<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=chairul-rahman-lampung&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/chairul-rahman-lampung/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 13 Sep 2026 12:21:12 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 12:21:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13121527/Dayak-Lundayeh2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133527</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas Krayan. Padi adan tumbuh di antara bentang alam yang luas. Di sekelilingnya terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1,27 juta hektar. Sementara wilayah adat Dayak Lundayeh Krayan sekitar 343.000 hektar. Bagi masyarakat Lundayeh, padi adan bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga warisan budaya sekaligus sumber penghasilan. Otnel Akun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Pun Bersama di Desa Long Pua, Kecamatan Krayan Barat, mengatakan masyarakat mengenal beberapa jenis padi lokal. Namun, padi adan putih, merah, dan hitam yang paling banyak ditanam. Ketiganya memiliki pasar hingga ke Sarawak, Malaysia. “Ini selalu kami kirim ke sana,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Jumat (14/8/26). Beras adan merupakan andalan pertanian Masyarakat Dayak Lundayeh, Kalimantan Utara. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia. Harga beras adan kisaran Rp350-400 ribu per kaleng, ukuran 15 kilogram. Pada kondisi tertentu, nilainya bisa mencapai Rp450 ribu. Ada sesuatu yang membuat beras ini berbeda. Masyarakat mengelola lahan secara tradisional, dengan mempertahankan pola budidaya yang tidak menggunakan bahan kimia. “Pernah menggunakan pupuk kimia, namun, kini ditinggalkan.” Para petani memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka, termasuk kotoran dan urine kerbau untuk menyuburkan tanah. Cara tersebut bukan sesuatu yang baru, telah dikenal dari generasi sebelumnya. “Alam menyediakan segala kebutuhan kami,” ujarnya. Padi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10152211/DSCF7056-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133445</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi. Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor. Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor. Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk. Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu. “Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 06:08:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133484</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia turut terlibat dan setuju kewajiban negara mengambil tindakan iklim dan berkontribusi terhadap respons global perubahan iklim. Christine Constanta, Manajer Pembelaan Hukum Eksekutif Nasional Walhi, mengatakan, pendapat ICJ menegaskan negara memiliki kewajiban hukum internasional untuk melindungi sistem iklim dan lingkungan hidup. Juga, bertanggung jawab atas tindakan maupun kelalaian (omission) yang menyebabkan kerusakan signifikan terhadap sistem iklim atau lingkungan. Namun, meski pemerintah Indonesia terlibat dalam advisory opinion itu, dia melihat kontradiksi. “Kalau kita melihat data-data, kontradiksi,” katanya, baru-baru ini. Data Walhi menunjukkan, 26,5 juta hektar dari kawasan hutan kurang lebih 103 juta hektar terbebani izin ekstraktif dan perkebunan. Sebanyak 21,1 juta hektar hutan terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Lalu, 4,7 juta hektar di bawah izin pertambangan (WIUP) dan 717.000  hektar di bawah izin perkebunan (HGU). Ini merupakan legalisasi deforestasi oleh negara. Padahal, hutan mempunyai fungsi ekologis dan menyerap karbon. Pada lahan seluas 23 juta hektar yang terbebani izin itu saja, cadangan karbonnya mencapai 2,46 miliar ton. Jika hutan itu lenyap, potensi emisinya setara sekitar 9,03 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). “Ini akan mempercepat krisis iklim dan punahnya keanekaragaman hayati.” Dia mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yang menyebut pertambangan aktif masih sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mentilin, Primata Malam yang Bertahan di Gunung Menumbing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 04:34:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010554/Mentilin-salah-satu-satwa-langka-yang-masih-mudah-ditemui-di-Bukit-Peramun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133447</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/">Mentilin, Primata Malam yang Bertahan di Gunung Menumbing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini biasanya sedang beristirahat. Belum ada angka pasti mengenai populasinya di Taman Hutan Raya Gunung Menumbing. Namun, petugas pengamanan hutan memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu di kawasan tersebut. Gunung Menumbing berada di Kabupaten Bangka Barat dan memiliki luas sekitar 3.300 hektar. Kawasan ini lebih dikenal sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Mohammad Hatta pada masa Agresi Militer Belanda II. Akan tetapi, di balik nilai sejarahnya, hutan Menumbing juga menjadi salah satu kantong penting kehidupan liar di Pulau Bangka. Sekitar 1.898 hektar atau 57 persen wilayahnya dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat tinggi bagi mentilin. Kepadatan satwa ini di Kabupaten Bangka diperkirakan berkisar 2,22-17,78 individu per kilometer persegi. Meski demikian, populasinya secara global terus menurun. Cephalopachus bancanus beserta subspesies C. b. bancanus berstatus Rentan menurut IUCN. Sebagai pemburu malam, mentilin sangat bergantung pada kelimpahan serangga. Makanannya didominasi ngengat, jangkrik, dan belalang. Sesekali, satwa ini juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, kelelawar, dan ular. Hilangnya hutan berarti berkurangnya ruang berburu sekaligus sumber makanan. Ancaman itu nyata di Menumbing. Sekitar 50 persen kawasan diperkirakan telah terdegradasi akibat penambangan timah ilegal. Lubang-lubang bekas tambang masih ditemukan di sekitar batuan granit. Aliran sungai kecil juga kerap dibendung untuk memisahkan timah dari tanah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 01:14:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra BaittriSuryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13003355/Asap-karhutla-Pontianak-Tursih--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133498</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut belum padam. Beberapa lokasi di Kalimantan dan Sumatera masih membara dan menimbulkan kabut asap hingga kualitas udara tidak sehat bahkan level berbahaya. Berbagai kalangan mendesak pemerintah mengambil langkah dan tindakan untuk memberikan perlindungan kepada warga terdampak asap karhutla, terlebih para kelompok rentan. Kabut asap di Kota Pontianak, dan Kubu Raya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/">Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut belum padam. Beberapa lokasi di Kalimantan dan Sumatera masih membara dan menimbulkan kabut asap hingga kualitas udara tidak sehat bahkan level berbahaya. Berbagai kalangan mendesak pemerintah mengambil langkah dan tindakan untuk memberikan perlindungan kepada warga terdampak asap karhutla, terlebih para kelompok rentan. Kabut asap di Kota Pontianak, dan Kubu Raya, Kalimantan Barat, misal, dalam beberapa hari ini memperlihatkan kondisi makin buruk. Kabut asap makin tebal. Kualitas udara pun berbahaya. Sejak beberapa pekan lalu, sekolah di Kota Pontianak maupun Kubu Raya, masih pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berdasarkan pantauan data dari IQAir, pada 12 September sore hari kualitas udara di Kota Pontianak terpantau pada berbahaya dengan level  594 USAQ+ dan PM2,5 372,7 µg/m.³  Begitu juga pada 13 September pagi, udara Kota Pontianak masih berbahaya dengan main pollutan PM10 435,2 µg/m.³ dan PM2,5 213 µg/m,³   sama dengan Kubu Raya,  level PM 2,5 265,2 µg/m.³ “Ini makin seram, kabut asap makin tebal,” kata Kayla, warga Kota Pontianak, 12 September. Mereka sekeluarga pun berupaya batasi diri ke luar rumah. Meski begitu, dengan kondisi rumah banyak celah udara bisa masuk, sulit terhindar dari paparan asap walau di dalam rumah. “Mau bagaimana lagi. Kalau ke luar rumah saja pakai masker.” Kabut asap di Riau pun menyebabkan kualitas udara buruk dan berbahaya. Di Pekanbaru, ibukota Riau, Pemerintah Kota Pekanbaru sempat meliburkan sekolah ketika kualitas udara memburuk. Selama dua hari 7-8 September 2026, kegiatan belajar mengajar jenjang PAUD sampai SMP, dari jarak jauh alias dalam jaringan (daring). Pemadam kebakaran berupaya padamkan kebakatan lahan gambut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 10:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/12/22081952/Mariana-Snailfish3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133377</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat. Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/">Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat. Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan DNA sejumlah spesimen. Ikan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 6.900 hingga lebih dari 8.000 meter, di wilayah yang tekanannya ratusan kali lebih besar dibandingkan permukaan laut. Tubuh Mariana snailfish tampak pucat, lembut, dan menyerupai kecebong. Kulitnya nyaris transparan sehingga beberapa organ dan jaringan tubuhnya dapat terlihat. Penampilannya jauh dari gambaran ikan laut dalam yang bertaring besar dan menyeramkan. Namun, di habitatnya, ikan ini justru menjadi salah satu predator utama yang memangsa krustasea kecil. Tubuh yang lunak bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari adaptasinya. Mariana snailfish memiliki tulang yang tidak mengeras sepenuhnya, otot tipis, serta tidak mempunyai kantung renang berisi gas yang dapat rusak akibat tekanan ekstrem. Penelitian genomik juga menunjukkan adanya perubahan pada sistem penglihatan, pigmentasi, pembentukan tulang, dan membran sel yang membantunya hidup dalam kegelapan dan tekanan tinggi. Meski dahulu diberitakan sebagai ikan terdalam yang pernah ditemukan, status tersebut kini perlu diberi konteks baru. Pada 2023, ilmuwan merekam ikan dari genus Pseudoliparis pada kedalaman 8.336 meter di Palung Izu-Ogasawara, Jepang. Rekaman itu menjadi catatan ikan hidup terdalam yang pernah didokumentasikan. Namun, identitas spesiesnya belum dipastikan, sehingga Mariana snailfish tetap penting sebagai salah satu spesies ikan penghuni laut terdalam yang telah dideskripsikan secara ilmiah. Para peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 07:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18070127/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-1536x1024-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133440</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal di ekosistem Batang Toru, habitat orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Harapannya, inisiatif ini bisa meringankan kerusakan ekosistem di sana. Data YEL, tutupan hutan di koridor ekologi Hutaimbaru turun dari 9.958,38 hektar tahun 2004 menjadi 8.980,84 hektar tahun 2024. Lebih 1.700 hektar habitat orangutan hilang dua dekade terakhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/">Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal di ekosistem Batang Toru, habitat orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Harapannya, inisiatif ini bisa meringankan kerusakan ekosistem di sana. Data YEL, tutupan hutan di koridor ekologi Hutaimbaru turun dari 9.958,38 hektar tahun 2004 menjadi 8.980,84 hektar tahun 2024. Lebih 1.700 hektar habitat orangutan hilang dua dekade terakhir. Julius Paolo Siregar, Kepala Divisi Konservasi InSitu YEL, menyebutkan, penyusutan ini mengancam orangutan Tapanuli yang masuk kategori sangat terancam punah menurut IUCN. Koridor antara blok barat dan timur di Hutaimbaru penting untuk menjaga aliran gen antar populasi. Tanpa konektivitas, risiko kepunahan lokal meningkat. Bencana 2025 memperparah kondisi. Area bukaan mencapai 23,30 hektar serta 22,70 hektar area sempadan terdegradasi. Lahan itu perlu restorasi agar fungsi koridor kembali optimal. Arboretum telah terbangun, namun tutupan kanopi masih belum memadai hingga perlu rehabilitasi dan restorasi kawasan ini. Tiap hektar hutan yang hilang, katanya, menipiskan peluang hidup orangutan Tapanuli. Jembatan arboreal, restorasi lahan, dan pengelolaan koridor kolaboratif adalah langkah konkret yang perlu penguatan sebelum spesies ikonik ini punah permanen. &#8220;Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” katanya. Hutan Batang Toru. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia. Dia bilang,  perlu pemulihan konektivitas berbasis pemetaan dan analisis jalur penghubung kawasan timur dan barat sebagai dasar ilmiah dalam upaya penyelamatan habitat yang terus menyempit. Ketika koridor alami tidak cukup untuk menjembatani ruang terbuka yang terjal, jembatan arboreal mulai jadi pertimbangan penting. &#8220;Pertanyaan pertama seharusnya bukan kapan kita membangun jembatan, melainkan mengapa konektivitas secara ekologi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 04:37:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10163311/Rukmaini-usai-membersihkan-gulma-di-sawahnya-di-Nagari-Kamang-Mudiak.-Novia-Harlina-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133398</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan sawah menghijau dengan air yang begitu melimpah dari perbukitan di Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) awal September. Sejumlah petani terlihat sibuk menyiangi gulma yang tumbuh di antara batang tanaman padi. Mereka senang karena beberapa tahun terakhir ini, panen bisa dua kali setahun. Kontras dengan dulu yang rata-rata hanya sekali. Yodiantono, Ketua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/">Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan sawah menghijau dengan air yang begitu melimpah dari perbukitan di Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) awal September. Sejumlah petani terlihat sibuk menyiangi gulma yang tumbuh di antara batang tanaman padi. Mereka senang karena beberapa tahun terakhir ini, panen bisa dua kali setahun. Kontras dengan dulu yang rata-rata hanya sekali. Yodiantono, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) menyebut, perubahan itu tak lepas dari keberhasilan warga menghijaukan kembali hutan nagari. “Di perbukitan, sekarang tanaman kayu juga rapat. Ada pohon durian, cengkih, kayu manis, manggis, kakao hingga pisang yang bisa warga panen,” katanya kepada Mongabay. Era 1990-2000 menjadi periode paling sulit bagi hutan nagari. Kebakaran kerap terjadi saat musim kemarau tiba hingga membuat kawasan perbukitan tandus. Sawah-sawah mengering. Air pun seolah menjadi barang lagi di nagari ini. Maraknya penebangan kayu ilegal memperparah kondisi hutan nagari kala itu. Yodianto katakan, pernah suatu ketika dia mendatangi suara mesin chainsaw dari dalam hutan. Disana, dia mencoba bicara dengan pelaku yang ternyata warga setempat itu. “Kalau langsung dilarang, pasti enggak mau, pasti melawan. Jadi, saya cuma mengajaknya ngobrol saja,” katanya. Dari obrolan itu, Yodiantono menjadi lebih tahu alasan pelaku menebang kayu di hutan itu. Yakni, karena desakan ekonomi. Saat itu, kata Yodiantono, dengan panen sekali, penghasilan masyarakat memang tak menentu. Sementara di saat sama, kebutuhan makin bertambah. Ketika pilihan sumber penghasilan terbatas, hutan menjadi salah satu tempat yang dapat diandalkan. Terlebih, tingkat kesadaran warga akan dampak penebangan pohon di hutan juga masih rendah. Namun, dampak kekeringan yang semakin parah, pelan-pelan, warga mulai menyadari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Merah Kalimantan Kembali Terekam Kamera, Bawa Mangsa di Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 03:43:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/12033014/Kucing-merah-kalimantan-di-Kayan-Mentarang-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133462</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Di Ambang Hilang: Masa Depan Kucing Liar]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kucing yang diberi nama berdasarkan warna bulunya ini, merupakan karnivora paling misterius dan sulit dijumpai di Pulau Kalimantan. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/">Kucing Merah Kalimantan Kembali Terekam Kamera, Bawa Mangsa di Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kucing yang diberi nama berdasarkan warna bulunya ini, merupakan karnivora paling misterius dan sulit dijumpai di Pulau Kalimantan. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan di kawasan hutan primer. Kemunculan satwa endemik Kalimantan tersebut menjadi catatan penting bagi upaya pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi. Spesies yang berstatus Endangered atau Genting ini, dikenal memiliki perilaku soliter, sulit diamati, dan cenderung menghindari keberadaan manusia. “Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM, dalam rilisnya, Senin (7/9/26). Menurut dia, kemunculan kucing merah menunjukkan pentingnya kawasan hutan TNKM sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Karena itu, perlindungan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati perlu dilakukan secara konsisten. Kucing merah kalimantan tertangkap kamera membawa mangsa di TN Kayan Mentarang, pada 2026 ini. Foto: Dok. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Kucing merah bawa mangsa Sedikit yang diketahui tentang kucing ini, sampai-sampai sebagian peneliti dan pegiat konservasi menyebutnya “hantu”. Alasannya, pengetahuan kita tentang kucing ini berburu makanan, mencari pasangan, menjelajah hutan, sangat minim. Pada 2023 lalu, kucing merah kalimantan sempat terekam di Resor Sungai Bahau, yang berbatasan dengan Resor Mentarang Tubu. Rekaman ini sempat menjadi sorotan karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Pada foto terbaru ini, tampak seekor kucing merah kalimantan berjalan ke arah kanan. Istimewanya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 01:41:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07085614/FOTO-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133157</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/">Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat banjir dan longsor akibat Siklon Tropis Seroja pada 2020 menimbun enam are lahan sawahnya. Sebelumnya, mereka mengelola 21 are, kini hanya bisa mengusahakan sawah yang tersisa yang berada di Desa Noepesu, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dia juga menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi. Dalam setahun, masa tanam sayur-sayuran hanya berlangsung 2-3 kali, tergantung pada kondisi iklim. Sekali panen, petani mendapat keuntungan Rp1-2 juta, sedangkan padi hanya panen sekali dalam setahun. Biasanya hasil sawah tidak mereka jual, tetapi untuk konsumsi keluarga. “Sumber air dari Mutis kalau kering, kami akan susah. Air itu harapan kami satu-satunya. Kami bisa berkebun dan rasakan hasil panen karena air dari hutan Mutis” tutur Krisensia, warga Desa Noepesu, Selasa (19/8/26). Krisensia bersama suaminya sedang semaikan benih padi di sawah milik mereka, berlokasi di Desa Noepesu, Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Sebagai masyarakat adat Atoni Pah Meto yang menetap di sekitar Mutis, Krisensia menjadikan alam adalah kehidupan sehari-harinya. Pepohonan,  binatang liar, mata air dan batuan menjadi satu kesatuan dalam pengetahuan dan aturan adat. Mereka mengenal kepercayaan oe kanaf (air bernama), hau kanaf (kayu bernama), dan fatu kanaf&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 00:30:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10022137/Orangutan-Sumatera-di-SRA-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133363</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kera besar, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan. Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/">Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan. Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, bayi-bayi orangutan tersebut dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar untuk mendapatkan perawatan. Pemerintah Odisha kemudian meminta Wildlife Crime Control Bureau menyelidiki asal-usul mereka. Penyelidikan juga akan memastikan apakah orangutan tersebut akan dijual kepada pembeli di India atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain. M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre, menilai kemunculan orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya. Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan panjangnya rantai kejahatan yang dilalui kelima bayi orangutan tersebut. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik,” kata Indra. Pemisahan dari induk bukan sekadar membuat bayi orangutan kehilangan pengasuhan. Tindakan tersebut juga dapat mengganggu kesehatan, perilaku, perkembangan sosial, dan kemampuan mereka bertahan hidup. Karena itu, Indra menegaskan, “Lima orangutan tersebut harus dipandang sebagai korban perdagangan satwa liar, bukan satwa eksotik yang ditemukan jauh dari habitatnya.” Meski spesies kelimanya belum dipastikan, indikasi awal mengarah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 00:01:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/11/22020722/GP1T5A10_Medium_res_with_credit_line-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133335</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia. Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/">Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia. Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi selisih kebutuhan dan produksi.  Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengatakan, impor minyak di tengah konflik Amerika-Israel dengan Iran membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, jika harga minyak dunia mencapai USD90-100 per barel, maka subsidi akan membengkak hingga Rp120-130 Triliun. Tentu ini juga berdampak pada LPG karena Indonesia masih bergantung pada impor dari pasar global. Indonesia mengimpor sekitar 6-7 juta ton per tahun, 20%-nya berasal dari Timur Tengah. Bhima mengatakan, krisis energi dapat berdampak pada perekonomian nasional melalui kenaikan inflasi. Dia juga mengingatkan, krisis energi dapat memicu tekanan ekonomi berantai. Di tengah situasi ini, Bhima mendesak pemerintah mempercepat transisi energi terbarukan yang berkeadilan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Ia berharap, Danantara turut membiayai proyek energi bersih tersebut. Novita Indri, juru kampanye Energi Trend Asia, menyebut pengalaman Pakistan melewati krisis energi pada 2022-2023 dapat menjadi contoh bagi Indonesia. Pakistan mengurangi ketergantungan oada gas alam dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya sebagai energi utama. “Tidak ada cara lain, mengurangi ketergantungan energi fosil dan mendorong energi terbarukan secara masif, berbasis komunal menjadi kunci Indonesia berdaulat energi.” Foto utama:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 16:51:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06113601/1E-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133059</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan. “Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata  Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/">Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan. “Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata  Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka, kepada Mongabay, Selasa (25/8/26). Perlu dua tahun bagi Gonsales bekerja sebagai buruh perkebunan di Kalimantan untuk bisa membangun rumah tembok beratap seng itu. Hanya dalam sekejap, hasil jerih payahnya itu rata dengan tanah, tak kuat menahan guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu. Beberapa rumah lain di desanya juga alami kondisi serupa. Gonsales bingung. Kampung mereka jauh di pegunungan, sedang  rumah-rumah di Kota Maumere, nyaris tak ada yang ambruk. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 Agustus, 95.567 rumah di tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak. Rinciannya, 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang dan 27.414 rumah rusak berat. Selain itu, peristiwa itu juga sebabkan 111 orang meninggal dunia, 1.631 luka-luka,  dengan 223 luka berat dan 1.408 luka ringan serta, 188.161 orang mengungsi. Seorang warga memandangi rumahnya yang hancur terkena gempa. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Kelemahan sistemik Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, mengatakan, saat ini, prioritas penanganan masih fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga, i seperti berupa air bersih, pangan, hunian darurat dan sanitasi. Juga termasuk  pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pembukaan akses jalan yang masih terputus serta pendataan penyintas berdasarkan nama dan alamat. Mengingat, kata Norman, hampir 9&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Tanah Itu Mama&#8221;, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 14:04:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09070318/moi-20190221_111225-scaled-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133324</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, papua, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam. Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/">&#8220;Tanah Itu Mama&#8221;, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam. Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, dan generasi muda untuk membicarakan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Barbalina Osok, Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi Papua Barat Daya, membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi. Sejak awal 1990-an, konsesi hak pengusahaan hutan beroperasi di wilayah adat mereka. Sebagian arealnya kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurut Barbalina, hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun terus dikuras tanpa manfaat balik yang jelas bagi pemilik hak ulayat. Izin tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 2032–2033. Persoalannya bukan hanya investasi atau keuntungan ekonomi, tetapi juga minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam menentukan penggunaan tanah dan sumber daya alam mereka. Aktivis perempuan adat Marlince Siep mengingatkan bahwa hilangnya hutan dan akses terhadap wilayah adat berdampak langsung pada perempuan dan anak-anak. Perempuan memiliki peran penting dalam menyediakan pangan sekaligus meneruskan pengetahuan lokal antargenerasi. “Tanah itu Mama. Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan, biarkan hutan dan lingkungan sehat yang tersisa ini untuk diwariskan kepada generasi perempuan adat Orang Asli Papua,” kata Marlince. Ia juga meminta agar pembangunan Papua tidak hanya disusun dari perspektif pemerintah pusat. Suara masyarakat adat perlu dijadikan pijakan agar tanah, manusia, budaya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 10:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/16102124/Toxotes_jaculatrix-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133325</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/">Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini memiliki moncong segitiga, sementara sisi tubuhnya dihiasi bercak berbentuk semisegitiga. Kemampuan berburu ikan pemanah bukan sekadar menyemburkan air secara sembarangan. Ikan ini dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Mangsa yang ditembak antara lain lebah, capung, laba-laba, lalat, dan berbagai serangga kecil. Akurasi tembakannya merupakan kemampuan biologis yang kompleks. Cahaya yang melewati udara dan air mengalami pembiasan sehingga posisi mangsa terlihat berbeda dari lokasi sebenarnya. Namun, ikan pemanah mampu memperhitungkan penyimpangan tersebut. Penelitian Lawrence M. Dill pada 1977 menunjukkan bahwa ikan ini menyesuaikan sudut tembak berdasarkan posisi mangsa. “Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengompensasi refraksi,” tulis Dill. Ikan tersebut juga harus memperhitungkan gravitasi yang membuat lintasan air melengkung. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, sudut tembakan diatur agar air tetap mencapai sasaran. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2014 mengungkap bahwa ikan pemanah mampu mengendalikan dinamika semburannya. Bagian belakang semburan bergerak lebih cepat dan menyusul bagian depan tepat sebelum mencapai sasaran. Akibatnya, tetesan air menyatu dan menghasilkan hantaman kuat ketika mengenai mangsa. “Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 06:34:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10152110/DSCF7134-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133390</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosmiati, warga Kampung Katulampa, terlihat sedang memandikan dua anaknya di Kali Baru, irigasi buatan yang mengambil aliran dari Sungai Ciliwung, Akhir Agustus lalu. Ember kecil berisi sabun, odol. Sampo, dan sikat gigi tergeletak di sampingnya saat dia sibuk membanjur air ke badan si kecil. Perempuan asli Bogor itu terpaksa memandikan anaknya di dekat Bendungan Katulampa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/">Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosmiati, warga Kampung Katulampa, terlihat sedang memandikan dua anaknya di Kali Baru, irigasi buatan yang mengambil aliran dari Sungai Ciliwung, Akhir Agustus lalu. Ember kecil berisi sabun, odol. Sampo, dan sikat gigi tergeletak di sampingnya saat dia sibuk membanjur air ke badan si kecil. Perempuan asli Bogor itu terpaksa memandikan anaknya di dekat Bendungan Katulampa karena pasokan air sumur rumahnya berkurang. “Paling nanti dibilas lagi di rumah,” katanya kepada Mongabay. Setelah itu, dia mengisi air ke galon bekas berukuran 15 liter. Air itu, katanya, untuk mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, hingga bilas kencing atau buang air besar di rumah. Sudah sebulan lebih, Sungai Ciliwung mengering. Tinggi muka air pada bendungan berada di titik terendah hingga nol sentimeter. Penurunan debit air juga terlihat  di Kampung Pulo Geulis, Babakan Pasar, Kota Bogor–berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah barat laut. Anak-anak menyulap dangkalnya sungai menjadi wahana bermain. Mereka melompat dari bebatuan besar ke kobangan air tersisa. Sebagian lain, membendung aliran dengan batu, menjadikannya kolam ikan dadakan. Rosmiati sedang memandikan anaknya di irigasi Bendungan Katulampa, Kota Bogor. Foto: Muhammad Ibnu Sabil/Mongabay Indonesia. Di Bogor, Sungai Ciliwung merupakan sumber air baku permukaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Mereka mengolah air sungai menjadi layak pakai yang mengalir ke rumah warga. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Katulampa milik Tirta Pakuan mampu memproduksi air 307,14 liter per detik. Mereka memasok kebutuhan air kepada 35.492 pelanggan, mencakup seluruh wilayah kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur, serta sebagian Desa Sukaraja, Kabupaten Bogor. Penurunan debit air Ciliwung berdampak pada berkurangnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 04:22:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/11041412/Bekantan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133423</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, komunitas lokal, Lahan Basah, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat. Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut. “Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/">Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat. Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut. “Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar Rafa’I, warga Desa Bararawa. Amat Kani, warga Desa Bararawa lainnya, memperlihatkan video ketika dia tak sengaja menemukan bekantan di antara pepohonan dan rawa. “Sewaktu saya mencari ikan,” terangnya, Senin (24/8/26). Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang menyukai habitat mangrove. Foto: Rhett Butler/Mongabay.. Bekantan Terancam Kehilangan Habitat Penelitian sebaran dan status bekantan di rawa gambut pernah dilakukan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah, pada 2013 lalu, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dari 18 lokasi penelitian, bekantan ditemukan langsung di empat lokasi dengan total 55 individu. Miftahul Pauji, Ketua Badan Pengurus AP2SI (Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia) Kalimantan Selatan, mengatakan keberadaan bekantan di Kecamatan Paminggir, yang berbartasan dengan Hulu Sungai Tengah, tidak bisa dilepaskan dari rawa yang menjadi ruang hidup masyarakat juga habitat satwa tersebut. Rawa Paminggir memiliki fungsi ekologis seperti menyimpan air, membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan, menjaga ketersediaan air saat kemarau, sekaligus menyimpan cadangan karbon. “Bila rawa dan hutannya rusak, bukan hanya masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, bekantan juga kehilangan habitat,” jelasnya, Senin (25/8/26). Seekor bekantan jantan dewasa tampak berada di antara rimbunnya pepohonan. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Tata air rawa perlu dipertahankan, alih fungsi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 03:14:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09230915/The-Inaccessible-rail-Atlantisia-rogersi-here-showing-its-stubby-wings-while-sunningis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133416</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/">Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra Atlantik Selatan. Salah satu pulau dalam gugusan itu adalah Inaccessible Island, pulau vulkanik bertebing curam dengan luas hanya 7,4 kilometer persegi. Ombak besar dan medan ekstrem membuat pulau ini nyaris tidak pernah dikunjungi manusia sejak ditemukan. Di pulau inilah hidup Atlantisia rogersi, atau Mandar Inaccessible, burung tak bisa terbang terkecil di dunia. Bobotnya 30 sampai 40 gram, mirip berat sebutir bola pingpong, dengan ukuran tubuh tidak lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Selama hampir satu abad, ilmuwan belum mengetahui bagaimana spesies yang tidak bisa terbang ini bisa menghuni pulau yang terpisah ribuan kilometer dari daratan mana pun. Riset DNA Membantah Teori Jembatan Darat Pertanyaan itu baru terjawab lewat riset genetika yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander bersama tim dari FitzPatrick Institute of African Ornithology, yang naskahnya terbit di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Untuk melacak silsilah burung ini, tim peneliti mengandalkan teknik pengurutan DNA modern, lalu membandingkan materi genetiknya dengan sejumlah kerabat burung dari berbagai belahan dunia. Hasilnya mematahkan hipotesis ahli ornitologi Percy Lowe yang diajukan pada 1920-an. Lowe menduga leluhur burung ini berjalan kaki melintasi bentangan darat purba yang menyambungkan benua-benua, sebelum bentangan itu akhirnya karam ke dasar laut. Mandar Inaccessible (Atlantisia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Paus Sperma Terdampar di Ternate, Gigi jadi Rebutan Warga  </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 03:07:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10044703/Salah-satu-warga-berusaha-mencabut-gigi-paus-yang-terdampar-untuk-dijadikan-barang-aksesoris-foto-M-Ichi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133357</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara dan ternate]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu mamalia laut yang teridentifikasi sebagai paus sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pantai Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara (Malut) Senin (8/9/26) . Jarak lokasi terdampar dengan permukiman sekitar 750 meter. Ibu-ibu yang tengah turun ke pantai  pertama kali temukan bangkai paus sepanjang 9,89 meter dan diameter tubuh 3,36 meter itu, sekitar pukul 06.00 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/">Ketika Paus Sperma Terdampar di Ternate, Gigi jadi Rebutan Warga  </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu mamalia laut yang teridentifikasi sebagai paus sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pantai Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara (Malut) Senin (8/9/26) . Jarak lokasi terdampar dengan permukiman sekitar 750 meter. Ibu-ibu yang tengah turun ke pantai  pertama kali temukan bangkai paus sepanjang 9,89 meter dan diameter tubuh 3,36 meter itu, sekitar pukul 06.00 WITA. Informasi itu kemudian menyebar di kalangan warga hingga memicu kerumunan. Yeni Mas’ud, warga Ternate  mengabadikan momen itu lewat kamera selulernya dan mengunggah ke media sosialnya. Sedang di lokasi, ada warga  lain saling berebut untuk mengambil gigi satwa malang itu guna mereka jadikan aksesoris. Nuncar Umagapi, Lurah Afe Taduma katakan, kabar paus terdampar itu sebenarnya sudah dia terima sehari sebelumnya. “Minggu sore itu sudah ada warga lihat bangkai paus mengapung dan tinggal menunggu terdampar,” katanya kepada Mongabay. Begitu terdampar, warga lantas melaporkan peristiwa itu ke kelurahan guna dia teruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Senin (8/9/26), sekitar pukul 09.00, Riza Marsaoly, Sekretaris Daerah (Sekda) Ternate memimpin rombongan untuk datang ke lokasi. \Rizal lantas perintahkan jajarannya untuk menguburkan bangkai pausitu. “Tujuannya agar tidak ada bau yang bisa mengganggu masyarakat.&#8221; Sekitar pukul 14.30, satu unit eskavator tiba di lokasi untuk membantu menguburkan bangkai paus itu. Namun, petugas dari Balai Pengelolaan Kelautan Kupang yang merupakan UPT dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dengan wilayah kerja Papua, Maluku dan Malut melakukan pemeriksaan fisiologis. Petugas juga mengumpulkan data biologis seperti panjang tubuh, jenis kelamin, hingga estimasi usia. Dari hasil pemeriksaan itu terungkap bahwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Subak Gianyar Terhimpit Pembangunan, Petani Hadapi Krisis Air Hingga Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 00:01:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04045946/Racun-tikus-yang-dicampur-dengan-beras-dan-kacang-tanah-untuk-mengusir-tikus-sawah.-Racun-tikus-diletakkan-di-atas-daun-agar-tidak-meracuni-petani.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133333</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif. Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/">Subak Gianyar Terhimpit Pembangunan, Petani Hadapi Krisis Air Hingga Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif. Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan tikus semakin parah sejak tahun lalu dan terjadi hingga tiga periode tanam. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” kata Kuter. Persoalan air juga menghantui. Saat kemarau, debit air mengecil. Sebaliknya, ketika hujan deras, air justru meluap dan menggenangi sawah. Pada September 2025, sawah Kuter untuk pertama kalinya terdampak banjir setelah hujan deras membuat air sungai meluap. “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering),” ujarnya. Kondisi serupa juga terjadi pada petani di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Ketut Sugata, Ketua Forum Pekaseh Agung DAS Pakerisan, mengatakan banjir terjadi karena kemampuan tanah menyerap dan menampung air semakin berkurang. “Sudah beberapa kali (banjir). Penyebabnya karena daya serap dan daya tampung air yang dulu masih ada, sekarang berkurang,” kata Sugata. Subak bukan sekadar sistem pengairan sawah. Sistem tradisional Bali ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang mengatur hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Pada 2012, lanskap subak ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia. Namun, keberadaannya kini menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Hamparan sawah yang sebelumnya menyatu berubah menjadi kawasan yang terfragmentasi oleh bangunan. Kondisi ini juga mengurangi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>