<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=fransisca-n-tirtaningtyas-aceh&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/fransisca-n-tirtaningtyas-aceh/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 18:10:01 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 18:10:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04044213/WhatsApp-Image-2026-08-03-at-21.39.34-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131485</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami di atas kapal ini untuk menolak tambang pasir laut berkedok sedimentasi, kita tahu aktivitas ini hanya akan merusak periuk nasi kite,” teriak Liza, nelayan perempuan saat berorasi, Selasa (21/7/26). Pengerukan pasir laut hanya menguntungkan segelintir orang, alih-alih meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karimun. “Kami, emak-emak adalah yang paling terdampak,” katanya. Raja Khairuddin, Ketua Gerakan Peduli Nelayan Karimun Kepulauan (GPNKK) mengatakan, aksi penolakan tambang pasir ini sudah beberapa kali nelayan lakukan. Sebelumnya aksi serupa juga dilakukan di Kecamatan Meral dan Kecamatan Tebing. “Semenjak rencana sedimentasi ini muncul, kami sudah menolak,” kata Raja, Jumat (24/7/26). Selain Karimun, perwakilan nelayan dari berbagai lokasi juga turut dalam aksi penolakan ini, seperti nelayan Kecamatan Buru, Moro, Tebing, Meral Barat, dan Meral. Menurut Raja, para nelayan memiliki pengalaman bagaimana tambang pasir laut di masa lalu membawa dampak berkepanjangan terhadap kehidupan mereka. Tahun 1990-an hingga 2005, perairan Karimun menjadi lokasi tambang pasir skala besar untuk jual ke Singapura, sebelum akhirnya Presiden Megawati setop. Dampak dari aktivitas itu, masih nelayan rasakan sampai saat ini. Raja  menyebut, sejumlah kawasan perairan yang sebelumnya menjadi lokasi penangkapan ikan kini sudah tidak lagi produktif akibat kerusakan pascatambang. Kerusakan itu terjadi mulai dari perairan di Kecamatan Moro, Kecamatan Buru, perairan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/09/22033152/Blue-poison-darf-frog-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri? Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/">3 Cara Unik Hewan Melindungi Diri dari Racunnya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Katak panah beracun merupakan salah satu hewan paling beracun di dunia. Ukuran tubuhnya kecil dan warnanya menarik, tetapi racun yang dibawanya dapat membunuh beberapa manusia dewasa. Lalu, mengapa katak ini tidak mati karena racunnya sendiri? Katak panah beracun ternyata tidak menghasilkan seluruh racunnya sendiri. Racun itu berasal dari makanan mereka, seperti semut, tungau, dan hewan kecil lainnya. Zat beracun dari makanan tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam tubuh, lalu digunakan untuk melindungi diri dari pemangsa. Salah satu jenis racunnya adalah batrachotoxin. Racun ini menyerang saluran natrium, yaitu bagian kecil pada permukaan sel yang bekerja seperti pintu. Pintu ini mengatur keluar-masuknya natrium agar saraf, otot, dan jantung dapat bekerja dengan baik. Dalam keadaan normal, pintu tersebut akan membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Namun, batrachotoxin membuatnya terus terbuka. Akibatnya, aliran natrium menjadi tidak terkendali. Saraf kesulitan mengirimkan pesan, otot tidak dapat berkontraksi dengan normal, dan jantung bisa berhenti bekerja. Untuk melindungi diri dari racun, hewan memiliki beberapa cara. Cara pertama adalah mengubah bentuk bagian tubuh yang menjadi sasaran racun. Perubahan kecil akibat mutasi genetik membuat racun tidak dapat menempel pada targetnya. Bayangkan racun sebagai kunci dan protein di dalam tubuh sebagai lubang kuncinya. Jika bentuk lubang kunci sedikit berubah, kunci tersebut tidak lagi cocok. Racun pun gagal bekerja. Mekanisme ini ditemukan pada sejumlah katak beracun. Cara kedua adalah membuang racun dari tubuh sebelum menimbulkan kerusakan. Kemampuan ini juga dimiliki beberapa hewan yang memangsa satwa beracun. Tubuh mereka dapat memecah, menetralkan, atau mengeluarkan racun yang masuk bersama makanan. Cara ketiga adalah menyimpan racun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/3-cara-unik-hewan-melindungi-diri-dari-racunnya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Minim Perhatian Dunia Konservasi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 07:27:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/09033139/Kucing-Kuwuk-Chiki-direhabilitasi-di-Cikananga-Wildlife-Center-Kredit_-Anatasha-Reza-YCKT-7-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131611</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pelepasliaran Chiki, seekor kucing kuwuk di Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 Juli 2026, menjadi kabar baik bagi dunia konservasi. Namun, kisah Prionailurus javanensis yang kembali ke habitat alaminya itu juga memunculkan pertanyaan lebih besar. Sudahkan Indonesia memberi perhatian yang cukup terhadap konservasi kucing liar kecil? Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/">Kucing Kuwuk Minim Perhatian Dunia Konservasi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pelepasliaran Chiki, seekor kucing kuwuk di Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 Juli 2026, menjadi kabar baik bagi dunia konservasi. Namun, kisah Prionailurus javanensis yang kembali ke habitat alaminya itu juga memunculkan pertanyaan lebih besar. Sudahkan Indonesia memberi perhatian yang cukup terhadap konservasi kucing liar kecil? Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan perhatian terhadap kelompok kucing liar kecil jauh tertinggal dibandingkan harimau, macan tutul, maupun jenis kucing besar lainnya. “Meski sebagian kucing kecil di Indonesia masuk kategori terancam menurut IUCN, namun perhatian dan investasi konservasi terhadap kelompok ini masih relatif minim,” jelasnya, Jumat (31/8/26). Menurut Erwin, kucing kuwuk yang hidup di Pulau Jawa, kini telah dipisahkan dari kelompok kucing hutan daratan Asia dan diakui sebagai spesies tersendiri, yakni Prionailurus javanensis. Status ini menunjukkan bahwa Indonesia punya tanggung jawab lebih besar untuk menjaga keberlangsungan spesies endemik. Namun demikian, ancaman terhadap kucing kuwuk maupun jenis kucing liar kecil lainnya belum banyak berubah. Perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat masih jadi persoalan utama yang terus menggerus populasi mereka di alam. “Semua itu akibat aktivitas manusia yang hingga kini belum terselesaikan secara komprehensif.” Erwin juga menyoroti masih berkembangnya anggapan keliru di tengah masyarakat saat menemukan kucing liar. Tak sedikit orang yang menganggap memelihara satwa hasil temuan lebih baik dibanding menyerahkannya pada pihak berwenang. Kucing kuwuk merupakan satwa liar dilindungi di Indonesia. Foto: Anatasha Reza Widyantoro/YCKT Kesempatan kembali ke hutan Erwin menjelaskan, narasi seperti ‘lebih baik dipelihara ketimbang hidup di hutan yang tidak aman’ atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/kucing-kuwuk-minim-perhatian-dunia-konservasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Minyak Sawit, Kita Bisa Maksimalkan Minyak Kelapa dan Bahan Nabati</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 05:30:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041824/Lempah-kuning-kuliner-khas-Bangka-Belitung-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131404</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, sawit, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian? Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/">Hidup Tanpa Minyak Sawit, Kita Bisa Maksimalkan Minyak Kelapa dan Bahan Nabati</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian? Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia telah lama menggunakan minyak kelapa. Proses pembuatannya relatif sederhana. Daging kelapa diparut, diambil santannya, kemudian dipanaskan selama beberapa jam. Panas membuat air menguap dan merusak kestabilan emulsi santan, sehingga lemak terpisah dan muncul sebagai minyak di permukaan. Cara lain dilakukan dengan mengeringkan daging kelapa menjadi kopra. Kopra dicincang lalu dipanaskan hingga mengeluarkan minyak. Setelah dingin, minyak disaring dan dapat digunakan untuk memasak. Pengetahuan ini masih dipraktikkan oleh sejumlah masyarakat di Pulau Bangka, pesisir timur Sumatera, dan wilayah lain yang memiliki banyak pohon kelapa. Peralihan besar terjadi ketika minyak sawit tersedia dengan harga lebih terjangkau. Pasokannya yang melimpah turut mengubah kebiasaan memasak. Teknik menggoreng dengan banyak minyak atau deep frying menjadi semakin umum, baik di rumah maupun dalam industri makanan. Padahal, teknik memasak Nusantara pada masa lalu tidak selalu bergantung pada minyak. Berbagai bahan pangan lebih sering direbus, dikukus, dibakar, dipanggang, atau dimasak dalam kuah. Sejumlah makanan yang sekarang lazim digoreng pun sebelumnya memiliki versi rebus dan panggang. Pempek, misalnya, dahulu tidak selalu disajikan dengan cara digoreng. Ketergantungan pada sawit tidak terlepas dari sifat tanamannya yang produktif. Sawit mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar sehingga menarik bagi industri. Namun, keuntungan ini disertai persoalan ketika perkebunan terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hidup-tanpa-minyak-sawit-kita-bisa-maksimalkan-minyak-kelapa-dan-bahan-nabati/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Food Estate Nusa Tenggara Timur,  Berharap Untung Malah Buntung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 04:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06015648/FOTO-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131513</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sose Soares dan Frans da Cruz baru saja membajak kebunnya dengan traktor roda empat. Sejak 2022, kebun mereka menjadi kawasan proyek pengembangan pangan (food estate) Blok A, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, mereka bisa menanam beragam jenis pangan lokal, kini hanya tanam jagung. “Dulu, kami tanam macam-macam, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/">Food Estate Nusa Tenggara Timur,  Berharap Untung Malah Buntung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sose Soares dan Frans da Cruz baru saja membajak kebunnya dengan traktor roda empat. Sejak 2022, kebun mereka menjadi kawasan proyek pengembangan pangan (food estate) Blok A, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, mereka bisa menanam beragam jenis pangan lokal, kini hanya tanam jagung. “Dulu, kami tanam macam-macam, ada jagung, kacang hijau, labu, ubi, dan (jenis tanaman) pakan ternak. Sekarang semua diarahkan untuk tanam jagung,” kata Sose Soares, petani Desa Fatuketi, Sabtu (18/7/26). Siang itu, Sose membersihkan akar-akar tanaman yang masih tertinggal. Sesekali dia memeriksa kelembaban tanah dan saluran sprinkle untuk mengairi kebun. Di depannya ada sekitar 600 meter lahan dengan jagung berumur tiga pekan di food estate Blok B. Di Blok C dan D masih penuh gulma dan ilalang. Total lahan food estate mreka kelola  secara kelompok oleh belasan petani seluas  dua hektar. Pada 2022, Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meresmikan lokasi food estate, sebagai bagian dari proyek strategis nasional (PSN). Dengan luas food estate di Fatuketi  53 hektar untuk perkebunan jagung dan 281 hektar untuk sawah. “Kalau dulu orang di sini bisa ambil dari kebun untuk makan sehari-hari, sekarang semua tergantung jagung. Misalnya gagal, kami juga ikut susah karena harus beli makanan lagi,” ujar Sose. Sose Soares menyusuri lahan food estate Blok A di Desa Fatuketi untuk periksa kelembaban tanah sesudah dibajak gunakan traktor. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Dari asa ke kecewa Awalnya, program&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/food-estate-nusa-tenggara-timur-berharap-untung-malah-buntung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 03:00:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/05065738/Karhutla-Kalimantan-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131537</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghajar Pulau Kalimantan. Catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sejak Januari hingga Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas (hotspot), dan 33.837 hektar area terbakar, menjadikan pulau ini episentrum bencana itu. Padahal, musim kemarau belum mencapai puncaknya. Secara keseluruhan, terdapat 118.420 hotspot  di seluruh Indonesia dengan luas indikatif kebakaran mencapai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/">Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghajar Pulau Kalimantan. Catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), sejak Januari hingga Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas (hotspot), dan 33.837 hektar area terbakar, menjadikan pulau ini episentrum bencana itu. Padahal, musim kemarau belum mencapai puncaknya. Secara keseluruhan, terdapat 118.420 hotspot  di seluruh Indonesia dengan luas indikatif kebakaran mencapai 107.649 hektar. Di Borneo, Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat  hotspot tertinggi, 17.236 titik, dengan luas kebakaran sekitar 28.680 hektar. Titik panas dan kebakaran juga melanda provinsi lain, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kalimantan Utara (Kaltara). Walhi juga mencatat peningkatan hotspot yang tajam sepanjang Juli 2026. Periode April-Juni hotspot tidak pernah melampaui 74 titik per bulan, namun melonjak signifikan pada Juli menjadi 615 hotspot. Kenaikan mencolok juga terjadi di Kalbar dengan 778 hotspot, atau sekitar 65% total hotspot skala tinggi di Kalimantan. Kobaran api melalap sebuah pondok milik warga saat karhutla terjadi di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru. Relawan berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Dominan di konsesi perusahaan? Fakta penting temuan Walhi, sebagian besar hotspot di Kalimantan berada di konsesi perusahaan. Dari total 34.262 hotspot, sebanyak 25.524 titik atau sekitar 74% berada di area berizin. &#8220;Rinciannya, 10.739 hotspot berada di konsesi perkebunan  sawit, 7.880  konsesi pertambangan, dan 6.905  di perizinan berusaha pemanfaatan hutan,&#8221; kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, akhir Juli. Untuk itu, masalah karhutla tidak bisa pisah dari tata kelola perizinan dan lemahnya penegakan hukum pada perusahaan. Negara pun gagal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/ketika-kebakaran-hutan-dan-lahan-menggila-di-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 17:06:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/05170006/PLTA-Kerinci-16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131559</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan ransisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci,  Jambi.  Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/">Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci,  Jambi.  Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah petak sawah. Ayunan parang terdengar berulang-ulang memotong ilalang yang tumbuh hampir setinggi pinggang. Sesekali dia berhenti, mengusap peluh, lalu kembali menebas perdu yang selama dua tahun menguasai lahan. Ini kali ketiga mereka membersihkan lahan tani yang sama. Bukan karena tanah tak lagi subur, bukan pula karena mereka berhenti menjadi petani. Mereka meninggalkan lahan itu karena air tak lagi datang. “Semoga kali ini airnya lancar, supaya kami bisa mulai menyemai padi,” kata Nur Ainun lirih, April lalu. Sawah Nur tidak jauh dari tepian sungai. Selama puluhan tahun, keluarganya tak pernah ada masalah air. Sungai mengalir mengikuti musim, kincir-kincir kayu yang warga pasang mengangkat air menuju saluran irigasi tanpa pernah banyak mereka pikirkan. Sungai bekerja seperti napas. Tenang, teratur dan mereka bisa pahami. Petani tahu kapan mulai membajak, menyemai, memupuk, bahkan panen. Mereka membaca musim dari tinggi permukaan sungai, sebagaimana nelayan membaca arus dari warna air. Kini,  semua pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Air bisa surut pada pagi hari. Beberapa jam kemudian tiba-tiba meluap, lalu menghilang lagi. Tak ada lagi pola yang bisa mereka baca. Tak ada lagi kepastian. “Bulan kedua setelah tanam biasanya kami memberi pupuk,” kata Nur. Lahan sawah yang tak petani tanami lagi karena&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Larangan Dagang Daging Kucing dan Anjing, Percepat Sahkan UU Kesejahteraan Hewan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 14:30:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09230223/DMT_Idonesia_8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131515</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas-jelas  mengatur maupun melarang perdagangan daging anjing dan kucing. Akibatnya, ada persoalan kompleks dari sisi hukum, kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga kesejahteraan hewan. Berbagai kalangan pun mengingatkan, masuknya Rancangan Undang-undang Perlindungan dan Kesejahteraan Hewan  dalam Program Legislasi Nasional Prioritas  2026 bisa jadi tonggak penting perlindungan hewan termasuk soal perdagangan daging [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/">Larangan Dagang Daging Kucing dan Anjing, Percepat Sahkan UU Kesejahteraan Hewan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas-jelas  mengatur maupun melarang perdagangan daging anjing dan kucing. Akibatnya, ada persoalan kompleks dari sisi hukum, kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga kesejahteraan hewan. Berbagai kalangan pun mengingatkan, masuknya Rancangan Undang-undang Perlindungan dan Kesejahteraan Hewan  dalam Program Legislasi Nasional Prioritas  2026 bisa jadi tonggak penting perlindungan hewan termasuk soal perdagangan daging anjing dan kucing. Meskipun pada prinsipnya, perdagangan daging anjing dan kucing melanggar Undang-undang 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta perubahan dan turunannya. Selain itu, perdagangan kedua hewan ini tidak memenuhi standar pangan dan berpotensi menyebarkan zoonosis terutama rabies. Benedikta Erica, Policy Drafting Coordinator Dog Meat Free Indonesia (DMFI), mengatakan, saat ini lebih 280 penyakit zoonosis. Rabies menjadi salah satu yang paling mematikan, dengan fatalitas kasus 99,9% apabila gejala klinis sudah muncul. “Isu (pelarangan) perdagangan daging anjing dan kucing bukan sekadar kasihan anjingnya, kasihan kucingnya. Lebih dari itu, ada persoalan hukum, kesehatan masyarakat, dan ancaman zoonosis yang sangat serius,” katanya dalam diskusi di Jakarta, belum lama ini. Menurut dia, perdagangan anjing dan kucing memperbesar risiko penyebaran penyakit. Karena rantai distribusi berlangsung tanpa pengawasan kesehatan veteriner yang memadai. “Indonesia memiliki target bebas rabies pada tahun 2030. Namun praktik perdagangan ini justru menjadi ancaman serius terhadap target tersebut.” Perdagangan daging anjing dan kucing melibatkan berbagai pelanggaran hukum. Mulai dari pencurian hewan, transportasi ilegal, pemalsuan dokumen veteriner, hingga pelanggaran terhadap UU Karantina Hewan. Sebagian besar hewan, katanya, berasal dari pencurian, penjeratan, hingga peracunan. Dalam proses distribusi, hewan-hewan tersebut pelaku angkut dalam kondisi yang tidak manusiawi sehingga mengalami dehidrasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/larangan-dagang-daging-kucing-dan-anjing-percepat-sahkan-uu-kesejahteraan-hewan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Populasi Orangutan Tapanuli Sekitar 716 Individu, Apakah Baik-baik Saja?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 09:59:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/12101103/anak-ou-tapanuli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131544</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pertahanan Terakhir Orangutan Tapanuli]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/">Populasi Orangutan Tapanuli Sekitar 716 Individu, Apakah Baik-baik Saja?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumlah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di alam liar saat ini diperkirakan sekitar 716 individu. Estimasi tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan sepanjang 2021–2023 di seluruh bentang alam Batang Toru, Sumatera Utara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023.” Survei yang dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman itu, menggunakan 208 jalur transek sarang sepanjang 198 kilometer, di habitat orangutan sumatera dan orangutan tapanuli. Di Batang Toru, peneliti menyusuri 57 kilometer transek dan mencatat 330 sarang, yang dianalisis menggunakan distance sampling dan pemodelan spasial untuk memperkirakan populasi. “Hasilnya, populasi orangutan tapanuli diperkirakan 716 individu yang seluruhnya hidup di bentang alam Batang Toru seluas 102.185 hektar. Sebanyak 514 individu (72 persen) berada di Batang Toru Barat, 159 individu di Batang Toru Timur, dan 43 individu di Sitandiang–Sibualbuali, dengan kepadatan rata-rata 0,70 individu per kilometer persegi,” tulis Adhi dan kolega. Dibandingkan estimasi 2011 sekitar 767 individu, jumlah tersebut menunjukkan penurunan. “Namun, perbandingan harus dilakukan hati-hati karena metode dan cakupan survei sebelumnya berbeda.” Penelitian ini juga menegaskan orangutan tapanuli memiliki demographic buffer yang sangat kecil, sehingga kematian sekecil apapun dapat mengancam kelangsungan populasi. “Kepadatan orangutan sangat bergantung pada hutan yang masih utuh, sementara tekanan manusia seperti perambahan, konflik, perburuan, dan hilangnya habitat tetap menjadi ancaman utama.” Riset menjelaskan, sekitar 78,6 persen populasi berada di kawasan hutan lindung, hanya 9,5 persen di kawasan konservasi. Sisanya, di hutan produksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/populasi-orangutan-tapanuli-sekitar-716-individu-apakah-baik-baik-saja/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Maluku Utara Ternyata Punya Puluhan Jenis Pangan, Apa Saja?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 06:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/03153310/WhatsApp-Image-2025-10-03-at-08.22.52-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131507</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah. Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/">Maluku Utara Ternyata Punya Puluhan Jenis Pangan, Apa Saja?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah. Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya 49 tanaman pangan dan hortikultura asal Maluku Utara telah terdaftar di Kementerian Pertanian. Jumlah tersebut mencakup 41 aksesi tanaman pangan dan delapan tanaman hortikultura. Keragamannya meliputi 13 varietas padi, 11 jenis ubi jalar, 9 jenis ubi kayu, 5 jenis kacang tanah, 2 varietas jagung, 1 jenis satu kacang tunggak. Sementara itu, kelompok hortikultura terdiri dari jeruk, bawang merah, dua jenis pisang, serta empat jenis sukun. Data tersebut menggambarkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat Maluku Utara sebenarnya jauh lebih beragam daripada beras. Salah satu pangan yang memiliki potensi besar adalah batatas, sebutan masyarakat setempat untuk ubi jalar. Di Halmahera Barat, tanaman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan petani. Permintaannya datang dari berbagai wilayah, seperti Halmahera Tengah, Ternate, hingga Maluku Tenggara. Sedikitnya terdapat empat jenis batatas lokal yang dikembangkan petani, yakni batatas warna tinta atau ungu, batatas oranye berdaun menjari, batatas kuning berdaun menjari, dan batatas putih berdaun lebar. Perbedaan warna dan bentuk tersebut menunjukkan keragaman genetik yang penting untuk dipertahankan. Setiap varietas dapat memiliki karakter berbeda, mulai dari rasa, tekstur, warna daging, kandungan zat gizi, hingga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Keragaman ini memberi petani lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/maluku-utara-ternyata-punya-puluhan-jenis-pangan-apa-saja/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul dan Macan Kumbang: Dua Nama untuk Predator yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 05:08:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21233159/Macan-kumbang1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131448</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Macan tutul mudah dikenali dari bulunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan pola totol menyerupai bunga. Sementara itu, macan kumbang tampil dengan mantel hitam legam yang membuatnya terlihat seperti jenis kucing besar berbeda. Padahal, secara ilmiah, keduanya merupakan satwa yang sama. Macan tutul dan macan kumbang sama-sama termasuk spesies Panthera pardus. Di Pulau Jawa, keduanya masuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/">Macan Tutul dan Macan Kumbang: Dua Nama untuk Predator yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Macan tutul mudah dikenali dari bulunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan pola totol menyerupai bunga. Sementara itu, macan kumbang tampil dengan mantel hitam legam yang membuatnya terlihat seperti jenis kucing besar berbeda. Padahal, secara ilmiah, keduanya merupakan satwa yang sama. Macan tutul dan macan kumbang sama-sama termasuk spesies Panthera pardus. Di Pulau Jawa, keduanya masuk dalam subspesies macan tutul jawa, Panthera pardus melas. Sebutan “macan tutul” biasanya digunakan untuk individu berwarna terang dan bertotol, sedangkan “macan kumbang” merujuk pada individu berwarna hitam. Jadi, perbedaan utama keduanya hanya terletak pada warna bulu. Warna hitam pada macan kumbang terjadi akibat melanisme, yaitu kondisi genetik yang meningkatkan produksi melanin. Melanin merupakan pigmen yang memberi warna gelap pada kulit, rambut, bulu, dan bagian tubuh lainnya. Meski tampak hitam polos, macan kumbang sebenarnya tetap memiliki pola totol seperti macan tutul biasa. Pola tersebut dapat terlihat ketika tubuhnya terkena cahaya dari sudut tertentu. Artinya, melanisme tidak menghilangkan totol, melainkan membuat warna dasar bulunya menjadi begitu gelap sehingga polanya tersamarkan. Kesamaan keduanya tidak berhenti pada nama ilmiah. Macan tutul dan macan kumbang memiliki bentuk tubuh, kemampuan berburu, jenis makanan, serta perilaku yang sama. Keduanya merupakan pemanjat pohon yang andal. Ekor panjang membantu mereka menjaga keseimbangan ketika bergerak di atas batang dan dahan. Mereka juga sama-sama predator penyergap. Pola totol pada macan tutul terang membantu memecah bentuk tubuhnya di antara cahaya dan bayangan hutan. Sementara itu, mantel gelap macan kumbang diduga memberi keuntungan penyamaran di hutan yang rapat dan lembap. Inilah salah satu alasan individu melanistik cukup sering&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/macan-tutul-dan-macan-kumbang-dua-nama-untuk-predator-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Karhutla dan Krisis Air Hantui Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Agu 2026 02:51:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04151454/WhatsApp-Image-2026-07-28-at-02.31.44-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131509</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) sekitar pukul 17.00.Balai Besar TNBTS telah menurunkan tim untuk memadamkan api. Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala  menyebut, demi kelancaran pemadaman, mereka menutup sementara akses wisata ke Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang). Sedangkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/">Kemarau Panjang, Karhutla dan Krisis Air Hantui Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) sekitar pukul 17.00.Balai Besar TNBTS telah menurunkan tim untuk memadamkan api. Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala  menyebut, demi kelancaran pemadaman, mereka menutup sementara akses wisata ke Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang). Sedangkan pengunjung melalui pintu Cemoro Lawang (Probolinggo) dan Wonokitri (Pasuruan) dilakukan pembatasan hingga area Lautan Pasir. “Padang Sabana tidak diperkenankan dikunjungi,” katanya dalam keterangan tertulisnya. Penutupan berlaku sejak Senin (3/8/26) pukul 22.00 sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Sampai saat ini, belum tahu  luas lahan yang terbakar. Tim masih fokus melakukan pemadaman. Dia pun mengimbau pengunjung, dan pelaku jasa wisata agar menjaga kawasan TNBTS dari kebakaran hutan. “Perhatikan penggunaan api demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama,” tulisnya. Selain TNBTS, kebakaran juga melanda ekosistem kawasan Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo merupakan tipe ekosistem kering. Terdiri atas ekosistem sabana, dan hutan jati yang terbakar. Joko Mulyo Ichtiarso, juru bicara TN Baluran menyebut, kuat dugaan kebakaran terpicu aktivitas masyarakat di dalam hutan. Seperti para pencari jamur, kayu bakar, kroto, madu, ubi gadung dan pencari burung. Mereka biasa membakar ranting dan dedaunan dan lupa mematikan. Sehingga, saat ada angin kencang api menyambar rerumputan dan dedaunan kering. “Modus pencari umbi gadung, mereka membakar daun untuk diambil abunya. Abu digunakan menghilangkan getah dari potongan umbi gadung,” katanya. Selain itu, pencari madu hutan kerap membakar pohon hingga tumbang untuk memudahkan pengambilan madu. Lantas, sisa-sisa pohon yang terbakar menjalar lebih jauh. Joko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/05/kemarau-panjang-karhutla-dan-krisis-air-hantui-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Putusan Adil PTUN Serang Atas Gugatan Warga Rancapinang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 23:17:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21072615/Batalyon-Rancapinang_Anggita-Raissa_Foto9-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131517</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kasus gugatan warga Rancapinang kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di PTUN Serang, dekati babak akhir dengan rencana agenda putusan 6 Agustus ini.  Berbagai organsasi masyarakat sipil pun mendesak hakim memberikan putusan yang adil dan berkeadilan bagi warga Rancapinang. Kasus berawal karena Kantor Pertanahan Pandeglang mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) kepada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/">Menanti Putusan Adil PTUN Serang Atas Gugatan Warga Rancapinang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kasus gugatan warga Rancapinang kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di PTUN Serang, dekati babak akhir dengan rencana agenda putusan 6 Agustus ini.  Berbagai organsasi masyarakat sipil pun mendesak hakim memberikan putusan yang adil dan berkeadilan bagi warga Rancapinang. Kasus berawal karena Kantor Pertanahan Pandeglang mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) kepada Kemhan di tanah mereka seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar).  Di atas tanah itu kini terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP). KPA mendesak,  hakim mempertimbangkan fakta-fakta persidangan yang menunjukkan perbedaan keterangan antara ATR/BPN dan Kemhan mengenai proses pengadaan tanah. Dalam persidangan PTUN yang berlangsung pada 3 Juni 2026, muncul perbedaan penjelasan antara Kemhan dan BPN mengenai asal-usul tanah yang kini bersertifikat atas nama Kemhan. Kemhan menyatakan, tanah di Rancapinang melalui mekanisme tukar-menukar aset atau tukar guling (ruislag). Menurut dalil Kemhan, PT Mandiri Nusa Graha Perkasa (MNGP)  mengajukan permohonan kepada Kodam III/Siliwangi untuk menukar aset di Rancapinang dengan aset Kemhan di Maja, Kabupaten Lebak. Proses tukar guling itu berlangsung sekitar 2005. BPN menyampaikan tanah di Rancapinang Kemhan peroleh melalui proses pelepasan hak dari masyarakat yang dibuktikan dengan surat pelepasan hak. Dalam keterangannya, BPN tidak mendasarkan perolehan tanah itu pada mekanisme tukar guling yang melibatkan MNGP. Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), mengatakan,  apabila terbukti cacat prosedur, harusnya SHP batal karena mencederai hak konstitusional masyarakat. Dia bilang, persoalan Rancapinang tak hanya menyangkut sengketa administrasi pertanahan, tetapi menunjukkan cacat prosedural dalam proses pengadaan tanah. Empat saksi fakta para penggugat dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/04/menanti-putusan-adil-ptun-serang-atas-gugatan-warga-rancapinang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 10:00:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14014949/Orangye-Poso-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131439</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna, Konservasi, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/">Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penemuannya menambah panjang daftar kekayaan hayati Sulawesi, pulau yang dikenal memiliki banyak spesies unik akibat sejarah geologi dan keterpisahan wilayahnya. Kisah penemuan bermula Juni 2023. Saat melakukan penelitian lapangan di sekitar Tentena, tim peneliti menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun yang telah dideskripsikan dari Sulawesi. Tanaman tersebut telah dibudidayakan di sekitar Air Terjun Saluopa. Ia tumbuh pada substrat anggrek sebagai epifit. Istilah epifit digunakan untuk tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain sebagai tempat hidup, tetapi tidak mengambil makanan dari inangnya seperti parasit. Berdasarkan informasi dari pengumpul lokal, seluruh substrat itu berasal dari pohon besar yang tumbang di Petirorano, bagian dari Pegunungan Tokorondo. Wilayah tersebut berada pada ketinggian 1.000–1.800 meter di atas permukaan laut, sekitar 19 kilometer sebelah barat Air Terjun Saluopa. Tanaman itu mampu bertahan setelah dipindahkan ke kawasan air terjun yang berada pada ketinggian 560 meter. Spesimen yang sedang berbunga kemudian dikumpulkan pada Juli dan November 2024 untuk dijadikan bahan herbarium. Menentukan tumbuhan sebagai spesies baru tidak cukup hanya berdasarkan warna bunga atau bentuk yang tampak berbeda. Peneliti harus mencari ciri diagnostik, yakni karakter khusus yang dapat membedakannya secara konsisten dari kerabat terdekat. Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bunga-ini-tanda-penghormatan-kepada-pendeta-penjaga-alam-poso/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>BUMDes di Bangkalan Siasati Keterbatasan Lahan dengan Apartemen Kepiting Soka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/04/inisiatif-bumds-di-bangkalan-budidayakan-kepiting-soka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/04/inisiatif-bumds-di-bangkalan-budidayakan-kepiting-soka/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 06:16:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19024412/Apartemen-Soka-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130782</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan madura]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pesisir Kabupaten Bangkalan di Jawa Timur (Jatim) kaya akan sumber daya kepiting. Merujuk data Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan, tahun lalu,  produksi kepiting capai 478,37 ton. Sementara triwulan pertama tahun ini, produksi kepiting sudah mencapai 147,6 ton senilai Rp14,76 miliar. Kepiting yang nelayan jual tidak hanya dari tangkapan di alam,  ada juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/inisiatif-bumds-di-bangkalan-budidayakan-kepiting-soka/">BUMDes di Bangkalan Siasati Keterbatasan Lahan dengan Apartemen Kepiting Soka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pesisir Kabupaten Bangkalan di Jawa Timur (Jatim) kaya akan sumber daya kepiting. Merujuk data Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan, tahun lalu,  produksi kepiting capai 478,37 ton. Sementara triwulan pertama tahun ini, produksi kepiting sudah mencapai 147,6 ton senilai Rp14,76 miliar. Kepiting yang nelayan jual tidak hanya dari tangkapan di alam,  ada juga hasil budidaya, seperti kepiting soka (soft shel crab)/kepiting bercangkang lunak yang memang banyak digemari di pasaran. Mohammad Sahril, pembudidaya kepiting soka di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, mengatakan, bibit kepiting biasa beli dari pengepul di Pajagan, Bangkalan Rp50.000 setiap kilogram dengan isi 8-12 ekor. Saat harga menyentuh Rp90.000 ke atas, dia memilih  menunda budidaya karena margin keuntungan sangat tipis, bahkan berpotensi merugi. Menurut dia, rata-rata harga jual kepiting  Rp50.000-Rp150.000 per kilogram. Karena relatif mahal, kepiting soka hasil panennya dia jual terbatas, hanya pada kalangan menengan ke atas. “Ini masuk kalangan menengah ke atas &#8230;Kepitingnya sih yang kalah [pasokan kurang], [karena] banyak yang mesan,” katanya, Minggu (10/5/26) Sahril dan kelompoknya mengawali budidaya kepiting soka pada 2015. Sempat berhenti pada 2018, dia memulai kembali tujuh tahun kemudian di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Labuhan, Sepulu. Dia menyadari, peluang usaha dari budidaya kepiting soka berkat pendampingan salah satu perusahaan. Dua pekerja tengah melakukan aktivitas pengepulan kepiting di Bangkalan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia.  Apartemen kepiting atasi masalah lahan Semula, budidaya dia lakukan di tambak. Kini beralih menggunakan kotak ‘apartemen’ khusus kepiting berbahan plastik  dalam bangunan berukuran 6&#215;8 meter. Keputusan beralih ke metode apartemen itu lantaran harga sewa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/inisiatif-bumds-di-bangkalan-budidayakan-kepiting-soka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/04/inisiatif-bumds-di-bangkalan-budidayakan-kepiting-soka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kucing Kuwuk Chiki Tidak Bisa Dilepaskan di Sembarang Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/04/mengapa-kucing-kuwuk-chiki-tidak-bisa-dilepaskan-di-sembarang-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/04/mengapa-kucing-kuwuk-chiki-tidak-bisa-dilepaskan-di-sembarang-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 02:54:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/09033023/Kucing-Kuwuk-Chiki-direhabilitasi-di-Cikananga-Wildlife-Center-Kredit_-Anatasha-Reza-YCKT-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131472</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan bagi manusia mungkin terlihat sama, penuh pepohonan, rimbun, dan jauh dari permukiman. Namun, bagi tim konservasi, tidak semua hutan layak jadi tempat pelepasliaran seekor kucing hutan. Kesalahan memilih habitat, bisa membuat Prionailurus bengalensis berkompetisi dengan satwa lain, bahkan gagal bertahan hidup. Ketika Chiki, seekor kucing kuwuk (sebutan lain kucing hutan) yang diselamatkan dari lapangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/mengapa-kucing-kuwuk-chiki-tidak-bisa-dilepaskan-di-sembarang-hutan/">Mengapa Kucing Kuwuk Chiki Tidak Bisa Dilepaskan di Sembarang Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan bagi manusia mungkin terlihat sama, penuh pepohonan, rimbun, dan jauh dari permukiman. Namun, bagi tim konservasi, tidak semua hutan layak jadi tempat pelepasliaran seekor kucing hutan. Kesalahan memilih habitat, bisa membuat Prionailurus bengalensis berkompetisi dengan satwa lain, bahkan gagal bertahan hidup. Ketika Chiki, seekor kucing kuwuk (sebutan lain kucing hutan) yang diselamatkan dari lapangan golf di Bogor dinyatakan siap kembali ke alam setelah menjalani rehabilitasi di Cikananga Wildlife Center (CWC), Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT) tidak buru-buru melepaskannya. Pilihan jatuh pada Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Keputusan diambil bukan karena kawasan itu paling dekat pusat rehabilitasi. Ada serangkaian survei lapangan, kajian habitat, hingga pertimbangan sosial, sebelum Chiki menginjakkan kaki di habitat barunya. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YCKT, mengatakan Takokak yang luasnya sekitar 60 hektar  masih memiliki tutupan hutan yang baik. Vegetasinya mendukung aktivitas alami Chiki, begitu juga ketersediaan sumber pakan. “Tingkat gangguan manusia juga relatif rendah. Kawasan ini juga di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, sehingga memiliki sitem perlindungan keamanan,” jelasnya, Kamis (30/7/26). Chiki, kucing hutan liar yang dirawat di Cikananga dan telah dilepasliarkan di Cagar Alam Takokak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Foto: Anatasha Reza Widyantoro/YCKT. Kesejahteraan satwa Menurut Meidi, pemilihan lokasi pelepasliaran juga mempertimbangkan kesejahteraan satwa. Letak Takokak yang dekat Cikananga membuat waktu transportasi lebih singkat. “Chiki masuk ke kantong habituasi sebelum dilepasliarkan. Semakin singkat perjalanan, semakin kecil risikonya.” Sebelum memutuskan lokasi pelepasliaran, tim YCKT melakukan survei habitat menyeluruh. Kajian meliputi kondisi vegetasi, keberadaan sumber air, potensi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/mengapa-kucing-kuwuk-chiki-tidak-bisa-dilepaskan-di-sembarang-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/04/mengapa-kucing-kuwuk-chiki-tidak-bisa-dilepaskan-di-sembarang-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gunung Maras, Oase Hijau yang Tersembunyi di Pulau Bangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/gunung-maras-oase-hijau-yang-tersembunyi-di-pulau-bangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/gunung-maras-oase-hijau-yang-tersembunyi-di-pulau-bangka/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 01:02:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/06/22034544/Perahu-nelayan-berada-di-sekitar-perairan-Teluk-Kelabat-dengan-latar-belakang-Bukit-Maras-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131399</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bangka belitung, hutan indonesia, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik wajah Pulau Bangka yang lekat dengan pertambangan timah, tersimpan bentang alam hijau yang menawarkan cerita berbeda. Namanya Gunung Maras, kawasan hutan yang menjulang sekitar 705 meter dan menjadi titik tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan menuju kawasan ini seperti memasuki sisi lain Bangka. Semakin mendekati kaki gunung, bentang pertambangan perlahan berganti dengan pepohonan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/gunung-maras-oase-hijau-yang-tersembunyi-di-pulau-bangka/">Gunung Maras, Oase Hijau yang Tersembunyi di Pulau Bangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik wajah Pulau Bangka yang lekat dengan pertambangan timah, tersimpan bentang alam hijau yang menawarkan cerita berbeda. Namanya Gunung Maras, kawasan hutan yang menjulang sekitar 705 meter dan menjadi titik tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan menuju kawasan ini seperti memasuki sisi lain Bangka. Semakin mendekati kaki gunung, bentang pertambangan perlahan berganti dengan pepohonan, perbukitan, dan udara yang lebih sejuk. Dari kawasan tinggi tersebut, lanskap terus terhubung hingga pesisir Teluk Kelabat Dalam. Taman Nasional Gunung Maras ditetapkan berdasarkan SK No.576/Menlhk/Setjen/PLA.2/7/2016 tertangal 27 Juli 2016. Luasnya mencapai 16.806,91 hektar, melintasi wilayah Kabupaten Bangka dan Bangka Barat. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan tiga wajah alam sekaligus: hutan primer daratan, perbukitan, dan kawasan mangrove. Perpaduan inilah yang membuatnya layak disebut sebagai “oase” di Pulau Bangka. Bagi pencinta alam, taman nasional ini menyimpan banyak hal untuk diamati. Sedikitnya 53 spesies pohon tumbuh di kawasannya. Salah satu yang paling khas adalah pohon pelawan dari genus Tristaniopsis, tumbuhan yang sangat dikenal masyarakat Bangka. Jika beruntung, perjalanan di antara pepohonan juga dapat mempertemukan pengunjung dengan berbagai satwa. Hutan Gunung Maras menjadi habitat kancil, musang, ayam hutan, monyet ekor panjang, babi hutan, lutung, biawak, dan sejumlah jenis ular. Kawasan ini juga dihuni trenggiling serta mentilin, primata mungil bermata besar yang aktif pada malam hari. Namun, daya tarik Gunung Maras bukan hanya pemandangan dan keanekaragaman hayatinya. Kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah masyarakat Melayu tua. Bagi Suku Mapur atau Orang Lom, Suku Jerieng, dan Suku Maras, gunung tersebut merupakan wilayah suci yang harus dihormati. Masyarakat setempat percaya bahwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/gunung-maras-oase-hijau-yang-tersembunyi-di-pulau-bangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/gunung-maras-oase-hijau-yang-tersembunyi-di-pulau-bangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Berlarut, Masyarakat Muara Tae Tolak Ekspansi Sawit di Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/04/konflik-berlarut-masyarakat-muara-tae-tolak-ekspansi-sawit-di-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/04/konflik-berlarut-masyarakat-muara-tae-tolak-ekspansi-sawit-di-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>04 Agu 2026 00:53:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04004029/Muara-tae-warga-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131289</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Balikpapan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria  Masyarakat Adat Muara Tae dengan perusahaan sawit, PT Borneo Surya Mining Jaya (BSMJ) tak kunjung ada penyelesaian sejak belasan tahun lalu. Sempat reda, ternyata mulai Juni 2025 lalu Juni 2026,  kembali memanas ketika perusahaan mulai  ratakan lagi tanah berkonflik itu. Sejak ekspansi sawit menerobos masuk wilayah adat Muara Tae 2012, Masrani tak pernah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/konflik-berlarut-masyarakat-muara-tae-tolak-ekspansi-sawit-di-hutan-adat/">Konflik Berlarut, Masyarakat Muara Tae Tolak Ekspansi Sawit di Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria  Masyarakat Adat Muara Tae dengan perusahaan sawit, PT Borneo Surya Mining Jaya (BSMJ) tak kunjung ada penyelesaian sejak belasan tahun lalu. Sempat reda, ternyata mulai Juni 2025 lalu Juni 2026,  kembali memanas ketika perusahaan mulai  ratakan lagi tanah berkonflik itu. Sejak ekspansi sawit menerobos masuk wilayah adat Muara Tae 2012, Masrani tak pernah hidup tenang. Waktu-waktu tertentu, dia berjaga di hutan adat tersisa, bersama warga adat yang lain. Meski sebagian hutan sudah rata oleh perusahaan anak usaha First Resources Limited ini. Konflik sempat mereda sekira sedekade lalu. Namun Juni 2025, perusahaan kembali beraktivitas di atas lahan sengketa. Mereka terus menerobos masuk menggunakan ekskavator, menggusur wilayah adat komunitas Benuaq di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur untuk tanam sawit. “Mereka langsung tanam (sawit) itu,” kata Tokoh Masyarakat Muata Tae ini kepada Mongabay, Selasa (30/6/26). Sejak saat itu, perusahaan aktif beroperasi setiap hari. Larangan dari Roundtable on Sustainable Palm (RSPO) beraktivitas di lahan berkonflik pada 2013 seakan tak berarti. Konflik agraria belum juga menemukan titik temu, perusahaan malah gunakan berbagai cara untuk ekspansi. “Perusahaan itu selalu mencari celah, mencari alasan mereka untuk memaksa menggusur, karena dia (status lahan) tetap dalam posisi sudah dibebaskan (masuk hak guna usaha/HGU). Sehingga kemarin Juni 2025, kembali mereka melakukan penggusuran.” Masrani bilang,  aktivitas pada 2025 sempat terhenti karena penolakan masyarakat. Pada Juni 2026, perusahaan beraksi lagi. Hutan adat yang jadi penyangga kehidupan Masyarakat Muara Tae rata dengan tanah. “Sampai sekarang mereka melakukan penggusuran secara paksa di lapangan,” kata Masrani. Pembersihan lahan di hutan adat Muata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/04/konflik-berlarut-masyarakat-muara-tae-tolak-ekspansi-sawit-di-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/04/konflik-berlarut-masyarakat-muara-tae-tolak-ekspansi-sawit-di-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Agu 2026 10:00:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232243/babangi03-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131398</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi nelayan Bajo di Desa Monsongan, Banggai Laut, melaut bukan sekadar perjalanan mencari ikan. Ada tradisi bernama babangi, yakni mengarungi laut dan bermalam jauh dari desa selama berminggu-minggu, bahkan dahulu bisa berbulan-bulan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan kebutuhan ekonomi bertemu dalam satu perjalanan. Komunitas Bajo telah menetap di Monsongan sejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut/">Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi nelayan Bajo di Desa Monsongan, Banggai Laut, melaut bukan sekadar perjalanan mencari ikan. Ada tradisi bernama babangi, yakni mengarungi laut dan bermalam jauh dari desa selama berminggu-minggu, bahkan dahulu bisa berbulan-bulan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan kebutuhan ekonomi bertemu dalam satu perjalanan. Komunitas Bajo telah menetap di Monsongan sejak awal 1940-an. Sebagai masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan laut, mereka mewarisi pengetahuan tentang angin, arus, musim, lokasi terumbu karang, dan perilaku ikan. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh dari buku, melainkan dikumpulkan melalui pengalaman dan diteruskan antargenerasi. Dahulu, nelayan menjalani babangi menggunakan perahu layar beratap. Mereka menangkap ikan dasar dengan pancing, kemudian menukarkan hasilnya dengan beras, sagu, atau umbi-umbian. Dalam perjalanan panjang, keluarga pun dapat ikut serta. Mereka tinggal di babaroh, rumah singgah semi permanen yang dibangun di atas atol atau pulau kecil. Kini, bentuk babangi berubah. Mesin telah menggantikan layar, sementara perjalanan umumnya dilakukan kelompok kecil yang terdiri dari lima hingga enam perahu. Istri dan anak tidak lagi ikut, sedangkan waktu melaut menyusut menjadi sekitar dua minggu. Meski demikian, perempuan tetap terhubung secara simbolis melalui sejumlah pantangan selama suami berada di laut. Kerja kelompok menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Para nelayan membawa bahan bakar, air tawar, beras, dan perlengkapan dari desa. Jika ada anggota yang kekurangan bekal, jatuh sakit, atau mengalami kerusakan perahu, anggota lain akan membantu. Di tengah laut, solidaritas bukan sekadar nilai budaya, tetapi juga strategi untuk bertahan hidup. Kelangsungan babangi sangat bergantung pada kesehatan terumbu karang. Nelayan menyebut lokasi tangkap di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Usaha Keras Masyarakat Pesisir Jaga Kawasan Konservasi Perairan Maluku Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/03/usaha-keras-masyarakat-pesisir-jaga-kawasan-konservasi-perairan-maluku-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/03/usaha-keras-masyarakat-pesisir-jaga-kawasan-konservasi-perairan-maluku-utara/#respond</comments>
					<pubDate>03 Agu 2026 09:30:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/03044658/Seorang-nelayan-Desa-Aru-Burung-Pulau-Rao-memikul-jala-menyusuri-pantai-di-kawasan-konservasi-perairan-Pulau-Rao-Morotai--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131441</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maluku Utara (Malut) menjadi salah satu provinsi dengan sebaran Kawasan Konservasi Perairan (KKP) terbanyak dan terluas di Indonesia, setelah Papua Barat dan Papua Barat Daya. Sayangnya, minimnya infrastruktur  dan anggaran pengawasan menjadikan upaya pengawasan belum maksimal. Merujuk portal satu data Malut, sampai 2025, provinsi ini memiliki tujuh wilayah KKP dengan luas  1.005.235,35 hektar. Ketujuh KKP  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/03/usaha-keras-masyarakat-pesisir-jaga-kawasan-konservasi-perairan-maluku-utara/">Usaha Keras Masyarakat Pesisir Jaga Kawasan Konservasi Perairan Maluku Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maluku Utara (Malut) menjadi salah satu provinsi dengan sebaran Kawasan Konservasi Perairan (KKP) terbanyak dan terluas di Indonesia, setelah Papua Barat dan Papua Barat Daya. Sayangnya, minimnya infrastruktur  dan anggaran pengawasan menjadikan upaya pengawasan belum maksimal. Merujuk portal satu data Malut, sampai 2025, provinsi ini memiliki tujuh wilayah KKP dengan luas  1.005.235,35 hektar. Ketujuh KKP  adalah KKP Pulau Mare dan Perairan sekitar (7.060 hektar),  Pulau Rao-Tanjung Dehegilia (65.892,42 hektar), Pulau-pulau Kecil Kepulauan Sula (120.723,8 hektar). Lalu, KKP Kepulauan Widi (315.117,92 hektar),  Perairan Kepulauan Guraici (91.538,99 hektar), Perairan Pulau Makian dan Moti (67.349 hektar), dan Perairan Wilayah Patani-Bicoli dan Pulau Sayafi (337.552,27 hektar) yang baru pemerintah tetapkan pada 2025. Timotius Suage, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Aru Burung, Pulau Morotai bilang, secara luasan,kawasan konservasi di Malut sejatinya terus bertambah tetapi  semua menghadapi persoalan sama, infrastruktur minim. “Terutama untuk mendukung pengawasan, seperti perahu patroli,” kata Timo, belum lama ini. Padahal, katanya, pengawasan sangat penting untuk memastikan pengelolaan kawasan konservasi berjalan efektif. Sementara di lapangan, ancaman destructive fishing terus terjadi. &nbsp; Pengawasan kawsan konservasi yang dilakukan oleh Pokmaswas di Pulau Rao Morotai 2. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia. Perlu perhatian Timo akui,  ada bantuan perahu dan mesin dari Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Malut tetapi belum merata. Akibatnya, aktivitas patroli atau pengawasan oleh sejumlah pokmaswas berlangsung swadaya. Irfandi Bunga, Ketua Pokmaswas Widi Star tak mengelak hal itu. Selama ini,  pengawasan oleh kelompoknya  menggunakan perahu nelayan. “Belum ada, baik bantuan bodi perahu maupun mesin, apalagi operasional, belum ada,” katanya.  KKP Tanjung Degila di Pulau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/03/usaha-keras-masyarakat-pesisir-jaga-kawasan-konservasi-perairan-maluku-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/03/usaha-keras-masyarakat-pesisir-jaga-kawasan-konservasi-perairan-maluku-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>