Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai.
Indonesia mencatat angka konflik manusia dan buaya yang tinggi. Sepanjang 2020–2024, terdapat 820 serangan buaya dengan 414 korban meninggal. Lebih dari 95 persen kasus melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus). Hampir separuh serangan berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, sedangkan sekitar sepertiganya terjadi ketika masyarakat melakukan kegiatan domestik seperti mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sanitasi.
Konflik tersebut tidak memiliki penyebab tunggal. Hilangnya habitat, menyusutnya ruang hidup, dan berkurangnya mangsa alami membuat buaya semakin sering memasuki wilayah aktivitas manusia. Pada saat bersamaan, pertumbuhan penduduk dan memudarnya pengetahuan lokal membuat manusia semakin tidak terbiasa berbagi ruang dengan satwa ini. Penyempitan habitat bahkan dapat meningkatkan intensitas perjumpaan, bukan menguranginya.
Padahal, buaya muara memiliki peran penting dalam ekosistem. Saat masih berupa telur hingga berumur satu tahun, buaya rentan menjadi mangsa berbagai satwa. Tingkat kelangsungan hidupnya pada tahun pertama bahkan dapat kurang dari lima persen. Setelah tumbuh, buaya beralih menjadi predator yang membantu mengendalikan populasi satwa lain, termasuk ikan toman, ikan tapah, dan ular.
Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat. Pergerakan buaya dari perairan tawar menuju daratan, pesisir, hingga laut juga membantu memindahkan biomassa dan nutrien antar ekosistem. Buaya dewasa mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien dapat terlepas kembali. Betina yang membangun sarang bahkan berpotensi mengubah struktur habitat di sekitarnya. Karena keunikan tersebut, buaya muara termasuk tiga besar spesies buaya dengan fungsi ekosistem paling unik di dunia.
Lalu, bisakah manusia dan buaya muara berbagi ruang? Ya, manusia dapat hidup berdampingan dengan buaya muara jika ruang hidup manusia dan satwa dikelola dengan baik, didukung ekosistem sehat, fasilitas sanitasi layak, pendidikan, serta kearifan lokal. Praktik ini terlihat pada masyarakat di sekitar Sungai Mamberamo, Mappi, dan Boven Digoel yang saling menghormati ruang hidup serta memanfaatkan buaya secukupnya untuk kebutuhan komunal. Di berbagai daerah Nusantara, buaya juga menjadi bagian dari adat dan kepercayaan. Masyarakat Ujung Kulon menyebutnya “pengantin” atau “nyai”, sementara sejumlah komunitas Dayak dan Bugis-Makassar memandangnya sebagai saudara. Jejak penghormatan serupa muncul dalam sedekah sungai, tari Hudoq, gerbang adat ngango lo huwayo di Gorontalo, hingga tradisi roti buaya masyarakat Betawi.
Selain itu, fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang layak juga penting agar masyarakat tidak terlalu sering beraktivitas di habitat buaya. Koeksistensi membutuhkan data populasi yang kuat, pendidikan sesuai kondisi setempat, pelibatan masyarakat, dan pengakuan terhadap kearifan lokal.