- Karhutla Kepri melonjak tajam pada awal 2026, dengan luas kebakaran Januari–Maret menembus lebih dari 4.157,2. Kepri kini masuk tiga besar provinsi dengan karhutla terluas secara nasional setelah Kalimantan Barat (Kalbar) dan Riau.
- BPBD Kepri menyebut sekitar 95% kasus memiliki indikasi unsur kesengajaan, meski pelaku sulit diungkap karena membakar di lokasi terpencil dan minim pengawasan. Titik api tersebar di Batam, Bintan, Karimun, Natuna, Lingga, hingga Anambas.
- Pulau Rempang menjadi sorotan, karena kebakaran terjadi di wilayah konflik proyek strategis nasional Rempang Eco City (REC) dan kawasan rencana pembangunan Sekolah Rakyat Merah Putih. Warga menduga kebakaran sengaja dilakukan karena titik api muncul di banyak lokasi sekaligus, lalu disusul pematangan lahan.
- Dampak ekologis dan hukum sangat serius. Karhutla di pulau kecil seperti Kepri mengancam hutan lindung, sumber air, keanekaragaman hayati, dan kesehatan warga akibat asap pekat. Polisi telah menurunkan tim penyelidik, sementara pelaku terancam pidana penjara 10–12 tahun serta denda miliaran rupiah.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kepulauan Riau (Kepri) melonjak tajam dibanding tahun lalu. Bahkan, hanya dalam kurun Januari-Maret, luas karhutla mencapai 4.167,2 hektar lebih.
Ironisnya, sebagian besar karhutla yang terjadi karena unsur kesengajaan. Darson, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepri katakan, hampir 95% karhutla di wilayahnya karena unsur kesengajaan.
“Paling sekitar 5% dipicu pembakaran sampah hingga puntung rokok,” katanya, mengutip Keprionline.co.id, Jumat(1/5/26).
Menurut Darson, dugaan itu terungkap dari rapat bersama tujuh pemerintah kabupaten/kota se-Kepri, belum lama ini. Sayangnya, kendati kuat dugaan karena disengaja, sejauh ini mereka masih kesulitan mengungkap para pelakunya.
Pelaku, kata Darson, menjalankan aksi secara sembunyi-sembunyi dan memilih lokasi yang jauh dari pantauan. “Kalau pelaku ditemukan, tentu akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Dia bilang, berdasarkan data yang masuk ke BPBD, lokasi karhutla tersebar di sejumlah titik. Meliputi, Tanjungpinang 121 titik, Bintan (351), Karimun (153), Anambas (3), Natuna (32), Batam (63), dan Lingga 45 titik.

Di Batam, salah satu lokasi karhutla kampung Sembulang Hulu, Pulau Rempang, lokasi yang menjadi titik konflik proyek strategis nasional (PSN) Rempang Eco City (REC). Jejak karhutla pun tampak di sepanjang jalan yang menghanguskan hutan dan semak belukar dalam kawasan.
Seorang warga menyebut, karhutla yang terjadi cukup parah hingga berlangsung dalam beberapa hari. “Lahan ini terbakar sudah sejak sebelum lebaran lalu sampai satu minggu setelah lebaran,” katanya kepada Mongabay.
Api baru padam setelah hujan mengguyur wilayah setempat.
Warga menduga ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini. Pasalnya, ada banyak titik api di lokasi. “Biasanya kebakaran itu satu titik kemudian menjalar, sekarang menumpuk-numpuk,” kata Asmah, warga Sungai Buluh Rempang.
Dia sempat mendengar suara ledakan saat kebakaran terjadi.
Asmah menyebut, sebagian besar lokasi karhutla di area milik PT Makmur Elok Graha (MEG), pemegang proyek REC. Mongabay mengkonfirmasisoal ini ke Ferdy, Juru Bicara MEG, 29 April lalu, tetapi sampai tulisan ini belum ada jawaban.
Kendati tidak menyasar area perkebunan, warga berjibaku berusaha memadamkan api secara sukarela. Seorang warga bahkan harus dilarikan ke pelayanan kesehatan karena alami sesak napas saat berusaha padamkan api.
“Itu sesak karena kebakaran hutan menimbulkan asap yang sangat tebal,” kata Andi M Yusuf, Kepala Bidang Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Batam, Senin (20/4/26).
Menurut Andi, selain Rempang, karhutla juga melanda beberapa pulau Batam, Galang, dan juga Belakang Padang. Dia bilang, karhutla yang terjadi kali ini jauh lebih parah ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada 2025, tercatat hanya 5 kali terjadi kebakaran. Sementara dari Januari hingga Maret tahun ini, tercatat sudah 113 karhutla terjadi. Rinciannya, Januari 34 titik, Februari 34 titik, dan Maret 45 titik. “Khusus di kawasan hutan, Januari 10 titik, Februari 11 titik dan Maret 17 titik, jumlahnya 38 titik,” kata Andi.
Tiga besar
Kepri tercatat sebagai daerah dengan lokasi karhutla terparah di Indonesia tahun ini. Data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat, secara total, luas karhutla periode Januari–Maret mencapai 55.324,2 hektar.
Secara berurutan, tiga provinsi dengan karhutla tertinggi adalah Kalimantan Barat (Kalbar) dengan luas 25.420,73 hektar, Riau 8.555,37 hektar, dan Kepri 4.167,78 hektar. Seturut peningkatan karhutla di Kepri, secara nasional, tren peningkatan karhutla juga tinggi. Bahkan, catatan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), angkanya naik puluhan kali lipat dari 2025 yang hanya seluas 1.000 hektar.
“Sejauh ini penanganan tetap tetap kita sama-sama diusahakan secara maksimal. Penanganan tidak hanya dari Damkar, tetapi juga Manggala Agni, BP Batam, Kepolisian dan masyarakat setempat,” kata Andi.
Meski begitu, sejauh ini, lanjutnya, titik api sudah mulai mereda menyusul hujan yang turun belakangan ini.
Andi mengatakan, kendala selama ini ketika kebakaran terjadi di atas bukit dengan jarak di atas 500 meter, sehingga damkar melakukan pemadaman khusu ke arah ke pemukiman warga.
“Kalau daerah hinterland di Rempang masih bisa kita jangkau asal akses ke titik api ada masih bisa diatasi, tapi kalau daerah pulau tidak bisa dibantu dengan unit. Tetapi kita pakai pompa apung (portable),” katanya.
Dia klaim, efisiensi anggaran yang terjadi tidak begitu berdampak ke operasional pemadaman.
Andi menyebut cuaca panas menjadi salah satu penyebab massifnya kebakaran di Kepri. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan, meski hal itu sulit dibuktikan.

*****
Waswas El Nino Godzilla, Waspada Karhutla dan Kekeringan Ekstrem