Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September.
Lahan tadah hujan menjadi salah satu yang rentan karena tidak memiliki akses irigasi memadai. Di tengah kekhawatiran terhadap produksi pangan, sejumlah penelitian menyoroti sukun (Artocarpus altilis) sebagai tanaman yang berpotensi dikembangkan di wilayah kering.
Sukun adalah pohon berumur panjang yang dapat terus berbuah tanpa ditanam ulang setiap musim seperti padi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pohon yang telah tumbuh dengan baik mampu bertahan saat kekeringan berlangsung tiga hingga empat bulan. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti sukun dapat tumbuh di semua tempat tanpa memperhatikan kondisi lahannya.
Penelitian Universitas Pattimura di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, mendapati sukun tetap tumbuh di wilayah dengan musim kemarau panjang. “Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Amat Reniwurwarin dan rekan-rekannya. Temuan tersebut memberi gambaran tentang kemampuan sukun bertahan dalam kondisi setempat.
Sementara itu, tim Universitas Indonesia memetakan kesesuaian lahan budi daya sukun di Jawa Tengah. Hasil pemodelan mereka memperkirakan sekitar 28,35 persen luas provinsi tersebut saat ini sesuai untuk budi daya sukun. Penelitian itu juga memproyeksikan perubahan wilayah yang sesuai pada masa depan berdasarkan skenario iklim tertentu. Angka-angka ini menunjukkan potensi, tetapi tetap perlu diterjemahkan dengan memperhatikan kondisi tiap lokasi.
Kajian lain yang diterbitkan di PLOS Climate memproyeksikan bahwa wilayah dengan iklim sesuai untuk sukun secara global relatif stabil, bahkan dalam skenario perubahan iklim yang berat. Para penelitinya menilai sukun lebih tangguh daripada padi terhadap beberapa tekanan iklim. Pohon ini juga dapat hidup dan berbuah lebih dari 50 tahun, menyimpan karbon, serta membutuhkan lebih sedikit kegiatan penanaman ulang.
Sukun dapat menjadi bagian dari kebun campur atau sistem agroforestri, berdampingan dengan tanaman lain. Cara ini membuka peluang menambah sumber pangan tanpa mengandalkan satu jenis tanaman saja. Namun, potensi hasil dan ketahanannya tetap bergantung pada tempat tumbuh serta cara pengelolaannya.
Ketika kemarau semakin menekan lahan pertanian, penelitian tentang sukun menawarkan arah untuk memperluas pilihan pangan. Pengembangannya memerlukan pemilihan lokasi yang sesuai, bukan sekadar menganggap satu pohon sebagai jawaban bagi seluruh persoalan kekeringan.
Foto utama: Buah sukun yang sangat potensial sebagai bahan pangan pengganti beras. Foto: Wikimedia Commons/Ashay vb/CC BY-SA 4.0.