<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/author/ridzki.sigit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/author/ridzki-sigit/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 30 Sep 2026 10:27:51 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 10:19:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30101307/Ikan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134359</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya dunia di luar alga dan mikroalga, diproyeksikan meningkat hingga 10 persen. FAO menyebut, akuakultur akan menjadi komponen penting sistem pangan masa depan, karena produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Sementara, permintaan terhadap pangan akuatik terus meningkat. Proyeksi besar yang juga sudah masuk Indonesia ini, harus dilakukan dengan prinsip lebih produktif, lebih inklusif, lebih tangguh terhadap krisis iklim, dan lebih berkelanjutan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan jika krisis iklim tidak diantisipasi, maka gangguan produksi ikan hanya menunggu waktu. Dalam orasi ilmiah pengukuhan gelar Guru Besar, Senin (27/6/26), dia mengatakan reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Terutama, pelepasan hormon reproduksi agar pemijahan optimal. Ancaman ini sudah nyata, karena pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk di unit pembenihan (hatchery) tidak matang gonad. “Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya dalam laman resmi IPB Satu solusi yang ditawarkan pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu adalah dengan mengadopsi teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan yang diyakini bisa menjaga ketersediaan benih. “Produksi perikanan budi daya tak akan terganggu.” Krisis iklim dapat berdampak pada pola reproduksi ikan. foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. I Ketut Sugama, Profesor Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/perubahan-suhu-lingkungan-bikin-ikan-sulit-reproduksi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 07:47:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29082105/DSC4525-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134326</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan poltiik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air kecoklatan mengalir deras menutupi jalan lingkungan di Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (25/8/26) malam. Tak hanya menutupi jalan, lumpur pekat bercampur pasir dan batu itu bahkan menutup saluran hingga masuk ke halaman rumah warga. Beberapa warga terlihat berusaha membersihkan material yang mengendap menggunakan sekop dan cangkul. Sedang sebagian hanya bisa memandangi jalan yang berubah menjadi hamparan lumpur. Mereka heran karena malam itu hujan tak begitu deras. Bagi warga, pemandangan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan turun, jalan kampung berubah menjadi hamparan lumpur yang kuat dugaan berasal dari tambang galian C di daerah hulu. Celakanya, luberan lumpur itu juga menyasar lahan-lahan pertanian warga. Muhammad Yunus,  warga Lenek katakan, selain menutupi jalan, material sisa tambang juga picu sedimentasi irigasi dan menyumbat aliran ke sawah. Akibatnya, petani harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk membersihkan saluran sebelum musim tanam maupun saat masa pengairan berlangsung. Tak jarang, pasir dan batu yang terbawa air bahkan masuk hingga ke petak-petak sawah. Kondisi itu mengubah struktur tanah dan mempengaruhi pertumbuhan padi. &#8220;Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,&#8221; ujar Yunus. Dampak dari situasi itu, produktivitas padi pun turun, sedang biaya pemeliharaan meningkat. “Banyak petani yang rugi.&#8221; Yunus sudah berulang kali sampaikan persoalan itu kepada pemerintah. Warga bahkan pernah berunjuk rasa menuntut pemerintah tertibkan tambang yang menimbulkan berbagai dampak pada warga sekitar. Hingga  kini, balum ada respons berarti. &#8220;Dulu,  warga sempat demo. Hanya beberapa hari saja dampaknya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/tambang-galian-c-resahkan-warga-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:20:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/02024101/FinkeR8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134344</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Bagaimana Tiga Ikan Endemik Bertahan di Sungai Finke, Sungai yang Dijuluki Tertua di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana bergantung pada kolam yang tidak pernah benar-benar kering dan pada kemampuan menoleransi kondisi air yang ekstrem. Sungai Finke di Australia Tengah, yang oleh masyarakat Arrernte Barat disebut Larapinta, kerap dijuluki sungai tertua di dunia dengan perkiraan usia 300 hingga 400 juta tahun. Sungai ini berhulu di Pegunungan MacDonnell, Northern Territory, dan membentang sekitar 600 kilometer hingga tepi barat Gurun Simpson. Kini alirannya hanya muncul beberapa hari dalam setahun, dan airnya hampir selalu menghilang ke pasir sebelum mencapai Danau Eyre. Meski begitu, survei sistematis sejak 2011 mencatat sembilan spesies ikan di daerah aliran sungai ini. Tiga di antaranya endemik, yaitu Finke goby, Finke hardyhead, dan desert mogurnda, dan keberadaan mereka berkaitan erat dengan sejarah panjang lembah sungai itu sendiri. Ngarai Purba yang Menjadi Tempat Berlindung Julukan sungai tertua berangkat dari cara Finke memotong tegak lurus punggungan kuarsit Pegunungan MacDonnell dan Krichauff, yang terangkat dalam Orogeni Alice Springs sekitar 400 hingga 300 juta tahun lalu. Jalur yang menembus batuan keras itu ditafsirkan sebagai tanda bahwa sungai ini sudah mengalir sebelum atau bersamaan dengan pengangkatan tersebut. Dalam geologi, sungai seperti ini disebut antecedent. Angka ratusan juta tahun itu merupakan tafsiran, bukan hasil penanggalan langsung. Penanggalan kosmogenik dengan berilium-10&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/bagaimana-tiga-ikan-endemik-bertahan-di-sungai-finke-sungai-yang-dijuluki-tertua-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 03:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/07/22061843/JUAL-BELI-SATWA-DI-PASAR-SPLINDID-MALANG-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134284</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup. Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa menjadi pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Para pelaku meyakini dengan membakarnya dapat menghilangkan ancaman sihir. Adhi Nurul Hadi, Kepala BKSDA NTT menegaskan, tindakan tersebut melanggar UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyebutkan pelaku terancam pidana hingga 15 tahun. Sebutan ‘burung hantu’ bukan sekadar julukan. Ada alasan biologis yang membuat burung ini lekat dengan gambaran hantu. Satwa ini memiliki sejumlah adaptasi untuk berburu pada malam hari. Dia punya pendengaran dan kemampuan penglihatan yang tajam dalam kondisi cahaya redup, dan kemampuan terbang nyaris tanpa suara. Di balik kesan seramnya, burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem. Berdasarkan riset Tirsyanto dkk, lebih dari 90% makanan Tyto alba adalah tikus sawah. Seekor burung dewasa bisa memangsa hingga 1.300 ekor per tahun. Bahkan, riset yang sama menunjukkan keberadaan rubuha (rumah burung hantu) dapat menekan kerusakan tanaman akibat tikus secara signifikan. Meski banyak yang mengaitkan dengan pertanda buruk, di sejumlah wilayah lain di Indonesia burung hantu justru dihormati, bukan ditakuti. Misalnya, di Minahasa, Sulawesi Utara, menganggap burung hantu sebagai pembawa pesan leluhur. Mereka percaya suaranya di malam hari sebagai petunjuk, bukan petaka. Pandangan tersebut turut melindungi burung hantu dari perburuan sehingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mitos-burung-hantu-akan-bawa-petaka-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 02:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07042233/834BDB3B-70D3-4E4D-BE7A-21166F05BFE3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134269</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai kalangan masyarakata sipil mengkritik dan mempertanyakan arah kebijakan lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menyoroti tiap keputusan hingga lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan. Ade Indriani Zuhri, dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan Universitas Nasional heran rezim Prabowo masih bergantung industri ekstraktif, seperti batubara dan nikel. Karena, keduanya merupakan perusak lingkungan Pun dalam hitungan keuntungan ekonomi, industri tersebut masih kalah dengan sektor pertanian dan kebun. Catatannya, sektor mineral/energi ekstraktif hanya menyumbang 8–10% PDB, sementara sektor pertanian dan perkebunan menyumbang 12–15%. Dia menilai kebijakan Prabowo dalam tata kelola dan penguasaan sumber daya terlalu berpihak pada oligarki, hingga mengabaikan fakta yang telanjang di lapangan. Oligarki pemerintah biarkan mengkavling hutan. “Sumber daya alam kita untuk kepentingan mereka [oligarki], tidak dikembalikan kepada rakyat.” Sisi lain, pemerintah pun meminggirkan pemulihan lingkungan. Seharusnya, pemulihan lingkungan bisa terjadi dengan merestorasi hutan yang terdegradasi lebih 10 juta hektar. Saat ini, katanya, ada lima provinsi yang teridentifikasi alami kehancuran sumber daya alam. Kalimantan Timur, salah satunya, karena masifnya pertambangan. Lalu, Sumatera Utara karena dominasi sawit. Riau karena industri pulp and paper. Papua karena eksploitasi mineral, begitu pun di Sulawesi Tengah. Malem Sambat (MS) Kaban, Menteri Kehutanan periode 2004-2009, menilai, tidak ada satu poin pun dalam Asta Cita yang fokus minimalisasi kerusakan lingkungan. Tak heran, sejak Prabowo jadi presiden, kerusakan lingkungan terus terjadi. Dia menyoroti sungai-sungai yang makin dangkal dan biodiversitas terancam. Hal ini bahkan terjadi di Jawa Barat, provinsi yang dekat dengan ibu kota. Laju deforestasi juga memperlihatkan tren kenaikan. Kaban menyebut, saat dia jadi menhut, luas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/30/ahli-dan-pakar-kritik-arah-kebijakan-lingkungan-prabowo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/#respond</comments>
					<pubDate>30 Sep 2026 00:01:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08043752/WhatsApp-Image-2026-05-07-at-6.22.13-PM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134281</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak.  Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun melayangkan protes keras dengan mendatangi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Papua.  Bagi nelayan pesisir Papua, rumpon bukan hanya alat tangkap ikan namun juga “dapur” untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumpon yang mereka buat dari rudal besi bekas, tali, dan daun kelapa. Biasanya, ikan-ikan akan bertelur dan tinggal di sana, lalu nelayan memancing di sekitarnya.  “Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur,” ujar Kosmos Kendi, salah satu nelayan dari kelompok BW Woi.  Wilayah pesisir Distrik Jayapura Utara dan Selatan menjadi satu dari 10 area potensi blok migas baru yang  juga merupakan “piring makan” bagi masyarakat. Pemutusan rumpon ini membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Padahal, sekitar 4.200 keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan mereka merupakan pemasok penting ikan di pasar Jayapura.  “Saat (migas) belum beroperasi saja, rumpon dibasmi. Tak ada hasil sekarang. Kalau sudah beroperasi, kami tak bisa makan apa-apa.” kata Asbani, koordinator nelayan. Selain tidak ada sosialisasi pemutusan rumpon, mereka juga tidak menerima informasi terkait potensi proyek migas tersebut. Mereka khawatir akan dampak jangka panjangnya hingga ke anak cucu. Oleh karenanya, mereka menolak tegas karena nelayan yang menanggung kerugian jangka panjang. Seperti, tumpahan minyak akibat kebocoran kecil, pemasangan pipa dan pemasangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/wacana-blok-migas-northern-papua-kembali-muncul-bagaimana-nasib-nelayan-jayapura/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 10:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005012/Breadfruit2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134276</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September. Lahan tadah hujan menjadi salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/">Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September. Lahan tadah hujan menjadi salah satu yang rentan karena tidak memiliki akses irigasi memadai. Di tengah kekhawatiran terhadap produksi pangan, sejumlah penelitian menyoroti sukun (Artocarpus altilis) sebagai tanaman yang berpotensi dikembangkan di wilayah kering. Sukun adalah pohon berumur panjang yang dapat terus berbuah tanpa ditanam ulang setiap musim seperti padi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pohon yang telah tumbuh dengan baik mampu bertahan saat kekeringan berlangsung tiga hingga empat bulan. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti sukun dapat tumbuh di semua tempat tanpa memperhatikan kondisi lahannya. Penelitian Universitas Pattimura di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, mendapati sukun tetap tumbuh di wilayah dengan musim kemarau panjang. “Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Amat Reniwurwarin dan rekan-rekannya. Temuan tersebut memberi gambaran tentang kemampuan sukun bertahan dalam kondisi setempat. Sementara itu, tim Universitas Indonesia memetakan kesesuaian lahan budi daya sukun di Jawa Tengah. Hasil pemodelan mereka memperkirakan sekitar 28,35 persen luas provinsi tersebut saat ini sesuai untuk budi daya sukun. Penelitian itu juga memproyeksikan perubahan wilayah yang sesuai pada masa depan berdasarkan skenario iklim tertentu. Angka-angka ini menunjukkan potensi, tetapi tetap perlu diterjemahkan dengan memperhatikan kondisi tiap lokasi. Kajian lain yang diterbitkan di PLOS Climate memproyeksikan bahwa wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/sukun-pohon-pangan-potensial-indonesia-yang-tangguh-hadapi-kemarau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 06:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29040912/Kucing-kuwuk2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134307</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan kondisi negatif keberadaan kucing hutan sering kali berawal dari dua hal yang dianggap sederhana, yakni ketidaktahuan dan pengabaian. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” jelas Erwin, yang juga pendiri SINTAS, yayasan yang berfokus pada konservasi satwa liar, Jum’at (25/9/26). Jika kondisi tersebut terus berlangsung, upaya menjaga populasi kucing liar dilindungi ini akan semakin sulit. Penggunaan racun untuk membasmi hama seperti tikus atau bajing, ketika hama tersebut mati maka bangkainya berpotensi dimakan kucing kuwuk. Hal serupa terjadi pada penggunaan jerat yang tidak bisa memilih satwa sasaran. Padahal, kucing yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini punya peran menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. “Akibatnya, menimbulkan konsekuensi ekologis.” Kucing kuwuk yang habitatnya di pinggir hutan membuatnya tidak jarang bertemu manusia. Foto: Dok. Risa Adelia. Lantas, bagaimana cara mengenalkan kucing kuwuk pada masyarakat tanpa mendorong mereka untuk menangkap atau memelihara? Erwin katakan, edukasi konservasi bukan pekerjaan sederhana. Perubahan pola pikir manusia membutuhkan proses dan pendekatan berbeda, karena setiap kelompok masyarakat punya karakter serta kondisi beragam. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.” Pendekatan edukasi pada masyarakat urban tidak bisa disamakan dengan masyarakat yang tinggal di tepian hutan. Pesan konservasi perlu disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:38:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29052825/Polylepis_Tarapacana_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134318</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih tinggi lagi. Di Pegunungan Andes, ada satu jenis pohon yang tumbuh jauh di atas batas itu. Namanya Polylepis tarapacana, dan warga setempat menyebutnya queñua atau keñua. Di lereng Nevado Sajama, gunung tertinggi di Bolivia dengan puncak 6.542 meter di atas permukaan laut (mdpl), pohon ini tumbuh mulai sekitar 4.200 hingga 5.200 mdpl. Belum ada spesies pohon lain yang diketahui hidup setinggi itu. Selain di Bolivia, queñua juga tumbuh di dataran tinggi Altiplano yang masuk wilayah Chile, Argentina, dan Peru. Dua Cara Menghadapi Malam yang Membeku Pada ketinggian seperti ini, suhu malam bisa turun jauh di bawah titik beku. Bagi tumbuhan, kondisi tersebut berbahaya karena air di dalam jaringan dapat membentuk kristal es yang merusak sel. Pertanyaan tentang bagaimana queñua bertahan dalam kondisi itu diteliti oleh tim yang dipimpin Fermín Rada dari Universidad de Los Andes, Venezuela. Tim tersebut mengukur dua hal pada bagian-bagian pohon, yaitu suhu saat jaringan mulai rusak dan suhu terendah yang bisa dicapai jaringan sebelum membeku. Pengukuran dilakukan pada dua musim, yaitu musim kering yang dingin dan musim basah yang lebih hangat. Hasilnya lalu dibandingkan dengan suhu udara minimum yang tercatat di dekat permukaan tanah di Sajama. Daun berbulu halus dan bunga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22155947/Foto-C-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134242</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah. Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin. Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki. Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 04:29:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27090429/IMG_1981-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134234</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu masyarakat Pulau Seram, sebelum menancapkan tiang sasi di halaman kantor dewan. Bagi mereka, penancapan tiang sasi itu bukan sekadar prosesi adat, tetapi  sekaligus penegasan sikap atas wilayah adat yang menjadi ruang hidup dan warisan leluhur mereka. Bernard Lilihata, Ketua Majelis Latupati Kecamatan Tehoru, sekaligus Raja Negeri Hatumete katakan, kedatangan mereka ke kantor dewan untuk adukan berbagai persoalan. Di antaranya, polemik pemasangan tapal batas kawasan hutan produksi yang konversi (HPK), batas Taman Nasional Manusela. Juga untuk menuntut pengakuan masyarakat adat di 10 negeri Tehoru. Simbol sasi ini, katanya,  memiliki dua makna. Pertama, larangan bagi siapa pun, dengan maksud apa pun, untuk mengambil alih atau memiliki hutan-hutan adat di  Kecamatan Tehoru. Kedua,  sebagai simbol persatuan dan kekuatan masyarakat dalam menjaga wilayah itu. “Orang yang menjaga merasa bahwa dia tidak sendiri. Karena ada simbol dari sepuluh negeri ini yang bersama-sama menjaga tanah ini,” ujarnya. Masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru berjalan bersama menuju Kantor DPRD Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (9/9/26). Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Bernard katakan, penancapan tiang sasi di halaman DPRD bukan tanpa alasan. Bagi Masyarakat Adat Tehoru, lembaga legislatif merupakan representasi rakyat yang mereka harapkan bisa meneruskan suara mereka kepada pemerintah. Mereka berharap,  DPRD&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Teratai Raksasa dari Amazon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 03:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/13024142/Victoria_amazonica_JPG01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134282</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam. Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/">Kenali Teratai Raksasa dari Amazon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam. Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan V. boliviana, dengan spesies terakhir terkonfirmasi sebagai spesies terpisah pada 2022. Penelitian University of Mancaster dan University Ofxord mengungkapkan bentuk geometris daun Victoria amazonia lebih efisien dibanding spesies teratai lain. Tanaman ini memiliki ketebalan daun yang bervariasi dan tulang daun bercabang rapat menyerupai kisi-kisi konstruksi, berfungsi mendistribusikan beban secara merata sehingga tidak mudah sobek dan rusak meskipun ada tekanan besar. Selain itu, kombinasi lapisan lilin tebal, tepi daun melengkung ke atas, dan rongga udara di bawah daun membuatnya dapat mengapung di permukaan air.  Di habitat aslinya, tanaman ini menyediakan naungan dan tempat berlindung bagi ikan kecil, katak, dan serangga. Luas penampang daun menghasilkan bayangan berperan mengatur cahaya dan suhu air sehingga memengaruhi alga dan organisme fotosintetik lain. Sayangnya, habitat Victoria amazonia di Amazon terancam oleh deforestasi, polusi, pembangunan, dan perubahan iklim. Kondisi ini mengubah aliran air, meningkatkan sedimentasi rawa, memengaruhi curah hujan, dan suhu air. Selain daun yang rakssa, tanaman ini memiliki bunga yang mekar dalam waktu yang singkat. Yakni, hanya pada malam hari dan berlangsung sekitar dua malam berturut-turut. Diameternya pun mencapai 40 cm. Sejumlah kebun botani dunia, termasuk Kew Gardens, membudidayakan dan memelihara tanaman ini sebagai koleksi konservasi. Selain itu, pemantauan habitat juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan di Jambi Meluas,  Api Lalap Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 01:27:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/28235442/Seorang-petugas-sedang-berusaha-memadamkan-api-yang-membakar-lahan-gambut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134287</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemertak pelepah sawit terbakar di Sungai Renjah, memecah sunyi malam itu. Sesekali dentuman kecil dari batang yang tumbang, dan suara desisan angin membawa hawa panas dan asap yang mencekik. Pertengahan Agustus malam itu, Basri terlihat pontang-panting menyeret kayu memukuli api yang membakar kebun sawitnya. Di tengah jerebu, lelaki paruh baya itu akhirnya ambruk, napas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/">Kebakaran Hutan di Jambi Meluas,  Api Lalap Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemertak pelepah sawit terbakar di Sungai Renjah, memecah sunyi malam itu. Sesekali dentuman kecil dari batang yang tumbang, dan suara desisan angin membawa hawa panas dan asap yang mencekik. Pertengahan Agustus malam itu, Basri terlihat pontang-panting menyeret kayu memukuli api yang membakar kebun sawitnya. Di tengah jerebu, lelaki paruh baya itu akhirnya ambruk, napas terengah-tengah. “Habis sudah kebunku,” katanya pelan. Berminggu-minggu api mengepung wilayah Sungai Renjah, Dusun Pangkalan Ranjau, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Kebakaran tak hanya menghanguskan semak belukar dan kebun masyarakat, juga terus bergerak mendekati pemukiman. Jufri, pimpinan Suku Anak Dalam Pangkalan Ranjau mengatakan, api pertama kali terlihat di wilayah Tengki 6 dan Tengki 9, konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki), sekitar awal Agustus. “Mungkin orang buka lahan,” katanya. Dua minggu kemudian, api mencapai Pangkalan Ranjau, sekitar 15 kilometer dari lokasi awal. Api membakar wilayah Sungai Renjah dan terus menjalar ke Sungai Jerat, Sungai Simpur hingga Duriah Sembilan. “Sekarang ini api sudah sampai Seko Suban, sekitar 40 kilometer dari awal api muncul. Api itu sekarang ada yang mengarah ke Sumatera Selatan, ada yang ke Jambi,” ujar Jufri. Api juga mulai mendekati pemukiman paling padat di Pangkalan Ranjau. Beranda Perempuan, organisasi nonpemerintah yang aktif melakukan pemberdayaan komunitas akar rumput, memperkirakan 300 keluarga terdampak kabut asap. “Sekitar 150 anak sakit tenggorokan dan batuk,” kata Zubaidah, Direktur Beranda Perempuan. Di Dusun Trans III, Desa Sepintun, Sarolangun, situasi tak jauh berbeda. Hampir sebulan api membakar areal perkebunan karet PT Alam Lestari Nusantara (ALN) anak perusahaan PT&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Adat Boti Jaga Hutan untuk Kehidupan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 00:01:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134280</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti.  Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya.  Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/">Cerita Masyarakat Adat Boti Jaga Hutan untuk Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti.  Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya.  Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan tetap menjaga kelestarian alam. Cuaca kini semakin tidak bisa terprediksi, cara mengatasinya, mereka tak hanya menanam jagung tetapi juga sorgum, ubi, labu, pisang, dan kacang. Mereka menanamnya dengan tumpang sari.  “Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo Neolaka, perempuan adat Boti. Sistem tanam dan panen masyarakat adat Boti juga berstrategi. Dalam satu lahan ladang, mereka menanam berbagai jenis tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Jika hujan terus menerus, gagal panen, atau terserang hama, masyarakat masih memiliki cadangan pangan lain. Sebaliknya, ketika panen melimpah, mereka menyisihkan sebagian untuk menjadi benih.  Begitu pula saat makanan telah tersaji di piring. Mereka paham kapan harus makan banyak dan makan sedikit. Semuanya tergantung hasil panen, apakah melimpah atau tidak.  Menurut Raja (Usif) Boti, sejak dulu hingga sekarang, mereka tidak mengalami kesulitan mencari makanan karena mereka menjaga alam sekitar. Hal ini terlihat dari tutupan lahan masyarakat Boti yang memang lebih baik daripada wilayah lain.  “Karena alam kasih kita sedikit, kita makan secukupnya. Tetapi kalau alam kasih banyak, yang lain kami simpan,” kata Molo Benu, pemimpin perempuan adat Boti. Menjaga hutan juga menjadi bagian adat istiadat masyarakat Boti. Mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 11:46:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15074728/Foto-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134279</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia. Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/">Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia. Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain. Sayangnya, menyempitnya mangrove di wilayah pesisir Aceh berdampak pada hadirnya burung migran. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Wilayah tersebar di lima kecamatan, diantaranya Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala. Eddy Safari, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 menyebutkan sekitar 10% lahan mangrove telah menjadi milik pribadi. Di kawasan mangrove Kuta Alam, sebanyak lima jenis spesies sudah tidak dapat lagi ditemukan sejak adanya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sejak tahun 2012.  Hingga Februari 2025, hanya empat spesies burung yang terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu. Burung tersebut pun jumlahnya hanya mencapai kurang dari 100 ekor saja, berkurang jauh dari biasanya yang mencapai 2.000an ekor.  Tentu, penyusutan ini berdampak bagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 10:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230748/Bahrain_Tree_of_Life_14-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134151</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/">Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air? Artikel tersebut menyebut pohon ini diduga berasal dari genus Prosopis, kemungkinan Prosopis cineraria atau Prosopis juliflora. Keduanya dikenal mampu hidup di lingkungan kering, tetapi spesies Pohon Kehidupan belum dipastikan. Karena itu, penjelasan tentang cara bertahannya masih berupa sejumlah dugaan yang didasarkan pada sifat pohon Prosopis dan kondisi lokasi. Dugaan utama mengarah ke akarnya. Akar Prosopis dapat tumbuh sangat dalam dan luas, memungkinkan pohon menjangkau simpanan air di bawah permukaan tanah. Para ilmuwan menduga Pohon Kehidupan memperoleh air dari akuifer yang tersembunyi di bawah gurun. Sumber air tersebut tidak terlihat oleh pengunjung yang datang ke lokasi. Temuan arkeologis menambah kemungkinan lain. Dalam penggalian pada 2010, ditemukan sisa permukiman kuno serta kemungkinan bekas sumur atau saluran air di sekitar pohon. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut mungkin pernah memiliki akses air. Meski demikian, bekas saluran atau sumur belum membuktikan bahwa akar pohon saat ini menggunakan sumber air yang sama. Selain mencari air, pohon perlu mengurangi jumlah air yang hilang. Daun Prosopis terdiri atas banyak anak daun kecil, yang membantu membatasi penguapan. Dalam kondisi sangat kering, pohon ini juga dapat menggugurkan daunnya. Artikel tersebut turut menyebut hubungan akar dengan jamur tanah dan bakteri pengikat nitrogen, yang membantu pohon memperoleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 07:44:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16095317/DSCF5209-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133744</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alimuddin duduk santai di saung tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pagi itu, dia menunggu giliran mengantar wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil sekitar perairan Selat Alas. Dari tempat duduknya itu, dia pandangi kapal berwarna pink yang hendak berlayar mengantar turis ke Pantai Pink. “Itu teman saya mengantar, saya belum gilirannya,” katanya sambil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/">Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alimuddin duduk santai di saung tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pagi itu, dia menunggu giliran mengantar wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil sekitar perairan Selat Alas. Dari tempat duduknya itu, dia pandangi kapal berwarna pink yang hendak berlayar mengantar turis ke Pantai Pink. “Itu teman saya mengantar, saya belum gilirannya,” katanya sambil menunjuk dua awak kapal yang perlahan menjauhi daratan. Alimuddin adalah pemandu wisata. Dia bersama warga lain tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjoh. Mereka bertugas mengantar wisatawan menikmati pesona alam di Pantai Pink, Gili Sunut, Gili Maringkik, dan Gili Petelu–destinasi favorit di Lombok. Pekerjaan itu Alimuddin lakoni sejak 2016. Sebelumnya,  dia adalah nelayan penangkap hiu sejak 1997. Dia memilih alih pekerjaan setelah merasa  berburu hiu tak lagi menguntungkan. Bukan saja penghasilan yang tidak menentu, juga berisiko besar. Untuk menangkap hiu, Alimuddin bisa melaut hingga sebulan. Sementara di tengah laut, apa pun bisa terjadi, termasuk  nyawa  jadi taruhan. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” ujarnya, akhir Mei. Hiu hasil tangkapan didaratkan di pesisir Lombok Timur. Sebagian di antaranya tanpa sirip. Foto: Ahmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Selain Alimuddin, ada juga Agip, nelayan penangkap hiu yang juga beralih pekerjaan. Dia mengaku menangkap hiu sejak usia 18 tahun dan berhenti pada 2010. Pria berkulit sawo matang itu sempat menjadi nelayan tangkap tradisional dengan sampan kecil. Namun, karena hasil tangkap sedikit, dia memilih menjadi pemandu wisata. Jauh dari keluarga menjadi alasan utama Agip berhenti menangkap hiu. Dia merasa tak tega meninggalkan istri dan anak selama 20 hari di laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Bodoh Papua, Sulit Terlihat dan Cepat Menyerang Mangsa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 05:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21231725/Death_Adder-Australia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134185</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”. “Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/">Ular Bodoh Papua, Sulit Terlihat dan Cepat Menyerang Mangsa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”. “Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat diam. Bahkan, ketika kita sentuh dengan kayu atau dengan benda lain, dia memilih diam. Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN. Julukan itu menutupi kemampuan berburu yang khas. Ular dari genus Acanthophis, yang dikenal pula sebagai Death Adder, tidak mengejar mangsa secara aktif. Ia menunggu di satu tempat, sering kali dengan tubuh tertutup daun. Warna tubuhnya membantu ular tetap tersamar di hutan, semak belukar, maupun padang rumput. Bagian ujung ekornya menyerupai cacing. Saat ekor itu bergerak, hewan lain dapat mendekat untuk menyelidikinya. Ular kemudian menyergap, menyuntikkan bisa, dan menunggu sebelum memakan mangsanya. Perpaduan antara kamuflase, sikap diam, dan serangan mendadak memungkinkan Death Adder menangkap hewan yang bergerak cepat. Tubuh ular ini pendek dan gemuk, dengan panjang sekitar 40-70 sentimeter. Kepalanya digambarkan berbentuk seperti kapak, matanya berpupil vertikal, dan taringnya panjang. Meski bentuk tubuh dan cara berburunya menyerupai kelompok ular lain, penelitian yang dikutip dalam artikel menempatkannya dalam famili Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang. Sikap diamnya justru membuat perjumpaan dengan manusia berisiko. Hari mengatakan masyarakat Papua berhati-hati ketika melewati tumpukan daun lembap. Menurutnya, saat melihat ular bodoh, sebagian warga menyebutnya “tali” kepada orang di dekat mereka agar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 04:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002746/99-persen-penyebaran-penyakit-rabies-diakibatkan-oleh-gigitan-anjing.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134250</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seorang ibu yang tinggal di wilayah Alsace membawa anaknya ke Paris. Butuh waktu sekitar 10 jam perjalanan darat untuk sampai ke ibu kota Prancis itu. Tujuannya bertemu Louis Pasteur, nama yang sangat lekat dengan pengawetan makanan yang metodenya dipakai hingga kini. Dia berharap ilmuwan itu mau mengobati anaknya. Joseph Meister, 9 tahun. Anaknya digigit anjing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/">Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seorang ibu yang tinggal di wilayah Alsace membawa anaknya ke Paris. Butuh waktu sekitar 10 jam perjalanan darat untuk sampai ke ibu kota Prancis itu. Tujuannya bertemu Louis Pasteur, nama yang sangat lekat dengan pengawetan makanan yang metodenya dipakai hingga kini. Dia berharap ilmuwan itu mau mengobati anaknya. Joseph Meister, 9 tahun. Anaknya digigit anjing gila sampai 14 kali. Kalender memperlihatkan bulan Juli, 1885. Sampai waktu itu, mereka yang digigit anjing terjangkit rabies kerap berakhir kematian. Louis Pasteur memang telah menemukan vaksin rabies. Namun hanya berhasil diuji pada anjing dan kelinci. Seorang dokter bernama Jacques Joseph Grancher meyakinkan Louis Pasteur untuk mencoba vaksin itu ke manusia. Louis Pasteur gamang. Dia lebih memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada Grancher. Maka setiap hari selama sepuluh hari, Grancher memberikan 12 dosis vaksin ke anak itu. Sebulan kemudian, Joseph Meister dinyatakan sembuh. Sontak, banyak orang yang digigit anjing gila pergi menemuinya sampai Pasteur dan teman-temannya kewalahan. Tak lama setelahnya Institut Pasteur berdiri. Lembaga ini lahir dari semangat Louis Pasteur menjadikan ilmu pengetahuan melawan penyakit mematikan. Institut melakuan berbagai penelitian ilmiah di bidang mikrobiologi, penyakit menular, dan vaksinasi untuk melindungi kesehatan masyarakat. Pada 28 September, Louis Pasteur berpulang. Untuk menghormati jasanya menemukan vaksin rabies, setiap 28 September diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia. Peringatan tahun ini bertema “Stronger Together” atau Bersama Lebih Kuat. Tema ini menyiratkan pesan bahwa penghapusan penyakit rabies hanya mungkin dilakukan secara bersama. Baik dari komunitas lokal, tenaga kesehatan, pendidik, media massa, hingga mitra global. Rabies telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 03:19:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/28031549/Donkey_in_Pakistan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134260</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di banyak wilayah pegunungan dan gurun di dunia, manusia telah lama bergantung pada hewan untuk mengangkut barang melintasi medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor. Kuda, kerbau, unta, dan keledai masing-masing punya peran dalam sejarah transportasi darat, dan masing-masing berkembang dengan cara berbeda untuk menghadapi tantangan lingkungan tempat mereka hidup. Di antara hewan-hewan itu, keledai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/">Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di banyak wilayah pegunungan dan gurun di dunia, manusia telah lama bergantung pada hewan untuk mengangkut barang melintasi medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor. Kuda, kerbau, unta, dan keledai masing-masing punya peran dalam sejarah transportasi darat, dan masing-masing berkembang dengan cara berbeda untuk menghadapi tantangan lingkungan tempat mereka hidup. Di antara hewan-hewan itu, keledai (Equus asinus) sering menarik perhatian karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih kecil dibanding kuda atau kerbau, namun tetap mampu membawa beban dalam proporsi yang besar terhadap berat tubuhnya sendiri. Sejumlah penelitian veteriner dan zoologi telah menelusuri kombinasi anatomi dan fisiologi yang menjelaskan kemampuan ini, sekaligus mengapa keledai secara historis dipilih sebagai hewan angkut di medan yang sulit dijangkau kuda maupun kerbau. Kapasitas fisik yang besar ini, seperti akan terlihat, tidak selalu sejalan dengan praktik yang aman bagi kesejahteraan hewan itu sendiri. Struktur tulang dan otot yang dirancang untuk menahan beban Salah satu faktor utama terletak pada kepadatan tulang keledai. Tulang kortikal pada keledai relatif lebih padat dan kompak dibanding kuda maupun poni, sehingga memerlukan gaya yang lebih besar untuk mengalami patah tulang. Ketika cedera tulang memang terjadi, pola yang muncul pada keledai umumnya berupa fraktur inkomplet atau parsial, bukan patah total seperti yang lebih sering ditemukan pada kuda. Tulang belakang keledai juga lebih pendek dibanding kuda, dengan ruas tulang punggung (vertebra dorsal) yang berkembang kuat. Keledai memiliki lima ruas tulang lumbar, satu lebih sedikit dibanding kuda yang memiliki enam. Struktur punggung yang lebih lurus dan kaku ini membuat beban dapat diletakkan tepat di atas titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>