Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi.
Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini memiliki moncong segitiga, sementara sisi tubuhnya dihiasi bercak berbentuk semisegitiga.
Kemampuan berburu ikan pemanah bukan sekadar menyemburkan air secara sembarangan. Ikan ini dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Mangsa yang ditembak antara lain lebah, capung, laba-laba, lalat, dan berbagai serangga kecil.
Akurasi tembakannya merupakan kemampuan biologis yang kompleks. Cahaya yang melewati udara dan air mengalami pembiasan sehingga posisi mangsa terlihat berbeda dari lokasi sebenarnya. Namun, ikan pemanah mampu memperhitungkan penyimpangan tersebut.
Penelitian Lawrence M. Dill pada 1977 menunjukkan bahwa ikan ini menyesuaikan sudut tembak berdasarkan posisi mangsa. “Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengompensasi refraksi,” tulis Dill.
Ikan tersebut juga harus memperhitungkan gravitasi yang membuat lintasan air melengkung. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, sudut tembakan diatur agar air tetap mencapai sasaran.
Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2014 mengungkap bahwa ikan pemanah mampu mengendalikan dinamika semburannya. Bagian belakang semburan bergerak lebih cepat dan menyusul bagian depan tepat sebelum mencapai sasaran. Akibatnya, tetesan air menyatu dan menghasilkan hantaman kuat ketika mengenai mangsa.
“Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan bahwa gaya terpusat menjadi satu hantaman keras,” jelas para peneliti.
Penyesuaian dilakukan dengan mengubah bentuk dan bukaan mulut. Untuk target yang lebih jauh, ikan menyemburkan air lebih lama dengan bukaan mulut yang berubah secara bertahap.
Kemampuan itu ternyata tidak sepenuhnya bersifat bawaan. Penelitian dalam jurnal eLife pada 2024 menemukan bahwa ikan pemanah dapat belajar dari kesalahan. Ketika aliran udara sengaja diberikan untuk membelokkan semburan, tembakannya mula-mula meleset. Setelah beberapa kali mencoba, kesalahannya berkurang hingga kembali stabil.
Temuan tersebut menunjukkan adanya adaptasi motorik, yaitu kemampuan menyesuaikan gerakan berdasarkan pengalaman dan perubahan lingkungan. Ikan pemanah bukan hanya memiliki “senjata” air, tetapi juga mampu menghitung, mengoreksi, dan menyempurnakan bidikannya. Kemampuan luar biasa ini menjadikannya salah satu pemburu paling presisi di habitat mangrove, muara, serta perairan tawar dan payau Asia Tenggara.