Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif.
Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan tikus semakin parah sejak tahun lalu dan terjadi hingga tiga periode tanam.
“Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” kata Kuter.
Persoalan air juga menghantui. Saat kemarau, debit air mengecil. Sebaliknya, ketika hujan deras, air justru meluap dan menggenangi sawah. Pada September 2025, sawah Kuter untuk pertama kalinya terdampak banjir setelah hujan deras membuat air sungai meluap.
“Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering),” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada petani di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Ketut Sugata, Ketua Forum Pekaseh Agung DAS Pakerisan, mengatakan banjir terjadi karena kemampuan tanah menyerap dan menampung air semakin berkurang.
“Sudah beberapa kali (banjir). Penyebabnya karena daya serap dan daya tampung air yang dulu masih ada, sekarang berkurang,” kata Sugata.
Subak bukan sekadar sistem pengairan sawah. Sistem tradisional Bali ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang mengatur hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Pada 2012, lanskap subak ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia.
Namun, keberadaannya kini menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Hamparan sawah yang sebelumnya menyatu berubah menjadi kawasan yang terfragmentasi oleh bangunan. Kondisi ini juga mengurangi fungsi sawah sebagai daerah resapan air.
I Gusti Ngurah Santosa, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, memproyeksikan subak di Bali dapat habis dalam 65 tahun jika alih fungsi lahan terus berlangsung.
“Kalau itu sudah dibangun dengan beton, itu kan kedap air. Otomatis dia nanti berupa limpasan permukaan. Ini kan yang memicu terjadinya banjir,” jelas Santosa.
Perubahan lingkungan juga berdampak pada serangan tikus. Ayu Putu Diah dari Yayasan Mandhara Research Institute menemukan pola serangan tikus di sejumlah subak Gianyar semakin mengkhawatirkan. Tikus bahkan menyerang tanaman sebelum bulir padi tumbuh.
“Entah kenapa sekarang masih usia gini (belum tumbuh bulir padi) udah mulai digigitin sama tikus,” katanya.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menunjukkan luas sawah Bali menyusut dari sekitar 80.063 hektar pada 2015 menjadi 64.473,63 hektar pada 2024. Penurunan paling terasa di Badung, Gianyar, dan Denpasar.
Bersamaan dengan menyusutnya lahan, jumlah petani dan aktivitas pertanian dalam subak turut berkurang. Fungsi sosial dan ekologis subak pun perlahan melemah.
Santosa menilai perlindungan subak perlu dilakukan dengan memastikan lahan produktif tidak dialihfungsikan, menjamin ketersediaan air, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kalau lahannya lestari, airnya lestari, petaninya akan jalan di lapangan.”
Foto utama: Racun tikus yang dicampur dengan beras dan kacang tanah untuk mengusir tikus sawah. Racun tikus diletakkan di atas daun agar tidak meracuni petani. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia