Hutan hujan tropis adalah ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di bumi, namun juga yang paling rentan terhadap tekanan perubahan iklim. Di dalamnya hidup spesies-spesies yang adaptasinya begitu spesifik sehingga pergeseran kondisi lingkungan sekecil apapun dapat memiliki konsekuensi yang serius terhadap kelangsungan hidup mereka. Beberapa spesies di antara mereka sempat menjadi perhatian publik global bukan karena nilai ekologisnya, melainkan karena mitos yang melingkupinya. Ketika kini ilmu pengetahuan akhirnya meluruskan mitos tersebut, yang justru terungkap adalah ancaman nyata yang jauh lebih mendesak untuk ditangani.

Di hutan hujan tropis Amerika Tengah dan Selatan, Socratea exorrhiza adalah salah satu spesies yang paling sering disalahpahami. Palem ini dikenal luas dengan julukan “Palem Berjalan” karena morfologi akar tunjangnya yang mencuat miring dari pangkal batang. Klaim bahwa pohon ini mampu berpindah lokasi hingga 20 meter per tahun untuk mencari cahaya matahari masih umum disampaikan oleh pemandu wisata di Kosta Rika hingga Peru kepada para wisatawan hingga kini. Namun penelitian ilmiah telah lama membantah klaim tersebut. Memasuki 2026, perhatian ilmiah kini beralih ke persoalan yang lebih mendasar: bagaimana spesies ini menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat akibat perubahan iklim.
Strategi Pertumbuhan Vertikal
Kompetisi mendapatkan cahaya matahari adalah faktor penentu kelangsungan hidup di hutan hujan yang rapat. Spesies yang tidak mampu tumbuh cepat secara vertikal berisiko tertutup oleh tajuk pohon di sekitarnya dan kehilangan akses terhadap cahaya matahari secara permanen. Berdasarkan studi ekologi Gerardo Avalos yang dipublikasikan dalam Biotropica, struktur akar tunjang pada Socratea exorrhiza diduga memungkinkan pohon ini memiliki fondasi yang lebar dan stabil tanpa harus memperbesar diameter batang bagian bawah, sehingga pohon tidak perlu menghabiskan banyak sumber daya untuk memperkuat pangkal batangnya. Hipotesis ini menjelaskan mengapa spesies ini mampu mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pertumbuhan vertikal dibandingkan palem dengan sistem perakaran konvensional.
Secara mekanis, akar tunjang berfungsi menyebarkan beban struktural pohon ke beberapa titik pijakan di tanah secara bersamaan, mirip dengan prinsip perancah pada konstruksi bangunan. Hasilnya adalah stabilitas yang memadai pada batang yang secara proporsional lebih ramping, sehingga energi yang biasanya dibutuhkan untuk memperkuat batang bawah dapat dialihkan untuk mendorong pertumbuhan tinggi. Meski mekanisme pastinya masih terus dikaji, data lapangan konsisten menunjukkan bahwa Socratea exorrhiza tumbuh lebih cepat secara vertikal dibandingkan spesies palem lain yang hidup di habitat serupa.
Fungsi Akar pada Kondisi Tanah Ekstrem
Lantai hutan hujan tropis sering kali bukan substrat yang ideal: tanahnya kerap tergenang air, memiliki kadar oksigen rendah, dan rentan terhadap erosi serta pergerakan massa di wilayah berlereng. Sistem perakaran konvensional yang mengandalkan penetrasi vertikal ke dalam tanah menghadapi keterbatasan serius dalam kondisi seperti ini. Akar tunjang Socratea menawarkan solusi struktural yang berbeda: jangkar multi-titik yang memungkinkan air mengalir di antara akar tanpa mengakumulasi tekanan hidrolik berlebih pada pangkal pohon, sebuah keunggulan yang relevansinya meningkat seiring dengan frekuensi kejadian curah hujan ekstrem di kawasan tropis.

Selain fungsi mekanis, akar tunjang juga menjalankan fungsi fisiologis penting. Penelitian sebelumnya mencatat bahwa akar-akar ini berfungsi sebagai pneumatofor, yaitu organ yang memfasilitasi pertukaran gas pada kondisi tanah anoksik. Dengan sebagian permukaan akar terekspos ke udara, pohon ini dapat mempertahankan respirasi akar meskipun tanah di sekitarnya kekurangan oksigen. Akar tunjang juga efektif dalam menyerap unsur hara dari lapisan tipis humus permukaan tanah sebelum hanyut oleh curah hujan tinggi, memaksimalkan efisiensi penyerapan nutrisi di lingkungan yang mineralnya mudah tercuci.
Penurunan Populasi “Pohon Berjalan”
Sebuah laporan berjudul Socratea exorrhiza: The Walking Palm mendokumentasikan penurunan populasi yang signifikan. Data dari plot pemantauan 50 hektar di Pulau Barro Colorado (BCI), di negara Panama, menunjukkan bahwa jumlah individu Socratea exorrhiza telah menurun secara konsisten selama beberapa dekade terakhir. Temuan ini menjadi perhatian serius mengingat BCI adalah salah satu kawasan hutan tropis yang paling lama dan paling intensif dipantau secara ilmiah di dunia.

Analisis para peneliti mengarah pada beberapa faktor penyebab yang saling berkaitan. Intensifikasi erosi tanah akibat perubahan pola curah hujan mengurangi stabilitas substrat yang dibutuhkan akar tunjang untuk berfungsi optimal. Pergeseran musim hujan yang semakin tidak terprediksi menciptakan kondisi hidrologi yang melampaui rentang toleransi adaptif spesies ini. Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan tingkat mortalitas pohon muda meningkat sebelum individu-individu tersebut mencapai kematangan reproduktif, sehingga mengganggu dinamika regenerasi populasi secara keseluruhan.
Socratea exorrhiza menjalankan peran ekologis yang melampaui fungsinya sebagai komponen struktural hutan. Buah palem ini merupakan sumber pakan penting bagi sejumlah spesies vertebrata, termasuk monyet howler (Alouatta spp.), berbagai spesies burung hutan, dan mamalia pengerat seperti agouti (Dasyprocta spp.) yang sekaligus berperan sebagai agen penyebaran benih. Penurunan ketersediaan buah Socratea berpotensi menekan populasi spesies-spesies tersebut dan mengurangi efektivitas penyebaran benih di tingkat ekosistem.
Dari sisi pemanfaatan oleh manusia, komunitas adat Emberá dan Wounaan di Panama secara tradisional menggunakan selubung luar batang Socratea sebagai bahan lantai, memanfaatkan sifat materialnya yang keras, halus, dan tahan lama. Penurunan populasi spesies ini juga berimplikasi pada ketersediaan sumber daya alam yang selama ini menjadi bagian dari sistem penghidupan komunitas tersebut. Pada skala ekosistem yang lebih luas, berkurangnya Socratea sebagai spesies kunci (keystone species) berpotensi mengubah komposisi dan struktur vegetasi hutan di kawasan yang terdampak.
**
Referensi:
Avalos, G., Salazar, D., & Araya, A. L. (2005). Stilt root structure in the neotropical palms Iriartea deltoidea and Socratea exorrhiza. Biotropica, 37(1), 44–53. https://doi.org/10.1111/j.1744-7429.2005.03148.x
Kahn, F., & de Granville, J.-J. (1992). Palms in forest ecosystems of Amazonia (Ecological Studies, Vol. 95). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-642-76852-1
Williamson, C. G., & Muller-Landau, H. C. (2024). Socratea exorrhiza: The walking palm. In H. C. Muller-Landau & S. J. Wright (Eds.), The first 100 years of research on Barro Colorado: Plant and ecosystem science (Vol. 2, pp. 671–677). Smithsonian Institution Scholarly Press. https://www.researchgate.net/publication/387153505_Socratea_exorrhiza_The_Walking_Palm