Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini.
Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya.
Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia.
Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang dikembangkan bersama WWF dan UNEP. Dalam konferensi dunia tahun 2021, WOSM juga menegaskan komitmennya terhadap aksi menghadapi krisis iklim dan target gerakan menuju netral karbon.
Di Indonesia, nilai-nilai tersebut telah lama masuk dalam pendidikan kepramukaan. Sejak 1995, Gerakan Pramuka memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKK) bidang lingkungan hidup yang mencakup pengenalan alam, konservasi tanah, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pengamatan ekosistem. Berbagai Satuan Karya (Saka) seperti Saka Wanabakti, Saka Bahari, dan Saka Kalpataru juga dibentuk agar anggota Pramuka dapat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, konservasi air, penghematan energi, hingga perlindungan keanekaragaman hayati. Program Gugus Depan Ramah Lingkungan yang diluncurkan pada 2017 turut mendorong perubahan perilaku sehari-hari, seperti memilah sampah, mengurangi emisi karbon, menghemat air, dan menjaga ekosistem.
Meski demikian, pelaksanaan program lingkungan di Pramuka masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan jumlah pembina, pendanaan, hingga kapasitas organisasi. Berbagai inisiatif, seperti komunitas Tunas Hijau di Jawa Timur, menunjukkan bahwa nilai-nilai kepramukaan tetap mampu melahirkan gerakan lingkungan yang aktif dan berdampak di masyarakat. Pada akhirnya, warisan terbesar Baden-Powell bukanlah sekadar mengajarkan cara mendirikan tenda atau membaca jejak, melainkan menanamkan keyakinan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mewariskan bumi dalam keadaan yang lebih baik daripada saat mereka menerimanya.