<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ahmad-supardi-palembang&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ahmad-supardi-palembang/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2026 11:12:02 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 11:11:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07110649/Julang-emas_rangkong-Indonesia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134638</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa tengah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong dari rekannya bernama Anto, warga Jepara, pukul 22.00 WIB. Tanpa menunggu pagi, dia bersama rekannya ke lokasi untuk mengevakuasi burung tersebut. Saat di lokasi, tampak rangkong berada di kandang ayam di belakang rumah warga. Proses evakuasi tidak mudah karena kadangnya kecil, sedangkan tubuh rangkong besar. Menurut Setyawan, dilihat dari fisiknya ada kerusakan pada bagian ekor dan bulu. Selain itu, kakinya menunjukkan pernah patah. Tulang bagian paha sudah menyambung, tapi tidak dalam posisi normal. “Patahnya sudah lama,” jelasnya, Rabu (30/9/26). Persoalan penting burung ini adalah asal-usulnya. Jika asalnya dari hutan Sumatera atau Kalimantan, maka melepasnya di Jawa tidak sesuai dengan habitat alaminya. “Identifikasi jenis dan penelusuran asal-usul sangat penting, sebelum menentukan lokasi pelepasliaran.” Kasus ini juga mengingatkan Setyawan akan rangkong di hutan Muria masa lalu yang pernah terapantau di pohon beringin berbuah. “Waktu itu ada lima ekor. Kini, sulit dijumpai.” Julang emas [Rhyticeros undulatus] yang memiliki tubuh besar. Foto: Riki Rahmansyah/Rangkong Indonesia. Langkah positif Yokyok Hadiprakarsa, ahli biologi konservasi satwa liar sekaligus pendiri Rangkong Indonesia, mengidentifikasi burung tersebut sebagai julang emas jantan muda. Menurutnya, penyerahan satwa masyarakat merupakan langkah positfi. Namun, asal-usulnya perlu ditelusuri lebih jauh. Ini penting, untuk mengetahui apakah satwa tersebut sebelumnya dipelihara sejak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17090820/manusia-purba-flores-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134555</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua. “Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti. Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis. Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth &amp; Environment pada Desember 2025. Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis. Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua. “Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 09:25:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07092013/varanidae-varanus-macraei-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134629</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak yang hidup di pohon dan memiliki ekor yang mampu menggenggam cabang.Salah satu anggotanya adalah biawak pohon biru (Varanus macraei), yang menghuni Pulau Batanta di Raja Ampat dan sejauh ini hanya diketahui hidup di sana. Spesies ini baru dideskripsikan secara ilmiah pada 2001 oleh Wolfgang Böhme dan Hans J. Jacobs, dengan nama yang diambil dari herpetolog Duncan Malcolm MacRae. Kini statusnya Endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN, sementara pengetahuan tentang kehidupannya di alam liar masih sangat terbatas. Corak biru, ekor panjang, dan ukuran tubuh Biawak pohon biru termasuk kelompok prasinus dan subgenus Hapturosaurus, yang juga mencakup biawak pohon hijau (Varanus prasinus). Pada awal abad ke-21, jumlah spesies dalam kelompok ini bertambah setelah Varanus macraei, V. boehmei, dan V. reisingeri dideskripsikan. Tubuh biawak pohon biru berwarna hitam dengan sisik biru yang tersebar. Sisik-sisik itu membentuk bintik melingkar yang disebut ocelli, dan pada sebagian individu bintik tersebut menyambung menjadi pita melintang di punggung. Jumlah pita punggungnya kurang dari sembilan. Sebagian besar pengetahuan tentang biawak pohon biru (Varanus macraei) berasal dari satwa penangkaran, bukan dari penelitian di alam liar. Foto: Petr Kratochvil/PublicDomainPictures.net. Ujung moncongnya berwarna biru muda, sedangkan tungkainya dipenuhi bintik biru kehijauan. Satu baris sisik biru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 06:28:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134607</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, dia menanyakan kondisi sang anak usai melihat video penyiksaan yang keponakannya tunjukkan. “Bagaimana keadaan nak? Alhamdulillah baik, Umi, katanya gitu. Apa yang sakit? Seluruh badan sakit, dia bilang. Apa lagi yang sakit? Telinga kiri saya tidak bisa mendengar, lalu perut saya sakit. Di bagian kaki juga masih ada sakit,” ujar Siti menirukan percakapan dengan Ilyas dikutip dari keterangan Polres Tanjung Priok yang Mongabay terima. Ilyas, satu dari empat awak yang mengalami penyiksaan di atas kapal KM Maulana 23. Video penyiksaan Ilyas  dan korban lain, Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra–viral di media sosial pada 30 September. Dalam video itu, terlihat para pelaku mencelupkan tubuh Ilyas ke bak berisi air lalu menginjak dan memukulinya berkali-kali. Muka para korban juga nampak babak belur. Bahkan, terdapat sejumlah luka di bagian telinga, kepala, hingga hidung. Usai video penyiksaan itu viral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap KM Maulana 23 pada Jumat (2/10/26) sekitar pukul 14.30 WIT di perairan Kepulauan Aru. Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) mengatakan, saat petugas patroli KP Hiu 14 menangkapnya, KM Maulana 23 sedang menggunakan alat pancing cumi. Kapal bertonase 89 gross tonnage (GT)) itu, memuat sekitar satu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 04:30:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004325/moa-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134598</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. Amok, panggilan akrabnya, bilang, perempuan sulit mengembangkan diri di kampungnya. Selain suami dan keluarga melarang, akses informasi juga sulit. Listrik dan internet belum masuk. Dia pun harus ketuk satu per satu pintu dan meyakinkan para suami jika ingin mengajak keluar istri mereka untuk berkegiatan di luar, termasuk belajar bersama. Istri Ondoafi atau pemimpin adat ini mulai aktif dalam pertemuan-pertemuan adat medio 2010-2014. Meski upaya itu tidak semua berhasil. Tahun 2016, perjuangan mulai berbuah. Satu per satu perempuan mulai berani tampil. Amok bahkan berhasil menduduki posisi pengurus di kampungnya. Dia juga jadi ketua Posyandu hingga Ketua Persekutuan Wanita Kristen (PWK). Banyak hal yang dia kerjakan. Misal, beberapa kali bolak-balik ke Jayapura mencari pendanaan untuk kampungnya. Sejumlah pendanaan dari organisasi non-profit sampai kementerian masuk. Kini, di Sawesuma sudah ada sekolah alternatif untuk para perempuan yang tidak mendapat akses pendidikan formal atau putus sekolah, listrik pun sudah masuk. Para perempuan semakin diakui kemampuannya. Selain aktif di kampungnya, Amok juga aktif dalam organisasi Perempuan AMAN, perkumpulan perempuan adat dari seluruh penjuru nusantara. Organisasi sayap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) itu sudah berdiri sejak 2012, beranggotakan 5.000 lebih perempuan adat. Itu yang membuat dia dan perempuan-perempuan adat lain akan kumpul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16094527/DSCF5260-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134450</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, nusa tenggara, dan perikanan dan kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan serupa. Ia berhenti menangkap hiu pada 2010, sempat menjadi nelayan tradisional, lalu beralih ke wisata bahari. Selain pendapatan, jarak dengan keluarga menjadi pertimbangannya. Kini, ia mengatakan dapat memperoleh Rp150.000-Rp200.000 sehari ketika mengantar wisatawan, dengan perjalanan yang lebih pendek. Kisah mereka berlangsung di salah satu lokasi pendaratan hiu dan pari yang besar. Selama dua tahun pemantauan, peneliti mencatat lebih dari 13.000 hiu dan pari dari 57 spesies didaratkan di Tanjung Luar. Namun, menurut Alimuddin dan Agip, nilai perdagangan itu tidak selalu membawa kesejahteraan bagi awak kapal. Keduanya mengeluhkan pembagian hasil yang tidak transparan, beban biaya operasional, dan utang ketika tangkapan tidak menutupi ongkos perjalanan. Awak juga disebut harus ikut menanggung perbaikan kapal serta biaya pengobatan sendiri. Kondisi tersebut membuat peralihan pekerjaan menjadi bagian penting pembicaraan tentang konservasi hiu. Yayasan Kebersamaan untuk Lautan (KUL) pernah memberikan kompensasi kepada nelayan yang melepaskan hiu dan pari hidup. Program itu tidak berjalan sesuai harapan. Dalam setahun, hanya tiga hiu dilepaskan. Bahkan ketika kompensasi dinaikkan, menurut Sekretaris KUL M. Said Ramdlan, tekanan dari pengepul, pemilik kapal, dan permintaan pasar tetap menyulitkan pelepasliaran. KUL kemudian membeli dua kapal penangkap hiu, masing-masing seharga Rp300 juta, lalu memensiunkannya secara permanen. Kedua kapal tercatat menangkap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 21:26:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Firdaus Cahyadi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/06211923/ESDM--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134602</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (KESDM) terkait hasil lelang penawaran langsung wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) Natuna D-Alpha. Keputusan KESDM itu memenangkan perusahaan yang kaitan dengan Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Dari kacamata bisnis, itu mungkin berita wajar saja, tetapi dari kacamata diplomasi iklim, itu kabar buruk karena dapat memperlemah posisi diplomasi Indonesia di kancah internasional. Kenapa demikian? Setidaknya,  ada dua penyebab. Pertama, blok migas D-Alpha memiliki kandungan CO2 hingga sekitar 72%. Belum ada perusahaan yang pernah memisahkan kandungan CO2 sebesar itu. Artinya,  blok migas itu akan berpotensi menjadi bom karbon dari Indonesia. Andaikan berhasil pun itu akan berbiaya mahal. Konsekuensinya, negeri ini akan tersandera ekonomi berbasiskan energi fosil. Kuncian ekonomi berbasis fosil itu melalui pembangunan dan perawatan infrastruktur fisik, ekonomi dan politiknya (kebijakan). Makin lama kuncian ekonomi berbasis energi fosil itu, akan makin lama energi terbarukan masuk dalam sistem energi Indonesia. Kedua, persoalan etika publik dalam pengambilan kebijakan energi. Perusahaan yang akan bekerja di blok migas itu berkaitan dengan sosok Hashim Djojohadikusumo. Dia bukan hanya adik Presiden Prabowo Subianto, juga Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Bagaiamana mungkin seorang Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim justru dikaitkan dengan bisnis migas yang emisinya justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/30145056/telaga-ranjeng1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134557</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal Banyumas. Larangan mengambil ikan telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Kepercayaan bahwa mengganggu ikan dapat mendatangkan kejadian buruk membuat warga menjaga kehidupan di dalam telaga. “Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,” ujar Sirin, warga setempat. Telaga Ranjeng, atau Tlogoranjeng, berada pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan cagar alamnya memiliki luas 53,41 hektar. Perlindungan kawasan ini berjalan bersama kebiasaan masyarakat untuk tidak menangkap ikan, menebang pohon, maupun mencemari hutan dan telaga. Jamal, penjaga Telaga Ranjeng yang telah bertugas selama 15 tahun, mengatakan ekosistemnya masih terjaga. Menurutnya, lele dan ikan mas tidak selalu terlihat bersamaan. Ada masa ketika hanya salah satunya muncul, bahkan ikan pernah tidak terlihat pada 2017-2019. “Kadang, lele tidak muncul dalam beberapa waktu, namun bukan karena punah,” jelasnya. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tidak terlihatnya ikan di permukaan belum tentu berarti ikan telah hilang dari telaga. Jamal menyebut, setelah masa itu, lele kembali muncul bersama ikan mas. Penelitian Nugraha dan Novianto dari Universitas PGRI Yogyakarta menjelaskan bahwa mitos larangan mengganggu ikan memiliki fungsi konservasi. Kepercayaan tersebut membantu melindungi ikan sekaligus ekosistem tempatnya hidup. “Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 09:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/07/22045910/Falahi-Mubarok-Kunjungan-Kerja-Menteri-KKP-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134588</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pangan, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah video siniar berjudul “Ancaman Superbug, Hewan Beracun, Nutrilevel” mendadak ramai jadi perbincangan di Indonesia. Tayangan tersebut pertama kali muncul pada 28 Juli 2026 dan sudah ditonton 163 ribu kali. Satu bahasan paling menarik adalah ikan karang, khususnya kakap merah yang disebut mengandung racun. Nara sumber pada menit 14.05 mengatakan kalau kakap merah mengandung racun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/">Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah video siniar berjudul “Ancaman Superbug, Hewan Beracun, Nutrilevel” mendadak ramai jadi perbincangan di Indonesia. Tayangan tersebut pertama kali muncul pada 28 Juli 2026 dan sudah ditonton 163 ribu kali. Satu bahasan paling menarik adalah ikan karang, khususnya kakap merah yang disebut mengandung racun. Nara sumber pada menit 14.05 mengatakan kalau kakap merah mengandung racun bernama ciguatoksin. Dia menekankan, ikan tersebut berbahaya dikonsumsi, jika bobotnya lebih dari 2 kilogram. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat dua unggahan di sosial media tentang itu. Pada dua video singkat yang diunggah Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) KKP, terdapat klarifikasi tentang pernyataan racun pada ikan kakap merah di atas 2 kg. Nurjanah, Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, tidak membantah pernyataan dari siniar tersebut. Hanya, dia meyakinkan publik kalau ikan kakap merah dari Indonesia yang beredar di pasar dalam dan luar negeri, sudah melewati keamanan pangan. Kepada Mongabay, Jumat (18/9/26), dia meyakinkan bahwa belum ada kasus ciguatoksin terkonfirmasi di Indonesia. Racun yang menyebabkan ciguatoksin masih sangat terbatas dan perlu penguatan lebih bagus lagi. “Data pemetaan wilayah berisiko masih belum lengkap.” Nurjanah bilang, kasus keracunan ciguatoksin lebih sering ditemukan di kawasan pasifik dan subtropis. Mendeteksi ciguatoksin tidak mudah, karena Indonesia belum memiliki metode yang sesuai dan cepat. Deteksi ciguatoksin juga masih sangat rendah, hanya 0,6 parts per billion (ppb). Artinya, dalam setiap 1 kg ikan, kandungan ciguatoksin yang terdeteksi sekitar 0,6 mikrogram (µg). Jika ciguatoksin masuk dan terakumulasi pada ikan berobot di atas 2 kg,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 07:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/06000144/Warga-bersama-personel-kepolisian-melakukan-pemadaman-di-lokasi-kebakaran-di-Desa-Gambut-Jaya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134518</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Anggrek Nusantara di Hutan yang Kian Menyempit dan Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) parah 2026 bikin gagap dan kelabakan pemerintah. Mereka pun berencana menghidupkan kembali lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove, setelah mereka bubarkan 31 Desember 2024. Sebelumnya, Indonesia punya badan restorasi gambut, pasca karhutla hebat 2015, kemudian jadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Pada Kamis-Jumat (1-2/10/26), puluhan pakar dan akademisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/">Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) parah 2026 bikin gagap dan kelabakan pemerintah. Mereka pun berencana menghidupkan kembali lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove, setelah mereka bubarkan 31 Desember 2024. Sebelumnya, Indonesia punya badan restorasi gambut, pasca karhutla hebat 2015, kemudian jadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Pada Kamis-Jumat (1-2/10/26), puluhan pakar dan akademisi mondar-mandir Gedung Manggala Wanabakti, Kantor Kementerian Kehutanan, di Jakarta. Mereka membagikan keahlian mereka untuk penyusunan arah kerja dan mandat Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Sejak Presiden Prabowo mencetuskan ide pembentukan badan itu pasca rapat terbatas dengan sejumlah pakar di Istana Negara, Kamis (26/09/26), masyarakat sipil mewanti-wanti agar badan baru itu tidak hanya respons panik. Melainkan upaya sungguh-sungguh pemerintah untuk memperbaiki tata kelola gambut di dalam ataupun luar konsesi yang kerap terbakar. “Dari awal pertemuan, saya tekankan, kalau mau (BPGMN) lebih baik dari BRG (Badan Restorasi Gambut) dan BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove), maka (lembaga ini) jangan ad hoc,” kata Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut, pada Mongabay. Jadi, BPGMN tidak lagi bekerja dalam kurun waktu tertentu dan bubar setelah target tercapai seperti pendahulunya. Belasan individu bekantan ditemukan mati terbakar ketika karhutla melanda Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026). Foto: Relawan pemadam kebakaran HSS. Perkuat kewenangan Usulan penguatan badan itu terus bermunculan. Salah satunya, kata Wahyu, ihwal peningkatan supervisi kawasan gambut di konsesi. Sebelumnya, hanya BRG yang memiliki kemampuan itu, itu pun tidak berjalan mulus karena inspeksi  mereka pernah dapat adangan perusahaan. Usulan BPGMN&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Satu pun Jembatan di Sepanjang 6.000 Km Sungai Amazon, Satu Jembatan Diperkirakan Naikkan Deforestasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 03:40:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/02031127/river-3443219_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134575</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sungai besar umumnya dilintasi banyak jembatan, dan keberadaannya sering dianggap penanda terhubungnya suatu wilayah. Jalan raya dan jalur kereta biasanya menyeberangi sungai lewat jembatan, sehingga kota di kedua tepinya terhubung dalam satu jaringan darat. Amazon menjadi pengecualian yang mencolok. Di sepanjang batang utamanya yang membentang lebih dari 6.000 kilometer, tidak ada satu pun jembatan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/">Tak Ada Satu pun Jembatan di Sepanjang 6.000 Km Sungai Amazon, Satu Jembatan Diperkirakan Naikkan Deforestasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sungai besar umumnya dilintasi banyak jembatan, dan keberadaannya sering dianggap penanda terhubungnya suatu wilayah. Jalan raya dan jalur kereta biasanya menyeberangi sungai lewat jembatan, sehingga kota di kedua tepinya terhubung dalam satu jaringan darat. Amazon menjadi pengecualian yang mencolok. Di sepanjang batang utamanya yang membentang lebih dari 6.000 kilometer, tidak ada satu pun jembatan yang melintang, sehingga orang dan barang bergerak dengan kapal, feri, dan perahu cepat. Bagi para peneliti, ketiadaan itu menarik karena jalan termasuk pendorong utama deforestasi di Amazon, sehingga setiap penyeberangan darat baru berpotensi mengubah kondisi hutan di sekitarnya. Namun, Amazon bukan wilayah tanpa jembatan sama sekali. Di Manaus, pusat ekonomi terbesar di Amazon Brasil, sebuah jembatan sepanjang 3,6 kilometer melintasi Rio Negro, anak sungai besar Amazon, dan selesai dibangun pada 2011. Jembatan itu menghubungkan Manaus dengan Iranduba, kota kecil di tepi seberang, tetapi tidak menyeberangi batang utama Amazon. Sebuah simulasi dari peneliti Brasil memperkirakan jembatan itu dapat menaikkan deforestasi di dua kota di seberangnya hingga 33 persen dibanding skenario tanpa jembatan, atau 27,7 persen bila tiga kota yang diteliti dihitung bersama. Angka itu berasal dari pemodelan, bukan pengukuran langsung di lapangan, sehingga lebih tepat dibaca sebagai perkiraan arah dampak. Mengapa Batang Utama Amazon Tak Pernah Dijembatani Menurut Walter Kaufmann, pakar rekayasa struktur dan desain jembatan di Swiss Federal Institute of Technology (ETH) Zurich, alasan utamanya adalah belum adanya kebutuhan yang cukup mendesak. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar aliran Amazon melewati wilayah berpenduduk jarang dengan sedikit jalan besar yang bisa disambungkan ke sebuah jembatan. Di kota-kota tepi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Sejak 445 Juta Tahun Silam, Apakah Belangkas dan Kepiting Tapal Kuda Jenis yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 02:20:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/03/22040752/BELANGKAS-MATI-TERLILIT-JARINGFAM_6897-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134556</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Perikanan Kelautan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata. Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/">Hidup Sejak 445 Juta Tahun Silam, Apakah Belangkas dan Kepiting Tapal Kuda Jenis yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata. Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu. Jejak kelompok ini menjangkau sekitar 445 juta tahun silam, berdasarkan temuan spesies purba Lunatapis aurora di Kanada. Tubuh belangkas terbagi menjadi tiga bagian yang saling terhubung. Bagian depan berbentuk tapal kuda lebar, diikuti abdomen yang lebih kecil dan bersegmen, serta ekor panjang dan tajam yang disebut telson. Penampilan inilah yang membuatnya mudah dikenali. Buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda”, terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji pada 2025, mencatat tiga spesies di Indonesia: Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Ketiganya tersebar di berbagai wilayah pesisir, dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga Sulawesi. Satu spesies lainnya, Limulus polyphemus, hidup di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara. Dengan demikian, tiga dari empat spesies kepiting tapal kuda yang disebut dalam artikel dapat ditemukan di Indonesia. Keunikan belangkas juga terletak pada darahnya yang berwarna biru. Warna tersebut berasal dari tembaga, berbeda dengan darah manusia yang memperoleh warna merah dari besi. Darah biru ini memiliki manfaat penting dalam bidang kesehatan. Bahan yang diperoleh darinya digunakan untuk mendeteksi endotoksin bakteri berbahaya pada produk seperti obat intravena dan vaksin sebelum digunakan manusia. Tes tersebut dikenal sebagai Limulus amoebocyte lysate atau LAL. Namun, manfaat belangkas tidak berhenti pada kebutuhan manusia. Di lingkungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Perkembangan Kasus 5 Bayi Orangutan di Hutan India</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 02:05:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sri Wahyuni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14091318/Orangutan-Sumatera-di-SRA-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134566</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Awal September lalu, temuan mengejutkan dari India. Lima anak orangutan dari Indonesia berada dalam hutan di Odisha. Berbagai kalangan mendorong agar penanganan segera mengingat orangutan masih bayi serta penanganan menyeluruh dari mengusut penerima di India sampai jaringan di Indonesia. Kelima orangutan itu Dinas Kehutanan di India temukan pada 8 September 2026 di hutan Blok Bhogarai/Udaipur, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/">Menanti Perkembangan Kasus 5 Bayi Orangutan di Hutan India</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Awal September lalu, temuan mengejutkan dari India. Lima anak orangutan dari Indonesia berada dalam hutan di Odisha. Berbagai kalangan mendorong agar penanganan segera mengingat orangutan masih bayi serta penanganan menyeluruh dari mengusut penerima di India sampai jaringan di Indonesia. Kelima orangutan itu Dinas Kehutanan di India temukan pada 8 September 2026 di hutan Blok Bhogarai/Udaipur, wilayah Jaleswar, Distrik Balasore. Lokasi itu berada dekat perbatasan Odisha dengan Negara Bagian Bengal Barat. Berdasarkan informasi awal Kementerian Kehutanan, kelima orangutan masih berusia sekitar 1-1,5 tahun dan dalam kondisi sehat. Saat ini,  mereka di Nandankanan Zoological Park, Bhubaneswar, India, untuk mendapatkan perawatan. Julius, Ketua Forum Konservasi Orangutan Sumatera (Fokus), mengatakan, sudah berkomunikasi dengan Kemenhut dan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, menyatakan kesiapan mendukung proses repatriasi kelima satwa itu ke Indonesia. Menurut dia, proses repatriasi lima bayi orangutan dari India perlu segera karena usia mereka masih sekitar 1-1,5 tahun. Pada usia itu, orangutan masih membutuhkan penanganan khusus dan rentan apabila tidak mendapatkan perawatan yang tepat. “Bayi itu harus khusus penanganannya. Kalau sampai terlambat bisa jadi bayi-bayi orangutannya, karena masih muda sekali, masih 1-1,5 tahun dan cukup rentan. Bayi orangutan seperti itu kalau penanganannya tidak cepat atau penanganannya salah,” ujarnya. Dia mengatakan, kehilangan induk membuat kebutuhan perawatan menjadi makin penting, termasuk pemenuhan asupan makanan yang sesuai. “Karena mereka kan butuh, pastinya asupan makanan seperti susu. Namanya kehilangan induk, itu rentan dengan bayi yang sangat kecil,” katanya. Berdasarkan ciri fisik yang terlihat dalam informasi awal, kelima satwa kemungkinan merupakan orangutan Sumatera, namun kepastian spesies dan asal-usul tetap memerlukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Melawan, Jaga Alam dari Industri Perusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 15:25:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05151655/naem-petani-tolak-batubara--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134559</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika ruang hidup atau lingkungan rusak karena pembangunan maupun industri ekstraktif, para perempuan banyak berada di depan melawan. Perlawanan tak selalu berlangsung di ruang sidang atau aksi di jalan, justru tumbuh dari dapur, kebun, sumber air, hingga pertemuan rutin warga. Kisah-kisah ini terangkum dalam buku Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/">Para Perempuan Melawan, Jaga Alam dari Industri Perusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika ruang hidup atau lingkungan rusak karena pembangunan maupun industri ekstraktif, para perempuan banyak berada di depan melawan. Perlawanan tak selalu berlangsung di ruang sidang atau aksi di jalan, justru tumbuh dari dapur, kebun, sumber air, hingga pertemuan rutin warga. Kisah-kisah ini terangkum dalam buku Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan Ekstraktivisme yang rilis 25 September lalu. Buku yang Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dokumentasikan ini merekam pengalaman perempuan di sejumlah wilayah yang berhadapan dengan ekspansi pertambangan maupun proyek ekstraktif lainnya, seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara sampai Halmahera. Dokumentasi Jatam ini menunjukkan perlawanan perempuan berlangsung di berbagai daerah. Eros Fengi atau Mama Eros, dari Desa Ladja, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) cerita soal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko yang mempengaruhi sumber air warga. Sungai Tiwu Bala,  dekat rumah Mama Eros merupakan sumber air untuk operasi PLTP Mataloko. Mama Eros dengan para perempuan di Ladja mengorganisir diri. Mereka membentuk forum dan mengajak para paroki untuk lakukan demonstrasi. “Setiap satu bulan sekali, kami (perempuan) lakukan pertemuan di balai desa,” katanya dalam diskusi dalam rangkaian acara Jatam bertema “Ekstraktivitasme Berkedok Transisi Energi.” Dua lubang di sumur pertama PLTP Daratei Mataloko yang dianggap oleh warga sekitar mengganggu aktivitas dan berdampak lingkungan. Foto: Ebed de Rosary. Pertemuan itu menjadi ruang bagi perempuan untuk membicarakan kondisi kampung sekaligus menyusun strategi menghadapi proyek panas bumi. Perlawanan lain datang dari Desa Sumber Sari, Kalimantan Timur. Iberna Kristin, warga Sumber Sari, mengatakan,  masyarakat menolak rencana pertambangan batubara sejak 2013. Hingga kini, warga masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Tubuh hingga Pola Makan, Ular “Pemenang Evolusi” Dibanding Reptil Lain</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-tubuh-hingga-pola-makan-ular-pemenang-evolusi-dibanding-reptil-lain/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-tubuh-hingga-pola-makan-ular-pemenang-evolusi-dibanding-reptil-lain/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 10:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234751/Diadophis_punctatus_5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134501</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari ular laut berbisa hingga ular kecil yang menggali tanah untuk mencari semut dan rayap, ular memiliki cara hidup yang sangat beragam. Sekitar 4.000 spesies telah dikenal di dunia. Bagaimana kelompok reptil tanpa kaki ini mampu berkembang menjadi begitu banyak bentuk dan menempati berbagai lingkungan? Penelitian dalam jurnal Science menunjukkan bahwa ular memiliki “jam evolusi” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-tubuh-hingga-pola-makan-ular-pemenang-evolusi-dibanding-reptil-lain/">Dari Tubuh hingga Pola Makan, Ular “Pemenang Evolusi” Dibanding Reptil Lain</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari ular laut berbisa hingga ular kecil yang menggali tanah untuk mencari semut dan rayap, ular memiliki cara hidup yang sangat beragam. Sekitar 4.000 spesies telah dikenal di dunia. Bagaimana kelompok reptil tanpa kaki ini mampu berkembang menjadi begitu banyak bentuk dan menempati berbagai lingkungan? Penelitian dalam jurnal Science menunjukkan bahwa ular memiliki “jam evolusi” yang berdetak lebih cepat dibandingkan kadal. Kemampuan tersebut memungkinkan mereka mengembangkan ciri baru, mengubah pola makan, dan memanfaatkan peluang yang muncul ketika lingkungan berubah. “Jika dibandingkan dengan kadal, ular telah mengalami perubahan yang relatif cepat dan terus melakukannya sepanjang waktu,” kata Daniel Rabosky, ahli biologi evolusi dari Universitas Michigan. Untuk menelusuri keberhasilan itu, para peneliti mempelajari kelompok Squamata, yang mencakup ular dan kadal. Mereka menganalisis genom hampir 1.000 ular dan kadal, serta menelaah pola makan melalui isi perut lebih dari 60.000 spesimen museum dan pengamatan lapangan. Data tersebut digunakan untuk membangun pohon evolusi yang memperlihatkan perubahan tubuh dan makanan sepanjang waktu. Dengan bantuan model matematika dan statistik, tim kemudian membandingkan perjalanan evolusi kedua kelompok reptil tersebut. Hasilnya, ular mengalami beberapa ledakan evolusi dan berkembang sekitar tiga kali lebih cepat dibandingkan kadal dalam hal keragaman. Setelah diperkirakan muncul sekitar 128 juta tahun lalu, ular mengalami lonjakan perubahan pada periode Kapur. Ledakan berikutnya berlangsung setelah dinosaurus punah pada akhir periode tersebut. Dunia yang berubah membuka peluang bagi ular untuk mengeksplorasi makanan baru. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa keragaman pola makan ular meningkat pesat setelah kepunahan dinosaurus, ketika mamalia mulai mendapatkan pijakan. Keberhasilan ini berkaitan dengan kelenturan ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-tubuh-hingga-pola-makan-ular-pemenang-evolusi-dibanding-reptil-lain/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-tubuh-hingga-pola-makan-ular-pemenang-evolusi-dibanding-reptil-lain/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Korban Gempa NTT Meninggal Dunia di Pengungsian </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/ratusan-korban-gempa-ntt-meninggal-dunia-di-pengungsian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/ratusan-korban-gempa-ntt-meninggal-dunia-di-pengungsian/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 09:45:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/04170531/2C-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134511</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebulan lebih berlalu, penanganan korban bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) memprihatinkan. Menyusul  ratusan warga korban gempa  meninggal dunia di tempat pengungsian. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 28 September, korban jiwa akibat gempa dengan magnitudo 7,7 mencapai 156 orang. Tragisnya, dari angka itu, sebagian besar justru meninggal dunia di pengungsian, sebanyak 108 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/ratusan-korban-gempa-ntt-meninggal-dunia-di-pengungsian/">Ratusan Korban Gempa NTT Meninggal Dunia di Pengungsian </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebulan lebih berlalu, penanganan korban bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) memprihatinkan. Menyusul  ratusan warga korban gempa  meninggal dunia di tempat pengungsian. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 28 September, korban jiwa akibat gempa dengan magnitudo 7,7 mencapai 156 orang. Tragisnya, dari angka itu, sebagian besar justru meninggal dunia di pengungsian, sebanyak 108 orang. Sisanya 48 orang, meninggal dunia saat gempa terjadi. BNPB mengkategorikan ratusan korban jiwa itu sebagai kematian tidak langsung karena berkaitan dengan penyakit penyerta, usia, dan penurunan kondisi kesehatan pascabencana. Beberapa korban yang meninggal di pengungsian juga BNPB sebut memiliki penyakit kronis. “Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis,” kata Berton SP. Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengutip afu.id. Menurut dia, kematian pascagempa tidak hanya terjadi pada lansia dengan penyakit bawaan. Tetapi, juga usia produktif akibat hipoglikemia, serangan jantung, memburuknya kondisi setelah gempa susulan, hingga kelelahan ekstrem. Satu anak dan bayi juga tercatat sebagai korban meninggal dunia karena gangguan kesehatan. Dalam beberapa kasus, kematian tidak langsung  juga berkaitan dengan kondisi korban yang syok, tekanan mental, trauma akibat gempa susulan, dan juga depresi. Bangunan rumah di Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka yang rusak akibat gempa Flores. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. 24.027 warga masih mengungsi Selain ratusan korban meninggal, BNPB juga mencatat 1.620 korban luka atau sakit. Sekitar 24.027 orang juga masih berada di pengungsian. Sebanyak 2.147 rumah warga dan 157 fasilitas kesehatan alami kerusakan. Selain itu, 687 kantor,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/ratusan-korban-gempa-ntt-meninggal-dunia-di-pengungsian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/ratusan-korban-gempa-ntt-meninggal-dunia-di-pengungsian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 06:00:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30101450/ikan-di-penjualan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134436</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Perikanan Kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/">Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan gangguan tersebut pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk ikan di unit pembenihan tidak matang gonad sehingga produksi benih terhambat. “Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya. Persoalan ini penting karena perikanan budidaya semakin diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Laporan FAO, The State of World Fisheries and Aquaculture 2024, mencatat produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. FAO menilai akuakultur akan menjadi bagian penting sistem pangan masa depan, sementara produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Agus menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan benih. Hormon dapat membantu mengatur proses reproduksi dan memicu pemijahan. Namun, I Ketut Sugama, Profesor Riset Akuakultur BRIN, mengingatkan bahwa penggunaannya perlu dilakukan dengan hati-hati. Menurut Sugama, menghadapi perubahan lingkungan juga membutuhkan benih unggul yang tahan penyakit, mampu menghadapi perubahan kondisi, dan tumbuh cepat. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pemuliaan serta pendekatan genetika. Dengan demikian, upaya menjaga produksi tidak hanya bertumpu pada pengaturan reproduksi. Pengelolaan air juga menjadi bagian penting. Sugama menyebut Recirculating Aquaculture System atau RAS, sistem yang menyaring dan mengolah air agar dapat digunakan kembali. Sensor membantu mendeteksi perubahan kadar oksigen, peningkatan amonia, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 04:05:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/14071256/9.-Warga-melewati-banjir-di-Meurah-Dua-Pidie-Jaya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134534</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, infrastruktur, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lebih dari dua dekade, kata &#8220;megathrust&#8221; kembali memenuhi linimasa dan memicu kepanikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dan dikelilingi sejumlah zona subduksi menjadikannya sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat dari 14 segmen zona megathrust. BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/">Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lebih dari dua dekade, kata &#8220;megathrust&#8221; kembali memenuhi linimasa dan memicu kepanikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dan dikelilingi sejumlah zona subduksi menjadikannya sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat dari 14 segmen zona megathrust. BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bermagnitudo besar di 14 segmen zona megathrust Indonesia. Kawasannya membentang luas, meliputi segmen Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotabato, serta Filipina Selatan dan Tengah. Melalui rilis di akun resmi lembaga tersebut disebutkan bahwa peta sebaran patahan aktif hasil pemutakhiran data bersama Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), dipublikasikan bukan sebagai prediksi waktu kepastian bencana, melainkan sebagai panduan strategis berbasis data ilmiah untuk memperkuat sistem mitigasi evakuasi mandiri serta tata ruang wilayah pesisir sejak dini. Warga Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh, harus mengungsi akibat wilayah mereka diterjang banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Apa Itu megathrust? Supartoyo, Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik, ketika satu lempeng menghunjam ke bawah lempeng lainnya. Mega berarti besar dan thrust berarti patahan naik. Zona ini berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih. Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust yang tersebar di sepanjang wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Sulawesi dan Halmahera. Gempa Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah contoh bencana dari zona semacam ini. Meski waktu, lokasi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tulang Raksasa di Tambang Batu Bara India Dikira Buaya, Ternyata Ular Sepanjang 15 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 03:42:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05034146/Vasuki_indicus_edited-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134532</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fosil ular umumnya ditemukan sebagai tulang belakang lepas, bukan kerangka utuh. Tubuh ular tersusun dari ratusan ruas tulang belakang, tetapi yang terawetkan di dalam batuan biasanya hanya segelintir, dan tengkorak yang rapuh jarang ikut terawetkan. Ruas-ruas itu bisa sulit dibedakan dari tulang reptil lain bila hanya sebagian yang tersedia. Pada sejumlah kelompok ular purba, termasuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/">Tulang Raksasa di Tambang Batu Bara India Dikira Buaya, Ternyata Ular Sepanjang 15 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fosil ular umumnya ditemukan sebagai tulang belakang lepas, bukan kerangka utuh. Tubuh ular tersusun dari ratusan ruas tulang belakang, tetapi yang terawetkan di dalam batuan biasanya hanya segelintir, dan tengkorak yang rapuh jarang ikut terawetkan. Ruas-ruas itu bisa sulit dibedakan dari tulang reptil lain bila hanya sebagian yang tersedia. Pada sejumlah kelompok ular purba, termasuk Madtsoiidae, sebagian besar jenisnya dikenal hanya dari ruas tulang belakang. Karena itu, identifikasi awal sebuah fosil kadang perlu diperbaiki setelah pemeriksaan yang lebih teliti, dan ukuran tubuhnya baru bisa ditaksir dengan membandingkan dimensi ruas tersebut dengan ular masa kini. Hal itu terjadi pada fosil yang digali di Tambang Lignit Panandhro, Distrik Kutch, Gujarat, India. Lignit adalah batu bara muda, dan lapisan tempat fosil itu ditemukan berumur sekitar 47 juta tahun, atau awal zaman Eosen Tengah. Tulang-tulang berukuran besar itu semula dikira sisa buaya purba, tetapi pemeriksaan ulang menunjukkan bahwa ia adalah 27 ruas tulang belakang seekor ular raksasa. Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee menamainya Vasuki indicus dalam makalah di jurnal Scientific Reports pada 2024. Panjang tubuhnya diperkirakan 10,9 hingga 15,2 meter, sehingga angka 15 meter adalah batas atas estimasi. Dari Dugaan Buaya Menjadi Ular Raksasa Fosil itu berasal dari Formasi Naredi, dan sebagian besar ruasnya terawetkan dengan baik, beberapa di antaranya masih bersambung. Penutupan sutura pada tulangnya menunjukkan bahwa spesimen itu kemungkinan sudah mencapai kematangan kerangka. Ciri-ciri ruasnya membuat tim menempatkannya dalam keluarga Madtsoiidae, kelompok ular yang sudah punah. Ruas tulang Vasuki tergolong sangat besar. Lebar ruasnya, diukur pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan dan Lahan Pengaruhi Berbagai Aspek Kehidupan di Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 02:30:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30190023/IMG_2317-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134383</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Titik panas tersebar di sejumlah wilayah, sementara kabut asap mengganggu kesehatan, berbagai aktivitas masyarakat, dan lingkungan. Di Kalimantan Barat, Maria, Koordinator Simpul Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat, melaporkan, kondisi terparah sempat terjadi sekitar 11-13 September 2026. Saat itu, kualitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/">Kebakaran Hutan dan Lahan Pengaruhi Berbagai Aspek Kehidupan di Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Titik panas tersebar di sejumlah wilayah, sementara kabut asap mengganggu kesehatan, berbagai aktivitas masyarakat, dan lingkungan. Di Kalimantan Barat, Maria, Koordinator Simpul Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat, melaporkan, kondisi terparah sempat terjadi sekitar 11-13 September 2026. Saat itu, kualitas udara di Pontianak berdasarkan indeks United States Air Quality Index (US AQI) sempat mencapai sekitar 1.000-1.200. Konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 pun sangat tinggi. “Kalau untuk kondisi udara, 200 (AQI) ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebelumnya rata-rata 500 sampai 600 (AQI),” katanya. Ketapang menjadi salah satu daerah dengan sebaran titik panas tinggi di provinsi itu. Di Kubu Raya, kebakaran terjadi cukup dekat dengan pemukiman warga. “Hanya sekitar kurang lebih 300 meter dari rumah warga.” Bencana ini juga berpadu dengan kekeringan. Sebagian masyarakat, katanya, mengalami keterbatasan air bersih. Tidak sedikit bahkan yang mengeluhkan air dari jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang terasa asin. “Kalau saya sendiri sudah sekitar dua bulan mandi pakai air asin. Kita tidak bisa sembarangan menggunakan air karena terbatas.” Akibatnya, warga harus menghemat penggunaan air. Mereka gunakan air untuk kebutuhan penting, seperti memasak, minum, dan mencuci peralatan makan. Untuk dampak pada kesehatan, data Dinas Kesehatan yang dia himpun, menunjukkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sempat mencapai sekitar 800-1.200 kasus per hari. Warga mengeluhkan mata perih, sakit tenggorokan, serta kesulitan beraktivitas akibat kualitas udara yang buruk. Di tengah kondisi itu, penanganan karhutla banyak topangan relawan dan pemadam kebakaran swasta. Sejumlah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>