- Philautus candrageni di lereng Gunung Merapi, merupakan nama spesies katak yang baru ditemukan.
- Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi.
- Genus Philautus terdiri 52 spesies, 3 di antaranya endemik Jawa. Yaitu Philautus jacobsoni, ditemukan di Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Philautus pallidipes di Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), dan Philautus aurifasciatus di Gunung Tangkuban. Dengan ditemukan spesies baru ini, maka kini di Jawa ada 4 spesies untuk genus tersebut.
- Candrageni diyakini mencerminkan sifat berapi-api dan mistis Merapi. Mungkin berasal dari kata-kata “Candra” (bulan) dan “Gen” (api), yang melambangkan keseimbangan antara energi surgawi dan kekuatan vulkanik.
Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi.
Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau ulang taksonomi katak genus Philautus di Jawa. Kali ini peneliti memakai pendekatan integratif. Mereka berasal dari BRIN, beberapa universitas, dan Herpetological Society of Indonesia.
“Melalui pendekatan integratif, mulai dari morfologi, bioakustik, hingga analisis molekuler, kami dapat memahami biodiversitas secara lebih utuh sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk upaya konservasi spesies di masa depan,” ungkap Alamsyah Elang Nusa Herlambang, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam akun IG BRIN, Jumat (3/7/26).
Saat ini ada beberapa spesies Philautus di Jawa yang status taksonominya masih membingungkan. Pakar merasa perlu memastikan, dengan cara memeriksa ulang lewat data morfologi, suara, dan genetik.
Genus Philautus terdiri 52 spesies, 3 di antaranya endemik Jawa. Yaitu Philautus jacobsoni, ditemukan di Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Philautus pallidipes di Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), dan Philautus aurifasciatus di Gunung Tangkuban. Dengan ditemukannya spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni di lereng Gunung Merapi, maka kini di Jawa ada 4 spesies untuk genus ini.
Genus Philautus atau katak semak tersebar luas di Asia Selatan dan sangat beragam. Sayangnya, P. pallidipes dan P. jacobsoni sudah dianggap spesies yang hilang, karena hanya dikenal lewat spesimennya. Bahkan mungkin, P. jacobsoni telah punah di alam liar karena tidak ada pengamatan baru atas spesies ini.

Penelitian tentang spesies katak semak di Jawa ini, telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa, dengan judul “Revisiting the Taxonomy of Javan Philautus (Anura: Rhacophoridae), with the Description of a New Species.” edisi 9 Maret 2026.
Sebanyak 9 peneliti melakukan penelitian lapangan di Jawa Tengah antara 2017 hingga 2025. Lokasi penelitian meliputi kawasan Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Pegunungan Menoreh. Selama survei, terkumpul sebanyak 32 individu yang sebelumnya diidentifikasi sebagai P. aurifasciatus.
Dari analisis filogenetik dan morfologi, temuan dapat diklasifikasikan ke P. aurifasciatus, P. jacobsoni, dan satu takson yang belum terdeskripsikan, yang berasal dari Gunung Merapi. Guna melengkapi data klasifikasi, peneliti menambahkan bioakustik. Panggilan yang dihasilkan oleh tiga spesies direkam dan dianalisis. Hasilnya, ternyata ketiga spesies menghasilkan panggilan yang unik dan berbeda. Peneliti pun yakin, bahwa spesies terakhir yang belum terdeskripsi itu merupakan spesies baru.

Muasal nama
“Kami menggunakan nama kuno Gunung Merapi, “Candrageni”, sebagai nama spesiesnya,” tulis Herlambang, mewakili timnya dalam laporan di jurnal itu.
Dijelaskan, dalam manuskrip Jawa klasik, yang ditulis oleh R. Ng. Ranggawarsita, Serat Pustaka Raja Purwa, Gunung Merapi awalnya disebut Candrageni. Prabu Kusumawicitra mengganti nama itu selama masa pemerintahannya di Jawa. Nama Candrageni diyakini mencerminkan sifat berapi-api dan mistis Merapi. Mungkin berasal dari kata-kata “Candra” (bulan) dan “Gen” (api), yang melambangkan keseimbangan antara energi surgawi dan kekuatan vulkanik.
“Kami percaya bahwa kehadiran Philautus candrageni sp. nov. di Gunung Merapi mewakili harmoni biokultural lanskap vulkanik ini,” lanjutnya.
Mengutip laporan, P. candrageni hanya dikenal berasal dari Gunung Merapi, dengan distribusi sangat terbatas, yaitu di zona ketinggian menengah gunung tersebut. Spesies baru ini mendiami lingkungan yang telah dimodifikasi oleh manusia, khususnya daerah perkebunan yang didominasi oleh kopi dan tanaman budidaya lain.
Warna katak pada saat hidup adalah cokelat muda di bagian punggung, dengan bentuk cokelat gelap yang khas. Ada bintik-bintik dan bercak gelap tidak beraturan di bagian punggung. Perut berwarna kuning pucat dengan bercak cokelat gelap. Sementara pupil horizontal dengan iris hitam.
Katak spesies baru ini memiliki ciri suara kawin unik, yang membedakannya dari spesies kerabatnya. Panggilannya berdurasi pendek dengan nada berfrekuensi relatif tinggi dibandingkan P. aurifasciatus maupun P. pallidipes. Setiap panggilan, umumnya hanya terdiri atas satu nada, bukan rangkaian nada yang berulang.
Selain itu, interval antarpanggilan berlangsung cukup singkat sehingga menghasilkan tempo cepat. Bagi pendengar, suara ini terdengar seperti bunyi “klik” atau “chirp” pendek. Suara ini menjadi salah satu ciri akustik penting untuk mengenali spesies baru tersebut di habitat alaminya.
Sayangnya, seperti diakui peneliti, mereka belum berhasil mendapatkan katak betina. Sehingga, data morfologi bisa dikatakan belumlah lengkap. Padahal betina sering memiliki ciri tubuh yang berbeda dari jantan. Misalnya, ukuran lebih besar, tekstur kulit, atau pola warna yang berbeda dari jantan. Tanpa betina, dengan sendirinya deskripsi spesies menjadi kurang komprehensif.
Selain itu, dengan kehadiran betina kita bisa mempelajari perilaku kawin, pemilihan pasangan, dan cara bertelur. Tanpa betina, aspek ekologi reproduksi pun menjadi misteri.

Peran katak di alam
Philautus atau katak semak umumnya memang katak kecil. Uniknya, sebagian besar spesies memiliki perkembangan langsung atau tidak melewati fase berudu yang berenang, menurut frogsofborneo.org. Telur yang menetas bakal langsung menjadi katak kecil. Hal ini menguntungkan katak semak, karena tidak tergantung pada kubangan atau sungai untuk berkembang biak. Misalnya, P. aurifasciatus bertelur di lubang pohon. Sebuah adaptasi luar biasa untuk hidup di hutan tropis yang lembap.
Katak semak adalah spesies pendaki ulung di tetumbuhan. Jari tangan dan jari kakinya memiliki cakram perekat yang memungkinkan mereka berpegangan pada daun dan kulit kayu. Beberapa spesies punya variasi warna yang kaya, membuat spesies katak semak sulit ditemukan di alam.
Katak semak juga punya peran penting sebagai pengendali serangga alami, bioindikator kesehatan lingkungan, dan menjadi bagian penting dari rantai makanan di ekosistem hutan. Kehadirannya menandakan ekosistem yang sehat dan seimbang.
Ancaman terbesar bagi katak semak di Jawa adalah penurunan kualitas hutan hingga hilangnya habitat akibat konversi lahan untuk pertanian, perkebunan, permukiman, dan infrastruktur. Krisis iklim juga diduga kuat memengaruhi populasi katak semak. Perubahan suhu dan pola curah hujan berpotensi mengganggu siklus reproduksi spesies-spesies ini yang sangat bergantung pada kelembapan tinggi.
Dikarenakan katak semak umumnya melakukan perkembangan langsung tanpa fase berudu, kelembapan udara menjadi faktor krusial bagi keberhasilan bertelur hingga menjadi katak dewasa. Jika ancaman ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin spesies katak semak punah sebelum kita benar-benar mengenalinya.
Referensi:
Herlambang, A. E. N., Gonggoli, A. D., Racho, A., Asti, H. A., Cahyadi, G., Atmaja, V. Y., … & Hamidy, A. (2026). Revisiting the Taxonomy of Javan Philautus (Anura: Rhacophoridae), with the Description of a New Species. Zootaxa, 5768(1), 29-56. https://mapress.com/zt/article/view/zootaxa.5768.1.2
*****