
Referensi:
T.A.C. Gordon,H.R. Harding,K.E. Wong,N.D. Merchant,M.G. Meekan,M.I. McCormick,A.N. Radford, & S.D. Simpson, Habitat degradation negatively affects auditory settlement behavior of coral reef fishes, Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 115 (20) 5193-5198, https://doi.org/10.1073/pnas.1719291115 (2018).
Lamont, T. A. C., Williams, B., Chapuis, L., Prasetya, M. E., Seraphim, M. J., Harding, H. R., May, E. B., Janetski, N., Jompa, J., Smith, D. J., Radford, A. N., & Simpson, S. D. (2022). The sound of recovery: Coral reef restoration success is detectable in the soundscape. Journal of Applied Ecology, 59, 742–756. https://doi.org/10.1111/1365-2664.14089