Lautan masih menyimpan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang berhasil dipetakan manusia. Organisme berukuran sangat kecil, terutama yang hidup di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, kerap luput dari pengamatan bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun. Sebuah temuan terbaru dari perairan Taiwan menjadi contoh nyata betapa banyak spesies laut yang sebenarnya sudah lama ada, namun baru teridentifikasi karena ukurannya yang ekstrem kecil.
Seekor siput laut tanpa cangkang berukuran kurang dari 3 milimeter, lebih kecil dari sebutir beras, resmi diidentifikasi sebagai spesies baru setelah ditemukan di perairan utara Taiwan. Spesies bernama Thecacera sesama ini menjadi anggota ketujuh dari genus Thecacera, yang selama hampir 200 tahun hanya diketahui memiliki enam spesies dengan ukuran jauh lebih besar, berkisar antara 1,3 hingga 2,5 sentimeter.

Penemuan ini bermula dari kejadian tak terduga pada 2019. Ho-Yeung Chan, penulis utama studi yang saat itu masih menempuh pendidikan sarjana, tanpa sengaja memotret hewan kecil bertotol hitam dan kuning saat menyelam rekreasi di perairan Keelung, Taiwan utara. Chan awalnya tidak menyadari bahwa yang ia temukan adalah spesies yang belum pernah tercatat dalam ilmu pengetahuan. Baru setelah ia menghubungi seorang ahli siput laut bernama Hsini Lin melalui Facebook, kemungkinan adanya spesies baru mulai mengemuka. Studi yang mengonfirmasi temuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ZooKeys, hasil kerja sama peneliti dari National Taiwan Ocean University, National Museum of Natural Science, dan National Taipei University of Education.
Nama yang Diambil dari Julukan Penyelam Lokal
Nama sesama bukan istilah ilmiah yang dibuat sembarangan. Tim peneliti menjelaskan bahwa penyelam Taiwan sudah lebih dulu menjuluki hewan ini “wijen” dalam bahasa Mandarin, merujuk pada ukurannya yang memang menyerupai biji wijen. Peneliti memutuskan mengabadikan sebutan lokal tersebut ke dalam nama ilmiahnya.
Secara morfologi, T. sesama memiliki tubuh translusen berwarna putih dengan bintik-bintik hitam, beberapa bercak kuning, dan lima insang. Karena ukurannya yang sangat kecil, tim peneliti terpaksa menggunakan seluruh tubuh dari tiga individu untuk ekstraksi DNA guna memastikan identitas spesies ini secara genetik. Hasil analisis menunjukkan tingkat divergensi genetik sebesar 14,17 persen dari kerabat terdekatnya, Thecacera picta, angka yang cukup signifikan untuk mengonfirmasi status spesies baru.

Dalam pengamatan lapangan, peneliti mencatat perilaku T. sesama relatif sederhana dan hanya mencakup empat aktivitas utama: mencari makan, bergerak mencari lokasi baru, kawin, dan bertelur di atas bryozoa, kelompok invertebrata air kecil yang sering disebut “hewan lumut”. Menariknya, jenis bryozoa yang menjadi inang T. sesama pun diduga merupakan spesies yang juga belum teridentifikasi.
Banyak Spesies Laut yang Belum Terpetakan
Bagi peneliti, temuan ini bukan sekadar penambahan satu nama ke daftar spesies nudibranch atau siput laut telanjang. Tim menyebut nudibranch sebagai salah satu pemain penting dalam rantai makanan laut, sering terlihat mencolok di ekosistem terumbu karang karena warnanya yang cerah. Namun banyak di antaranya berukuran sangat kecil sehingga sulit terdeteksi oleh mata telanjang saat penyelaman.

Kondisi geografis Keelung turut mempersulit riset lanjutan. Wilayah ini kerap dilanda topan pada musim panas, sementara angin kencang dan gelombang tinggi mendominasi musim dingin, ditambah suhu air yang bisa turun di bawah 16 derajat Celsius. Faktor-faktor ini membuat fauna nudibranch di perairan Taiwan relatif kurang diteliti dibandingkan kawasan tetangga di Asia Tenggara dan Pasifik.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa penemuan T. sesama kemungkinan baru permulaan. Mengingat banyak organisme laut berukuran mikro yang belum terdokumentasi, mereka menduga masih banyak spesies lain di perairan Taiwan yang menunggu untuk ditemukan dan dipelajari secara ilmiah.