<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=della-syahni-semarang&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/della-syahni-semarang/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2026 10:00:41 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Di Balik Hilangnya Hutan, Ada Kucing Batu yang Terdesak Hidupnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 10:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/03/22014801/kucing-batu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132718</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan. Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/">Di Balik Hilangnya Hutan, Ada Kucing Batu yang Terdesak Hidupnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan. Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, tetapi penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa gaya hidupnya membuat kucing batu lebih rentan terhadap kerusakan hutan. Para peneliti menganalisis foto kamera jebak dari berbagai wilayah Asia Tenggara. Mereka membandingkan penggunaan habitat kucing batu dengan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing liar yang lebih sering beraktivitas di darat. Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok. Kucing kuwuk masih dapat memanfaatkan perkebunan sawit untuk berburu tikus. Sebaliknya, kucing batu memberikan respons buruk terhadap pembukaan hutan dan perkebunan sawit. Kamera jebak memperlihatkan bahwa kucing batu merupakan spesialis hutan interior. Ia lebih sering ditemukan di kawasan hutan utuh yang luas dan saling terhubung. Perkebunan sawit tidak dapat menggantikan fungsi habitat tersebut meskipun sama-sama dipenuhi pepohonan. Perubahan lingkungan juga memengaruhi perilakunya. Kucing batu biasanya aktif pada siang hari. Namun, di kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, satwa ini beberapa kali terekam saat senja. Perubahan waktu aktivitas mungkin menjadi cara kucing batu menghindari manusia. Akan tetapi, strategi itu memiliki konsekuensi. Waktu berburu dan menjelajahnya menjadi lebih singkat. Kucing batu juga berisiko bertemu pesaing atau predator baru yang aktif pada waktu berbeda. Ancaman semakin besar ketika hutan terpecah menjadi petak-petak kecil. Fragmentasi dapat memutus jalur pergerakan, menyulitkan pencarian makanan dan pasangan, serta mengisolasi populasi. Bagi satwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-balik-hilangnya-hutan-ada-kucing-batu-yang-terdesak-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 09:17:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Leah VarjacquesRizky RahadSandy Watt]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01091324/Masyarakat-Adat-Balik-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=132784</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika Indonesia membangun ibu kota barunya di pegunungan Kalimantan Timur, deru gergaji mesin mulai menenggelamkan suara hutan hujan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Masyarakat Adat Balik. Sebuah film dokumenter terbaru, Sound Guardians hasil kolaborasi Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli berupaya merekam kondisi hutan tersebut dengan melibatkan ilmuwan dan penduduk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/">Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika Indonesia membangun ibu kota barunya di pegunungan Kalimantan Timur, deru gergaji mesin mulai menenggelamkan suara hutan hujan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Masyarakat Adat Balik. Sebuah film dokumenter terbaru, Sound Guardians hasil kolaborasi Mongabay, Scientific American, dan Project Multatuli berupaya merekam kondisi hutan tersebut dengan melibatkan ilmuwan dan penduduk setempat. Mantan Presiden Joko Widodo dikenal sebagai penggagas pemindahan pusat administrasi Indonesia dari Jakarta, kota yang diprediksi tenggelam paling cepat di dunia. Para ahli memperkirakan, sepertiga wilayah Jakarta akan terendam air pada 2050 akibat kenaikan permukaan laut dan eksploitasi air tanah berlebihan. Sementara itu, pihak resmi IKN menyebut Nusantara sebagai &#8220;kota hutan pintar&#8221; yang ditargetkan rampung pada 2045. Wendy Erb, ilmuwan bioakustik dari Cornell Lab of Ornithology, Amerika Serikat, telah merekam lanskap suara hutan Kalimantan selama satu dekade terakhir, termasuk sepanjang masa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) berlangsung. Bersama timnya, dia mengumpulkan rekaman dari berbagai titik, mulai dari puncak gunung, hutan bakau, hingga gua. Erb menyebut, kumpulan data tersebut sebagai &#8220;kapsul waktu&#8221; yang memungkinkan peneliti membandingkan perubahan lingkungan seiring laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Data ini berpotensi mengungkap titik-titik yang paling terdampak, yaitu tempat satwa liar mulai tergusur, di habitatnya. &#8220;Mungkin di situlah lebih banyak investasi konservasi perlu diarahkan,&#8221; ujar Erb dalam film dokumenter tersebut. &#8220;Pertanyaannya adalah, bisakah kita mempertajam pendengaran kita? Bisakah kita benar-benar memperhatikan, menyadari bahwa alam sedang kita sakit?&#8221; Bagi Abidin, anggota komunitas adat Balik sekaligus warga Pemaluan, satu desa di kawasan IKN, suara hutan bukan sekadar suara &#8220;ambience&#8221; biasa, melainkan penopang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/09/suara-hutan-kalimantan-berubah-seiring-deru-mesin-pembangunan-ibu-kota-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Mata di Dalam Gua, Ikan &#8220;Iblis&#8221; Ini Diduga Salah Satu yang Terlangka di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 07:21:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01071423/amblyopsis-hoosieri-29330-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132776</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah survei rutin di Gua Bobcat, dekat Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, berujung pada penemuan tak terduga berupa spesies dan genus baru ikan gua. Ikan ini dideskripsikan dalam jurnal Scientific Reports bulan Juli 2026, oleh tim peneliti yang dipimpin Dr. Matthew L. Niemiller, profesor madya biologi sekaligus direktur Cave Bio Lab di Universitas Alabama di Huntsville. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/">Hidup Tanpa Mata di Dalam Gua, Ikan &#8220;Iblis&#8221; Ini Diduga Salah Satu yang Terlangka di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah survei rutin di Gua Bobcat, dekat Huntsville, Alabama, Amerika Serikat, berujung pada penemuan tak terduga berupa spesies dan genus baru ikan gua. Ikan ini dideskripsikan dalam jurnal Scientific Reports bulan Juli 2026, oleh tim peneliti yang dipimpin Dr. Matthew L. Niemiller, profesor madya biologi sekaligus direktur Cave Bio Lab di Universitas Alabama di Huntsville. Ikan tersebut diberi nama ilmiah Demogorgonichthys arcanus, dan langsung menarik perhatian karena penampilannya yang tidak lazim serta lokasi penemuannya yang selama ini dianggap sudah dipelajari secara menyeluruh. Gua Bobcat terletak di kawasan Redstone Arsenal, fasilitas militer milik Angkatan Darat AS, dan telah dipantau para peneliti secara berkala, setidaknya setiap tiga bulan, selama lebih dari 30 tahun. Gua ini dikenal sebagai habitat udang gua Alabama yang berstatus terancam punah, dua spesies udang karang gua, serta ikan gua selatan (Typhlichthys subterraneus). Pada Februari 2025, saat melakukan survei rutin untuk memantau spesies-spesies tersebut, Niemiller menemukan seekor ikan yang tampilannya berbeda dari ikan gua selatan yang biasa ia jumpai di lokasi yang sama. Bagi para ahli biologi gua, famili Amblyopsidae, tempat ikan ini akhirnya diklasifikasikan, sudah menjadi objek kajian sejak abad ke-19 dan dianggap salah satu kelompok ikan gua yang paling dipahami di dunia. Famili ini mencakup beberapa genus yang sudah dikenal luas, termasuk Amblyopsis dan Typhlichthys, yang tersebar di berbagai sistem gua di Amerika Serikat bagian tenggara. Karena kelompok ini sudah lama dan intensif diteliti, penemuan genus baru di dalamnya dianggap kejadian yang sangat jarang terjadi, apalagi di gua yang sudah dipantau selama puluhan tahun seperti Gua Bobcat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/hidup-tanpa-mata-di-dalam-gua-ikan-iblis-ini-diduga-salah-satu-yang-terlangka-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Ular Spesies Baru dari Papua Bernama Gitaris Guns N’ Roses</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 06:15:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01060154/Ular-Slash1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132770</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular. Medan yang sulit dan luas menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu pengetahuan untuk menguak tabir kekayaan hayati pulau terbesar kedua di dunia ini. Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/">Ada Ular Spesies Baru dari Papua Bernama Gitaris Guns N’ Roses</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Papua merupakan wilayah yang mendukung keanekaragaman reptil. Pulau ini memiliki hutan hujan tropis, pegunungan tinggi, rawa, dan pesisir yang menjadi rumah berbagai jenis ular. Medan yang sulit dan luas menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu pengetahuan untuk menguak tabir kekayaan hayati pulau terbesar kedua di dunia ini. Sekumpulan peneliti dari Amerika, Australia, Papua Nugini, dan Inggris baru-baru ini mengumumkan penemuan spesies baru ular tanah dari Papua. Hasil penelitian mereka dimuat dalam jurnal Zootaxa, Agustus 2026, dengan judul “A new species of Papuan groundsnake (Squamata: Colubridae: Lielaphis) from New Guinea.” Dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern, mereka berhasil mengidentifikasi spesies ular tanah baru. Uniknya, spesies baru ini diberi nama salah satu personel Guns N’ Roses, sebuah grup band rock asal Amerika yang pernah menghasilkan lagu “Welcome to the Jungle.” &#8220;Guns N&#8217; Roses merupakan band favorit saya sejak saya kelas satu, dan pada kelas lima, saya sudah mengatakan kepada guru saya bahwa saya ingin menjadi herpetologi&#8211;ilmuwan yang mempelajari reptil&#8211;saat saya dewasa,&#8221; kata Sara Ruane, peneliti dan penulis laporan itu mewakili rekan-rekannya, dikutip dari Phys.org. Suatu ketika Ruane menerima majalah Reptiles, dan ada foto Slash (Saul Hudson), gitaris Guns N’. Roses sedang memegang  ular phyton. Ruane terkesan dengan tampilan Slash dan menganggapnya keren. &#8220;Saya membaca ulang wawancaranya, dan dia berbicara tentang betapa dia mencintai museum, kebun binatang, dan sejarah alam, dan tentang bagaimana saat dia kecil, dia keluar dan mencari ular&#8211;semua itu adalah hal yang sangat saya hubungkan, dan itu membuat saya berpikir bahwa dia akan menjadi orang yang tepat untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/ada-ular-spesies-baru-dari-papua-bernama-gitaris-guns-n-roses/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 04:35:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17025305/20260304_165328-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132726</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat sebagian rakyat Indonesia bersukacita merayakan Kemerdekaan Indonesia, hal sebaliknya terjadi di Kampung Kalat, Pantai Melayu, Rempang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Disana, warga justru bersitegang dengan aparat. Ketegangan itu terjadi setelah sejumlah alat berat yang mendapat kawalan berbagai unsur keamanan tiba di lokasi guna melakukan pematangan lahan di lokasi proyek pembangunan sekolah terintegrasi (sebelumnya Sekolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/">Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat sebagian rakyat Indonesia bersukacita merayakan Kemerdekaan Indonesia, hal sebaliknya terjadi di Kampung Kalat, Pantai Melayu, Rempang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Disana, warga justru bersitegang dengan aparat. Ketegangan itu terjadi setelah sejumlah alat berat yang mendapat kawalan berbagai unsur keamanan tiba di lokasi guna melakukan pematangan lahan di lokasi proyek pembangunan sekolah terintegrasi (sebelumnya Sekolah Rakyat/SR). Padahal, sejak awal proyek itu berlangsung, warga sudah menolaknya. “Kejadian seperti ini yang terus membuat kami tidak tenang. Kami selalu waswas,” kata Sopia, Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) akhir Agustus. Menurut  dia, ada dua warga di Kampung Kalat yang sampai hari ini belum melepas lahan untuk proyek itu,  yakni Gerisman dan Rosnah. Pemerintah bergeming. Alih-alih menghargai keputusan keduanya, pemerintah justru turunkan alat berat dan menggusur paksa mereka dari tanahnya sendiri. Proses pengukuran lahan untuk Sekolah Rakyat di Rempang yang sempat diwarnai ketegangan lantaran &#8216;mencaplok&#8217; lahan warga. Foto: Amar GB. Pemerintah tak mau belajar Sopia katakan, penurunan alat berat dengan kawalan penuh mempertegas bahwa pemerintah seolah tak mau belajar dari konflik Rempang Ecocity (ERC) 2023. Kendati mendapat penolakan warga, aparat dan pemerintah ngotot untuk menggusur paksa melakukan pematangan terhadap lahan Gerisman dan Rosnah. Alat berat bekerja dalam kawalan polisi, Ditpam BP Batam dan Satpol PP,  lebih banyak daripada warga yang berkumpul.  Aksi saling dorong dan cekcok antara petugas kembali terjadi. Rosnah bahkan nekat menerobos barisan petugas menuju alat berat. Petugas yang mencoba menghalau menyebabkan Rosnah terjatuh dan terguling sampai tak sadarkan diri. Video kejadian itu juga viral di media sosiali.  “Warga semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/01/konflik-lahan-tak-kunjung-usai-di-rempang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Berulang, Gambut Sumatera Selatan Terus Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>01 Sep 2026 00:30:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145823/Anggota-Manggala-Agni-wilayah-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel-tengah-memadamkan-api-di-lahan-gambut-terbakar-di-Desa-Babatan-Saudagar-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132624</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Sumatera Selatan. Api yang membakar lahan gambut dan mineral menghadirkan kabut asap hingga ke Palembang. Persoalan ini terus berulang meski berbagai program penanggulangan telah berjalan sejak awal 2000-an. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, sekitar 1.926 hektar lahan terbakar sepanjang 1 Januari–23 Agustus 2026. Dari 17 kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/">Karhutla Berulang, Gambut Sumatera Selatan Terus Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Sumatera Selatan. Api yang membakar lahan gambut dan mineral menghadirkan kabut asap hingga ke Palembang. Persoalan ini terus berulang meski berbagai program penanggulangan telah berjalan sejak awal 2000-an. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, sekitar 1.926 hektar lahan terbakar sepanjang 1 Januari–23 Agustus 2026. Dari 17 kabupaten dan kota, hanya Lubuklinggau dan Pagaralam yang tidak mencatat kebakaran. Kabut asap telah menyelimuti Palembang selama beberapa hari. Pada 25 Agustus 2026, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 285,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori berbahaya. Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik UIN Raden Fatah Palembang, menilai karhutla berulang karena masyarakat dan perusahaan sama-sama memandang gambut sebagai lahan yang dapat dijadikan perkebunan. “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” katanya. Masyarakat yang dahulu tidak terbiasa memanfaatkan gambut kini mulai menanam sawit di lahan seluas setengah hingga puluhan hektar. Pengetahuan tersebut diperoleh dari praktik perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Akibatnya, gambut tidak lagi dipahami sebagai ekosistem hutan yang harus tetap basah. Cara membuka dan mengolah lahan juga menjadi persoalan. Membakar masih dianggap sebagai metode termurah dan tercepat karena belum tersedia teknologi alternatif yang mudah dijangkau. Pengeringan rawa, gambut, dan mangrove melalui pembangunan kanal pun telah menjadi praktik umum. Menurut Yulion, pemerintah tidak cukup hanya melarang dan menghukum pelaku pembakaran. Pemerintah perlu mengembangkan teknologi pengelolaan lahan yang murah, cepat, dan berkelanjutan. Pengetahuan tersebut harus dapat diterapkan oleh perusahaan maupun masyarakat. Krisis iklim juga membuat gambut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-berulang-gambut-sumatera-selatan-terus-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 14:45:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31034611/IMG_20260718_140652-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132709</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan poiitik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Petani Banyuwangi Waswas Tambang Emas Ilegal [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pondok kayu berdiri di kawasan hutan Gunung Lompongan, Banyuwangi. Dinding terbuat dari papan, beratap seng, dengan beberapa peralatan tani menggantung di sudut ruangan. Di tempat itulah Suroto menghabiskan sebagian besar waktunya. Rambutnya pun kini telah memutih. Lebih dari seperempat abad warga Dusun Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menghabiskan waktunya disana. Saban pagi, dia awali hari dengan menyusuri lorong koridor kebun buah naga yang dia tanam. Suroto bukanlah petani yang baru datang ketika buah naga sedang naik daun. Lima tahun setelah tsunami melanda Dusun Pancer, 1994, Suroto menjadi petani dan mengelola kawasan yang masuk dalam skema perhutanan sosial itu. &#8220;Dari tahun 1999, saya menggarap lahan di sini,&#8221; katanya, Sabtu (18/7/26). Saat itu, warga masih banyak menanam palawija sebagai komoditas. Sedang buang naga, baru mulai warga tanam beberapa tahun kemudian, termasuk Suroto. Lelaki 76 tahun itu mulai membangun pondokan, sekaligus memasang lampu-lampu sebagai rekayasa agar buah naga tetap berbunga pada musim kemarau. &#8220;Modalnya besar. Untuk lampu, kabel, sama listrik habis sekitar Rp40 juta  untuk kapasitas 5.500 watt,&#8221; ujarnya. Saat harga baik, Suroto bisa raup Rp60 juta sekali panen. Beberapa petani lain dengan lahan lebih luas bisa lebih dari itu. Namun di balik cerita itu, keresahan meliputi Suroto dan petani lain. Bukan hanya lahan yang mereka kelola masuk konsesi PT Damai Suksesindo Indonesia (DSI), juga aktivitas penambangan emas ilegal yang kian marak. DSI, merupakan anak perusahaan PT Bumi Suksesindo (BSI) dengan kepemilikan saham 99%. IUP eksplorasi DSI, sesuai SK Gubernur Jawa Timur No. P2T/83 tertanggal 17 Mei 2018&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/petani-banyuwangi-waswas-tambang-emas-ilegal-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 11:43:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Dedek Putri Mufarroha]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31231711/IMG_7565-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132732</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat makin parah sejak akhir bulan lalu. Hingga pekan ini, kabut asap pun menyelimuti Kalimantan Barat. Sekolah-sekolah seperti di Kota Pontianak,  beberapa kali belajar daring ketika udara memburuk. Daniel, Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Provinsi (Pusdalop), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar mengatakan, terdapat 355 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/">Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat makin parah sejak akhir bulan lalu. Hingga pekan ini, kabut asap pun menyelimuti Kalimantan Barat. Sekolah-sekolah seperti di Kota Pontianak,  beberapa kali belajar daring ketika udara memburuk. Daniel, Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Provinsi (Pusdalop), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar mengatakan, terdapat 355 daerah desa dan kelurahan di 125 kecamatan di provinsi ini yang berpotensi karhutla. Di Kalbar, terdapat sembilan dari 14 kabupaten, kota alami karhutla, yakni, Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, Sambas, Sanggau, Kayong Utara, Melawi, Sintang dan Landak. “Daerah-daerah ini masuk dalam wilayah rawan. Dalam artian sering terjadi kebakaran, lahan gambut banyak dan kejadian selalu berulang disitu-situ saja,” kata Daniel, 27 Agustus lalu. Angka luasan karhutla melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi mencatat,  luas kebakaran lahan di Kalbar mencapai 38.310,86 hektar sejak Januari-Juni 2026. Sebaran titik panas (hotspot) per 27 Agustus 2026 berdasarkan data dari satelit NASA-MODIS dalam SiPongi  mencapai 225 titik. Jumlah titik hotspot dengan kepercayaan tinggi berada di Ketapang 35 titik, Melawi (24) dan Kapuas Hulu (5). Seorang bapak yang coba jaga lahannya dengan memadamkan api di Kubu Raya, Kalbar, dengan siram air pakai jerigen. Foto: Widya/Mongabay Indonesia Warga padamkan api swadaya dan alat seadanya Di Dusun Maju Bersama, Desa Kalibandung, Kubu Raya, warga berjibaku memadamkan api gambut yang membara. Hayet, warga dusun mengatakan, sejak 27 Juli, api mulai memasuki wilayah Hutan Desa Kalibandung dan menjalar hingga ke area kelola warga. Lahan seluas 30 hektar yang Hayet kelola bersama Kelompok&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/kebakaran-gambut-kalbar-tak-kunjung-padam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 11:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30155418/Iguana-laut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132630</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain. Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup dengan kulit berwarna abu-abu kehitaman dan deretan sisik berbentuk piramida di sepanjang punggung. Kuku tajam serta penampilannya yang garang semakin membuat satwa ini terlihat seperti Godzilla. Meski tampil menyeramkan, iguana laut bukan pemakan daging. Satwa ini merupakan herbivora yang memakan alga dan rumput laut. Iguana laut juga menjadi satu-satunya spesies kadal yang mencari makanan di laut. Untuk memperoleh makanan, iguana laut menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tubuhnya dapat tumbuh sepanjang 1,2 meter. Ekornya yang berbentuk pipih membantu satwa ini berenang dan bergerak dengan lincah di dalam air. Namun, iguana laut merupakan hewan eksotermik yang mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur panas tubuh. Karena tidak dapat terlalu lama berada di air dingin, iguana harus kembali ke daratan dan berjemur di bawah sinar matahari setelah menyelam. Tubuhnya juga memiliki kelenjar yang membantu menyaring dan membuang kelebihan garam. Kemampuan tersebut penting karena iguana laut menghabiskan banyak waktu untuk mencari makanan di perairan laut. Ketergantungannya terhadap alga membuat iguana laut rentan terhadap perubahan suhu laut. Ketika El Niño terjadi, suhu air meningkat dan menyebabkan ganggang merah serta hijau yang menjadi makanan utamanya menghilang. Ganggang cokelat memang bertambah, tetapi sulit dicerna dan kemungkinan beracun bagi iguana. Kelangkaan makanan dapat mengakibatkan kematian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/penampakan-mirip-godzilla-reptil-ini-ternyata-pemakan-rumput-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 09:47:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074543/Serak-Jawa-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132719</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[gotontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Nasib Tragis Burung Hantu di NTT, Dibakar Hidup-hidup karena Dianggap Pembawa Petaka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas. Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas. Kedua, pada Agustus 2026, seekor burung hantu yang diduga celepuk flores (Otus alfredi), dipukul dan dibakar hidup-hidup oleh tiga pria di Manggarai Barat. Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, menyayangkan tindak kekerasan tersebut. Menurutnya, perbuatan melukai atau membunuh satwa dilindungi merupakan pelanggaran berat. Pelaku dapat terancam 15 tahun penjara sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. &#8220;Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,&#8221; ujar Adhi, dikutip dari detik.com, Kamis (13/8/26).Namun yang paling mengkhawatirkan adalah alasan di balik aksi tersebut. Ketika diperiksa, ketiga pelaku mengaku membakar burung hantu karena percaya kehadirannya merupakan pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Dengan aksi membakar burung hantu tersebut, para pelaku meyakini ancaman sihir dapat dilenyapkan. Serak jawa, jenis burung hantu yang merupakan sahabat petani karena kemampuan hebatnya memburu tikus. Foto: Asep Ayat. Kenapa dijuluki burung hantu? Nama burung hantu bukan sekadar julukan seram tanpa dasar. Ada dua alasan biologis yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah bertahun-tahun. Alasan pertama adalah gaya hidupnya yang benar-benar nokturnal alias aktif malam hari. Studi genom komparatif terhadap 11&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/nasib-tragis-burung-hantu-di-ntt-dibakar-hidup-hidup-karena-dianggap-pembawa-petaka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 02:26:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26045337/C0251T01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132417</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Jelajah Meratus, Menuju Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua  hari penuh tim dari Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya, Yuansen Tio, dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, serta Mongabay, ke Desa Juhu,  pemukiman tertinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir Juli lalu. Mereka mau pasang instalasi energi matahari di sana. Tim menempuh beberapa jembatan gantung yang  rusak dan rapuh, perbukitan curam, bebatuan licin, sungai deras dengan lebar beragam, hutan lebat, dan lembah dengan jurang yang dalam untuk mewujudkan akses energi bersih bagi Masyarakat Adat Meratus di sana. Perjalanan panjang mulai dari Desa Hinas Kiri, batas RW05/RW03 tempat terakhir masih terjangkau kendaraan bermotor. Kemudian tim menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Arloji mencatat jarak tempuh sekitar 18,59 kilometer, total tanjakan curam 1.343 meter dan turunan menukik 1.711 meter. Titik awal di koordinat -2.703160, 115.673370, perjalanan berakhir di -2.622290, 115.581510. Jika tim perlu dua hari, warga desa yang terbiasa hanya butuh 18 jam sekali jalan, Sejak meninggalkan Puncak Tiranggan, persimpangan menuju Gunung Halau-Halau, tim berada di bawah arahan Pinan, tetua  adat Dayak Meratus yang  turun gunung untuk menjemput. Sehari sebelumnya, kami berempat menemuinya di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ada juga Ketua Rubi, Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PW AMAN) Kalsel. Sepanjang perjalanan, Pinan selalu mengambil posisi paling depan sebagai penunjuk arah, susunan kelompok harus tetap terjaga. Tidak seorang pun boleh mendahului atau tertinggal. “Jangan ada yang mendahului, pamali (tabu),” ucapnya. Saat itu, akhir Juli 2026, musim kemarau tengah berlangsung. Di bawah rapatnya kanopi hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/31/jelajah-meratus-menuju-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>31 Agu 2026 00:30:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/17162701/Merauke-food-estate--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132617</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Dari IKN hingga Rempang, Warga Tagih Makna Kemerdekaan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-81 tahun. Namun, bagi masyarakat adat dan warga yang hidup di sekitar proyek pembangunan berskala besar, kemerdekaan belum selalu berarti rasa aman, lingkungan sehat, dan kebebasan mempertahankan ruang hidup. Di Kampung Sepaku Lama, Kalimantan Timur, masyarakat adat Balik menghadapi perubahan akibat pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Proyek Intake Sepaku disebut mempersulit warga mengakses air sungai. Ketika musim hujan, mereka menghadapi banjir, sedangkan kemarau panjang memicu krisis air. Situasi serupa berlangsung di Lelilef Sawai, Halmahera Tengah. Sebelum industri pengolahan nikel berkembang, masyarakat menggantungkan hidup pada kebun, hutan, dan laut. Ekspansi industri memang membawa pekerjaan dan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus mempersempit ruang hidup sebagian warga. Bagi Oktaviana Takuling, Ketua Komunitas Fagawene, kemerdekaan tidak cukup diperingati melalui upacara tahunan. “Bukan sekadar pembacaan Proklamasi, melainkan regulasi yang melindungi kepentingan seluruh masyarakat dan kelompok adat,” katanya. Di Kepulauan Aru, masyarakat Marafenfen dan Popjetur juga menghadapi pembatasan akses terhadap wilayah adat. Kehadiran Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut membuat warga khawatir membuka kebun dan mengakses tempat berburu. Rencana investasi peternakan sapi menambah kecemasan bahwa lahan mereka akan semakin dikuasai perusahaan. Tekanan industri juga dirasakan masyarakat Sulawesi Tenggara. Warga di sekitar kawasan pengolahan nikel menghadapi pencemaran air, banjir berlumpur, serta kerusakan tambak dan sawah. Di Desa Lamedai, Kolaka, hasil panen menurun setelah lumpur mengendap di lahan pertanian. Air bersih berubah keruh dan berbau sehingga warga harus membeli air atau mengambilnya dari sumur yang jauh. Sementara itu, masyarakat Rempang masih hidup dalam kekhawatiran kehilangan tanah akibat proyek Rempang Eco City dan pembangunan Sekolah Terintegrasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-ikn-hingga-rempang-warga-tagih-makna-kemerdekaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 22:33:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30223005/image_9470_1-Aquilolamna-milarcae.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132701</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tambang batu kapur Vallecillo, Meksiko, sebuah temuan fosil membuat sejumlah ahli paleontologi kesulitan mengklasifikasikannya. Bentuk tubuhnya tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok hiu mana pun yang pernah dikenal, dan setelah diteliti lebih jauh, spesies yang diberi nama Aquilolamna milarcae ini ternyata memiliki ciri gabungan dari dua kelompok hewan laut yang berbeda. Fosil tersebut pertama kali ditemukan oleh pekerja tambang pada 2012, kemudian digali secara hati-hati oleh ahli paleontologi setempat, sebelum akhirnya dideskripsikan secara ilmiah  dalam jurnal Science oleh tim peneliti dari Universitas Rennes dan Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS). Perpaduan Ciri Pari Manta dan Hiu Fosil Aquilolamna milarcae diperkirakan berasal dari pertengahan periode Kapur, sekitar 93 juta tahun lalu, atau lebih tua dari Tyrannosaurus rex. Pada masa itu, permukaan air laut global jauh lebih tinggi dibanding sekarang akibat minimnya lapisan es di kutub, sehingga benua Amerika Utara terbagi menjadi dua daratan besar yang dipisahkan oleh jalur laut luas. Vallecillo, yang kini berupa dataran semi-kering, dulunya merupakan bagian dari dasar laut yang cukup jauh dari garis pantai. Hewan ini memiliki rentang sirip dada mencapai hampir 1,9 meter, sementara panjang tubuhnya dari kepala hingga ekor hanya sekitar 1,6 meter, sehingga tubuhnya lebih lebar daripada panjang. Kepala yang lebar dan sirip dada yang memanjang membuat bagian depan tubuhnya sangat mirip pari manta. Namun bagian belakang tubuhnya bercerita lain. Sirip ekor Aquilolamna milarcae berbentuk khas hiu, dan berdasarkan struktur tulang belakang serta sirip ekor tersebut, tim peneliti mengelompokkan spesies ini ke dalam ordo Lamniformes, kelompok yang juga mencakup hiu pemakan plankton, hiu mako,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/mengenal-hiu-elang-spesies-purba-yang-menyerupai-dua-hewan-sekaligus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 11:22:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/16175024/Sungai-Batanghari-Jambi-jadi-jalur-pengangkutan-batubara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132690</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi Melanggengkan Dominasi Energi Fosil di Indonesia. Melalui laporan ini, Jatam membongkar bagaimana narasi “dekarbonisasi” dan “solusi palsu” justru menjadi alat untuk memperpanjang umur industri fosil, bukan menghentikannya. Laporan itu menyoroti sejumlah proyek sebagai bagian dari transisi energi, mulai dari  carbon capture and storage, carbon capture, utilization, and storage (CCS, CCUS), co-firing biomassa, hidrogen, amonia, biometana, hingga gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME). Fanny Tri Jambore, peneliti Jatam Nasional mengatakan,  berbagai teknologi itu sebagai strategi dekarbonisasi dalam sejumlah dokumen resmi negara. Namun, arah kebijakan itu tidak untuk mengakhiri ekstraksi energi fosil. “Merujuk pada etimologi, dekarbonisasi memang mekanisme untuk mengurangi jejak emisi karbon,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Mongabay. Idealnya, dekarbonisasi sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil justru bersalin rupa menjadi instrumen mempertahankan batubara, minyak bumi, dan gas dalam jangka panjang. Jatam mencatat, berbagai dokumen seperti rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 2025–2045, long term strategy for low carbon and climate resilience (LTS-LCCR) 2050. Lalu, second nationally determined contribution (SNDC), Peraturan Pemerintah Nomor 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Kemudian, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), hingga RUPTL 2025–2034. Secara konsisten, katanya, rencana dan kebijakan itu memasukkan CCS, CCUS, DME, hidrogen, amonia, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 10:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011123/Berang-berang-cakar-kecil-yang-berhasil-ditemukan-oleh-tim-Asta-Indonesia-di-segmen-4-sungai-Ciliwung-Depok.-Foto_-Dokumentasi-Averroes-Oktaliza--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132583</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan anggota keluarga Lutrinae. Musang air tersebar dari Malaysia, Sumatera, Kalimantan, hingga Thailand Selatan. Keberadaannya sangat sulit ditemukan. Bukti foto satwa ini pernah diperoleh pada 2009 di hutan rawa gambut Sebangau dan pada 2023 di Bentang Alam Rungan Kahayan. Peneliti IPB University kemudian berhasil merekam musang air menggunakan kamera jebak dan pesawat nirawak atau drone. “Teknologi mempermudah proses deteksi dan pemantauan satwa yang sebelumnya sulit dilakukan melalui pengamatan lapangan secara langsung mengandalkan deteksi mata manusia. Satwa-satwa seperti ini memiliki morfologi tersamarkan di habitatnya dan cenderung pemalu dan sensitif terhadap keberadaan manusia,” ungkap Dede Aulia Rahman, pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), dikutip dari laman IPB University, Selasa (24/6/25). Berbeda dari musang lain yang umumnya hidup di daratan atau pepohonan, musang air mampu hidup di darat dan perairan. Kakinya memiliki selaput sebagian, sedangkan moncongnya lebar dan dilengkapi kumis sensorik panjang. Ciri fisik tersebut membuatnya terlihat mirip dengan berang-berang. Kemiripan itu terbentuk karena keduanya beradaptasi dengan lingkungan perairan. Musang air merupakan perenang dan penyelam yang andal. Satwa nokturnal ini mencari makanan di sungai, rawa, dan hutan yang tergenang air. Musang air juga dapat memanjat serta kemungkinan menggunakan rongga pohon sebagai tempat bersarang. Satwa ini cenderung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 04:01:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011416/Karhutla-Gakum-KLH--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132671</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa yang berada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Kami mengonstruksikan setiap perkara secara menyeluruh untuk memastikan bagaimana api bermula, apa motifnya, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah terdapat pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa itu,&#8221; katanya seperti dikutip dari CNN Indonesia. Proses hukum, katanya, mereka lakukan dengan pendekatan scientific criminal investigation. Penyidik mendasarkan penyelidikan dan penyidikan pada fakta serta alat bukti untuk mengurai unsur perbuatan melawan hukum maupun unsur kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. &nbsp; Bekas karhutla di konsesi PT SPM. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia Temuan karhutla di konsesi Sedangkan temuan Walhi Riau, sekitar Mei lalu, sedikitnya karhutla terjadi pada empat konsesi perusahaan di Riau. Antara lain, di Bengkalis, PT Sekato Pratama Makmur (SPM) dan PT Meskom Agro Sarimas (MAS). Kemudian PT Arara Abadi (AA), Pelalawan; serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Siak. Penghujung Juli lalu, Eko Yunanda, Direktur Eksekutif Walhi Riau menyerahkan hasil temuan dan kajian mereka terhadap empat perusahaan itu pada kepolisian. Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Riau, menerimanya langsung. Mongabay, mengirim surat permintaan tanggapan melalui WhatsApp, 21 Agustus 2026 tetapi tak ada respon. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), membenarkan temuan itu, setelah Mongabay konfirmasi. “Berdasarkan pemantauan titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:26:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30022604/Cretoxyrhina_mantelli_21DB_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132677</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun barat Mesir. Sebuah studi paleontologi terbaru mengungkap bahwa dataran tinggi yang kini tandus di gurun barat Mesir dahulu merupakan bagian dari laut dangkal yang menjadi rumah bagi setidaknya tujuh spesies hiu purba. Temuan ini berasal dari analisis gigi-gigi fosil yang dikumpulkan di Dataran Tinggi Abu-Tartur, sekitar 650 kilometer barat daya Kairo, dan dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research oleh tim yang dipimpin ahli paleontologi Tarek Yassin dari Universitas Kairo. Analisis 14 Gigi Fosil Ungkap Lima Spesies Baru Yassin dan rekannya Alhussein Ibrahim mengumpulkan 14 gigi hiu dari lapisan fosfat hitam dan kuning di sektor Maghrabi-Liffiya, bagian dari Formasi Duwi yang berumur Kapur Akhir. Gigi-gigi tersebut memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari yang ramping dan memanjang hingga yang melengkung tajam dan bergerigi, menunjukkan perbedaan strategi makan di antara spesies yang pernah hidup berdampingan di perairan itu. Gigi-gigi fosil yang menjadi bukti utama studi ini: sebagian mewakili lima spesies hiu yang baru tercatat di Abu-Tartur, termasuk dua yang merupakan catatan pertama untuk Mesir. Kredit: Cretaceous Research (2026). DOI: 10.1016/j.cretres.2026.106476 Setelah membandingkan bentuk dan anatomi gigi dengan deskripsi ilmiah yang sudah dipublikasikan serta spesimen pembanding di koleksi museum Swiss, tim mengidentifikasi lima spesies yang belum pernah tercatat di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23151028/Jumpa-pers-perdagangan-emas-ilegal-di-Polda-Sumbar-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132570</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Pertambangan, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut diduga berasal dari pertambangan emas tanpa izin atau PETI di Kabupaten Sijunjung dan Garabak Data, Kabupaten Solok. Penyidik menduga emas yang dikumpulkan A dikirim ke Malaysia melalui jaringan kurir. A mengaku tidak mengenal kurir yang mengambil barang. Ia hanya menerima informasi dari seseorang berinisial N setelah emas pesanan terkumpul. Dalam prosesnya, N disebut mengerahkan dua hingga tiga kurir yang tidak saling mengenal. A diduga menjalankan bisnis tersebut sejak Maret–April 2026. Pada periode itu, ia membeli emas urai rata-rata sekitar 40 gram per hari. Aktivitas tersebut kembali berlangsung sejak Juli, tetapi emas yang dibeli sudah berbentuk batangan dengan rata-rata mencapai satu kilogram per hari. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat, menilai penangkapan A membuktikan bahwa emas ilegal dari provinsi itu tidak hanya beredar di pasar lokal. Kepolisian perlu membongkar pihak yang terlibat dari lokasi tambang hingga pembeli akhir. “Jangan hanya menindak pelaku di tingkat tapak,” katanya. Menurut Walhi, PETI di Sumatera Barat telah berkembang menjadi kegiatan terstruktur yang melibatkan alat berat, mesin dompeng, modal besar, dan penggunaan merkuri. Aktivitas tersebut diperkirakan telah membuka sekitar 1.100 hektar kawasan hutan. Lebih dari 50 orang juga dilaporkan meninggal akibat tambang emas ilegal sepanjang 2012 hingga Mei 2026. Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 01:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27145647/2.-Aktivitas-tambang-batu-gamping-berbatasan-langsung-dengan-KKD-Teluk-Moramo-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132461</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, pencemaran, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan ini pasti hilang. Ia akan pergi jauh ke kedalaman. Ikan itu punya feeling,” kata Sasanti Retno Suharti, peneliti ekologi ikan terumbu karang, Sabtu (1/8/26). Hilangnya napoleon akan berdampak pada keseimbangan ekosistem terumbu karang. Sebab, napoleon sebagai puncak rantai makanan dan predator utama bintang laut berduri atau bulu seribu (Acanthaster planci) pemakan terumbu karang. “Role-nya menjaga kestabilan ekosistem terumbu karang untuk tetap sehat. Jika dia tidak ada, akhirnya bulu seribu merajai atau memakan karang. Rusaklah ekosistemnya,” kata Sasanti yang juga meneliti napoleon sejak 2006. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat napoleon berasal dari famili Labridae dengan ukuran maksimum lebih dari dua meter dan berat 190 kilogram. Usia betina dapat mencapai 32 tahun dan umur lebih panjang dari jantan. Pertumbuhannya sangat lambat atau sekitar tiga inci dalam lima bulan. Reproduksinya juga rendah dengan kematangan seksual (gonad) di usia 5–7 tahun. “Ia tidak seperti ikan-ikan lain. Ia matang gonadnya aja tujuh tahun, sedangkan ikan-ikan karang lainnya satu tahun,” tambah Sasanti. Ikan napoleon semakin jarang terlihat di habitat terumbu karang TN Wakatobi. Foto: Riza Salman/Mongabay Indonesia Napoleon muda (juvenil) berwarna putih dengan garis sisik gelap dan hitam di dekat mata, tetapi berubah biru kehijauan atau keunguan ketika dewasa. Bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 00:11:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30000451/Hana-Fitri-27-dan-Yustika-51-mencuci-pakaian-dan-beras-di-salah-satu-kolam-yang-tersisa-di-sekitar-Desa-Zed-Kabupaten-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132663</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Lahan Basah, pencemaran, Pertambangan, sawit, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. Masih bertahan, mungkin karena ada mata airnya,” kata Mang Yan, Minggu (22/8/26). Setiap tahun, warga Desa Zed membuka pintu bagi keluarga dan kerabat dari luar daerah. Warga desa mulai sibuk memasak ketupat, serta menyiapkan beragam kue, mirip lebaran. Tak jarang, jalan raya Desa Zed dipenuhi kendaraan dari pagi hingga malam. Ini dilakukan untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Yustika mengatakan, warga khawatir menyambut maulid tahun ini. Sebab, sebagian besar  mereka kesulitan air. “Sumur-sumur mulai kering, air sungai menyusut,” jelasnya. Warga Desa Zed bergantung pada air yang disalurkan melalui pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Namun, sejak dua minggu terakhir, air tersebut tidak mengalir merata ke seluruh rumah. Dalam sehari, hanya seratusan kepala keluarga yang mendapat jatah. “Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” kata Hana Fitri, tetangga Yustika. Hana Fitri dan Yustika mencuci pakaian dan beras di kolam air tersisa di sekitar Desa Zed, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Tidak hanya di Desa Zed, hal serupa terjadi di sejumlah desa tetangga mereka. Seperti Desa Puding Besar, Desa Paya Benua, dan Desa Kemuja. Di sepanjang jalan menuju Kota Pangkalpinang, Mongabay Indonesia beberapa kali melihat warga mandi di sejumlah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>