<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/author/ridzki.sigit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/author/ridzki-sigit/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2026 02:14:16 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 02:08:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09020018/Salah-satu-anakan-siamang-yang-dirawat-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Punti-Kayu-Palembang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133255</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. &#8220;Respon paling kuat terhadap suara lalu lintas dan mesin pemecah beton,&#8221; tulis D’Agostino dan kolega melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025. Para peneliti mengamati tujuh kelompok siamang di empat lokasi di Sumatera Utara, yakni Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya. Mereka kemudian melakukan eksperimen pemutaran suara berulang atau playback experiment. Anakan siamang ini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Ada empat suara yang digunakan. Pertama, suara jackhammer, mesin pemecah beton. Kedua, suara lalu lintas kendaraan. Ketiga, musik rock. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan suara tonggeret atau cicada, suara alami yang biasa ditemukan di hutan. Keempat, suara itu diperdengarkan sekitar tiga menit dengan tingkat suara mendekati 90 desibel. Dengan menggunakan suara alami sebagai kontrol, peneliti dapat melihat apakah siamang sekadar bereaksi terhadap suara keras, atau memang menunjukkan respon berbeda terhadap suara yang berasal dari aktivitas manusia. Hasilnya menarik. Setelah mendengar suara antropogenik, kelompok siamang cenderung meningkatkan jarak perjalanannya dan bergerak menjauh dari sumber suara. Respons paling jelas terlihat setelah paparan suara lalu lintas dan jackhammer. Dalam salah satu pengukuran, siamang bergerak rata-rata sekitar 103,86 meter dari sumber suara lalu lintas, dibandingkan sekitar 51,14 meter setelah mendengar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/09/polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 00:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044031/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Jalan Panjang Enam Kukang Jawa Kembali ke Ujung Kulon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan kukang jawa kembali ke hutan. Ketua RT dari Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, itu biasanya hanya sesekali melihat Nycticebus javanicus di alam. Namun, kali ini dia turut membawa primata tersebut menuju lokasi pelepasliaran di Taman Nasional Ujung Kulon. “Baru sekarang merasakan langsung,” ujarnya. Enam kukang yang dibawa terdiri dari satu jantan dan lima betina bernama Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka menempuh perjalanan sekitar enam jam dari pusat rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia di Bogor menuju Ujung Kulon. Sebagian besar kukang tersebut merupakan serahan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam, kemudian dititipkan kepada YIARI untuk menjalani perawatan. Namun, membawa mereka kembali ke hutan bukan perkara sederhana. Menurut Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kukang hanya dapat dilepasliarkan jika sehat secara fisik dan perilaku. Setiap individu harus menjalani pemeriksaan fisik, darah, rontgen, serta pemeriksaan dan penanganan parasit. Setelah dinyatakan sehat, kukang menjalani karantina selama sekitar enam minggu. Mereka kemudian dipindahkan ke kandang sosialisasi agar perilaku alaminya dapat diamati. Penilaian mencakup cara makan, grooming, kondisi sosial, dan kemampuan berpindah. Pengamatan perilaku dilakukan selama sekitar 200 jam. Proses rehabilitasi tidak selalu berjalan mulus. Jika kukang mengalami diare, kebotakan, tidak mau makan, atau perubahan kondisi lainnya, satwa tersebut harus kembali diperiksa di klinik. “Tantangan terbesar justru saat kukang datang dalam kondisi parah, terutama akibat sengatan listrik,” kata Indri. Luka berat dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Dalam kasus tertentu, penyembuhan bekas amputasi akibat sengatan listrik berlangsung hingga 10 bulan, belum termasuk pemulihan perilakunya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/jalan-panjang-enam-kukang-jawa-kembali-ke-ujung-kulon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 10:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000035/Anggrek03-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133093</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sulawesi, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Asri, 27 Tahun Menjaga Anggrek Hutan Campaga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sebuah pohon rambutan di Kelurahan Campaga, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sejumlah anggrek tumbuh menempel pada batangnya. Akarnya menjalar, sementara tunas-tunas baru mulai bermunculan. Tanaman itu merupakan bagian dari upaya Muhammad Asri melestarikan anggrek hutan Campaga. Asri merupakan Ketua Kelompok Tani Mattiro Baji yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan 30 orang. Selama 27 tahun, kelompok ini memperbanyak anggrek secara vegetatif melalui metode stek, yakni memisahkan rumpun atau cabang dari batang maupun pseudobulb. Dalam satu tanaman induk dapat tumbuh hingga 50 anakan. Bibit kemudian dipindahkan ke wadah berbahan sabut kelapa dan ditempatkan pada pohon-pohon rindang, seperti rambutan, langsat, dan cengkeh. Anggrek tumbuh baik pada musim hujan dan biasanya berbunga menjelang musim kemarau. Pada awalnya, anggota kelompok mengambil anggrek dari Hutan Campaga untuk dipelihara atau dijual. Usaha tersebut mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah per bulan. Namun, mereka kemudian menyadari populasi anggrek di hutan semakin berkurang, terutama anggrek bulan. “Sudah tiga tahun ini kami tidak lagi mengambil anggrek di dalam hutan,” kata Asri. Kelompok tersebut kini justru mengembalikan anggrek ke habitatnya. Sekitar 1.500 bibit telah ditanam kembali di Hutan Campaga. Anggrek juga ditempelkan pada pohon-pohon di sepanjang jalan desa dan kawasan wisata permandian Erbol. Hutan Campaga seluas 23 hektar dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis anggrek, pohon beringin tua Erasa Lego-lego, dan mata air Tombolo. Keberadaannya juga menjaga pasokan air bagi ratusan hektar sawah serta kebun di sekitarnya. Perbanyakan anggrek dipusatkan di sebuah greenhouse berukuran 10 × 12 meter. Tempat tersebut menampung sekitar 78&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/asri-27-tahun-menjaga-anggrek-hutan-campaga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 07:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08065955/Areal-hutan-benak-yang-tersisa-yang-terhimpit-perkebunan-sawit.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Krisis Air, Hutan Adat Pertahanan Terakhir Suku Mapur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nek Aso (72), tampak kebingungan di dapur, saat kedatangan sejumlah tamu di pondoknya, pertengahan Agustus 2026. Dia ingin menyajikan teh dan kopi, tapi air bersih yang ingin dimasak tinggal setengah liter di jerigen. “Kalian mau kopi atau teh?” Para tamu yang sebagian besar mahasiswa dari Pangkalpinang sadar dengan pertanyaan itu. Mereka menjawab, “Tidak Nek, kami sudah bawa air minum sendiri.” Nek Aso tersenyum. Nek Aso merupakan perempuan Suku Mapur yang masih hidup di sekitar hutan larangan Bukit Tabun, Dusun Pejem, Desa Gunung Pelawan, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hutan larangan Bukit Tabun yang luasnya dua hektar itu, dikelilingi perkebunan sawit perusahaan dan masyarakat. Hutan larangan Bukit Tabun bagian dari kawasan hutan adat Benak milik Suku Mapur sekitar 2.876 hektar. Hutan larangan di Benak, selain Bukit Tabun, juga hutan larangan Gunung Cundong (Condong) luasnya mencapai 320 hektar. Saat ini kawasan hutan adat Benak dikuasai perusahaan sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Negara mengakuinya sebagai kawasan hutan produksi. Belum ada pengakuan wilayah adat Suku Mapur oleh negara. Saat ini, sebagian besar masyarakat Suku Mapur berkebun atau menetap di kawasan hutan adat Benak yang belum dijadikan perkebunan sawit. Sudah dua bulan lebih hujan tidak turun di kawasan hutan adat Benak. Sejumlah anak sungai mulai mengering. Bahkan, sudah setengah bulan beberapa sumur kering. “Air buat kebutuhan sehari-hari kami dari dusun, yang dibawa anak kami.” Dijelaskan Nek Aso, sumur kering di Benak jarang sekali terjadi. Terakhir, pada 1997. Itu pun hanya berlangsung beberapa hari, sebelum hujan. “Semoga hujan turun pada September atau Oktober, jadi kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/krisis-air-hutan-adat-pertahanan-terakhir-suku-mapur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:21:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Haq]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/01/22053404/Tambang-Tumpang-Pitu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mendorong Peran Agama di Tengah Krisis Sosial Ekologi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusparagam bencana melanda Indonesia. Bahala karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua belum padam. Ribuan titik api masih menyala. Jutaan masyarakat masih terus menghirup asap. Krisis iklim, buruknya tata kelola, hingga ambisi pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan alam jadi musababnya. Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi lintas elemen Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat yang Jaringan Gusdurian selenggarakan. Bertajuk Agama untuk Semesta, diskusi di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Jombang, Senin (29/8/26) itu berlangsung dalam dua sesi. Jagat merupakan akronim dari Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi. Jay Akhmad, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, mengatakan,  forum itu berangkat dari kegelisahan tentang minimnya gerakan sosial keagamaan menyikapi pelbagai krisis sosial ekologi di Indonesia. “Ini berangkat dari kegelisahan kami tentang situasi bagaimana agama, kami melihat dan merasakan masih jauh bicara dan berperan dalam isu-isu lingkungan,” ujarnya. “Gus Dur mengatakan, merusak alam sama dengan merusak kemanusiaan.” Inayah Wahid, Dewan Pengawas Greenpeace Indonesia soroti lemahnya political will negara dalam upaya perbaikan lingkungan. Foto: Abdul Haq/Mongabay Indonesia. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya menyebutkan, forum itu sebagai oase perjumpaan, yang mengingatkannya pada kisah Santo Fransiskus dari Asisi dan Sultan Malik al-Kamil. Perjumpaan itu yang menginspirasi Paus Fransiskus melahirkan dokumen seruan moral lingkungan hidup berjudul laudato si’. Salah satu misi dari penerbitan dokumen itu adalah menyelamatkan bumi. Sebab, prinsip dasarnya adalah semua makhluk adalah wajah Allah yang diciptakan dengan cinta kasih dan saling terhubung satu sama lain. Menurut dia, ada interdependensi antara manusia dan alam. “Kita semua ada di dalam satu kapal, satu rumah bersama. Agama sehebat apapun nanti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/mendorong-peran-agama-di-tengah-krisis-sosial-ekologi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 06:01:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08055225/Cibedug-7-scaled-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133205</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Dari PCS 2026: Belajar Konservasi dari Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mata Mikael Ane menerawang. Dua tahun lalu, Mahkamah Agung memutus bebas perkaranya. Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Ruteng menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara terhadapnya. Mikael didakwa menggunakan atau memanfaatkan hutan secara tidak sah. Di tingkat kasasi, dia menang. Bersama sekitar 300 kepala keluarga, Mikael tinggal di wilayah adat Lok Pahar, Desa Ngkiong Dora, Lambaleda Timur, Manggarai Timur. “Leluhur kami tinggal di sana ribuan tahun. Lalu datang mereka dan mengatakan itu bukan hak kami. Saya bilang tidak. Karena saya bersikeras dan mempertahankan, akhirnya ditangkap,” ujar Mikael. Mikael Ane, warga Masyarakat Adat Ngkiong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Perjuangannya mempertahankan wilayah adat pernah membawanya ke pengadilan sebelum Mahkamah Agung memutusnya bebas. Foto diambil saat People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Yogyakarta. Foto: Nuswantoro/Mongabay Indonesia Pengalaman berbeda datang dari Sukinah, petani asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Pada 2017, dia berdiri di depan Istana Presiden dengan kaki disemen. Itu kali kedua Sukinah bersama para perempuan Kendeng melakukan aksi tersebut untuk memprotes pendirian pabrik semen di Pati. Sebelum dikenal sebagai “Kartini Kendeng”, Sukinah adalah petani yang menggantungkan kehidupan pada tanah dan air. “Kami tidak ada lahan tidak bisa bertani, ada lahan tapi tidak ada air tidak bisa bertani juga. Maka harus sinkron. Gunung biarlah tetap menjadi gunung,” katanya. Mikael dan Sukinah ditemui secara terpisah dalam People’s Conservation Summit (PCS) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1-3 September 2026. Forum tersebut mempertemukan masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, peneliti, dan pegiat konservasi untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan hutan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/dari-pcs-2026-belajar-konservasi-dari-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 04:22:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051902/Asap-dari-Gunung-Anak-Krakatau-semakin-pekat-awal-April-2020.-Foto-KPHK-Kepulauan-Krakatau.-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, msyarakat adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi. Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan,  debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi. Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung. “Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu. Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Nurhayat, warga Tancang mengatakan,  kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air. “Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya. Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah. Maryana berharap,  pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik. “Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.” Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/ketika-gunung-anak-krakatau-erupsi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 01:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07121329/Siswa-terpapar-kabut-asap-di-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133163</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga 29 Agustus. Sebanyak 71 di antaranya menerpa wilayah Landasan Ulin Selatan. Rabu (19/8/26) sore, api tiba-tiba berkobar di area yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari rumah perempuan 33 tahun itu. &#8220;Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar,&#8221; ceritanya, (23/8/26). Raungan meminta tolong menggema di penjuru kampung. &#8220;Saya juga ikut memadamkan api dengan memukul-mukulnya pakai kayu,&#8221; katanya. Petugas pemadam kebakaran datang, berjibaku mengendalikan api, hingga akhirnya kobaran berhasil mereda sebelum menjalar ke rumah warga. Dua hari berselang, Jumat (21/8/26), kebakaran besar yang membuatnya gentar kembali muncul di Pengayuan. Namun, kali ini api berkobar di lokasi yang lebih jauh dari rumah Sarah dan tak sampai melumat permukiman. &#8220;Syukurnya petugas pemadam kebakaran sigap untuk memadamkan.&#8221; Namun, rentetan insiden itulah yang meninggalkan trauma dan kekhawatiran terhadapnya. Dia jadi takut jika meninggalkan rumah, dan susah tidur saat malam. “Cemas api tetiba menyala.&#8221; Peristiwa kebakaran itu membuatnya jadi korban pertama yang menanggung derita kabut asap. Jerubu masuk rumah hingga membuatnya susah melihat. Baunya tercium hingga kamar. Dia mengalami gangguan kesehatan, mulai batuk, pilek, radang tenggorokan hingga pusing. Kian berat karena sejak kecil mengidap asma. &#8220;Ini juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/08/anak-anak-tersiksa-asap-karhutla-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Sep 2026 00:30:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22052755/Trenggiling-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133032</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, poiitik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Trenggiling Bukan Bahan Obat ataupun Hidangan Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya tertutup sisik, aktif pada malam hari, dan akan menggulung seperti bola ketika merasa terancam. Strategi pertahanan ini selama jutaan tahun mampu melindungi trenggiling dari predator alami. Namun, perlindungan tersebut hampir tak berguna ketika hewan pemalu ini berhadapan dengan manusia. Trenggiling merupakan salah satu korban terbesar perdagangan satwa liar dunia. Meski tidak sepopuler gajah, badak, atau harimau dalam kampanye konservasi, mamalia bersisik ini diburu dalam jumlah sangat besar. Sisik, daging, bahkan janinnya diperdagangkan untuk memenuhi permintaan pasar, terutama di Asia Timur. Salah satu pemicu utamanya adalah kepercayaan bahwa sisik trenggiling memiliki khasiat pengobatan. Sisik tersebut dianggap mampu mengatasi berbagai penyakit, meningkatkan vitalitas, hingga menyembuhkan kanker. Padahal, klaim itu tidak memiliki dasar ilmiah. Sisik trenggiling tersusun dari keratin, bahan yang sama seperti kuku dan rambut manusia. Mengonsumsinya tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tertentu. Selain sisiknya, daging trenggiling juga dianggap sebagai makanan mewah. Di sejumlah wilayah Asia Timur, menyantap daging atau janin trenggiling dipandang sebagai simbol status sosial. Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi menjadi sarana untuk menunjukkan kekayaan dan gengsi. Mitos kesehatan dan gaya hidup konsumtif tersebut menciptakan permintaan tinggi yang kemudian dimanfaatkan jaringan perdagangan ilegal. Skala perdagangannya sangat mengkhawatirkan. Sejak 2000, puluhan ribu trenggiling dilaporkan diperdagangkan dari berbagai negara di Asia dan Afrika. Data Yayasan SCENTS menunjukkan ada 354 pelaku dengan 299 operasi penangkapan di seluruh Indonesia pada 2022. Pada 2023, ada 267 operasi penangkapan dengan 217 pelaku ditangkap. Dan 3 bulan 2024 baru 35 operasi penangkapan. Trenggiling menempati peringkat pertama dari barang bukti yang disita oleh aparat sejak 2003.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/trenggiling-bukan-bahan-obat-ataupun-hidangan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 07:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07064315/Kupu-kupu-TNGGP-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133085</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelestarian hutan bisa dibaca lewat serangga. Keberadaan dan perubahan populasinya dapat memberi petunjuk tentang kondisi sebuah ekosistem. Itulah yang dikerjakan Caesar Adhitya (27) di Zona Pemanfaatan Barubolang, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Selama lebih dari dua tahun, staf ekologi EIGER Nature itu memetakan 64 titik pengamatan serangga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengumpulan data biodiversitas di kawasan yang tengah dikembangkan untuk ekowisata minat khusus. EIGER Nature mengantongi Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) seluas 253,6 hektare di Zona Pemanfaatan TNGGP. “Untuk sampel, kita ambil berdasarkan karakteristik kawasan seperti hutan sekunder, riparian, hutan pinus hingga area pemanfaatan. Hasilnya, hingga tahun 2025 kami menemukan lebih dari 70 jenis serangga,” kata Caesar. Sebanyak 43 jenis yang ditemukan belum memiliki status konservasi. Jenis lainnya berstatus risiko rendah (Least Concern/LC) dan kekurangan data (Data Deficient/DD). Di antara temuan itu terdapat capung batu bercak biru endemik jawa (Rhinocypha heterostigma) yang berstatus hampir terancam. Tim juga mencatat capung jarum Drepanosticta sundana serta kupu-kupu raja helena (Troides helena) yang masuk dalam Appendix II CITES. Tim peneliti mengamati satwa di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Bagi Caesar, keberadaan serangga penting untuk membaca hubungan antarspesies. Serangga berperan dalam penyerbukan, jaring makanan, hingga proses yang memengaruhi kondisi tanah. Data pemantauan pun tidak cukup dilakukan sekali. Pengumpulan data dilakukan berulang pada musim hujan dan kemarau untuk melihat perubahan kualitas lingkungan dan kemungkinan dampak aktivitas manusia. “Repetisi ini penting agar kita punya basis data yang valid untuk menilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/membaca-hutan-lewat-serangga-menakar-ekowisata-di-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 06:46:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01170111/Amphilophus_citrinellus_2015_G5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133000</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo. Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus. Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum. “Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles. Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan. Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir. Penelitian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 05:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07044132/Pelepasan-kukang-di-BTNUK-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-8-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133102</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosid (40), tidak pernah membayangkan jadi bagian tim yang mengantar kukang jawa pulang ke hutan. Selama ini, perjumpaannya dengan Nycticebus javanicus hanya sesekali di alam. Tetapi, sore itu beda. Lelaki yang merupakan Ketua RT di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, turut membawa primata ini ke lokasi pelepasliaran di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). “Baru sekarang merasakan langsung,” ujar bapak empat anak ini, Kamis (27/8/26). Sebanyak 6 individu kukang jawa dibawa ke area TNUK untuk dilepasliarkan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Melalui pelepasan yang diinisiasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Rosid juga baru tahu bahwa kukang merupakan satwa dilindungi. “Primata yang memiliki racun ini, punya nilai penting bagi ekosistem sehingga harus dijaga.” Masyarakat sekitar menyebut satwa yang bergerak lamban ini muka. Bagi Rosid, mengembalikan kukang ke hutan, tak sekadar mengantar, tetapi juga memastikan kehidupan mereka baik-baik saja di habitatnya. “Jangan sampai ada yang memburu.” Harapannya, kukang bisa hidup aman. Hutan tak hanya tempat mencari makan, melainkan juga rumah aman tanpa gangguan manusia. Rute menuju lokasi pelepasliaran di TNUK ditempuh berjalan kaki menelusuri hutan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Pelepasliaran bukan persoalan sederhana Indri Saptorini, dokter hewan yang merawat dan merehabilitasi satwa liar -khususnya kukang- di pusat rehabilitasi YIARI, mengatakan mengembalikan kukang ke hutan bukan perkara sederhana. Sebelum dilepasliarkan, setiap individu harus melewati proses panjang, tubuh dan sifat alaminya harus benar-benar siap menghadapi kehidupan di alam. Enam kukang yang ditranslokasi ini terdiri satu individu jantan dan lima individu betina, yaitu Eid, Durga, Buzz, Faki, Olivec, dan Hormuz. Mereka dibawa dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/mengantar-6-individu-kukang-jawa-pulang-ujung-kulon-sebagai-habitat-pelepasliaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 04:01:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07035732/Sea-snake-728x546-1-728x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133095</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fosil sering menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa suatu kawasan pernah memiliki wajah yang sama sekali berbeda dari yang terlihat sekarang. Gurun yang kini kering dan tandus bisa menyimpan sisa-sisa hewan laut, sementara puncak pegunungan dapat menyimpan cangkang makhluk yang dulu hidup di dasar samudra. Lewat sisa tulang dan lapisan batuan itulah para ilmuwan menyusun ulang lingkungan purba yang sudah lama hilang, termasuk mengungkap keberadaan hewan-hewan berukuran raksasa yang dulu menghuninya. Di tengah Gurun Sahara yang kering, tersimpan bukti bahwa kawasan tersebut pernah memiliki dunia yang sama sekali berbeda. Jutaan tahun lalu, sebagian Afrika Barat dilintasi laut dangkal yang menjadi habitat ikan, penyu, buaya purba, dan seekor ular air berukuran luar biasa bernama Palaeophis colossaeus. Ular purba ini diperkirakan dapat mencapai panjang 8,1 hingga 12,3 meter, namun angka tertinggi itu bukan hasil pengukuran kerangka lengkap. Para ilmuwan memperolehnya dari beberapa ruas tulang belakang saja, sebab fosil Palaeophis colossaeus yang diketahui hingga kini belum cukup lengkap untuk memperlihatkan bentuk seluruh tubuhnya. Bagaimana Ukuran Raksasa Ini Diperkirakan Palaeophis colossaeus hidup pada kala Eosen, sekitar 56 hingga 33,9 juta tahun lalu, ketika permukaan laut lebih tinggi dan sebagian Afrika Utara serta Afrika Barat terhubung oleh perairan yang dikenal sebagai Trans-Saharan Seaway. Fosilnya ditemukan dalam endapan laut dangkal Formasi Tamaguelelt di Mali, kawasan dengan lapisan fosfat yang menunjukkan lingkungan pesisir yang produktif. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh paleontolog Prancis Jean-Claude Rage pada 1983, dan termasuk dalam Palaeophiidae, kelompok ular purba yang telah punah dengan ukuran tubuh yang sangat beragam. Pada 2018, tim peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/palaeophis-colossaeus-ular-purba-raksasa-dari-dasar-gurun-pasir-sahara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekosistem Rusak, Nelayan Desak Hentikan Tambang Timah Ilegal di Teluk Kelabat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 02:35:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07095444/foto-nelayan-3-e1783418199804-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada Juni lalu, Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat mendesak pemerintah untuk penghentian permanen aktivitas tambang timah ilegal di kawasan teluk kelabat yang disebut telah berlangsung lama di wilayah tangkap nelayan. Ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas di kawasan tersebut. Aktivitas pertambangan itu berdampak bagi ribuan nelayan di 12 desa di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/">Ekosistem Rusak, Nelayan Desak Hentikan Tambang Timah Ilegal di Teluk Kelabat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada Juni lalu, Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat mendesak pemerintah untuk penghentian permanen aktivitas tambang timah ilegal di kawasan teluk kelabat yang disebut telah berlangsung lama di wilayah tangkap nelayan. Ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas di kawasan tersebut. Aktivitas pertambangan itu berdampak bagi ribuan nelayan di 12 desa di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Induk. Mulai dari kerusakan mangrove, terumbu karang, terganggunya jalur lintas nelayan, dan mulai menyempitnya wilayah tangkap. Dampaknya, hasil tangkapan menurun secara signifikan.  Sejak tambang ilegal marak terjadi dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan nelayan menurun 60-70%. “Kalau dulu kami mancing ikan itu dari pagi sampai sore bisa mendapatkan satu fiber. Tapi setelah dirusak oleh kapal isap, dirusak oleh ponton, maka ikan-ikan ini enggak bisa berkembang biak,” katanya. Mereka menduga PT Timah merupakan dalang dari beroperasinya tambang-tambang ilegal ini. Berdasarkan data DKP Babel menegaskan bahwa berdasarkan Perda  No. 3 Tahun 2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), Teluk Kelabat termasuk sebagai zona pelabuhan, perikanan tangkap, dan pariwisata. “Daerah tersebut merupakan kawasan bebas tambang atau zero tambang.” Devi, perwakilan Timah mengakui memiliki IUP terhadap wilayah tersebut. Namun, mereka membantah terlibat dalam pengoperasian ratusan ponton ilegal. Hingga saat ini perusahaan belum pernah mengeluarkan surat perintah kerja (SPK) untuk penambangan di Teluk Kelabat. “Kami (sejak) 2022 sudah tidak ada penambangan di ketiga IUP tersebut, karena terkait zona zero tambang tadi,” kata Devi, sebagaimana rekaman video yang nelayan kirim kepada Mongabay. Mendengar penjelasan itu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Babel pun meminta kepolisian dan instansi terkait melakukan penertiban. Menindaklanjuti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ekosistem-rusak-nelayan-desak-hentikan-tambang-timah-ilegal-di-teluk-kelabat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/#respond</comments>
					<pubDate>07 Sep 2026 01:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi dari Sumatera, Kalimantan sampai Papua. Temuan organisasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup memperlihatkan, titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) terindentifikasi di konsesi perusahaan maupun proyek pangan skala besar (food estate) seperti di Merauke, Papua Selatan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, menyatakan, karhutla yang merebak dari timur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/">Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi dari Sumatera, Kalimantan sampai Papua. Temuan organisasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup memperlihatkan, titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) terindentifikasi di konsesi perusahaan maupun proyek pangan skala besar (food estate) seperti di Merauke, Papua Selatan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, menyatakan, karhutla yang merebak dari timur hingga barat Indonesia sebagian besar terjadi di area berizin. Kenyataan ini mematahkan pernyataan pemerintah yang menjadikan masyarakat akar masalah atau penyebab karhutla. Di Papua, misal, titik api bahkan teridentifikasi di kawasan proyek strategis nasional (PSN) food estate. Seperti di Kabupaten Merauke, Papua Selatan hingga Papua Pegunungan. Ada relasi pembukaan lahan yang mencapai 2,5 juta hektar untuk proyek pemerintah dengan meningkatnya titik api itu. “Karhutla semakin masif di tanah Papua. Verifikasi lapangan, hampir semua titik panas menimbulkan titik api. Ini jadi isu krusial untuk tanah Papua,” kata Maikel Primus Peuki, Direktur Walhi Papua. Identifikasi Walhi Papua, karhutla berulang setidaknya tiga tahun terakhir. Ia berdampak langsung bagi masyarakat adat terutama yang masih hidup dalam kawasan hutan, karena sebagian besar masih bergantung pada alam dan lingkungan. Di Pulau Borneo, titik api dan titik panas melonjak Agustus 2026. Titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar) sempat menempati posisi terbanyak di Indonesia. Secara keseluruhan, Januari-Juli 2026, terdapat 4.638 titik panas tersebar di 14 kabupaten.  Pada 1-25 Agustus saja, terdapat 4.683 titik panas. Per 25 Agustus, luas karhutla di Kalbar 38.310 hektar. Paling luas di Kabupaten Ketapang, 12.443 hektar. Rata-rata kebakaran di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Kebanyakan berada di kawasan perizinan berusaha&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/07/walhi-beberkan-karhutla-di-konsesi-dan-psn/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 23:37:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baitri dan Febrianti]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06232437/Walter-Samalelet-65-tahun-adalah-Sikerei-dari-Dusun-Rogdok_Desa-Madobag-Kecamatan-Siberut-Selatan_-Kabupaten-Kepulauan-Mentawai_1288125-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133068</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[mentawai]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas adat, Masyarakat Adat, pangan, dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  Pagi itu, Walter Samalelet beranjak masuk hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kabit di pinggang, ikat kepala luat dengan tiga mawar merah menyala. Kalung manik tudak. Walter adalah seorang sikerei atau tabib tradisional,  yang memberikan pengobatan dengan tumbuhan obat dan ritual. Lelaki 65 tahun ini gesit melangkah menapaki ladang dengan tanaman campuran. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/">Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  Pagi itu, Walter Samalelet beranjak masuk hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kabit di pinggang, ikat kepala luat dengan tiga mawar merah menyala. Kalung manik tudak. Walter adalah seorang sikerei atau tabib tradisional,  yang memberikan pengobatan dengan tumbuhan obat dan ritual. Lelaki 65 tahun ini gesit melangkah menapaki ladang dengan tanaman campuran. Ia terbentang dari depan rumah hingga berbatasan dengan hutan di kaki bukit di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan itu. Ladang dan hutan itu seluas sekitar 323 hektar. Di ladang tak jauh dari rumahnya ada kolam dangkal dengan banyak tumbuhan keladi. Umbinya sehari-hari mereka andalkan sebagai bahan makanan pokok selain sagu. Di sekitar kolam tanaman pinang mengelilingi. Semakin menjauhi rumah, aneka pohon buah-buahan seperti rambutan, jengkol, dan durian. Ada juga pohon gaharu dan baiko. Pohon baiko penting bagi seorang sikerei, karena kulit untuk bahan pembuat kabit, semacam kain yang dililitkan menyerupai celana pendek untuk sikerei. Di bawah rindang pepohonan rimbun itu aneka jenis tumbuhan obat yang biasa Walter gunakan untuk mengobati warga yang datang berobat. Sebagai seorang sikerei, Walter ahli meramu tumbuhan itu untuk mengobati bermacam penyakit. “Ini lemu-lemu, daunnya untuk campuran obat sakit perut dan akarnya untuk obat cacing,” katanya. Dia petik pula tumbuhan keluarga jahe-jahean dengan bunga merah. “Ini bakgli-bakgli, bunganya digiling dan oleskan ke kepala untuk obat sakit kepala,” katanya. Sikerei Siberut,  kaya dengan pengetahuan tumbuhan obat. Mereka memiliki ratusan jenis tumbuhan obat. Walter menceritakan sebagian besar tumbuhan obat itu terdapat di dalam hutan di belakang kebunnya. Hutan di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kembalikan-hutan-mentawai-pada-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Proyek Pangan di Merauke</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 16:56:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Merauke dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus berambisi mengembangkan proyek ‘pangan’ berskala besar di Merauke. Mulai dari Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga food estate di era Prabowo Subianto sekarang ini. Di balik ambisi besar untuk mencetak sawah baru dalam skala besar Merauke itu, tersisip pertanyaan yang mesti terjawab, bakal seberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/">Belajar dari Proyek Pangan di Merauke</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus berambisi mengembangkan proyek ‘pangan’ berskala besar di Merauke. Mulai dari Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga food estate di era Prabowo Subianto sekarang ini. Di balik ambisi besar untuk mencetak sawah baru dalam skala besar Merauke itu, tersisip pertanyaan yang mesti terjawab, bakal seberapa besar proyek-proyek ini berhasil. “Apa yang berbeda dari proyek ini dan mengapa publik harus menerima program tersebut,” kata Fredian Tonny Nasdian, saat mengikuti uji disertasi di ruang Auditorium Andi Hakim Nasoetion,  Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga belum lama ini. Dalam penelitiannya, Ferdian tidak hanya menguji keberhasilan proyek pangan pemerintah juga mempertanyakan bagaimana pembangunan pangan berjalan ketika berhadapan dengan masyarakat adat, hak ulayat, serta keragaman komunitas lokal di Papua Selatan. Salah satu pertanyaan yang hendak Ferdian cari jawabnya adalah: mengapa suatu program diterima di satu kampung, tetapi ditolak di kampung lain. Padahal, program atau kebijakan yang pemerintah buat sama. Selama bertahun-tahun, Papua, terutama  Merauke, telah menjadi laboratorium berbagai proyek pangan berskala besar. Proyek MIFEE masih melekat kuat dalam ingatan publik sebagai simbol investasi pangan yang menuai kontroversi karena mengabaikan hak masyarakat adat, mengubah bentang alam, dan membuka ruang ekspansi korporasi. Pengalaman itu membentuk persepsi bahwa setiap program pembukaan sawah baru merupakan kelanjutan dari pendekatan lama. Karena itulah, Fredian merasa perlu menempatkan proyek  cetak sawah rakyat dalam konteks berbeda. Dia tidak berangkat dari asumsi bahwa seluruh kebijakan pemerintah identik satu sama lain. Sebaliknya, dia menggali lebih jauh implementasi di tingkat komunitas dan respons masyarakat atas kebijakan pemerintah,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/belajar-dari-proyek-pangan-di-merauke/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/02015904/bering-sea-patrol-3e03af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132967</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum Terusan Panama menyediakan jalur alternatif. Selat Drake berada di titik pertemuan dua samudra dan berbatasan langsung dengan perairan Antartika. Keganasannya dipengaruhi kondisi yang disebut infinite fetch. Angin dan ombak dapat mengumpulkan energi sepanjang ribuan kilometer tanpa terhalang daratan, sebelum dipaksa melewati celah antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika. Selat ini juga berada di lintang 50-60 derajat selatan, wilayah yang dijuluki Furious Fifties dan Screaming Sixties. Badai bertekanan rendah bergerak mengelilingi Antartika hampir tanpa hambatan sehingga dapat terus menguat sebelum mencapai Selat Drake. Topografi dasar laut turut memperbesar turbulensi. Shackleton Fracture Zone memaksa arus dari kedalaman ribuan meter naik mendekati permukaan. Proses tersebut menciptakan pusaran dan gelombang tidak beraturan. Arus yang melintasinya adalah Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi Bumi tanpa terhalang benua. Volume transpornya diperkirakan mencapai 141–173 juta meter kubik per detik, menjadikannya salah satu arus terbesar di planet ini. Meski terkenal berbahaya, kurang dari seperempat penyeberangan dilaporkan benar-benar ganas. Selebihnya relatif tenang dan disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga telah dilengkapi stabilizer untuk mengurangi guncangan. Di balik ombak besarnya, dasar Selat Drake menyimpan sedimen yang merekam perubahan iklim selama 140.000 tahun. Rekaman tersebut membantu ilmuwan menelusuri perubahan kecepatan Arus Lingkar Antartika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 07:21:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/02/22080804/Lumba-lumba-hidung-botol-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133052</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad Sahri, Pakar Mamalia Laut dari Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan peristiwa itu hal biasa. Paus pilot merupakan spesies yang memiliki ikatan sosial sangat tinggi. Biasanya, komunitas yang dibentuk beranggotakan 50 hingga ratusan individu. Saat satu individu mengalami masalah, baik itu karena faktor kesehatan ataupun karena alam dan manusia, yang lain akan menemani. Paling buruk, kawanan tersebut akan terdampar. “Meski mendekati coastal, mereka terus bersama, hingga terdampar. Jadi, murni karena social bond,” ungkap Peneliti Ahli Madya itu, Kamis (27/8/26). Sahri menyebut, kasus paus pilot sirip pendek menjadi contoh mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba terdampar. Ada dua hal utama penyebabnya, selain faktor alamiah seperti penyakit atau berusia tua, ada juga karena antropogenik dari aktivitas manusia. Paus atau lumba-lumba mengalami keterdamparan, bisa karena faktor biologis atau lingkungan. Bisa tunggal atau kombinasi keduanya. Namun, perlu penelitian lebih lanjut dengan membedah tubuh mereka secara medis. “Faktor alamiah bisa juga karena badai matahari, sesuatu yang mungkin tidak bisa diukur.” Antropogenik dikarenaka penurunan daya dukung lingkungan yang mengakibatkan pencemaran dan perubahan ekosistem laut, seperti sampah. Atau, ada pembangunan pesisir dan penggunaan sonar bawah laut pada eksplorasi minyak dan gas. “Paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 05:49:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06054023/Eiger-land-16-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132979</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi Erlan. Dua tahun lalu, ia bahkan belum membayangkan bakal bekerja keluar-masuk hutan. Ketika itu, ia baru pulang ke kampung setelah mencoba mengadu nasib di Jakarta sebagai buruh serabutan. Kini kesehariannya berubah setelah bekerja sebagai pekerja harian EIGER Nature. “Sudah satu tahun bekerja di sini,” katanya. Sebagai pekerja harian, ia mendapat upah sekitar Rp100 ribu per hari. EIGER Nature merupakan kawasan yang tengah dikembangkan dengan konsep ekowisata di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan areal PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Kebun Gunung Mas. Pada tahap awal, EIGER Nature menyebut telah mempekerjakan lebih dari 500 orang warga lokal, termasuk Erlan. Meski sebelumnya tak banyak mengenal hutan, pekerjaan Erlan kini justru lekat dengan kegiatan konservasi dan ekologi. Bersama timnya, ia ikut memonitor kawasan, memetakan jalur, mengecek keberadaan satwa, dan menandai titik-titik yang kelak dapat digunakan untuk interpretasi habitat. Hutan perlahan menjadi ruang belajar baru baginya. “Gigitan pacet ini bagian dari menyerap pengetahuan baru soal hutan,” ujarnya sambil mencabut pacet dari tangannya. Foto udara kawasan Eiger Nature di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Pilihan Kerja yang Menyempit Bagi sebagian warga Sukagalih, hadirnya pekerjaan baru menjadi berarti ketika pilihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>