Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia.
Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira gerakan ini menandakan kukang sedang menikmati sentuhan atau bahkan ingin digendong. Padahal, posisi tersebut merupakan sikap defensif. Dengan mengangkat lengan, kukang melindungi bagian tubuh sekaligus memudahkan dirinya menjangkau kelenjar racun yang berada di ketiak.
Ya, kukang adalah satu dari sedikit mamalia berbisa di dunia. Racun tersebut berasal dari cairan yang dikeluarkan kelenjar di bagian siku atau ketiaknya. Ketika terancam, kukang akan menjilat cairan itu hingga bercampur dengan air liurnya, lalu menggigit musuh. Gigitan ini dapat menimbulkan reaksi serius pada predator maupun manusia.
Kemampuan tersebut menjadi senjata penting bagi satwa yang tidak mengandalkan kecepatan untuk melarikan diri. Sesuai namanya dalam bahasa Inggris, slow loris, kukang bergerak sangat lambat saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Karena sulit kabur dari pemangsa, evolusi membekalinya dengan pertahanan kimia yang jarang dimiliki mamalia.
Kukang juga merupakan satwa nokturnal. Hampir seluruh aktivitasnya dilakukan pada malam hari, mulai dari mencari makan hingga berpindah pohon. Mata besarnya bukan sekadar ciri khas yang menggemaskan, tetapi adaptasi agar mampu melihat lebih baik dalam kondisi minim cahaya.
Menu makan kukang pun cukup beragam. Di alam liar, mereka mengkonsumsi serangga, jangkrik, telur burung, buah-buahan, serta getah pohon. Getah menjadi salah satu sumber energi penting yang diperoleh dengan menggerogoti kulit batang menggunakan gigi khusus yang mereka miliki.
Meski tampak lamban, kukang termasuk pemanjat yang sangat andal. Tangan dan kakinya memiliki cengkraman kuat sehingga mampu bergelantungan di dahan dalam waktu lama tanpa banyak bergerak. Cara hidup yang hemat energi ini membantu mereka bertahan di hutan tropis.
Sayangnya, keunikan kukang justru sering menjadi alasan satwa ini diburu. Penampilannya yang lucu membuat banyak orang ingin memeliharanya, padahal kukang adalah satwa liar dengan kebutuhan hidup yang sangat spesifik. Kehidupan di luar habitat alaminya membuat mereka rentan mengalami stres, kekurangan gizi, dan berbagai masalah kesehatan.
Ancaman lain datang dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan. Pada saat artikel Mongabay ini diterbitkan, IUCN mengakui lima spesies kukang. Empat di antaranya berstatus rentan, sedangkan kukang jawa (Nycticebus javanicus) telah masuk kategori terancam punah.
Kukang mungkin tidak bisa berlari cepat seperti monyet lain. Namun, satwa ini membuktikan bahwa bertahan hidup tidak selalu bergantung pada kekuatan atau kecepatan. Dengan racun, gerakan yang tenang, dan kehidupan yang sepenuhnya disesuaikan dengan malam, kukang menjadi salah satu primata paling unik yang dimiliki hutan Asia Tenggara.
Foto utama: Perdagangan kukang harus dihentikan, temasuk proses ilegal mencabut giginya. Foto: Yayasan International Animal Rescue Indonesia.