Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga.
Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 tahun, kelompok ini memperbanyak anggrek secara vegetatif melalui metode stek, yakni memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb.
Dalam satu tanaman induk dapat tumbuh hingga 50 anakan. Bibit kemudian dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa dan ditempatkan pada pohon-pohon rindang, seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Anggrek tumbuh baik pada musim hujan dan biasanya berbunga menjelang musim kemarau.
Pada awalnya, anggota kelompok mengambil anggrek dari Hutan Campaga untuk dipelihara atau dijual. Usaha tersebut mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, mereka kemudian menyadari populasi anggrek di hutan semakin berkurang, terutama anggrek bulan.
“Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” kata Asri.
Kelompok tersebut kini justru mengembalikan anggrek ke habitatnya. Sekitar 1.500 bibit telah ditanam kembali di Hutan Campaga. Anggrek juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa dan kawasan wisata permandian Erbol.
Hutan Campaga seluas 23 hektar dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis anggrek, pohon beringin tua Erasa Lego-lego, dan mata air Tombolo. Keberadaannya juga menjaga pasokan air bagi ratusan hektar sawah serta kebun di sekitarnya.
Perbanyakan anggrek dipusatkan di sebuah greenhouse berukuran 10 × 12 meter. Tempat tersebut menampung sekitar 78 spesies, termasuk anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), anggrek macan (Grammatophyllum speciosum), anggrek pandan (Dipodium scandens), dan Dendrobium.
“Ini adalah tempat belajar bagaimana merawat dan memelihara anggrek mulai dari kecil sampai berbunga,” jelas Asri. Menurutnya, sekitar 99 persen tanaman yang dikeluarkan dari greenhouse dapat tumbuh dengan baik.
Permintaan anggrek yang meningkat membuat kelompok kesulitan menyediakan stok karena produksi melalui stek terbatas. Mereka berharap dapat mempelajari kultur jaringan agar mampu menghasilkan bibit lebih banyak.
Menurut peneliti anggrek Universitas Hasanuddin, Rinaldi Sjahrir, kultur jaringan efektif mengatasi kelangkaan anggrek. Namun, metode tersebut membutuhkan ruangan bersih, lemari tanam steril, media yang tepat, serta keterampilan khusus untuk mencegah kontaminasi.
Bagi Asri, anggrek bukan lagi tanaman yang sekadar diambil dari hutan. Melalui perbanyakan dan penanaman kembali, anggrek dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap lestari di habitat asalnya.
Foto utama: Muhammad Asri (54) selama 27 tahun telah mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian anggrek di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.