<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=l-darmawan-tasikmalaya&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/l-darmawan-tasikmalaya/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2026 12:15:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Misteri Kamuflase Dunia Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:22:06 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=133304</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Misteri Kamuflase Dunia Satwa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Misteri Kamuflase Dunia Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya. The post Misteri Kamuflase Dunia Satwa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:00:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132962</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, politik dan hukum, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia, mengatakan terdapat tekanan bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Penerapan biodiesel 50 atau B50 sejak 1 Juli 2026 menambah kebutuhan subsidi. Ketika harga minyak mentah Brent berada di bawah US$101 per barel, biaya produksi biodiesel menjadi lebih mahal dibandingkan solar fosil. Sebab, harga biodiesel juga dipengaruhi harga minyak sawit mentah sebagai bahan bakunya. “Sepanjang 2026, tren penurunan harga Brent memperlebar selisih harga antara biodiesel dan solar fosil sehingga kebutuhan subsidi biodiesel meningkat. Dalam kajian kami, kondisi ini berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp80-100 triliun per tahun,” ujar Sudaryadi. Dana subsidi B50 berasal dari pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Ketika kebutuhan subsidi tumbuh lebih cepat daripada penerimaan pungutan, pembayaran insentif kepada produsen biodiesel berpotensi terganggu. Pasokan minyak sawit juga menghadapi persaingan antara kebutuhan energi, pangan, dan ekspor. Kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat dari sekitar 12,5 juta ton menjadi 19,8 juta ton pada 2035. Pemerintah didesak membuka data distribusi, stok BBM, dan realisasi pencampuran biodiesel untuk memastikan penyebab langsung kelangkaan. Agus Praditya Tampubolon, Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR, mengatakan ketahanan energi mencakup ketersediaan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, dan penerimaan masyarakat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 08:50:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12022858/image-27-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133302</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat yang rutin menjaga habitat satwa tersebut. “Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu. Sejak 2012, Daman menjadi relawan penjaga kawasan. Setelah mencari kepiting bakau, dia biasa masuk ke hutan untuk memantau lutung jawa. Selain lutung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti kera ekor panjang, burung air, kuntul, bangau bluwok, cekakak sungai, hingga blekok sawah. Namun, habitat lutung jawa terus menyusut. Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, dari penetapan kawasan hutan lindung yang awalnya mencapai 10.000 hektar, sekitar 2.338,85 hektar daratan hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan, dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak. Penelitian juga menunjukkan luas mangrove di Muaragembong menyusut 55% dalam empat dekade terakhir. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu wilayah yang mengalami abrasi paling parah. Kondisi ini turut mengancam lutung jawa yang populasinya di kawasan tersebut kini sekitar 70 individu. Penyusutan mangrove membuat lutung semakin kesulitan mendapatkan pakan dan air. Daman mengatakan lutung jawa menyukai daun jeruju. Saat musim kemarau, air di sekitar muara Sungai Citarum berubah menjadi payau akibat intrusi air laut sehingga lutung harus mendekati permukiman untuk mencari air tawar. “Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara Perempuan Adat Papua untuk Tanah dan Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 07:30:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09072854/masuk-hutan-sagu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133289</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[huhutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Barbalina Osok membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi ketika hadir dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Masyarakat adat Moi mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. Ia berbicara tentang tanah dan hutan adat yang selama puluhan tahun berada dalam tekanan pemanfaatan sumber daya alam. Ketua Umum Kwongke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/">Suara Perempuan Adat Papua untuk Tanah dan Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Barbalina Osok membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi ketika hadir dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Masyarakat adat Moi mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. Ia berbicara tentang tanah dan hutan adat yang selama puluhan tahun berada dalam tekanan pemanfaatan sumber daya alam. Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi (KKSM) Papua Barat Daya itu mengatakan, sejak awal 1990-an konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) telah beroperasi di wilayah adat Moi. “Izin HPH tersebut awalnya berkomoditas kayu, namun belakangan sebagian arealnya dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Keberadaan izin ini sangat merugikan masyarakat adat Moi, karena hutan yang seharusnya menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun justru terus dikuras tanpa kejelasan manfaat balik bagi pemilik hak ulayat,” kata Barbalina. Menurutnya, izin tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan diperkirakan masih berlaku hingga sekitar 2032–2033. Situasi ini, katanya, membuat masyarakat adat Moi hidup dalam tekanan perubahan bentang alam dan pemanfaatan sumber daya alam di wilayah mereka. Bagi masyarakat adat, persoalan pembangunan tidak hanya terkait investasi dan manfaat ekonomi. Lebih jauh, persoalannya menyangkut sejauh mana masyarakat sebagai pemilik hak ulayat dilibatkan dalam pengambilan keputusan atas tanah dan sumber daya alam mereka. Suara Barbalina bukan satu-satunya yang muncul dalam PAPEDA Summit 2026. Forum yang mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan mitra pembangunan itu juga menjadi ruang bagi perempuan Papua menyampaikan kekhawatiran mengenai arah pembangunan di Tanah Papua. Beberapa warga kampung Anobo, Pulau Padaidori, Papua. Praktik orang Padaidori dalam mengelola lahan dan berkebun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/suara-perempuan-adat-papua-untuk-tanah-dan-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 07:02:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23180347/PIK-II-Satgas-PKH.-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132791</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dadang, berdiri di lahan garapan di Kampung Kramat, Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pria 50 tahun ini memandangi sisa-sisa bakau yang mengering. Kawasan itu dulu penuh dengan hamparan mangrove rimbun yang menjadi sumber penghidupan warga, kini sebagian besar hilang, lahan berubah gersang. Berjarak sekitar 200 meter dari tempat Dadang berdiri, plang terpasang di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/">Menanti Pemulihan Hutan Mangrove Eks PSN di Pesisir Tangerang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dadang, berdiri di lahan garapan di Kampung Kramat, Desa Kramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pria 50 tahun ini memandangi sisa-sisa bakau yang mengering. Kawasan itu dulu penuh dengan hamparan mangrove rimbun yang menjadi sumber penghidupan warga, kini sebagian besar hilang, lahan berubah gersang. Berjarak sekitar 200 meter dari tempat Dadang berdiri, plang terpasang di tengah lahan bertuliskan &#8220;kawasan hutan lindung ex program strategis nasional PIK 2 yang telah dicabut dan berada dalam penguasaan Pemerintah Republik Indonesia cq. Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).&#8221; “Dulu, ini mangrove semua, dari sana sampai sini, warga yang tanam,” kata Dadang menunjuk bakau di depannya, Selasa (11/8/26). Pada 13 Maret lalu, Satgas PKH mengambil alih sekitar 1.600 hektar kawasan hutan lindung di pesisir Tangerang, dari penguasaan PT Mutiara Intan Permai (MIP), anak perusahaan dari Agung Sedayu Group (ASG) milik konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan. Hutan mangrove Desa Kramat menjadi satu dari lima lokasi hutan lindung di utara Tangerang yang satgas tertibkan. Ini tindakan pemerintah dalam penguasaan kembali kawasan hutan berdasarkan Perpres Nomor 5/2025 dan PP Nomor 45/2025.  Kebijakan itu soal pengaturan mengenai penertiban kawasan hutan dan  pembentukan Satgas PKH. Awalnya, wilayah ini menjadi proyek strategis nasional PIK 2 Tropical Coastland. Sejak penetapannya pada 2024, proyek itu menuai kontroversi, mulai dari persoalan pertanahan, pembangunan di pesisir, hingga dampaknya terhadap warga. Dadang berdiri di depan plang di kawasan pengambil alihan kawasan hutan lindung ex program strategis nasional PIK 2 yang berada di Kabupaten Tangerang. Foto: Anggita Raissa/Mongabay Indonesia Ketika hutan mangrove mulai hancur Dadang masih ingat betul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/menanti-pemulihan-hutan-mangrove-eks-psn-di-pesisir-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 05:09:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133098</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunita lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah di Kalimantan,  juga terjadi di kawasan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) termasuk di zona intinya.  Pada tengah Agustus, Deden Wahyudi, warga Kampung Sepaku Lama, Penajam Paser, Kalimantan Timur, yang berada di zona IKN tak luput dari kepungan asap. Dia panik Jakiyah, ibu Deden mengidap penyakit radang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/">Ketika IKN Tak Luput dari Kepungan Karhutla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah di Kalimantan,  juga terjadi di kawasan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) termasuk di zona intinya.  Pada tengah Agustus, Deden Wahyudi, warga Kampung Sepaku Lama, Penajam Paser, Kalimantan Timur, yang berada di zona IKN tak luput dari kepungan asap. Dia panik Jakiyah, ibu Deden mengidap penyakit radang paru. Situasi itu membuatnya sulit bernapas saat beriringan dengan asap dan debu. “Kuatir juga. Kalau asapnya makin tebal, nasib saya bagaimana,” katanya kepada Mongabay, akhir Agustus. Nuni, warga Sepaku Lama yang lain sampaikan kekhawatiran serupa. Apalagi,  baru-baru ini, dia melihat langsung kondisi api menyala dari lahan konsesi hutan tanaman industri (HTI) PT ITCI Hutani Manunggal (IHM) pada malam hari. Wilayah yang terbakar itu, juga masuk dalam kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN. “Hari itu kebakaran, di atas (kawasan konsesi IHM). Baru-baru aja, belum seminggu,” katanya  sambil menyikat pakaiannya, Jumat (21/8/26). Di kota penyangga IKN seperti Balikpapan, sudah dua hari belakangan karhutla terjadi. Kabut asap tipis mulai menyelimuti langit. Paling tampak, pagi hari sesaat setelah matahari terbit. Pendar cahaya matahari tak memencar, membuatnya tampak seperti lingkaran kemerahan dari kejauhan. Bau asap menyengat. Emi, ibu hamil asal Balikpapan Selatan yang juga memiliki anak dengan usia rentan, turut merasa terancam. “Saya kira embun, tapi kok agak tebal. Terus bau-bau asap bakaran, kayak gosong gitu,” katanya  kepada Mongabay, Minggu (30/8/26). Situasi itu memaksa Emi membatasi aktivitas di luar ruangan. Apalagi, usia kehamilannya sudah mencapai 5 bulan. “Kabar karhutla di Kalimantan memang mengkhawatirkan. Ada juga kejadian di sini, tapi memang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/ketika-ikn-tak-luput-dari-kepungan-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 04:06:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09040217/Troglodytes_aedon_Cucarachero_comun_House_Wren_8990750963-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133266</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/">Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan Blue Grosbeak (Passerina caerulea) yang membangun sarang cangkir terbuka. Namun fenomena ini sebenarnya telah membingungkan peneliti dan naturalis selama lebih dari satu abad, sebab kulit ular yang kering dan kaku itu jelas tidak menawarkan kehangatan atau kenyamanan bagi telur yang akan menetas. Mengapa burung bersusah payah mencari dan membawa material yang tidak lazim ini ke dalam sarangnya, alih-alih menggunakan bahan yang lebih mudah didapat di sekitarnya? Studi terbaru yang dipimpin Vanya Rohwer, kurator di Cornell University Museum of Vertebrates, akhirnya menjawab teka-teki tersebut. Kulit ular bukan bahan sarang yang tercecer begitu saja, melainkan alat pertahanan yang sengaja dicari burung untuk melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Rohwer mencatat bahwa kulit ular tergolong material yang jarang ditemukan begitu saja di alam bebas, sehingga upaya burung memburunya menunjukkan bahwa benda ini memang sengaja dikejar sebagai aset berharga, bukan sekadar dipungut karena kebetulan tersedia di sekitar sarang. Jejak dari Kartu Kolektor Telur Kuno Untuk menguji dugaan ini, Rohwer dan timnya menelusuri data dari 78 spesies burung dari 22 famili berbeda yang tercatat pernah membawa kulit ular ke sarangnya. Mereka memanfaatkan sumber sejarah yang tak biasa, yaitu kartu catatan telur dari koleksi Western Foundation of Vertebrate Zoology yang berasal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/burung-burung-ini-mencuri-kulit-ular-ilmuwan-butuh-1-abad-pecahkan-misterinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 02:08:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09020018/Salah-satu-anakan-siamang-yang-dirawat-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Punti-Kayu-Palembang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133255</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. &#8220;Respon paling kuat terhadap suara lalu lintas dan mesin pemecah beton,&#8221; tulis D’Agostino dan kolega melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025. Para peneliti mengamati tujuh kelompok siamang di empat lokasi di Sumatera Utara, yakni Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya. Mereka kemudian melakukan eksperimen pemutaran suara berulang atau playback experiment. Anakan siamang ini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Ada empat suara yang digunakan. Pertama, suara jackhammer, mesin pemecah beton. Kedua, suara lalu lintas kendaraan. Ketiga, musik rock. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan suara tonggeret atau cicada, suara alami yang biasa ditemukan di hutan. Keempat, suara itu diperdengarkan sekitar tiga menit dengan tingkat suara mendekati 90 desibel. Dengan menggunakan suara alami sebagai kontrol, peneliti dapat melihat apakah siamang sekadar bereaksi terhadap suara keras, atau memang menunjukkan respon berbeda terhadap suara yang berasal dari aktivitas manusia. Hasilnya menarik. Setelah mendengar suara antropogenik, kelompok siamang cenderung meningkatkan jarak perjalanannya dan bergerak menjauh dari sumber suara. Respons paling jelas terlihat setelah paparan suara lalu lintas dan jackhammer. Dalam salah satu pengukuran, siamang bergerak rata-rata sekitar 103,86 meter dari sumber suara lalu lintas, dibandingkan sekitar 51,14 meter setelah mendengar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 00:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044031/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa terdiri dari satu jantan dan lima betina bernama Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka menempuh perjalanan sekitar enam jam dari pusat rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia di Bogor menuju Ujung Kulon. Sebagian besar kukang tersebut merupakan serahan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam, kemudian dititipkan kepada YIARI untuk menjalani perawatan. Namun, membawa mereka kembali ke hutan bukan perkara sederhana. Menurut Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kukang hanya dapat dilepasliarkan jika sehat secara fisik dan perilaku. Setiap individu harus menjalani pemeriksaan fisik, darah, rontgen, serta pemeriksaan dan penanganan parasit. Setelah dinyatakan sehat, kukang menjalani karantina selama sekitar enam minggu. Mereka kemudian dipindahkan ke kandang sosialisasi agar perilaku alaminya dapat diamati. Penilaian mencakup cara makan, grooming, kondisi sosial, dan kemampuan berpindah. Pengamatan perilaku dilakukan selama sekitar 200 jam. Proses rehabilitasi tidak selalu berjalan mulus. Jika kukang mengalami diare, kebotakan, tidak mau makan, atau perubahan kondisi lainnya, satwa tersebut harus kembali diperiksa di klinik. “Tantangan terbesar justru saat kukang datang dalam kondisi parah, terutama akibat sengatan listrik,” kata Indri. Luka berat dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Dalam kasus tertentu, penyembuhan bekas amputasi akibat sengatan listrik berlangsung hingga 10 bulan, belum termasuk pemulihan perilakunya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 10:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000035/Anggrek03-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133093</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sulawesi, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 tahun, kelompok ini memperbanyak anggrek secara vegetatif melalui metode stek, yakni memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb. Dalam satu tanaman induk dapat tumbuh hingga 50 anakan. Bibit kemudian dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa dan ditempatkan pada pohon-pohon rindang, seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Anggrek tumbuh baik pada musim hujan dan biasanya berbunga menjelang musim kemarau. Pada awalnya, anggota kelompok mengambil anggrek dari Hutan Campaga untuk dipelihara atau dijual. Usaha tersebut mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, mereka kemudian menyadari populasi anggrek di hutan semakin berkurang, terutama anggrek bulan. “Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” kata Asri. Kelompok tersebut kini justru mengembalikan anggrek ke habitatnya. Sekitar 1.500 bibit telah ditanam kembali di Hutan Campaga. Anggrek juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa dan kawasan wisata permandian Erbol. Hutan Campaga seluas 23 hektar dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis anggrek, pohon beringin tua Erasa Lego-lego, dan mata air Tombolo. Keberadaannya juga menjaga pasokan air bagi ratusan hektar sawah serta kebun di sekitarnya. Perbanyakan anggrek dipusatkan di sebuah greenhouse berukuran 10 × 12 meter. Tempat tersebut menampung sekitar 78&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 07:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08065955/Areal-hutan-benak-yang-tersisa-yang-terhimpit-perkebunan-sawit.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami sudah bawa air minum sendiri.” Nek Aso tersenyum. Nek Aso merupakan perempuan Suku Mapur yang masih hidup di sekitar hutan larangan Bukit Tabun, Dusun Pejem, Desa Gunung Pelawan, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hutan larangan Bukit Tabun yang luasnya dua hektar itu, dikelilingi perkebunan sawit perusahaan dan masyarakat. Hutan larangan Bukit Tabun bagian dari kawasan hutan adat Benak milik Suku Mapur sekitar 2.876 hektar. Hutan larangan di Benak, selain Bukit Tabun, juga hutan larangan Gunung Cundong (Condong) luasnya mencapai 320 hektar. Saat ini kawasan hutan adat Benak dikuasai perusahaan sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Negara mengakuinya sebagai kawasan hutan produksi. Belum ada pengakuan wilayah adat Suku Mapur oleh negara. Saat ini, sebagian besar masyarakat Suku Mapur berkebun atau menetap di kawasan hutan adat Benak yang belum dijadikan perkebunan sawit. Sudah dua bulan lebih hujan tidak turun di kawasan hutan adat Benak. Sejumlah anak sungai mulai mengering. Bahkan, sudah setengah bulan beberapa sumur kering. “Air buat kebutuhan sehari-hari kami dari dusun, yang dibawa anak kami.” Dijelaskan Nek Aso, sumur kering di Benak jarang sekali terjadi. Terakhir, pada 1997. Itu pun hanya berlangsung beberapa hari, sebelum hujan. “Semoga hujan turun pada September atau Oktober, jadi kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:21:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Haq]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053404/Tambang-Tumpang-Pitu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk Agama untuk Semesta, diskusi di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Jombang, Senin (29/8/26) itu berlangsung dalam dua sesi. Jagat merupakan akronim dari Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi. Jay Akhmad, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, mengatakan,  forum itu berangkat dari kegelisahan tentang minimnya gerakan sosial keagamaan menyikapi pelbagai krisis sosial ekologi di Indonesia. “Ini berangkat dari kegelisahan kami tentang situasi bagaimana agama, kami melihat dan merasakan masih jauh bicara dan berperan dalam isu-isu lingkungan,” ujarnya. “Gus Dur mengatakan, merusak alam sama dengan merusak kemanusiaan.” Inayah Wahid, Dewan Pengawas Greenpeace Indonesia soroti lemahnya political will negara dalam upaya perbaikan lingkungan. Foto: Abdul Haq/Mongabay Indonesia. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya menyebutkan, forum itu sebagai oase perjumpaan, yang mengingatkannya pada kisah Santo Fransiskus dari Asisi dan Sultan Malik al-Kamil. Perjumpaan itu yang menginspirasi Paus Fransiskus melahirkan dokumen seruan moral lingkungan hidup berjudul laudato si’. Salah satu misi dari penerbitan dokumen itu adalah menyelamatkan bumi. Sebab, prinsip dasarnya adalah semua makhluk adalah wajah Allah yang diciptakan dengan cinta kasih dan saling terhubung satu sama lain. Menurut dia, ada interdependensi antara manusia dan alam. “Kita semua ada di dalam satu kapal, satu rumah bersama. Agama sehebat apapun nanti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:01:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08055225/Cibedug-7-scaled-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133205</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, Desa Ngkiong Dora, Lambaleda Timur, Manggarai Timur. “Leluhur kami tinggal di sana ribuan tahun. Lalu datang mereka dan mengatakan itu bukan hak kami. Saya bilang tidak. Karena saya bersikeras dan mempertahankan, akhirnya ditangkap,” ujar Mikael. Mikael Ane, warga Masyarakat Adat Ngkiong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Perjuangannya mempertahankan wilayah adat pernah membawanya ke pengadilan sebelum Mahkamah Agung memutusnya bebas. Foto diambil saat People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Yogyakarta. Foto: Nuswantoro/Mongabay Indonesia Pengalaman berbeda datang dari Sukinah, petani asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Pada 2017, dia berdiri di depan Istana Presiden dengan kaki disemen. Itu kali kedua Sukinah bersama para perempuan Kendeng melakukan aksi tersebut untuk memprotes pendirian pabrik semen di Pati. Sebelum dikenal sebagai “Kartini Kendeng”, Sukinah adalah petani yang menggantungkan kehidupan pada tanah dan air. “Kami tidak ada lahan tidak bisa bertani, ada lahan tapi tidak ada air tidak bisa bertani juga. Maka harus sinkron. Gunung biarlah tetap menjadi gunung,” katanya. Mikael dan Sukinah ditemui secara terpisah dalam People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1-3 September 2026. Forum tersebut mempertemukan masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, peneliti, dan pegiat konservasi untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 04:22:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051902/Asap-dari-Gunung-Anak-Krakatau-semakin-pekat-awal-April-2020.-Foto-KPHK-Kepulauan-Krakatau.-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, msyarakat adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan,  debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi. Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung. “Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu. Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nurhayat, warga Tancang mengatakan,  kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air. “Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya. Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah. Maryana berharap,  pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik. “Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.” Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 01:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121329/Siswa-terpapar-kabut-asap-di-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133163</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga 29 Agustus. Sebanyak 71 di antaranya menerpa wilayah Landasan Ulin Selatan. Rabu (19/8/26) sore, api tiba-tiba berkobar di area yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari rumah perempuan 33 tahun itu. &#8220;Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar,&#8221; ceritanya, (23/8/26). Raungan meminta tolong menggema di penjuru kampung. &#8220;Saya juga ikut memadamkan api dengan memukul-mukulnya pakai kayu,&#8221; katanya. Petugas pemadam kebakaran datang, berjibaku mengendalikan api, hingga akhirnya kobaran berhasil mereda sebelum menjalar ke rumah warga. Dua hari berselang, Jumat (21/8/26), kebakaran besar yang membuatnya gentar kembali muncul di Pengayuan. Namun, kali ini api berkobar di lokasi yang lebih jauh dari rumah Sarah dan tak sampai melumat permukiman. &#8220;Syukurnya petugas pemadam kebakaran sigap untuk memadamkan.&#8221; Namun, rentetan insiden itulah yang meninggalkan trauma dan kekhawatiran terhadapnya. Dia jadi takut jika meninggalkan rumah, dan susah tidur saat malam. “Cemas api tetiba menyala.&#8221; Peristiwa kebakaran itu membuatnya jadi korban pertama yang menanggung derita kabut asap. Jerubu masuk rumah hingga membuatnya susah melihat. Baunya tercium hingga kamar. Dia mengalami gangguan kesehatan, mulai batuk, pilek, radang tenggorokan hingga pusing. Kian berat karena sejak kecil mengidap asma. &#8220;Ini juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22052755/Trenggiling-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133032</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, poiitik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, atau harimau dalam kampanye konservasi, mamalia bersisik ini diburu dalam jumlah sangat besar. Sisik, daging, bahkan janinnya diperdagangkan untuk memenuhi permintaan pasar, terutama di Asia Timur. Salah satu pemicu utamanya adalah kepercayaan bahwa sisik trenggiling memiliki khasiat pengobatan. Sisik tersebut dianggap mampu mengatasi berbagai penyakit, meningkatkan vitalitas, hingga menyembuhkan kanker. Padahal, klaim itu tidak memiliki dasar ilmiah. Sisik trenggiling tersusun dari keratin, bahan yang sama seperti kuku dan rambut manusia. Mengonsumsinya tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tertentu. Selain sisiknya, daging trenggiling juga dianggap sebagai makanan mewah. Di sejumlah wilayah Asia Timur, menyantap daging atau janin trenggiling dipandang sebagai simbol status sosial. Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi menjadi sarana untuk menunjukkan kekayaan dan gengsi. Mitos kesehatan dan gaya hidup konsumtif tersebut menciptakan permintaan tinggi yang kemudian dimanfaatkan jaringan perdagangan ilegal. Skala perdagangannya sangat mengkhawatirkan. Sejak 2000, puluhan ribu trenggiling dilaporkan diperdagangkan dari berbagai negara di Asia dan Afrika. Data Yayasan SCENTS menunjukkan ada 354 pelaku dengan 299 operasi penangkapan di seluruh Indonesia pada 2022. Pada 2023, ada 267 operasi penangkapan dengan 217 pelaku ditangkap. Dan 3 bulan 2024 baru 35 operasi penangkapan. Trenggiling menempati peringkat pertama dari barang bukti yang disita oleh aparat sejak 2003.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 07:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07064315/Kupu-kupu-TNGGP-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133085</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengumpulan data biodiversitas di kawasan yang tengah dikembangkan untuk ekowisata minat khusus. EIGER Nature mengantongi Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) seluas 253,6 hektare di Zona Pemanfaatan TNGGP. “Untuk sampel, kita ambil berdasarkan karakteristik kawasan seperti hutan sekunder, riparian, hutan pinus hingga area pemanfaatan. Hasilnya, hingga tahun 2025 kami menemukan lebih dari 70 jenis serangga,” kata Caesar. Sebanyak 43 jenis yang ditemukan belum memiliki status konservasi. Jenis lainnya berstatus risiko rendah (Least Concern/LC) dan kekurangan data (Data Deficient/DD). Di antara temuan itu terdapat capung batu bercak biru endemik jawa (Rhinocypha heterostigma) yang berstatus hampir terancam. Tim juga mencatat capung jarum Drepanosticta sundana serta kupu-kupu raja helena (Troides helena) yang masuk dalam Appendix II CITES. Tim peneliti mengamati satwa di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Bagi Caesar, keberadaan serangga penting untuk membaca hubungan antarspesies. Serangga berperan dalam penyerbukan, jaring makanan, hingga proses yang memengaruhi kondisi tanah. Data pemantauan pun tidak cukup dilakukan sekali. Pengumpulan data dilakukan berulang pada musim hujan dan kemarau untuk melihat perubahan kualitas lingkungan dan kemungkinan dampak aktivitas manusia. “Repetisi ini penting agar kita punya basis data yang valid untuk menilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 06:46:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01170111/Amphilophus_citrinellus_2015_G5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133000</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo. Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus. Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum. “Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles. Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan. Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir. Penelitian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 05:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044132/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133102</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). “Baru sekarang merasakan langsung,” ujar bapak empat anak ini, Kamis (27/8/26). Sebanyak 6 individu kukang jawa dibawa ke area TNUK untuk dilepasliarkan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Melalui pelepasan yang diinisiasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Rosid juga baru tahu bahwa kukang merupakan satwa dilindungi. “Primata yang memiliki racun ini, punya nilai penting bagi ekosistem sehingga harus dijaga.” Masyarakat sekitar menyebut satwa yang bergerak lamban ini muka. Bagi Rosid, mengembalikan kukang ke hutan, tak sekadar mengantar, tetapi juga memastikan kehidupan mereka baik-baik saja di habitatnya. “Jangan sampai ada yang memburu.” Harapannya, kukang bisa hidup aman. Hutan tak hanya tempat mencari makan, melainkan juga rumah aman tanpa gangguan manusia. Rute menuju lokasi pelepasliaran di TNUK ditempuh berjalan kaki menelusuri hutan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Pelepasliaran bukan persoalan sederhana Indri Saptorini, dokter hewan yang merawat dan merehabilitasi satwa liar -khususnya kukang- di pusat rehabilitasi YIARI, mengatakan mengembalikan kukang ke hutan bukan perkara sederhana. Sebelum dilepasliarkan, setiap individu harus melewati proses panjang, tubuh dan sifat alaminya harus benar-benar siap menghadapi kehidupan di alam. Enam kukang yang ditranslokasi ini terdiri satu individu jantan dan lima individu betina, yaitu Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka dibawa dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 04:01:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07035732/Sea-snake-728x546-1-728x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133095</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun ulang lingkungan purba yang sudah lama hilang, termasuk mengungkap keberadaan hewan-hewan berukuran raksasa yang dulu menghuninya. Di tengah Gurun Sahara yang kering, tersimpan bukti bahwa kawasan tersebut pernah memiliki dunia yang sama sekali berbeda. Jutaan tahun lalu, sebagian Afrika Barat dilintasi laut dangkal yang menjadi habitat ikan, penyu, buaya purba, dan seekor ular air berukuran luar biasa bernama Palaeophis colossaeus. Ular purba ini diperkirakan dapat mencapai panjang 8,1 hingga 12,3 meter, namun angka tertinggi itu bukan hasil pengukuran kerangka lengkap. Para ilmuwan memperolehnya dari beberapa ruas tulang belakang saja, sebab fosil Palaeophis colossaeus yang diketahui hingga kini belum cukup lengkap untuk memperlihatkan bentuk seluruh tubuhnya. Bagaimana Ukuran Raksasa Ini Diperkirakan Palaeophis colossaeus hidup pada kala Eosen, sekitar 56 hingga 33,9 juta tahun lalu, ketika permukaan laut lebih tinggi dan sebagian Afrika Utara serta Afrika Barat terhubung oleh perairan yang dikenal sebagai Trans-Saharan Seaway. Fosilnya ditemukan dalam endapan laut dangkal Formasi Tamaguelelt di Mali, kawasan dengan lapisan fosfat yang menunjukkan lingkungan pesisir yang produktif. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh paleontolog Prancis Jean-Claude Rage pada 1983, dan termasuk dalam Palaeophiidae, kelompok ular purba yang telah punah dengan ukuran tubuh yang sangat beragam. Pada 2018, tim peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>