<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=indra-nugraha-jakarta&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/indra-nugraha-jakarta/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 09 Jul 2026 15:04:47 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Bagaimana Nasib Ikan Kecil Endemik Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 13:06:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/09130042/Ikan-Wader-Pari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130353</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan air tawar kecil yang merupakan bagian ekosistem sungai dan danau, terus menghadapi tantangan. Dua jenis di antaranya adalah ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan ikan wader pari (Rasbora Argyrotaenia). International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan kedua ikan endemik asli Indonesia ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU). Perlu penanganan ekstra [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/">Bagaimana Nasib Ikan Kecil Endemik Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan air tawar kecil yang merupakan bagian ekosistem sungai dan danau, terus menghadapi tantangan. Dua jenis di antaranya adalah ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan ikan wader pari (Rasbora Argyrotaenia). International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan kedua ikan endemik asli Indonesia ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU). Perlu penanganan ekstra untuk memulihkan kondisi keduanya, termasuk melakukan restocking atau menebar dan melepasliarkan benih ke habitat asli. Syahril Abdul Raup, Direktur Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengatakan restocking jalan terbaik mengembalikan populasi ikan kecil endemik. “Indikasinya terlihat pada menurunnya hasil tangkapan nelayan lokal, serta berkurangnya distribusi ikan spesifik di pasaran, seperti rumah makan padang,” ungkapnya kepada Mongabay, Kamis (11/6/2026). Namun, kebijakan restocking tidak mudah dilakukan, karena harus menyesuaikan masing-asing ekosistem atau habitat. Ancaman utama keberadaan ikan kecil endemik adalah penangkapan berlebihan (overfishing), berkurangnya populasi, juga pendangkalan habitat. “Selain itu, dampak pencemaran dan alat tangkap yang tidak terkontrol.” Dokumen “Pedoman Teknis Restocking Ikan Kecil Berbasis Kajian Efektivitas Restocking: Pengelolaan Berkelanjutan Perikanan Darat” diluncurkan KKP dengan melibatkan perguruan tinggi. Dua lokasi dipilih untuk percontohan, yaitu Danau Singkarak dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang keduanya habitat ikan bilih dan wader pari. “Restocking berhasil jika diikuti pengaturan wilayah tangkap, termasuk jumlah alat tangkap dan musim penangkapan, serta pengawasan penangkapan lebih terukur.” Syahril menjelaskan, restocking pada ekosistem sungai dan danau dilaksanakan merujuk Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penebaran Kembali dan Penangkapan Ikan Berbasis Budidaya. “Sebagai proses terintegrasi, upaya rehabilitasi dan peningkatan sumber daya ikan serta lingkungannya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Gaza yang Meneliti Pari Manta dari Zona Perang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 08:12:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/09080559/Mohammed-Abu-Daya-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130345</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mohammed Abu Daya adalah seorang ahli ekologi laut asal Gaza. Penelitiannya berfokus pada pari spinetail devil ray, atau dikenal juga sebagai giant devil ray, spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan bermigrasi melintasi Laut Mediterania hingga perairan sekitarnya. Hanya sedikit ilmuwan yang mengkhususkan diri pada satwa ini, dan lebih sedikit lagi yang menelitinya dari Gaza, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/">Ilmuwan Gaza yang Meneliti Pari Manta dari Zona Perang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mohammed Abu Daya adalah seorang ahli ekologi laut asal Gaza. Penelitiannya berfokus pada pari spinetail devil ray, atau dikenal juga sebagai giant devil ray, spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan bermigrasi melintasi Laut Mediterania hingga perairan sekitarnya. Hanya sedikit ilmuwan yang mengkhususkan diri pada satwa ini, dan lebih sedikit lagi yang menelitinya dari Gaza, yang perairannya bagian dari jalur migrasi spesies tersebut. Sebelum perang, Abu Daya mengajar di sejumlah universitas Palestina dan bekerja di Pusat Penelitian Nasional Gaza. Dia rutin melaut bersama para nelayan, mengukur pari spinetail devil ray (Mobula mobular) yang dibawa ke darat, memantau pasar ikan, serta mengumpulkan data mengenai spesies yang lebih sering diteliti di kawasan Mediterania bagian barat. Penelitiannya membantu menunjukkan bahwa perairan Gaza merupakan bagian penting dari wilayah jelajah satwa migran yang terancam ini. Bahkan sebelum perang, tekanan terhadap ekosistem laut Gaza sudah sangat berat. Pembatasan yang diberlakukan Israel membatasi area penangkapan ikan. Stok ikan terus menurun. Kemiskinan dan tingginya biaya bahan bakar memaksa masyarakat menangkap apa pun yang dapat diperoleh di dekat pantai. Pada 2013, ketika sekelompok besar pari setan mendekati pesisir Gaza, ratusan ekor berhasil ditangkap nelayan. Abu Daya tidak semata-mata melihat peristiwa itu sebagai kegagalan konservasi. Dia berusaha memahami penyebabnya, mulai dari minimnya sistem konservasi lokal hingga tekanan hidup yang dihadapi masyarakat yang sangat sedikit memiliki pilihan. Lalu perang berkecamuk. Abu Daya kehilangan rumah, kantor, dan akses rutin ke laut. Universitas, perpustakaan, kapal nelayan, lokasi pendaratan ikan, hingga infrastruktur pelabuhan hancur. Dia telah beberapa kali mengungsi dan kini hidup, seperti banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 02:04:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08184937/Bulan-and-Badar1_YEL-SOCP-Andi-Saputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130317</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim pemantau lapangan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menemukan kehadiran bayi orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan dari Bulan, betina yang sempat jadi korban perdagangan satwa ilegal yang melewati proses rehabilitasi, lalu lepasliar pada 2018, di Cagar Alam Jantho, Aceh, akhir Mei. Temuan ini menunjukkan keberhasilan reintroduksi satwa endemik, meski, perlindungan di luar kawasan konservasi masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/">Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim pemantau lapangan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menemukan kehadiran bayi orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan dari Bulan, betina yang sempat jadi korban perdagangan satwa ilegal yang melewati proses rehabilitasi, lalu lepasliar pada 2018, di Cagar Alam Jantho, Aceh, akhir Mei. Temuan ini menunjukkan keberhasilan reintroduksi satwa endemik, meski, perlindungan di luar kawasan konservasi masih jadi pekerjaan besar. Bulan merupakan orangutan yang petugas selamatkan dari perdagangan di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, saat masih berusia dua tahun. Sejak saat itu, ia melewati rangkaian proses pemulihan selama empat tahun berikutnya di pusat karantina SOCP Sibolangit, Sumut. Tahun 2018, Bulan kembali ke ekosistem aslinya hingga  petugas temukan bersama anaknya. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, memberi nama si anak, Badar. Dalam kosakata lokal, merujuk pada fenomena bulan purnama. M. Yakob Ishadamy, Direktur Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan,  kasus Bulan contoh nyata keberhasilan reintroduksi satwa endemik. Namun, keberhasilan ini harus bareng dengan penguatan perlindungan tempat hidup orangutan lainnya. &#8220;Dari korban perdagangan hewan ilegal menjadi seorang ibu di alam liar, perjalanan Bulan menunjukkan nilai jangka panjang dari rehabilitasi dan reintroduksi orangutan. Keberhasilan seperti ini hanya dapat berlanjut jika hutan tempat orangutan bergantung tetap terlindungi,&#8221; katanya. Dia juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran komunitas adat di sekitar zona penyangga agar berperan menjaga kekayaan alam. Perlindungan habitat menjadi kunci utama memastikan orangutan dapat bertahan hidup dan mempertahankan populasi yang sehat. Kelahiran Badar, katanya, jadi pencapaian penting penyelamatan spesies. Namun, realita lapangan menunjukkan masih ada tantangan. Tekanan antropogenik meningkat drastis selama dekade terakhir menyebabkan fragmentasi lahan yang menciptakan pulau-pulau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 10:57:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08105137/Padi-lokal-yang-ditanam-di-ume-di-Tempirai.-Terdapat-beberapa-jenis-padi-lokal-yang-ditanam.-Foto-Ariadi-Damara-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130291</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ume atau menanam padi di ladang adalah budaya masyarakat lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Sebelum menanam padi atau tanaman lainnya, dilakukan pembersihan lahan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tradisi membakar lahan diperkirakan sudah dilakukan masyarakat sebelum kehadiran Hindu Buddha atau di masa Kedatuan Sriwijaya. Berdasarkan penelitian di Percandian Bumiayu, yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/">Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ume atau menanam padi di ladang adalah budaya masyarakat lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Sebelum menanam padi atau tanaman lainnya, dilakukan pembersihan lahan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tradisi membakar lahan diperkirakan sudah dilakukan masyarakat sebelum kehadiran Hindu Buddha atau di masa Kedatuan Sriwijaya. Berdasarkan penelitian di Percandian Bumiayu, yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO) pada 2024, ditemukan lapisan arang hasil pembakaran lahan di bawah struktur bata candi Bumiayu. “Hasil uji pertanggalan absolutnya sekitar abad ke-6 Masehi,” kata Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, di sela Festival Lahan Basah Tempirai di Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kamis (18/6/26). Selain itu, ditemukan sekam padi pada sejumlah batu bata bangunan candi Bumiayu. “Jadi diperkirakan pembakaran lahan tersebut diperuntukan untuk menanam padi,” kata Sondang. Percandian Bumiayu dikelilingi lahan basah, baik yang terhubung dengan Sungai Lematang, Sungai Penukal, dan Sungai Abab, yang masuk Kabupaten PALI. Masyarakat yang menetap di lahan basah tersebut selama ratusan tahun mengenal budaya ume, beserta tradisi membakar lahannya. Padi lokal yang ditanam di ume di Tempirai. Foto: Ariadi Damara/Mongabay Indonesia. Tradisi membakar lahan ini berhenti atau berkurang pada pertengahan tahun 2000-an. Pemerintah melarang siapa pun membakar lahan untuk aktivitas pertanian dan perkebunan. Larangan ini menyusul bencana kebakaran lahan dan hutan di Indonesia yang menyebabkan bencana kabut asap, sejak 1997-1998. “Kemarau tahun ini lama, sehingga pengawasan pembakaran lahan sangat ketat. Banyak warga takut dan tidak membuka ume,” kata Asrina&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisnis Karbon Ajang Cuci Dosa Korporasi Perusak Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 08:25:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/12/22091255/serampas3-Persawahan-dengan-latar-belakang-Hutan-Adat-Rantau-Kermas.-Foto-Elviza-Diana-709x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130282</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan di Indonesia terus tergerus. Deforestasi terus terjadi. Satu sisi, pemerintah sedang gencarkan bisnis karbon atau nilai ekonomi karbon (NEK) dengan narasi sebagai solusi krisis iklim. Berbagai kalangan menilai, bisnis karbon rentan jadi ajang cuci dosa atau greenwashing bagi korporasi ekstraktif, bahkan bisa mengancam keberadaan masyarakat adat. Data Forest Watch Indonesia (FWI), Indonesia kehilangan 2,7 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/">Bisnis Karbon Ajang Cuci Dosa Korporasi Perusak Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan di Indonesia terus tergerus. Deforestasi terus terjadi. Satu sisi, pemerintah sedang gencarkan bisnis karbon atau nilai ekonomi karbon (NEK) dengan narasi sebagai solusi krisis iklim. Berbagai kalangan menilai, bisnis karbon rentan jadi ajang cuci dosa atau greenwashing bagi korporasi ekstraktif, bahkan bisa mengancam keberadaan masyarakat adat. Data Forest Watch Indonesia (FWI), Indonesia kehilangan 2,7 juta hektar hutan alam periode 2020-2024. Hingga 2024, tutupan hutan alam Indonesia tersisa sekitar 89,52 juta hektar, setara 47% dari luas daratan. Deforestasi ini menjadi rapor merah pemerintah untuk mencapai target FOLU Net Sink dan  Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC). Tsabit Khairul Auni, Manager Kampanye dan Advokasi FWI mengatakan, dari pendataan hingga November 2025, terdapat 145 perusahaan tercatat memiliki izin perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) dalam skema bisnis karbon. Namun, mayoritas dari mereka adalah pemain lama yang memiliki rekam jejak buruk terhadap lingkungan. Dari 145 perusahaan yang dipetakan FWI, 87 perusahaan berstatus izin lama dan 59 perusahaan izin baru. Dari 87 perusahaan lama yang sekarang memiliki izin untuk berdagang karbon, 67 semula beroperasional sebagai IUPHHK hutan alam dan hutan tanaman industri. Temuan FWI, korporasi yang memiliki izin lama itu sudah menyebabkan deforestasi  seluas 464.578.90 hektar (2017-2021) dan 89.526,54 hektar (2021-2024). “Sekarang, mereka tiba-tiba shifting atau ikut-ikutan jualan karbon karena fenomena fomo (fear of missing out) setelah melihat peluang bisnis di pasar karbon,&#8221; ujar Tsabit dalam paparan usai pemutaran film bertajuk “Hutan Indonesia di Tangan Masyarakat di Jakarta, belum lama ini. Dia bilang, masuknya para taipan dalam skema bisnis karbon ini tak lepas dari peran Hanif&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ular Kobra Dijuluki Ular Sendok?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 08:20:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073542/Kobra.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130285</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh. Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/">Mengapa Ular Kobra Dijuluki Ular Sendok?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh. Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera (Naja sumatrana). Kobra sumatera persebarannya hanya di Sumatera dan Kalimantan. Kobra jawa tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores. Jenis ini menyukai bentang alam berupa hutan terbuka, savana, persawahan, hingga pekarangan. Ukuran tubuhnya, rata-rata sekitar 1,3-1,8 meter. Saat bertelur, sang betina dapat menghasilkan 10-20 butir yang akan menetas 3-4 bulan. Biasanya, telu-telur tersebut diletakkan di lubang tanah atau di daun kering lembab. Hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar. Biasanya, telur akan menetas saat awal musim penghujan, yang merupakan siklus alami. Kobra akan melumpuhkan mangsa dengan cara menggigit dan menyuntikkan bisa (venom) melalui taringnya. Racun ini dapat melumpuhkan saraf dan otot mangsanya hanya dalam hitungan menit. Mangsanya adalah tikus, kadal, katak dan ular. Kobra jawa sangat agresif, sedikit gangguan langsung membuat postur waspada yaitu menegakkan kepala dan mengembangkan tudung. Jenis ini aktif siang maupun malam hari dan dapat menyemburkan racun sejauh dua meter. Memahami karakter ular Harus kita pahami, ular merupakan satwa melata (reptilia) yang sangat umum di sekitar kita. Sejauh ini, belum ada cara sederhana untuk mengenali ular berbisa maupun tidak. Beberapa jenis ular tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Meski Terpisah di Darat dan Laut, Ternyata Paus dan Kuda Nil Satu Garis Keturunan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 04:32:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08041514/pexels-tkirkgoz-5329063-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130274</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus, lumba-lumba, dan pesut adalah mamalia laut yang seluruh hidupnya dihabiskan di air. Namun penelitian genetik dan fosil selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka yang masih hidup bukanlah hewan laut lain, melainkan kuda nil, mamalia darat yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sungai dan danau Afrika. Temuan ini mengubah pemahaman tentang asal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/">Meski Terpisah di Darat dan Laut, Ternyata Paus dan Kuda Nil Satu Garis Keturunan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus, lumba-lumba, dan pesut adalah mamalia laut yang seluruh hidupnya dihabiskan di air. Namun penelitian genetik dan fosil selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka yang masih hidup bukanlah hewan laut lain, melainkan kuda nil, mamalia darat yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sungai dan danau Afrika. Temuan ini mengubah pemahaman tentang asal usul cetacea, kelompok paus dan kerabatnya, dalam pohon evolusi mamalia. Sebelum bukti genetik berkembang, banyak ilmuwan menempatkan cetacea dekat dengan kelompok mesonychia, mamalia karnivora darat yang telah punah. Analisis molekuler kemudian membalik pandangan tersebut, dan bukti fosil yang ditemukan setelahnya memperkuat kesimpulan itu. Bukti Genetik dan Fosil Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, berjudul &#8220;Whales originated from aquatic artiodactyls in the Eocene epoch of India&#8220;, menjadi salah satu tonggak penting dalam mengungkap hubungan ini. Tim tersebut meneliti fosil Indohyus, mamalia kecil mirip rusa yang hidup sekitar 48 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Kashmir, India. Indohyus termasuk dalam famili raoellid, kelompok artiodaktil atau mamalia berkuku genap yang telah punah. Analisis struktur tulang telinga bagian dalam pada fosil Indohyus menunjukkan kemiripan dengan struktur yang ditemukan pada paus purba, sebuah ciri anatomi yang disebut involucrum. Struktur ini tidak ditemukan pada mamalia darat lain, sehingga menjadi penanda kuat hubungan kekerabatan. Rekonstruksi Indohyus, mamalia mirip rusa dari famili raoellid yang hidup sekitar 48 juta tahun lalu di wilayah Kashmir, India. Fosil hewan ini menjadi salah satu bukti kunci yang menghubungkan garis keturunan paus dengan artiodaktil. Ilustrasi: Nobu Tamura (spinops.blogspot.com), Own work / CC BY-SA, via Wikimedia Commons&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 11:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07084941/WhatsApp-Image-2026-07-06-at-16.51.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di lahan luas dengan tumpukan sampah kering ini bakal bertahan dan sulit padam. &#8220;Warga sekitar takutnya kayak TPA yang di Kota Tangerang kebakar sampai berhari-hari,&#8221; kata  Candra, warga sekitar, saat Mongabay hubungi. Dia khawatir kepulan asap pekat yang membumbung tinggi berdampak buruk bagi kesehatan warga sekitar. Apalagi, material di TPA ini bukan hanya satu jenis. &#8220;Kalau lama takutnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Saya ada anak kecil juga makanya mau diungsikan dulu sebelum padam.&#8221; Pemerintah Kabupaten Tangerang menurunkan 30 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ahmad Ruslan, Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan BPBD, bilang,   setidaknya enam unit awal armada kebakaran ke lokasi. Api di TPA katanya, masih cukup besar berkobar di area gunungan sampah. Petugas berupaya menembus titik api di tengah tumpukan sampah. &#8220;Kondisi lokasi menyulitkan proses pemadaman,&#8221; katanya, 30 Juni. Ujat Sudrajat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Banten, menyebut luasan kebakaran di TPA sekitar dua hektar. Dugaan awal, titik kemunculan api dari sebelah utara lokasi penimbunan sampah. Kondisi kebakaran, katanya, makin parah karena  cuaca ekstrem dengan suhu panas matahari dan angin kencang yang memperluas rambatan api. &#8220;Angin hembusannya cukup kencang, sehingga  menyulitkan berkejaran dengan petugas untuk dalam proses pemadaman,&#8221; katanya. Situasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Uncal Enggano, Mengapa Burung Endemik Ini Penting bagi Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 09:08:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07090017/Uncal-Enggano-Barok-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bulunya didominasi cokelat keabu-abuan. Suaranya juga tidak memikat, layaknya jenis burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang biasa, ia turut menjalankan peran luar meregenerasi hutan. Namanya uncal enggano, avifauna yang hanya bisa dijumpai di pulau yang secara internasional diakui sebagai daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas). Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/">Uncal Enggano, Mengapa Burung Endemik Ini Penting bagi Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bulunya didominasi cokelat keabu-abuan. Suaranya juga tidak memikat, layaknya jenis burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang biasa, ia turut menjalankan peran luar meregenerasi hutan. Namanya uncal enggano, avifauna yang hanya bisa dijumpai di pulau yang secara internasional diakui sebagai daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas). Pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Luasnya sekitar 40 ribu hektar. Zulvan Zaviery, pegiat lingkungan Pulau Enggano, mengatakan meski lebih dikenal sebagai penghuni hutan, Macropygia cinnamomaea juga mampu beradaptasi dengan bentang alam yang berubah. “Kini juga sering terlihat di kebun-kebun warga yang berbatasan dengan hutan,” jelasnya, Minggu (5/7/26). Ketika berada di kawasan hutan, burung dengan persebaran terbatas ini lebih sering terlihat berpasangan. Namun, hal berbeda terlihat ketika mencari makan di lahan pertanian, akan tampak  beberapa individu dalam satu lokasi. Burung ini menyukai jagung, padi, dan pisang. Di hutan, jenis yang masih satu keluarga dengan merpati ini lebih menyenangi buah-buahan liar. “Salah satunya, buah dari pohon nelung (nama lokal) yang buahnya kecil, sebesar jagung.” Uncal enggano merupakan burung yang hanya ditemukan di Pulau Enggano. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Menanam hutan tanpa disadari Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, menjelaskan, peran uncal di pulau terluar itu sangat penting, karena tidak banyak burung yang menjalankan fungsi ekologis di hutan. “Di Enggano hanya ada satu spesies uncal, sehingga fungsinya sangat sentral,” terangnya, Minggu (5/7/2026). Karakter burung yang dada dan tubuh atas seolah bersisik ini, berbeda dengan jenis pemakan biji di lingkungan perkotaan. Burung ini lebih bergantung pada kondisi habitat alaminya. “Keberadaa hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/uncal-enggano-mengapa-burung-endemik-ini-penting-bagi-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Manusia Purba &#8220;Hobbit&#8221; dari Flores Diduga Makan Sisa Buruan Komodo, Bukan Hasil Berburu Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:52:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07025209/1280px-Homo_floresiensis_cave-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130205</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang hidup di Pulau Flores dan dijuluki &#8220;hobbit&#8221; karena tingginya hanya sekitar satu meter, dikenal sebagai pemburu yang cukup terampil. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua pada awal tahun 2000-an, spesies ini memang selalu memancing perdebatan di kalangan ilmuwan, sebab meski bertubuh kecil dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/">Manusia Purba &#8220;Hobbit&#8221; dari Flores Diduga Makan Sisa Buruan Komodo, Bukan Hasil Berburu Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil yang hidup di Pulau Flores dan dijuluki &#8220;hobbit&#8221; karena tingginya hanya sekitar satu meter, dikenal sebagai pemburu yang cukup terampil. Sejak fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua pada awal tahun 2000-an, spesies ini memang selalu memancing perdebatan di kalangan ilmuwan, sebab meski bertubuh kecil dan berotak jauh lebih kecil dibanding manusia modern, mereka justru dikaitkan dengan kemampuan yang cukup mengejutkan. Penelitian-penelitian awal, misalnya, mengaitkan Homo floresiensis dengan perburuan hewan besar, terutama gajah kerdil yang sudah punah, Stegodon florensis insularis, hewan yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh mereka sendiri. Tidak berhenti di situ, sejumlah bukti yang ditemukan di lokasi yang sama juga sempat ditafsirkan sebagai tanda bahwa mereka sudah mengenal dan mampu menggunakan api, sebuah kemampuan kognitif yang tergolong maju untuk spesies dengan volume otak sekecil itu. Perbandingan replika tengkorak Homo floresiensis (kiri) dengan tengkorak manusia modern (kanan). Perbedaan ukuran tengkorak ini menggambarkan bagaimana volume otak Homo floresiensis jauh lebih kecil dibanding manusia modern, meski begitu spesies ini sempat dianggap memiliki kemampuan berburu yang cukup maju. Kredit: Avandergeer/Wikimedia Commons (CC BY 3.0) Namun gambaran itu kini mulai dipertanyakan setelah sebuah studi yang terbit di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa kemampuan berburu Homo floresiensis mungkin tidak sehebat yang dikira. Sebagian besar daging yang mereka makan kemungkinan berasal dari bangkai yang sudah lebih dulu disantap komodo (Varanus komodoensis). Jejak di Gua Liang Bua Tim yang dipimpin peneliti dari National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, memeriksa lebih dari 3.100 fragmen tulang Stegodon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/manusia-purba-hobbit-dari-flores-diduga-makan-sisa-buruan-komodo-bukan-hasil-berburu-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sesar Meratus, Waspada Potensi Gempa Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:40:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/03133756/Bentangan-Pegunungan-Meratus-dipotret-dari-puncak-Gunung-Halau-Halau-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130080</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lepas dari ancaman gempa. Stasiun Geofisika Balikpapan bahkan mencatat kenaikan signifikan kejadian dari 94 pada 2023 menjadi 238 pada 2024 dan 240 pada 2025. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah Sesar Meratus yang berpotensi gempa 7 magnitudo. Salah satu gempa kuat terjadi 13 Februari 2024 dengan magnitudo 4,8 dan berpusat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/">Sesar Meratus, Waspada Potensi Gempa Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lepas dari ancaman gempa. Stasiun Geofisika Balikpapan bahkan mencatat kenaikan signifikan kejadian dari 94 pada 2023 menjadi 238 pada 2024 dan 240 pada 2025. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah Sesar Meratus yang berpotensi gempa 7 magnitudo. Salah satu gempa kuat terjadi 13 Februari 2024 dengan magnitudo 4,8 dan berpusat di darat, sekitar 19 kilometer timur laut Banjarmasin, kedalaman 10 kilometer. Getarannya terasa di sejumlah daerah seperti Kabupaten Banjar, Tapin, Barito Kuala, dan Kota Banjarmasin dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI). Bahkan sampai ke Kabupaten Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, intensitas II–III MMI. Lalu, pada 4 Desember 2025  mengguncang sekitar 95 kilometer barat daya Kabupaten Tanah Laut dengan magnitudo 4,9 di kedalaman tiga kilometer. Tidak menimbulkan kerusakan berarti, tapi getarannya terasa hingga Banjarbaru, dengan intensitas II–III MMI. Rasmid, Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, mengatakan, gempa di Kalsel tidak lepas dari keberadaan Sesar Meratus yang  aktif. Untuk memantau pergerakannya, terpasang lima seismograf di sepanjang jalur itu. &#8220;Dari hasil monitoring, aktivitas gempa yang dihasilkan sesar ini cukup sering terdeteksi setiap bulan,&#8221; katanya, Selasa (16/6/26). Hasil kajian sementara, katanya, Sesar Meratus merupakan sesar naik (thrust fault) dengan panjang sekitar 110 kilometer. Mengacu perumusan Wells dan Coppersmith (1994), berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 7 apabila seluruh segmennya bergerak bersama. &#8220;Berpotensi menimbulkan dampak yang cukup luas karena lokasinya di daratan. Namun tingkat kerusakan tetap bergantung pada karakteristik geologi di masing-masing wilayah.&#8221; Dia bilang, karakteristik tanah dan batuan di bawah permukaan berperan besar dalam menentukan seberapa kuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/sesar-meratus-waspada-potensi-gempa-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebah dan Tawon Pernah Memiliki Garis Keturunan yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 02:13:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053510/Madu-7722-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130196</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah lebah dan tawon berbeda? Mengutip Paleontological Research Institution, awalnya mereka memiliki leluhur yang sama, namun berpisah sejak 120 juta tahun silam. Lebah hingga kini masih setia mencari madu bunga, sementara tawon tetap sebagai serangga pemburu sebagaimana leluhurnya yang karnivora. Paling mudah membedakan tawon dan lebah dengan cara melihat fikik keduanya. Lebah penampakannya agak bulat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/">Lebah dan Tawon Pernah Memiliki Garis Keturunan yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah lebah dan tawon berbeda? Mengutip Paleontological Research Institution, awalnya mereka memiliki leluhur yang sama, namun berpisah sejak 120 juta tahun silam. Lebah hingga kini masih setia mencari madu bunga, sementara tawon tetap sebagai serangga pemburu sebagaimana leluhurnya yang karnivora. Paling mudah membedakan tawon dan lebah dengan cara melihat fikik keduanya. Lebah penampakannya agak bulat dan berbulu sedangkan tawon langsing dan tidak berbulu. John Capinera (2008), mewakili tim dari Universitas Florida, Amerika, dalam Encyclopedia of Entomology, menjelaskan bahwa lebah tidak seperti serangga herbivora. Ia hanya makan serbuk sari. Perubahan pola makan yang terjadi pada leluhur lebah itu diikuti evolusi rambut tubuh, juga kaki belakang atau permukaan perut ventral yang membawa serbuk sari dalam jumlah besar. Nasib lebah lebih baik dibandingkan tawon. Ketika ada lebah terperangkap maka ia dibiarkan terbang, sementara ketika kejadian yang sama terjadi pada tawon, ia akan diburu. Padahal, keduanya sama-sama penting bagi ekosistem alam. Berdasarkan survei di 46 negara, tawon mendapatkan pandangan negatif meski memiliki manfaat ekologis di Bumi. Tawon diposisikan lebih bawah dibandingkan lalat. Sementara posisi lebah, mendapat tingkat emosi tertinggi mengalahkan kupu-kupu. Hal lain adalah perbedaan bentuk tubuh lebah dan tawon berkaitan dengan kebiasaan makan mereka. Jenis tawon jaket kuning dengan bentuk aerodinmis dan pingging berisi, sangat sesuai menangkap serangga atau terbang cepat mengambil makanan dari koloni yang lain. Sementara lebah madu tidak perlu memiliki kemampuan terbang tinggi. Hal paling dibutuhkan adalah terbang dari satu bunga ke bunga lain. Bentuk perutnya yang bulat dan berambut sangat sesuai dengan karakter bunga yang disinggahi karena membantu penyerbukan. Lebah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/lebah-dan-tawon-pernah-memiliki-garis-keturunan-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Sampah Jakarta dan Pemenuhan Hak Anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 00:31:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Theo Filius Manurung*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/25180330/Bantargebang-Azam--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130189</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masalah sampah di Jakarta sudah bukan hanya soal kebersihan. Kondisinya makin memprihatinkan sudah meningkat menjadi masalah lingkungan, kesehatan, dan keadilan sosial. Pada 2025, rata-rata volume sampah dari Jakarta yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai 7.354 ton per hari. Total keseluruhan sampah ke sana mencapai 2,68 juga ton sepanjang tahun itu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/">Opini: Sampah Jakarta dan Pemenuhan Hak Anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masalah sampah di Jakarta sudah bukan hanya soal kebersihan. Kondisinya makin memprihatinkan sudah meningkat menjadi masalah lingkungan, kesehatan, dan keadilan sosial. Pada 2025, rata-rata volume sampah dari Jakarta yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai 7.354 ton per hari. Total keseluruhan sampah ke sana mencapai 2,68 juga ton sepanjang tahun itu. . Dampak dari pengelolaan sampah yang belum tepat ini bukan hanya membahayakan TPST Bantar Gebang. Wilayah itu sudah berulang kali mengalami longsor sampah, bahkan sampai menelan korban jiwa. Selain di Bantar Gebang sendiri, di wilayah lain terjadi penyumbatan saluran air, sungai tercemar, banjir, kualitas udara memburuk, dan masih banyak persoalan lain. Satu contoh, di pesisir seperti Jakarta Utara, kondisi bisa lebih buruk lagi. Dengan karakteristik wilayah yang dekat dengan muara dan laut, penduduk jadi rentan mengalami banjir dan rob yang makin buruk dari waktu ke waktu. Bagi pemukiman padat di bantaran sungai, sering kali juga harus berhadapan dengan muara berisi sampah dari wilayah yang letaknya lebih tinggi. Puluhan anak muda bermain permainan kartu rumah minim sampah di gelaran piknik asyik bebas plastik di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto : Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Data dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta 2025 melaporkan, 60% sampah Jakarta berasal dari rumah tangga. Sayangnya, pemahaman dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih terbatas pada kumpul-angkut-buang. Mayoritas orang melihat sampah sebagai sesuatu yang berhenti dengan dibuang dan tidak memiliki nilai ekonomi. Jika masyarakat bisa mengelola mandiri sampah dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan memaksimalkan operasional fasilitas waste to energy (WtE). Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/opini-sampah-jakarta-dan-pemenuhan-hak-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kajian Sebut Tekanan Zona Lindung Perparah Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 12:16:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03081943/Kayu-di-desa-Geudumbak-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130141</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus melakukan kajian terkait bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh, akhir tahun lalu. Kendati kehadiran siklon tropis senyar menjadi salagh satu pemicu, pemerintah masih mengkaji bagaimana faktor manusia turut memperparah dampak bencana. Widhi Handoyo, Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) katakan,  22 desa hilang akibat bencana ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/">Kajian Sebut Tekanan Zona Lindung Perparah Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus melakukan kajian terkait bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh, akhir tahun lalu. Kendati kehadiran siklon tropis senyar menjadi salagh satu pemicu, pemerintah masih mengkaji bagaimana faktor manusia turut memperparah dampak bencana. Widhi Handoyo, Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) katakan,  22 desa hilang akibat bencana ini. “Jika pada 2004, tsunami dari laut ke daratan, namun bencana Sumatera dan Aceh justru sebaliknya, datang dari hulu kemudian menyapu ke arah hilir. Sama-sama menyebabkan kerusakan yang sangat fatal,” katanya dalam webinar bertajuk Bencana Sumatera What’s Next?,  Rabu (22/4/26). Saat ini, katanya, KLH masih mengkaji apakah bencana tersebut hanya disebabkan faktor alam atau ada kontribusi kesalahan manusia. Baik pada aspek kebijakan rencana program atau implementasi di lapangan. Kajian berlangsung di tiga provinsi paling terdampak, yakni, Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Berdasarkan kajiannya, Widhi menemukan porsi luasan tekanan paling banyak pada kawasan perlindungan, ekosistem mangrove, dan cagar budaya. Sedangkan budidaya yang paling banyak mendapatkan tekanan ada di kawasan perikanan, pertahanan keamanan dan pertambangan energi.  “Dari kajian yang dilakukan, tiga kawasan mendapat tekanan tertinggi paling lebar,” ujarnya. Menurut Widhi, tata ruang, seharusnya menjadi acuan dalam melakukan pengembangan suatu wilayah. Saat ini, pemerintah tengah mengecek kesenjangan antara perencanaan yang dilakukan dengan implementasi di lapangan. Termasuk penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Selain itu, pemerintah kini juga tengah mengevaluasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (JLHS) di ketiga provinsi. Hal itu dilakukan untuk menentukan apakah ada kesenjangan antara proses pelaksanaan KLHS dengan norma peraturan antara lain PP 46&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kajian-sebut-tekanan-zona-lindung-perparah-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kembali ke Habitat, Orangutan Kalimantan Hidup Bebas di Hutan Mesangat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 10:07:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/06100204/orangutan-kalimantan1_COP-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130174</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagus, Eboni, dan Ruby sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka kehilangan naluri liarnya, sehingga tidak mampu lagi memanjat pohon, mencari makan di hutan, maupun membuat sarang untuk bertahan hidup. Setelah menjalani rehabilitasi, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut dikembalikan ke habitat alaminya. Tepatnya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/">Kembali ke Habitat, Orangutan Kalimantan Hidup Bebas di Hutan Mesangat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagus, Eboni, dan Ruby sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka kehilangan naluri liarnya, sehingga tidak mampu lagi memanjat pohon, mencari makan di hutan, maupun membuat sarang untuk bertahan hidup. Setelah menjalani rehabilitasi, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut dikembalikan ke habitat alaminya. Tepatnya, di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Selasa (23/6/26). Wilayah ini dipilih karena tutupan hutannya yang baik dan pakan alaminya melimpah. M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, mengatakan, saat pertama kali diselamatkan, kondisi ketiganya hampir sama. Terlalu lama hidup sebagai satwa peliharaan, membuat kemampuan dasar bertahan hidup mereka di alam liar menghilang. Bagus dievakuasi dari Desa Merabu, Kabupaten Berau, pada September 2020. Eboni diselamatkan dari peliharaan warga di Desa Long Beliu, Berau, pada April 2022. Ruby dievakuasi dari Desa Persiapan Sekurau Atas, Kabupaten Kutai Timur, pada April 2024. &#8220;Mereka tidak tahu cara memanjat, mencari makan sendiri, bahkan membuat sarang. Kemampuan itu harus dipelajari kembali melalui proses rehabilitasi,&#8221; jelasnya, Jumat (26/6/26). Setelah menjalani rehabilitasi, orangutan kalimantan ini dikembalikan ke habitatnya, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Foto: Dok. COP Mereka dititipkan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Ketiganya menjalani rangkaian tahapan rehabilitasi, mulai pemeriksaan kesehatan, mengikuti sekolah hutan, hingga masa adaptasi empat bulan di pulau pra-pelepasliaran yang dirancang menyerupai habitat alami. “Sebelum dilepasliarkan, sifat liar mereka harus kembali muncul.” Selama masa adaptasi, mereka mampu hidup mandiri. &#8220;Hasil penilaian menunjukkan ketiganya sehat dan memiliki kembali naluri liarnya sehingga layak dikembalikan ke habitat alami.&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/kembali-ke-habitat-orangutan-kalimantan-hidup-bebas-di-hutan-mesangat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Batang Sedekah Laut di Tengah Kerusakan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jul 2026 01:30:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05212126/20260628_111644-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Teriknya mentari tidak menyurutkan masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), berkumpul di siang bolong. Minggu (28/6/26) itu. Mereka duduk mengelilingi makanan yang akan mereka perebutkan. Seorang lelaki paruh baya memimpin doa dengan hikmat. Warga menengadah tangan, turut berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan alam sumber penghidupan mereka. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Warga Batang Sedekah Laut di Tengah Kerusakan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Teriknya mentari tidak menyurutkan masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), berkumpul di siang bolong. Minggu (28/6/26) itu. Mereka duduk mengelilingi makanan yang akan mereka perebutkan. Seorang lelaki paruh baya memimpin doa dengan hikmat. Warga menengadah tangan, turut berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan alam sumber penghidupan mereka. Saat doa selesai, warga memperebutkan makanan yang mereka percayai sebagai berkah. Sementara replika kapal kecil berwarna merah putih yang bermuatan hasil laut nelayan angkut ke kapal mereka. Acara itu merupakan sedekah untuk laut Batang. Lalu, iring-iringan kapal melaju satu persatu melepas sedekah itu ke laut. “Harapannya kami para nelayan mencari nafkah di laut gak ada gangguan. Entah itu kapal tongkang atau kendala lain. Tetap jaga laut dan pesisir di Roban Timur,” kata Hariyono, nelayan Batang. Vina, perempuan nelayan Batang ungkap harapan serupa. “Semoga laut tetap memberikan penghidupan bagi kami warga pesisir. Ikan banyak dan melimpah,  hidup lebih baik,” ujarnya. “Kami tetap bersyukur, tetap sedekah, meski laut sudah gak seperti dulu waktu saya kecil. Ikan melimpah, melaut sekarang harus jauh,” kata Tono, warga Roban Timur. Abdul, tokoh desa sebut meski kondisi laut di pesisir Batang sudah berbeda. Tradisi tetap jalan karena sudah ada secara turun temurun. “Tradisi sudah ada sejak kita belum lahir. Ini wujud syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diberikan. Doa-doa kami panjatkan. Semoga warga Roban Timur selalu sejahtera meski kondisi sangat sulit.” Ratusan warga Roban Timur berkumpul, duduk mengelilingi makanan dan berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/06/warga-batang-sedekah-laut-di-tengah-kerusakan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Proyek Karbon di Jambi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 23:11:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05230336/Hutan-di-wilayah-adat-Marga-Serampas-di-Kabupaten-Merangin-Jambi.dok_.FWI_-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130156</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Hutan di Jambi itu milik masyarakat adat, mereka yang menjaga dan merawatnya. Ketika hutan itu masuk pasar karbon global senilai triliunan rupiah, mereka justru tak tahu. Salah satu yang  Masyarakat Adat Batin Sembilan di Dusun Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, alami. Mereka  tak tahu kalau hutan yang mereka jaga turun-temurun sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/">Menyoal Proyek Karbon di Jambi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Hutan di Jambi itu milik masyarakat adat, mereka yang menjaga dan merawatnya. Ketika hutan itu masuk pasar karbon global senilai triliunan rupiah, mereka justru tak tahu. Salah satu yang  Masyarakat Adat Batin Sembilan di Dusun Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, alami. Mereka  tak tahu kalau hutan yang mereka jaga turun-temurun sudah pemerintah perjualbelikan di pasar karbon global. “Dak ngerti kami, apo itu karbon, apo itu BioCF, malah baru dengar ini,” kata Yunani,  warga Batin Sembilan, pertengahan Januari lalu. Jambi menjadi satu-satunya provinsi di Sumatera yang terpilih untuk menjalankan proyek BioCarbon Initiative for Sustainable Forest Landscape (BioCF-ISFL). Ini  proyek pendanaan karbon berbasis yuridiksi dengan dukungan pemerintah donor, seperti Jerman, Norway, Swiss, Inggris, Amerika dan dikelola Bank Dunia. Dia bilang, pemerintah tak pernah sosialisasi terkait proyek BioCF maupun perdagangan karbon. “Setahu kami dak ado,” kata Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo itu. Bagi perempuan adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar lanskap hijau. Hutan adalah ruang hidup. Tempat berladang, mencari rotan dan menjaga sumber air. Namun, hutan Batin Sembilan Kelompok Simpang Macan Luar telah terkaveling izin perkebunan sawit PT Berkat Sawit Utama dan konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) jadi kawasan restorasi ekosistem,  Hutan Harapan. Selebihnya terbabat para perambah. Saat ini,  Kelompok Simpang Macan Luar, hidup di dalam Hutan Harapan. Mereka mengelola 399 hektar hutan dengan skema kemitraan dengan Reki. Mereka tak bisa membuka kebun baru, merambah dan mempertahankan setiap jengkal tutupan hutan yang tersisa. Di Desa Lubuk Beringin, Kabupaten Merangin, Kecamatan Muara Siau, Merangin, pengelola hutan desa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/menyoal-proyek-karbon-di-jambi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gempa Sulawesi Tengah,  Sesar Sausu Masih Minim Kajian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 21:36:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05213134/Gempa-Sulteng-2026-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130145</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong.  Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/">Gempa Sulawesi Tengah,  Sesar Sausu Masih Minim Kajian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Medio Juni lalu, gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki kedalaman 16 km, dengan episenter darat 42 km arah tenggara Palu, tepatnya di Torue, Parigi Moutong.  Ini jenis gempa dangkal karena aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Sesar ini masih terbilang minim kajian. “Hasil analisis BMKG mencatat, guncangan gempa bumi ini melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas yang bervariasi,” kata Nelly Florida Riama,  Deputi Bidang Geofisika BMKG, dikutip dari rilis BMKG. Warga di Palolo, Sigi merasakan guncangan paling kuat pada skala VII MMI, sedang wilayah Torue dan Parigi Selatan menghadapi intensitas VI–VII MMI. Selain itu, guncangan berskala V–VI MMI meluas hingga ke Kota Sigi Biromaru dan Kota Palu, sedangkan Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu,  merasakan getaran skala IV–V MMI. Data BNPB per 18 Juni, sedikitnya ada 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terdampak. Dari jumlah itu, 1.991 keluarga atau 6.418 jiwa berada di Sigi, 21 keluarga atau 40 jiwa di Parigi Moutong.  Tercatat tiga orang meninggal dunia di Sigi. Ada 15 korban luka berat dan 64 luka ringan. Gempa di Sulteng medio Juni lalu. Foto: BNPB Sesar yang jarang jadi sorotan Selama ini, ketika orang membicarakan ancaman gempa di Sulawesi Tengah, nama yang paling sering muncul adalah Sesar Palu-Koro—patahan aktif yang melintasi langsung Kota Palu dan pernah memicu gempa dahsyat disertai tsunami serta likuefaksi pada 2018.  Namun gempa kali ini punya biang keladi berbeda. Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/gempa-sulawesi-tengah-sesar-sausu-masih-minim-kajian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 13:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22035733/Gorilla4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130129</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan tekn, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Kera Besar dan Manusia Punya Pola Tawa yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kera besar maupun manusia punya cara yang sama dalam hal tertawa. Sama-sama dihasilkan melalui siklus napas pendek berulang yang memicu getaran pita suara. Keduanya pun menampilkan pola vokalisasi yang ritmis. Sama seperti manusia, tawa pada kera besar punya fungsi sosial. Misalnya, untuk memperkuat ikatan kelompok. Tawa pada kera besar pun menular. Maksudnya, jika seekor kera tertawa, maka bisa memicu tawa individu lain. Sama seperti yang dijumpai pada manusia. Di mata peneliti, ini bukan fenomena biasa. Evolusi morfologi memang bisa dilacak dari fosil yang disingkap dari dalam tanah. Tapi bagaimana melacak asal-usul vokal, ucapan, dan bahasa manusia? Kita jelas tidak mungkin mengamati secara langsung keterampilan vokal nenek moyang manusia, karena mereka sudah punah. “Studi komparatif tentang perilaku kera besar (non-manusia) -kerabat terdekat kita yang masih hidup- memberikan satu-satunya model yang masih ada dari kapasitas vokal dan fungsi adaptif yang punah milik nenek moyang manusia,” tulis Chiara De Gregorio, mewakili tim peneliti di artikel sebuah jurnal. Dia adalah doktor yang berafiliasi dengan Departemen Psikologi, Universitas Warwick, Coventry, Inggris. Penelitian mereka ingin menjawab hal itu. Laporannya kemudian diterbitkan di jurnal Nature Communications Biology, Juni 2026, berjudul “Rhythm and timing in laughter reveal that human vocal plasticity falls on a hominid continuum.” &#8220;Bertentangan dengan gagasan klasik bahwa manusia pertama tiba-tiba memperoleh kapasitas kontrol vokal yang sangat berbeda dari pendahulunya. Evolusi tawa memberi tahu kita bahwa manusia terletak pada kontinum, perpanjangan kapasitas kontrol vokal yang sudah diasah secara kumulatif selama 15 juta tahun,&#8221; ungkap Adriano Lameria, peneliti lain rekan De Gregorio dari universitas yang sama,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/kera-besar-dan-manusia-punya-pola-tawa-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jul 2026 11:51:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/05114821/Hydrophis_platurus_32924548-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130134</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Hydrophis platurus, Kerabat Ular Kobra yang Menghabiskan Seluruh Hidupnya di Laut Lepas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebanyakan ular menghabiskan hidupnya di darat, sebagian lain hidup di air tawar atau bolak-balik antara laut dan daratan. Namun ada satu spesies yang benar-benar memutus hubungannya dengan daratan sama sekali. Ular laut perut kuning, dengan nama ilmiah Hydrophis platurus, adalah satu-satunya reptil dari ordo Squamata yang bersifat pelagis, yaitu hidup mengapung dan berenang di kolom air laut terbuka, jauh dari dasar laut maupun garis pantai, sepanjang hidupnya tanpa pernah menyentuh daratan sekali pun. Spesies yang dahulu diklasifikasikan sebagai Pelamis platurus ini bukan sekadar ular yang pandai berenang. Secara taksonomi, ular ini termasuk famili Elapidae, sekelompok dengan ular kobra dan weling yang dikenal luas di daratan. Namun berbeda dari kerabatnya itu, spesies ini sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di air dan tidak lagi bergantung pada daratan sama sekali. Berdasarkan catatan Guinness World Records, ular laut perut kuning tercatat sebagai ular perenang tercepat di dunia, dengan kecepatan hingga 1 meter per detik untuk jarak pendek. Kecepatan ini penting bagi kelangsungan hidupnya, baik untuk menghindari predator maupun saat berburu ikan di permukaan laut. Namun kemampuan ini berbanding terbalik dengan kemampuannya di darat. Tubuhnya tidak lagi memiliki otot dan struktur yang memadai untuk menopang berat badan atau bergerak secara efektif di permukaan padat, sehingga jika terdampar di pantai, ular ini kesulitan bergerak dan rentan terhadap dehidrasi maupun predator. Satu-satunya Ular Laut yang Sepenuhnya Pelagis Keunikan utama yang membedakan spesies ini dari ular laut lain adalah sifat pelagisnya yang total. Sebagian besar ular laut lain, seperti kelompok ular belang laut (Laticauda spp.), masih naik ke daratan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/05/hydrophis-platurus-kerabat-ular-kobra-yang-menghabiskan-seluruh-hidupnya-di-laut-lepas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>