<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=della-syahni-semarang&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/della-syahni-semarang/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 13:22:41 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Para Guru di Bungo Melawan Ketika Sekolah Terkepung Tambang Emas Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 13:22:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06131444/Guru-SMAN-8-Bungo-saat-menggerebek-lokasi-tambang-emas-ilegal-di-samping-sekolah.-dok-Khoirul-720x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127430</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Perjuangan guru menjaga siswa mereka tetap berada dalam keadaan aman tak hanya di dalam lingkungan sekolah. Di Jambi, salah satu contohnya. Ketika lingkungan sekolah tak aman karena aktivitas tambang emas ilegal membahayakan, para guru pun melawan dengan ramai-ramai menggeruduknya, pekerja tambang pun lari kocar kacir. Gemuruh alat berat merayap ke ruang kelas, memecah konsentrasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/">Para Guru di Bungo Melawan Ketika Sekolah Terkepung Tambang Emas Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Perjuangan guru menjaga siswa mereka tetap berada dalam keadaan aman tak hanya di dalam lingkungan sekolah. Di Jambi, salah satu contohnya. Ketika lingkungan sekolah tak aman karena aktivitas tambang emas ilegal membahayakan, para guru pun melawan dengan ramai-ramai menggeruduknya, pekerja tambang pun lari kocar kacir. Gemuruh alat berat merayap ke ruang kelas, memecah konsentrasi siswa. Di ruangan, Khoirul Hadi, Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Bungo, menatap ke luar pagar dengan perasaan resah, sekaligus amarah. Aktivitas tambang emas ilegal di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Jambi mulai mendekati SMA Negeri 8 Bungo. Jaraknya kurang dari 50 meter. Yang lebih mengkhawatirkan, katanya, adalah ancaman banjir. SMAN 8 Bungo berdiri persis di tepi Sungai Batang Bungo. Tambang emas ilegal beroperasi di samping sekolah, membuat mereka rentan kena banjir bandang. Akhir 2025, alat berat mencacah habis lahan di sebelah kanan sekolah. Menyisakan kolam-kolam tambang di pinggiran sungai. Pagar sekolah rusak, tanpa ada yang bertanggung jawab. “Sekarang mereka garap lagi lahan sebelah kiri sekolah,” kata Khoirul. Pohon-pohon besar yang selama ini menjadi benteng alami sekolah dari banjir, satu per satu mulai tumbang. “Sebelum ada PETI (pertambangan emas tanpa izin) aja sudah sering kena banjir, apalagi sekarang pohon-pohon besar kayak duku, durian yang jadi benteng dari banjir malah ditebangi. Saya khawatir kalau ada banjir bandang, sekolah bisa roboh.” Khoirul katakan, tambang emas ilegal itu sudah sebulan beroperasi. Dia sudah melaporkan ke Polsek Rantau Pandan, tetapi tak ada tindakan. Dia juga sudah mendatangi langsung lokasi tambang bersama Plt Kepala Desa Rantau Pandan, BPD&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/para-guru-di-bungo-melawan-ketika-sekolah-terkepung-tambang-emas-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 06:26:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06061908/Pakis-ekor-monyet-tumbuh-di-lereng-Gunung-Muria-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127420</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib. Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya. Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/">Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib. Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya. Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau Peka Muria, menuturkan pemanfaatan pakis sejak awal, sebenarnya bukan sesuatu yang dianjurkan. Namun, gelombang tren yang datang dari luar, ditambah minimnya regulasi masa itu, membuat eksploitasi tak terhindarkan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan, sejak masih muda,” jelasnya, Minggu (26/4/2026). Saat itu, bagian dalam Cibotium barometz yang bermotif unik dipotong dan dijual sebagai ‘kayu tolak tikus’. Kulitnya, digunakan sebagai media tanam, terutama untuk anggrek. Aktivitas ini, seingat Teguh berjalan masif. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis, lalu menjualnya tanpa mempertimbangkan kelanjutan. Waktu berjalan, tren mereda. Namun, dampaknya tidak ikut hilang. Teguh menyebut, bila dibandingkan dengan kondisi masa lalu, populasi pakis di Muria kini diperkirakan menurun. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang.” Pakis ekor monyet yang tumbuh di hutan Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Indikator sumber air Secara ekologis, pakis ekor monyet memiliki peran penting. Tak hanya tumbuh di sela pohon besar, tetapi juga sebagai indikator alami kesuburan tanah dan keberadaan sumber air. Pakis ini juga membantu kelembapan tanah dan berkontribusi pada kestabilan ekosistem hutan. “Kalau ada pakis, dekat mata air.” Meski tekanan pengambilan pakis di Muria mulai berkurang, menurut Teguh, ancaman tak sepenuhnya hilang. Praktik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/pakis-ekor-monyet-tumbuhan-unik-di-gunung-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 03:53:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/04054716/Foto-1_-Nelayan-sedang-memancing-di-Danau-Batur-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127336</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Made geleng-geleng kepala saat umpan pancing dilempar ke Danau Batur tetapi tak kena sasaran. Dia bawa tiga pancing dengan harapan dapat ikan mujair. Satu, dua, tiga, bahkan lebih, kail pancing dia lempar. Hasilnya, hanya dapat ikan red devil. “Di mana aja sama, entah ulah siapa niki,” kata Made, nelayan Desa Songan di Dermaga Pura Jati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/">Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Made geleng-geleng kepala saat umpan pancing dilempar ke Danau Batur tetapi tak kena sasaran. Dia bawa tiga pancing dengan harapan dapat ikan mujair. Satu, dua, tiga, bahkan lebih, kail pancing dia lempar. Hasilnya, hanya dapat ikan red devil. “Di mana aja sama, entah ulah siapa niki,” kata Made, nelayan Desa Songan di Dermaga Pura Jati sambil menunggu kailnya bergerak, Kamis, (16/4/26). Secara turun-temurun, Made merupakan nelayan tangkap dan juga punya keramba jaring apung di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Selama tiga dekade, dia jalani turun temurun, setidaknya dia generasi ketiga. Namun, sejak 2022, pekerjaan itu tak lagi menjanjikan, kini jadi buruh tani. Memancing menjadi salah satu pelipur lara ketika  senggang. “Mih, bangkrut tiang ulian red devil niki (aduh, bangkrut saya gara-gara red devil ini),” kata Made. Red devil (Amphilopus citrinellus) merupakan jenis ikan pemangsa daging bergigi tajam. Ikan ini tergolong ikan  hias air tawar dari Nikaragua dan Costa Rika, Amerika Tengah. Red devil punya daya tahan tinggi, sangat mudah beradaptasi pada perubahan lingkungan, dan mampu berkembang biak dengan cepat. Sifat ini jadikan red devil masuk dalam jenis ikan invasif yang dapat merusak ekosistem asli perairan. Ikan-ikan lokal di Danau Batur perlahan menghilang. Tak hanya di Danau Batur, penelitian Dampak Invasif Ikan Red Devil terhadap Keanekaragaman Ikan di Perairan Umum Daratan di Indonesia (2015) memperkirakan 87 jenis ikan Indonesia terancam punah. Faktor utama penyebab kepunahan ini adalah masuknya ikan red devil ke perairan umum daratan di Indonesia. Seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Sentani,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/nasib-nelayan-ketika-red-devil-kuasai-danau-batur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Terpanjang dalam Sejarah Bumi Ternyata Dua Kali Lipat Panjang Ibu Baron, Ular Raksasa dari Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mei 2026 02:58:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074154/titanoboa_darren_pepper-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127405</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus) betina dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Guinness World Records mengonfirmasi rekor ini pada 18 Januari 2026. Ular yang diberi nama Ibu Baron ini memiliki panjang 7,22 meter, diukur dari kepala hingga ujung ekor menggunakan pita ukur survei standar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/">Ular Terpanjang dalam Sejarah Bumi Ternyata Dua Kali Lipat Panjang Ibu Baron, Ular Raksasa dari Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus) betina dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Guinness World Records mengonfirmasi rekor ini pada 18 Januari 2026. Ular yang diberi nama Ibu Baron ini memiliki panjang 7,22 meter, diukur dari kepala hingga ujung ekor menggunakan pita ukur survei standar. Angka ini hanya terpapat 10 sentimeter dari lebar gawang sepak bola standar FIFA (7,32 meter). Pengukuran dilakukan dalam kondisi ular sadar. Protokol Guinness World Records tidak mengizinkan pembiusan kecuali untuk alasan medis atau keselamatan. Dalam kondisi tubuh sepenuhnya rileks, panjang ular diperkirakan dapat bertambah sekitar 10 persen. Berat tubuh Ibu Baron tercatat 96,5 kilogram saat penimbangan, dan itu pun sebelum ia mengonsumsi mangsa besar. Pada sanca kembang dewasa, berat tubuh dapat meningkat tajam setelah makan, dalam kondisi perut penuh, bobotnya diperkirakan melampaui 100 kilogram. Seekor sanca kembang betina raksasa dari Maros, Sulawesi Selatan, resmi memecahkan rekor dunia sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah. Foto Guiness Book of Records Ibu Baron saat ini berada dalam perawatan konservasionis lokal Budi Purwanto di Maros. Ia dievakuasi segera setelah ditemukan untuk mencegah pembunuhan oleh warga. Proses pemeriksaan dan pengukuran dilakukan oleh Diaz Nugraha, pemandu dan penyelamat satwa liar berlisensi dari Kalimantan, bersama Radu Frentiu, penjelajah dan fotografer alam yang bermukim di Bali. Keduanya datang ke Sulawesi setelah mendengar laporan tentang keberadaan sanca berukuran ekstrem. Konteks Spesies dan Rekor Sebelumnya Secara biologis, sanca kembang adalah ular terpanjang yang hidup saat ini, dengan distribusi alami mencakup Asia Tenggara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/06/ular-terpanjang-dalam-sejarah-bumi-ternyata-dua-kali-lipat-panjang-ibu-baron-ular-raksasa-dari-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Petani Way Pisang di Tengah Rencana Pembangunan Rindam XXI</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 23:56:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/05234906/Konflik-Agraria-Lampung_Foto-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127397</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Mentari begitu terik siang itu. Meski begitu tak menyurutkan langkah Alvin Gini menuju ladang jagungnya di Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, penghujung tahun lalu. Belum sampai ke ladang jagung, tiba-tiba saja beberapa orang berseragam loreng hijau berambut cepak mencegatnya. “Ada lima orang TNI yang tiba mendatangi saya,” ujar Gini saat Mongabay hubungi, Desember [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/">Nasib Petani Way Pisang di Tengah Rencana Pembangunan Rindam XXI</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Mentari begitu terik siang itu. Meski begitu tak menyurutkan langkah Alvin Gini menuju ladang jagungnya di Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, penghujung tahun lalu. Belum sampai ke ladang jagung, tiba-tiba saja beberapa orang berseragam loreng hijau berambut cepak mencegatnya. “Ada lima orang TNI yang tiba mendatangi saya,” ujar Gini saat Mongabay hubungi, Desember lalu. Kelima orang itu langsung mengajukan sejumlah pertanyaan. Mereka menanyakan identitas dirinya, kepemilikan lahan, hingga status tanah yang sedang dia garap. “Waktu itu,  saya berangkat cari rumput sekitar jam 1.00 siang. Di kebun saya dicegat, ditanya nama siapa, punya lahan atau tidak, lahannya yang mana,” katanya menirukan pertanyaan mereka waktu itu. Kala itu dia jawab, lahan berada di tanah register. Mendengar itu, salah satu dari mereka kembali bertanya apakah Gini mengetahui siapa pemilik tanah itu. “Saya jawab tanah ini tanah register,” kata Gini. Anggota TNI terus lanjut bertanya termasuk soal bagaimana jika lahan itu diminta untuk dikosongkan. “Saya jawab, kalau diminta dikosongkan, saya mau tinggal di mana? Sedangkan pekerjaan saya hanya di sini, bertani,” katanya. Pertanyaan itu berlanjut pada kemungkinan ganti rugi, meski dia memilih untuk tidak memberikan jawaban. Setelah pertanyaan berantai itu, lantas Gini meninggalkan orang-orang itu dan mulai menggarap ladang. Sebelum beranjak, dia sempat melihat salah satunya melakukan pengukuran tanah di ladang-ladang jagung dan permukiman warga. Selepas mengukur tanah, kelima orang itu dijemput dengan satu mobil dan tujuh motor trail sebagai iring-iringannya. Sekitar lebih 15 orang datang di Desa Kemukus, siang itu. Plang Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) Desa Kemukus. Foto: Anggita Raissa/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-petani-way-pisang-di-tengah-rencana-pembangunan-rindam-xxi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Satwa Migran Kian Terancam Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 22:39:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094806/jussi_mononen-768x424.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127031</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Perikanan Kelautan dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Satwa liar spesies migran makin terancam, bahkan mendekati kepunahan. Konferensi Para Pihak XV Konvensi Spesies Migran (COP15 CMS) yang berlangsung di Brazil putuskan untuk meningkatkan perlindungan terhadap spesies migran. Total ada 40 spesies yang statusnya naik dalam status perlindungan dan masuk dalam Appendix I dan II. Puluhan spesies itu mencakup populasi burung, satwa liar akuatik, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/">Nasib Satwa Migran Kian Terancam Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Satwa liar spesies migran makin terancam, bahkan mendekati kepunahan. Konferensi Para Pihak XV Konvensi Spesies Migran (COP15 CMS) yang berlangsung di Brazil putuskan untuk meningkatkan perlindungan terhadap spesies migran. Total ada 40 spesies yang statusnya naik dalam status perlindungan dan masuk dalam Appendix I dan II. Puluhan spesies itu mencakup populasi burung, satwa liar akuatik, dan hewan darat. Appendix I adalah kelompok dengan spesies terancam punah yang perdagangannya dilarang penuh. Sementara Appendix II  masih memperbolehkan dengan ketentuan ketat. Menyusul kesepakatan ini, konvensi yang sudah berusia 47 tahun itu kini mencakup 1.200 spesies unik. Amy Fraenkael, Sekretaris Eksekutif CMS mengatakan, setengah dari spesies yang masuk daftar perlindungan sedang alami penurunan populasi. Dia pun lega karena pertemuan yang berlangsung akhir Maret itu menghasilkan kesepakatan untuk memperluas perlindungan hingga menyentuh hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, hingga hiu martil besar. Menurut Amy, kesepakatan itu menunjukkan perhatian negara terhadap upaya perlindungan spesies semakin meningkat. Saat konvensi berlangsung, semua negara sepakat perlindungan harus lebih kuat dengan rencana yang lebih terarah dan matang. “Tak perlu menunggu pertemuan berikutnya. Pelaksanaan harus dimulai besok. Tugas kita sekarang adalah menjembatani kesenjangan antara apa yang telah kita sepakati dan apa yang terjadi di lapangan bagi hewan-hewan ini.” Spesies yang masuk perlindungan terkini itu, habitatnya mendiami wilayah-wilayah kunci seperti Amazon. Kondisi itu bisa terjadi, karena habitat terus berkurang luasannya, eksploitasi berlebihan, dan infrastruktur terbatas yang memicu penurunan populasi yang melintasi batas negara menjadi lebih cepat. Di luar hal tersebut, ancaman penurunan populasi dan degradasi habitat juga bisa terjadi karena ada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/nasib-satwa-migran-kian-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kala Rumah Sakit Mulai Gunakan Energi Terbarukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 15:30:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/30073951/WhatsApp-Image-2026-04-30-at-14.35.00-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, komunitas lokal, politik dan hukum, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tren transisi energi mulai bermunculan di berbagai sektor, termasuk di rumah-rumah sakit. Aksi ini membuat mereka bisa mengurangi beban listrik secara signifikan. Di Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah Gamping, di Yogyakarta, misal, yang menggunakan panel surya. Alif Khoiruddin Azizi, Manajer Umum RS PKU Muhammadiyah Gamping, menyebut, lampu taman dan jalan serta pemanas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/">Kala Rumah Sakit Mulai Gunakan Energi Terbarukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tren transisi energi mulai bermunculan di berbagai sektor, termasuk di rumah-rumah sakit. Aksi ini membuat mereka bisa mengurangi beban listrik secara signifikan. Di Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah Gamping, di Yogyakarta, misal, yang menggunakan panel surya. Alif Khoiruddin Azizi, Manajer Umum RS PKU Muhammadiyah Gamping, menyebut, lampu taman dan jalan serta pemanas air di kamar mandi sebagian sudah bersumber listrik dari energi terbarukan bersumber matahari. Langkah sama juga RS Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur, lakukan. Masjid utama layanan kesehatan itu sudah menggunakan panel surya. Tak hanya itu RSUD Karang Asem di Bali juga menerapkan PLTS Atap dengan kapaistas 50.000 watt. Total, 72 panel surya terpasang dengan tujuan hemat anggaran dan memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski PLN melakukan pemadaman. Inisiasi serupa di RSUP Sardjito di Yogyakarta, yang memanfaatkan PLTS Atap sebagai sumber listrik mereka. Rumah sakit ini juga menggunakan solar dryer untuk pengeringan limbah dengan energi terbarukan. Mereka juga desain bangunan baru yang hemat energi, hingga pengelolaan limbah tanpa listrik. Junediyono, Asisten Manajer Humas RSUP Sardjito, mengatakan, setidaknya sudah ada dua bangunan yang menggunakan PLTS atap. Hasil listrik dari PLTS atap itu untuk operasional masing-masing gedung. “Pertama, di gedung lama, lalu yang kedua dipasang di gedung yang sedang dibangun ini,” katanya. Penggunaan energi surya juga untuk lampu penerangan jalan dan taman. Upaya ini sejak lima tahun terakhir dan akan lanjut bertahap ke depan. Untuk memperkuat komitmen ramah lingkungan ini, perencanaan bangunan baru pun memprioritaskan desain hemat energi. “Sudah jadi komitmen manajemen untuk ramah lingkungan kedepannya, ditunjukan dengan setiap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/kala-rumah-sakit-mulai-gunakan-energi-terbarukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 08:44:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/03141358/DJI_0634-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127309</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, air Sungai Popayato tak lagi bening. Warnanya berubah coklat keruh, seperti kopi susu. Di tepian sungai, Samin Ahmad  berdiri dengan wajah muram, menatap tajam aliran air yang dulunya menjadi sumber kehidupan keluarganya itu. “Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.” Sungai Popayato mengalir membelah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Ia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana/">Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, air Sungai Popayato tak lagi bening. Warnanya berubah coklat keruh, seperti kopi susu. Di tepian sungai, Samin Ahmad  berdiri dengan wajah muram, menatap tajam aliran air yang dulunya menjadi sumber kehidupan keluarganya itu. “Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.” Sungai Popayato mengalir membelah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Ia seolah menjadi saksi bisu perubahan lanskap maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di hulu dalam beberapa tahun terakhir. Samin mengaku sudah lama tak menggunakan sungai dengan panjang 40,6 kilometer itu untuk air minum. Namun, dia dan keluarganya terpaksa masih memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, meskipun dampak buruknya mulai mereka rasakan. “Setelah mandi, kulit saya dan anak-anak sering menjadi merah dan gatal. Kami tidak memiliki pilihan lain,” katanya saat ditemui di tepian sungai. Saat itu, dia tengah mandi dan mencuci pakaian meskipun kondisi air sungai tampak sangat keruh. Untuk menyiasatinya, Samin kerap menggali lubang-lubang kecil di pinggiran sungai—semacam sumur resapan yang memanfaatkan filtrasi alami tanah. Airnya sedikit lebih jernih, namun belum tentu aman secara higienis. Samin, terpaksa mencuci pakaian di Sungai Popoyato meski kondisinya keruh. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Sudah empat tahun mereka hidup dalam kondisi ini. Sejak aktivitas peti di hulu marak menggunakan alat berat, kondisi sungai berubah drastis. Air yang dulu jernih, kini berubah keruh, penuh endapan lumpur, apalagi saat musim hujan tiba. “Ini bukan cuma soal air, ini soal hidup. Kami harus beli air untuk minum dan masak, habiskan lebih dari Rp500.000 sebulan. Tapi tetap saja harus mandi dan cuci di sungai yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiga Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/05/tiga-spesies-baru-homalomena-ditemukan-di-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/05/tiga-spesies-baru-homalomena-ditemukan-di-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mei 2026 03:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/05031545/Cover-Homalomena-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127364</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah riuhnya media sosial dengan aneka unggahan, ada sebuah cerita temuan ilmiah menarik. Siapa sangka, unggahan foto yang dianggap biasa dari penghobi tanaman hias justru menjadi kunci pembuka penemuan tiga spesies baru dari genus Homalomena, kelompok talas-talasan (Araceae). Dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/tiga-spesies-baru-homalomena-ditemukan-di-hutan-sumatera/">Tiga Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah riuhnya media sosial dengan aneka unggahan, ada sebuah cerita temuan ilmiah menarik. Siapa sangka, unggahan foto yang dianggap biasa dari penghobi tanaman hias justru menjadi kunci pembuka penemuan tiga spesies baru dari genus Homalomena, kelompok talas-talasan (Araceae). Dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, awalnya tertarik dengan beberapa unggahan itu. Penelitian taksonomi lanjutan kemudian membuktikan bahwa tanaman hias tersebut merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Mereka menuliskan laporan temuannya di Jurnal Telopea berjudul “Taxonomic contributions to the genus Homalomena (Araceae) in Western Malesia: three new species from Sumatra discovered through the ornamental plant trade.” Ketiga spesies baru itu diberi nama Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata. “Hal ini menegaskan peran yang semakin besar dari platform digital dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi, khususnya di Sumatera,” tulis Hariri dan kolega, Jumat (27/3/2026). Temuan itu bukan satu-satunya spesies baru Homalomena berkat unggahan di media sosial. Sebelumnya pernah ada, misalnya H. chikmawatiae dan H. pistioides. Menurut para peneliti, peran platform digital semakin meningkat sebagai alat pelengkap eksplorasi lapangan, yang memfasilitasi pengenalan spesies baru. Mengutip laporan itu, Sumatera dikenal sebagai pusat keanekaragaman tertinggi untuk genus ini. Lebih dari 30 spesies Homalomena dideskripsikan dari pulau tersebut. Temuan tiga spesies baru ini makin memperkuat Sumatera sebagai hotspot kelompok talas-talasan, khususnya Supergrup Chamaecladon yang umumnya berukuran kecil dan banyak ditemukan sebagai tumbuhan lithofit. Spesies baru tumbuhan kelompok talas-talasan, ditemukan dari hutan Sumatera. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea Ciri khas Para peneliti mendapati spesimen&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/05/tiga-spesies-baru-homalomena-ditemukan-di-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/05/tiga-spesies-baru-homalomena-ditemukan-di-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waspada Karhutla di Lahan Gambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/04/waspada-karhutla-di-lahan-gambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/04/waspada-karhutla-di-lahan-gambut/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mei 2026 23:03:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/06000144/Warga-bersama-personel-kepolisian-melakukan-pemadaman-di-lokasi-kebakaran-di-Desa-Gambut-Jaya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127359</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Prediksi iklim pada 2026 cukup mengkhawatirkan dengan  perkiraan  terjadi fenomena pemanasan suhu permukaan laut ekstrem yang memperparah intensitas musim kemarau  (El Nino Godzilla).  Terlebih, daerah-daerah dengan lahan gambut kritis meningkatkan risiko karhutla ketika tak ada penanganan serius. Pantau Gambut mencatat, secara nasional, sepanjang Januari-Maret 2026, terdeteksi 23.546 titik panas di dalam kesatuan hidrologis gambut (KHG). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/waspada-karhutla-di-lahan-gambut/">Waspada Karhutla di Lahan Gambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Prediksi iklim pada 2026 cukup mengkhawatirkan dengan  perkiraan  terjadi fenomena pemanasan suhu permukaan laut ekstrem yang memperparah intensitas musim kemarau  (El Nino Godzilla).  Terlebih, daerah-daerah dengan lahan gambut kritis meningkatkan risiko karhutla ketika tak ada penanganan serius. Pantau Gambut mencatat, secara nasional, sepanjang Januari-Maret 2026, terdeteksi 23.546 titik panas di dalam kesatuan hidrologis gambut (KHG). Sebanyak 15.424 titik berada pada fungsi lindung ekosistem gambut (FLEG) dan 8.122 titik di area budidaya. Putra Saptian, Juru Kampanye Pantau Gambut mengatakan, Sumatera memiliki kerentanan tinggi alami karhutla. Data Pantau Gambut menunjukkan,  ribuan titik panas terdeteksi sejak awal tahun, sebagian besar berada di dalam konsesi dan mengindikasikan persoalan struktural dalam tata kelola gambut yang belum terselesaikan. Riau menjadi wilayah dengan titik panas tertinggi sebanyak 8.930 titik, lalu Aceh 1.975, Jambi 359, dan Sumatera Selatan (Sumsel) 164 titik. Dari total temuan itu, 7.526 titik panas berada di dalam konsesi terdiri dari 6.192 titik di hak guna usaha (HGU) dan 1.334 titik di perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH/IUPHHK). Dia bilang, temuan ini menunjukkan praktik pengeringan gambut melalui pembangunan kanal serta ekspansi perkebunan monokultur masih menjadi faktor dominan dalam kebakaran berulang di wilayah itu. “Kondisi ini mencerminkan kegagalan struktural dalam tata kelola gambut, terutama akibat fragmentasi regulasi yang menghambat pengawasan dan penegakan hukum,” katanya dalam diskusi bersama koalisi masyarakat sipil, April lalu. Di tengah peningkatan risiko iklim, kondisi ini berpotensi memperbesar beban ekologis, sekaligus kerugian ekonomi negara. Putra mengatakan, pemerintah perlu memperbaiki kerangka regulasi secara menyeluruh. Dia pun menekankan,  perlu UU Perlindungan Ekosistem Gambut berbasis KHG sebagai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/waspada-karhutla-di-lahan-gambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/04/waspada-karhutla-di-lahan-gambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Organisasi Masyarakat Sipil Cermati Jumhur Hidayat jadi Menteri LIngkungan Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/04/organisasi-masyarakat-sipil-cermati-jumhur-hidayat-jadi-menteri-lingkungan-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/04/organisasi-masyarakat-sipil-cermati-jumhur-hidayat-jadi-menteri-lingkungan-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mei 2026 14:30:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/03082009/1-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127303</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Presiden Prabowo Subianto baru melakukan pergantian beberapa jajaran Kabinet Merah Putih, termasuk Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup berganti ke Mohammad Jumhur Hidayat. Berbagai organisasi masyarakat sipil meragukan penunjukan menteri baru ini antara lain karena meski dikenal sebagai aktivis buruh, Jumhur tidak memiliki rekam jejak kuat di isu lingkungan. Pidato pertamanya saat serah terima jabatan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/organisasi-masyarakat-sipil-cermati-jumhur-hidayat-jadi-menteri-lingkungan-hidup/">Organisasi Masyarakat Sipil Cermati Jumhur Hidayat jadi Menteri LIngkungan Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Presiden Prabowo Subianto baru melakukan pergantian beberapa jajaran Kabinet Merah Putih, termasuk Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup berganti ke Mohammad Jumhur Hidayat. Berbagai organisasi masyarakat sipil meragukan penunjukan menteri baru ini antara lain karena meski dikenal sebagai aktivis buruh, Jumhur tidak memiliki rekam jejak kuat di isu lingkungan. Pidato pertamanya saat serah terima jabatan, 29 April lalu, penuh kontradiksi dan memicu kekhawatiran pegiat lingkungan. Pasalnya, dia menegaskan pembangunan dan industri harus tetap berjalan, termasuk industri ekstraktif. Dengan catatan, eksploitasi sumber daya alam itu tidak boleh melebihi batas. Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) ini bahkan blak-blakan tidak akan memusuhi oligarki. Justru, katanya, harus rangkul oligarki dalam mengatasi permasalahan lingkungan. “Enggak seperti itulah [memusuhi oligarki]. Harusnya bersama oligarki memperbaiki bumi. Tidak ada vis-a-vis, lawan-lawan, enggak, kita sama-sama memperbaiki, kecuali yang sudah bandel banget,” katanya. Dia yakin presiden dan DPR secara politik mendukung KLH. Investasi dan angkatan kerja, katanya, tidak akan banyak terganggu proses perbaikan atau penyempurnaan kebijakan dalam upayanya memastikan rule of law berjalan baik. “Kita punya teman-teman yang pro kepada itu.&#8221; Hanif Faisol, Wamenko Pangan (kiri) dan Jumhur Hidayat, Menteri LH berfoto usai serah terima jabatan. Foto: Yulia Adiningsih/Mongabay Indonesia. Tuai kritik  Imam Shofwan, Kepala Jaringan Komunitas di Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), pesimis dan skeptis terhadap Jumhur. Pidato Menteri Lingkungan Hidup anyar yang mengatakan akan menyelamatkan bumi bersama oligarki membuatnya sulit membayangkan masa depan perlindungan lingkungan. Selama ini, justru oligarki aktor yang paling banyak menyumbang kerusakan, seperti deforestasi dan penambangan di pulau-pulau kecil yang mengancam lingkungan dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/organisasi-masyarakat-sipil-cermati-jumhur-hidayat-jadi-menteri-lingkungan-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/04/organisasi-masyarakat-sipil-cermati-jumhur-hidayat-jadi-menteri-lingkungan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya, Misteri Pohon Berjalan Terpecahkan, Namun Kini Pohon-pohonnya Bertumbangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/04/akhirnya-misteri-pohon-berjalan-terpecahkan-namun-kini-pohon-pohonnya-bertumbangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/04/akhirnya-misteri-pohon-berjalan-terpecahkan-namun-kini-pohon-pohonnya-bertumbangan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mei 2026 10:52:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/22021605/Socratea_exorrhiza_walking_palm_6961-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127350</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan hujan tropis adalah ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di bumi, namun juga yang paling rentan terhadap tekanan perubahan iklim. Di dalamnya hidup spesies-spesies yang adaptasinya begitu spesifik sehingga pergeseran kondisi lingkungan sekecil apapun dapat memiliki konsekuensi yang serius terhadap kelangsungan hidup mereka. Beberapa spesies di antara mereka sempat menjadi perhatian publik global bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/akhirnya-misteri-pohon-berjalan-terpecahkan-namun-kini-pohon-pohonnya-bertumbangan/">Akhirnya, Misteri Pohon Berjalan Terpecahkan, Namun Kini Pohon-pohonnya Bertumbangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan hujan tropis adalah ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di bumi, namun juga yang paling rentan terhadap tekanan perubahan iklim. Di dalamnya hidup spesies-spesies yang adaptasinya begitu spesifik sehingga pergeseran kondisi lingkungan sekecil apapun dapat memiliki konsekuensi yang serius terhadap kelangsungan hidup mereka. Beberapa spesies di antara mereka sempat menjadi perhatian publik global bukan karena nilai ekologisnya, melainkan karena mitos yang melingkupinya. Ketika kini ilmu pengetahuan akhirnya meluruskan mitos tersebut, yang justru terungkap adalah ancaman nyata yang jauh lebih mendesak untuk ditangani. Akar stilt khas Iriartea deltoidea (kiri) dan Socratea exorrhiza (kanan), dua spesies palem yang sering disebut ‘walking palms’. Foto diambil di Omaere Park, Provinsi Pastaza, Ekuador. CC BY-SA 2.0, Dr. Alexey Yakovlev Di hutan hujan tropis Amerika Tengah dan Selatan, Socratea exorrhiza adalah salah satu spesies yang paling sering disalahpahami. Palem ini dikenal luas dengan julukan &#8220;Palem Berjalan&#8221; karena morfologi akar tunjangnya yang mencuat miring dari pangkal batang. Klaim bahwa pohon ini mampu berpindah lokasi hingga 20 meter per tahun untuk mencari cahaya matahari masih umum disampaikan oleh pemandu wisata di Kosta Rika hingga Peru kepada para wisatawan hingga kini. Namun penelitian ilmiah telah lama membantah klaim tersebut. Memasuki 2026, perhatian ilmiah kini beralih ke persoalan yang lebih mendasar: bagaimana spesies ini menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat akibat perubahan iklim. Strategi Pertumbuhan Vertikal Kompetisi mendapatkan cahaya matahari adalah faktor penentu kelangsungan hidup di hutan hujan yang rapat. Spesies yang tidak mampu tumbuh cepat secara vertikal berisiko tertutup oleh tajuk pohon di sekitarnya dan kehilangan akses terhadap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/akhirnya-misteri-pohon-berjalan-terpecahkan-namun-kini-pohon-pohonnya-bertumbangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/04/akhirnya-misteri-pohon-berjalan-terpecahkan-namun-kini-pohon-pohonnya-bertumbangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Potensi Konflik Manusia dengan Macaca Masih Ada, Mengapa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/04/potensi-konflik-manusia-dengan-macaca-masih-ada-mengapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/04/potensi-konflik-manusia-dengan-macaca-masih-ada-mengapa/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mei 2026 05:06:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/04050001/MONYET-EKOR-PANJANG-FALAHI-MUBAROK_MONGABAY-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127325</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah kita benar-benar memahami kehidupan macaca, atau hanya melihatnya sekilas tanpa menyadari ancaman yang mereka hadapi setiap hari? Kampanye global Pekan Macaca Sedunia 2026 resmi diluncurkan pada 1-7 Mei oleh AfA Macaque Coalition, jaringan kolaboratif di bawah Asia for Animals. Mengusung tema “Respect Their Nature” atau Hormati Sifat Alami Mereka, kampanye ini mengajak masyarakat dunia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/potensi-konflik-manusia-dengan-macaca-masih-ada-mengapa/">Potensi Konflik Manusia dengan Macaca Masih Ada, Mengapa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah kita benar-benar memahami kehidupan macaca, atau hanya melihatnya sekilas tanpa menyadari ancaman yang mereka hadapi setiap hari? Kampanye global Pekan Macaca Sedunia 2026 resmi diluncurkan pada 1-7 Mei oleh AfA Macaque Coalition, jaringan kolaboratif di bawah Asia for Animals. Mengusung tema “Respect Their Nature” atau Hormati Sifat Alami Mereka, kampanye ini mengajak masyarakat dunia untuk memahami perilaku alami macaca sekaligus mendorong perlindungan yang lebih kuat terhadap primata tersebut. Amanda Faradifa, perwakilan dari AfA Macaque Coalition, menjelaskan macaca merupakan primata bukan manusia yang paling luas penyebarannya di dunia, dari Jepang hingga Maroko. Mereka hidup di berbagai habitat, mulai hutan hingga kawasan perkotaan. Bahkan, kerap berinteraksi dengan manusia di tempat-tempat wisata dan situs budaya. “Di balik kehadirannya yang akrab, tersembunyi krisis serius yang mengancam kelangsungan satwa berekor panjang ini,” jelasnya, Sabtu (2/5/2026). Lebih separuh dari 23 spesies macaca menghadapi ancaman kepunahan. Berbagai faktor jadi penyebab, mulai perdagangan ilegal hingga hilangnya habitat. Bayi macaca kerap ditangkap dan dijual sebagai hewan peliharaan, praktik yang tak hanya melanggar hukum namun juga merusak populasi liar. Eksploitasi juga terjadi, macaca dipaksa tampil dalam atraksi atau dijadikan objek foto. “Momen ini adalah kesempatan mengubah cara pandang kita untuk menghormati dan menciptakan harmoni.” Monyet ekor panjang ymerupakan satwa yang mudah ditemukan dan tersebar luas di Indonesia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Ilham Kurnia, Manager Program The Long-Tailed Macaque Project, menjelaskan tantangan terbesar di lapangan justru berakar dari faktor manusia. Minimnya pemahaman ditambah lemahnya perlindungan macaca, juga keterbatasan pengawasan dan infrastruktur, membuat berbagai regulasi yang ada sulit diimplementasikan secara efektif.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/potensi-konflik-manusia-dengan-macaca-masih-ada-mengapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/04/potensi-konflik-manusia-dengan-macaca-masih-ada-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Karhutla di Kepri Melonjak Tajam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/04/ketika-karhutla-di-kepri-melonjak-tajam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/04/ketika-karhutla-di-kepri-melonjak-tajam/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mei 2026 02:32:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/02102019/Penampakan-hutan-kebkaran-hutan-di-Pulau-Rempang.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127252</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kepulauan Riau (Kepri) melonjak tajam dibanding tahun lalu. Bahkan, hanya dalam kurun Januari-Maret, luas karhutla  mencapai 4.167,2 hektar lebih. Ironisnya, sebagian besar karhutla yang terjadi karena unsur kesengajaan. Darson, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepri katakan, hampir 95% karhutla di wilayahnya karena unsur kesengajaan. “Paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/ketika-karhutla-di-kepri-melonjak-tajam/">Ketika Karhutla di Kepri Melonjak Tajam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kepulauan Riau (Kepri) melonjak tajam dibanding tahun lalu. Bahkan, hanya dalam kurun Januari-Maret, luas karhutla  mencapai 4.167,2 hektar lebih. Ironisnya, sebagian besar karhutla yang terjadi karena unsur kesengajaan. Darson, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepri katakan, hampir 95% karhutla di wilayahnya karena unsur kesengajaan. “Paling sekitar 5%  dipicu pembakaran sampah hingga puntung rokok,” katanya, mengutip Keprionline.co.id, Jumat(1/5/26). Menurut Darson, dugaan itu  terungkap dari rapat bersama tujuh pemerintah kabupaten/kota se-Kepri, belum lama ini. Sayangnya, kendati kuat dugaan karena disengaja, sejauh ini mereka  masih kesulitan mengungkap para pelakunya. Pelaku, kata Darson, menjalankan aksi secara sembunyi-sembunyi dan memilih lokasi yang jauh dari pantauan. “Kalau pelaku ditemukan, tentu akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” katanya. Dia bilang, berdasarkan data yang masuk ke BPBD, lokasi karhutla tersebar di sejumlah titik. Meliputi, Tanjungpinang 121 titik, Bintan (351), Karimun (153), Anambas (3), Natuna (32), Batam (63), dan Lingga 45 titik. Area hutan di Rempang yang meranggas usai terbakar. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. Di Batam, salah satu lokasi karhutla kampung Sembulang Hulu, Pulau Rempang, lokasi yang menjadi titik konflik proyek strategis nasional (PSN) Rempang Eco City (REC). Jejak karhutla pun tampak di sepanjang jalan yang menghanguskan hutan dan semak belukar dalam kawasan. Seorang warga menyebut, karhutla yang terjadi cukup parah hingga berlangsung dalam beberapa hari. “Lahan ini terbakar sudah sejak sebelum lebaran lalu sampai satu minggu setelah lebaran,” katanya kepada Mongabay. Api baru padam setelah hujan mengguyur wilayah setempat. Warga menduga ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/04/ketika-karhutla-di-kepri-melonjak-tajam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/04/ketika-karhutla-di-kepri-melonjak-tajam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satu Dekade Lebih RUU Masyarakat Adat Belum Ada Kepastian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/satu-dekade-lebih-ruu-masyarakat-adat-belum-ada-kepastian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/satu-dekade-lebih-ruu-masyarakat-adat-belum-ada-kepastian/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 17:00:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/20232437/Papua-Pusaka--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127275</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi gedung DPR awal April. Kedatangan mereka untuk menggelar dialog bersama anggota parlemen terkait pembahasan Rancangan Undang-undang Masyarakat Adat (RUU-MA) yang sudah belasan tahun masuk bahas berulang kali tetapi belum juga ada pengesahan. “Pertemuan ini penting agar kami dapat mendengar langsung perspektif masyarakat adat, terutama terkait [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/satu-dekade-lebih-ruu-masyarakat-adat-belum-ada-kepastian/">Satu Dekade Lebih RUU Masyarakat Adat Belum Ada Kepastian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi gedung DPR awal April. Kedatangan mereka untuk menggelar dialog bersama anggota parlemen terkait pembahasan Rancangan Undang-undang Masyarakat Adat (RUU-MA) yang sudah belasan tahun masuk bahas berulang kali tetapi belum juga ada pengesahan. “Pertemuan ini penting agar kami dapat mendengar langsung perspektif masyarakat adat, terutama terkait kondisi di lapangan dan urgensi RUU ini,” kata  Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR  periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Gerindra.membuka Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) mengawali pertemuan. Menurut dia, ini kali kedua RDPU dengan partisipasi lebih luas dari berbagai wilayah. Perwakilan masyarakat adat dari berbagai wilayah, dari Sumatera, Kalimantan, Jawa-Banten, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, turut hadir untuk menyampaikan kondisi faktual di lapangan. Kendati akui berlangsung cukup lama, kata Bob, ada perkembangan penting dalam proses legislasi ini, termasuk perubahan nomenklatur dari “masyarakat hukum adat” menjadi “masyarakat adat”. Hal itu mencerminkan upaya awal untuk lebih mendekatkan regulasi dengan realitas di lapangan. Baleg, kata, berharap RUU ini dapat segera menjadi inisiatif DPR dan masuk ke tahap pembahasan lanjutan. Sebagai catatan, sudah satu dekade lebih RUU Masyarakat Adat  berputar di meja parlemen tanpa kepastian. Sedang  di luar gedung parlemen, pembukaan hutan terus berlangsung diikuti menyusutnya wilayah hutan adat dan konflik yang terus berulang. Kehadiran perwakilan masyarakat adat di ruang RDPU seolah ingin menegaskan bahwa tertundanya pengesahan RUU ini berkelindan dengan hilangnya ruang hidup. “Kehadiran rekan-rekan Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat merupakan hal penting agar kami dapat mendengar langsung perspektif masyarakat adat,” katanya. RDPU, katanya,  bukan sekadar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/satu-dekade-lebih-ruu-masyarakat-adat-belum-ada-kepastian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/satu-dekade-lebih-ruu-masyarakat-adat-belum-ada-kepastian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 05:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/03020446/Situs-Batu-Berkamar3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127291</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur. Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/">Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur. Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Uara. Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Kotamobagu, perjalanan dialanjutkan berjalan kaki kurang lebih tiga jam menyusuri perkebunan jagung, kelapa, dan nilam milik warga, lalu melewati jalan setapak ke kawasan taman nasional. Kita harus menyeberangi Sungai Kosinggolan sekali dan melewati sepuluh penyeberangan aliran Sungai Binuanga. Setelah semua rute itu dilalui, situs akan terlihat yang posisinya menempel di sisi tegak sebuah bukit, menghadap ke selatan. Berdasarkan pemuktahiran data yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara pada April 2026, dinding-dinding situs nyaris tertutup tumbuhan merambat dan pakis yang membalut hampir seluruh permukaan tebing batuan andesit tersebut. Sisanya, sedikit celah yang memperlihatkan wajah asli batu di baliknya yakni 17 rongga pahatan berbentuk persegi panjang yang dipahat langsung ke dinding batu. Ini merupakan sebuah kompleks pemakaman prasejarah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai &#8220;batu berkamar Binuanga&#8221;. Situs megalitik batu berkamar di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Foto: Dok. Hari Suroto Hari Suroto, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, menyebut temuan ini sebagai ekspresi budaya megalitik yang khas dari wilayah Sulawesi Utara. Setiap rongga pahatan di situs ini memiliki ukuran tidak kecil. Panjang umumnya lebih dari 200 sentimeter, bahkan ada yang mendekati 300 sentimeter.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selama 400 Tahun, Pohon ini Bertahan Hidup Sendirian di Tengah Padang Pasir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 04:54:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230747/1024px-Tree_of_Life_in_Bahrain-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127299</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gurun Bahrain yang panas dan sunyi, berdiri satu pohon yang menolak mati. Tidak ada sungai, tidak ada rumput, dan tidak ada pohon lain dalam radius bermil-mil. Namun pohon ini tetap hidup dan terus tumbuh lebih dari empat abad lamanya. Pohon ini adalah Prosopis cineraria setinggi 9,75 meter yang usianya sudah melewati 400 tahun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/">Selama 400 Tahun, Pohon ini Bertahan Hidup Sendirian di Tengah Padang Pasir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gurun Bahrain yang panas dan sunyi, berdiri satu pohon yang menolak mati. Tidak ada sungai, tidak ada rumput, dan tidak ada pohon lain dalam radius bermil-mil. Namun pohon ini tetap hidup dan terus tumbuh lebih dari empat abad lamanya. Pohon ini adalah Prosopis cineraria setinggi 9,75 meter yang usianya sudah melewati 400 tahun, berdiri sendirian di atas bukit kecil di gurun Arabia, sekitar 6 kilometer dari Jebel Dukhan, titik tertinggi di Bahrain, dan sekitar 40 kilometer dari ibu kota Manama. Dalam bahasa Arab, ia disebut Shajarat al-Hayat, yang berarti Pohon Kehidupan. Dengan curah hujan tahunan hanya sekitar 80 mm, hampir tidak ada tanaman yang bisa bertahan di sini, namun pohon ini bukan hanya bertahan melainkan benar-benar subur. Pohon Kehidupan di gurun pasir Bahrain, sebuah pohon tua yang menghijau sendirian  | Public Domain Pertanyaan yang paling mendasar selalu sama: dari mana airnya berasal? Satu teori menyebut akarnya menembus sekitar 50 meter ke bawah tanah untuk mencapai sumber air tersembunyi, sementara ada pula yang meyakini pohon ini telah beradaptasi untuk menyerap kelembaban langsung dari butiran pasir. Secara ilmiah, Prosopis cineraria adalah jenis pohon phreatophyte, yakni pohon yang akarnya tumbuh sangat panjang untuk memanfaatkan air dari akuifer bawah tanah. Bahrain sendiri memiliki lapisan batuan berpori di bawah permukaan gurunnya yang menyimpan air dalam kantong-kantong tersembunyi, dan akar pohon ini diduga kuat mampu menjangkau lapisan tersebut Sementara pertumbuhan bagian atasnya tergolong lambat, akar Prosopis cineraria menembus sangat dalam untuk mencari air tanah, dengan akar tunggang yang dilaporkan bisa mencapai kedalaman hingga 35&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 02:30:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/02184428/20260424_155603-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127270</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/">Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat berarti menjaga manusia&#8230; Menjaga bumi.” Begitu puisi  Ahmad Syafiq, anak muda dari Aceh Tengah, mengungkapkan kekecewaan, ketika aksi di Hari Bumi. Dia bergabung bersama muda mudi dari berbagai daerah ikut aksi di Jakarta. Siang itu, 24 April lalu, sekelompok muda menyusuri Jalan Gatot Subroto, Jakarta, siang, sambil membawa nisan. Bukan ke tempat pemakaman umum, mereka justru bergerak ke Gedung DPR di Senayan. &#8220;RIP Hak Atas Kehidupan&#8221; &#8220;RIP Hak Atas Lingkungan yang Baik &amp; Sehat’&#8221; &#8220;RIP Hak Atas Pangan dan Air&#8221; Begitu  antara lain tulisan tertera di nisan. Spanduk pun terbentang. &#8220;Bumi Hanya Satu&#8221; Mereka tiba di depan Gedung DPR sekitar 15.17 WIB. Bagi mereka, kondisi bumi yang kian hari memburuk membuat sulit merayakan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Karena itu, aksi simbolik di depan DPR untuk menuntut keadilan iklim jadi pilihan. “Kami, anak muda adalah korban dari kebijakan,” kata Muhammad Iqbal, peserta aksi. Menurut dia, suhu di Indonesia makin panas, bahkan pernah 36 derajat. Cuaca yang ekstrem dan tidak menentu membuatnya harus panas-panasan saat ke kampus di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kondisi ini, katanya, tidak tercipta secara alami tetapi  hasil serangkaian kebijakan dan ulah manusia, seperti alih fungsi lahan, penggundulan hutan masif hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Pesisir Demak di Tengah Ambisi KSN Jateng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 15:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/02044125/20250219_104212-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127241</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan semarang]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemandangan rumah-rumah yang tenggelam di pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah (Jateng) sudah tak asing lagi. Hanya dalam kurun tiga dekade, hamparan pertanian yang membentang luas tergantikan oleh air laut. Era kurun 1990-an, rob datang hanya sejengkal dan sesekali.  Lambat laun, air laut terus merangsek hingga menenggelamkan sawah, tambak, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/">Nasib Warga Pesisir Demak di Tengah Ambisi KSN Jateng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemandangan rumah-rumah yang tenggelam di pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah (Jateng) sudah tak asing lagi. Hanya dalam kurun tiga dekade, hamparan pertanian yang membentang luas tergantikan oleh air laut. Era kurun 1990-an, rob datang hanya sejengkal dan sesekali.  Lambat laun, air laut terus merangsek hingga menenggelamkan sawah, tambak, hingga rumah-rumah penduduk. Di Timbul Sloko, satu lokasi terparah,  dari ratusan keluarga , kini  tersisa 70-an. Mereka yang memiliki biaya dan lahan di tempat lain, bisa merelokasi rumahnya  mandiri tetapi  tak semua bisa pindah.  Himpitan ekonomi memaksa mereka menjual murah lahan bekas tambak yang kini  berubah menjadi laut. Salah satunya Baharuddin, yang terpaksa menjual bekas tambak pada 2023.  Dia jual hanya Rp20.000 per meter persegi. “Karena memang sudah tak bisa produktif. Sudah benar-benar tenggelam, rata oleh air laut. Kalau pun dibikin tambak, pasti ludes tersapu gelombang,” katanya. Begitu juga dengan Zaini, warga lain  yang  menjual bekas tambak Rp15.000 per meter persegi. Uang dari hasil penjualan itu  dia manfaatkan untuk merenovasi di rumah anaknya dan modal usaha. “Awal 2024-an-lah. Tenggelam gak bisa diapa-apain, mending jual ta, laku berapa aja buat modal jualan di pasar.&#8221; Sebagian perkampungan di pesisir Sayung yang tenggelam air laut  memicu kehadiran para makelar tanah. Memanfaatkan ketidakberdayaan warga, mereka berseliweran menawar tanah warga dengan harga murah. Rohmad, warga Desa Bedono, misal, menjual murah tanah  ke  makelar dengan harga Rp8.000 per meter persegi pada 2015. Karena butuh uang, dia tak berpikir panjang. Apalagi saat itu dia sedang relokasi di tempat baru, perlu biaya untuk membangunnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 12:22:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/07033229/himalaya-sud-avion-320c1e-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127261</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada ketinggian yang nyaris menyentuh 5.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis dan suhu bisa berubah menjadi beku dalam hitungan menit, terdapat sebuah kehidupan yang menantang batas biologi. Ia adalah Gloydius himalayanus atau pit viper Himalaya. Ular berbisa ini bukan sekadar penghuni, melainkan sosok &#8220;penjaga&#8221; sunyi di salah satu wilayah paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/">Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada ketinggian yang nyaris menyentuh 5.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis dan suhu bisa berubah menjadi beku dalam hitungan menit, terdapat sebuah kehidupan yang menantang batas biologi. Ia adalah Gloydius himalayanus atau pit viper Himalaya. Ular berbisa ini bukan sekadar penghuni, melainkan sosok &#8220;penjaga&#8221; sunyi di salah satu wilayah paling ekstrem di muka bumi. Penelitian filogenetik terbaru hingga April 2026 mengungkap sejarah migrasi kuno yang mengejutkan. Berbeda dengan kerabatnya di Asia Timur, leluhur ular ini diduga melintasi koridor subtropis Paleo-Tibet sekitar 14,5 juta tahun lalu. Isolasi geografis yang sangat lama ini akhirnya membentuk garis keturunan yang sangat berbeda jauh (divergent) dari semua spesies lain dalam marga Gloydius. Ular beludak Himalaya (Gloydius himalayanus) di habitat pegunungan tinggi, berjemur di atas batu di bawah langit Himalaya. Spesies ini dikenal hidup hingga hampir 5.000 meter di atas permukaan laut. Photo by: Rohit Giri CC BY-NC 4.0 Penemuan Spesies Baru di Atap Dunia Bagi manusia, berada di ketinggian 5.000 meter memerlukan persiapan fisik yang berat, namun bagi ular beludak Himalaya, wilayah ini adalah rumah. Habitat mereka membentang dari padang rumput alpine hingga tebing berbatu yang terisolasi di mana sinar matahari menjadi sumber energi utama. Sebuah studi perilaku mencatat untuk pertama kalinya fenomena dikhromatisme atau perbedaan warna tubuh serta perilaku kawin spesies ini di alam liar. Warna tubuhnya yang cokelat keabu-abuan memberikan kamuflase sempurna di antara tebing granit untuk melindunginya dari predator langit sekaligus memudahkan mereka mengintai mangsa. Peneliti mencatat bahwa ular ini memiliki metabolisme yang sangat efisien, sebuah kunci&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>