Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning.
Ancaman tersebut mendorong sejumlah pihak mencari cara untuk mengendalikan populasinya. Anak perusahaan Alphabet, Verily, misalnya, merancang program pelepasan nyamuk jantan steril. Karena tidak menggigit manusia dan tidak dapat menghasilkan keturunan, nyamuk ini diharapkan dapat menekan populasi di alam. Program serupa di Australia bahkan disebut berhasil mengurangi jumlah nyamuk hingga 80 persen.
Namun, jika nyamuk benar-benar punah, dampaknya bagi alam belum sepenuhnya diketahui. Sebuah penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan siklus hidup Anopheles gambiae dengan kelelawar, ikan, bunga, dan serangga lain. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah hilangnya nyamuk dapat mengganggu rantai makanan atau membuka jalan bagi serangga pembawa malaria lain. Kemungkinan munculnya pengganti yang lebih berbahaya dinilai kecil karena Anopheles gambiae telah berevolusi bersama manusia.
Di dunia terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya beberapa ratus yang menggigit atau mengganggu manusia. Nyamuk telah hidup di Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang bersama banyak spesies. Larvanya menjadi makanan bagi ikan kecil dan berbagai serangga air, sedangkan nyamuk dewasa dimakan burung, laba-laba, salamander, kadal, serta katak. Beberapa spesies juga berperan sebagai penyerbuk tanaman.
Ikan nyamuk atau Gambusia affinis, misalnya, merupakan predator khusus larva nyamuk. Jika mangsanya hilang, ikan ini juga dapat lenyap dan mempengaruhi rantai makanan. Meski demikian, tidak semua pemangsa sangat bergantung pada nyamuk. Pada kelelawar, misalnya, nyamuk hanya membentuk kurang dari dua persen isi saluran pencernaannya karena hewan tersebut lebih banyak memakan ngengat.
Sebagian ilmuwan memperkirakan kepunahan nyamuk hanya akan meninggalkan gangguan ekologis sementara. Organisme lain kemungkinan segera mengisi ruang yang ditinggalkan, sementara burung dan pemakan serangga dapat beralih ke mangsa lain. Hingga kini, belum cukup bukti bahwa hilangnya nyamuk akan menyebabkan kerusakan ekosistem besar.
Karena manfaatnya bagi kesehatan manusia sangat besar, sejumlah ahli menilai dunia tanpa nyamuk akan menjadi lebih aman. Ekosistem mungkin tersendat sesaat, tetapi kemudian menyesuaikan diri. Dengan demikian, kepunahan nyamuk berpotensi menyelamatkan banyak nyawa, meskipun konsekuensi ekologisnya tetap perlu diteliti dengan hati-hati.
Foto utama: Nyamuk penyebab penyakit malaria [Anopheles minimus] yang banyak tersebar di Asia. Foto: James Gathany/CDC via Britannica.com