<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ari-surida&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ari-surida/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 01 Oct 2026 09:58:59 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:58:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134413</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga laut dan hasil tangkapan mereka, hutan yang menghadapi tekanan dari proyek panas bumi, hingga kisah tentang gajah dan pentingnya menjaga habitat tempat mereka hidup. Di Aceh, petani mulai melirik kacang koro pedang sebagai pangan lokal yang dinilai mampu bertahan di tengah musim kering. Sementara itu, dari Jabodetabek, kemarau panjang membuat sejumlah sungai mengalami penurunan debit, bahkan mengering. Kondisi ini ikut mengingatkan kembali betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Penasaran dengan cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan September. 1. Nelayan Ende jaga laut dengan sistem buka-tutup  Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia. Gelombang tinggi membuat nelayan di Maurongga, Ende, Nusa Tenggara Timur, harus menarik perahu ke daratan. Namun, di tengah kondisi itu, mereka tetap berupaya menjaga sumber penghidupan dari laut. Masyarakat Maurongga menerapkan sistem buka-tutup wilayah tangkapan gurita. Wilayah ini ditutup secara bergantian selama tiga bulan agar gurita memiliki waktu untuk berkembang biak. Upaya ini, kata nelayan, membuat ukuran gurita hasil tangkapan meningkat. Meski begitu, mereka masih menghadapi ancaman penangkapan destruktif seperti bom, potasium, dan racun serangga. &nbsp; 2. Panas bumi masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/menjaga-laut-mempertahankan-hutan-dan-melestarikan-pangan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01090009/Karhutla-Kalsel-Riyad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggila. Tanah Papua menjadi salah satu daerah dengan karhutla parah. Bahkan, lebih masif ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, penanganan karhutla dan dampak kabut asapnya seakan tak terdengar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan, indikasi karhutla di Papua mencapai lebih 30.000 hektar sepanjang 2026. Dengan paling luas karhutla di Papua Selatan—lokasi PSN—mencapai 25.838,53 hektar, Papua Tengah 2.519,88 hektar, dan Papua Barat 2.496,39 hektar. &#8220;Dari beberapa data yang kami peroleh, kejadian karhutla, terutama di Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya terindikasi meningkat,&#8221; kata Angky Samperante, Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Selasa (29/9/26). Sebagian titik kebakaran, katanya, di sekitar konsesi perkebunan sawit dan konsesi pemegang izin pemanfaatan kayu di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan. Pusaka juga menemukan indikasi keterkaitan kebakaran dengan aktivitas pembukaan lahan untuk proyek strategis nasional (PSN). Di area food estate dan sekitar perusahaan tebu di Merauke, misal, dokumentasi drone dan lapangan yang mendapati pola pembukaan lahan dengan membakar. &#8220;Dari pemantauan kami, kayu dan sisa vegetasi hasil bukaan lahan tersebut ditumpuk dalam petak-petak tertentu sebelum dibakar. Sementara pola kebakaran terlihat mengikuti lokasi tumpukan material itu.&#8221; Pengerahan helikopter water bombing untuk pemadaman karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dokumentasi BNPB Temuan Yayasan Pusaka terkait karhutla itu sejalan dengan analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua. &#8220;Kebakaran kini tak lagi muncul sporadis di satu-dua wilayah. Sejumlah provinsi terbakar masif hampir bersamaan,&#8221; kata Maikel Peuki, Direktur Eksekutif Walhi Papua, Selasa (29/9/26). Walhi Papua mencatat, 3.000 lebih hotspot per Agustus 2026. Peningkatan signifikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/puluhan-ribu-hektar-hutan-dan-lahan-di-papua-terbakar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 09:05:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01085545/Red-bearded-Bee-eater-atau-Cirik-cirik-Kumbang-di-Beutong-Ateuh-Banggalang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134414</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media). “Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh, Senin (24/8/26). Tim KSLH juga juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan (Vulnerable/VU), yakni Schneider&#8217;s Pitta (Hydrornis schneideri), Graceful Pitta (Erythropitta venusta), dan Hoogerwerf&#8217;s Pheasant (Lophura hoogerwerfi). Empat jenis masuk kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT), yaitu Sumatran Babbler (Pellorneum buettikoferi), Sumatran Green Pigeon (Treron oxyurus), Sumatran Drongo (Dicrurus sumatranus), dan Sumatran Woodpecker (Picus dedemi). Sementara itu, 19 jenis berstatus Risiko Rendah (Least Concern/LC) dan 1 jenis, Sumatran Robin (Myiomela sumatrana), berstatus Belum Dievaluasi (Not Evaluated/NE). “Hutan Beutong Ateuh sangat penting untuk pelestarian burung-burung endemik Aceh,” kata Heri. Burung Red bearded Bee eater atau Cirik-cirik Kumbang ini terpantau di hutan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Burung-burung yang ditemukan, tidak hanya dari satu kelompok atau satu lapisan habitat. Ada jenis  yang aktif di tajuk pohon, mencari buah dan serangga di antara vegetasi, atau berada di lantai hutan. “Keberadaan mereka berkaitan dengan ketersediaan pakan, tempat berlindung, pohon bertengger, maupun lokasi berkembang biak.” Menurut Heri, burung juga dapat menjadi indikator perubahan ekosistem. Setiap jenis memiliki kebutuhan habitat, pakan dan tingkat toleransi terhadap gangguan berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/tiada-konflik-burung-liar-hingga-harimau-sumatera-hidup-damai-di-hutan-beutong-ateuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29041137/Kucing-kuwuk3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134331</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara. Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya. Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.” Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar. Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bila-bertemu-kucing-kuwuk-di-hutan-jangan-ditangkap-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 03:57:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000606/Tarantula-berbulu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134350</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang. Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut. “Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.” Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh. Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut. Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut. Tim peneliti juga menyoroti hubungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bagaimana-cara-tarantula-hadapi-serangan-semut-tentara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 02:34:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17101119/Macan-tutul-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134183</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang mengerumuni  macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terperangkap jebakan di kebun warga di Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, Jumat (3/4/26). Jebakan itu sebenarnya warga pasang untuk babi hutan yang kerap merusak kebun warga. Tetapi, justru macan tutul yang terjebak. Warga pun lantas menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor. “Waktu itu pagi-pagi tim dikontak masyarakat sekitar. Ada macan tutul terjebak di belakang rumah,” kata Imam Purwadi, Kurator Satwa Senior Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, di sela-sela Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) gelaran Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) akhir Agustus di TSI Bogor. Imam memimpin tim Life Science TSI Bogor yang terdiri dari dokter hewan dan kurator dan berhasil mengevakuasinya. Dari hasil observasi, tim memastikan kondisi macan tutul stabil dan sehat. “Jerat karet, membekas di kulit tapi tidak menimbulkan luka terbuka.  Kesimpulannya aman untuk dilepaskan,” ujar Imam. Foto udara lansekap hutan Pasir Panjang di Desa Tundagan, Kecamatan Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia TSI memiliki kadang rehabilitasi yang saat ini berisi satu macan tutul berwarna atau  sebutan macan kumbang. Macan kumbang merupakan spesies yang sama dengan macan tutul. Macan kumbang merupakan fenomena melanisme, yakni,  kelainan genetik yang menyebabkan peningkatan produksi pigmen melanin pada tubuh macan tutul. Jadi  kulit, rambut, atau bulu berwarna hitam pekat. Imam katakan, TSI telah membuat program pengembangbiakan, termasuk untuk macan. “Masuk program breading,” kata Imam. Program&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/macan-tutul-jawa-di-tengah-ancaman-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 14:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27065906/melon2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134283</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi bisnis, jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya. Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam. Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang. Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif. Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-cemara-laut-petani-lembupurwo-tidak-resah-berkebun-dekat-pantai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/17071924/Gigi-manusia-purba-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134285</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi. Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian. Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali. Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi. “Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances. Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kebiasaan-unik-manusia-purba-di-sulawesi-mengisap-pinang-sejak-25-ribu-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 12:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/23143754/382b58f2-094b-424c-8259-1bcb574397af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134370</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tata kelola tambang masih karut marut begitu juga di Kalimantan Timur, sebagai produsen utama batubara Indonesia. Pertambangan batubara menciptakan multi masalah dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, sosial ekonomi sampai keselamatan warga. Kini, ketika masyarakat mengadu, atau laporan kasus,  pemerintah daerah berdalih tak bisa berbuat banyak karena sesuai UU Pertambangan Mineral dan Batubara kewenangan ada di pemerintah pusat. Kondisi ini pun makin mempersulit masyarakat terdampak. Bambang Arwanto,  Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur (Kaltim), menyatakan, sejak kewenangan pertambangan di pemerintah pusat, pemerintah provinsi hanya berfungsi sebagai koordinator apabila ada persoalan di lapangan. “Mulai dari perizinan, pembinaan, pengawasan, termasuk pengawasan terhadap void atau lubang tambang semuanya sudah berada di pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM,” katanya dalam wawancara dengan Mongabay Indonesia belum lama ini. Kondisi itu, katanya, membuat pemerintah provinsi tak bisa langsung memeriksa ketika menerima laporan dugaan pelanggaran di area pertambangan. Bila ada laporan masyarakat atau temuan lapangan, katanya, pemerintah daerah lebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Setelah itu, kementerian mengeluarkan surat penugasan kepada inspektur tambang, baru pemerintah provinsi ikut pemeriksaan bersama. “Kalau kami mau turun, harus bersurat dulu ke kementerian. Setelah kementerian menugaskan inspektur tambang mendampingi, baru kami bisa masuk ke lokasi. Karena kewenangannya memang bukan lagi di pemerintah provinsi,” kata Bambang. Kendati tak lagi memiliki kewenangan pengawasan langsung, Dinas ESDM Kaltim tetap berkoordinasi setiap kali terjadi kecelakaan di area pertambangan. Setiap insiden, katanya, menjadi bahan evaluasi bersama inspektur tambang agar perusahaan memperkuat sistem pengamanan di area berisiko tinggi. Salah satu yang terus pemerintah ingatkan ialah kewajiban&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/kalimantan-timur-masih-dalam-lilitan-masalah-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 10:19:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30101307/Ikan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134359</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya dunia di luar alga dan mikroalga, diproyeksikan meningkat hingga 10 persen. FAO menyebut, akuakultur akan menjadi komponen penting sistem pangan masa depan, karena produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Sementara, permintaan terhadap pangan akuatik terus meningkat. Proyeksi besar yang juga sudah masuk Indonesia ini, harus dilakukan dengan prinsip lebih produktif, lebih inklusif, lebih tangguh terhadap krisis iklim, dan lebih berkelanjutan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan jika krisis iklim tidak diantisipasi, maka gangguan produksi ikan hanya menunggu waktu. Dalam orasi ilmiah pengukuhan gelar Guru Besar, Senin (27/6/26), dia mengatakan reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Terutama, pelepasan hormon reproduksi agar pemijahan optimal. Ancaman ini sudah nyata, karena pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk di unit pembenihan (hatchery) tidak matang gonad. “Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya dalam laman resmi IPB Satu solusi yang ditawarkan pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu adalah dengan mengadopsi teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan yang diyakini bisa menjaga ketersediaan benih. “Produksi perikanan budi daya tak akan terganggu.” Krisis iklim dapat berdampak pada pola reproduksi ikan. foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. I Ketut Sugama, Profesor Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 07:47:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29082105/DSC4525-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134326</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan poltiik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. Sedang sebagian hanya bisa memandangi jalan yang berubah menjadi hamparan lumpur. Mereka heran karena malam itu hujan tak begitu deras. Bagi warga, pemandangan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan turun, jalan kampung berubah menjadi hamparan lumpur yang kuat dugaan berasal dari tambang galian C di daerah hulu. Celakanya, luberan lumpur itu juga menyasar lahan-lahan pertanian warga. Muhammad Yunus,  warga Lenek katakan, selain menutupi jalan, material sisa tambang juga picu sedimentasi irigasi dan menyumbat aliran ke sawah. Akibatnya, petani harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk membersihkan saluran sebelum musim tanam maupun saat masa pengairan berlangsung. Tak jarang, pasir dan batu yang terbawa air bahkan masuk hingga ke petak-petak sawah. Kondisi itu mengubah struktur tanah dan mempengaruhi pertumbuhan padi. &#8220;Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,&#8221; ujar Yunus. Dampak dari situasi itu, produktivitas padi pun turun, sedang biaya pemeliharaan meningkat. “Banyak petani yang rugi.&#8221; Yunus sudah berulang kali sampaikan persoalan itu kepada pemerintah. Warga bahkan pernah berunjuk rasa menuntut pemerintah tertibkan tambang yang menimbulkan berbagai dampak pada warga sekitar. Hingga  kini, balum ada respons berarti. &#8220;Dulu,  warga sempat demo. Hanya beberapa hari saja dampaknya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:20:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/02024101/FinkeR8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134344</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana bergantung pada kolam yang tidak pernah benar-benar kering dan pada kemampuan menoleransi kondisi air yang ekstrem. Sungai Finke di Australia Tengah, yang oleh masyarakat Arrernte Barat disebut Larapinta, kerap dijuluki sungai tertua di dunia dengan perkiraan usia 300 hingga 400 juta tahun. Sungai ini berhulu di Pegunungan MacDonnell, Northern Territory, dan membentang sekitar 600 kilometer hingga tepi barat Gurun Simpson. Kini alirannya hanya muncul beberapa hari dalam setahun, dan airnya hampir selalu menghilang ke pasir sebelum mencapai Danau Eyre. Meski begitu, survei sistematis sejak 2011 mencatat sembilan spesies ikan di daerah aliran sungai ini. Tiga di antaranya endemik, yaitu Finke goby, Finke hardyhead, dan desert mogurnda, dan keberadaan mereka berkaitan erat dengan sejarah panjang lembah sungai itu sendiri. Ngarai Purba yang Menjadi Tempat Berlindung Julukan sungai tertua berangkat dari cara Finke memotong tegak lurus punggungan kuarsit Pegunungan MacDonnell dan Krichauff, yang terangkat dalam Orogeni Alice Springs sekitar 400 hingga 300 juta tahun lalu. Jalur yang menembus batuan keras itu ditafsirkan sebagai tanda bahwa sungai ini sudah mengalir sebelum atau bersamaan dengan pengangkatan tersebut. Dalam geologi, sungai seperti ini disebut antecedent. Angka ratusan juta tahun itu merupakan tafsiran, bukan hasil penanggalan langsung. Penanggalan kosmogenik dengan berilium-10&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/07/22061843/JUAL-BELI-SATWA-DI-PASAR-SPLINDID-MALANG-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134284</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa menjadi pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Para pelaku meyakini dengan membakarnya dapat menghilangkan ancaman sihir. Adhi Nurul Hadi, Kepala BKSDA NTT menegaskan, tindakan tersebut melanggar UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyebutkan pelaku terancam pidana hingga 15 tahun. Sebutan ‘burung hantu’ bukan sekadar julukan. Ada alasan biologis yang membuat burung ini lekat dengan gambaran hantu. Satwa ini memiliki sejumlah adaptasi untuk berburu pada malam hari. Dia punya pendengaran dan kemampuan penglihatan yang tajam dalam kondisi cahaya redup, dan kemampuan terbang nyaris tanpa suara. Di balik kesan seramnya, burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem. Berdasarkan riset Tirsyanto dkk, lebih dari 90% makanan Tyto alba adalah tikus sawah. Seekor burung dewasa bisa memangsa hingga 1.300 ekor per tahun. Bahkan, riset yang sama menunjukkan keberadaan rubuha (rumah burung hantu) dapat menekan kerusakan tanaman akibat tikus secara signifikan. Meski banyak yang mengaitkan dengan pertanda buruk, di sejumlah wilayah lain di Indonesia burung hantu justru dihormati, bukan ditakuti. Misalnya, di Minahasa, Sulawesi Utara, menganggap burung hantu sebagai pembawa pesan leluhur. Mereka percaya suaranya di malam hari sebagai petunjuk, bukan petaka. Pandangan tersebut turut melindungi burung hantu dari perburuan sehingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 02:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134269</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam hitungan keuntungan ekonomi, industri tersebut masih kalah dengan sektor pertanian dan kebun. Catatannya, sektor mineral/energi ekstraktif hanya menyumbang 8–10% PDB, sementara sektor pertanian dan perkebunan menyumbang 12–15%. Dia menilai kebijakan Prabowo dalam tata kelola dan penguasaan sumber daya terlalu berpihak pada oligarki, hingga mengabaikan fakta yang telanjang di lapangan. Oligarki pemerintah biarkan mengkavling hutan. “Sumber daya alam kita untuk kepentingan mereka [oligarki], tidak dikembalikan kepada rakyat.” Sisi lain, pemerintah pun meminggirkan pemulihan lingkungan. Seharusnya, pemulihan lingkungan bisa terjadi dengan merestorasi hutan yang terdegradasi lebih 10 juta hektar. Saat ini, katanya, ada lima provinsi yang teridentifikasi alami kehancuran sumber daya alam. Kalimantan Timur, salah satunya, karena masifnya pertambangan. Lalu, Sumatera Utara karena dominasi sawit. Riau karena industri pulp and paper. Papua karena eksploitasi mineral, begitu pun di Sulawesi Tengah. Malem Sambat (MS) Kaban, Menteri Kehutanan periode 2004-2009, menilai, tidak ada satu poin pun dalam Asta Cita yang fokus minimalisasi kerusakan lingkungan. Tak heran, sejak Prabowo jadi presiden, kerusakan lingkungan terus terjadi. Dia menyoroti sungai-sungai yang makin dangkal dan biodiversitas terancam. Hal ini bahkan terjadi di Jawa Barat, provinsi yang dekat dengan ibu kota. Laju deforestasi juga memperlihatkan tren kenaikan. Kaban menyebut, saat dia jadi menhut, luas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 00:01:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08043752/WhatsApp-Image-2026-05-07-at-6.22.13-PM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134281</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun melayangkan protes keras dengan mendatangi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Papua.  Bagi nelayan pesisir Papua, rumpon bukan hanya alat tangkap ikan namun juga “dapur” untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumpon yang mereka buat dari rudal besi bekas, tali, dan daun kelapa. Biasanya, ikan-ikan akan bertelur dan tinggal di sana, lalu nelayan memancing di sekitarnya.  “Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur,” ujar Kosmos Kendi, salah satu nelayan dari kelompok BW Woi.  Wilayah pesisir Distrik Jayapura Utara dan Selatan menjadi satu dari 10 area potensi blok migas baru yang  juga merupakan “piring makan” bagi masyarakat. Pemutusan rumpon ini membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Padahal, sekitar 4.200 keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan mereka merupakan pemasok penting ikan di pasar Jayapura.  “Saat (migas) belum beroperasi saja, rumpon dibasmi. Tak ada hasil sekarang. Kalau sudah beroperasi, kami tak bisa makan apa-apa.” kata Asbani, koordinator nelayan. Selain tidak ada sosialisasi pemutusan rumpon, mereka juga tidak menerima informasi terkait potensi proyek migas tersebut. Mereka khawatir akan dampak jangka panjangnya hingga ke anak cucu. Oleh karenanya, mereka menolak tegas karena nelayan yang menanggung kerugian jangka panjang. Seperti, tumpahan minyak akibat kebocoran kecil, pemasangan pipa dan pemasangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 10:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005012/Breadfruit2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134276</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September. Lahan tadah hujan menjadi salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/">Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September. Lahan tadah hujan menjadi salah satu yang rentan karena tidak memiliki akses irigasi memadai. Di tengah kekhawatiran terhadap produksi pangan, sejumlah penelitian menyoroti sukun (Artocarpus altilis) sebagai tanaman yang berpotensi dikembangkan di wilayah kering. Sukun adalah pohon berumur panjang yang dapat terus berbuah tanpa ditanam ulang setiap musim seperti padi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pohon yang telah tumbuh dengan baik mampu bertahan saat kekeringan berlangsung tiga hingga empat bulan. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti sukun dapat tumbuh di semua tempat tanpa memperhatikan kondisi lahannya. Penelitian Universitas Pattimura di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, mendapati sukun tetap tumbuh di wilayah dengan musim kemarau panjang. “Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Amat Reniwurwarin dan rekan-rekannya. Temuan tersebut memberi gambaran tentang kemampuan sukun bertahan dalam kondisi setempat. Sementara itu, tim Universitas Indonesia memetakan kesesuaian lahan budi daya sukun di Jawa Tengah. Hasil pemodelan mereka memperkirakan sekitar 28,35 persen luas provinsi tersebut saat ini sesuai untuk budi daya sukun. Penelitian itu juga memproyeksikan perubahan wilayah yang sesuai pada masa depan berdasarkan skenario iklim tertentu. Angka-angka ini menunjukkan potensi, tetapi tetap perlu diterjemahkan dengan memperhatikan kondisi tiap lokasi. Kajian lain yang diterbitkan di PLOS Climate memproyeksikan bahwa wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 06:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29040912/Kucing-kuwuk2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134307</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan kondisi negatif keberadaan kucing hutan sering kali berawal dari dua hal yang dianggap sederhana, yakni ketidaktahuan dan pengabaian. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” jelas Erwin, yang juga pendiri SINTAS, yayasan yang berfokus pada konservasi satwa liar, Jum’at (25/9/26). Jika kondisi tersebut terus berlangsung, upaya menjaga populasi kucing liar dilindungi ini akan semakin sulit. Penggunaan racun untuk membasmi hama seperti tikus atau bajing, ketika hama tersebut mati maka bangkainya berpotensi dimakan kucing kuwuk. Hal serupa terjadi pada penggunaan jerat yang tidak bisa memilih satwa sasaran. Padahal, kucing yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini punya peran menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. “Akibatnya, menimbulkan konsekuensi ekologis.” Kucing kuwuk yang habitatnya di pinggir hutan membuatnya tidak jarang bertemu manusia. Foto: Dok. Risa Adelia. Lantas, bagaimana cara mengenalkan kucing kuwuk pada masyarakat tanpa mendorong mereka untuk menangkap atau memelihara? Erwin katakan, edukasi konservasi bukan pekerjaan sederhana. Perubahan pola pikir manusia membutuhkan proses dan pendekatan berbeda, karena setiap kelompok masyarakat punya karakter serta kondisi beragam. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.” Pendekatan edukasi pada masyarakat urban tidak bisa disamakan dengan masyarakat yang tinggal di tepian hutan. Pesan konservasi perlu disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:38:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29052825/Polylepis_Tarapacana_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134318</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih tinggi lagi. Di Pegunungan Andes, ada satu jenis pohon yang tumbuh jauh di atas batas itu. Namanya Polylepis tarapacana, dan warga setempat menyebutnya queñua atau keñua. Di lereng Nevado Sajama, gunung tertinggi di Bolivia dengan puncak 6.542 meter di atas permukaan laut (mdpl), pohon ini tumbuh mulai sekitar 4.200 hingga 5.200 mdpl. Belum ada spesies pohon lain yang diketahui hidup setinggi itu. Selain di Bolivia, queñua juga tumbuh di dataran tinggi Altiplano yang masuk wilayah Chile, Argentina, dan Peru. Dua Cara Menghadapi Malam yang Membeku Pada ketinggian seperti ini, suhu malam bisa turun jauh di bawah titik beku. Bagi tumbuhan, kondisi tersebut berbahaya karena air di dalam jaringan dapat membentuk kristal es yang merusak sel. Pertanyaan tentang bagaimana queñua bertahan dalam kondisi itu diteliti oleh tim yang dipimpin Fermín Rada dari Universidad de Los Andes, Venezuela. Tim tersebut mengukur dua hal pada bagian-bagian pohon, yaitu suhu saat jaringan mulai rusak dan suhu terendah yang bisa dicapai jaringan sebelum membeku. Pengukuran dilakukan pada dua musim, yaitu musim kering yang dingin dan musim basah yang lebih hangat. Hasilnya lalu dibandingkan dengan suhu udara minimum yang tercatat di dekat permukaan tanah di Sajama. Daun berbulu halus dan bunga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22155947/Foto-C-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134242</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah. Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin. Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki. Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 04:29:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27090429/IMG_1981-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134234</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu masyarakat Pulau Seram, sebelum menancapkan tiang sasi di halaman kantor dewan. Bagi mereka, penancapan tiang sasi itu bukan sekadar prosesi adat, tetapi  sekaligus penegasan sikap atas wilayah adat yang menjadi ruang hidup dan warisan leluhur mereka. Bernard Lilihata, Ketua Majelis Latupati Kecamatan Tehoru, sekaligus Raja Negeri Hatumete katakan, kedatangan mereka ke kantor dewan untuk adukan berbagai persoalan. Di antaranya, polemik pemasangan tapal batas kawasan hutan produksi yang konversi (HPK), batas Taman Nasional Manusela. Juga untuk menuntut pengakuan masyarakat adat di 10 negeri Tehoru. Simbol sasi ini, katanya,  memiliki dua makna. Pertama, larangan bagi siapa pun, dengan maksud apa pun, untuk mengambil alih atau memiliki hutan-hutan adat di  Kecamatan Tehoru. Kedua,  sebagai simbol persatuan dan kekuatan masyarakat dalam menjaga wilayah itu. “Orang yang menjaga merasa bahwa dia tidak sendiri. Karena ada simbol dari sepuluh negeri ini yang bersama-sama menjaga tanah ini,” ujarnya. Masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru berjalan bersama menuju Kantor DPRD Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (9/9/26). Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Bernard katakan, penancapan tiang sasi di halaman DPRD bukan tanpa alasan. Bagi Masyarakat Adat Tehoru, lembaga legislatif merupakan representasi rakyat yang mereka harapkan bisa meneruskan suara mereka kepada pemerintah. Mereka berharap,  DPRD&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>