<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=elviza-diana-riau&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/elviza-diana-riau/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2026 09:30:46 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Ketika Api di Lahan Korporasi Bikin Masyarakat Menderita Penyakit Pernapasan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 09:30:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121411/warga-Kalsel-saat-kabut-asap-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133771</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan hanya menghanguskan bentang alam. Kabut asap yang dihasilkannya telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 72.431 kasus ISPA. Kasus terbanyak ditemukan di Palangka Raya dengan 16.166 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/">Ketika Api di Lahan Korporasi Bikin Masyarakat Menderita Penyakit Pernapasan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan hanya menghanguskan bentang alam. Kabut asap yang dihasilkannya telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 72.431 kasus ISPA. Kasus terbanyak ditemukan di Palangka Raya dengan 16.166 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus, Kotawaringin Timur 7.982 kasus, dan Kapuas 7.910 kasus. Wilayah-wilayah tersebut memiliki bentang gambut luas yang mengalami kebakaran masif. Bantuan masker, oksigen, dan rumah aman asap telah disalurkan ke sejumlah desa. Namun, ketersediaannya belum sebanding dengan jumlah warga terdampak. Penanganan pemerintah juga dikritik karena kondisi justru memburuk setelah Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat karhutla pada 31 Agustus 2026. Bahaya asap karhutla terutama berasal dari partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Fachrial Kautsar dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative menyebut partikulat karhutla sepuluh kali lebih berbahaya bagi paru-paru anak dibandingkan polusi biasa. Ibu hamil, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap asma, penyakit paru-paru kronis, serta gangguan perkembangan janin. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.891 kasus ISPA di tujuh provinsi selama Juni–Agustus 2026. Sementara itu, Yayasan Auriga Nusantara mencatat luas kawasan yang terbakar sepanjang Januari–Juni mencapai 190.546 hektar, setara sekitar 2,6 kali luas Singapura. Dampaknya juga melintasi batas negara. Pemantauan Greenpeace selama 4 Agustus–6 September menunjukkan asap karhutla mencapai Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Sarawak terdampak selama 34 hari, bahkan indeks pencemaran udaranya melampaui 500 pada 5 September. Sekolah terpaksa ditutup dan masyarakat membatasi kegiatan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-api-di-lahan-korporasi-bikin-masyarakat-menderita-penyakit-pernapasan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Tangan Tobani Tiku, Tradisi Kain Kulit Kayu Masyarakat Adat Kulawi Tetap Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 09:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/18010540/kulit-kayu-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133841</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi hingga sore, Tobani Tiku memukul kulit kayu beringin di belakang rumahnya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 86 tahun itu sedang membuat kumu nunu, kain kulit kayu khas masyarakat adat Kulawi. Dahulu, kumu nunu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, mulai dari baju bekerja di sawah hingga selimut. Kini, kain tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/">Di Tangan Tobani Tiku, Tradisi Kain Kulit Kayu Masyarakat Adat Kulawi Tetap Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi hingga sore, Tobani Tiku memukul kulit kayu beringin di belakang rumahnya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 86 tahun itu sedang membuat kumu nunu, kain kulit kayu khas masyarakat adat Kulawi. Dahulu, kumu nunu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, mulai dari baju bekerja di sawah hingga selimut. Kini, kain tersebut semakin langka dan hanya dikenakan dalam acara adat. Tobani menjadi satu-satunya perempuan di Kulawi yang masih menguasai seluruh proses pembuatannya. Ia mempelajari keterampilan tersebut sejak remaja dari ibu dan neneknya. Bahan utamanya berasal dari kulit beringin merah atau nunu lero dan beringin putih yang disebut nunu bula. Namun, Tobani lebih sering menggunakan beringin merah. Pengambilan ranting tidak boleh sembarangan. Ranting dipotong ketika bulan purnama dan harus tumbuh mengarah ke langit atau mendatar. Ranting yang mengarah ke bawah memiliki kulit tipis dan serat kurang baik. “Kalau di bulan-bulan lain, tidak bulan purnama, tidak berisi,” kata Syafrudin, anak Tobani yang bertugas mengambil ranting. Ranting dipotong sepanjang 10-1,5 meter, kemudian dikuliti, dibersihkan, dan direndam selama tiga hari. Setelah itu, kulit dipukul perlahan hingga melebar dan menipis menjadi kain. Tobani juga menggunakan ramuan dari tumbuhan, seperti linuro dan ulakau, sebagai pewarna sekaligus pengawet alami. Pembuatan kain memakai empat alat pemukul secara berurutan, yaitu pola, ike tinahi, ike tiva, dan ike pogea. Tiga alat terakhir terbuat dari batu khusus asal Desa Towulu. Alat-alat yang digunakan Tobani merupakan warisan neneknya dan masih kokoh hingga sekarang. Satu set pakaian, berupa atasan dan bawahan, membutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Harganya sekitar Rp1,5 juta,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-tangan-tobani-tiku-tradisi-kain-kulit-kayu-masyarakat-adat-kulawi-tetap-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Kolong, Hutan Tumbek Sumber Air Bersih Masyarakat Bangka Belitung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 07:45:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21074121/Salah-satu-ladang-padu-darat-yang-dibuka-Suku-Mapur-di-sekitar-aliran-air-yang-berasal-dari-hutan-tumbek-benak.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133965</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di masa lalu, orang Melayu di Kepulauan Bangka Belitung hidup dan berkebun di sekitar aliran sungai kecil. Mereka membangun ume, kelekak, serta memanfaatkan sejumlah aliran air dari tumbek­, sebutan untuk sumber air yang menjadi hulu bagi belasan anak sungai. Tumbek biasanya terdapat di sebuah hutan perbukitan, disakralkan masyarakat setempat atau menjadi wilayah larangan yang pantang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/">Bukan Kolong, Hutan Tumbek Sumber Air Bersih Masyarakat Bangka Belitung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di masa lalu, orang Melayu di Kepulauan Bangka Belitung hidup dan berkebun di sekitar aliran sungai kecil. Mereka membangun ume, kelekak, serta memanfaatkan sejumlah aliran air dari tumbek­, sebutan untuk sumber air yang menjadi hulu bagi belasan anak sungai. Tumbek biasanya terdapat di sebuah hutan perbukitan, disakralkan masyarakat setempat atau menjadi wilayah larangan yang pantang dirusak dan dibuka menjadi kebun. Akhir Agustus 2026, Mongabay Indonesia berkunjung ke hutan Gunung Cundong, area sakral Suku Mapur yang hidup di lanskap hutan bagian utara Pulau Bangka. Di Gunung Cundong yang luasnya sekitar 320 hektar, terdapat satu tumbek yang menjadi hulu 12 anak sungai. “Air, jadi alasan kami menjaganya,” kata Atok Kasmin (73), warga Mapur yang menetap di sekitar hutan Gunung Cundong, Kamis (27/8/26). Suku Mapur juga punya hutan tumbek lain yang mereka sakralkan, yaitu hutan Air Tumbek Benak di lanskap hutan Gunung Pelawan. Tumbek Air Benak mengaliri belasan anak sungai yang dimanfaatkan Suku Mapur untuk berladang di sekitar hutan Bukit Tabun. Orang Mapur percaya, jika wilayah hutan yang terdapat tumbek dirusak, maka aliran airnya akan menimbulkan penyakit bagi warga yang mengkonsumsi. “Penyakit itu disebut kutuk atau kutukan,” kata Abok Gedoi, Ketua Adat Suku Mapur di Dusun Air Abik, Selasa (17/8/26). Secara umum, sakralisasi hutan tumbek cukup umum dilakukan masyarakat Bangka Belitung. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, cerita mirip juga dituturkan masyarakat yang terhubung secara budaya dengan Bukit Menumbing dan Bukit Pelangas (Bangka Barat), Bukit Nenek (Bangka Selatan), Bukit Mangkol dan Gunung Pading (Bangka Tengah), Gunung Maras dan Bukit Tukak (Kabupaten Bangka), dan sebagainya. “Air&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/bukan-kolong-hutan-tumbek-sumber-air-bersih-masyarakat-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 05:06:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fadli KayoaRabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230024/Photo-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133528</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Pertambangan, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Elizabeth Yamalu pamit kepada suaminya, Menjamin Lanto, untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Kabupaten Taliabu, Maluku Utara (Malut), Selasa (9/6/26) sore. Hingga malam hari, dia tak kunjung pulang. Merasa cemas, Menjamin mengambil senter, parang, dan mencari istrinya ke lokasi sapi itu berada seraya memanggil-manggil namanya.  Tak ada jawaban. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/">Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Elizabeth Yamalu pamit kepada suaminya, Menjamin Lanto, untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Kabupaten Taliabu, Maluku Utara (Malut), Selasa (9/6/26) sore. Hingga malam hari, dia tak kunjung pulang. Merasa cemas, Menjamin mengambil senter, parang, dan mencari istrinya ke lokasi sapi itu berada seraya memanggil-manggil namanya.  Tak ada jawaban. Sapi itu masih berada di tempatnya,  Menjamin tak temukan istrinya. Dia lantas berjalan ke arah pohon mangga besar. Dia menduga istrinya mungkin mencari buah mangga yang memang sedang musim.  Betapa terkejutnya  ketika mendapati  ular piton besar sepanjang sekitar 7,8 meter tengah melilit tubuh istrinya. “Saat itu istri saya sudah dililit dan ditelan separuh badannya. Tinggal tangan serta kepala [yang belum tertelan]. Sedangkan bagian kaki semua sudah,” kata Menjamin lewat sambungan telepon menceritakan peristiwa itu kepada Mongabay pertengahan Agustus. Dia segera menebas ular  dan berusaha menarik tubuh istrinya.  Elizabeth sudah  meninggal dunia. “Saya tarik istri saya dari mulut ular.  Saya langsung pulang sampaikan ke anak-anak dan warga.” Berselang beberapa hari setelah kematian Elizabeth, pada 23 Juni, seorang warga di Desa Padang, Kecamatan Taliabu Utara, juga meninggal dunia kena serang  ular piton. Peristiwa itu terjadi saat korban hendak ke kebun di  hutan Air Pala, Desa Ufung. Seorang warga Taliabu menunjukkan ular piton yang berhasil ditangkap. Foto: Dokumen warga. Warga waswas sering jumpa ular piton Kedua peristiwa itu membuat warga Pulau Taliabu ketakutan. Pasalnya, hampir setiap pekan sejak peristiwa itu, warga menemukan piton berukuran besar. Warga kerap mendapati ular raksasa itu di kebun, sekitar permukiman, kawasan sungai, hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/21/ular-piton-telan-dua-warga-di-taliabu-gara-gara-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Warga di Bangka Belitung Mengalami Krisis Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/#respond</comments>
					<pubDate>21 Sep 2026 00:05:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30000451/Hana-Fitri-27-dan-Yustika-51-mencuci-pakaian-dan-beras-di-salah-satu-kolam-yang-tersisa-di-sekitar-Desa-Zed-Kabupaten-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133951</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Bangka Belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dampak musim kemarau panjang mulai terasa di sejumlah desa di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan kesulitan mendapatkan air bersih. Di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Dalam dua minggu terakhir, distribusi air terganggu.  “Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/">Kemarau Panjang, Warga di Bangka Belitung Mengalami Krisis Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dampak musim kemarau panjang mulai terasa di sejumlah desa di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan kesulitan mendapatkan air bersih. Di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Dalam dua minggu terakhir, distribusi air terganggu.  “Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” ungkap Hana Fitri, warga Desa Zed, akhir Agustus lalu. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Puding Besar, Desa Paya Banua dan Desa Kemuja. Di sejumlah titik, warga terlihat mandi di pemandian umum serta membawa jerigen untuk membawa pulang air. Bahkan, di Dusun Tuing, kolam-kolam air tawar mulai menyusut dan terasa asin akibat air laut merembes ke aliran sungai kecil. Ketua Tim Data dan Informasi BMKG, Slamet Supriyadi, menyatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada September 2026 dan berakhir kisaran Januari-Februari 2027. Kondisi geologi Babel turut memengaruhi ketersediaan air tanah. Kontur granit dan letak kota di cekungan membuat air tanah tidak menyebar merata sehingga cadangannya cepat terkuras sewaktu kemarau, sementara penggunaan air terus meningkat. Kajian Risiko Bencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2022-2026 menunjukkan sebagian besar wilayah daratan Babel berada dalam kelas bahaya kekeringan sedang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Ekoregion Sumatera menyatakan 88,76% wilayah Kepulauan Bangka Belitung masuk kategori rendah dalam jasa ekosistem penyediaan air bersih. Selain itu, 75,40% wilayah Bangka Belitung berada pada kategori sangat rendah–rendah dalam jasa pengaturan tata aliran air dan banjir. Sisanya, 24,60% berada pada kategori tinggi–sangat tinggi. “Semakin luas area&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kemarau-panjang-warga-di-bangka-belitung-mengalami-krisis-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jatam Kritik Kebijakan Berlabel Tranisisi Energi Justru Berisiko bagi Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 23:50:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16020019/Kabaena-cemaran-nikel.jpeg-Yudin-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133945</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintahan Prabowo Subianto tengah menyiapkan dua kebijakan besar yang mereka klaim sebagai langkah percepatan transisi energi bersih di Indonesia. Kebijakan itu,  yakni kucuran insentif massal untuk kendaraan motor listrik dan percepatan pengembangan tambang panas bumi atau geothermal. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  langkah-langkah itu justru memperluas model ekonomi ekstraktif yang menguntungkan korporasi sekaligus memperparah ancaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/">Jatam Kritik Kebijakan Berlabel Tranisisi Energi Justru Berisiko bagi Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintahan Prabowo Subianto tengah menyiapkan dua kebijakan besar yang mereka klaim sebagai langkah percepatan transisi energi bersih di Indonesia. Kebijakan itu,  yakni kucuran insentif massal untuk kendaraan motor listrik dan percepatan pengembangan tambang panas bumi atau geothermal. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  langkah-langkah itu justru memperluas model ekonomi ekstraktif yang menguntungkan korporasi sekaligus memperparah ancaman terhadap ruang hidup masyarakat adat dan lokal dari hulu hingga hilir. Dalam pidato penyampaian Rancangan Undang-undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RUU-APBN) 2027 pada Rapat Paripurna DPR 14 Agustus 2026, Prabowo menyatakan pemerintah akan memberikan insentif khusus bagi perusahaan dalam negeri yang mampu memproduksi 1 juta motor listrik. “Kita akan percepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat. Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Pemerintah yang saya pimpin kemarin meluncurkan ekosistem motor listrik nasional. Selain itu, hari ini kita umumkan, kita akan beri insentif cukup besar untuk mereka yang bisa membangun satu juta motor listrik di dalam negeri oleh perusahaan Indonesia,” kata Prabowo. Untuk merealisasikan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp3 triliun dari uang publik untuk menyubsidi pembelian motor listrik produksi domestik, dengan Rp3 juta per unit. Anggaran ini rilis di tengah pembengkakan RAPBN 2027 yang menembus Rp4.09,2 triliun–meningkat Rp254,5 triliun dari APBN 2026–dan mencatat defisit Rp671,2 triliun. Di tengah krisis defisit anggaran, Jatam mengkritik pemerintah yang lebih memilih memanjakan pasar kendaraan listrik pribadi dan menyokong rantai pasok industrinya. Sebaliknya, keberpihakan anggaran yang setara tidak terlihat untuk pemulihan kerusakan ekologis, perlindungan masyarakat terdampak tambang, maupun pembangunan transportasi publik yang layak, aman, terjangkau, dan inklusif. Ilustrasi. Sebuah mobil listrik sedang mengisi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/jatam-kritik-kebijakan-berlabel-tranisisi-energi-justru-berisiko-bagi-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lonjakan Tajam Kebakaran  Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 16:38:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16042642/Kabut-karhutla-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133911</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi tahun ini melepaskan emisi besar. Berdasarkan pemodelan Area Indikatif Terbakar (AIT) Yayasan Madani Berkelanjutan, luas area terbakar melonjak tajam, dari sekitar 100.700  hektar pada Juli, naik 1,32 juta hektar di Agustus. Lonjakan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga. Sejak awal tahun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/">Lonjakan Tajam Kebakaran  Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi tahun ini melepaskan emisi besar. Berdasarkan pemodelan Area Indikatif Terbakar (AIT) Yayasan Madani Berkelanjutan, luas area terbakar melonjak tajam, dari sekitar 100.700  hektar pada Juli, naik 1,32 juta hektar di Agustus. Lonjakan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga. Sejak awal tahun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah  memperingatkan potensi musim kemarau ekstrem tahun ini lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Madani menyebut, terhitung Januari-Agustus, total AIT mencapai sekitar 1,36 juta hektar. Dari luasan tersebut, sekitar 37,2 ribu hektar merupakan area dengan kejadian berulang. Sedangkan 1,32 juta hektar merupakan area baru. Dengan demikian, sekitar 97,26% dari area terbakar merupakan wilayah baru. Sementara area lama yang kembali alami kebakaran hanya 2,74%. Madani menilai, besaran area terbakar ancam target forestry and other land use (FoLU) Net Sink 2030.  “Sebab, sekitar 511.300 hektar atau 38,70% area terbakar berada di wilayah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030,” kata Giorgio Budi Indrarto, Badan Pengurus Yayasan Madani Berkelanjutan. Folu Net Sink merupakan kondisi ketika tingkat penyerapan gas rumah kaca (GRK) oleh sektor kehutanan dan penggunaan lahan sudah seimbang atau lebih tinggi daripada tingkat emisi yang dilepaskannya pada tahun 2030 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional mengestimasi emisi terlepas dari karhutla yang terjadi sepanjang tahun ini. Berdasarkan estimasi Walhi, total emisi dari vegetasi terbakar sejak Januari-awal September 2026 mencapai sekitar 31 juta ton CO2. Jumlah itu setara hampir seluruh emisi gas rumah kaca tahunan Kuba, negara dengan populasi sekitar 11,3 juta jiwa, yang mencakup seluruh sektor energi, transportasi, industri,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/lonjakan-tajam-kebakaran-ancam-target-tekan-emisi-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 12:55:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015752/CRU3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133840</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya. Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/">Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya. Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara tembakan pemburu. Gogo harus melewati hutan, sungai, perbukitan, dan semak belukar untuk menemukan adiknya. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya kembali berkumpul dengan rombongan gajah. “Di mana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. Anak-anak menjawab serempak, “Di hutan.” Jawaban sederhana itu membawa pesan penting: habitat alami gajah bukan kebun binatang, melainkan hutan. Melalui cerita, peserta diajak memahami hubungan antara satwa, habitat, dan ancaman yang dihadapi gajah tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat. Kegiatan dalam rangka Hari Gajah Sedunia tersebut diselenggarakan oleh Difabel Pecinta Alam atau Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix. Acara juga diisi dengan puisi, nyanyian, pembacaan Al-Qur’an, serta pembagian hadiah kepada anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan. Menurut Kertaning Tyas, pembina Lingkar Sosial, dongeng menjadi cara menyenangkan untuk menyampaikan pesan konservasi. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat berperan aktif dalam edukasi dan pelestarian lingkungan. “Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian gajah Indonesia dan habitatnya,” katanya. Difpala sebelumnya juga mengembangkan program Tuli Mendongeng dengan melibatkan juru bahasa isyarat. Organisasi ini aktif melakukan pendakian, penanaman pohon, dan pembersihan sampah di gunung. Kini, mereka mulai memperluas perhatiannya dari hutan menuju satwa liar dan keseluruhan ekosistem. Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cara-inklusif-kenalkan-konservasi-gajah-sumatera-bagaimana-caranya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 12:02:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/20120140/Amami-Oshima-mongoose-eradication-rs-1024x786-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133936</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah. Pertimbangan awalnya biasanya sederhana: satu predator dilepas, populasi target menyusut, masalah selesai. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuannya, dan bahwa memperbaiki kegagalan tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/">Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah. Pertimbangan awalnya biasanya sederhana: satu predator dilepas, populasi target menyusut, masalah selesai. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuannya, dan bahwa memperbaiki kegagalan tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran yang jauh lebih besar daripada biaya pelepasan awal. Kasus garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) di Pulau Amami Oshima, Jepang, menjadi salah satu contoh paling terdokumentasi dari pola ini. Setelah sekitar 30 ekor garangan dilepas pada 1979 untuk mengendalikan ular berbisa, pemerintah Jepang menghabiskan sekitar 3,6 miliar yen, setara sekitar 24 juta dolar AS, hanya untuk periode 2000 hingga 2024, demi menyingkirkan hewan yang sama dari pulau itu. Operasi ini melibatkan puluhan ribu perangkap, ratusan kamera pemantau, dan tim anjing pelacak khusus, sebelum akhirnya dinyatakan berhasil pada September 2024. Tiga Dekade Operasi Bertahap Upaya menangani garangan di Amami Oshima sebenarnya dimulai lebih awal dari yang banyak diberitakan. Pemerintah daerah setempat mulai menangkap garangan sebagai hewan pengganggu pada 1993, jauh sebelum ada program nasional yang terkoordinasi. Kementerian Lingkungan Jepang baru meluncurkan survei dan proyek percontohan pada pertengahan 1990-an, sebelum akhirnya menetapkan program eradikasi berskala penuh pada 2000, saat populasi garangan diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 ekor. Metode penangkapan terus berubah seiring waktu. Perangkap tabung ringan yang mematikan mulai digunakan sejak 2003, setelah tim profesional pertama kali disewa untuk menangani operasi lapangan. Dua tahun kemudian, Jepang mengesahkan Undang-Undang Spesies Asing Invasif dan membentuk tim khusus bernama Amami Mongoose&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/bagaimana-jepang-habiskan-25-tahun-demi-membasmi-garangan-pemburu-ular-di-satu-pulau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 10:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005013/Buah-sukun-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Kemarau Panjang, Buah Sukun Sumber Pangan Potensial Masyarakat Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino ini, turut memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan, dengan pemantauan satelit pada 13 September 2026 mendeteksi 627 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan. Berikutnya, 200 titik di Papua dan Maluku, 104 titik di Sulawesi, serta 86 titik di Sumatera yang sebagiannya telah memicu sebaran kabut asap lintas wilayah. Kementerian Pertanian mengonfirmasi peningkatan luasan sawah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Hingga pertengahan September 2026, total area pertanian terdampak kekeringan di Indonesia melonjak mencapai 50.000 hektar. Sebagian besar kerentanan ini berada di area lahan tadah hujan atau kawasan upland yang tidak memiliki akses jaringan irigasi memadai. Sukun merupakan tanaman pangan potensial yang banyak tumbuh di Indonesia. Foto: Pixabay/ JoshuaJCreative/Public Domain. Di tengah situasi ini, belum banyak masyarakat yang menjadikan potensi pohon sukun (Artocarpus altilis) sebagai solusi kedaulatan pangan berbasis sistem perakaran dan pola panennya yang tidak bergantung pada musim hujan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Agrosilvopasture-Tech pada 2024 mengkarakterisasi morfologi sukun di Desa Ohoitahit dan Danar, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, wilayah dengan curah hujan rata-rata hanya 200-400 milimeter per tahun dan musim kemarau panjang dari Juni hingga November.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kemarau-panjang-buah-sukun-sumber-pangan-potensial-masyarakat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 08:44:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16052358/IMG_1773-scaled-e1789893419179-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133705</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah terik matahari, sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Warga Aceh mengenalnya sebagai kacang parang. Dulu, kacang ini tumbuh liar,  kini petani mulai membudidayakan sebagai alternatif kedelai karena produktif dan tahan iklim. Kini, banyak petani di Aceh Beslar, Aceh Selatan, hingga Simeulue menanam tanaman ini. Sejak April 2026, Ruhani mulai menanam koro di kebunnya seluas satu hektar secara tumpang sari, seperempat lahan terdiri dari 2.500 batang koro, sela-selanya ada kunyit, lengkuas, nanas, cabai, kacang tanah dan jenis tanaman lain. “Pokoknya apa yang ada, kita tanam di sini, sambil menunggu koro panen, juga bisa panen yang lain,” katanya. Dulu, warga menganggap kacang parang sebagai tanaman liar karena belum banyak yang mengetahui cara mengolahnya dan belum punya nilai ekonomi. Hanya sebagian kecil warga Lamteuba yang mengolah menjadi sayur, menumis dengan u-neulheu—bumbu kuliner khas Aceh yang terbuat dari kelapa parut yang mereka sangrai  hingga kecoklatan dan berminyak, lalu menggilingnya sampai halus. “Kami (sebelumnya) mengenal jenis koro yang bijinya berwarna hitam. Buahnya sama, daunnya sama, bijinya yang warnanya hitam. Bahasa kami reuteuk kacang parang,” katanya, Selasa (18/8/26). Cut Badriah (jilbab pink) dan dua orang petani lainnya memanen kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) yang tumbuh di kebun milik Ruhani di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Memasuki bulan kelima, dia bisa memanen perdana sekitar 30 kilogram pada akhir Juli, lalu panen kembali 80 kg dan masih terus berlanjut. Hampir sama seperti Ruhani, Cut Badriah, menanam koro sekitar akhir April 2026. Dia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/tahan-iklim-petani-aceh-lirik-potensi-kacang-koro-pedang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk Beda dengan Kucing Domestik, Jangan Ditangkap karena Statusnya Dilindungi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 06:14:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/20060601/Kucing-Kuwuk-Foto-Burhanuddin-Ihsan-Alfani-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133918</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba melihat kucing kuwuk tengah malam? Bagi Burhanuddin Ihsan Alfani (26), jawabannya sederhana. “Seperti jackpot” merujuk hadiah utama permainan game. Alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu, sudah biasa pengamatan satwa liar malam. Namun, menjumpai kucing liar dilindungi ini tetap pengalaman berbeda. Prionailurus bengalensis bukan target utama pengamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/">Kucing Kuwuk Beda dengan Kucing Domestik, Jangan Ditangkap karena Statusnya Dilindungi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba melihat kucing kuwuk tengah malam? Bagi Burhanuddin Ihsan Alfani (26), jawabannya sederhana. “Seperti jackpot” merujuk hadiah utama permainan game. Alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu, sudah biasa pengamatan satwa liar malam. Namun, menjumpai kucing liar dilindungi ini tetap pengalaman berbeda. Prionailurus bengalensis bukan target utama pengamatan Ihsan dan rekannya empat tahun lalu. Mereka biasa mencari reptil, amfibi, serangga, dan burung nokturnal. “Malam itu seperti biasa,” terangnya, Jum’at (18/9/26). Mereka awalnya melihat sepasang mata menyala di ujung jalan, yang dianggap burung. Sebab, ukurannya kecil dan cahaya yang dipantulkan terlihat kekuningan pucat. Mereka mendekat. Setelah diperhatikan lebih jelas, terlihat corak tubuhnya. “Kucing hutan.” Kamera dikeluarkan. Satu jepretan dilakukan. Namun, flash kamera membuat satwa itu lari dan hilang. Mereka tidak mengecar, hanya menunggu di tempat semula. Beberapa saat kemudian, kucing kuwuk yang disebut kucing hutan juga, kembali terlihat meski berjalan di antara semak. Kucing kuwuk merupakan jenis kucing liar yang dilindungi. Foto: Dok. Burhanuddin Ihsan Alfani. Kemunculan kucing kuwuk sulit diprediksi Perjumpaan dengan kucing kuwuk merupakan pengalaman paling diingat Ihsan, karena kemunculannya tak pernah benar-benar bisa diprediksi. Pada suatu kesempatan, kucing kuwuk pernah di lihat menyebrang jalan. Jaraknya sekitar enam hingga tujuh meter. Namun, cahaya kendaraan membuatnya menghilang di tutupan vegetasi. Kucing kuwuk kadang muncul secara tiba-tiba, berjalan sebentar, lalu berlari sebelum kamera sempat diarahkan. “Ukurannya kecil, malam dan gelap, mau keluarkan kamera juga susah.” Menurut Ihsan, waktu kemunculan kucing kuwuk beragam. Ada yang dijumpai sekitar pukul 20.00. Ada yang terpantau pukul 22.00 hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kucing-kuwuk-beda-dengan-kucing-domestik-jangan-ditangkap-karena-statusnya-dilindungi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 03:00:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/11/22032027/Sisik-Trenggiling-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133834</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus penyelundupan tiga ton  sisik trenggiling memasuki babak baru. Tidak berhenti pada pidana, para pelaku pun terancam gugatan perdata ganti rugi kerusakan lingkungan. Yayasan Scents ajukan gugatan awal September ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor perkara 565/Pdt.G/2026/ PN Jkt.Tim. Perdagangan ilegal satwa dilindungi ini ada keterlibatan tiga perusahaan. Yaitu , PT VTM yang mengurus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/">Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus penyelundupan tiga ton  sisik trenggiling memasuki babak baru. Tidak berhenti pada pidana, para pelaku pun terancam gugatan perdata ganti rugi kerusakan lingkungan. Yayasan Scents ajukan gugatan awal September ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan nomor perkara 565/Pdt.G/2026/ PN Jkt.Tim. Perdagangan ilegal satwa dilindungi ini ada keterlibatan tiga perusahaan. Yaitu , PT VTM yang mengurus administrasi ekspor, PT TSR sebagai eksportir ke Kamboja, dan PT LWA teridentifikasi sebagai penyedia gudang untuk sisik trenggiling. Sedangkan empat orang pelaku, yaitu, AAM punya 2.700 kilogram, dan VXH pemilik 353 kilogram sisik trenggiling, lalu, MIS sebagai operator, dan TT teridentifikasi sebagai koordinator kejahatan ini. Lewat gugatan perdata, Yayasan Scents meminta ketujuh pihak itu ganti rugi Rp2,46 miliar atas terbunuhnya sekitar 8.532  trenggiling yang  ambil sisik. Uang ini, untuk pemulihan lingkungan yang rusak akibat penyelundupan satwa berstatus critically endangered berdasarkan IUCN itu. Ma’ruf Erwan, Direktur Yayasan Scents, menilai, hilangnya ribuan trenggiling dari alam bukan semata-mata pelanggaran terhadap aturan perdagangan satwa liar. Pengambilan dalam jumlah besar menimbulkan kerugian terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis. Trenggiling merupakan satwa pemakan semut dan rayap. Aktivitasnya membantu mengendalikan populasi serangga tersebut dan merupakan bagian dari hubungan ekologis di habitatnya. Satwa ini juga punya perilaku unik yang rutin menggali tanah. Ketika menggali untuk mencari makanan maupun membuat tempat berlindung, aktivitas itu  berkontribusi baik terhadap kondisi tanah, seperti aerasi atau penambahan oksigen ke tanah, pergerakan air di atas permukaan, dan proses-proses ekologis lainnya. Perilaku unik lain, kata Erwan, ini satwa soliter, teritorial, dan hidup dalam kepadatan populasi yang rendah. “Jika diambil dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/20/kasus-penyelundupan-3-ton-sisik-trenggiling-berbuntut-gugatan-pemulihan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/#respond</comments>
					<pubDate>20 Sep 2026 01:23:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18070127/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-1536x1024-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133849</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia. Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/">Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia. Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru menyusut dari 9.958 hektar pada 2004 menjadi sekitar 8.981 hektar pada 2024. Lebih dari 1.700 hektar habitat orangutan dilaporkan hilang dalam dua dekade terakhir. Koridor tersebut menghubungkan populasi orangutan di blok barat dan timur. Jika konektivitas terputus, pertukaran gen antar individu terganggu dan risiko kepunahan lokal meningkat. “Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” kata Julius Paolo Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari. Namun, jembatan arboreal bukan pengganti perlindungan hutan. Jika koridor alami masih dapat dipertahankan, perlindungan dan restorasi habitat tetap harus menjadi prioritas. Jembatan baru dipertimbangkan ketika ruang terbuka, jalan, atau medan terjal tidak dapat diseberangi melalui kanopi alami. Pengalaman Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa di Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan bagaimana jembatan tersebut bekerja. Tiga kawasan hutan yang dihuni sekitar 350 orangutan sumatera terpisah oleh sejumlah jalan. Sejak 2023, organisasi itu memasang beberapa jembatan kanopi berdasarkan lokasi sarang, pohon pakan, dan kekuatan pohon penyangga. Selama pemantauan Maret 2025-Maret 2026, sebanyak 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan tersebut dalam 374 perlintasan. Orangutan baru mencoba jembatan pada Desember 2025. Setelah sempat menginjak ujungnya lalu mundur, individu yang sama akhirnya menyeberang penuh enam hari kemudian. “Orangutan sangat cerdas dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/orangutan-tapanuli-dan-jembatan-arboreal-yang-menyatukan-kembali-hutannya-di-batang-toru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah, Minim Upaya Pencegahan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 23:56:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28033454/Karhutla-Kalteng-1-Ini-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133891</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus membara, kabut asap pekat. Kualitas udara buruk bahkan berbahaya. Karhutla Kalteng pun sudah telan korban jiwa, setidaknya tiga pemadam api meninggal dunia. Akhmad Rizani, Ketua Relawan Tim Serbu Api Kelurahan di Palangka Raya, meninggal dunia pada 27 Agustus. Pada 30 Agustus, dari Pangkalan Bun, Ahmadin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/">Menyoal Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah, Minim Upaya Pencegahan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus membara, kabut asap pekat. Kualitas udara buruk bahkan berbahaya. Karhutla Kalteng pun sudah telan korban jiwa, setidaknya tiga pemadam api meninggal dunia. Akhmad Rizani, Ketua Relawan Tim Serbu Api Kelurahan di Palangka Raya, meninggal dunia pada 27 Agustus. Pada 30 Agustus, dari Pangkalan Bun, Ahmadin, relawan Damkar Rumah Singgah Ita, juga meninggal dunia. Lalu, Aries Sutio Luthfil Hadi, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Kotawaringin Lama, meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit pada 10 September. Sebelumnya, dia bertugas di KM 19 Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama. Menurut informasi yang beredar, Tyo mengalami gagal napas setelah bertugas di tengah kebakaran. Sejak 19 Agustus, jarak pandang sempat berada pada kisaran 300–500 meter. Kondisi itu mulai mengganggu operasional penerbangan dan menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak. Di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, api bahkan mulai mendekati pemukiman warga. Kebakaran makin luas di arah kiri Jembatan Tumbang Nusa ke arah Banjarmasin. Supriyadi, warga Tumbang Nusa, mengatakan, kebakaran beberapa hari terakhir berada dalam satu hamparan dan jarak sekitar 500 meter dari permukiman, pada 29 Agustus lalu. Kabut asap cukup pekat terutama sore hingga malam. Sejumlah warga, kata Supriyadi, mulai mengeluhkan sesak napas. Warga melakukan persiapan mandiri di rumah masing-masing untuk mengantisipasi jika api bergerak makin dekat. “Hampir setiap rumah sudah menyediakan [mesin] pompa,” katanya. Kesiapsiagaan itu bukan tanpa alasan. Masyarakat Tumbang Nusa masih mengingat kebakaran besar pada 2015–2016. Saat itu, api telah mendekati permukiman dari berbagai arah. “Kalau apinya sudah dekat warga bersiap.” Dia cerita, kesiapsiagaan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/menyoal-kebakaran-hutan-di-kalimantan-tengah-minim-upaya-pencegahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Tewaskan Belasan Bekantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 15:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/19111810/2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133870</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak hanya berdampak pada manusia, bencana itu pun menewaskan belasan bekantan (Nasalis larvatus) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, Minggu (13/9/26). Alamsyah, Kepala Desa Balimau mengatakan, ada 11 bekantan yang menjadi korban. Pemadam dan warga menemukan satwa terancam punah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/">Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan Tewaskan Belasan Bekantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak hanya berdampak pada manusia, bencana itu pun menewaskan belasan bekantan (Nasalis larvatus) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, Minggu (13/9/26). Alamsyah, Kepala Desa Balimau mengatakan, ada 11 bekantan yang menjadi korban. Pemadam dan warga menemukan satwa terancam punah (endangered) dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) itu, saat berupaya menangani api di kawasan itu. &#8220;Sepuluh yang dewasa, satu anakannya,&#8221; katanya, Selasa (15/9/26). Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menyebut, temuan satwa terdampak, 12 bekantan, satu ular piton (Malayopython reticulatus), dan satu king kobra (Ophiophagus hannah). Lokasi ini juga habitat lutung (Presbytis frontata), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kondisi mereka masih dalam pantauan. Di Kalsel, intensitas karhutla terus meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat,  terjadi 3.256 kebakaran dengan luas lahan terdampak 21.696 hektar, sepanjang Januari hingga 15 September 2026. Alamsyah menduga, kebakaran berasal dari titik api di Desa Karangpaci, kampung tetangga Balimau. &#8220;Balimau dengan Karangpaci dibatasi oleh sungai. Kami tidak mengira api bisa sampai ke desa kami. Mungkin karena angin kencang, kelelatu (jelaga) dari sebelah terbang dan mengenai vegetasi yang sudah kering di tempat kami, sehingga terjadi kebakaran,&#8221; Area yang pertama terbakar di Balimau adalah padang rumbia (Metroxylon sagu), dengan kobaran yang cepat membesar. Petugas pemadam dari desa bersama warga langsung berjibaku mengatasi api. Saat kebakaran, bekantan-bekantan itu diperkirakan berada di padang rumbia. Sementara di arah berlawanan, banyak petugas dan warga sedang melakukan pemadaman. “Karena bekantan cenderung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/kebakaran-hutan-di-kalimantan-selatan-tewaskan-belasan-bekantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rumah Sakit Hewan, Syarat Lembaga Konservasi Penuhi Kesejahteraan Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 14:19:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232502/KONDISI-MATULJA-DARI-BANTEN-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ, yaitu satwa yang hidup di luar habitat aslinya. Satwa liar yang berada di rumah sakit ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/">Rumah Sakit Hewan, Syarat Lembaga Konservasi Penuhi Kesejahteraan Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rumah sakit khusus hewan menjadi pilar penting terpenuhinya kesejahteraan satwa liar di lembaga konservasi/ex-situ, yaitu satwa yang hidup di luar habitat aslinya. Satwa liar yang berada di rumah sakit ini harus terhindar luka maupun penyakit, akibat kandang maupun sumber penyakit lain, terhindar dari pakan yang tidak segar, serta interaksi dengan manusia atau sebaliknya yang dapat menyebabkan transfer penyakit. Lima prinsip dasar kesejahteraan satwa secara internasional harus menjadi acuan. Syaratnya adalah satwa bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit; bebas berperilaku normal dan alami; serta bebas dari ketakutan dan penderitaan. Intan P Hermawan, dokter hewan dan dosen interna Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, mengatakan rumah sakit hewan memiliki fungsi vital dalam pemeliharaan kesehatan, pemulihan pascasakit dan penanganan kasus emergency. Rumah Sakit Hewan (RSH) dapat memberikan pelayanan semua hewan, mulai hewan peliharaan, ternak, satwa exotik, hingga satwa liar. “RSH dilengkapi fasilitas pelayanan medis mumpuni dan tenaga medik veteriner handal,” jelasnya, awal September 2026. Macan kumbang atau macan tutul jawa ini berada di Taman Safari Indonesia, Bogor. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Rumah sakit hewan dilengkapi dengan fasilitas dasar, seperti pemeriksaan darah, X-Ray, USG, EKG, PCR dan alat penunjang medis lainnya. Tidak hanya dapat melayani rawat jalan dan opname, juga operasi minor dan mayor. “RSH konservasi dilengkapi pula ruangan isolasi, opname, surgery, rehabilitasi, laktasi dan perawatan pascatraumatik.” Intan menilai pentingnya rumah sakit hewan di setiap lembaga konservasi, bukan hanya skala klinik. “Satwa dilindungi maupun tidak, perlu mendapatkan perawatan medis bila sakit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/rumah-sakit-hewan-syarat-lembaga-konservasi-penuhi-kesejahteraan-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Nelayan Ternate 26 Hari Terapung di Samudra Pasifik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 10:55:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunits lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16091953/WhatsApp-Image-2026-09-16-at-02.19.09-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133732</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Esau Sidemo tak henti berucap syukur. Bak mendapat mukjizat, lelaki 57 tahun itu tak pernah mengira bakal selamat setelah 26 hari terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik saat mencari ikan. Kepada Mongabay yang menemui di kediamannya di Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara (Malut), dia ceritakan pengalaman paling tragis dalam hidupnya itu. “Ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/">Ketika Nelayan Ternate 26 Hari Terapung di Samudra Pasifik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Esau Sidemo tak henti berucap syukur. Bak mendapat mukjizat, lelaki 57 tahun itu tak pernah mengira bakal selamat setelah 26 hari terkatung-katung di tengah Samudera Pasifik saat mencari ikan. Kepada Mongabay yang menemui di kediamannya di Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara (Malut), dia ceritakan pengalaman paling tragis dalam hidupnya itu. “Ini seperti mukjizat,” kata pria yang sudah jadi nelayan sejak masih remaja itu. Seperti biasa, hari itu, berbekal perahu ketinting bermesin tempel, Esau berangkat melaut untuk mencari ikan. Baru setengah jam melaju, mesin perahu tiba-tiba mati. Tak dinyana, arus laut kemudian membawanya ke tengah Samudra Pasifik yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya. Total 26 hari lama Esau berada di tengah lautan. Selama itu, dia bertahan hidup dengan cara yang tak lazim: memakan burung laut, ikan yang kebetulan melompat di perahunya, hingga buah kelapa busuk yang hanyut di dekatnya. Dia bahkan harus meminum urine deni bertahan hidup. Syahdan, keajaiban itu akhirnya tiba. Satu kapal kargo berbendera Prancis yang tengah melintas kemudian menolongnya. Oleh awak kapal, Esau pun dibawa ke China sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. “Saya selalu berdoa setiap saat agar Tuhan membantu menyelamatkan diri saya. Begitu juga setiap saya bangun pagi tidak merasa sakit walaupun hanya minum air laut dan makan ikan mentah,”  katanya, akhir Agustus lalu. Proses evakuasi nelayan Ternate yang jatuh ke laut usai dihantam gelombang. Foto: Basarnas. Ancaman meningkat Cerita tentang nelayan terbawa arus, hilang arah hingga nyawa di tengah laut bukan kali pertama. Gangguan teknis hingga cuaca laut yang kian tak bersahabat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/19/ketika-nelayan-ternate-26-hari-terapung-di-samudera-pasifik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15083252/Proyek-kolaborasi-yang-didukung-FINCAPES-memasang-sistem-peringatan-dini-di-Sungai-Gelam.4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133657</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, Lahan Gambut, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh. Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/">Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh. Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih dari 130 hektar. Sekitar 300 personel darat dan tiga helikopter dikerahkan. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sepuluh hari kemudian. Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah melampaui 10.000 hektar. Bagi warga, kebakaran bukan peristiwa baru. Kawasan Hutan Kemasyarakatan Air Merah pernah terbakar hebat pada 2015 dan 2019, lalu kembali terbakar pada 2023, 2024, dan 2026. Degradasi lahan, pembukaan kawasan, perkebunan sawit, dan pembangunan kanal membuat gambut kehilangan kemampuan menyimpan air. Sri Wilarso Budi, Guru Besar IPB University, mengingatkan bahwa kebakaran sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal karena peringatan kemarau panjang telah tersedia. “Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.” Pengelolaan gambut juga tidak dapat dilakukan berdasarkan batas konsesi atau bidang lahan. Kerusakan pada satu bagian dapat mengganggu tata air seluruh kesatuan hidrologis gambut. Sekat kanal seharusnya dibangun sebelum lahan mengering. Setelah gambut kehilangan air, dibutuhkan tiga hingga empat tahun untuk menstabilkan kembali muka airnya. Pemulihannya bahkan jauh lebih lama. Gambut hanya terbentuk sekitar 0,1-2 milimeter per tahun. Artinya, diperlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk menggantikan lapisan setebal 10 sentimeter yang terbakar. Untuk menggeser pendekatan dari pemadaman menuju pencegahan, proyek Fincapes memasang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sistem-peringatan-dini-bantu-warga-sungai-gelam-cegah-api-berkobar-di-lahan-gambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rahasia Refleks Kilat Kucing Saat Menghadapi Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/#respond</comments>
					<pubDate>19 Sep 2026 07:51:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/23031901/Boiga-nigriceps2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133827</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat. Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/">Rahasia Refleks Kilat Kucing Saat Menghadapi Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor kucing tampak mengamati ular yang melingkar di halaman. Tanpa peringatan, ular itu menyambar ke arah hidungnya. Namun, dalam sepersekian detik, kucing melompat mundur sambil menepis serangan menggunakan kaki depan. Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat tanpa tayangan lambat. Kemampuan tersebut bukan sekadar keberuntungan. Tubuh kucing merupakan hasil evolusi panjang sebagai predator penyergap. Struktur tulangnya lentur, ototnya mendukung gerakan eksplosif, sementara sistem saraf dan indranya mampu memproses perubahan lingkungan dengan cepat. Menurut Z. Yanikomeroglu, seorang dokter ahli saraf, waktu respons rata-rata manusia berkisar 200–500 milidetik. Kecepatan itu dapat dipengaruhi usia, gangguan perhatian, dan beban kognitif. Sebaliknya, waktu reaksi kucing diperkirakan dapat mencapai 100–120 milidetik. “Kucing telah berevolusi menjadi predator penyergap. Waktu reaksi mereka, terutama saat menerkam mangsa, jauh lebih cepat dibanding manusia,” tulisnya. Respons tersebut didukung serat otot berkedut cepat yang memungkinkan kucing menghasilkan gerakan kuat dalam waktu singkat. Selain penglihatan, kucing memanfaatkan pendengaran, posisi tubuh, dan koordinasi motorik untuk membaca pergerakan lawan. Meski demikian, belum ada penelitian ilmiah yang secara khusus membandingkan kecepatan refleks kucing dan ular. Sejumlah sumber menyebut refleks kucing berada dalam rentang 20–70 milidetik, sedangkan ular sekitar 40–75 milidetik. Namun, angka-angka itu kemungkinan berasal dari pengamatan anekdotal, sehingga belum dapat menjadi kesimpulan ilmiah yang pasti. Perbandingan keduanya juga tidak sederhana. Serangan ular merupakan gerakan khusus untuk menyambar mangsa atau mempertahankan diri. Sementara itu, refleks kucing melibatkan banyak tindakan, mulai dari menerkam, melompat, menghindar, hingga menepis. Kucing juga membaca berbagai isyarat sebelum ular benar-benar menyerang. Karena itu, gerakan menghindarnya mungkin telah dimulai sejak tubuh ular menunjukkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/rahasia-refleks-kilat-kucing-saat-menghadapi-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>