<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=fransisca-n-tirtaningtyas-aceh&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/fransisca-n-tirtaningtyas-aceh/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 07 Apr 2026 12:46:36 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Lebih Tua dari T-Rex: Gegat Adalah Serangga Tertua di Dunia yang Hidup di Rumah Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 12:46:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/07124123/IMG_1473-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126208</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gagat api atau Lepisma saccharinum merupakan spesies serangga dari ordo Zygentoma yang memiliki catatan sejarah evolusi sangat panjang. Di Indonesia, serangga kecil berwarna perak metalik ini sering ditemukan di area dengan tingkat kelembapan tinggi, seperti gudang penyimpanan buku atau sudut lemari pakaian. Meskipun sering dianggap sebagai hama pemukiman karena aktivitas makannya yang merusak material berbasis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/">Lebih Tua dari T-Rex: Gegat Adalah Serangga Tertua di Dunia yang Hidup di Rumah Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gagat api atau Lepisma saccharinum merupakan spesies serangga dari ordo Zygentoma yang memiliki catatan sejarah evolusi sangat panjang. Di Indonesia, serangga kecil berwarna perak metalik ini sering ditemukan di area dengan tingkat kelembapan tinggi, seperti gudang penyimpanan buku atau sudut lemari pakaian. Meskipun sering dianggap sebagai hama pemukiman karena aktivitas makannya yang merusak material berbasis pati, gagat api secara biologis merupakan saksi hidup perkembangan kehidupan di bumi yang telah ada jauh sebelum kemunculan dinosaurus. Kehadiran gegat di dalam ruangan sering kali menjadi indikator alami tingkat kelembapan yang tinggi. Sebagai penyintas kepunahan massal, mereka adalah ahli dalam menemukan sumber mikronutrisi di lingkungan yang paling ekstrem sekalipun. Foto: Christian Fischer/Wikimedia Commons. Secara taksonomi, gagat api diklasifikasikan sebagai serangga primitif yang tidak mengalami perubahan morfologi signifikan selama jutaan tahun. Keberhasilan mereka bertahan hidup melintasi berbagai periode kepunahan massal menjadi subjek penelitian yang menarik dalam bidang entomologi dan biologi evolusi. Dengan struktur tubuh yang sederhana namun sangat adaptif, makhluk ini mampu menempati berbagai relung ekologi, mulai dari ekosistem hutan alami hingga lingkungan antropogenik yang diciptakan oleh manusia. Memahami karakteristik biologi mereka memberikan wawasan penting mengenai strategi pertahanan hidup spesifik yang memungkinkan suatu spesies bertahan dalam jangka waktu geologis yang sangat lama. Jejak Evolusi yang Melampaui Era Dinosaurus Gagat api termasuk dalam kelompok serangga yang secara filogenetik sangat primitif. Berdasarkan catatan fosil dan analisis genetik terbaru, nenek moyang mereka diperkirakan sudah ada sejak periode Devonian, yakni sekitar 400 juta tahun yang lalu. Sebagai perbandingan, dinosaurus ikonik seperti Tyrannosaurus rex baru muncul pada periode Kapur, sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika Serikat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 07:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232758/DAMPAK-PERUBAHAN-IKLIM-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup indonesia (Walhi) mengkritik perjanjian perdagangan resiprokal atau agreement on reciprocal trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Organsasi lingkungan ini menilai, kesepakatan itu tak seimbang dan berisiko tekan sumber lokal karena gempuran pangan impor, kerusakan lingkungan dan berdampak bagi  kehidupan perempuan. “Lebih dari sekadar tarif, perjanjian ini juga mendorong perubahan kebijakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/">Waswas Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup indonesia (Walhi) mengkritik perjanjian perdagangan resiprokal atau agreement on reciprocal trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Organsasi lingkungan ini menilai, kesepakatan itu tak seimbang dan berisiko tekan sumber lokal karena gempuran pangan impor, kerusakan lingkungan dan berdampak bagi  kehidupan perempuan. “Lebih dari sekadar tarif, perjanjian ini juga mendorong perubahan kebijakan domestik yang melemahkan kedaulatan negara dan memperluas ruang bagi kepentingan asing,” kata Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional Walhi,  dalam diskusi publik bertajuk Bacaan Dampak Perjanjian Dagang Resiprokal terhadap Lingkungan dan Perempuan, 9 Maret lalu. Dia menilai, ART mengancam hak perempuan, memperparah feminasi kemiskinan, memperdalam ketimpangan agraria, serta meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender. Perjanjian itu mewajibkan Indonesia belanja hingga US$33 miliar ke AS, termasuk impor komoditas pangan seperti gandum dan kedelai. Sejumlah pasal dalam perjanjian itu, juga membuka peluang perusahaan AS memiliki kepemilikan penuh dalam sektor energi dan pertambangan di kawasan hutan Indonesia. Mida bilang, ketidakseimbangan terlihat dari sekitar 214 frasa yang menyatakan kewajiban Indonesia. Dari sisi AS, hanya sekitar sembilan poin. Selain itu, hanya sekitar 5% pasal di perjanjian ini yang mengatur soal tarif perdagangan. Sisanya, 95%, mengatur kebijakan non-tarif. Padahal, Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan AS. Misal, pada 2025, ekspor Indonesia ke AS sekitar US$35,96 miliar, sedangkan ekspor AS ke Indonesia hanya sekitar US$12,8 miliar. “Surplus Indonesia mencapai sekitar US$23 miliar.” Namun, melalui perjanjian ini, AS berupaya mengatasi defisit perdagangan tersebut dengan membuka pasar lebih luas bagi produk mereka di Indonesia. Perjanjian ini, katanya, memaksa pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Asa Tarsius Bangka di Gunung Menumbing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 04:06:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010554/Mentilin-salah-satu-satwa-langka-yang-masih-mudah-ditemui-di-Bukit-Peramun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126193</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/">Menjaga Asa Tarsius Bangka di Gunung Menumbing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), Teddy Toriko (49), dan Narto (44) mendampingi Mongabay Indonesia memasuki kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Menumbing yang luasnya 3.300 hektar. Mereka adalah petugas Pamhut (Pengamanan Hutan) Tahura Gunung Menumbing. “Hutan ini habitatnya mentilin,” kata Narto, saat di hutan yang tidak jauh dari sebuah aliran sungai kecil. “Kalau ingin melihat mentilin harus malam hari dan sehabis hujan. Siang hari mereka sulit terlihat, mungkin karena ukurannya yang kecil dan tengah istirahat,” lanjutnya. Meskipun belum ada data pasti populasi mentilin di Gunung Menumbing, Narto memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu. “Semoga mereka hidup aman di sini dan populasinya terjaga.” Mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus) yang menjadikan Tahura Gunung Menumbing sebagai habitatnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Mentilin atau dikenal juga sebagai Horsfield&#8217;s Tarsier, adalah primata nokturnal mungil yang bermata besar dan memiliki kaki belakang panjang untuk melompat secara vertikal. “Mentilin sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai satwa endemik Pulau Bangka maupun endemik Indonesia. Mengingat, distribusinya juga mencakup wilayah Malaysia dan bagian lain di Indonesia,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dan dosen di Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam [KSDA], Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (1/4/2026). Dijelaskan Randi, secara ekologis, Tahura Gunung Menumbing memiliki kesesuaian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El-Nino &#8216;Godzilla&#8217;, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 03:06:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/01034456/WhatsApp-Image-2026-03-31-at-20.42.15-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=126166</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Fenomena El Nino ‘Godzilla’ akan menguat di bulan April-Oktober 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Ancaman kekeringan dan kebakaran lahan kian mengintai.  Anomali pemanasan suhu permukaan yang sangat signifikan menjadi salah satu kejadian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/">El-Nino &#8216;Godzilla&#8217;, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Fenomena El Nino ‘Godzilla’ akan menguat di bulan April-Oktober 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Ancaman kekeringan dan kebakaran lahan kian mengintai.  Anomali pemanasan suhu permukaan yang sangat signifikan menjadi salah satu kejadian krisis iklim yang makin sering kita rasakan. Kejadian lingkungan tak pernah berhenti selama aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan dan sikap serakah terus terjadi. Bulan Maret ini banyak kejadian bagaimana kejadian alam tak lepas dari hubungannya dengan manusia. Salah satunya, spesies ular beludak di Gunung Muria yang terancam akibat minimnya pengetahuan masyarakat terkait karakternya. Alih-alih berbahaya dan mengancam, ular ini justru pengendali ekosistem yang baik. Selain itu, kita juga akan menceritakan tentang kerbau yang memiliki kemampuan unik. Salah satunya, kerbau rawa di Kalimantan Selatan. Berbeda dengan kebiasaannya untuk membajak sawah, kerbau ini ternyata juga mampu menyelam.  Ada juga laporan investigasi yang mengungkap terkait kerugian negara akibat praktik tambang emas ilegal. Perputaran uang dari aktivitas ini mencapai Rp 992 Triliun atau mendekati seperempat APBN. Sementara itu, di industri perikanan, praktik kerja paksa masih ditemukan dalam rantai produksi tuna.  Selain cerita permasalahan lingkungan, ada cerita baik dari Jambi tentang perempuan-perempuan Komunitas Batin Sembilan yang merawat pengetahuan tentang pengobatan alami dari hutan. Ini tak hanya bicara tradisi, tapi ini upaya mereka mempertahankan hubungan mereka dengan alam.  Berikut lima artikel dalam bulan Maret dengan pembaca terbanyak melalui kurasi editorial: &nbsp; 1. Ular beludak, penjaga ekosistem Gunung Muria Ular beludak merupakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebijakan Tata Ruang Terus Kikis Ruang Hijau Batam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 01:58:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/07162454/Cuplikan-layar-2025-12-05-074607-768x511.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126141</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Kota Batam berubah sangat cepat, antara lain, hutan mangrove terus terkikis berubah jadi berbagai peruntukan. Semua itu tak lepas dari ambisi pemerintah jadikan pulau di wilayah barat Indonesia ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi melalui industri, perdagangan, dan logistik internasional.  Dokumen perencanaan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2021–2041 hingga Rencana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/">Kebijakan Tata Ruang Terus Kikis Ruang Hijau Batam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Kota Batam berubah sangat cepat, antara lain, hutan mangrove terus terkikis berubah jadi berbagai peruntukan. Semua itu tak lepas dari ambisi pemerintah jadikan pulau di wilayah barat Indonesia ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi melalui industri, perdagangan, dan logistik internasional.  Dokumen perencanaan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2021–2041 hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Batam terbaru memperlihatkan ambisi besar mulai dari perluasan kawasan industri, pengembangan pelabuhan, investasi, hingga reklamasi pesisir dalam skala luas. Pertanyaannya, apakah ruang Batam masih mampu menopang laju pembangunan itu? Terlihat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan ada tekanan serius terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan. Demikian antara lain bahasan dalam diskusi masyarakat sipil di Batam, akhir Maret lalu.  Dalam diskusi itu mereka banyak menyoroti aktivitas reklamasi, degradasi kawasan pesisir dan hutan, serta keterbatasan ruang terbuka hijau menjadi sinyal bahwa tata ruang Batam tidak sedang berjalan dalam kondisi ideal. Alih-alih, berbagai dampak yang timbul memperkuat sinyalemen bahwa aktivitas pembangunan telah jauh melampaui daya dukung dan daya tampung Batam. Hadir dalam kegiatan itu, Hendrik Hermawan, Pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI); Supriyanto, akademisi  Tata Ruang;  Nofita Putri Manik,  Direktur LsBH Mars Keadilan (MK), serta Wahyu Eka Setiyawan, Manajer Kampanye Perkotaan Berkeadilan &amp; Divisi Riset Eksekutif Walhi Nasional. Warga Rempang membentangkan spanduk penolakan relokasi PSN Rempang Eco City. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia Daya dukung terbatas Hendrik Hermawan mengatakan, perubahan tata ruang Batam tak lepas dari dua faktor utama, yakni,  pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Sebagai lokomotif ekonomi nasional di bagian barat Indonesia, Batam terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menakar Percepatan Penetapan Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 23:47:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[R. Yando Zakaria*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230639/Nikel-haltim-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126189</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Jadi dalam satu tahun ini dengan mencari pola, pattern yang baru, (diharapkan) pada tahun kedua nanti bisa akan lebih cepat lagi (kepastian hukum hutan adat lainnya). Hingga (harapannya) apa yang dikerjakan delapan tahun lalu, mungkin nanti bisa kami lampaui dalam waktu yang lebih pendek lagi,” kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan seperti dikutip dari Kantor Berita Antara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/">Opini: Menakar Percepatan Penetapan Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Jadi dalam satu tahun ini dengan mencari pola, pattern yang baru, (diharapkan) pada tahun kedua nanti bisa akan lebih cepat lagi (kepastian hukum hutan adat lainnya). Hingga (harapannya) apa yang dikerjakan delapan tahun lalu, mungkin nanti bisa kami lampaui dalam waktu yang lebih pendek lagi,” kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan seperti dikutip dari Kantor Berita Antara September tahun lalu. Data Kementerian Kehutanan 2025, dalam delapan tahun terakhir, penetapan hutan adat pemerintah hanya 160 unit, seluas 333.687 hektar, atau setara 20 unit per tahun. Pada masa Pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Rakka 2024-2029,  sasaran penetapan hutan adat 95 unit seluas 1.417.197 hektar hektar. Hutan adat seluas 1,4 jt hektar untuk 95 komunitas adat setara dengan 20 unit per tahun. Di mana letak percepatannya? Perlu dicatat, rendahnya capaian realisasi penetapan hutan adat dalam satu dekade terakhir mengidikasikan ada persoalan struktural (baca: kerangka kebijakan) yang menghadang upaya itu selama ini. Belajar dari pengalaman, syarat harus ada peraturan daerah dan, atau Surat Keputusan Bupati/Walikota yang menetapkan subyek dan obyek hak atas hutan adat, tidak mudah dipenuhi (Zakaria, 2024). Maka, sekadar mencari “pola baru” dalam struktur kebijakan yang menghambat itu, tentu mudah tergelincir menjadi upaya sia-sia belaka. Hutan adat yang terancam proyek pangan dan energi dan masyarakat adat terus bertahan. Foto: Yayasan Pusaka Beberapa kendala Menurut Kartodihardjo, et al. (2013), faktanya masyarakat tidak dapat memenuhi berbagai prosedur administrasi yang jadi syarat peraturan perundang-undangan turunan Putusan MK 35/2012 yang menjadi payung hukum penetapan hutan adat. Selain tidak sederhana, dalam praktik tidak ada standar baku dalam proses validasi dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak Revisi UU Kehutanan yang Berkadilan dan Berpihak Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 12:06:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073123/marena2-_MG_0335-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126061</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai organisasi masyarakat sipil mendorong revisi Undang-undang 41/199 tentang Kehutanan yang tengah berlangsung di DPR memastikan perlindungan  hutan dan kepentingan masyarakat. Karena, selama ini, penegakan hukum belum optimal dan cenderung menjerat rakyat kecil. Henri Subagyo, peneliti senior Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), mengatakan, negara lebih gesit dengan delik formil seperti menangkap warga yang membawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/">Desak Revisi UU Kehutanan yang Berkadilan dan Berpihak Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai organisasi masyarakat sipil mendorong revisi Undang-undang 41/199 tentang Kehutanan yang tengah berlangsung di DPR memastikan perlindungan  hutan dan kepentingan masyarakat. Karena, selama ini, penegakan hukum belum optimal dan cenderung menjerat rakyat kecil. Henri Subagyo, peneliti senior Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), mengatakan, negara lebih gesit dengan delik formil seperti menangkap warga yang membawa parang atau mengangkut kayu tanpa surat, ketimbang delik materiil seperti mengusut kerusakan hutan yang terlihat. Akibatnya, ada kegagalan menyasar kejahatan kehutanan yang terorganisir. “Aneh sekali. Kita bisa menerbangkan drone dan melihat hutan gundul di mana-mana secara kasat mata tetapi tidak ada tersangkanya,” katanya dalam diskusi  Koalisi Masyarakat Sipil Advokasi UU Kehutanan helat di Jakarta,  Maret lalu. Dia bilang, studi ICEL terhadap putusan pengadilan 2019-2024 ihwal penerapan UU 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H), menunjukkan penegakan hukum belum optimal. Hanya enam korporasi kena tindakan hukum, sedang dominan, atau 54 warga. Selama ini, katanya, aparat sering jadi satu-satunya pengendali sistem penegakan hukum hingga masyarakat sipil jarang terlibat. Karena itu, dia mendorong penguatan peran publik melalui akses informasi, partisipasi, dan mekanisme pengaduan. Revisi UU Kehutanan, jadi momentum untuk mendorong hal itu. Karena regulasi sebelumnya hampir tidak pernah membahas sistem pengaduan publik atau mekanisme partisipasi warga. “Penting juga hak menggugat secara administrasi. Keputusan penetapan kawasan hutan atau izin kehutanan seharusnya dapat dipersoalkan oleh masyarakat tanpa prosedur yang berbelit.” Mardi Minangsari, dari Perkumpulan Kaoem Telapak, menyatakan hal serupa. Dia bilang, peran publik jadi penting untuk pengawasan karena selama ini negara gagal mengawasi hutan. Salah satu alasan personil terbatas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan &#8220;Spider-man&#8221;, Ikan Kecil yang Sanggup Mendaki Dinding Batu Terjal Selama 10 Jam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 10:55:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/06104635/IMG_1460-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126183</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena migrasi ikan umumnya dipahami sebagai pergerakan horizontal di dalam air. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap perilaku luar biasa pada spesies ikan air tawar di Republik Demokratik Kongo. Ikan shellear (Parakneria thysi) tercatat mampu melakukan migrasi vertikal dengan memanjat dinding air terjun Luvilombo yang tegak lurus setinggi 15 meter. Temuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/">Ikan &#8220;Spider-man&#8221;, Ikan Kecil yang Sanggup Mendaki Dinding Batu Terjal Selama 10 Jam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena migrasi ikan umumnya dipahami sebagai pergerakan horizontal di dalam air. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap perilaku luar biasa pada spesies ikan air tawar di Republik Demokratik Kongo. Ikan shellear (Parakneria thysi) tercatat mampu melakukan migrasi vertikal dengan memanjat dinding air terjun Luvilombo yang tegak lurus setinggi 15 meter. Temuan ini menjadi dokumentasi formal pertama mengenai perilaku memanjat pada ikan di benua Afrika. Spesies ini memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, rata-rata hanya sepanjang 5 sentimeter atau seukuran sepotong kentang goreng. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dari Université de Lubumbashi dan Royal Museum for Central Africa, ribuan individu shellear terlihat merayap di permukaan batu di balik tirai air terjun. Secara teknis, pendakian ini merupakan pencapaian luar biasa bagi biota air karena mereka harus melawan gravitasi dan arus air secara bersamaan selama hampir 10 jam untuk mencapai puncak hulu. Mekanisme Adaptasi dan Anatomi Kemampuan memanjat layaknya &#8220;Spider-man&#8221; ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari adaptasi anatomi yang sangat spesifik. Ikan ini memiliki sirip pektoral khusus yang pada bagian depannya dilengkapi dengan susunan kait mikro. Struktur tersebut bekerja mirip dengan Velcro untuk mencengkeram permukaan batu yang licin di zona percikan air terjun. Selain itu, terdapat korset pektoral yang merupakan struktur tulang kuat untuk mendukung kerja otot besar yang dibutuhkan saat memanjat. Selama proses pendakian yang melelahkan, ikan juga menggunakan sirip pelvis sebagai penopang utama saat mereka berhenti sejenak untuk beristirahat di celah-celah batu. Tinjauan Spesies dan Lokasi Studi. (a) Spesimen hidup Parakneria thysi seukuran ~60 mm&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sains untuk Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 07:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/10/22055505/Nelayan-yang-mencari-ikan-di-Sungai-Lalan-yang-berbatasan-di-TN-Sembilang-yang-terdapat-mangrove.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengelolaan perikanan skala kecil di Indonesia, kini didorong untuk mengadopsi pendekatan berbasis sains dan teknologi. Keterbatasan data yang sering menjadi hambatan utama dalam merumuskan kebijakan di kawasan pesisir, mulai dicarikan solusi. Melalui pendekatan baru berbasis simulasi komputer yang memungkinkan pengujian strategi pemanfaatan atau harvest strategy sebelum diterapkan di lapangan, diharapkan dapat membantu nelayan pesisir menjaga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/">Sains untuk Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengelolaan perikanan skala kecil di Indonesia, kini didorong untuk mengadopsi pendekatan berbasis sains dan teknologi. Keterbatasan data yang sering menjadi hambatan utama dalam merumuskan kebijakan di kawasan pesisir, mulai dicarikan solusi. Melalui pendekatan baru berbasis simulasi komputer yang memungkinkan pengujian strategi pemanfaatan atau harvest strategy sebelum diterapkan di lapangan, diharapkan dapat membantu nelayan pesisir menjaga keberlanjutan stok ikan. Terutama, meningkatkan hasil tangkapan. Sektor perikanan pesisir yang sarat akan tangkapan multispesies dan alat tangkap beragam, minim akan data rentang waktu historis (time series) tangkapan yang lengkap. Ini berisiko meningkatkan ketidakpastian setiap perumusan tata kelola. Sementara, istilah harvest strategy terdengar teknis bagi masyarakat awam, terutama bagi nelayan kecil dan tradisional. Tri Ernawati, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, menjelaskan bahwa harvest strategy bukan aturan tunggal, melainkan sebuah ekosistem pengelolaan. Menurutnya, strategi ini kumpulan berbagai komponen saling terkait, mulai dari pemantauan (monitoring), pengkajian stok, hingga aturan pengendalian pemanfaatan atau harvest control rule (HCR). &#8220;Ini kesatuan kerangka kerja formal. Di dalamnya ada monitoring, ada pengkajian, dan yang paling krusial adalah aturan pengendalian. Tanpa aturan pengendalian yang jelas, pengelolaan tidak akan berjalan secara adaptif,&#8221; ujarnya dalam kuliah umum daring kolaboratif, bertajuk “Pengembangan dan Penerapan Kerangka Kerja Pengujian Simulasi Strategi Pemanfaatan untuk Perikanan Skala Kecil yang Dikelola Masyarakat” pada Jumat (27/3/2026). Pengelolaan perikanan tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan data atau data yang dianggap belum komprehensif. “Data yang ada bisa digunakan sebagai bahan baku untuk dikemas  dalam pengelolaan perikanan.” Nelayan kecil melakukan pengecatan perahunya yang rusak. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Adrian Hordyk, Kepala Teknologi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Begini Berbagai Modus Jual Beli Satwa Ilegal secara Online</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 05:04:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/06050222/Belingcat-foto--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126169</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satwa liar terus jadi target perdagangan baik di pasar konvensional, maupun di platform digital, seperti media sosial Facebook dan pasar daring. Investigasi Mongabay dan Bellingcat menemukan sejumlah trik dan modus para pelaku melancarkan aksinya, meski platform digital melarang aktivitas jual-beli satwa liar. Bagaimana modus mereka beraksi? Dalam investigasi Mongabay dan Belingcat, para pelaku memanfaatkan grup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/">Begini Berbagai Modus Jual Beli Satwa Ilegal secara Online</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satwa liar terus jadi target perdagangan baik di pasar konvensional, maupun di platform digital, seperti media sosial Facebook dan pasar daring. Investigasi Mongabay dan Bellingcat menemukan sejumlah trik dan modus para pelaku melancarkan aksinya, meski platform digital melarang aktivitas jual-beli satwa liar. Bagaimana modus mereka beraksi? Dalam investigasi Mongabay dan Belingcat, para pelaku memanfaatkan grup Facebook sebagai sarana jual-beli satwa liar ilegal. Nama grup disamarkan dengan sebutan ‘adopsi hewan peliharaan’  yang disertai nama daerah. Bellingcat menelusuri sedikitnya sembilan grup yang total anggota lebih 70.000 orang, dengan pelbagai nama, antara lain, Adopsi Musang Depok; Rumah Adopsi Musang Bogor &amp; sekitarnya; Adopsi Musang Depok Citayam dan sekitarnya. Ada juga grup bernama “Forum Jual Beli Hewan Bogor Barat,” salah satu anggota memposting iklan penjualan seekor rangkong badak yang berstatus rentan. Di grup itu lebih dari 200 posting iklan hanya dalam seminggu. Sebanyak 18 iklan menawarkan spesies berstatus rentan, seperti dua bayi owa Jawa dan berang-berang. Grup lain juga memperjualbelikan beragam spesies dilindungi, seperti bubut jawa, celepuk jawa, lutung jawa, binturong, dan rangkong kalung. Aktivitas ilegal ini berlangsung bertahun-tahun. Tiga dari sembilan grup sudah aktif di Facebook,  selama lima tahun. Empat grup lain aktif selama 12 bulan lebih, dua yang lain mulai 2025. Tangkapan layar iklan anak rangkong badak, spesies yang dilindungi dan berstatus rentan, diposting di Facebook pada 11 Juli 2025. Foto: Bellingcat. Gunakan kode Anggota grup menggunakan kode dalam bertransaksi secara online. Praktik ini untuk menghindari pemblokiran grup oleh Meta yang telah melarang perdagangan hewan di semua platformnya. Kode alfanumerik dipakai untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Daerah Tak Berdaya Hadapi Ekspansi Proyek Nasional?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 02:05:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013330/Pomalaa-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126162</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kajian Komunitas Teras tentang konflik tata ruang dan ekspansi proyek strategis nasional (PSN) di Sulawesi Tenggara (Sultra) memantik respons dari berbagai kalangan baik  pemerintah pusat, daerah, hingga organisasi masyarakat sipil. Pemerintah (pusat) klaim PSN sudah melalui mekanisme evaluasi berlapis dan menjadi kepentingan nasional.  Sisi lain, pemerintah daerah (pemda) merasa kerap tak terlibat sejak awal. Pemerintah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/">Daerah Tak Berdaya Hadapi Ekspansi Proyek Nasional?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kajian Komunitas Teras tentang konflik tata ruang dan ekspansi proyek strategis nasional (PSN) di Sulawesi Tenggara (Sultra) memantik respons dari berbagai kalangan baik  pemerintah pusat, daerah, hingga organisasi masyarakat sipil. Pemerintah (pusat) klaim PSN sudah melalui mekanisme evaluasi berlapis dan menjadi kepentingan nasional.  Sisi lain, pemerintah daerah (pemda) merasa kerap tak terlibat sejak awal. Pemerintah Sultra, misal, menyebut sejumlah PSN di wilayahnya muncul tanpa komunikasi memadai. “PSN itu tiba-tiba muncul. Kami di daerah tidak diberi informasi sejak awal. Tiba-tiba ada penambahan proyek, termasuk kawasan industri baru,” kata Nurfitrah Edyansyah, Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Sultra dalam diskusi kajian tentang konflik tata ruang dan ekspansi PSN di Jakarta, Kamis (12/3/26) . Kehadiran tiga kawasan industri baru dalam skema PSN di Sultra, katanya, tanpa proses konsultasi yang jelas. Akibatnya, pemda alami dilema. Terutama ketika wilayah yang direncanakan telah padat dengan izin atau ruang hidup masyarakat. “Kalau semua wilayah sudah masuk izin, lalu ditambah lagi PSN, pertanyaannya: masyarakat mau tinggal di mana?” katanya. Secara formal, pemda memang memiliki ruang untuk memberikan masukan, baik menerima dengan syarat maupun menolak dalam forum pembahasan teknis. Namun, dalam praktiknya, ruang tersebut sangat terbatas. Lokasi penambangan ilegal tanpa IUP dan Amdal di Desa Oko-Oko, Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Foto: Gakkum LHK Wilayah Sulawesi. Dalih pemerintah pusat Dedi Rohimat S, Perwakilan Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan, penetapan PSN tidak secara tiba-tiba. Dia bilang, ada tahapan evaluasi yang libatkan lintas kementerian. Dia berdalih, setiap PSN, melalui kajian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 09:46:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093443/Parijoto3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126156</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan tanaman lain, membentuk lanskap kebun tetap teduh yang produktif. “Dulu, buah khas Muria ini belum banyak dibudidayakan,” ujar Huri, yang mulai menanam parijoto sejak 1996, Selasa (31/4/2026). Seringnya, warga memetik langsung di hutan, tanpa ada upaya serius untuk menanam atau mengelolanya sebagai sumber penghasilan. Seiring waktu, situasi berubah. Parijoto dikenal luas, terutama oleh para peziarah yang datang ke kawasan Gunung Muria. Buah kecil berwarna ungu kemerahan ini dipercaya punya nilai simbolik, bahkan dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari sini, permintaan mulai tumbuh. Melihat peluang itu, Huri bersama sejumlah petani mulai membudidayakan parijoto di kebun mereka. Menanamnya tak menebang pohon-pohon besar, melainkan memanfaatkan naungan alami yang ada. “Harus di bawah pohon, tidak bisa kena sinar matahari langsung.” Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Pola tanam ini menjadikan kebun parijoto tetap menyerupai hutan. Pepohonan seperti alpukat dan berbagai jenis kayu hutan dibiarkan tumbuh, menciptakan ekosistem yang mendukung keberlangsungan tanaman. Selain menjaga kesuburan tanah, cara ini juga membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan di lereng Muria. Berbeda dengan kopi yang hanya panen setahun sekali, parijoto fleksibel. Pada musim hujan, Huri bisa memetik buahnya hampir setiap hari. Hasil panen juga bisa langsung dijual pada wisatawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 08:29:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21232853/Pulau-Seram-HUtan-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. Mereka juga menuntut perusahaan melakukan pemulihan lingkungan. Januarius Kayah, tokoh adat Bahau Umaq mengatakan, meski sudah satu dekade beroperasi, kehadiran  perusahaan tak bawa kebaikan pada masyarakat. Alih-alih, kesepakatan kerjasama dengan petani lokal melalui sistem inti plasma tak pernah terwujud. Warga juga mengeluhkan bau menyengat yang kerap kali menyeruak dari tepi sungai. Bahkan, tak sedikit warga yang menderita penyakit kulit. Sejak 2015, warga berulangkali mengeluhkan kondisi itu. Sejauh ini, belum mendapat tanggapan berarti. Padahal, gangguan kesehatan itu hampir semua lapisan usia alami. Termasuk mereka yang usia lanjut, dengan kulit mengelupas. “Kalau dulu kan, karena belum ada perusahaan ini, jernihnya (air). Kita ambil air minum dari situ. Kalau sekarang ini, jangankan untuk diminum, mandi saja nggak bisa (gatal-gatal),” katanya. Pemerintah  Mahulu, katanya, belum pernah berdialog dengan warga. Bahkan, untuk hadir menginisiasi mediasi antara perusahaan dengan masyarakat pun belum pernah pemerintah lakukan. Konflik di Kampung Matalibaq, hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan kasus serupa yang menimpa  masyarakat adat di nusantara ini. Jalan yang terbangun dengan membersihkan hutan dan lahan masyarakat adat Papua. Foto: Yayasan Pusaka Konflik tenurial Catatan Akhir Tahun 2025 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), menyebutkan, konflik berupa perampasan wilayah adat, kriminalisasi, dan kekerasan terus terjadi di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Temuan Langka, Ilmuwan Ungkap Spesies Katak yang Menjaga Anaknya dalam Kantong Rahasia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 02:44:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05024209/the-new-amphibian-spec-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126150</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh di dalam hutan hujan pegunungan Amazon di Peru, para peneliti berhasil mengidentifikasi seekor katak mungil berwarna hijau cerah yang memiliki ciri biologis luar biasa untuk membedakannya dari hampir semua amfibi lain yang dikenal sains selama ini. Keunikan utama spesies ini terletak pada strategi reproduksinya yang sangat spesifik, terutama dalam cara ia menjaga anak-anaknya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/">Temuan Langka, Ilmuwan Ungkap Spesies Katak yang Menjaga Anaknya dalam Kantong Rahasia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh di dalam hutan hujan pegunungan Amazon di Peru, para peneliti berhasil mengidentifikasi seekor katak mungil berwarna hijau cerah yang memiliki ciri biologis luar biasa untuk membedakannya dari hampir semua amfibi lain yang dikenal sains selama ini. Keunikan utama spesies ini terletak pada strategi reproduksinya yang sangat spesifik, terutama dalam cara ia menjaga anak-anaknya di lingkungan yang ekstrem. Penemuan yang diumumkan pada awal April 2026 ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara Ceja de Selva Research Institute for Sustainable Development, Florida International University, dan University of Seville di Spanyol. Seluruh hasil studi tersebut kini telah diterbitkan secara resmi dalam jurnal ilmiah internasional, Zootaxa, sebagai kontribusi penting bagi keanekaragaman hayati global. Spesies baru yang diberi nama ilmiah Gastrotheca mittaliiti ini memiliki tubuh berukuran sangat kecil dengan panjang hanya berkisar antara 2,7 hingga 3,3 sentimeter. Selain ukurannya yang mungil, kulit punggungnya yang berwarna hijau terang dipenuhi dengan bintil-bintil bulat yang menonjol secara khas sebagai penanda identitas fisiknya. Hal yang membuatnya sangat istimewa di dunia amfibi adalah metode reproduksinya yang tidak biasa karena ia tidak terlalu bergantung pada badan air untuk perkembangan telur. Jika mayoritas katak membutuhkan genangan atau aliran air, Gastrotheca mittaliiti justru menggunakan kantong khusus di punggungnya untuk membawa sekaligus membesarkan anak-anaknya hingga siap mandiri. Ciri khas ini merupakan karakteristik utama dari genus Gastrotheca, sebuah kelompok katak marsupial yang memang merupakan satwa asli dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Melalui analisis filogenetik yang mendalam, para peneliti sepakat menempatkan spesies baru ini ke dalam kelompok spesies Gastrotheca marsupiata. Detail Fisik dan Identifikasi Spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Chandra Sembiring, Ketika Kemanusiaan Bertemu Sinema Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 00:29:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sri Wahyuni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05002141/Chandra-Sembiring-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani  bahkan menyabet pengakuan internasional. Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/">Chandra Sembiring, Ketika Kemanusiaan Bertemu Sinema Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani  bahkan menyabet pengakuan internasional. Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun Cianjur. Juga, tsunami Banten, kebakaran hutan,  sampai konflik di Nusa Tenggara Timur. Dia juga pernah enam bulan bertugas di kawasan Everest bersama Himalayan Rescue Association, menangani penyakit ketinggian, bidang medis yang jarang dikuasai. “Ribuan orang mungkin merasa saya yang membantu mereka, padahal sebenarnya saya yang diisi oleh mereka,” katanya. Bencana dan alam membentuk cara berpikir Chandra. Dia terbiasa merancang operasi darurat secara taktis dan strategis, mulai dari evakuasi medis, logistik obat-obatan, hingga masuk ke wilayah yang hanya bisa terjangkau perahu atau berjalan kaki berhari-hari. “Gaya saya memang gaya emergency. Kalau agak ngegas, maklumi.” Pengalamannya berada di berbagai medan dari perang sampai bencana, memunculkan gagasan bikin film sebagai medium membicarakan relasi manusia dan alam. Ia terwujud lewat “Maira, ” film anak berlatar hutan Papua. Pohon yang ditebang di Papua, dan jadi dalam salah satu adegan film Maira. Foto: Dokumen Chandra Sembiring &nbsp; *** Salah satu adegan kunci dalam film itu merekam tumbangnya sebuah pohon raksasa di tengah hutan. Adegan itu bukan hasil rekayasa, melainkan peristiwa nyata saat proses pengambilan gambar. Bagi Chandra, momen itu merangkum ironi yang ingin disampaikan Maira, yakni, kerusakan hutan di hadapan mata, kerap dianggap biasa. Dalam skenario awal, katanya, tidak ada adegan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Studi Terbaru Ungkap Keterancaman Keanekaragaman Hayati Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 14:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zulkifli Mangkau]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2013/09/22113715/tim-laman88888-BOP-101002-123-Version-2-1-600x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126118</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanah Papua merupakan salah satu kawasan vital burung air dan burung migraine yang melintasi jalur Asia dan Australia. Namun, pembangunan yang masif menyebabkan fragmentasi ekosistem dan mengancam kekayaan keanekaragaman hayati bumi cendrawasih. Hasil studi Burung Indonesia menyebutkan, dari  641 spesies burung Papua  14 terancam punah secara global karena  perburuan, perubahan iklim dan perubahan lanskap. Adi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/">Studi Terbaru Ungkap Keterancaman Keanekaragaman Hayati Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanah Papua merupakan salah satu kawasan vital burung air dan burung migraine yang melintasi jalur Asia dan Australia. Namun, pembangunan yang masif menyebabkan fragmentasi ekosistem dan mengancam kekayaan keanekaragaman hayati bumi cendrawasih. Hasil studi Burung Indonesia menyebutkan, dari  641 spesies burung Papua  14 terancam punah secara global karena  perburuan, perubahan iklim dan perubahan lanskap. Adi Widyanto, Head of Conservation and Development Burung Indonesia, mengatakan, dari 641 spesies itu, 252 merupakan endemik Papua, 75 spesies endemik Indonesia, dan 94 merupakan spesies sebaran terbatas. Dalam studi yang menggunakan pendekatan Important Bird and Biodiversity Area (IBA) ini juga menyebutkan, selain  burung, mamalia endemik seperti echidna paruh panjang dan kanguru pohon Wondiwoi juga dalam status terancam punah. Jika ancaman ini terus berlanjut, menandakan keruntuhan integritas ekosistem papua. Karena, banyak spesies endemik memiliki ketergantungan ekologis yang sangat kuat pada habitat aslinya. Pemilihan burung sebagai komponen utama IBA, katanya,  karena alasan ekologis yang kuat. Burung merupakan indikator alami yang sangat baik untuk menilai kesehatan suatu ekosistem. “Karena itu, upaya menjaga kawasan IBA tidak hanya berdampak pada burung, tetapi juga secara otomatis melindungi spesies lain, seperti mamalia dan amfibi, yang berbagi ruang hidup di wilayah tersebut,” kata Adi pada Mongabay. IBA, merupakan instrumen ilmiah inisiasi kemitraan konservasi global, BirdLife International. Program ini bertujuan mengidentifikasi, melindungi, dan mengelola berbagai habitat yang paling krusial bagi kelangsungan hidup populasi burung di seluruh dunia. Hingga kini, terdapat lebih 10.000 lokasi IBA  tersebar di dunia. Di Indonesia, penambahan kawasan baru di Papua meningkatkan lokasi IBA yang teridentifikasi dari 228 menjadi 287 titik. Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Alih Fungsi Hutan Perparah Banjir Pasuruan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 04:31:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03151458/banjir-pasuruan-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126113</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seribuan warga berdemonstrasi di Kelurahan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/3/26). Mereka membentangkan poster dan spanduk yang menolak alih fungsi hutan di Kaki Gunung Arjuno-Welirang menjadi perumahan elit. Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta) ini  khawatir alih fungsi hutan akan membawa petaka, bencana banjir dan longsor. Priya Kusuma, Ketua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/">Alih Fungsi Hutan Perparah Banjir Pasuruan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seribuan warga berdemonstrasi di Kelurahan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/3/26). Mereka membentangkan poster dan spanduk yang menolak alih fungsi hutan di Kaki Gunung Arjuno-Welirang menjadi perumahan elit. Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta) ini  khawatir alih fungsi hutan akan membawa petaka, bencana banjir dan longsor. Priya Kusuma, Ketua Aliansi Gema Duta, menuturkan eksploitasi alam berlebihan akan mengundang bahaya. Banjir yang menerjang 11 Kecamatan di Pasuruan sejak Selasa (24/3/26) malam tak lepas dari kerusakan hutan di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Selama 14 tahun, katanya, hutan lindung di Lereng Gunung Arjuno-Welirang terbakar, ribuan hektar rusak. Sedangkan proses reboisasi belum sepenuhnya tuntas di kawasan hutan yang terdiri atas beragam jenis pohon rimba. “Baru bisa berapa persen yang pulih,” katanya. Dia pun makin khawatir bila rencana  mengalihfungsikan hutan seluas 22,5 hektar untuk perumahan elit terus berlanjut. Aksi ribuan warga di Tretes, Pasuruan menolak rencana pembangunan perumahan elit di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Foto: Gema Duta. Priya katakan, semula, hutan itu berstatus hutan produksi kelolaan Perum Perhutani. Hutan produksi terdiri atas pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dan pinus (Pinus merkusii). Kini, berubah jadi alokasi penggunaan lain di bawah  Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan akan jadi  area permukiman. Para peserta aksi tak hanya berasal dari desa/kelurahan di Kecamatan Prigen yang memang berada di Kaki Arjuno-Welirang, seperti Desa Dayurejo, Kelurahan Pecalukan, Ledug, Prigen. Tetapi, juga warga desa yang selama ini menjadi langganan banjir. Seperti Beji. Para mahasiswa, pegiat lingkungan, dan pecinta alam juga bergabung untuk suarakan tuntutan sama. Menurut Priya, aksi itu sekaligus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harus Berpisah, Dua Anakan Kucing Kuwuk Korban Perdagangan Ilegal di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 00:49:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/04003957/Anakan-kucing-kuwuk-ini-diselamatkan-dari-upaya-perdagangan-satwa-liar-dilindungi-di-Palembang.-Foto-Humas-BKSDA-Sumsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126126</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Layaknya manusia, kehidupan anak kucing hutan juga sangat rentan bila terpisah dari induknya. Dampaknya, dapat berujung kematian. Hal ini dialami satu dari dua individu kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal di Sumatera Selatan. Sempat menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang, keduanya harus berpisah. “Satu individu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/">Harus Berpisah, Dua Anakan Kucing Kuwuk Korban Perdagangan Ilegal di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Layaknya manusia, kehidupan anak kucing hutan juga sangat rentan bila terpisah dari induknya. Dampaknya, dapat berujung kematian. Hal ini dialami satu dari dua individu kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal di Sumatera Selatan. Sempat menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang, keduanya harus berpisah. “Satu individu yang usianya satu minggu tidak selamat. Ia mati saat menjalani perawatan, tidak lama setelah diamankan dari pelaku,” kata Andre, Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, saat ditemui di kantornya, Rabu (1/4/2026). Sementara itu, satu individu yang berusia tiga bulan lebih beruntung. Setelah menjalani perawatan sekitar satu bulan dan dinilai layak untuk dilepasliarkan, pada Februari lalu, ia kembali ke habitatnya di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. “Keduanya berasal dari induk berbeda.” Bagi anakan kucing kuwuk, usia satu minggu adalah kondisi ia masih menerima asupan susu dan mendapat perawatan intensif dari sang induk. “Jika terpisah dari induknya, sangat rentan mati,” tuturnya. Anakan kucing kuwuk ini diselamatkan dari upaya perdagangan satwa liar dilindungi di Palembang. Foto: Dok. Humas BKSDA Sumsel Erwin Wilianto, peneliti konservasi independen yang fokus pada pelestarian kucing liar di Indonesia, mengatakan, berdasarkan pengalamannya di rescue center, survival rate anak kucing hutan cukup kecil. “Stres bisa jadi faktor utama. Selain itu, faktor nutrisi juga berpengaruh, karena kami menggunakan susu substitusi yang kurang sesuai. Namun, tidak menutup kemungkinan ada beberapa individu bisa selamat,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Jumat (3/4/2026). Untuk usia tiga bulan, biasanya sudah lepas sapih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 00:41:39 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031901/Wild-Betta-Schalleri-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126127</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/">Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang kepunahan. Fenomena sedimentasi, polusi berat di sungai-sungai Jawa, serta dominasi predator introduksi seperti arapaima menjadi tantangan berat bagi upaya konservasi yang sedang dipacu. Penyelamatan identitas ekologis nusantara bukan sekadar urusan teknis perikanan, melainkan perjuangan kolektif untuk memulihkan nadi kehidupan di dasar sungai dan danau sebelum seluruh kekayaan hayati tersebut benar-benar menjadi riwayat yang hilang. The post Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Pulau Culasawani. Awalnya Diduga Endapan Tsunami, Ternyata Pulau Hasil Sisa Makan Manusia 1.200 Tahun Silam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 23:27:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03232615/new-island-off-the-coast-of-fiji-l-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126122</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan mangrove di lepas pantai Pulau Vanua Levu, negara Fiji, terdapat sebuah daratan kecil seluas 3.000 meter persegi yang ternyata menyimpan rahasia ribuan tahun. Selama ini, para peneliti menduga pulau rendah tersebut hanyalah tumpukan sedimen sisa terjangan tsunami purba yang membeku oleh waktu. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Geoarchaeology [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/">Misteri Pulau Culasawani. Awalnya Diduga Endapan Tsunami, Ternyata Pulau Hasil Sisa Makan Manusia 1.200 Tahun Silam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan mangrove di lepas pantai Pulau Vanua Levu, negara Fiji, terdapat sebuah daratan kecil seluas 3.000 meter persegi yang ternyata menyimpan rahasia ribuan tahun. Selama ini, para peneliti menduga pulau rendah tersebut hanyalah tumpukan sedimen sisa terjangan tsunami purba yang membeku oleh waktu. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Geoarchaeology pada Maret 2026 justru mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan. Daratan ini ternyata bukan terbentuk oleh amukan alam. Ia adalah sebuah &#8220;pulau sampah&#8221; raksasa yang lahir secara tidak sengaja dari sisa-sisa jamuan makan malam manusia sejak 1.200 tahun silam. Awalnya, para ilmuwan menduga kuat bahwa pulau ini terbentuk akibat amukan geologi dari Fiji Fracture Zone, sebuah zona sesar transformasi aktif di dasar samudra yang mempertemukan Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia, di mana pergeseran tektoniknya sering memicu gempa dangkal serta tsunami dahsyat yang mampu menghempaskan material laut jauh ke daratan Vanua Levu. Namun, saat tim peneliti pimpinan Patrick D. Nunn mulai melakukan penggalian dan survei geoarkeologi yang lebih teliti, teori bencana alam tersebut perlahan runtuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 70 hingga 90 persen material pembentuk pulau ini terdiri dari cangkang kerang yang bisa dimakan. Jenisnya sangat spesifik, didominasi oleh kerang darah (Anadara antiquata) dan berbagai spesies kerang bakau. Para peneliti tidak menemukan campuran pasir laut acak atau fragmen terumbu karang mati yang biasanya menjadi ciri khas deposit tsunami. Menariknya, kepiting bakau (Scylla serrata) yang membuat lubang di sana tanpa sengaja membantu kerja para ilmuwan. Hewan ini mendorong material dari kedalaman 50 sentimeter ke permukaan tanah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>