<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=junaidi-hanafiah-aceh&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah-aceh/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2026 06:00:06 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 06:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233456/Ikan-wader-jenis-baru-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131006</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[karst, Konservasi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, sementara tubuhnya memiliki warna keperakan dengan garis kemerahan. Di dalam air, ikan tersebut cenderung berenang tenang. Namun, ketika mendeteksi gangguan, ia dapat bergerak cepat. Kemampuan itu menunjukkan bahwa kehilangan mata bukan berarti kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Dalam kegelapan total, penglihatan tidak lagi memberikan manfaat. Melalui proses evolusi, B. klapanunggalensis justru mengandalkan indra lain untuk mengenali gerakan, getaran, gelombang air, dan perubahan di sekitarnya. Spesies ini pertama kali terlihat oleh para penelusur gua pada 2020. Dua tahun kemudian, tim peneliti kembali ke lokasi dan mengambil dua spesimen, masing-masing satu jantan dan satu betina. Setelah melalui penelitian selama tiga tahun, ikan tersebut resmi diperkenalkan sebagai spesies baru dalam jurnal ZooKeys pada Februari 2025. Menariknya, kedua spesimen ditemukan di dua kolam berbeda yang tidak terhubung oleh aliran air. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang cara keduanya berpindah dan berkembang biak. Hingga kini, kehidupan ikan tersebut masih menyimpan banyak teka-teki. Gua tempatnya hidup merupakan laboratorium alami untuk mempelajari evolusi. Lingkungan tanpa cahaya dan sumber energi yang terbatas memaksa organisme mengembangkan strategi khusus agar dapat bertahan. Hampir seluruh spesies khas gua juga memiliki tingkat endemisitas tinggi. Sebagian bahkan hanya ditemukan di satu gua atau lorong tertentu. Keunikan itu sekaligus membuat B.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 03:18:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamMuhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26030300/Jatiwaringin-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131016</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya segera lapor ke pos satpam TPA di Kota Depok, Jawa Barat ini. “Api langsung gede. Tiba-tiba api merah bae!” ujar Tamil ketika Mongabay temui Jumat (17/7/26). Saat si jago merah melahap timbulan sampah kondisi sekitar tampak sepi. Hanya terdapat beberapa truk terparkir di sekitar gunungan sampah itu. Dia melihat api juga menyambar truk berisi sampah. Satpam dan supir truk berjibaku memadamkan api dengan alat seadanya. Tak lama, delapan mobil pemadam kebakaran tiba. Reni Siti Nuraeni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok bilang, api pada 30-45 menit sebelum sempat meluas membakar kawasan pembuangan sampah itu. “Yang terbakar luasnya sekitar 20-25 meter pesegi. Karena itu tadi segera kami lokalisir,”  katanya kepada Mongabay. Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa atau luka-luka akibat insiden kebakaran. Hanya dua truk Pemerintah Kota Depok (Pemkot) ikut tersambar panas api. Pantauan Mongabay pada Jumat siang,  area timbulan sampah setinggi sekitar lima meter menghitam seperti bekas terbakar. Truk berbaris antre hingga keluar gerbang TPA menunggu giliran pembuangan sampah. Lima eksavator berbaris vertikal mengeruk sampah, pemulung sibuk memilah sampah bernilai ekonomi di sela alat berat itu. Mobil antre membuang sampah di TPA Cipayung Depok pasca kebakaran. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Penyebab&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tsunami Dapat Melaju 800 Km per Jam, Bagaimana Nasib Satwa Laut?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 02:13:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/04/22063900/terjang-ombak-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130993</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika tsunami melintasi laut, apa yang sebenarnya terjadi pada satwa di bawah permukaan? Jawabannya bergantung pada lokasi mereka. Di laut dalam, gelombang tsunami mungkin berlalu tanpa disadari oleh sebagian besar penghuninya. Namun, ketika gelombang mendekati pantai, situasinya berubah drastis. Tsunami terjadi akibat perpindahan badan air secara tiba-tiba, biasanya dipicu perubahan vertikal pada permukaan laut. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/">Tsunami Dapat Melaju 800 Km per Jam, Bagaimana Nasib Satwa Laut?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika tsunami melintasi laut, apa yang sebenarnya terjadi pada satwa di bawah permukaan? Jawabannya bergantung pada lokasi mereka. Di laut dalam, gelombang tsunami mungkin berlalu tanpa disadari oleh sebagian besar penghuninya. Namun, ketika gelombang mendekati pantai, situasinya berubah drastis. Tsunami terjadi akibat perpindahan badan air secara tiba-tiba, biasanya dipicu perubahan vertikal pada permukaan laut. Di laut dalam, gelombangnya dapat melaju hingga 800 kilometer per jam. Meski sangat cepat, kenaikan permukaan air di kawasan ini terkadang hanya beberapa inci. Kapal yang berlayar di atasnya bahkan mungkin tidak menyadari bahwa gelombang tsunami sedang melintas. Hal serupa dapat terjadi pada satwa yang hidup jauh di bawah permukaan. Bahaya sesungguhnya muncul saat gelombang memasuki perairan dangkal. Kecepatannya berkurang, tetapi ketinggian dan daya rusaknya meningkat. Air pantai yang tersedot ke arah laut dapat menyeret satwa keluar dari habitatnya. Hewan yang tidak mampu mengikuti pergerakan air berisiko terdampar, terluka, atau mati. Ketika gelombang menghantam pesisir, bukan hanya satwa yang terkena dampaknya. Habitat penting seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan hamparan rumput laut juga dapat rusak parah. Padahal, kawasan-kawasan ini merupakan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan serta organisme laut lainnya. Terumbu karang bahkan berperan sebagai pemecah gelombang alami, tetapi tetap dapat hancur akibat kekuatan tsunami. Ancaman belum berakhir setelah air surut. Gelombang yang kembali ke laut membawa puing, bahan kimia beracun, dan berbagai benda berbahaya dari daratan. Sedimen dasar laut ikut teraduk, membuat air menjadi keruh dan menurunkan kualitasnya. Satwa yang selamat dari hantaman awal pun dapat mati kemudian akibat rusaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sampah Plastik Ancam Biodiversitas Laut dan Rugikan Ekonomi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 13:12:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/24202139/20260628_145826-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131056</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>World Economic Forum (WEF) melaporkan polusi plastik menjadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di dunia. Sejak 1950, produksi plastik tahunan terus melonjak, dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton. Daur ulang hanya 10%. Sebanyak 130 juta ton sampah plastik mencemari air, udara dan tanah. WEF juga prediksi,  lonjakan sampah plastik akan meningkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/">Sampah Plastik Ancam Biodiversitas Laut dan Rugikan Ekonomi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[World Economic Forum (WEF) melaporkan polusi plastik menjadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di dunia. Sejak 1950, produksi plastik tahunan terus melonjak, dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton. Daur ulang hanya 10%. Sebanyak 130 juta ton sampah plastik mencemari air, udara dan tanah. WEF juga prediksi,  lonjakan sampah plastik akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2040 jika tak ada tindakan nyata dari komunitas global. Jumlah itu setara dengan membuang satu truk sampah setiap detik ke alam. Dampak ekonomi dari fenomena ini sangat besar. Sebanyak 75-150 juta ton plastik di laut global sebabkan kerugian antara US$500 miliar dan US$2,5 triliun dari jasa lingkungan ekosistem laut yang hilang atau berkurang setiap tahun. Banyak sektor terdampak, mulai dari perikanan hingga pariwisata, termasuk kerugian ekonomi karena hilangnya penyerapan karbon karena hutan bakau rusak. Sedangkan emisi gas rumah kaca plastik sebanyak 2,7 miliar ton per tahun dengan perkiraan  melampaui emisi setiap negara pada 2040. Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton katakan, pada konteks lokal, kondisi laut Indonesia juga tak tak memprihatinkan akibat ‘kebocoran sampah’ dari sungai. “Data kami, kebocoran sampah di laut 82% berasal dari sungai dan 18%  dari pesisir dan pantai,” katanya. Dia bilang, buruknya tata kelola sampah dari hulu memperburuk situasi itu. Penelitian Ecoton pada 2026 menyebutkan, kawasan pesisir utara Kota Surabaya aliran sampah dari sungai yang ke laut rata-rata mencapai 1,5 ton per harinya “Kenaikan sebanyak hampir 10 kali lipat jika dibandingkan temuan kami di 2023.&#8221; Dia tegaskan, penanganan sampah laut seharusnya  dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Ikan Gobi Baru dari Laut Banyuwangi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 10:48:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25104003/Ikan-gobi-banyuwangi1.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131080</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan gobi kalah populer dibanding ikan badut, yang diwakili Nemo dalam budaya pop. Sama-sama hidup di terumbu karang dan ekosistem laut dangkal, ikan gobi sering dipandang sebelah mata. Umumnya, ikan gobi (famili Gobiidae) berwarna serupa pasir dasar laut. Kusam, kelabu kehitaman. Meski sebenarnya dari sekitar dua ribu tiga ratus spesies, beberapa ratus di antaranya berwarna [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/">Ada Ikan Gobi Baru dari Laut Banyuwangi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan gobi kalah populer dibanding ikan badut, yang diwakili Nemo dalam budaya pop. Sama-sama hidup di terumbu karang dan ekosistem laut dangkal, ikan gobi sering dipandang sebelah mata. Umumnya, ikan gobi (famili Gobiidae) berwarna serupa pasir dasar laut. Kusam, kelabu kehitaman. Meski sebenarnya dari sekitar dua ribu tiga ratus spesies, beberapa ratus di antaranya berwarna cerah dan beberapa bahkan menghiasi aquascape. Mungkin, karena kurangnya ekspos ikan gobi urung menjadi ikan favorit seperti ikan badut (subfamili Amphiprioninae). Baru-baru ini, sekelompok peneliti BRIN berhasil mendeskripsikan spesies baru ikan gobi hasil tangkapan nelayan Banyuwangi. Spesies baru ini diberi nama ikan gobi udang atau Tomiyamichthys oriens. Oriens berasal dari Bahasa Latin yang berarti timur atau matahari terbit. Nama ini dipilih karena tubuhnya memiliki bercak oranye terang menyerupai cahaya matahari terbit. Sebagai lokasi penemuan, Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal sebagai “Sunrise of Java” karena letaknya di ujung timur Pulau Jawa. Suatu hari, nelayan Banyuwangi bernama Darsono, memberikan tangkapan ikan gobi ke sebuah perusahaan eksportir ikan hias dan biota laut. Dari sana spesimen kemudian sampai ke peneliti BRIN. “Kami mengombinasikan karakter morfologi dengan analisis DNA untuk memperoleh bukti lebih komprehensif. Hasilnya, Tomiyamichthys oriens memiliki karakter yang konsisten dan berbeda dari spesies terdekatnya, sehingga layak ditetapkan sebagai spesies baru,&#8221; ujar Kunto Wibowo, mewakili tim peneliti, dalam laporan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026. Laporan tersebut berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” “Spesies ini sangat mirip dengan spesies Jepang yang baru dideskripsikan T. hyacinthinus Sato &amp; Motomura, 2025, terutama karena memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidur di Ketinggian 20 Meter, Apakah Orangutan Juga Bermimpi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 06:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/11103845/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130977</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap malam, orangutan tidak sekadar mencari cabang untuk beristirahat. Primata cerdas ini membangun “kasur” sendiri di atas pohon, lengkap dengan pondasi, alas, bahkan terkadang bantal, selimut, dan atap. Kemampuan tersebut bukan hanya memperlihatkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga mengisyaratkan betapa pentingnya tidur bagi kehidupan orangutan. Sarang biasanya dibangun pada ketinggian 11-20 meter. Setelah menemukan cabang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/">Tidur di Ketinggian 20 Meter, Apakah Orangutan Juga Bermimpi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap malam, orangutan tidak sekadar mencari cabang untuk beristirahat. Primata cerdas ini membangun “kasur” sendiri di atas pohon, lengkap dengan pondasi, alas, bahkan terkadang bantal, selimut, dan atap. Kemampuan tersebut bukan hanya memperlihatkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga mengisyaratkan betapa pentingnya tidur bagi kehidupan orangutan. Sarang biasanya dibangun pada ketinggian 11-20 meter. Setelah menemukan cabang yang kokoh, orangutan membengkokkan atau mematahkan ranting lain ke arah titik pusat, kemudian merangkainya sebagai fondasi. Cabang-cabang yang lebih kecil ditambahkan di atasnya untuk membentuk alas yang empuk. Struktur ini dirancang agar berat tubuh tersebar secara merata sehingga sarang tetap stabil dan tidak mudah rusak. Sejumlah orangutan bahkan menambahkan berbagai fitur yang terbilang “mewah”. Ranting berdaun besar dapat digunakan sebagai selimut, sementara kumpulan daun lainnya dijadikan bantal. Mereka juga bisa mengepang ranting di atas kepala untuk membentuk atap atau membuat sarang tambahan di atas tempat tidur utama. Semua itu menunjukkan bahwa orangutan memahami sifat bahan dan mampu merancang tempat istirahat yang aman sekaligus nyaman. Kenyamanan tersebut berpengaruh terhadap kualitas tidur. Dibandingkan primata lain seperti babun, orangutan diketahui tidur lebih lama, lebih nyenyak, dan lebih jarang terbangun. Sarang di atas pohon juga melindungi mereka dari predator, serangga, dan kelembapan. Kebiasaan membangun tempat tidur ini diperkirakan telah muncul pada nenek moyang kera besar sekitar 14-18 juta tahun lalu. Tidur panjang dan berkualitas diduga ikut mendukung perkembangan otak yang lebih besar serta kemampuan kognitif yang tinggi pada kera besar. Lalu, apakah orangutan juga bermimpi? Hingga kini, belum ada penelitian yang secara langsung membuktikan bahwa orangutan mengalami mimpi. Kajian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 03:23:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25031526/2560px-octopus-vulgaris-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131072</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut dengan siklus hidup yang singkat namun penuh perilaku unik, mulai dari kemampuan kamuflase hingga cara mereka bereproduksi. Salah satu perilaku yang paling banyak dibicarakan adalah kanibalisme seksual, yaitu ketika gurita betina memakan pejantan setelah proses kawin. Fenomena ini sering muncul di berbagai platform media sosial dengan narasi bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/">Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut dengan siklus hidup yang singkat namun penuh perilaku unik, mulai dari kemampuan kamuflase hingga cara mereka bereproduksi. Salah satu perilaku yang paling banyak dibicarakan adalah kanibalisme seksual, yaitu ketika gurita betina memakan pejantan setelah proses kawin. Fenomena ini sering muncul di berbagai platform media sosial dengan narasi bahwa betina melakukannya karena sedang tidak berminat, merasa terganggu, atau sedang dalam suasana hati yang buruk. Penjelasan semacam ini tidak akurat. Riset menunjukkan bahwa kanibalisme seksual pada gurita bukan hasil dari penolakan emosional, melainkan konsekuensi dari kebutuhan energi reproduksi dan proses fisiologis yang terprogram dalam siklus hidup gurita. Kanibalisme seksual adalah fenomena nyata yang terdokumentasi baik di alam liar maupun dalam observasi penangkaran. Pada sejumlah spesies gurita, betina diketahui membunuh dan memakan pejantan setelah, atau bahkan saat, proses kopulasi berlangsung. Penyebabnya berkaitan dengan kebutuhan energi yang besar dalam reproduksi gurita betina. Setelah pembuahan, betina berhenti makan dan mencurahkan sisa hidupnya untuk menjaga dan membersihkan telur hingga menetas. Dalam kondisi ini, tubuh pejantan menjadi sumber protein dan nutrisi tambahan yang dapat mendukung kematangan telur, sehingga berpotensi meningkatkan peluang bertahan hidup keturunannya. Bagaimana Pejantan Menghindari Risiko Dimakan Dimorfisme seksual turut memengaruhi dinamika ini, karena betina umumnya berukuran jauh lebih besar daripada pejantan. Pada gurita bergaris biru (Hapalochlaena fasciata), betina berukuran sekitar dua kali lipat pejantan, sehingga pejantan menghadapi risiko nyata setiap kali mendekat untuk kawin. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology oleh tim peneliti Universitas Queensland, Australia, mendokumentasikan bagaimana pejantan spesies ini menggigit area dekat aorta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Konsesi Tambang dan Sawit Gerogoti Taman Nasional Kutai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 02:13:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25021140/PREVAB-TNK-BUMNU-15-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131025</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, hutan indonesia, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahun-tahun kerja di perusahaan batubara lokal hingga asing, Unding mengaku tidak pernah melihat satwa sebanyak saat dia bekerja di PT Tambang Damai (TD), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar 2018-2019. Tak jarang, orangutan (Pongo pygmaeus), payau atau rusa sambar (Cervus unicolor), hingga burung rangkong (Bucerotidae) menemani kesehariannya di mess pekerja masa itu. Saat dia mandi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/">Ketika Konsesi Tambang dan Sawit Gerogoti Taman Nasional Kutai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahun-tahun kerja di perusahaan batubara lokal hingga asing, Unding mengaku tidak pernah melihat satwa sebanyak saat dia bekerja di PT Tambang Damai (TD), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar 2018-2019. Tak jarang, orangutan (Pongo pygmaeus), payau atau rusa sambar (Cervus unicolor), hingga burung rangkong (Bucerotidae) menemani kesehariannya di mess pekerja masa itu. Saat dia mandi, orangutan kerap masuk dan mengambil jatah sarapannya. Bahkan ketika perjalanan ke tempat kerja, payau sering berlalu lalang. Satwa yang jarang dia temui di sekitar pemukiman, seperti macan tutul kerap memperlihatkan diri di sekitar mess. Kawanan burung pun termasuk rangkong, sering nangkring di teras mess menyambutnya sepulang kerja. Perusahaan tambang batubara tempat Unding kerja ini, persis  bersebelahan dengan Taman Nasional Kutai (TNK). TD mengantongi izin konsesi 24.391 hektar, setara sepertiga Kota Samarinda. Bahkan, 19.391 hektar konsesinya masuk kawasan konservasi itu. Perusahaan mendapat izin produksi sejak 2017 dan sudah membuka dua blok galian tambang, Pit A dan Pit B. Data Kementerian Kehutanan 2020 mencatat, berbagai keanekaragaman hayati di sana, mulai burung rangkong, paok kepala bir endemik Kalimantan, orangutan, bekantan, reptil, kupu-kupu, hingga macan dahan. Saat Mongabay datangi Februari lalu, kawasan yang tumpang tindih dengan taman nasional ini justru sesak dengan sawit. Hamparan tumbuhan monokotil itu terlihat sekitar 4-7 km dari Jalan Ahmad Yani-Jalan Poros Bontang Sangatta ke kawasan TNK bagian selatan. Beberapa motor dan mobil pick up terparkir di sana, siap angkut tandan buah segar (TBS) sawit. Ada juga pembalakan liar dan bukaan lahan. Keterangan warga, bukaan lahan itu bukan untuk tambang, melainkan untuk sawit. Ironisnya, lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>13 Ribu Tahun Punah, Serigala House Stark di Game of Thrones Dihidupkan Kembali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 00:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232528/Dire-Wolf-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130966</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dire wolf (Canis dirus) pernah menjadi predator puncak yang menakutkan di Amerika Utara dan Selatan pada Zaman Es. Satwa purba ini diperkirakan punah sekitar 13.000 tahun lalu. Namun, kemajuan rekayasa genetika kini seolah membuka jalan untuk “menghidupkannya kembali”. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan kelahiran tiga anak serigala bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Para ilmuwan menggunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/">13 Ribu Tahun Punah, Serigala House Stark di Game of Thrones Dihidupkan Kembali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dire wolf (Canis dirus) pernah menjadi predator puncak yang menakutkan di Amerika Utara dan Selatan pada Zaman Es. Satwa purba ini diperkirakan punah sekitar 13.000 tahun lalu. Namun, kemajuan rekayasa genetika kini seolah membuka jalan untuk “menghidupkannya kembali”. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan kelahiran tiga anak serigala bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Para ilmuwan menggunakan DNA dari gigi berusia 13.000 tahun dan tengkorak berusia 72.000 tahun untuk mempelajari ciri genetik dire wolf. Informasi tersebut kemudian dipakai untuk memodifikasi genom serigala abu-abu dengan teknologi CRISPR. Embrio hasil rekayasa lalu ditanamkan pada anjing domestik yang menjadi induk pengganti. Meski disebut sebagai keberhasilan de-ekstinksi, ketiganya bukan dire wolf murni secara genetik. Mereka merupakan serigala abu-abu yang genomnya telah diubah agar memiliki sejumlah ciri fisik yang diasosiasikan dengan predator purba tersebut. Dire wolf memiliki ukuran hampir setara dengan serigala abu-abu modern terbesar, tetapi tubuhnya lebih kekar dan sekitar 25 persen lebih berat. Berat rata-ratanya mencapai 50–68 kilogram, dengan tinggi bahu sekitar 0,8–1 meter. Rahangnya kuat, giginya besar, sementara kaki yang lebih pendek membuatnya kurang lincah dibandingkan serigala modern. Tubuh semacam itu dirancang untuk menghadapi mangsa besar. Sebagai karnivora hiper, lebih dari 70 persen makanannya berupa daging. Dire wolf kemungkinan memburu kuda dan bison purba, serta memanfaatkan bangkai dan tulang saat makanan sulit ditemukan. Banyaknya fosil di satu lokasi juga mengindikasikan bahwa mereka mungkin berburu secara berkelompok. Ketergantungan pada megafauna diduga ikut membawa dire wolf menuju kepunahan. Ketika perubahan iklim menyebabkan banyak hewan besar menghilang, mereka harus bersaing dengan serigala abu-abu yang lebih fleksibel dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 13:18:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16051601/Diperkirakan-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-akan-terus-berlangsung.-Sebab-terus-dilakukan-pengeringan-rawa-gambut-untuk-perkebunan-dan-pertanian.-Foto-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131049</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus utama pada pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut. Dengan target utama menekan angka kebakaran hingga menyentuh titik nol. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup /Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), bilang, urusan gambut bukan sekedar menjaga lahan. Melainkan melindungi ekosistem yang memiliki jasa besar bagi pelestarian lingkungan, termasuk kemampuannya menyimpan karbon berkali-kali lipat dibanding tanaman biasa. &#8220;Jadi,  sebetulnya kita tidak sekadar menghindari kebakaran, tapi gambut itu sendiri bagian penting daripada ekosistem di lingkungan hidup kita,&#8221; katanya dalam Rapat Kerja Pencegahan dan Antisipasi Karhutla Pada Ekosistem Gambut di Jakarta, Jumat, (10/7/26). Jumhur bilang, strategi mitigasi ini bertumpu pada pengelolaan tata air agar lahan gambut tidak mengering hingga ke lapisan dalam. Perusahaan wajib menyekat kanal-kanal (canal blocking) agar air tak langsung terbuang ke sungai, melainkan tergenang di sekitar konsesi untuk menjaga kelembaban tanah, serta membangun embung-embung air sebagai cadangan. &#8220;Kita ingin memastikan, di konsesi mereka tidak boleh ada kebakaran. Tidak boleh ada titik-titik api yang berpotensi menjadi kebakaran, dan mitigasi itu harus dilakukan dengan berbagai cara.” Sekat kanal, kata Jumhur menjadi bagian dari strategi perlindungan ekosistem gambut sebagai salah satu benteng utama pencegahan karhutla. KLH/BPLH mencatat, hingga kini, pada gambut seluas sekitar 4,15 juta hektar 314 perusahaan kelola, terbangun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 06:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001611/Hiu-Paus-%C2%A9%EF%B8%8F-Konservasi-Indonesia-Ismail-Syakurachman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130943</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 300–350 deret gigi kecil berukuran hanya sekitar enam milimeter. Meski demikian, gigi-gigi tersebut bukanlah senjata untuk mencabik mangsa besar. Makanan hiu paus terutama berupa plankton dan ikan-ikan kecil yang di Indonesia Timur dikenal sebagai ikan furi. Makanan itu diperoleh dengan cara menyaring air laut melalui lembaran penyaring dan lima pasang insangnya yang besar. Penampilan hiu paus juga mudah dikenali. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan bagian perut putih serta dihiasi bintik dan garis kekuningan yang membentuk pola menyerupai kotak. Di Indonesia, ciri tersebut membuatnya dikenal sebagai hiu totol atau gurano bintang. Menariknya, pola bintik setiap individu berbeda, layaknya sidik jari pada manusia. Ciri khas ini dapat membantu membedakan satu hiu paus dari individu lainnya. Walaupun mampu hidup hingga sekitar 70 tahun, hiu paus bukan perenang yang cepat. Kecepatannya hanya sekitar lima kilometer per jam. Gerakan yang lambat membuatnya rentan bertabrakan dengan kapal. Namun, di balik gaya berenangnya yang santai, hiu paus merupakan penyelam tangguh. Ikan ini mampu mencapai kedalaman sekitar 1.000 meter, meskipun lebih menyukai perairan dangkal pada kedalaman sekitar 50 meter. Hiu paus hidup di perairan tropis dan hangat. Di Indonesia, kemunculannya tercatat antara lain di Nabire, Kaimana, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sabang, Situbondo,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 03:15:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/04/22025156/Seorang-nelayan-memperoleh-ikan-tenggiri-saat-perjalanan-menuju-Pulau-Gelasa.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131019</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Upwelling merupakan fenomena alami yang sangat penting untuk keberlanjutan ekosistem laut. Biasanya, ketika upwelling terjadi, massa air dari kedalaman laut akan naik ke permukaan dengan membawa nutrien, untuk menjadi bahan makanan penting. Nutrien yang mengandung gizi penting itu akan dikonsumsi fitoplankton sebagai fondasi penting rantai makanan di laut. Saat upwelling, ikan-ikan pelagis kecil maupun besar akan mendatangi kawasan tersebut untuk mencari makan. “Kondisi ini penting, karena produktivitas perikanan meningkat tajam,” ungkapnya kepada Mongabay Indonesia, Minggu (19/7/26). Tanda-tanda upwelling adalah menurunnya suhu permukaan laut, meningkatnya salinitas air, arus ke atas, dan konsentrasi klorofil naik. Semua itu menunjukkan nutrien sudah naik ke permukaan. Naiknya klorofil ke permukaan bertujuan menangkap sinar matahari untuk menghasilkan makanan, seperti biomassa karbon dan oksigen. Jika produksi makanan berhasil, fitoplankton akan memakannya. “Semakin banyak fitoplankton maka semakin banyak oksigen. Fitoplankton dimakan zooplankton, dan zooplankton dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan besar. Itulah rantai makanan.” Saat ini, intensitas upwelling lemah dan sedang. Secara spasial belum rata, meski diamati menggunakan parameter oseanografi. Kawasan yang sudah terjadi upwelling, meluas ke Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatera hingga Laut Andaman, dan Selat Makassar mengarah ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 00:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/11115135/Mahakam-River-Dolhin-RASI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130889</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. Anak pesut keluar dengan posisi ekor terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi risiko bayi menghirup air sebelum seluruh tubuhnya berhasil dilahirkan. Bayi pesut juga memiliki rambut-rambut halus di sekitar moncong. Rambut tersebut menjadi penanda bahwa pesut merupakan mamalia, meskipun kemudian menghilang seiring pertumbuhannya. Setelah lahir, bayi akan menyusu melalui kelenjar susu induknya yang berada di bagian bawah tubuh, dekat area anus. Keunikan lain terlihat dari bentuk lehernya yang lentur. Tidak seperti kebanyakan lumba-lumba, pesut dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah. Kemampuan ini memudahkannya bermanuver dan mencari mangsa di sungai yang keruh, dangkal, dan memiliki banyak cabang. Penglihatan bukan satu-satunya andalan pesut. Mamalia ini dilengkapi sistem sonar yang sangat canggih. Pesut memancarkan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi, lalu membaca pantulannya untuk mengenali benda, menentukan arah, dan menemukan ikan atau udang. Sementara itu, suara berfrekuensi lebih rendah digunakan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Pesut juga memiliki strategi berburu yang menarik. Mereka dapat menyemprotkan air dari mulut untuk mengejutkan atau membingungkan mangsa. Perilaku serupa juga dilakukan saat bermain dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bahkan ketika beristirahat, pesut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Sebagian otaknya tetap aktif agar satwa ini dapat mengendalikan pernapasan dan naik ke permukaan untuk mengambil udara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Charlie Heatubun, Ahli Palem yang Mendeskripsikan 50 Spesies Baru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 06:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/04025126/Charlie-Heatubun_1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130929</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna, Konservasi, sains dan Teknologi, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/">Charlie Heatubun, Ahli Palem yang Mendeskripsikan 50 Spesies Baru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora Papua. Ketertarikan Charlie terhadap palem berawal dari keunikan bentuknya. Palem bahkan kerap disebut sebagai “pangeran” dunia tumbuhan karena tampilannya yang anggun, mudah dikenali, dan memiliki banyak manfaat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1995 dengan penelitian tentang palem. Setahun kemudian, Charlie mulai mengikuti berbagai ekspedisi botani di Papua dan wilayah lain. Pada 2000, ia resmi bergabung dalam proyek Palms of New Guinea, sebuah penelitian besar yang hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku pada 2024. Perjalanan ilmiahnya membawanya ke berbagai medan ekstrem, mulai dari pesisir hingga puncak pegunungan. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia mencari palem zebra atau Caryota zebrina di Pegunungan Cycloop. Charlie dan tim harus mendaki seharian, lalu bertahan hampir satu minggu dengan berlindung di bawah batu tanpa bisa mandi karena tidak tersedia air. Kerja keras itu terbayar ketika palem zebra dipublikasikan sebagai spesies baru pada 2000. Temuan penting lainnya justru bermula secara tidak terduga. Ketika menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan di Raja Ampat, Charlie melihat sebuah palem besar di samping gedung pertemuan. Sampelnya kemudian diteliti melalui analisis filogenetik di Inggris dan terbukti merupakan marga baru yang diberi nama Wallaceodoxa. Hingga kini, Charlie telah memublikasikan 50 spesies baru yang termasuk dalam lima marga baru. Namun,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/charlie-heatubun-ahli-palem-yang-mendeskripsikan-50-spesies-baru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 05:52:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22132942/Pelaku-perdagangan-burung-langka-KZ-ditangkap-di-Kabupaten-Agam.-Dok-BKSDA-Agam-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130994</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim Gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) dan Satreskrim Polres Agam  gagalkan perdagangan burung langka lintas provinsi, Sabtu (18/7/26). Selain amankan KZ, terduga pelaku, petugas juga sita 225 burung dari berbagai jenis. Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam, Sumbar katakan, saat petugas amankan, pelaku berencana mengirim ratusan satwa itu  ke Lampung. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/">Mengapa Burung Langka Terus jadi Buruan di Sumatera?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim Gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) dan Satreskrim Polres Agam  gagalkan perdagangan burung langka lintas provinsi, Sabtu (18/7/26). Selain amankan KZ, terduga pelaku, petugas juga sita 225 burung dari berbagai jenis. Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam, Sumbar katakan, saat petugas amankan, pelaku berencana mengirim ratusan satwa itu  ke Lampung. “Burung-burung itu  menggunakan kendaraan roda empat dari Pasaman Barat, dengan tujuan akhir Lampung,” katanya. Hasil identifikasi petugas, ratusan burung terdiri atas kapodang, kutilang emas, kapas tembak, burung kacamata atau pleci, kolibri, cica daun besar, dan cica daun kecil. Pelaku, kata Ade, membeli burung-burung  dari sejumlah toko serta para pemburu di Pasaman Barat dan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Nilai burung bervariasi, mulai  Rp20.000 hingga jutaan rupiah per ekor, tergantung jenisnya. &#8220;Untuk paket burung yang diamankan sekarang nilainya mencapai puluhan juta rupiah,&#8221; katanya. Ade menduga, KZ bukan sekadar kurir yang mengantar barang orang lain, melainkan bagian dari jaringan yang menanam modal sendiri, meski sebagian modal juga berasal dari pihak lain. BKSDA bersama kepolisian juga sudah mengantongi informasi awal tentang pihak lain dalam jaringan itu. Menurut dia, dari pemeriksaan, terungkap KZ sudah beberapa kali mengirim burung ke luar daerah. Dua dia lakukan tahun ini. Bagi BKSDA Resor Agam, ini  pertama kali berhasil ungkap kasus perdagangan burung lintas provinsi dalam lima tahun terakhir. Pada September 2025, BKSDA menggelar sosialisasi kepada hampir seluruh pedagang burung di Kabupaten Agam, Pasaman, Pasaman Barat, dan Kota Bukittinggi mengenai aturan pemanfaatan satwa liar dan jenis-jenis yang dilindungi. &#8220;Kami sudah melakukan sosialisasi kepada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/23/mengapa-perdagangan-burung-langka-di-sumatera-terus-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tokek Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan di Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 01:30:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22110344/Tokek-rumah-Foto-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130983</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tokek rumah diperjualbelikan terbuka di sejumlah marketplace di Indonesia. Hasil penelusuran Mongabay Indonesia menunjukkan, sedikitnya satu penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Di etalase produk, penjual mencantumkan stok mencapai 493 ekor dan telah menjual beberapa kali. Selain menawarkan tokek hidup, penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, mulai dari meningkatkan stamina, mengatasi asma, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/">Tokek Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan di Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tokek rumah diperjualbelikan terbuka di sejumlah marketplace di Indonesia. Hasil penelusuran Mongabay Indonesia menunjukkan, sedikitnya satu penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Di etalase produk, penjual mencantumkan stok mencapai 493 ekor dan telah menjual beberapa kali. Selain menawarkan tokek hidup, penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, mulai dari meningkatkan stamina, mengatasi asma, hingga membantu mengobati kanker. Pertanyaannya adalah, apakah Gekko gecko itu berasal dari penangkaran atau tangkapan alam? Jika dari alam, bagaimana aturan pengambilannya? Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan perhatian terhadap perdagangan tokek meningkat setelah reptil ini masuk Appendix II CITES pada 2019. “Status ini bukan berarti tokek terancam punah, namun perdagangan internasionalnya harus diatur agar pemanfaatannya tetap legal. Selain dapat ditelusuri asal-usulnya (traceable), juga sifatnya berkelanjutan (sustainable),” jelasnya, Sabtu (11/7/26). Masuknya tokek dalam Appendix II CITES membuat Indonesia wajib memastikan setiap perdagangan internasional tidak mengancam populasi liar. Salah satu syaratnya adalah penyusunan Non-Detriment Finding (NDF), yaitu kajian ilmiah untuk memastikan pemanfaatan tokek tidak berdampak pada kelestarian spesies. Dalam Daftar Merah IUCN, tokek rumah masih berstatus Least Concern atau Berisiko Rendah terhadap kepunahan. Menurut Amir, penyusunan NDF diawali dengan survei populasi di berbagai wilayah Indonesia. Survei tersebut jadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan jumlah tokek yang boleh dimanfaatkan setiap tahun. “Kita harus mengetahui dulu berapa populasinya, bagaimana penyebarannya, bagaimana kemampuan berkembang biaknya. Lalu, dihitung berapa yang boleh dimanfaatkan.” Tokok rumah yang sering terlihat di sekitar kita. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Kuota pengambilan dari alam Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/23/tokek-dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gharonk, Merintis Wisata Selam untuk Meneliti Hiu di Morotai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/#respond</comments>
					<pubDate>23 Jul 2026 00:30:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/04/22063914/Screen-Shot-2019-04-20-at-5.12.35-PM-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130894</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Konservasi, konservasi laut, konservasi satwa laut, satwa laut, tokoh, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Darmawan Ahmad Mukharror, yang akrab disapa Gharonk, memulai perjalanannya mengenal dunia bawah laut pada usia 34 tahun. Meski terbilang terlambat belajar menyelam, pengalaman itu justru mengubah arah hidupnya. Ketertarikannya terhadap hiu tumbuh setelah menonton film The Sharkman, yang memperlihatkan sisi lain predator laut tersebut. Selama ini, hiu lebih sering digambarkan sebagai hewan ganas yang mengancam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/">Gharonk, Merintis Wisata Selam untuk Meneliti Hiu di Morotai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Darmawan Ahmad Mukharror, yang akrab disapa Gharonk, memulai perjalanannya mengenal dunia bawah laut pada usia 34 tahun. Meski terbilang terlambat belajar menyelam, pengalaman itu justru mengubah arah hidupnya. Ketertarikannya terhadap hiu tumbuh setelah menonton film The Sharkman, yang memperlihatkan sisi lain predator laut tersebut. Selama ini, hiu lebih sering digambarkan sebagai hewan ganas yang mengancam manusia. Padahal, informasi mengenai perilaku dan peran pentingnya bagi ekosistem laut masih jarang diketahui masyarakat. Hal inilah yang mendorong Gharonk untuk mengenal hiu secara lebih mendalam. Pada 2014, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki sertifikat PADI AWARE Shark Conservation Diver Instructor, yaitu instruktur selam spesialis konservasi hiu. Insinyur Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung itu kemudian melanjutkan pendidikan magister di bidang Ilmu Kelautan, Universitas Indonesia. Gharonk menemukan bahwa kebanyakan penelitian hiu di Indonesia masih berfokus pada individu yang ditangkap nelayan dan didaratkan di pelabuhan. Penelitian semacam itu umumnya mengkaji bentuk tubuh, aspek biologi, dan makanan hiu. Sementara, perilaku hiu di habitat alaminya belum banyak diteliti. Padahal, studi perilaku membutuhkan pengamatan jangka panjang, bahkan hingga puluhan tahun. Untuk membiayai penelitian secara berkelanjutan, Gharonk mendirikan Shark Diving Indonesia di Morotai, Maluku Utara. Pendapatan dari wisata selam dan dana pribadinya digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati perjumpaan dengan hiu, tetapi juga belajar memahami perilakunya di alam. Penelitiannya berfokus pada hiu karang dan interaksinya dengan manusia di Morotai dan Halmahera. Ia menggunakan metode kamera bawah air dengan umpan atau BRUV serta sensus video bawah air. Teknik ini dapat merekam perilaku, keragaman, dan kelimpahan ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/gharonk-merintis-wisata-selam-untuk-meneliti-hiu-di-morotai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8216;Ular Berkepala Dua&#8217;: Siasat Bertahan Ular Piton Calabar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 23:31:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22232612/2560px-calabar-serpent2-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131000</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai spesies ular memiliki cara berbeda untuk menghindari predator, mulai dari kamuflase warna tubuh, gerakan cepat menghindar, hingga bentuk tubuh yang menyerupai bagian tubuh lain untuk mengecoh serangan. Salah satu contoh strategi terakhir ditemukan pada piton Calabar (Calabaria reinhardtii), ular yang hidup di hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Piton Calabar memiliki bentuk kepala dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/">&#8216;Ular Berkepala Dua&#8217;: Siasat Bertahan Ular Piton Calabar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai spesies ular memiliki cara berbeda untuk menghindari predator, mulai dari kamuflase warna tubuh, gerakan cepat menghindar, hingga bentuk tubuh yang menyerupai bagian tubuh lain untuk mengecoh serangan. Salah satu contoh strategi terakhir ditemukan pada piton Calabar (Calabaria reinhardtii), ular yang hidup di hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Piton Calabar memiliki bentuk kepala dan ekor yang hampir sama, keduanya tumpul dan berbentuk oval. Kemiripan ini merupakan adaptasi pertahanan diri. Ular ini panjangnya tidak lebih dari satu meter dan menggunakan kemiripan bentuk ekor dengan kepala sebagai salah satu cara utama menghindari serangan predator. Nama &#8220;piton&#8221; pada spesies ini tidak sesuai dengan klasifikasi ilmiahnya. Calabaria reinhardtii bukan anggota famili Pythonidae seperti sanca kembang atau sanca bola, melainkan anggota famili Boidae, kelompok yang sama dengan boa. Ular ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya dan hanya ditemukan di kawasan hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Nama umum &#8220;piton Calabar&#8221; bertahan karena alasan historis, bukan karena kekerabatan taksonomi. Ular ini hidup di bawah permukaan tanah dan menggali lorong di tanah gembur serta serasah daun, berbeda dari kerabatnya di genus Eryx yang menggali di pasir. Piton Calabar berburu dengan masuk ke liang tikus untuk memangsa anak tikus yang masih muda. Perilaku ini membuat ular terpapar risiko serangan balik dari induk tikus, yang giginya dapat melukai tubuh ular. Menyembunyikan Kepala, Menonjolkan Ekor Ketika terancam, piton Calabar menekan kepalanya ke tanah dan menutupinya dengan lilitan tubuh, sementara ekornya diangkat dan digerakkan untuk menarik perhatian predator. Ekornya berwarna lebih terang dibanding bagian tubuh lain, kadang disertai lingkaran pucat,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/ular-berkepala-dua-siasat-bertahan-ular-piton-calabar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 11:59:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21183310/Lanskap-Menoreh_Arif-Rudiyanto-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130953</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya cukup banyak peminatnya karena karakter suaranya yang digemari penghobi burung kicau. “Peminat paling banyak dari luar daerah, terutama Jogja dan Magelang. Mereka minta warga sini untuk menangkapnya, nanti dijual dengan harga yang cukup mahal juga,” katanya, pertengahan Juni. Sewaktu masih aktif jadi pemburu burung, dia mengincar burung yang masih anakan yang masih belum bisa terbang. Memeliharanya, lalu jual setelah dewasa. “Lima tahun lalu sudah susah sekali dapat burung disini, lalu berhenti dan pilih fokus ternak kambing saja.” Namun, berhenti cari sarang burung untuk mengambil anakan itu ternyata tidak membuat populasi burung di Donorejo pulih. Pasalnya, pemburu dari luar desa justru tambah banyak. Hal ini memaksa desa memberlakukan pelarangan penangkapan burung dengan model apapun dua tahun terakhir. Kondisi ini sempat membuahkan hasil, burung, terutama sikatan cacing, mulai muncul, walau sedikit. Untuk membuat upayanya optimal, Parman dan belasan orang lain membentuk Kelompok Girimukti. Mereka mencatat dan memetakan burung Perbukitan Menoreh di desanya. “Data-data ini jadi bahan kami untuk menyelamatkan koridor burung disini.” Koridor burung ini penting sebagai jalur dan habitat satwa ini berkembanh biak. Menurutnya, banyak lanskap di desa yang turut berubah seiring waktu. “Kami juga sadar bahwa burung-burung ini tidak sepenuhnya tinggal di Donorejo, tapi terhubung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 04:49:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20084804/Sungai-Krueng-Aceh-di-Desa-Jalin-Berair-keruh-akibat-tambang-emas-illegal-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130972</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan Jantho mencapai 102,69 hektar, melonjak tajam dibandingkan awal 2023 yang hanya 4,87 hektar. Kerusakan tersebut meliputi hutan lindung (58,85 hektar), Cagar Alam Jantho (14,36 hektar), hutan produksi (19,12 hektar), serta badan air (10,35 hektar). &#8220;Hasil pemantauan kami, ada puluhan ekskavator yang diduga beroperasi di kawasan hutan Jantho,&#8221; ujar Afifuddin, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, Senin (29/6/26). Kekhawatiran terbesar adalah ancaman terhadap DAS Krueng Aceh. Sedimentasi akibat pengerukan tanah dapat menurunkan kualitas air, sementara penggunaan merkuri berpotensi mencemari aliran sungai hingga ke hilir. “Dampaknya bukan hanya dirasakan di lokasi tambang, tetapi juga masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai sumber air bersih, irigasi pertanian, hingga perikanan.” Air sungai keruh akibat tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Hanif, Juru Bicara Aliansi Jantho Bergerak, mengatakan aktivitas tambang ilegal telah berlangsung tiga tahun dengan kerusakan yang meningkat. Berdasarkan informasi dari masyarakat, akses menuju lokasi tambang diduga berasal dari wilayah Tangse, Kabupaten Pidie, sebelum masuk ke kawasan Aceh Besar. Dari titik perbatasan, diperkirakan telah masuk sekitar 12 kilometer ke wilayah Jantho. &#8220;Cagar alam saja sudah dirambah, kondisi wilayah lain bisa lebih parah,&#8221; ujarnya, Senin (29/6/2026). Masyarakat Jantho secara tegas menolak tambang emas ilegal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>