<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=elviza-diana-merangin&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/elviza-diana-merangin/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 22 Jul 2026 11:59:38 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 11:59:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21183310/Lanskap-Menoreh_Arif-Rudiyanto-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130953</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya cukup banyak peminatnya karena karakter suaranya yang digemari penghobi burung kicau. “Peminat paling banyak dari luar daerah, terutama Jogja dan Magelang. Mereka minta warga sini untuk menangkapnya, nanti dijual dengan harga yang cukup mahal juga,” katanya, pertengahan Juni. Sewaktu masih aktif jadi pemburu burung, dia mengincar burung yang masih anakan yang masih belum bisa terbang. Memeliharanya, lalu jual setelah dewasa. “Lima tahun lalu sudah susah sekali dapat burung disini, lalu berhenti dan pilih fokus ternak kambing saja.” Namun, berhenti cari sarang burung untuk mengambil anakan itu ternyata tidak membuat populasi burung di Donorejo pulih. Pasalnya, pemburu dari luar desa justru tambah banyak. Hal ini memaksa desa memberlakukan pelarangan penangkapan burung dengan model apapun dua tahun terakhir. Kondisi ini sempat membuahkan hasil, burung, terutama sikatan cacing, mulai muncul, walau sedikit. Untuk membuat upayanya optimal, Parman dan belasan orang lain membentuk Kelompok Girimukti. Mereka mencatat dan memetakan burung Perbukitan Menoreh di desanya. “Data-data ini jadi bahan kami untuk menyelamatkan koridor burung disini.” Koridor burung ini penting sebagai jalur dan habitat satwa ini berkembanh biak. Menurutnya, banyak lanskap di desa yang turut berubah seiring waktu. “Kami juga sadar bahwa burung-burung ini tidak sepenuhnya tinggal di Donorejo, tapi terhubung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/upaya-warga-hadirkan-kembali-kicau-burung-di-pegunungan-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 04:49:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20084804/Sungai-Krueng-Aceh-di-Desa-Jalin-Berair-keruh-akibat-tambang-emas-illegal-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130972</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) telah merambah Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menunjukkan, sekitar 14,36 hektar kawasan Cagar Alam Jantho rusak akibat kegiatan ilegal tersebut sepanjang 2023 hingga Mei 2026. Walhi mencatat, berdasarkan analisis citra satelit, luas kawasan terdampak PETI di Kecamatan Jantho mencapai 102,69 hektar, melonjak tajam dibandingkan awal 2023 yang hanya 4,87 hektar. Kerusakan tersebut meliputi hutan lindung (58,85 hektar), Cagar Alam Jantho (14,36 hektar), hutan produksi (19,12 hektar), serta badan air (10,35 hektar). &#8220;Hasil pemantauan kami, ada puluhan ekskavator yang diduga beroperasi di kawasan hutan Jantho,&#8221; ujar Afifuddin, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, Senin (29/6/26). Kekhawatiran terbesar adalah ancaman terhadap DAS Krueng Aceh. Sedimentasi akibat pengerukan tanah dapat menurunkan kualitas air, sementara penggunaan merkuri berpotensi mencemari aliran sungai hingga ke hilir. “Dampaknya bukan hanya dirasakan di lokasi tambang, tetapi juga masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai sumber air bersih, irigasi pertanian, hingga perikanan.” Air sungai keruh akibat tambang emas ilegal yang beroperasi di hulu Sungai Krueng Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Hanif, Juru Bicara Aliansi Jantho Bergerak, mengatakan aktivitas tambang ilegal telah berlangsung tiga tahun dengan kerusakan yang meningkat. Berdasarkan informasi dari masyarakat, akses menuju lokasi tambang diduga berasal dari wilayah Tangse, Kabupaten Pidie, sebelum masuk ke kawasan Aceh Besar. Dari titik perbatasan, diperkirakan telah masuk sekitar 12 kilometer ke wilayah Jantho. &#8220;Cagar alam saja sudah dirambah, kondisi wilayah lain bisa lebih parah,&#8221; ujarnya, Senin (29/6/2026). Masyarakat Jantho secara tegas menolak tambang emas ilegal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/tambang-emas-ilegal-rusak-cagar-alam-jantho/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Dalam Rahim, Satu Embrio Hiu Harimau Pasir Memangsa Saudara-saudaranya. Ini Fakta Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 03:28:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/22032019/7108173803_f82bc577cd_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130967</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Carcharias taurus memiliki salah satu cara berkembang biak paling tidak biasa di antara hewan bertulang belakang. Ketika beberapa embrio tumbuh bersamaan dalam rahim induknya, embrio yang berkembang lebih cepat akan menyerang dan memakan saudara-saudaranya sendiri sebelum lahir. Fenomena ini dikenal sebagai kanibalisme intrauterin, dengan dua istilah teknis yaitu embryophagy dan adelphophagy, yang secara harfiah berarti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/">Di Dalam Rahim, Satu Embrio Hiu Harimau Pasir Memangsa Saudara-saudaranya. Ini Fakta Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Carcharias taurus memiliki salah satu cara berkembang biak paling tidak biasa di antara hewan bertulang belakang. Ketika beberapa embrio tumbuh bersamaan dalam rahim induknya, embrio yang berkembang lebih cepat akan menyerang dan memakan saudara-saudaranya sendiri sebelum lahir. Fenomena ini dikenal sebagai kanibalisme intrauterin, dengan dua istilah teknis yaitu embryophagy dan adelphophagy, yang secara harfiah berarti memakan saudara sendiri. Perilaku ini pertama kali diketahui secara tidak sengaja pada 1948, saat seorang peneliti yang memeriksa rahim seekor hiu harimau pasir yang hampir melahirkan digigit oleh embrio di dalamnya. Hingga kini, bentuk kanibalisme seekstrem ini hanya diketahui terjadi pada spesies tersebut, meskipun bentuk kanibalisme dalam rahim yang lebih ringan, yaitu memakan telur yang tidak dibuahi tanpa memangsa saudara, juga ditemukan pada beberapa spesies hiu lain. Proses di Dalam Rahim Hiu betina memiliki dua rahim yang terpisah dan menghasilkan telur secara bertahap selama beberapa bulan, sehingga pada awal kehamilan satu rahim bisa berisi lebih dari satu embrio hasil pembuahan dari kapsul telur yang berbeda-beda. Telur yang telah dibuahi masuk ke kedua rahim itu, namun tidak selalu berkembang pada waktu yang bersamaan. Embrio yang lebih dulu menetas dari kapsul telurnya mendapat keuntungan berupa pertumbuhan lebih cepat serta perkembangan gigi dan mata yang lebih awal dibanding embrio lain di rahim yang sama, sehingga ia mampu bergerak dan menyerang lebih dulu sebelum saudara-saudaranya sempat berkembang sejauh itu. Hiu harimau pasir (Carcharias taurus) berenang di perairan dangkal. Sirip punggung ganda yang hampir sama besar dan tubuh berwarna abu-abu kecokelatan menjadi ciri khas spesies ini. Foto: D Ross Robertson/Smithsonian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/di-dalam-rahim-satu-embrio-hiu-harimau-pasir-memangsa-saudara-saudaranya-ini-fakta-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 02:14:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21172515/A-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130945</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aroma daging ikan hiu kering menyengat hidung ketika berkunjung ke Pulau Medang, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bawah kolong, sisa-sisa banjir rob yang menerjang rumah warga masih menggenang dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Bagi warga, pemandangan itu sudah biasa. Saking biasanya, warga tak pernah menganggap banjir rob yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/">Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aroma daging ikan hiu kering menyengat hidung ketika berkunjung ke Pulau Medang, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bawah kolong, sisa-sisa banjir rob yang menerjang rumah warga masih menggenang dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Bagi warga, pemandangan itu sudah biasa. Saking biasanya, warga tak pernah menganggap banjir rob yang terjadi sebagai bencana. Maklum, bagi penduduk Suku Bajo ini, laut adalah tempat mereka hidup. Tidak mengherankan pula masyarakat suku ini lekat dengan sebutan suku laut. Karena alasan itu pula, warga memiliki mendekatkan bangunan rumah-rumah mereka ke laut. Sementara bagian pulau yang lain mereka manfaatkan untuk kebun. Secara administratif, Pulau Medang terbagi menjadi dua desa; Desa Bajo Medang di sisi timur dengan dominasi warga dari Suku Bajo. Sedangkan sisi barat, Desa Bugis Medang yang mayoritas penduduknya dari Suku Bugis. Pada sisi Desa Bugis, rumah warga memanjang mengikuti jalan desa, sementara di sisi Desa Bajo rumah warga terkonsentrasi di pesisir bagian selatan-timur. Sebagian bahkan berada di atas laut. “Begitulah kehidupan kami warga Bajo. Sudah biasa ketika air laut naik, cuma yang terganggu adalah sumur karena air laut masuk,’’ kata Jufrin, Kepala Desa Bajo Medang kepada Mongabay. Dari daratan utama Pulau Sumbawa, butuh dua jam menggunakan perahu kayu Tak semua bangunan rumah di Medang terbuat dari kayu. Sebagian adalah bangunan permanen yang materialnya warga ambil dari laut, termasuk batu-batu karang untuk pondasi. “Karang mati yang diambil,” lanjut Kades. Berada di pulau kecil, terisolir dari daratan utama membuat biaya hidup di pulau ini relatif mahal. Itu karena daya dukung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/22/bagaimana-menguatkan-mitigasi-pulau-kecil-di-ntb/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 01:30:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12040542/Buaya-muara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130888</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai. Indonesia mencatat angka konflik manusia dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/">Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai. Indonesia mencatat angka konflik manusia dan buaya yang tinggi. Sepanjang 2020–2024, terdapat 820 serangan buaya dengan 414 korban meninggal. Lebih dari 95 persen kasus melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus). Hampir separuh serangan berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, sedangkan sekitar sepertiganya terjadi ketika masyarakat melakukan kegiatan domestik seperti mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sanitasi. Konflik tersebut tidak memiliki penyebab tunggal. Hilangnya habitat, menyusutnya ruang hidup, dan berkurangnya mangsa alami membuat buaya semakin sering memasuki wilayah aktivitas manusia. Pada saat bersamaan, pertumbuhan penduduk dan memudarnya pengetahuan lokal membuat manusia semakin tidak terbiasa berbagi ruang dengan satwa ini. Penyempitan habitat bahkan dapat meningkatkan intensitas perjumpaan, bukan menguranginya. Padahal, buaya muara memiliki peran penting dalam ekosistem. Saat masih berupa telur hingga berumur satu tahun, buaya rentan menjadi mangsa berbagai satwa. Tingkat kelangsungan hidupnya pada tahun pertama bahkan dapat kurang dari lima persen. Setelah tumbuh, buaya beralih menjadi predator yang membantu mengendalikan populasi satwa lain, termasuk ikan toman, ikan tapah, dan ular. Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat. Pergerakan buaya dari perairan tawar menuju daratan, pesisir, hingga laut juga membantu memindahkan biomassa dan nutrien antar ekosistem. Buaya dewasa mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien dapat terlepas kembali. Betina yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/terkesan-menakutkan-tapi-bukan-sekadar-predator-inilah-peran-besar-buaya-muara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/#respond</comments>
					<pubDate>22 Jul 2026 00:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09075444/Celepuk-Enggano-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130864</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, ilmiah popular, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu. Burung hantu ternyata bisa berenang Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/">Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu. Burung hantu ternyata bisa berenang Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di Chicago, Amerika Serikat. Burung tersebut masuk ke dalam air untuk menghindari serangan dua ekor elang pemangsa. Tidak semuanya aktif pada malam hari Meski dikenal sebagai satwa nokturnal, beberapa jenis burung hantu justru berburu pada siang hari. Jenis tersebut antara lain burung hantu abu-abu besar, burung hantu elang utara, dan burung hantu kerdil utara. Kebiasaan ini kemungkinan mengikuti aktivitas mangsanya, seperti burung penyanyi dan mamalia kecil. Kepalanya dapat berputar hingga 270 derajat Burung hantu mempunyai 14 ruas tulang leher, dua kali lebih banyak dibandingkan manusia. Susunan anatomi ini membuat kepalanya mampu berputar hingga 270 derajat. Kemampuan tersebut penting karena matanya tidak dapat bergerak bebas. Jenis terbesar telah punah Burung hantu terbesar yang pernah tercatat adalah Ornimegalonyx dari Kuba. Tingginya mencapai sekitar 1,1 meter. Kaki yang panjang dan kuat menunjukkan bahwa burung ini kemungkinan merupakan pelari cepat, meski para ahli belum mengetahui secara pasti kemampuannya untuk terbang. Membantu kerja sama petani di Timur Tengah Burung hantu serak atau barn owl merupakan pemangsa alami tikus. Sepasang burung hantu dapat memakan hingga 6.000 tikus dalam setahun. Kemampuan ini mendorong petani dan ilmuwan di Yordania serta wilayah Palestina bekerja sama menyediakan kotak sarang sekaligus mengurangi penggunaan pestisida. Memiliki “mata palsu”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/selain-kepala-yang-dapat-berputar-270-derajat-ini-10-keunikan-burung-hantu-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 12:05:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/18091755/Keisha-sedang-membakar-kapurut-di-rumahnya-Desa-Malancan-Siberut-Utara-Kepulauan-Mentawai.-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130757</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indinesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar. Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun sagu yang terbakar memenuhi dapur rumahnya. Malam itu,  sekitar 20 batang kapurut tersaji bersama lauk sebagai makan malam kami yang menginap di rumahnya. Rasanya gurih alami, berpadu aroma harum daun sagu yang dibakar. Sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang jarang ada pada makanan lain. Di banyak daerah di nusantara ini, nasi menjadi makanan pokok yang nyaris tak tergantikan. Namun di pedalaman Kepulauan Mentawai, kapurut masih menjadi bagian dari keseharian sebagian keluarga. Makanan lokal berbahan dasar sagu itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan warisan yang menghubungkan masyarakat Mentawai dengan hutan yang selama berabad-abad menopang kehidupan mereka. Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Dia pun ingat betul ketika ketika beras belum menjadi santapan utama masyarakat di kampungnya. &#8220;Dulu sebelum ada beras, kami makan sagu, keladi, sama ubi,&#8221; katanya. Hingga kini dia masih rutin memasak sagu, terutama ketika ada ikan sebagai lauk makan keluarga. &#8220;Kalau ada ikan, saya masak sagu. Lebih enak makan kapurut pakai ikan daripada makan nasi.&#8221; Sagu juga membuat rasa kenyang lebih lama ketimbang nasi. Selain mengolahnya menjadi kapurut, masyarakat Mentawai mengenal berbagai makanan lain berbahan sagu. Salah satunya kombong, adonan sagu yang dimasukkan ke dalam batang bambu, lalu membakarnya. &#8220;Kalau mau bikin kombong, bambunya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/kapurut-olahan-sagu-yang-terancam-hilang-dari-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 10:29:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21101738/Trimeresurus-insularis-Foto-Annisa-Ramdani-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130930</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warnanya menyatu dengan dedaunan dan bebatuan di tepian sungai. Tanpa kejelian mata seorang peneliti, keberadaan ular hijau itu, akan terlewat begitu saja. Momen itu yang dialami Annisa Ramdani (29), biodiversity surveyor yang telah menyelesaikan studi Magister Biologi di Universitas Nasional (UNAS). Saat survei herpetofauna di kawasan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dia bersama tim berhasil mendokumentasikan Trimeresurus insularis. Ular berbisa ini dikenal punya kemampuan kamuflase sangat baik. Perjumpaan itu terjadi pukul 21.00 malam, tidak lama setelah hujan reda. Kawasan yang mereka telusuri berupa hutan lebat dengan aliran sungai tenang. Menurut Annisa, individu pertama yang ditemukan di atas batu, sekitar 100-200 meter dari sungai. “Awalnya kami tidak sadar jika ular tersebut di atas batu,” ujarnya, Senin (20/7/26). Trimeresurus insularis berwarna hijau di hutan konservasi Tatar Sepang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Tiga puluh menit kemudian, tim kembali menemukan individu lain dari spesies yang sama. Lokasinya di tepian sungai. Meski terbiasa survei keanekaragaman hayati, Annisa mengaku tetap gugup ketika berhadapan langsung dengan ular berbisa. Dia memilih mengamati dan memotret dari jarak aman, sementara rekan-rekannya yang punya pengalaman menangani ular memastikan seluruh proses dokumentasi dilakukan sesuai prosedur keselamatan. “Saya senang karena bisa mendokumentasikan ular berbisa langsung di habitat alaminya.” Trimeresurus insularis berwarna hijau yang jago kamuflase. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Daya tarik Menurut Annisa, daya tarik reptil berdarah dingin ini adalah warna tubuhnya yang hijau cerah dengan ujung ekor kemerahan. Di habitat alaminya, warna tersebut justru jadi kamuflase efektif, sehingga sulit dikenali di antara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/trimeresurus-insularis-ular-berbisa-3-warna-yang-jago-kamuflase/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 08:35:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21065231/FOTO-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130860</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau Kera berada di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mayoritas warga adalah Suku Bajo dari Buton dan Wakatobi. Tiap hari, Novry bersama para nelayan menangkap ikan tuna, cakalang, tongkol yang mereka pancing dari rumpon. “Pulau Kera ini anugerah Tuhan. Hal yang penting, kami bisa hidup berdampingan dengan laut saja sudah cukup,” kata Novry, Ketua Serikat Nelayan Pulau Kera (SNPK), Senin (26/6/26). Sebagai generasi kelima yang tinggal dan besar di Pulau Kera, Novry bersama warga Pulau Kera menggantungkan hidup pada laut. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak. Tak hanya jenis ikan laut, mereka juga seringkali menangkap gurita, beragam jenis karang dan budidaya rumput laut. Nana, nelayan perempuan Pulau Kera sejak subuh sudah mulai bekerja. Dia membersihkan perahu suaminya, memperbaiki tali-tali rumpon hingga sesekali ikut melaut. Saat siang tiba, dia menyusuri pesisir memanen rumput laut hingga petang. “Dari laut inilah kami bisa hidup. Hasil ikan dan rumput (laut) cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” katanya, Minggu (28/6/26). Novry bersama istri dan tetangganya menggunakan perahu menuju Pulau Kera, usai menjual hasil tangkapan, membeli air bersih, dan belanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Oeba. Mobilitas laut seperti ini menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/ketika-ancaman-relokasi-terus-hantui-warga-pulau-kera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 07:35:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21072517/Batalyon-Rancapinang_Anggita-Raissa_Foto8-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130907</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Gugatan Hukum Warga Rancapinang saat Kebun jadi Batalyon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memadati Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang, 7 Juli lalu. Gugatan warga kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang dan Kementerian Pertahanan karena mengeluarkan sertifikat hak pakai (SHP) di tanah mereka kepada Kementerian Pertahanan seluas 3.646.390 m2 (sekitar 364 hektar). Kini, lahan itu sudah terbangun Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP). Agenda persidangan hari itu adalah sidang pemeriksaan saksi fakta gugatan warga Rancapinang dalam perkara pembatalan SHP. Inah, menangis di hadapan Majelis Hakim PTUN Serang saat memberikan kesaksian pada perkara itu. Ibu dua anak itu harus mengingat kembali peristiwa awal tahun lalu ketika beko TNI menimbun perkebunannya. “Saya nggak kuat kalau cerita soal tanah itu, karena kebun saya sudah ditimbun. Padi sudah menguning dan beberapa hari bakal panen, ditimbun sama beko,” katanya saat memberikan kesaksian kepada Majelis Hakim PTUN Serang. Dia bilang, kebunnya sudah masuk dalam lahan untuk batalyon itu. Kebun dia tanami kelapa, melinjo, pisang, dan bambu. Kebun itu, satu-satunya sumber penghidupannya selama ini. Sebagai orang tua tunggal, Inah kelimpungan membiayai putranya untuk kuliah di perguruan tinggi. Setelah kebun kena timbun, dia tak punya penghasilan lagi. “Saya benar-benar nggak ada penghasilan sekarang. Saya bilang ke anak, jangan kuliah dulu. Dari mana uangnya kalo mau kuliah?” Meski penghasilan dari bertani tak tetap, kata Inah, setidaknya dari bertani bisa mencukupi kebutuhan harian dan masih bisa menabung. Saat ini, untuk penuhi kebutuhan makan, dia bekerja ngoyos padi di lahan tetangganya. Per hari, Inah mendapatkan upah dua kilogram beras. “Kadang juga upahnya cuma sepiring nasi. Yah, namanya juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/gugatan-hukum-warga-rancapinang-saat-kebun-jadi-batalyon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 04:38:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/21042840/27.jpg-19-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130903</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Viral Tren Peluk Beligo Raksasa untuk Mendinginkan Tubuh, Ini Penjelasan Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gelombang panas yang melanda China dalam beberapa pekan terakhir, muncul cara unik warga menghadapi udara panas: memeluk beligo atau winter melon berukuran besar saat tidur. Video dan foto yang menampilkan anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran berukuran hampir sebesar tubuh mereka menyebar luas di media sosial di China dan seluruh dunia, dengan salah satu topik terkait mencatat jutaan penayangan (views). Gelombang panas ini bukan kejadian biasa. Otoritas Meteorologi China (CMA) terus mengeluarkan peringatan suhu tinggi sepanjang Juli 2026, dengan sejumlah wilayah seperti Mongolia Dalam bagian barat, Xinjiang, Shaanxi bagian selatan, hingga Shanghai dan Chongqing mencatat suhu antara 35 hingga 39 derajat Celsius. Bahkan di Xinjiang, suhu diperkirakan bisa menembus 50 derajat Celsius, salah satu angka tertinggi yang tercatat tahun ini. Kondisi ini mendorong warga mencari cara mendinginkan tubuh tanpa bergantung pada pendingin udara, salah satunya lewat metode yang diklaim sebagai warisan turun-temurun tersebut. Kandungan Air Tinggi Jadi Kunci Efek Pendinginan Beligo adalah sayuran asli Asia Selatan dan Tenggara yang bisa tumbuh hingga panjang sekitar 60 sentimeter dan berat lebih dari 9 kilogram. Sayuran ini mengandung lebih dari 95 persen air, jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan buah dan sayur lain seperti apel (sekitar 84 persen air) atau wortel (sekitar 88 persen air). Kandungan air setinggi itu berkaitan langsung dengan sifat fisika yang disebut kapasitas panas jenis, yaitu jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat Celsius. Air memiliki kapasitas panas jenis yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan material lain, termasuk logam, kayu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/21/viral-tren-peluk-beligo-raksasa-untuk-mendinginkan-tubuh-ini-penjelasan-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Jadinya Jika 3.500 Spesies Nyamuk Menghilang dari Bumi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 02:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/09/22055609/Mosquito-human-Asia-malaria-vector-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130876</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/">Apa Jadinya Jika 3.500 Spesies Nyamuk Menghilang dari Bumi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning. Ancaman tersebut mendorong sejumlah pihak mencari cara untuk mengendalikan populasinya. Anak perusahaan Alphabet, Verily, misalnya, merancang program pelepasan nyamuk jantan steril. Karena tidak menggigit manusia dan tidak dapat menghasilkan keturunan, nyamuk ini diharapkan dapat menekan populasi di alam. Program serupa di Australia bahkan disebut berhasil mengurangi jumlah nyamuk hingga 80 persen. Namun, jika nyamuk benar-benar punah, dampaknya bagi alam belum sepenuhnya diketahui. Sebuah penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan siklus hidup Anopheles gambiae dengan kelelawar, ikan, bunga, dan serangga lain. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah hilangnya nyamuk dapat mengganggu rantai makanan atau membuka jalan bagi serangga pembawa malaria lain. Kemungkinan munculnya pengganti yang lebih berbahaya dinilai kecil karena Anopheles gambiae telah berevolusi bersama manusia. Di dunia terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya beberapa ratus yang menggigit atau mengganggu manusia. Nyamuk telah hidup di Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang bersama banyak spesies. Larvanya menjadi makanan bagi ikan kecil dan berbagai serangga air, sedangkan nyamuk dewasa dimakan burung, laba-laba, salamander, kadal, serta katak. Beberapa spesies juga berperan sebagai penyerbuk tanaman. Ikan nyamuk atau Gambusia affinis, misalnya, merupakan predator khusus larva nyamuk. Jika mangsanya hilang, ikan ini juga dapat lenyap dan mempengaruhi rantai makanan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/apa-jadinya-jika-3-500-spesies-nyamuk-menghilang-dari-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dinofelis, Predator Bertaring Belati yang Memburu Manusia pada 1,2 Juta Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jul 2026 00:30:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/06/22094234/dinofelis-tulang-tengkorak-manusia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130863</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika. Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/">Dinofelis, Predator Bertaring Belati yang Memburu Manusia pada 1,2 Juta Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika. Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai belati. Senjata alami ini memungkinkannya menggigit kepala manusia dan menembus tengkorak hingga mencapai otak hanya dalam sekali gigitan. Kemampuan tersebut membedakannya dari kucing besar yang hidup saat ini. Ketika singa gunung atau kucing besar modern menyerang manusia, korbannya terkadang masih mampu bertahan hidup. Serangan itu memang dapat menyebabkan luka fatal, tetapi gigi predator masa kini tidak dirancang untuk menembus kerasnya tulang kepala manusia. Dinofelis, sebaliknya, memiliki taring yang kuat dan sesuai untuk melakukan serangan tersebut. Sekitar 1,2 juta tahun lalu, Dinofelis tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Ukuran tubuhnya hampir menyerupai singa modern, tungkai depannya sangat kuat dibandingkan dengan kucing modern, meskipun sebagian besar diperkirakan hanya sebesar jaguar. Tingginya sekitar 70 cm dengan berat mencapai 120 kg. Tubuh berukuran sedang dan dua taring yang kuat menjadikannya predator menakutkan. Mangsa Dinofelis tidak terbatas pada manusia purba. Hewan ini juga memburu berbagai satwa besar, seperti anak mammoth, mastodon, dan binatang lainnya. Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyang manusia modern, turut menjadi salah satu mangsanya. Dalam buku Songlines, penulis Bruce Chatwin menyebut ancaman Dinofelis sebagai salah satu dorongan utama bagi manusia purba untuk menciptakan tombak dan berbagai jenis senjata. Dengan perlengkapan tersebut, manusia mulai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dinofelis-predator-bertaring-belati-yang-memburu-manusia-pada-12-juta-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 23:56:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/20234833/IMG_1705-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130890</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu dan Enggano]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut. Tak jauh dari situ,  di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/">Masyarakat Enggano Belajar Potensi Daerah sampai Risiko Bencana dari Kumpulkan Data</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Beberapa nelayan mulai memenuhi dermaga kecil di Desa Kaana, Pulau Enggano, pagi itu. Di atas papan-papan dengan kayu mulai lapuk, mereka menggelar gulungan jaring baru sepanjang 30 meter. Beberapa orang menarik ujungnya perlahan, memastikan simpulnya tidak kusut sebelum mereka bawa melaut. Tak jauh dari situ,  di atas perahu kayu, seorang nelayan mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Dia membuka aplikasi, mencatat lokasi penangkapan dan hasil tangkapan hari sebelumnya. Kebiasaan yang dulu terasa asing itu kini mulai menjadi bagian dari rutinitas. Para nelayan ini pakai aplikasi GeoEnggano, sebagai pencatat data dan informasi. Pulau Enggano seluas sekitar 400 kilometer persegi,  berada hampir 100 kilometer di lepas pantai Bengkulu.  Untuk mencapai daratan Sumatera, warga harus menempuh penerbangan sekitar satu jam atau perjalanan laut hingga 18 jam jika cuaca bersahabat. Ketika ombak tinggi, kapal tidak berlayar. Masyarakat Enggano sebagian besar hidup bergantung laut. &#8220;Bagi kami, kalau tidak melaut ya tidak ada pemasukan,&#8221; kata Khairin Anwar, nelayan Enggano. Di bawah Pulau Enggano,  membentang pertemuan dua jalur megathrust besar, Mentawai-Pagai dan Enggano, yang menjadikan kawasan ini salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di Indonesia. Gempa bukan lagi peristiwa luar biasa bagi warga. Getaran kecil datang begitu sering hingga banyak orang tak lagi menghitungnya. Setiap guncangan tetap membawa ingatan pada gempa-gempa besar yang pernah meluluhlantakkan pulau itu. Gempa 2000,  masih membekas dalam ingatan warga. Puluhan warga Enggano kehilangan nyawa. Rumah-rumah roboh. Dua dekade kemudian, rangkaian gempa kembali merusak ratusan rumah dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Bagi masyarakat Desa Kaana, Enggano,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/masyarakat-enggano-belajar-potensi-daerah-sampai-risiko-bencana-dari-kumpulkan-data/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ironi Lubang Tambang Maut di Kalsel jadi Objek Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 18:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19053817/DJI_0695-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak viral di media sosial, wisata Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), banjir pengunjung. Puluhan orang dari dalam dan luar daerah silih berganti datang. Padahal, lokasi itu adalah lubang tambang galian C yang pendulang abaikan sejak lama. Siang itu, Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/">Ironi Lubang Tambang Maut di Kalsel jadi Objek Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak viral di media sosial, wisata Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), banjir pengunjung. Puluhan orang dari dalam dan luar daerah silih berganti datang. Padahal, lokasi itu adalah lubang tambang galian C yang pendulang abaikan sejak lama. Siang itu, Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan pasir putih menikmati matahari terbenam, ada pula yang berenang di sejumlah sudut. Seorang remaja terlihat memandu sembilan orang menyeberang melalui perairan dangkal, setengah berenang menuju gundukan tanah menyerupai pulau kecil. Berjarak sekitar 44 meter. Mungkin mereka tak tahu, tiga hari sebelumnya, remaja laki-laki berinisial L, warga Kecamatan Kertak Hanyar, tenggelam di kubangan yang sama. Wasis Nugraha, Kepala Pelaksana badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Banjar, bilang, mereka terima laporan 22 Juni 2026, pukul 15.55 Wita. Dari keterangan sejumlah saksi, peristiwa  terjadi sekitar pukul 12.00 Wita. Saat laporan mereka terima, korban sudah hilang empat jam, belum kembali ke permukaan. “Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Banjar kemudian berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan asesmen awal sebelum pencarian dimulai,” tulisnya meneruskan laporan pesan WhatsApp. Arianto, Kepala Seksi Operasi Basarnas Banjarmasin, menceritakan, proses pencarian mulai sekitar pukul 17.00 Wita usai seluruh personel melaksanakan briefing. Tim gabungan lalu melakukan penyisiran mulai dari permukaan, dan menyelam di titik yang menjadi lokasi korban tenggelam. Kurun 20 menit, atau pukul 17.20 Wita, tim berhasil menemukan remaja itu setelah menyelam. Posisinya sekitar 10 meter dari tepian danau. &#8220;Kedalamannya hanya sekitar 2-3 meter. Kendalanya hanya visibility (jarak pandang) terbatas, karena dasar yang berlumpur,&#8221; katanya. Peristiwa itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ironi-lubang-tambang-maut-di-kalsel-jadi-objek-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebun Sawit Sitaan dari Kawasan Hutan Sumut buat Dukung B50</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 17:09:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053614/Ini-Kawasan-hutan-Labuhan-Batu-Selatan-merupakan-habitat-Tapir-yang-saat-ini-sudah-berubah-menjadi-kebun-sawit-Ayat-S-Karokaro-01-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130827</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Energi, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Obsesi pemerintah mendorong pengembangan biodiesel B50 yang dominan dari sawit mengancam pemulihan hutan Indonesia. Di Sumatera Utara (Sumut), misal, proyek ambisius ini justru bersinggungan langsung dengan puluhan ribu hektar kawasan hutan  yang seharusnya kembali jadi hutan. Parahnya lagi, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) memberikan lebih 22.000 hektar bekas kawasan hutan sitaan yang meliputi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/">Menyoal Kebun Sawit Sitaan dari Kawasan Hutan Sumut buat Dukung B50</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Obsesi pemerintah mendorong pengembangan biodiesel B50 yang dominan dari sawit mengancam pemulihan hutan Indonesia. Di Sumatera Utara (Sumut), misal, proyek ambisius ini justru bersinggungan langsung dengan puluhan ribu hektar kawasan hutan  yang seharusnya kembali jadi hutan. Parahnya lagi, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) memberikan lebih 22.000 hektar bekas kawasan hutan sitaan yang meliputi kawasan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi terbatas pada PT Agrinas Palma Nusantara. Padahal, kawasan yang berubah jadi kebun sawit itu harusnya kembali ke fungsi hutannya. Keputusan mempertahankan kawasan hutan itu sebagai kebun sawit memiliki konsekuensi biologis jangka panjang bagi ekosistem Sumut. Alif Ramadhan, Tim Analis Wildlife Crime Response Unit (WCRU), bilang, keputusan ini pukulan telak bagi upaya pelestarian biodiversitas. Menurut dia, hilangnya tutupan vegetasi alami di wilayah seluas itu turut menggerus habitat satwa endemik yang kini sudah terjepit. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), tapir sumatera (Tapirus indicus), hingga beruang madu (Helarctos malayanus) kehilangan ruang jelajah mereka. Selain ancaman fisik terhadap satwa liar, praktik ini juga memicu risiko pencemaran tanah dan sumber air akibat residu pupuk serta pestisida kimia yang rutin untuk sawit. Lebih parah lagi, kemampuan lahan itu sebagai penyerap karbon menurun tajam ketimbang ketika masih sebagai hutan tropis primer. Dia bilang, kebijakan B50 ini berlaku Juli 2026. Untuk memenuhinya, perlu minyak sawit mentah (curde palm oil/CPO) masif. &#8220;Sumut kini berada di persimpangan jalan antara penegakan keadilan lingkungan dan pencapaian ambisi energi nasional. Upaya restorasi pasca konflik lahan tampak mandek, sementara tekanan untuk membuka lahan baru demi kuota CPO terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/menyoal-kebun-sawit-sitaan-dari-kawasan-hutan-sumut-buat-dukung-b50/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Petani Silo Tak Mau Hutan Kelola Terancam Pembangunan Batalyon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 11:48:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19093630/IMG_20260715_095225-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130819</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kecemasan melanda para petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Jati Jaya, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) menyusul rencana pembangunan markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Kementerian Pertahanan di kawasan perhutanan sosial mereka. Luas rencana proyek itu mencapai 55,25 hektar meliputi petak 1, 2, 3 dan 15. &#8220;Kami ingin ruang lingkup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/">Para Petani Silo Tak Mau Hutan Kelola Terancam Pembangunan Batalyon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kecemasan melanda para petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Jati Jaya, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) menyusul rencana pembangunan markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Kementerian Pertahanan di kawasan perhutanan sosial mereka. Luas rencana proyek itu mencapai 55,25 hektar meliputi petak 1, 2, 3 dan 15. &#8220;Kami ingin ruang lingkup pendapatan kami tetap ada supaya tidak terjadi pembangunan di situ. Kami khawatir dampak sosial, termasuk perekonomian masyarakat yang  sudah berjalan,&#8221; kata Masis, Ketua Gapoktanhut Jati Jaya saat rapat dengar pendapat bersama DPRD Jember, Kamis (17/6/26). Dia  pertanyakan rencana pembangunan batalyon yang pemerintah klaim untuk ketahanan pangan, tetapi di waktu yang sama justru mengancam sumber pangan masyarakat. Padahal, lokasi itu  baru saja mendapat status kawasan perhutanan sosial berdasar Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Sutrisno, anggota Gapoktan mengatakan, kawasan yang menjadi lokasi pembangunan batalyon merupakan bagian dari areal hutan kemasyarakatan (HKm)  dengan hak kelola 35 tahun. Para petani, katanya tidak pernah memperoleh pemberitahuan resmi atas rencana batalyon itu. Para petani baru tahu rencana itu ketika personel TNI datang ke kawasan hutan membawa drone untuk  pemetaan. Para petani yang ada di lokasi pun terkejut dan mempertanyakan tujuan survei itu. &#8220;Tiba-tiba ada TNI bawa drone. Baru petani merasa kaget. Kok ada drone, ada apa, mau buat apa? Soalnya pihak desa maupun TNI tidak pernah koordinasi dengan kelompok,&#8221; kata Sutrisno. Sejak saat itu, para petani mulai mengetahui bahwa sebagian lahan yang mereka kelola akan menjadi lokasi pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan. Dia ceritakan, gara-gara rencana itu, seorang petani bahkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ruang-hidup-terancam-petani-silo-tolak-pembangunan-batalyon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Satwa hingga Suhu, Ini 7 Perbedaan Kutub Utara dan Kutub Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 11:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/03/22095847/pole_jens_dreyer.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130847</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda. Lautan beku dan daratan es Kutub Utara atau Arktik merupakan lautan beku seluas sekitar 5,4 juta mil persegi yang dikelilingi daratan. Sebaliknya, Kutub Selatan atau Antartika adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/">Dari Satwa hingga Suhu, Ini 7 Perbedaan Kutub Utara dan Kutub Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda. Lautan beku dan daratan es Kutub Utara atau Arktik merupakan lautan beku seluas sekitar 5,4 juta mil persegi yang dikelilingi daratan. Sebaliknya, Kutub Selatan atau Antartika adalah daratan seluas sekitar 6 juta mil persegi yang dikelilingi lautan. Di bawah es Antartika juga terdapat pegunungan dan danau. Ketebalan lapisan es Ketebalan es di Kutub Utara berkisar dari beberapa inci hingga dua meter. Lapisan yang relatif tipis ini sering mengalami retakan, terutama pada musim panas. Sementara itu, sekitar 99 persen Antartika tertutup es dan gletser dengan ketebalan mencapai 4.700 meter. Kawasan ini menyimpan sekitar 85 persen es abadi di Bumi. Satwa yang menghuninya Beruang kutub hanya ditemukan secara alami di Kutub Utara, sedangkan penguin hidup secara alami di Kutub Selatan. Keduanya sama-sama memakan ikan dan menempati puncak rantai makanan di wilayah masing-masing. Penduduk dan kepemilikan wilayah Kutub Selatan tidak dimiliki oleh negara manapun dan tidak memiliki sejarah penduduk asli. Berdasarkan Perjanjian Antartika, wilayah dan sumber dayanya hanya boleh dimanfaatkan untuk kepentingan perdamaian dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Lingkaran Arktik dihuni sekitar empat juta orang yang tinggal di kota-kota seperti Barrow (Alaska, AS), Tromso (Norwegia), Muramansk dan Salekhaard (Rusia). Perbedaan suhu Suhu rata-rata Kutub Utara mencapai -40 derajat Celsius pada musim dingin dan 0 derajat Celsius saat musim panas. Di Kutub Selatan, suhu musim dingin mencapai -60 derajat Celsius dan 28,2 derajat Celsius pada musim panas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-satwa-hingga-suhu-ini-7-perbedaan-kutub-utara-dan-kutub-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 08:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030249/baden-powell-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130845</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini. Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya. Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia. Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 05:57:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073120/marena8-IMG_7059-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130829</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami hidup dan hubungan manusia dengan alam dibentuk,&#8221; kata Wiwin Indiarti, perempuan  Adat Osing Banyuwangi, dalam diskusi Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs) 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/26). Baginya, ancaman terbesar masyarakat adat saat ini bukan hanya kehilangan wilayah, juga terputusnya pengetahuan yang selama ini terwarisi dari generasi ke generasi. Ketika ruang hidup hilang, katanya, yang ikut lenyap bukan sekadar hutan, kebun, atau sumber penghidupan. Bahasa, istilah lokal, nilai-nilai budaya, hingga cara masyarakat memahami hubungan dengan alam pun perlahan dapat ikut hilang. &#8220;Padahal, di situlah sistem pengetahuan kami hidup,&#8221; katanya. Di tengah berbagai tantangan itu, regenerasi menjadi persoalan yang makin menjadi tantangan bagi masyarakat adat.  Tak  mudah, katanya,  mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan maupun advokasi masyarakat adat. &#8220;Jangankan mengajak mereka masuk ke urusan advokasi, mengajak anak-anak muda bergerak di luar hal-hal yang mereka anggap menyenangkan saja sudah sangat sulit,&#8221; katanya. Padahal, sejumlah anak muda Osing yang bergabung sejak duduk di bangku sekolah menengah atas telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang baik tetapi  jumlahnya masih terbatas. Untuk itu, perlu pendekatan baru agar generasi muda kembali mengenali identitas budaya mereka. &#8220;Kalau identitas ke-Osingan itu hilang, maka yang hilang bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>