- Kampanye global Pekan Macaca Sedunia 2026 mengajak masyarakat memahami perilaku alami macaca dan menghormati perannya dalam ekosistem.
- Lebih dari separuh spesies macaca terancam akibat perdagangan ilegal, eksploitasi wisata, kekerasan digital, konflik dengan manusia, dan hilangnya habitat.
- Minimnya edukasi, lemahnya penegakan hukum, dan persepsi negatif membuat konflik manusia dengan macaca terjadi.
- Peningkatan kesadaran, alternatif ekonomi bagi masyarakat, serta strategi berbasis riset seperti behaviroal ecology dan buffer zone dinilai efektif untuk menciptakan koeksistensi kehidupan macaca di alam liar.
Apakah kita benar-benar memahami kehidupan macaca, atau hanya melihatnya sekilas tanpa menyadari ancaman yang mereka hadapi setiap hari?
Kampanye global Pekan Macaca Sedunia 2026 resmi diluncurkan pada 1-7 Mei oleh AfA Macaque Coalition, jaringan kolaboratif di bawah Asia for Animals. Mengusung tema “Respect Their Nature” atau Hormati Sifat Alami Mereka, kampanye ini mengajak masyarakat dunia untuk memahami perilaku alami macaca sekaligus mendorong perlindungan yang lebih kuat terhadap primata tersebut.
Amanda Faradifa, perwakilan dari AfA Macaque Coalition, menjelaskan macaca merupakan primata bukan manusia yang paling luas penyebarannya di dunia, dari Jepang hingga Maroko.
Mereka hidup di berbagai habitat, mulai hutan hingga kawasan perkotaan. Bahkan, kerap berinteraksi dengan manusia di tempat-tempat wisata dan situs budaya.
“Di balik kehadirannya yang akrab, tersembunyi krisis serius yang mengancam kelangsungan satwa berekor panjang ini,” jelasnya, Sabtu (2/5/2026).
Lebih separuh dari 23 spesies macaca menghadapi ancaman kepunahan.
Berbagai faktor jadi penyebab, mulai perdagangan ilegal hingga hilangnya habitat. Bayi macaca kerap ditangkap dan dijual sebagai hewan peliharaan, praktik yang tak hanya melanggar hukum namun juga merusak populasi liar. Eksploitasi juga terjadi, macaca dipaksa tampil dalam atraksi atau dijadikan objek foto.
“Momen ini adalah kesempatan mengubah cara pandang kita untuk menghormati dan menciptakan harmoni.”

Ilham Kurnia, Manager Program The Long-Tailed Macaque Project, menjelaskan tantangan terbesar di lapangan justru berakar dari faktor manusia. Minimnya pemahaman ditambah lemahnya perlindungan macaca, juga keterbatasan pengawasan dan infrastruktur, membuat berbagai regulasi yang ada sulit diimplementasikan secara efektif.
Akibatnya, tindakan seperti penangkapan liar maupun pengusiran agresif kerap terjadi tanpa konsekuensi yang jelas.
“Saat status satwa tidak dilindungi, muncul persepsi bahwa mereka tak perlu diperlakukan secara bijak,” jelasnya, Minggu (3/5/2026).
Persepsi ini, katanya berbahaya, sebab mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan sendiri, mulai dari mengusir hingga membunuh. Dampaknya tak hanya pada kesejahteraan macaca, namun juga pada keseimbangan ekosistem jangka panjang.
Untuk itu, satu langkah paling realistis adalah meningkatkan kesadaran masyarakat.
Edukasi jadi kunci agar masyarakat paham bahwa monyet, seperti halnya satwa lain punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem. Solusi lain juga perlu menyentuh aspek ekonomi, terutama bagi masyarakat yang terdampak langsung. Dalam konteks pertanian, konflik dengan monyet kerap berkaitan erat dengan beban finansial akibat kerusakan tanaman.
“Pendekatan yang ditawarkan harus memberikan alternatif yang nyata dan aplikatif.”

Penjaga ekosistem
Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menuturkan sebagai primata yang hidup berkelompok dengan sistem sosial yang kuat, macaca sebagai ‘engineer ekosistem’ -istilah yang merujuk pada kemampuan satwa dalam membentuk dan mempengaruhi lingkungannya.
Macaca kerap menjatuhkan buah dan biji, mematahkan ranting, serta membuka kanopi hutan. Proses alami ini berkontribusi pada regenerasi hutan dan menjaga dinamika ekosistem tetap berjalan. Peran ini bahkan lebih signifikan dibandingkan fungsi lain yang sering disebut, seperti penebar biji atau pengendali serangga.
Dalam konteks rantai makanan, macaca juga punya peran sebagai bagian penjaga keseimbangan antarspesies.
“Tanpa peran mereka, proses regenerasi hutan bisa terganggu,” jelasnya, Minggu (3/5/2026).

Pendekatan berbasis sains jadi kunci dalam mengelola interaksi antara manusia dan macaca, terutama dalam konteks meningkatnya konflik akibat perubahan lanskap.
Manajemen perilaku berbasis riset (behaviroal ecology) juga penting. Peneliti bisa mengidentifikasi waktu-waktu rawan konflik serta memahami pola interaksi sesama primata, yaitu manusia dan macaca.
“Informasi ini bisa digunakan untuk merancang strategi mitigasi lebih efektif.”
Pendekatan tata ruang berbasis ekologi lanskap (landscape ecology) juga diperlukan. Langkah nyatanya, mendesain ruang transisi/buffer zone antara habitat alami dan wilayah permukiman. Zona ini bisa diisi dengan tanaman pakan alami, sehingga macaca tetap punya sumber makanan tanpa harus masuk ke area permukiman.
Dengan cara tersebut, potensi konflik bisa ditekan tanpa harus mengorbankan keberlanjutan populasi satwa.
*****
Nasib Macaca di Tengah Himpitan Kawasan Industri Nikel di Morowali