Bagi nelayan Bajo di Desa Monsongan, Banggai Laut, melaut bukan sekadar perjalanan mencari ikan. Ada tradisi bernama babangi, yakni mengarungi laut dan bermalam jauh dari desa selama berminggu-minggu, bahkan dahulu bisa berbulan-bulan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan kebutuhan ekonomi bertemu dalam satu perjalanan.
Komunitas Bajo telah menetap di Monsongan sejak awal 1940-an. Sebagai masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan laut, mereka mewarisi pengetahuan tentang angin, arus, musim, lokasi terumbu karang, dan perilaku ikan. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh dari buku, melainkan dikumpulkan melalui pengalaman dan diteruskan antargenerasi.
Dahulu, nelayan menjalani babangi menggunakan perahu layar beratap. Mereka menangkap ikan dasar dengan pancing, kemudian menukarkan hasilnya dengan beras, sagu, atau umbi-umbian. Dalam perjalanan panjang, keluarga pun dapat ikut serta. Mereka tinggal di babaroh, rumah singgah semi permanen yang dibangun di atas atol atau pulau kecil.
Kini, bentuk babangi berubah. Mesin telah menggantikan layar, sementara perjalanan umumnya dilakukan kelompok kecil yang terdiri dari lima hingga enam perahu. Istri dan anak tidak lagi ikut, sedangkan waktu melaut menyusut menjadi sekitar dua minggu. Meski demikian, perempuan tetap terhubung secara simbolis melalui sejumlah pantangan selama suami berada di laut.
Kerja kelompok menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Para nelayan membawa bahan bakar, air tawar, beras, dan perlengkapan dari desa. Jika ada anggota yang kekurangan bekal, jatuh sakit, atau mengalami kerusakan perahu, anggota lain akan membantu. Di tengah laut, solidaritas bukan sekadar nilai budaya, tetapi juga strategi untuk bertahan hidup.
Kelangsungan babangi sangat bergantung pada kesehatan terumbu karang. Nelayan menyebut lokasi tangkap di sekitar karang sebagai rep. Di tempat inilah berbagai ikan karang dan gurita mencari makan, berlindung, serta berkembang biak. Karena itu, nelayan menggunakan pancing, jaring kecil, dan panah yang dinilai lebih ramah terhadap karang.
Namun, tradisi ini menghadapi tekanan. Biaya satu perjalanan dapat mencapai jutaan rupiah sehingga sebagian nelayan meminjam modal dari pengepul. Sebagai gantinya, hasil tangkapan harus dijual kepada pemberi modal. Penangkapan berlebihan dan penggunaan alat tangkap merusak oleh nelayan dari luar juga mengancam ekosistem.
Sebagian nelayan muda akhirnya memilih menangkap gurita di sekitar pulau karena membutuhkan modal lebih kecil. Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang membeku. Babangi terus menyesuaikan diri, sambil mempertahankan pengetahuan laut, solidaritas, dan kesadaran bahwa kehidupan nelayan bergantung pada ekosistem yang tetap sehat.
Artikel asli ditulis oleh Wahyu Chandra.