<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=agustinus-wijayanto-yogyakarta&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/agustinus-wijayanto-yogyakarta/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2026 15:36:32 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
				<item>
					<title>Bagaimana Masa Depan Lobster Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 15:36:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/10/22044159/A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135758</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, Kelautan perikanan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/10/26) di Jakarta. Tujuannya, mengendalikan benih bening lobster dari penyelundupan atau aktivitas ilegal. Irzal Effendi, pakar budidaya lobster dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, berpendapat ada tiga persoalan besar terkait penyelundupan BBL. Permasalahan itu adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/">Bagaimana Masa Depan Lobster Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/10/26) di Jakarta. Tujuannya, mengendalikan benih bening lobster dari penyelundupan atau aktivitas ilegal. Irzal Effendi, pakar budidaya lobster dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, berpendapat ada tiga persoalan besar terkait penyelundupan BBL. Permasalahan itu adalah penyelundupan yang digerakkan permintaan pasar Vietnam, ketertinggalan pengembangan budi daya nasional, serta belum memadainya pengetahuan tentang sumber daya dan lokasi pemijahan lobster. “Indonesia menjadi pemasok benih, sedangkan nilai tambah lebih besar muncul pada tahap pembesaran dan penjualan lobster konsumsi,” ucapnya, Kamis (15/10/26). Perubahan nilai tambah, membuat harga BBL meroket saat sudah besar dan dijual untuk konsumsi. Sebagai contoh, jika harga BBL di Indonesia sebesar Rp8.500 per ekor, maka nilainya melonjak jadi Rp100.000 per ekor di Vietnam. Namun, dia menegaskan bahwa itu hanya contoh, bukan nilai sesungguhnya. Artinya, jika satgas hanya fokus pada penindakan, maka risiko terjadinya perubahan modus dan jalur penyelundupan sangat mungkin terjadi. Tegasnya, menangkap pelaku memang sangat penting dilakukan Satgas. Tapi, jangan pernah dilupakan mengungkap jaringan pengendali tak kalah penting dan harus dilakukan. “Pemeriksaan harus fokus pada lokasi penangkapan BBL di Indonesia dan pasokan yang tiba di Vietnam.” Nursiwan menunjukkan lobster jenis mutiara yang dipelihara di keramba miliknya di dekat Gili Beleq. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia. Di sisi lain, saat ini masih ada ketimpangan perhatian antara tata niaga BBL dengan pengembangan budidaya. Budidaya bisa ikut mengendalikan sosial ekonomi, karena ada keterlibatan pengusaha dan masyarakat melalui sentra pendederan di wilayah penghasil benih dan pendekatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/bagaimana-masa-depan-lobster-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>PSN Tambak,  Surat Edaran Menhut Bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 10:40:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/13010438/mangrove-pesisir-jawa-barat-dan-nelayan-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135737</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jaka Natawiguna, warga Subang, Jawa Barat (Jabar), sempat melihat secercah harapan saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan Putusan 181/XXII/2024, 16 Oktober 2025. Putusan itu, mengecualikan mereka miliki izin berusaha karena sudah turun-temurun di dalam kawasan hutan. Modal berguna untuk memperjuangkan ruang hidup dari caplokan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak. Masyarakat hidup beregenerasi dari tambak tradisional [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/">PSN Tambak,  Surat Edaran Menhut Bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jaka Natawiguna, warga Subang, Jawa Barat (Jabar), sempat melihat secercah harapan saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan Putusan 181/XXII/2024, 16 Oktober 2025. Putusan itu, mengecualikan mereka miliki izin berusaha karena sudah turun-temurun di dalam kawasan hutan. Modal berguna untuk memperjuangkan ruang hidup dari caplokan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak. Masyarakat hidup beregenerasi dari tambak tradisional di kawasan hutan sebelum terbentur PSN. Mereka pun sudah mengurus permohonan pengakuan formal. Perjuangan itu berlangsung sejak 2021-2023, berlarut tanpa ada respons. “Kami sudah berusaha di sini jauh sebelum republik berdiri. Tiba-tiba kami dibenturkan dengan PSN  revitalisasi pangan,” katanya. Karena itu, masyarakat antusias dengan putusan MK. “Sosialisasi dari warung kopi ke warung kopi.” Sayangnya, kegembiraan itu berumur singkat. Karena, Menteri Kehutanan terbitkan Surat Edaran 1/2026, 5 Februari, sebagai tindak lanjut putusan itu, yang justru memperumit penerapan putusan karena membedakan kebutuhan sehari-hari dan kegiatan komersial. “Sekarang kami jadi bingung. Aturan dan Undang-undang mana yang harus kami pakai untuk membela diri. Ini mengecewakan.” Walhi dan perwakilan warga di Jabar sampaikan penolakan PSN revitalisasi tambak kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Foto: Muhammad Iqbal/Mongabay Indonesia. Achmad Surambo, Direktur Sawit Watch, menyebut SE Menhut ini mengangkangi putusan MK. Sawit Watch merupakan pengaju uji materiil Pasal 12a, 17a, dan 110b UU Cipta Kerja (omnibus law) yang jadi dasar putusan MK. Seharusnya, putusan MK membuat masyarakat membuktikan status turun-temurun di sana cukup secara faktual. “Untuk membedakannya dengan pendatang baru, cukup diverifikasi oleh tetangga atau kades dan melihat jejak sejarah, tidak harus sampai ke level pemda,” katanya. Putusan ini, katanya, hanya berlaku&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/psn-tambak-surat-edaran-menhut-bertentangan-dengan-putusan-mahkamah-konstitusi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Kepala Ular, Cara Kepompong Dynastor Hadapi Ancaman Predator</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 10:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230254/17384055265_2d62a4ee90_c-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135687</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sepasang bercak gelap tampak seperti mata pada kepala ular yang menggantung di antara dedaunan. Bagian depannya menonjol menyerupai moncong, sementara permukaan cokelat keemasannya memperkuat kesan tubuh reptil. Ketika disentuh, sosok itu menggeliat cepat. Namun, tidak ada ular di sana. Wujud tersebut adalah kepompong kupu-kupu Dynastor darius, serangga Amerika Selatan yang memiliki penampilan mencolok saat menjalani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/">Ilusi Kepala Ular, Cara Kepompong Dynastor Hadapi Ancaman Predator</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sepasang bercak gelap tampak seperti mata pada kepala ular yang menggantung di antara dedaunan. Bagian depannya menonjol menyerupai moncong, sementara permukaan cokelat keemasannya memperkuat kesan tubuh reptil. Ketika disentuh, sosok itu menggeliat cepat. Namun, tidak ada ular di sana. Wujud tersebut adalah kepompong kupu-kupu Dynastor darius, serangga Amerika Selatan yang memiliki penampilan mencolok saat menjalani metamorfosis. Pada fase ketika kemampuannya berpindah tempat sangat terbatas, bentuk tubuh dan gerakan menjadi bagian menarik dari pertahanannya terhadap gangguan. Kemiripan ini kerap dijelaskan sebagai mimikri Batesian, yaitu ketika organisme yang tidak berbahaya menyerupai organisme berbahaya sehingga berpotensi dihindari predator. Pada kepompong Dynastor, gabungan bentuk, warna, dan bercak menyerupai mata menciptakan ilusi kepala ular. Gerakan menggeliat ketika terganggu menambah kesan bahwa sosok tersebut hidup dan siap bereaksi. Pengamatan yang dibagikan melalui video pada 2021 memperlihatkan respons gerak itu. Meski demikian, rekaman tersebut memperlihatkan perilaku kepompong, bukan bukti langsung tentang seberapa sering predator tertipu atau membatalkan serangan. Keunikan kepompong Dynastor telah didokumentasikan oleh Aiello dan Silberglied sejak akhir 1970-an. Namun, efektivitas penyamarannya tetap perlu dibedakan dari kemiripan visual yang mudah dikenali manusia. Dalam sumber yang dirujuk, belum tersedia pengujian eksperimental berskala besar yang secara khusus mengukur penurunan risiko dimangsa akibat penampilan tersebut. Karena itu, menyebutnya sebagai peniru ular yang paling sukses masih terlalu jauh. Penjelasan yang lebih hati-hati adalah bahwa ciri-cirinya diduga membantu menghalangi predator, dengan manfaat yang masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Kehidupan serangga ini bermula sebagai ulat yang memanfaatkan bromelia sebagai tumbuhan pakan. Sebelum menjadi kepompong, ulatnya juga memiliki respons pertahanan: bagian dada dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ilusi-kepala-ular-cara-kepompong-dynastor-hadapi-ancaman-predator/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Sipil Asia Pasifik Sebut Kebakaran Hutan sebagai Ekosida</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 03:42:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135678</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan aktivis yang mewakili puluhan organisasi masyarakat sipil di Asia Pasifik menyerukan  perubahan sistem mendasar di tengah memburuknya krisis iklim, konflik sosial-ekologi dan militerisme. Seruan itu mereka sampaikan dalam pertemuan bertajuk Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, 17-21 Oktober 2026. Pertemuan ini merupakan inisiatif Friends of the Earth Asia Pacific (FoE Asia Pacific) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/">Masyarakat Sipil Asia Pasifik Sebut Kebakaran Hutan sebagai Ekosida</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan aktivis yang mewakili puluhan organisasi masyarakat sipil di Asia Pasifik menyerukan  perubahan sistem mendasar di tengah memburuknya krisis iklim, konflik sosial-ekologi dan militerisme. Seruan itu mereka sampaikan dalam pertemuan bertajuk Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, 17-21 Oktober 2026. Pertemuan ini merupakan inisiatif Friends of the Earth Asia Pacific (FoE Asia Pacific) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) selaku FoE Indonesia.  Pertemuan itu juga melibatkan komunitas akar rumput, masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan. Perwakilan pekerja, peneliti, pengacara, hingga seniman juga turut hadir dalam pertemuan itu. Selama lima hari, mereka terlibat aktif dalam diskusi seputar ekspansi industri ekstraktif, krisis iklim, penghancuran hutan, perampasan tanah, konflik bersenjata, dan ketimpangan sosial yang mengancam kehidupan masyarakat. Dalam siaran pers yang Mongabay terima, selain dari negara-negara Asia Pasifik, seperti Palestina, Malaysia, Pakistan, Nepal, hingga Korea Selatan, perwakilan dari negara kawasan lain juga turut hadir. Antara lain Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, hingga Eropa. Walhi dalam pernyataannya menyebut, keadilan ekologis, kedaulatan rakyat, solidaritas internasional, dan pemenuhan hak-hak komunitas sebagai fondasi masa depan yang adil dan berkelanjutan. Dana Prima Tarigan, Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan Walhi mengatakan, berbagai krisis yang terjadi di Asia Pasifik tidak berdiri sendiri. Krisis itu berakar pada model pembangunan yang menempatkan alam dan manusia sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi dan akumulasi keuntungan. ”Perubahan sistem hanya dapat diwujudkan melalui kekuatan rakyat yang terorganisir dengan menempatkan keadilan ekologis, kedaulatan rakyat, solidaritas internasional, dan hak-hak komunitas sebagai fondasi masa depan,” kata Dana. Untuk itu, penting penguatan gerakan rakyat di berbagai sektor,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/31/masyarakat-sipil-asia-pasifik-sebut-kebakaran-hutan-sebagai-ekosida/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Lensa, Mengintip Keseharian Macan Tutul Jawa di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>31 Okt 2026 00:30:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/29060410/Macan-tutul1_Dokumentasi-Ignatius-Dwi-Wardhana-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135677</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Di Balik Lensa, Mengintip Keseharian Macan Tutul Jawa di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya. Sejak itu, dia berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun untuk mengamati kucing besar yang sulit dijumpai tersebut. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi pencariannya. Dari pengalaman lapangan, Ignaz mulai memperhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. Kemarau menjadi pertimbangan karena menyusutnya sumber air dapat membuat satwa mendatangi titik air yang tersisa. Namun, dia tidak menganggap kondisi tertentu sebagai jaminan keberhasilan. Perilaku macan tutul dipengaruhi banyak faktor yang masih memerlukan penelitian. Dia pun lebih sering memilih menunggu daripada bergerak mengejar. Kesabaran menjadi bagian dari pengamatan, termasuk menerima kemungkinan pulang tanpa satu pun perjumpaan. Salah satu pengalaman membekas bermula dari laporan warga tentang kawanan monyet yang berperilaku tidak biasa di sekitar pohon. Setelah informasi diteruskan kepada petugas taman nasional, Ignaz berangkat dari Banyuwangi. Dia mendapati macan tutul jantan beristirahat di pohon asam. Melalui lensa telefoto, dia mengetahui satwa itu tetap memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dalam kesempatan lain, dekat Jembatan Curahuling, seekor macan tutul muda mendekat hingga sekitar 7-8 meter, lalu duduk di akar liana sambil mengamati Ignaz dan rekannya. Perjumpaan-perjumpaan itu menghasilkan dokumentasi perilaku yang jarang disaksikan langsung. Ignaz merekam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-lensa-mengintip-keseharian-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Massa Gugat Negara Serius Tangani Bencana dan Derita Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 19:30:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/30191411/DSC03958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135698</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Kami sangat menderita. Tidak ada satupun manusia yang pantas menghirup udara beracun. Pendidikan tergerus, ekonomi tergerus, semua tergerus,” teriak Naomi Artika Simamora, mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah saat orasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, (28/10/26). Lebih lima bulan masyarakat Kalimantan menderita karena kabut asap beracun dari kebakaran hutan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/">Aksi Massa Gugat Negara Serius Tangani Bencana dan Derita Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Kami sangat menderita. Tidak ada satupun manusia yang pantas menghirup udara beracun. Pendidikan tergerus, ekonomi tergerus, semua tergerus,” teriak Naomi Artika Simamora, mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah saat orasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, (28/10/26). Lebih lima bulan masyarakat Kalimantan menderita karena kabut asap beracun dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama itu pula, mereka harus hidup di tengah ketidakpastian jaminan kesehatan dan sosial yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi rakyat dalam kondisi apapun. Kementerian Kesehatan mencatat, hingga dari 18 Agustus-21 Oktober 2026, akumulasi kasus infeksi saluran permapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Dari total itu, 258.298 kasus ISPA dialami warga dengan usia di atas lima tahun, sedangkan 75.172 kasus pada usia 0–5 tahun. Masyarakat terpapar ISPA di Kalteng berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mencapai 121.220 kasus dan 26.864 kasus diare sepanjang 1 Januari-19 Oktober 2026.  Saat sama, ada 329.632 titik panas dan 6.705 kejadian karhutla. “Sampai hari ini Kalimantan masih dibakar, jutaan warga terancam ISPA. Di Kalimantan Tengah khususnya  sudah lebih 100.000 lebih yang terpapar, khususnya bayi dan lansia. Pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi belum memberikan jaminan kesehatan.” Aksi massa 28 Oktober di Bundaran HI Jakarta. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Naomi bilang, pemerintah gagal melindungi masyarakat dan ekosistem hutan penopang kehidupan. Penetapan status bencana nasional pada karhutla urung pemerintah lakukan karena pengaruh kepentingan politik dan bisnis. Korban warga berjatuhan termasuk belasan petugas dan relawan pemadam kebakaran. Satwa mati terpanggang, gambut ludes&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/aksi-massa-gugat-negara-serius-tangani-bencana-dan-derita-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal?  Jatam:  Tetap Kejar Aktor Intelektual</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 07:37:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/20233940/Tambang-emas-ilegal-di-kawasan-hutan-desa-di-Birun.dok_.-LPHD-Birun-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135649</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penegakan hukum lingkungan masih belum tegas dan memberikan efek jera. Pemerintah pun kerap memberikan terobosan yang salah kaprah dan membahayakan upaya penegakan hukum. Seperti Rilke Jeffri Huwae, Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Gakkum KESDM), yang mengatakan tengah merancang pilot project alih mata pencaharian para penambang ilegal menjadi bagian dari rantai pasok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/">Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal?  Jatam:  Tetap Kejar Aktor Intelektual</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penegakan hukum lingkungan masih belum tegas dan memberikan efek jera. Pemerintah pun kerap memberikan terobosan yang salah kaprah dan membahayakan upaya penegakan hukum. Seperti Rilke Jeffri Huwae, Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Gakkum KESDM), yang mengatakan tengah merancang pilot project alih mata pencaharian para penambang ilegal menjadi bagian dari rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan ini sontak mendapat kritik keras masyarakat sipil. Dia bilang, nantinya para penambang ilegal akan beralih kerja di sektor pertanian dan peternakan. Hasilnya akan jadi bahan baku MBG di masing-masih daerah tempat mereka tinggal. Menurut dia, para penambang melakukan tindakan ilegal itu semata-mata untuk bertahan hidup hingga perlu maklum dan cari solusinya. Selama ini, negara terlalu banyak berfokus pada penindakan, tetapi tidak menyiapkan alternatif. Akibatnya, setelah penertiban, masyarakat kembali melakukan aktivitas yang sama karena sumber penghidupannya tidak berubah. “Kalau cuma kita kejar-kejar mereka saja, mau bertahan berapa lama aparat penegak hukum menjaga di lokasi itu? Enggak lama,” kata Jeffri, baru-baru ini. Pilot project ini akan mereka terapkan untuk para penambang di area Agincourt Resources Martabe Gold Mine di Sumatera Utara. Pemerintah daerah, perusahaan, dan pemerintah pusat terlibat dalam proyek ini. Alternatif lainnya, Gakkum ESDM akan mendorong para penambang ilegal bekerja di bawah perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP). Ini untuk penambang ilegal yang sudah tidak mungkin beralih kerja di sektor pertanian dan peternakan. Misal, para penambang ilegal di Manado yang menunjukkan tubuhnya terpapar racun merkuri berat. Dia menyebut paparan merkuri itu  membuat fisik masyarakat rusak sehingga tidak mampu lagi melakukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/pemerintah-cari-solusi-bagi-penambang-emas-ilegal-jatam-tetap-kejar-aktor-intelektual/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Perdagangan 57 Kg Sisik Trenggiling di Kalimantan Selatan, Pelaku Pemain Lama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 03:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/30032106/sisik-trenggiling1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polisi menggagalkan perdagangan ilegal sisik trenggiling (Manis javanica) seberat 57,88 kilogram di Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Jumat, 18 September 2026. Sigit Haryono, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan, menjelaskan, pengungkapan berawal dari pengembangan kasus perdagangan bagian tubuh satwa liar lintas negara. Akhir Juli lalu, pihaknya juga menggagalkan penyelundupan 64 kilogram sisik trenggiling di Banjarmasin. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/">Kasus Perdagangan 57 Kg Sisik Trenggiling di Kalimantan Selatan, Pelaku Pemain Lama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polisi menggagalkan perdagangan ilegal sisik trenggiling (Manis javanica) seberat 57,88 kilogram di Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Jumat, 18 September 2026. Sigit Haryono, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Selatan, menjelaskan, pengungkapan berawal dari pengembangan kasus perdagangan bagian tubuh satwa liar lintas negara. Akhir Juli lalu, pihaknya juga menggagalkan penyelundupan 64 kilogram sisik trenggiling di Banjarmasin. Penyidik sempat bergerak ke Surabaya untuk menelusuri barang ilegal yang diduga berkaitan dengan jaringan tersebut. Namun, barang bukti yang dicari masih di Banjarmasin, sehingga penelusuran belum maksimal. “Ada pihak lain yang melakukan tindak pidana serupa,” jelasnya, Jumat (2/10/26). Di Kalsel, penyelidikan berlanjut dengan menelusuri data telepon seluler para pelaku. Petugas memperoleh informasi sebuah mobil mencurigakan di Desa Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, sekitar pukul 19.40 WITA. Tiga orang di kendaraan tersebut, yakni RJ, RZ, dan AN, ditangkap. Saat diperiksa ditemukan dua kardus berisikan karung putih dengan lakban coklat berisi sisik trenggiling. “Masing-masing seberat 31,84 kilogram dan 26,04 kilogram.” Hasil pemeriksaan menunjukkan, sisik diperoleh dari tangan pertama seharga Rp800.000 per kilogram. Selanjutnya, barang ditawarkan melalui Facebook seharga Rp3 juta per kilogram. Nilai jual yang direncanakan senilai Rp46,308 juta. “Barang ini ditawarkan langsung melalui media sosial.” Polisi meyakini, sebagian besar trenggiling berasal dari kawasan hutan. “Dari sisi rantai pasok, beberapa pelaku mengungkapkan berasal dari Kalimantan Tengah, termasuk Muara Teweh.” Sisik trenggiling yang diamankan pelaku di Kalimantan Selatan dengan total 57 kg. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Dua paruh rangkong gading Petugas kepolisian juga mengamankan dua paruh rangkong seberat 90 gram dalam kardus terpisah. Rencananya, akan diijual seharga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/30/kasus-perdagangan-57-kg-sisik-trenggiling-di-kalimantan-selatan-pelaku-pemain-lama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Bayi Orca, Inilah Penampakan Lumba-lumba Panda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mirip-bayi-orca-inilah-penampakan-lumba-lumba-panda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mirip-bayi-orca-inilah-penampakan-lumba-lumba-panda/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 02:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/01/21234310/Commerson_Dolphin_closer-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135643</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor lumba-lumba mungil berguling di dekat kapal wisata di lepas pantai Patagonia, Argentina. Perutnya menghadap ke atas, sementara tubuh hitam-putihnya bergerak bolak-balik di air. Sekilas, penampilannya menyerupai bayi orca. Namun, satwa yang direkam pembuat film dokumenter Luis Burgueño itu adalah lumba-lumba Commerson, yang juga dikenal sebagai lumba-lumba panda. Rekaman perjumpaan tersebut menarik perhatian jutaan pengguna [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mirip-bayi-orca-inilah-penampakan-lumba-lumba-panda/">Mirip Bayi Orca, Inilah Penampakan Lumba-lumba Panda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor lumba-lumba mungil berguling di dekat kapal wisata di lepas pantai Patagonia, Argentina. Perutnya menghadap ke atas, sementara tubuh hitam-putihnya bergerak bolak-balik di air. Sekilas, penampilannya menyerupai bayi orca. Namun, satwa yang direkam pembuat film dokumenter Luis Burgueño itu adalah lumba-lumba Commerson, yang juga dikenal sebagai lumba-lumba panda. Rekaman perjumpaan tersebut menarik perhatian jutaan pengguna Instagram. Warna tubuhnya memang mencolok, tetapi kebiasaannya berenang terbalik membuat mamalia laut ini semakin menarik untuk dikenali. “Lumba-lumba satu ini bersama spesies lain di sekitar kapal dan perjumpaannya berlangsung lebih lama dari yang Anda lihat di video,” kata Burgueño, dikutip dari Daily Mail. Dia mengaku terkejut melihat satwa tersebut memperlihatkan bagian perutnya. Burgueño menafsirkan gerakan itu sebagai tanda kepercayaan diri. Meski demikian, pengamatan singkat tersebut belum cukup untuk memastikan alasan perilakunya saat mendekati kapal. Berenang dengan perut menghadap ke atas memang dikenal sebagai salah satu perilaku lumba-lumba Commerson, termasuk ketika mencari makanan. Gerakan yang tampak seperti permainan bagi manusia itu dapat berkaitan dengan aktivitas berburu. Lumba-lumba Commerson memiliki dua subspesies yang menghuni wilayah berjauhan. Satu ditemukan di perairan Amerika Selatan, sementara lainnya, Cephalorhynchus commersonii kerguelensis, hidup di sekitar Kepulauan Kerguelen, Samudra Hindia. Kedua wilayah tersebut terpisah sekitar 8.500 kilometer. Ukuran tubuh penghuninya pun berbeda. Lumba-lumba di Kerguelen dapat mencapai panjang sekitar 1,8 meter dengan berat 86 kilogram, sedangkan kerabatnya di Amerika Selatan memiliki berat sekitar 45 kilogram. Perbedaan ukuran ini menunjukkan bahwa di balik penampilan serupa, terdapat variasi di antara kedua kelompok tersebut. Pola hitam-putih pada tubuhnya melahirkan beragam julukan, mulai dari lumba-lumba panda, lumba-lumba&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mirip-bayi-orca-inilah-penampakan-lumba-lumba-panda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mirip-bayi-orca-inilah-penampakan-lumba-lumba-panda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Sedang Marah, Ini Rahasia Wajah Cemberut Kucing Pallas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukan-sedang-marah-ini-rahasia-wajah-cemberut-kucing-pallas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukan-sedang-marah-ini-rahasia-wajah-cemberut-kucing-pallas/#respond</comments>
					<pubDate>30 Okt 2026 01:18:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/02132806/manul-1024x683-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135673</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wajahnya seolah selalu menyimpan kekesalan. Tatapan tajam, dahi datar, serta telinga pendek yang terletak rendah membuat kucing Pallas (Otocolobus manul) mendapat julukan kucing paling cemberut di dunia. Ekspresi itu terbentuk dari anatomi kepalanya, bukan petunjuk bahwa ia sedang marah. Pupilnya pun bulat, berbeda dengan celah vertikal yang umum terlihat pada kucing domestik. Di balik penampilannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukan-sedang-marah-ini-rahasia-wajah-cemberut-kucing-pallas/">Bukan Sedang Marah, Ini Rahasia Wajah Cemberut Kucing Pallas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wajahnya seolah selalu menyimpan kekesalan. Tatapan tajam, dahi datar, serta telinga pendek yang terletak rendah membuat kucing Pallas (Otocolobus manul) mendapat julukan kucing paling cemberut di dunia. Ekspresi itu terbentuk dari anatomi kepalanya, bukan petunjuk bahwa ia sedang marah. Pupilnya pun bulat, berbeda dengan celah vertikal yang umum terlihat pada kucing domestik. Di balik penampilannya yang menggemaskan, satwa yang juga disebut manul ini merupakan pemburu penghuni padang stepa dan pegunungan berbatu Asia Tengah, tempat dingin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bulu tebal membuat tubuh kucing Pallas tampak jauh lebih gempal daripada ukuran sebenarnya. Dengan berat sekitar dua hingga lima kilogram, tubuhnya tidak jauh berbeda dari kucing rumahan. Lapisan bulu tersebut membantu menghadapi suhu rendah, sementara warna abu-abu kecokelatan menyamarkannya di antara bebatuan. Manul mengandalkan gerakan mengendap dan sergapan untuk menangkap mangsa, alih-alih pengejaran cepat. Pika, mamalia kecil yang berkerabat dengan kelinci, serta berbagai hewan pengerat menjadi bagian penting makanannya. Keberhasilan berburu bergantung pada ketersediaan mangsa dan tempat berlindung yang memadai. Kemampuannya menghuni pegunungan tinggi mendapat bukti menarik dari kawasan Everest, Nepal. Studi yang diterbitkan di Cat News pada 2022 melaporkan keberadaan kucing Pallas di Taman Nasional Sagarmatha berdasarkan sampel kotoran yang dikumpulkan dalam ekspedisi 2019. Dua lokasi pengambilan sampel berada pada ketinggian 5.110 dan 5.190 meter di atas permukaan laut, terpisah sekitar enam kilometer. Analisis genetik mengidentifikasi sedikitnya dua individu. Temuan tersebut menambah catatan sebaran manul di Himalaya dan menunjukkan bahwa satwa yang sulit diamati ini dapat terlewat dalam pemantauan lapangan. Meski mampu menghadapi lingkungan ekstrem, kucing Pallas tetap rentan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukan-sedang-marah-ini-rahasia-wajah-cemberut-kucing-pallas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukan-sedang-marah-ini-rahasia-wajah-cemberut-kucing-pallas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anak Gajah Sumatera Mati di Konsesi Michelin Group, Dampak Karhutla?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/anak-gajah-sumatera-mati-di-konsesi-michelin-group-dampak-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/anak-gajah-sumatera-mati-di-konsesi-michelin-group-dampak-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 23:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/29225253/Gajah-Sumatera-di-lanskap-Bukit-Tigapuluh.dok_.Geopix-2-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135688</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabar duka datang dari Tebo, Jambi. Satu anak gajah Sumatera mati di dalam lubang, tiga kilometer dari mess Bisnis Unit 4 Mandelang, Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Usianya baru satu tahunan. Ia terperosok, tak bisa keluar, dan mati kehausan. Kematiannya baru dilaporkan seminggu kemudian, 24 Agustus 2026. Lubang itu berada di perkebunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/anak-gajah-sumatera-mati-di-konsesi-michelin-group-dampak-karhutla/">Anak Gajah Sumatera Mati di Konsesi Michelin Group, Dampak Karhutla?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabar duka datang dari Tebo, Jambi. Satu anak gajah Sumatera mati di dalam lubang, tiga kilometer dari mess Bisnis Unit 4 Mandelang, Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Usianya baru satu tahunan. Ia terperosok, tak bisa keluar, dan mati kehausan. Kematiannya baru dilaporkan seminggu kemudian, 24 Agustus 2026. Lubang itu berada di perkebunan karet PT Lestari Asri Jaya (LAJ), anak perusahaan Royal Lestari Utama (RLU), bagian Michelin Group, raksasa ban asal Prancis. Kematiannya memicu penyelidikan Penegakan Hukum Kehutanan, dan menjadi kasus terbaru dalam deretan kematian gajah yang terus berulang di lanskap Bukit Tigapuluh. Gakkum Kehutanan memeriksa tempat kejadian, termasuk meminta keterangan Kepala Konservasi dan Kepala Mandor Sadap LAJ, empat staf Frankfurt Zoological Society (FZS), dokter medik veteriner Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, serta petugas yang memantau GPS collar gajah. Dokter hewan yang melakukan nekropsi menerangkan, anak gajah itu di dalam lubang dan mengalami dehidrasi. Pemeriksaan laboratorium tidak menemukan racun pada sampel yang diperiksa. Penyelidikan tetap berjalan untuk mendalami kemungkinan kelalaian dan tanggung jawab pengelola konsesi terhadap perlindungan habitat serta keselamatan satwa liar. Hari Novianto,  Kepala Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Sumatera, mengatakan,  masih mendalami bagaimana anak gajah itu bisa masuk ke lubang. “Saksi dan bukti tambahan terus kami telusuri. Jika ditemukan kelalaian atau pelanggaran, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai kewenangan dan ketentuan hukum,” katanya. Tim Gakkum Wilayah Sumatera menyelidiki kematian seekor anak gajah Sumatera di konsesi PT LAJ. Foto: sumber Gakkum Sumatera Dwi Januanto Nugroho,  Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, menyatakan,  keberadaan satwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/anak-gajah-sumatera-mati-di-konsesi-michelin-group-dampak-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/anak-gajah-sumatera-mati-di-konsesi-michelin-group-dampak-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 12:59:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22001955/Warga-Pakel-Demo1-768x507.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135681</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi menyatakan tak dapat menerima gugatan PT Bumisari Maju Sukses (BMS) terhadap Suwarno dan Sagidin, dua anggota Rukun Tani Sumberejo, Pakel (RTSP), Selasa (20/10/26). Putusan itu kian melengkapi kemenangan petani setelah pada Juni, PN Banyuwangi keluarkan putusan serupa. Dalam sidang dengan agenda putusan terhadap perkara Nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw, PN Banyuwangi juga menyatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/">Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi menyatakan tak dapat menerima gugatan PT Bumisari Maju Sukses (BMS) terhadap Suwarno dan Sagidin, dua anggota Rukun Tani Sumberejo, Pakel (RTSP), Selasa (20/10/26). Putusan itu kian melengkapi kemenangan petani setelah pada Juni, PN Banyuwangi keluarkan putusan serupa. Dalam sidang dengan agenda putusan terhadap perkara Nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw, PN Banyuwangi juga menyatakan tak dapat menerima gugatan melawan hukum yang BMS ajukan terhadap Harun, petani asal Pakel lainnya. “Kami sangat menyambut baik putusan ini,” kata Pradipta Indra A, anggota Tim Advokasi untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda). Dia katakan, putusan PN yang menolak gugatan perusahaan tidak hanya memberi arti penting bagi perjuangan para petani di Pakel dalam mempertahankan haknya atas tanah juga mempertegas  apa yang selama ini mereka perjuangkan sebagai sebuah kebenaran. Sebelumnya, BMS mengajukan gugatan melawan hukum terhadap Harus, Suwarno dan Sadigin ke PN Banyuwangi. BMS menuding ketiganya memasuki area hak guna usaha (HGU) dan merusak tanaman kopi dan cengkih  perusahaan. Indra berharap kemenangan para petani ini tidak makin mengaburkan persoalan. Sebaliknya, dia mendesak agar putusan justru menjadi momentum bagi pemerintah segera menyelesaikan konflik agraria di Pakel yang  berlangsung selama beberapa dekade. “Persoalan utama yang harus segera diselesaikan adalah konflik agraria yang terus menempatkan petani Pakel dalam ketidakpastian,” katanya. Dengan membiarkan kasus ini berlarut-larut, katanya, akan makin menjadikan petani dalam ketidakpastian hukum. Menurut Indra, putusan pengadilan yang tidak menerima gugatan BMS memang menguntungkan petani. Hal itu tidak boleh mengalihkan perhatian dari persoalan penguasaan tanah yang hingga kini belum terselesaikan. “Kemenangan dalam menghadapi gugatan tidak boleh berhenti sebagai kabar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/tiga-petani-pakel-menangi-gugatan-lawan-perusahaan-perkebunan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 11:00:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003207/tapir-malaya-rhett-butler.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135609</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/">Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar dari hutan. Di balik tubuh hitam-putihnya yang mudah dikenali, kehidupan satwa ini masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk berapa jumlahnya yang bertahan di Sumatera. “Tapir ini merupakan satwa dilindungi dan terancam punah namun terlupakan,” kata Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Yayasan Auriga Nusantara. Dia mengaitkan kemunculan tapir di luar habitat dengan deforestasi dan fragmentasi hutan, yakni terpecahnya kawasan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Sebagai pemakan tumbuhan dengan wilayah jelajah luas, tapir membutuhkan jalur untuk berpindah dan mencari makanan. Ronny Rachman, Guru Besar IPB, menjelaskan bahwa perluasan perkebunan dan pembangunan jalan dapat memaksanya melintasi area terbuka atau permukiman. Selain perburuan, pergerakan tersebut menghadapkan tapir pada risiko tertabrak kendaraan. Penelitian bertajuk Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra memperlihatkan pentingnya hutan dataran rendah bagi satwa yang juga disebut tenuk ini. Tim pimpinan Irene M.R. Pinondang menganalisis kawasan hutan hujan seluas 69.500 kilometer persegi. Dari 465 stasiun kamera jebak, tapir terekam di 143 titik, dengan deteksi terbanyak di Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat. Temuan menunjukkan tapir banyak menghuni hutan di bawah ketinggian 600 meter dengan biomassa tinggi, kawasan yang juga menghadapi tekanan pembukaan lahan. Habitatnya mencakup kawasan konservasi, hutan lindung daerah aliran sungai, hingga hutan produksi. Sementara habitat berubah, periode Strategi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nasib-tapir-sumatera-di-tengah-penyusutan-habitat-dan-minimnya-data/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Ganggu Navigasi, Tekanan Nyata Karhutla bagi Lebah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21212803/IMG_2564-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135591</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/">Asap Ganggu Navigasi, Tekanan Nyata Karhutla bagi Lebah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di tengah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan panjang, perpindahan ini memunculkan dugaan bahwa lebah sedang mencari perlindungan setelah lingkungan tempat hidupnya terganggu. Husni Naparin dan Ismu, pemburu madu liar dari Madu Hutan Kaum, menemukan koloni itu setelah mengikuti arah terbang lebah. Ketika penutup rantai dibuka sedikit, terlihat sarang yang menyimpan banyak madu. Namun, keduanya memilih membiarkannya. “Kami putuskan tidak memanen. Kita kembalikan lagi kap (rantai) yang terbuka sekira mereka dapat berlindung sehingga koloni yang tersisa dapat memperbanyak diri saat musim hujan nanti.” Naparin menduga panas, asap, dan berkurangnya pakan mendorong perpindahan tersebut. Ia juga menemukan sarang kosong, rusak, serta lebah mati di sejumlah lokasi. Karhutla dapat memengaruhi lebah melalui beberapa jalur sekaligus. Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa kebakaran merusak sarang dan tumbuhan berbunga yang menyediakan makanan. Suhu tinggi dapat menyebabkan kematian, sementara partikel asap berpotensi mencemari cadangan madu. Asap tebal juga dapat mengganggu navigasi karena lebah memanfaatkan pola cahaya terpolarisasi di langit sebagai petunjuk arah. Ketika rumah dan sumber makanan menghilang, koloni terdorong mencari lokasi lain. Meski demikian, penyebab perpindahan koloni di bangkai alat berat tersebut masih berupa dugaan berdasarkan pengamatan lapangan. Dampaknya dapat menjalar ke tumbuhan dan pangan manusia. Trisnu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/asap-ganggu-navigasi-tekanan-nyata-karhutla-bagi-lebah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 06:06:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/29055604/Macan-tutul2_Dokumentasi-Ignatius-Dwi-Wardhana-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135659</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Menjaga Predator Terakhir Pulau Jawa]]>
						</reporting-project>
					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahun menunggu dan berulang kali masuk hutan, akhirnya Ignatius Dwi Wardhana (48), berhadapan langsung dengan predator endemik Pulau Jawa. Bagi fotografer satwa liar Animalika ini, perjumpaan dengan macan tutul jawa tak hanya kesempatan memperoleh gambar langka. Melainkan, ada kegembiraan setelah penantian panjang, rasa ingin tahu terhadap perilaku Panthera pardus melas. Juga, kesadaran bahwa satu-satunya kucing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahun menunggu dan berulang kali masuk hutan, akhirnya Ignatius Dwi Wardhana (48), berhadapan langsung dengan predator endemik Pulau Jawa. Bagi fotografer satwa liar Animalika ini, perjumpaan dengan macan tutul jawa tak hanya kesempatan memperoleh gambar langka. Melainkan, ada kegembiraan setelah penantian panjang, rasa ingin tahu terhadap perilaku Panthera pardus melas. Juga, kesadaran bahwa satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau padat penduduk ini masih menyimpan banyak hal yang perlu dipelajari. Keinginan mengabadikan macan tutul sejak 13 tahun silam, berhasil didokumentasikan enam  tahun kemudian, yaitu tahun 2019. Selama rentang waktu itu, Ignaz, terus mencari kesempatan bertemu kucing yang dikenal sulit dijumpai itu. “Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya, Senin (26/10/26). Macan tutul jawa yang hidup dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, jadi lokasi yang didatanginya untuk mencari satwa tersebut. Tetapi, perjumpaan pertama bukan akhir pencarian. Sejak itu, Ignaz berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun, termasuk melihat macan tutul di lokasi berbeda. Saat pandemi COVID-19 berlangsung, Ignaz mendapat kesempatan lebih luas menjelajahi kawasan hutan melalui keterlibatannya dalam sebuah gugus tugas multifungsi di lingkungan kehutanan. Dia perhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. “Musim kemarau jadi waktu yang bisa jadi pertimbangan besar untuk pengamatan.” Saat sejumlah sumber air mengering, titik-titik air yang tersedia berpotensi jadi tempat macan tutul datang untuk minum. Butuh waktu 6 tahun bagi Ignatius Dwi Wardhana untuk melihat dan memotret langsung macan tutul jawa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/bagaimana-rasanya-jumpa-macan-tutul-jawa-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga  Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/#respond</comments>
					<pubDate>29 Okt 2026 01:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24094312/WhatsApp-Image-2026-10-24-at-02.39.25-e1792835097199-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135490</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang)”, ucap Yuli Wetri, warga Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Koto Tangah, Padang, Minggu (11/10/26). Siang itu, dia sibuk membersihkan kasur pegas (springbed) dari sisa lumpur akibat banjir bandang sehari sebelumnya. Saat banjir bandang menerjang Sumatera November 2025, Yuli turut menjadi korban bersama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/">Warga  Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang)”, ucap Yuli Wetri, warga Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Koto Tangah, Padang, Minggu (11/10/26). Siang itu, dia sibuk membersihkan kasur pegas (springbed) dari sisa lumpur akibat banjir bandang sehari sebelumnya. Saat banjir bandang menerjang Sumatera November 2025, Yuli turut menjadi korban bersama ribuan warga lainnya. Kala itu, sebagian besar bangunan rumah dan isinya hilang terbawa arus, menyisakan satu kamar berisi springbed yang siang itu dia bersihkan. “Semua sudah hanyut, motor dua juga hanyut. Saya keluar dengan baju yang lekat di badan saja. Yang tersisa hanya satu kamar dengan barang di dalamnya masih utuh termasuk kasur ini,” kata  perempuan 45 tahun itu mengisahkan banjir bandang yang terjadi menjelang tutup tahun 2025 itu. Setelah peristiwa itu, Yuli beserta anak-anaknya sempat tinggal di hunian sementara (huntara) yang  Pemerintah Kota Padang sediakan. Lokasinya di belakang Kantor Camat Koto Tangah. Sembari menunggu hunian tetap (huntap), dia menumpang di rumah saudaranya di Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang  Ikua Koto. Baru sebulan ini tinggal di rumah kerabatnya, banjir kembali menerjang Sabtu (10/10/26) sore. Belasan rumah terendam air pekat penuh lumpur. Di beberapa lokasi, jejak sisa banjir bahkan meninggal lumpur setinggi lutut orang dewasa. Belasan rumah rusak dan sekitar 165 keluarga  atau 615 jiwa terpaksa mengungsi. Yuli membersihkan kasur pegas miliknya yang sempat terendam banjir. Foto: Vinolia/Mongabay Indonesia. Selain Kampung Apa, banjir juga melanda perumahan Lumin Park Cluster di Kelurahan Lubuk Minturun serta Kampung Guo dan Lapau Munggu di Kelurahan Kuranji. Di perumahan Lumin Park&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/29/warga-kota-padang-trauma-ketika-banjir-bandang-datang-berulang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dana Karbon Tak Hentikan Deforestasi Kalimantan Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 23:46:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/22223136/Foto-13-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135651</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Duit karbon mengalir di Kalimantan Timur, tetapi tak mampu melindungi hutan provinsi itu. Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi di tengah guyuran uang Forest Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF-CF). Data Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan, sepanjang  10 tahun terakhir (2015-2025), luas hutan hilang di Kalimantan Timur sebesar 54 kali luas Jakarta. Laju deforestasi ini mejadikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/">Dana Karbon Tak Hentikan Deforestasi Kalimantan Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Duit karbon mengalir di Kalimantan Timur, tetapi tak mampu melindungi hutan provinsi itu. Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi di tengah guyuran uang Forest Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF-CF). Data Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan, sepanjang  10 tahun terakhir (2015-2025), luas hutan hilang di Kalimantan Timur sebesar 54 kali luas Jakarta. Laju deforestasi ini mejadikan Kalimantan Timur sebagai satu dari 10 provinsi penyumbang deforestasi terbesar di Indonesia. Auriga menghitung luas deforestasi di Kalimantan Timur 362.043,63 hektar. “Pada 2023, Kaltim menjadi provinsi dengan deforestasi terluas ketiga di Indonesia. Kemudian 2024, Kaltim naik menjadi urutan kedua seluas 44.483 hektar dan 2025 seluas 47.135 hektar,” kata Supin Triyohar, Direktur Kehutanan Auriga Nusantara akhir Juli 2026. Deforestasi di Bumi Mulawarman terjadi di berbagai status kawasan hutan, maupun luar kawasan hutan, dari hutan produksi, sampai hutan konservasi. Di luar kawasan hutan, deforestasi terjadi pada area perizinan pertambangan maupun hak guna usaha (HGU) perkebunan. Laju deforestasi juga berbanding lurus dengan peningkatan emisi gas rumah kaca di Kaltim. Berdasarkan pemantauan satelit Global Nature Watch (GNW) dan rujukan deforestasi Auriga Nusantara, akibat kehilangan hutan primer, emisi gas rumah kaca di Kaltim melesat dalam lima tahun terakhir (2021–2025). Akumulasi pelepasan emisi (gross GHG emissions) mencapai 96,42 juta MgCO2e dengan rata-rata 19,28 juta MgCO2e per tahun. Pada 2021, pelepasan emisi gas rumah kaca di Kaltim mencapai 13,84 juta MgCO2e dan pada  2022 mencapai 13,79 juta MgCO2e. Angka emisi gas rumah kaca di Kaltim melonjak hingga 73,6% pada 2023 memuncak di angka 23,94 juta MgCO2e, bertepatan dengan hilangnya 30.107 hektar hutan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/dana-karbon-tak-hentikan-deforestasi-kalimantan-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penegakan Hukum Baru Sasar Karhutla Belum Kasus Korban Terdampak Asap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 15:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145924/Kebakaran-yang-berlangsung-selama-Agustus-2026-akhirnya-menghadirkan-kabut-asap-yang-dirasakan-hingga-ke-Kota-Palembang.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesiajpeg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135612</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum berorientasi pemulihan lingkungan dan pemenuhan hak masyarakat terdampak. Karena, gugatan pemerintah terhadap perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan itu kerap berorientasi penerimaan negara, tanpa rencana pemulihan memadai. Andri Gunawan Wibisana, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyatakan itu dalam diskusi kajian karhutla bersama Komisi Nasional Hak Asasi  Manusia  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/">Penegakan Hukum Baru Sasar Karhutla Belum Kasus Korban Terdampak Asap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum berorientasi pemulihan lingkungan dan pemenuhan hak masyarakat terdampak. Karena, gugatan pemerintah terhadap perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan itu kerap berorientasi penerimaan negara, tanpa rencana pemulihan memadai. Andri Gunawan Wibisana, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyatakan itu dalam diskusi kajian karhutla bersama Komisi Nasional Hak Asasi  Manusia  (Komnas HAM ) di Jakarta, Selasa (13/10/26). Penegakan hukum selama ini lebih fokus pada kerusakan lahan di kawasan terbakar. Sedang dampak asap terhadap kesehatan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat belum mendapat perhatian sebanding. Pemerintah, katanya, memang dapat menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas kerusakan lingkungan. Seharusnya,  gugatan  tidak berhenti pada penghitungan kerugian dan penerimaan uang oleh negara. “Bayangan kita adalah kalau pemerintah itu melakukan gugatan, maka seluruh uang yang diperoleh itu digunakan untuk pemulihan,” ujarnya. Kedua hal itu, kerusakan lingkungan lahan yang terbakar dan kerugian yang timbul karena kabut asap harusnya bisa penegak hukum bedakan dalam karhutla. Dampak pertama berkaitan dengan kerusakan ekosistem, sementara yang lain, berkaitan dengan dampak di luar dari lokasi kebakaran. Kedua jenis kerugian itu memiliki mekanisme gugatan yang berbeda. Menurut dia, gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi jadi bagian dari persoalan yang harus jadi perhitungan dalam penegakan hukum. Selama ini,  pemerintah lebih banyak menggugat kerugian lingkungan area terbakar. Gugatan yang khusus menyasar pencemaran udara dan dampaknya terhadap masyarakat masih terabaikan. Dia bilang, pemerintah dan organisasi lingkungan hidup memiliki kewenangan menggugat kerugian lingkungan. Sebaliknya, korban yang mengalami kerugian pribadi memiliki hak untuk menuntut kerugian yang mereka alami. Untuk mempelajari perbedaan itu jadi penting supaya penegakan hukum&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/penegakan-hukum-baru-sasar-karhutla-belum-kasus-korban-terdampak-asap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pepohonan dan Genangan Air yang Menopang Kehidupan Katak Harlequin di Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26084705/Katak-Pohon3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135590</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/">Pepohonan dan Genangan Air yang Menopang Kehidupan Katak Harlequin di Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan Sumatera yang kerap luput dari perhatian. Di balik penampilannya, kehidupan katak ini ditopang hubungan erat antara pepohonan, kelembapan, dan genangan air. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari, menjelaskan bahwa katak Harlequin tersebar cukup luas di Sumatera, meskipun relatif jarang dijumpai. Tubuh jantannya memiliki panjang sekitar 4-5,5 sentimeter, diukur dari ujung moncong hingga kloaka. Sisi tubuhnya kekuningan dengan bintik gelap, sementara bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan. Kaki belakang yang panjang membantu katak melompat, sedangkan selaput di antara jari memperluas permukaan saat bergerak di udara. Pada sejumlah anggota genus Rhacophorus, selaput tersebut membantu memperlambat penurunan dan mengarahkan gerakan ketika meluncur di antara pepohonan. Sebutan katak pohon ternyata tidak berarti seluruh kehidupannya berlangsung jauh dari air. Amir Hamidy, pakar herpetologi BRIN, menjelaskan bahwa katak Harlequin tetap membutuhkan genangan untuk berkembang biak. “Meskipun hidup di pohon, namun untuk bertelur, ia membutuhkan genangan air dan akan bertahan satu atau dua hari.” Pada sejumlah spesies Rhacophorus, telur diletakkan dalam sarang berbusa yang melekat pada vegetasi di atas air. Setelah menetas, berudu jatuh ke genangan dan melanjutkan perkembangannya hingga bermetamorfosis menjadi katak muda. Dengan demikian, pepohonan dan perairan kecil saling melengkapi kebutuhan hidup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/pepohonan-dan-genangan-air-yang-menopang-kehidupan-katak-harlequin-di-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino Pupuskan Harapan Petani Kakao Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>28 Okt 2026 04:57:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26060630/Petani-Cokelat-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135549</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cuaca di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) begitu terik, tengah September. Menggunakan ember, Wayan Merte berkeliling menyirami pohon kakao di kebun seluas seluas 50 are itu satu per satu. Sembari itu, buah kakao yang tampak menghitam dia bersihkan. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” kata  Marte sambil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/">El Nino Pupuskan Harapan Petani Kakao Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cuaca di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) begitu terik, tengah September. Menggunakan ember, Wayan Merte berkeliling menyirami pohon kakao di kebun seluas seluas 50 are itu satu per satu. Sembari itu, buah kakao yang tampak menghitam dia bersihkan. “Sekarang ini susah, gagal kita panen,” kata  Marte sambil mengisi ulang air di embernya. Sudah empat tahun ini Marte dan para petani kakao lain desanya terus merugi. Kakao yang dulu menjadi penopang utama sumber ekonomi warga, tak lagi menghasilkan. Selain harga jual murah, cuaca yang semakin panas juga menjadi musababnya. Musim kemarau, katanya, menyebabkan cuaca  makin panas hingga hasil panen terus turun atau bahkan gagal. Apa boleh buat, sebagian petani memilih  mengganti pohon kakao yang sudah tua dengan komoditas lain. “Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” cerita Marte. Dulu, katanya, sebelum 2022, sekali panen bisa hasilkan 1-1,5 kuintal. Dalam setahun dia bisa enam kali panen. Harga jual pun relatif mahal bisa mencapai 125.000 per kilogram. “Dulu sih enak mas. Hasil kebun banyak, harga juga bagus.&#8221; Gede Juandra, mengalami hal serupa. Selama beberapa tahun terakhir ini hasil panen komoditas penghasil cokelat itu terus turun. Cuaca yang tak bersahabat dia duga jadi penyebabnya. Menurut Juandra, kemarau berkepanjangan mengganggu proses pembuahan. Walhasil buah cokelat jarang dan sedikit. Selain itu, banyak buah yang terkena penyakit jamur buah. “Di daerah kami kan memang kekurangan air, ditambah sekarang gak pernah hujan sejak bulan 5 (Mei) lalu.&#8221; Seperti kebanyakan petani lain, hasil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/28/elnino-pupuskan-harapan-petani-kakao-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>