<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=l-darmawan-kebumen&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/l-darmawan-kebumen/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 21 Jul 2026 12:05:57 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 12:05:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/18091755/Keisha-sedang-membakar-kapurut-di-rumahnya-Desa-Malancan-Siberut-Utara-Kepulauan-Mentawai.-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130757</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indinesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun sagu yang terbakar memenuhi dapur rumahnya. Malam itu,  sekitar 20 batang kapurut tersaji bersama lauk sebagai makan malam kami yang menginap di rumahnya. Rasanya gurih alami, berpadu aroma harum daun sagu yang dibakar. Sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang jarang ada pada makanan lain. Di banyak daerah di nusantara ini, nasi menjadi makanan pokok yang nyaris tak tergantikan. Namun di pedalaman Kepulauan Mentawai, kapurut masih menjadi bagian dari keseharian sebagian keluarga. Makanan lokal berbahan dasar sagu itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan warisan yang menghubungkan masyarakat Mentawai dengan hutan yang selama berabad-abad menopang kehidupan mereka. Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Dia pun ingat betul ketika ketika beras belum menjadi santapan utama masyarakat di kampungnya. &#8220;Dulu sebelum ada beras, kami makan sagu, keladi, sama ubi,&#8221; katanya. Hingga kini dia masih rutin memasak sagu, terutama ketika ada ikan sebagai lauk makan keluarga. &#8220;Kalau ada ikan, saya masak sagu. Lebih enak makan kapurut pakai ikan daripada makan nasi.&#8221; Sagu juga membuat rasa kenyang lebih lama ketimbang nasi. Selain mengolahnya menjadi kapurut, masyarakat Mentawai mengenal berbagai makanan lain berbahan sagu. Salah satunya kombong, adonan sagu yang dimasukkan ke dalam batang bambu, lalu membakarnya. &#8220;Kalau mau bikin kombong, bambunya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 10:29:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21101738/Trimeresurus-insularis-Foto-Annisa-Ramdani-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130930</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dia bersama tim berhasil mendokumentasikan Trimeresurus insularis. Ular berbisa ini dikenal punya kemampuan kamuflase sangat baik. Perjumpaan itu terjadi pukul 21.00 malam, tidak lama setelah hujan reda. Kawasan yang mereka telusuri berupa hutan lebat dengan aliran sungai tenang. Menurut Annisa, individu pertama yang ditemukan di atas batu, sekitar 100-200 meter dari sungai. “Awalnya kami tidak sadar jika ular tersebut di atas batu,” ujarnya, Senin (20/7/26). Trimeresurus insularis berwarna hijau di hutan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Tiga puluh menit kemudian, tim kembali menemukan individu lain dari spesies yang sama. Lokasinya di tepian sungai. Meski terbiasa survei keanekaragaman hayati, Annisa mengaku tetap gugup ketika berhadapan langsung dengan ular berbisa. Dia memilih mengamati dan memotret dari jarak aman, sementara rekan-rekannya yang punya pengalaman menangani ular memastikan seluruh proses dokumentasi dilakukan sesuai prosedur keselamatan. “Saya senang karena bisa mendokumentasikan ular berbisa langsung di habitat alaminya.” Trimeresurus insularis berwarna hijau yang jago kamuflase. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Daya tarik Menurut Annisa, daya tarik reptil berdarah dingin ini adalah warna tubuhnya yang hijau cerah dengan ujung ekor kemerahan. Di habitat alaminya, warna tersebut justru jadi kamuflase efektif, sehingga sulit dikenali di antara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 08:35:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21065231/FOTO-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130860</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau Kera berada di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mayoritas warga adalah Suku Bajo dari Buton dan Wakatobi. Tiap hari, Novry bersama para nelayan menangkap ikan tuna, cakalang, tongkol yang mereka pancing dari rumpon. “Pulau Kera ini anugerah Tuhan. Hal yang penting, kami bisa hidup berdampingan dengan laut saja sudah cukup,” kata Novry, Ketua Serikat Nelayan Pulau Kera (SNPK), Senin (26/6/26). Sebagai generasi kelima yang tinggal dan besar di Pulau Kera, Novry bersama warga Pulau Kera menggantungkan hidup pada laut. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak. Tak hanya jenis ikan laut, mereka juga seringkali menangkap gurita, beragam jenis karang dan budidaya rumput laut. Nana, nelayan perempuan Pulau Kera sejak subuh sudah mulai bekerja. Dia membersihkan perahu suaminya, memperbaiki tali-tali rumpon hingga sesekali ikut melaut. Saat siang tiba, dia menyusuri pesisir memanen rumput laut hingga petang. “Dari laut inilah kami bisa hidup. Hasil ikan dan rumput (laut) cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” katanya, Minggu (28/6/26). Novry bersama istri dan tetangganya menggunakan perahu menuju Pulau Kera, usai menjual hasil tangkapan, membeli air bersih, dan belanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Oeba. Mobilitas laut seperti ini menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 07:35:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21072517/Batalyon-Rancapinang_Anggita-Raissa_Foto8-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130907</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP). Agenda persidangan hari itu adalah sidang pemeriksaan saksi fakta gugatan warga Rancapinang dalam perkara pembatalan SHP. Inah, menangis di hadapan Majelis Hakim PTUN Serang saat memberikan kesaksian pada perkara itu. Ibu dua anak itu harus mengingat kembali peristiwa awal tahun lalu ketika beko TNI menimbun perkebunannya. “Saya nggak kuat kalau cerita soal tanah itu, karena kebun saya sudah ditimbun. Padi sudah menguning dan beberapa hari bakal panen, ditimbun sama beko,” katanya saat memberikan kesaksian kepada Majelis Hakim PTUN Serang. Dia bilang, kebunnya sudah masuk dalam lahan untuk batalyon itu. Kebun dia tanami kelapa, melinjo, pisang, dan bambu. Kebun itu, satu-satunya sumber penghidupannya selama ini. Sebagai orang tua tunggal, Inah kelimpungan membiayai putranya untuk kuliah di perguruan tinggi. Setelah kebun kena timbun, dia tak punya penghasilan lagi. “Saya benar-benar nggak ada penghasilan sekarang. Saya bilang ke anak, jangan kuliah dulu. Dari mana uangnya kalo mau kuliah?” Meski penghasilan dari bertani tak tetap, kata Inah, setidaknya dari bertani bisa mencukupi kebutuhan harian dan masih bisa menabung. Saat ini, untuk penuhi kebutuhan makan, dia bekerja ngoyos padi di lahan tetangganya. Per hari, Inah mendapatkan upah dua kilogram beras. “Kadang juga upahnya cuma sepiring nasi. Yah, namanya juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 04:38:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21042840/27.jpg-19-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130903</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, dengan salah satu topik terkait mencatat jutaan penayangan (views). Gelombang panas ini bukan kejadian biasa. Otoritas Meteorologi China (CMA) terus mengeluarkan peringatan suhu tinggi sepanjang Juli 2026, dengan sejumlah wilayah seperti Mongolia Dalam bagian barat, Xinjiang, Shaanxi bagian selatan, hingga Shanghai dan Chongqing mencatat suhu antara 35 hingga 39 derajat Celsius. Bahkan di Xinjiang, suhu diperkirakan bisa menembus 50 derajat Celsius, salah satu angka tertinggi yang tercatat tahun ini. Kondisi ini mendorong warga mencari cara mendinginkan tubuh tanpa bergantung pada pendingin udara, salah satunya lewat metode yang diklaim sebagai warisan turun-temurun tersebut. Kandungan Air Tinggi Jadi Kunci Efek Pendinginan Beligo adalah sayuran asli Asia Selatan dan Tenggara yang bisa tumbuh hingga panjang sekitar 60 sentimeter dan berat lebih dari 9 kilogram. Sayuran ini mengandung lebih dari 95 persen air, jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan buah dan sayur lain seperti apel (sekitar 84 persen air) atau wortel (sekitar 88 persen air). Kandungan air setinggi itu berkaitan langsung dengan sifat fisika yang disebut kapasitas panas jenis, yaitu jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat Celsius. Air memiliki kapasitas panas jenis yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan material lain, termasuk logam, kayu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Jadinya Jika 3.500 Spesies Nyamuk Menghilang dari Bumi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 02:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/09/22055609/Mosquito-human-Asia-malaria-vector-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130876</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/">Apa Jadinya Jika 3.500 Spesies Nyamuk Menghilang dari Bumi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning. Ancaman tersebut mendorong sejumlah pihak mencari cara untuk mengendalikan populasinya. Anak perusahaan Alphabet, Verily, misalnya, merancang program pelepasan nyamuk jantan steril. Karena tidak menggigit manusia dan tidak dapat menghasilkan keturunan, nyamuk ini diharapkan dapat menekan populasi di alam. Program serupa di Australia bahkan disebut berhasil mengurangi jumlah nyamuk hingga 80 persen. Namun, jika nyamuk benar-benar punah, dampaknya bagi alam belum sepenuhnya diketahui. Sebuah penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan siklus hidup Anopheles gambiae dengan kelelawar, ikan, bunga, dan serangga lain. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah hilangnya nyamuk dapat mengganggu rantai makanan atau membuka jalan bagi serangga pembawa malaria lain. Kemungkinan munculnya pengganti yang lebih berbahaya dinilai kecil karena Anopheles gambiae telah berevolusi bersama manusia. Di dunia terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya beberapa ratus yang menggigit atau mengganggu manusia. Nyamuk telah hidup di Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang bersama banyak spesies. Larvanya menjadi makanan bagi ikan kecil dan berbagai serangga air, sedangkan nyamuk dewasa dimakan burung, laba-laba, salamander, kadal, serta katak. Beberapa spesies juga berperan sebagai penyerbuk tanaman. Ikan nyamuk atau Gambusia affinis, misalnya, merupakan predator khusus larva nyamuk. Jika mangsanya hilang, ikan ini juga dapat lenyap dan mempengaruhi rantai makanan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dinofelis, Predator Bertaring Belati yang Memburu Manusia pada 1,2 Juta Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 00:30:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/06/22094234/dinofelis-tulang-tengkorak-manusia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130863</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika. Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/">Dinofelis, Predator Bertaring Belati yang Memburu Manusia pada 1,2 Juta Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika. Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai belati. Senjata alami ini memungkinkannya menggigit kepala manusia dan menembus tengkorak hingga mencapai otak hanya dalam sekali gigitan. Kemampuan tersebut membedakannya dari kucing besar yang hidup saat ini. Ketika singa gunung atau kucing besar modern menyerang manusia, korbannya terkadang masih mampu bertahan hidup. Serangan itu memang dapat menyebabkan luka fatal, tetapi gigi predator masa kini tidak dirancang untuk menembus kerasnya tulang kepala manusia. Dinofelis, sebaliknya, memiliki taring yang kuat dan sesuai untuk melakukan serangan tersebut. Sekitar 1,2 juta tahun lalu, Dinofelis tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Ukuran tubuhnya hampir menyerupai singa modern, tungkai depannya sangat kuat dibandingkan dengan kucing modern, meskipun sebagian besar diperkirakan hanya sebesar jaguar. Tingginya sekitar 70 cm dengan berat mencapai 120 kg. Tubuh berukuran sedang dan dua taring yang kuat menjadikannya predator menakutkan. Mangsa Dinofelis tidak terbatas pada manusia purba. Hewan ini juga memburu berbagai satwa besar, seperti anak mammoth, mastodon, dan binatang lainnya. Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyang manusia modern, turut menjadi salah satu mangsanya. Dalam buku Songlines, penulis Bruce Chatwin menyebut ancaman Dinofelis sebagai salah satu dorongan utama bagi manusia purba untuk menciptakan tombak dan berbagai jenis senjata. Dengan perlengkapan tersebut, manusia mulai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 23:56:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/20234833/IMG_1705-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130890</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu dan Enggano]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut. Tak jauh dari situ,  di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/">Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut. Tak jauh dari situ,  di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Dia membuka aplikasi, mencatat lokasi penangkapan dan hasil tangkapan hari sebelumnya. Kebiasaan yang dulu terasa asing itu kini mulai menjadi bagian dari rutinitas. Para nelayan ini pakai aplikasi GeoEnggano, sebagai pencatat data dan informasi. Pulau Enggano seluas sekitar 400 kilometer persegi,  berada hampir 100 kilometer di lepas pantai Bengkulu.  Untuk mencapai daratan Sumatera, warga harus menempuh penerbangan sekitar satu jam atau perjalanan laut hingga 18 jam jika cuaca bersahabat. Ketika ombak tinggi, kapal tidak berlayar. Masyarakat Enggano sebagian besar hidup bergantung laut. &#8220;Bagi kami, kalau tidak melaut ya tidak ada pemasukan,&#8221; kata Khairin Anwar, nelayan Enggano. Di bawah Pulau Enggano,  membentang pertemuan dua jalur megathrust besar, Mentawai-Pagai dan Enggano, yang menjadikan kawasan ini salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di Indonesia. Gempa bukan lagi peristiwa luar biasa bagi warga. Getaran kecil datang begitu sering hingga banyak orang tak lagi menghitungnya. Setiap guncangan tetap membawa ingatan pada gempa-gempa besar yang pernah meluluhlantakkan pulau itu. Gempa 2000,  masih membekas dalam ingatan warga. Puluhan warga Enggano kehilangan nyawa. Rumah-rumah roboh. Dua dekade kemudian, rangkaian gempa kembali merusak ratusan rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Bagi masyarakat Desa Kaana, Enggano,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ironi Lubang Tambang Maut di Kalsel jadi Objek Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 18:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19053817/DJI_0695-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak viral di media sosial, wisata Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), banjir pengunjung. Puluhan orang dari dalam dan luar daerah silih berganti datang. Padahal, lokasi itu adalah lubang tambang galian C yang pendulang abaikan sejak lama. Siang itu, Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/">Ironi Lubang Tambang Maut di Kalsel jadi Objek Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak viral di media sosial, wisata Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), banjir pengunjung. Puluhan orang dari dalam dan luar daerah silih berganti datang. Padahal, lokasi itu adalah lubang tambang galian C yang pendulang abaikan sejak lama. Siang itu, Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan pasir putih menikmati matahari terbenam, ada pula yang berenang di sejumlah sudut. Seorang remaja terlihat memandu sembilan orang menyeberang melalui perairan dangkal, setengah berenang menuju gundukan tanah menyerupai pulau kecil. Berjarak sekitar 44 meter. Mungkin mereka tak tahu, tiga hari sebelumnya, remaja laki-laki berinisial L, warga Kecamatan Kertak Hanyar, tenggelam di kubangan yang sama. Wasis Nugraha, Kepala Pelaksana badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Banjar, bilang, mereka terima laporan 22 Juni 2026, pukul 15.55 Wita. Dari keterangan sejumlah saksi, peristiwa  terjadi sekitar pukul 12.00 Wita. Saat laporan mereka terima, korban sudah hilang empat jam, belum kembali ke permukaan. “Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Banjar kemudian berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan asesmen awal sebelum pencarian dimulai,” tulisnya meneruskan laporan pesan WhatsApp. Arianto, Kepala Seksi Operasi Basarnas Banjarmasin, menceritakan, proses pencarian mulai sekitar pukul 17.00 Wita usai seluruh personel melaksanakan briefing. Tim gabungan lalu melakukan penyisiran mulai dari permukaan, dan menyelam di titik yang menjadi lokasi korban tenggelam. Kurun 20 menit, atau pukul 17.20 Wita, tim berhasil menemukan remaja itu setelah menyelam. Posisinya sekitar 10 meter dari tepian danau. &#8220;Kedalamannya hanya sekitar 2-3 meter. Kendalanya hanya visibility (jarak pandang) terbatas, karena dasar yang berlumpur,&#8221; katanya. Peristiwa itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebun Sawit Sitaan dari Kawasan Hutan Sumut buat Dukung B50</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 17:09:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053614/Ini-Kawasan-hutan-Labuhan-Batu-Selatan-merupakan-habitat-Tapir-yang-saat-ini-sudah-berubah-menjadi-kebun-sawit-Ayat-S-Karokaro-01-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130827</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Energi, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Obsesi pemerintah mendorong pengembangan biodiesel B50 yang dominan dari sawit mengancam pemulihan hutan Indonesia. Di Sumatera Utara (Sumut), misal, proyek ambisius ini justru bersinggungan langsung dengan puluhan ribu hektar kawasan hutan  yang seharusnya kembali jadi hutan. Parahnya lagi, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) memberikan lebih 22.000 hektar bekas kawasan hutan sitaan yang meliputi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/">Menyoal Kebun Sawit Sitaan dari Kawasan Hutan Sumut buat Dukung B50</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Obsesi pemerintah mendorong pengembangan biodiesel B50 yang dominan dari sawit mengancam pemulihan hutan Indonesia. Di Sumatera Utara (Sumut), misal, proyek ambisius ini justru bersinggungan langsung dengan puluhan ribu hektar kawasan hutan  yang seharusnya kembali jadi hutan. Parahnya lagi, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) memberikan lebih 22.000 hektar bekas kawasan hutan sitaan yang meliputi kawasan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi terbatas pada PT Agrinas Palma Nusantara. Padahal, kawasan yang berubah jadi kebun sawit itu harusnya kembali ke fungsi hutannya. Keputusan mempertahankan kawasan hutan itu sebagai kebun sawit memiliki konsekuensi biologis jangka panjang bagi ekosistem Sumut. Alif Ramadhan, Tim Analis Wildlife Crime Response Unit (WCRU), bilang, keputusan ini pukulan telak bagi upaya pelestarian biodiversitas. Menurut dia, hilangnya tutupan vegetasi alami di wilayah seluas itu turut menggerus habitat satwa endemik yang kini sudah terjepit. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), tapir sumatera (Tapirus indicus), hingga beruang madu (Helarctos malayanus) kehilangan ruang jelajah mereka. Selain ancaman fisik terhadap satwa liar, praktik ini juga memicu risiko pencemaran tanah dan sumber air akibat residu pupuk serta pestisida kimia yang rutin untuk sawit. Lebih parah lagi, kemampuan lahan itu sebagai penyerap karbon menurun tajam ketimbang ketika masih sebagai hutan tropis primer. Dia bilang, kebijakan B50 ini berlaku Juli 2026. Untuk memenuhinya, perlu minyak sawit mentah (curde palm oil/CPO) masif. &#8220;Sumut kini berada di persimpangan jalan antara penegakan keadilan lingkungan dan pencapaian ambisi energi nasional. Upaya restorasi pasca konflik lahan tampak mandek, sementara tekanan untuk membuka lahan baru demi kuota CPO terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Petani Silo Tak Mau Hutan Kelola Terancam Pembangunan Batalyon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 11:48:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19093630/IMG_20260715_095225-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130819</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kecemasan melanda para petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Jati Jaya, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) menyusul rencana pembangunan markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Kementerian Pertahanan di kawasan perhutanan sosial mereka. Luas rencana proyek itu mencapai 55,25 hektar meliputi petak 1, 2, 3 dan 15. &#8220;Kami ingin ruang lingkup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/">Para Petani Silo Tak Mau Hutan Kelola Terancam Pembangunan Batalyon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kecemasan melanda para petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Jati Jaya, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) menyusul rencana pembangunan markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Kementerian Pertahanan di kawasan perhutanan sosial mereka. Luas rencana proyek itu mencapai 55,25 hektar meliputi petak 1, 2, 3 dan 15. &#8220;Kami ingin ruang lingkup pendapatan kami tetap ada supaya tidak terjadi pembangunan di situ. Kami khawatir dampak sosial, termasuk perekonomian masyarakat yang  sudah berjalan,&#8221; kata Masis, Ketua Gapoktanhut Jati Jaya saat rapat dengar pendapat bersama DPRD Jember, Kamis (17/6/26). Dia  pertanyakan rencana pembangunan batalyon yang pemerintah klaim untuk ketahanan pangan, tetapi di waktu yang sama justru mengancam sumber pangan masyarakat. Padahal, lokasi itu  baru saja mendapat status kawasan perhutanan sosial berdasar Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Sutrisno, anggota Gapoktan mengatakan, kawasan yang menjadi lokasi pembangunan batalyon merupakan bagian dari areal hutan kemasyarakatan (HKm)  dengan hak kelola 35 tahun. Para petani, katanya tidak pernah memperoleh pemberitahuan resmi atas rencana batalyon itu. Para petani baru tahu rencana itu ketika personel TNI datang ke kawasan hutan membawa drone untuk  pemetaan. Para petani yang ada di lokasi pun terkejut dan mempertanyakan tujuan survei itu. &#8220;Tiba-tiba ada TNI bawa drone. Baru petani merasa kaget. Kok ada drone, ada apa, mau buat apa? Soalnya pihak desa maupun TNI tidak pernah koordinasi dengan kelompok,&#8221; kata Sutrisno. Sejak saat itu, para petani mulai mengetahui bahwa sebagian lahan yang mereka kelola akan menjadi lokasi pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan. Dia ceritakan, gara-gara rencana itu, seorang petani bahkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Satwa hingga Suhu, Ini 7 Perbedaan Kutub Utara dan Kutub Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 11:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/03/22095847/pole_jens_dreyer.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130847</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda. Lautan beku dan daratan es Kutub Utara atau Arktik merupakan lautan beku seluas sekitar 5,4 juta mil persegi yang dikelilingi daratan. Sebaliknya, Kutub Selatan atau Antartika adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/">Dari Satwa hingga Suhu, Ini 7 Perbedaan Kutub Utara dan Kutub Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda. Lautan beku dan daratan es Kutub Utara atau Arktik merupakan lautan beku seluas sekitar 5,4 juta mil persegi yang dikelilingi daratan. Sebaliknya, Kutub Selatan atau Antartika adalah daratan seluas sekitar 6 juta mil persegi yang dikelilingi lautan. Di bawah es Antartika juga terdapat pegunungan dan danau. Ketebalan lapisan es Ketebalan es di Kutub Utara berkisar dari beberapa inci hingga dua meter. Lapisan yang relatif tipis ini sering mengalami retakan, terutama pada musim panas. Sementara itu, sekitar 99 persen Antartika tertutup es dan gletser dengan ketebalan mencapai 4.700 meter. Kawasan ini menyimpan sekitar 85 persen es abadi di Bumi. Satwa yang menghuninya Beruang kutub hanya ditemukan secara alami di Kutub Utara, sedangkan penguin hidup secara alami di Kutub Selatan. Keduanya sama-sama memakan ikan dan menempati puncak rantai makanan di wilayah masing-masing. Penduduk dan kepemilikan wilayah Kutub Selatan tidak dimiliki oleh negara manapun dan tidak memiliki sejarah penduduk asli. Berdasarkan Perjanjian Antartika, wilayah dan sumber dayanya hanya boleh dimanfaatkan untuk kepentingan perdamaian dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Lingkaran Arktik dihuni sekitar empat juta orang yang tinggal di kota-kota seperti Barrow (Alaska, AS), Tromso (Norwegia), Muramansk dan Salekhaard (Rusia). Perbedaan suhu Suhu rata-rata Kutub Utara mencapai -40 derajat Celsius pada musim dingin dan 0 derajat Celsius saat musim panas. Di Kutub Selatan, suhu musim dingin mencapai -60 derajat Celsius dan 28,2 derajat Celsius pada musim panas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 08:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030249/baden-powell-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130845</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini. Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya. Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia. Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 05:57:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073120/marena8-IMG_7059-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130829</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami hidup dan hubungan manusia dengan alam dibentuk,&#8221; kata Wiwin Indiarti, perempuan  Adat Osing Banyuwangi, dalam diskusi Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs) 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/26). Baginya, ancaman terbesar masyarakat adat saat ini bukan hanya kehilangan wilayah, juga terputusnya pengetahuan yang selama ini terwarisi dari generasi ke generasi. Ketika ruang hidup hilang, katanya, yang ikut lenyap bukan sekadar hutan, kebun, atau sumber penghidupan. Bahasa, istilah lokal, nilai-nilai budaya, hingga cara masyarakat memahami hubungan dengan alam pun perlahan dapat ikut hilang. &#8220;Padahal, di situlah sistem pengetahuan kami hidup,&#8221; katanya. Di tengah berbagai tantangan itu, regenerasi menjadi persoalan yang makin menjadi tantangan bagi masyarakat adat.  Tak  mudah, katanya,  mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan maupun advokasi masyarakat adat. &#8220;Jangankan mengajak mereka masuk ke urusan advokasi, mengajak anak-anak muda bergerak di luar hal-hal yang mereka anggap menyenangkan saja sudah sangat sulit,&#8221; katanya. Padahal, sejumlah anak muda Osing yang bergabung sejak duduk di bangku sekolah menengah atas telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang baik tetapi  jumlahnya masih terbatas. Untuk itu, perlu pendekatan baru agar generasi muda kembali mengenali identitas budaya mereka. &#8220;Kalau identitas ke-Osingan itu hilang, maka yang hilang bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 04:42:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/20043651/Candrageni1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130849</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi. Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/">Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi. Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau ulang taksonomi katak genus Philautus di Jawa. Kali ini peneliti memakai pendekatan integratif. Mereka berasal dari BRIN, beberapa universitas, dan Herpetological Society of Indonesia. “Melalui pendekatan integratif, mulai dari morfologi, bioakustik, hingga analisis molekuler, kami dapat memahami biodiversitas secara lebih utuh sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk upaya konservasi spesies di masa depan,” ungkap Alamsyah Elang Nusa Herlambang, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam akun IG BRIN, Jumat (3/7/26). Saat ini ada beberapa spesies Philautus di Jawa yang status taksonominya masih membingungkan. Pakar merasa perlu memastikan, dengan cara memeriksa ulang lewat data morfologi, suara, dan genetik. Genus Philautus terdiri 52 spesies, 3 di antaranya endemik Jawa. Yaitu Philautus jacobsoni, ditemukan di Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Philautus pallidipes di Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), dan Philautus aurifasciatus di Gunung Tangkuban. Dengan ditemukannya spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni di lereng Gunung Merapi, maka kini di Jawa ada 4 spesies untuk genus ini. Genus Philautus atau katak semak tersebar luas di Asia Selatan dan sangat beragam. Sayangnya, P. pallidipes dan P. jacobsoni sudah dianggap spesies yang hilang, karena hanya dikenal lewat spesimennya. Bahkan mungkin, P. jacobsoni telah punah di alam liar karena tidak ada pengamatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah 200 Tahun, Spesies Siput Laut Baru Sebesar Biji Wijen Ini Baru Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 01:23:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19233450/thecacera-sesama-l-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130834</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lautan masih menyimpan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang berhasil dipetakan manusia. Organisme berukuran sangat kecil, terutama yang hidup di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, kerap luput dari pengamatan bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun. Sebuah temuan terbaru dari perairan Taiwan menjadi contoh nyata betapa banyak spesies laut yang sebenarnya sudah lama ada, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/">Setelah 200 Tahun, Spesies Siput Laut Baru Sebesar Biji Wijen Ini Baru Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lautan masih menyimpan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang berhasil dipetakan manusia. Organisme berukuran sangat kecil, terutama yang hidup di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, kerap luput dari pengamatan bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun. Sebuah temuan terbaru dari perairan Taiwan menjadi contoh nyata betapa banyak spesies laut yang sebenarnya sudah lama ada, namun baru teridentifikasi karena ukurannya yang ekstrem kecil. Seekor siput laut tanpa cangkang berukuran kurang dari 3 milimeter, lebih kecil dari sebutir beras, resmi diidentifikasi sebagai spesies baru setelah ditemukan di perairan utara Taiwan. Spesies bernama Thecacera sesama ini menjadi anggota ketujuh dari genus Thecacera, yang selama hampir 200 tahun hanya diketahui memiliki enam spesies dengan ukuran jauh lebih besar, berkisar antara 1,3 hingga 2,5 sentimeter. Ilustrasi detail morfologi Thecacera sesama sp. nov., digambar tangan oleh C-L Lee. Skala: 1 mm. Sumber: Chan et al. (2026), ZooKeys 1279: 269-284. Penemuan ini bermula dari kejadian tak terduga pada 2019. Ho-Yeung Chan, penulis utama studi yang saat itu masih menempuh pendidikan sarjana, tanpa sengaja memotret hewan kecil bertotol hitam dan kuning saat menyelam rekreasi di perairan Keelung, Taiwan utara. Chan awalnya tidak menyadari bahwa yang ia temukan adalah spesies yang belum pernah tercatat dalam ilmu pengetahuan. Baru setelah ia menghubungi seorang ahli siput laut bernama Hsini Lin melalui Facebook, kemungkinan adanya spesies baru mulai mengemuka. Studi yang mengonfirmasi temuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ZooKeys, hasil kerja sama peneliti dari National Taiwan Ocean University, National Museum of Natural Science, dan National Taipei University of Education. Nama yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beban Ganda Saat Krisis Air Bersih di Aceh Besar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 00:01:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/25005731/3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130718</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,&#8221; kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/">Beban Ganda Saat Krisis Air Bersih di Aceh Besar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,&#8221; kata Rahma, warga Desa Geundring, Aceh Besar.  Tapi kini, cerita itu perlahan berubah. Pada 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya, dan sejak itu kekeringan datang hampir tiap tahun. &#8220;Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,&#8221; katanya. Ancaman ini bukan tanpa peringatan. Abdillah Imron Nasution, Ketua Karst Aceh sekaligus ahli speleologi Universitas Syiah Kuala, sudah memprediksi sejak 2008 bahwa Mata Ie akan kering dalam sepuluh tahun. &#8220;Pasca-2017, baru kering, itu sudah kita ingatkan juga pada 2008,&#8221; katanya. Warga lain, Ani dari Lambheu, bahkan terpaksa membeli air dari mobil tangki saat kekeringan 2024 berulang, ketika air dari keran tak kunjung keluar selama dua hari. &#8220;Untuk pertama kalinya, saya membeli air dari mobil tangki. Saat itu, saya ingat beli 1 mobil tangki dengan harga Rp300.000 untuk mengisi tiga bak di rumah,&#8221; katanya. Krisis serupa lebih dulu dirasakan warga sekitar Karst Lhoknga, sekitar 17-18 kilometer dari Mata Ie. Yeni Hartini, Ketua SP Aceh sekaligus warga Naga Umbang, mengatakan sumur warga kini kering hanya dalam sebulan tanpa hujan, padahal dulu tak pernah surut. Warga bahkan harus menggali lebih dalam, dari semula delapan cincin sumur, kini butuh 10 sampai 16 cincin. Yeni menduga penambangan batu gamping oleh PT Solusi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jangan Salah Paham, Kukang Mengangkat Tangan Bukan Ingin Digelitik, tapi Melindungi Tubuhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 22:34:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2015/07/22102753/0617.Loris-teeth-clipping.600.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130832</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia. Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/">Jangan Salah Paham, Kukang Mengangkat Tangan Bukan Ingin Digelitik, tapi Melindungi Tubuhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia. Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira gerakan ini menandakan kukang sedang menikmati sentuhan atau bahkan ingin digendong. Padahal, posisi tersebut merupakan sikap defensif. Dengan mengangkat lengan, kukang melindungi bagian tubuh sekaligus memudahkan dirinya menjangkau kelenjar racun yang berada di ketiak. Ya, kukang adalah satu dari sedikit mamalia berbisa di dunia. Racun tersebut berasal dari cairan yang dikeluarkan kelenjar di bagian siku atau ketiaknya. Ketika terancam, kukang akan menjilat cairan itu hingga bercampur dengan air liurnya, lalu menggigit musuh. Gigitan ini dapat menimbulkan reaksi serius pada predator maupun manusia. Kemampuan tersebut menjadi senjata penting bagi satwa yang tidak mengandalkan kecepatan untuk melarikan diri. Sesuai namanya dalam bahasa Inggris, slow loris, kukang bergerak sangat lambat saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Karena sulit kabur dari pemangsa, evolusi membekalinya dengan pertahanan kimia yang jarang dimiliki mamalia. Kukang juga merupakan satwa nokturnal. Hampir seluruh aktivitasnya dilakukan pada malam hari, mulai dari mencari makan hingga berpindah pohon. Mata besarnya bukan sekadar ciri khas yang menggemaskan, tetapi adaptasi agar mampu melihat lebih baik dalam kondisi minim cahaya. Menu makan kukang pun cukup beragam. Di alam liar, mereka mengkonsumsi serangga, jangkrik, telur burung, buah-buahan, serta getah pohon. Getah menjadi salah satu sumber energi penting yang diperoleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 09:25:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235604/Petik-kopi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130781</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia. Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat. Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis. Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal. Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 06:13:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19035404/Kanal-dan-gambut-produktif-PT-Meskom-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130790</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk polisi tak menyertakan nama pemilik lahan. Meski begitu, beberapa petunjuk di sekitar lokasi, seperti plang dan papan informasi, menyebut PT Sekato Pratama Makmur (SPM). Berdasarkan tumpang susun peta yang Mongabay lakukan, fakta itu juga merujuk pada pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), unit usaha APP Sinar Mas. Kebakaran di SPM berlangsung antara Februari hingga Maret 2026. Tidak hanya pada titik plang polisi,  sekitar satu kilometer, masih satu deretan dari lokasi pertama, juga terbakar. Kondisinya sama persis. Akar, tunggul kayu dan gelondongan batang pohon menghitam, bekas lahapan api bertebaran di gambut terbakar. Kebakaran lebih luas terjadi pada titik ketiga. Analisis citra satelit Sentinel-2 mendapati luasan kebakaran di lokasi itu 99,7 hektar. Di sini, tiap sisi batas luar area terbakar sudah ada kanal. Letaknya antara hutan alam sekunder dan kebun akasia. Luas perkiraan karhutla di SPM mencapai 115,3 hektar tetapi tak ada plang polisi pada dua lokasi yang juga terbakar dalam waktu bersamaan itu. Di lokasi ketiga, hanya terpancang plang besi baja ringan untuk dirikan spanduk dengan pemberitahuan bahwa areal rawan terbakar, dilarang menyalakan api, plus ancaman pidana. Pada spanduk merah itu, tertera emblem PT SPM dan MPA. Ia mengapit logo Polda Riau dan TNI Angkatan Laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>