<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/author/rahmadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/author/rahmadi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 27 Aug 2026 10:00:14 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Ternyata Popok Bayi Bisa Dibuat dari Pelepah Pisang, Ini Buktinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 10:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235254/Tiga-mahasiswi-Jurusan-Teknobiologi-Universitas-Surabaya-sedang-memroses-popok-bayi-dari-pelepah-pisang-foto-Petrus-Riski-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132378</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Popok bayi sekali pakai memudahkan banyak orang tua, tetapi meninggalkan persoalan sampah yang sulit terurai. Tiga lulusan Teknobiologi Universitas Surabaya mencoba menawarkan alternatif dengan membuat popok berbahan pelepah pisang dan ekstrak daun sirih. Mereka adalah Evelyn Darsono, Nathasia Jasmine Benhady, dan Jeselyn Angelia Soeryawinata. Produk yang diberi nama Nawasena itu menggunakan pelepah pisang sebagai bahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/">Ternyata Popok Bayi Bisa Dibuat dari Pelepah Pisang, Ini Buktinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Popok bayi sekali pakai memudahkan banyak orang tua, tetapi meninggalkan persoalan sampah yang sulit terurai. Tiga lulusan Teknobiologi Universitas Surabaya mencoba menawarkan alternatif dengan membuat popok berbahan pelepah pisang dan ekstrak daun sirih. Mereka adalah Evelyn Darsono, Nathasia Jasmine Benhady, dan Jeselyn Angelia Soeryawinata. Produk yang diberi nama Nawasena itu menggunakan pelepah pisang sebagai bahan penyerap alami atau bioabsorbent. Ekstrak daun sirih ditambahkan sebagai material penghambat bakteri. Pembuatan popok dimulai dengan membersihkan pelepah pisang. Bahan tersebut kemudian dikeringkan dan menjalani proses delignifikasi untuk memperoleh struktur selulosa. Setelah itu, pelepah diolah menjadi bubur kertas dan dicetak menjadi lembaran penyerap. Sementara itu, daun sirih diblender hingga menjadi bubuk. Ekstraknya kemudian diambil dan ditambahkan ke dalam lembaran penyerap tersebut. Keseluruhan proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar dua hari, belum termasuk pengujian produk. Popok Nawasena diuji di laboratorium untuk mengetahui tingkat kebocoran, pH, kondisi visual, kelenturan, dan kapasitas penyerapannya. Hasil pengujian menunjukkan produk tidak memiliki cacat, robekan, atau noda. Warnanya juga tidak luntur. Nilai pH popok tercatat sekitar 6,87. Angka tersebut mendekati rentang pH kulit bayi, yaitu 6,34-7,5. Pelepah pisang sebagai bahan penyerap juga dinyatakan tidak menimbulkan alergi. Kemampuan menyerap popok ini mencapai 8 kali berat awal produk yang melampaui standar SNI, yaitu 3 kali berat awal. Popok ini juga mampu menahan kebocoran yang setara produk komerisal lain. “Kami juga melakukan pengujian daya hambat bakteri pada ekstrak daun sirih. Hasilnya, tidak ada bakteri,” ujarnya. Menurut dosen pembimbing penelitian, popok berbahan pelepah pisang mampu menahan kebocoran dan membantu menghindarkan bayi dari iritasi. Inovasi ini dikembangkan sebagai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Kelam Awak Kapal Perikanan Domestik di Pusaran Tindak Pidana Perdagangan Orang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 09:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22013721/nelayan-pantai-depok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132501</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seluruh awak kapal perikanan (AKP) Awindo 2A menjadi saksi kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO), Kamis (25/6/26). Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, menghukum lima terdakwa yang semuanya diganjar tiga tahun penjara dan denda Rp200 juta. Pengadilan juga mewajibkan kelimanya membayar biaya restitusi Rp32.047.500 kepada seluruh AKP Awindo 2A (21 orang) yang menjadi korban. Nilai tersebut berasal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/">Nasib Kelam Awak Kapal Perikanan Domestik di Pusaran Tindak Pidana Perdagangan Orang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seluruh awak kapal perikanan (AKP) Awindo 2A menjadi saksi kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO), Kamis (25/6/26). Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, menghukum lima terdakwa yang semuanya diganjar tiga tahun penjara dan denda Rp200 juta. Pengadilan juga mewajibkan kelimanya membayar biaya restitusi Rp32.047.500 kepada seluruh AKP Awindo 2A (21 orang) yang menjadi korban. Nilai tersebut berasal dari penghitungan tim pendamping korban dengan mengumpulkan kerugian dari setiap AKP. Meski majelis hakim tidak menemukan bukti kuat klaim penyekapan dan pemberian makanan tidak layak, namun kasus tersebut sudah memenuhi unsur TPPO. Ini berdasarkan dokumen amar putusan yang diterima Mongabay dari Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. Unsur TPPO terbukti, berdasarkan rangkaian proses perekrutan, pemindahan, hubungan antarpelaku, pembayaran jasa perekrutan, dan tujuan eksploitasi. Terhadap putusan PN Denpasar, kelima terdakwa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar. Hasilnya sama, bahkan satu terdakwa, I Putu Setyawan diperberat hukumannya menjadi 3,6 tahun. Selain I Putu Setyawan, mantan personel Ditpolairud Polda Bali, empat terdakwa lain adalah Iwan, Direktur PT. Awindo International Perwakilan Bali; Jaja Sucharja, Nakhoda KM Awindo 2A;  Refdiyanto alias Refdi, Direktur CV. Pelaut Bahari Sejahtera/pihak penyalur tenaga kerja; dan Titin Sumartini alias Mami Ina, pihak yang terlibat perekrutan calon AKP. Namun, DFW Indonesia mengonfirmasi kasus tersebut belum final. Mengingat, belum ada putusan inchracht. Selain itu, ada tiga terdakwa lain yang kasusnya baru masuk persidangan di PN Denpasar. Mereka adalah I Nyoman Nelson, Direktur PT. Solusi Kapal Indonesia (SKI) yang berperan sebagai perusahaan keagenan kapal PT Awindo International dan menangani dokumen keberangkatan kapal, termasuk Perjanjian Kerja Laut (PKL). Lalu, Oktofianus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Marak Karhutla, Studi tentang murahnya membuka lahan dengan cara dibakar jadi sorotan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 08:04:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27080411/kalbar_drone_190820-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132515</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Titik-titik kebakaran dilaporkan dari Sumatera dan Kalimantan hingga Papua. Di Sumatera dan Kalimantan, aparat menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan pembukaan lahan. Hingga 21 Agustus 2026, kepolisian telah menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla di sembilan provinsi. Polisi mengatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/">Marak Karhutla, Studi tentang murahnya membuka lahan dengan cara dibakar jadi sorotan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Titik-titik kebakaran dilaporkan dari Sumatera dan Kalimantan hingga Papua. Di Sumatera dan Kalimantan, aparat menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan pembukaan lahan. Hingga 21 Agustus 2026, kepolisian telah menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla di sembilan provinsi. Polisi mengatakan salah satu pola yang ditemukan adalah lahan lebih dahulu ditebang, kemudian dibakar pada musim kemarau untuk selanjutnya ditanami, termasuk dengan kelapa sawit, saat musim hujan tiba. Temuan tersebut kembali mengangkat pertanyaan lama: mengapa api masih menjadi pilihan untuk membuka lahan meski risiko lingkungan, kesehatan dan hukumnya begitu besar? Di balik penggunaan api untuk membuka lahan terdapat persoalan ekonomi sederhana: membakar jauh lebih murah dibandingkan membersihkan lahan tanpa api. Gambaran mengenai besarnya perbedaan biaya tersebut muncul dalam penelitian Fight Fire with Finance: A Randomized Field Experiment to Curtail Land-Clearing Fire in Indonesia oleh Ryan B. Edwards dan sejumlah peneliti dari Australian National University, Stanford University, Bank Dunia, TNP2K dan SMERU Research Institute. Penelitian itu dilakukan terhadap 275 desa rawan kebakaran di empat kabupaten di Kalimantan Barat, Kubu Raya, Ketapang, Sanggau dan Sintang yang mencakup sekitar 90.000 rumah tangga. Para peneliti menyoroti bahwa api telah lama digunakan untuk membuka lahan karena biayanya yang rendah. Dalam publikasi terkait penelitian tersebut, biaya membuka lahan dengan membakar disebut hanya sekitar US$3-5 per hektare, sedangkan pembukaan secara mekanis membutuhkan sekitar US$150-180 per hektare. Artinya, membersihkan satu hektare lahan secara mekanis dapat menghabiskan biaya 30 hingga 60 kali lipatdibandingkan dengan membakarnya. Kesenjangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Kecil Tuna Maluku Utara Keluhkan BBM Langka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 07:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26065748/Ne_ayan-Ikan-Tuna-Bere-bere-Morotai-yang-menurunkan-hasil-tangkapan-mereka-foto-USAID-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132435</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sebagai salah satu sentra penghasil tuna di Indonesia, Maluku Utara (Malut) masih menghadapi berbagai persoalan. Dari sulitnya mengakses BBM bersubsidi, hingga penempatan rumpon yang mengganggu dan menyulitkan para nelayan kecil. Pertemuan Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) tuna Malut ke-XIV awal Agustus mengungkap hal itu. Selain berbagai persoalan, agenda yang mempertemukan para stakeholder perikanan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/">Nelayan Kecil Tuna Maluku Utara Keluhkan BBM Langka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sebagai salah satu sentra penghasil tuna di Indonesia, Maluku Utara (Malut) masih menghadapi berbagai persoalan. Dari sulitnya mengakses BBM bersubsidi, hingga penempatan rumpon yang mengganggu dan menyulitkan para nelayan kecil. Pertemuan Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) tuna Malut ke-XIV awal Agustus mengungkap hal itu. Selain berbagai persoalan, agenda yang mempertemukan para stakeholder perikanan itu juga hasilkan sejumlah rekomendasi, terutama perbaikan sistem distribusi BBM bersubsidi dan tata kelola penempatan rumpon. Supriyanto Ali, nelayan tuna Desa Sangowo,  Pulau Morotai, meminta pemerintah  segera mencari solusiterkait persoalan rumpon dan BBM bersubsidi. Pasalnya, keputusan pemerintah mengurangi kuota BBM bersubsidi berimbas langsung pada aktivitas para nelayan. &#8220;Kuota BBM bersubsidi kami berkurang pada  2026. Padahal bagi nelayan tuna skala kecil, BBM sangat menentukan kelangsungan operasional. Kami berharap forum ini dapat menghasilkan solusi yang benar-benar menjawab persoalan di lapangan,&#8221; katanya dalam pertemuan itu. Salman Adam, nelayan tuna dan Ketua Koperasi Nelayan Sigaro Malaha, Ternate juga mengatakan, pengurangan kuota BBM kontras dengan kebutuhan nelayan saat ini. Pasalnya, saat jarak melaut makin jauh, nelayan justru kian sulit mendapat BBM. Dia ceritakan, pada 2015, dengan menggunakan perahu bermesin 15 PK, dia hanya perlu 25-50 liter BBM untuk memancing tuna di perairan sekitar Ternate yang berjarak 2-3 mil. Kini,  dengan BBM 100 liter, terkadang tak cukup untuk operasional pergi-pulang karena jarak makin jauh. “Menangkap tuna tongkol dan cakalang saat ini bisa 30-40 mil laut dari Ternate. Jadi, semakin jauh dari sebelumnya,” katanya. Menurut dia, banyak nelayan anggota operasi juga keluhkan hal sama. Di Ternate, harga BBM bersubsidi jenis pertalite Rp10.00 per&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 05:29:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073542/Kobra.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=132492</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/">Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa populasi kobra sedang meledak dan permukiman warga tengah menghadapi “serbuan” ular berbisa. Namun, kemunculan kobra di sekitar manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai serangan satwa liar. Ular telah menghuni bentang alam Indonesia jauh sebelum kawasan tersebut berubah menjadi persawahan, perkebunan, jalan, dan perumahan. Ketika habitat mengalami perubahan, ruang hidup manusia dan satwa semakin beririsan. Sebagian satwa tidak mampu bertahan, sementara jenis tertentu, termasuk kobra, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia. Permukiman bahkan dapat menyediakan berbagai kebutuhan hidup ular. Tikus, katak, kadal, burung, dan ular lain menjadi sumber makanan. Sementara itu, semak yang tidak terawat, tumpukan kayu, sampah, saluran air, serta celah pada bangunan menawarkan tempat berlindung. Kehadiran kobra dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan perubahan habitat, tetapi juga kondisi lingkungan permukiman yang secara tidak langsung menyediakan makanan dan ruang persembunyian. Kemunculan anak kobra dalam jumlah banyak juga berhubungan dengan siklus reproduksi. Telur yang menetas pada awal musim hujan membuat anakan menyebar untuk mencari tempat aman dan mangsa. Pada saat bersamaan, berkurangnya predator alami, seperti biawak, garangan, dan elang ular bido, dapat mengganggu pengendalian populasi di alam. Perubahan pada satu bagian rantai makanan akhirnya memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Lalu, mengapa kobra dapat bertahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nyanyian Paus Sirip Terdengar Seperti Lebih Cepat dari Kecepatan Suara, Ilmuwan Temukan Sebabnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 05:13:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27050704/Finhval_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132494</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus sirip dikenal sebagai salah satu hewan laut yang suaranya paling jauh terdengar. Nyanyiannya bisa merambat hingga ratusan kilometer di bawah permukaan laut, dan selama ini para peneliti mengandalkan suara tersebut untuk melacak keberadaan paus di lautan lepas. Namun ketika seorang ilmuwan mencoba menghitung ulang kecepatan rambat suara paus sirip secara lebih teliti, ia justru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/">Nyanyian Paus Sirip Terdengar Seperti Lebih Cepat dari Kecepatan Suara, Ilmuwan Temukan Sebabnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus sirip dikenal sebagai salah satu hewan laut yang suaranya paling jauh terdengar. Nyanyiannya bisa merambat hingga ratusan kilometer di bawah permukaan laut, dan selama ini para peneliti mengandalkan suara tersebut untuk melacak keberadaan paus di lautan lepas. Namun ketika seorang ilmuwan mencoba menghitung ulang kecepatan rambat suara paus sirip secara lebih teliti, ia justru menemukan sesuatu yang sulit dijelaskan, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami penyebabnya. Dr. John Spiesberger dari University of Pennsylvania mendapati bahwa perhitungan kecepatan suara paus sirip kerap menghasilkan angka yang aneh, kadang jauh di bawah, kadang jauh di atas kecepatan suara rata-rata di air laut yang seharusnya sekitar 1.500 meter per detik. Bersama Dr. Eugene Terray dari Woods Hole Oceanographic Institution, ia akhirnya menemukan jawabannya. Penyebabnya bukan kesalahan alat atau program komputer, melainkan sebuah gejala fisika yang disebut interferensi temporal, atau dalam istilah aslinya temporal interference. Dua Jalur Suara yang Membuat Perhitungan Jadi Kacau Spiesberger awalnya mengira ada yang salah dengan program pengolah datanya, karena hasil pengukuran sangat berubah-ubah, mulai dari sekitar 1.000 meter per detik hingga 3.000 meter per detik. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah suara paus yang sampai ke alat perekam lewat dua jalur berbeda. Sebagian suara merambat langsung dari paus ke penerima, sementara sebagian lainnya memantul dulu di permukaan laut sebelum sampai, sehingga menempuh jarak yang lebih jauh. Peneliti menurunkan alat perekam akustik TOSSIT ke laut, yang kemudian tenggelam hingga ke dasar untuk merekam suara paus sirip dalam jangka panjang. Alat berdesain tanpa tali ini menjadi kunci dalam mendeteksi gejala interferensi temporal yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25035550/IMG_20260706_143008-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132365</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air Sungai Hubay tampak keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani, Papua. Hulu berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan kabupaten dan Kota Jayapura, yang menjadi cagar alam dan menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kini, danau ini terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu. Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/">Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air Sungai Hubay tampak keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani, Papua. Hulu berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan kabupaten dan Kota Jayapura, yang menjadi cagar alam dan menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kini, danau ini terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu. Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu kerikil, lumpur, yang menyebabkan pendangkalan sungai hingga beberapa titik, muara, hingga melebar ke tengah danau. Salah satunya di jembatan II (hilir Sungai Hubay) kian menyempit. Anggi Rivaldo Ohee, warga Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, mengatakan, kerusakan sungai itu sudah terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir. “Tiap hari sungai mengalir keruh, kadang membawa material masuk ke danau,” katanya kepada Mongabay, (25/7/26). Dia bilang, lumpur mencemarkan Danau Sentani, mulai dari jembatan II sampai Kampung Telaga Maya, Telaga Ria, dan Yoka. Kondisi ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan ikan danau. Meski sudah molo (menyelam), menyaring hingga memancing sudah sulit untuk saat ini. “Sebelum ada tambang, mudah cari ikan. Sejak ada tambang di atas, kita yang tinggal di danau ini setengah mati terutama mencari ikan. Danau makin hari makin dangkal akibat lumpur tambang yang turun,” ujar Anggi. Aktivitas tambang emas sudah ada sejak 1999 hingga kini. Tepatnya, di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena. Tambang itu dikelola mandiri pemilik ulayat, meski yang merasakan dampak masyarakat adat di Sentani yang ada di hilir. Danau Sentani menjadi danau terbesar kedua Papua, luas mencapai 9.360 hektar. Danau ini membentang di kaki Pegunungan Cycloops, kabupaten dan Kota Jayapura. Setidaknya, ada 24 kampung di sekitarnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Kerak Ungu, Burung Pendatang yang Kini jadi Spesies Invasif di Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 01:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25134931/Kerak-ungu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132380</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal. Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/">Kisah Kerak Ungu, Burung Pendatang yang Kini jadi Spesies Invasif di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal. Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan ekologis. Burung ini bukan spesies asli Indonesia. Persebaran alaminya meliputi Iran, Asia Selatan (termasuk Pakistan, India, dan Nepal) serta Thailand dan Malaysia. Kehadirannya di Indonesia diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama perdagangan burung. Sebagian kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang terlepas atau sengaja dilepaskan. Kerak ungu juga pernah dibeli untuk kegiatan pelepasan satwa secara seremonial tanpa mempertimbangkan asal dan dampaknya terhadap lingkungan. Burung ini dikenal mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Kerak ungu dapat memanfaatkan makanan yang tersedia dari aktivitas manusia. Ia juga sering mengikuti burung lokal untuk mengenali sumber pakan dan tempat yang aman. Kemampuan tersebut membantunya bertahan di lingkungan baru. Di Ragunan, kerak ungu terpantau memakai pohon tertentu sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, sekitar dua hingga tiga individu dapat terlihat. Jumlahnya memang belum menunjukkan peningkatan besar, tetapi kemunculannya secara konsisten di tempat yang sama menandakan bahwa burung tersebut mulai membentuk wilayahnya. Spesies invasif umumnya lebih adaptif dan oportunis dibandingkan spesies lokal. Karena itu, kerak ungu berpotensi bersaing memperebutkan makanan dan ruang hidup. Dampaknya di Jakarta memang belum terlihat sepenuhnya, tetapi perubahan komposisi spesies dapat berlangsung perlahan dan sulit disadari. Sejak 2023, Melisa Qonita (26), pegiat citizen science, rutin menjumpai kerak ungu di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekspor Monyet Ekor Panjang Tidak Sejalan dengan Prinsip Kesejahteraan Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ekspor-monyet-ekor-panjang-tidak-sejalan-dengan-prinsip-kesejahteraan-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ekspor-monyet-ekor-panjang-tidak-sejalan-dengan-prinsip-kesejahteraan-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 15:37:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26153234/Monyet-Ekor-Panjang-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132472</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian, telah mempertimbangkan prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa liar? Benvika, Co-Founder sekaligus National Director Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan pihaknya pada prinsipnya menolak pemanfaatan Macaca fascicularis. “Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” jelasnya, usai diskusi Mongabay Indonesia bertema ‘Menguak Rantai Eksploitasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/ekspor-monyet-ekor-panjang-tidak-sejalan-dengan-prinsip-kesejahteraan-satwa-liar/">Ekspor Monyet Ekor Panjang Tidak Sejalan dengan Prinsip Kesejahteraan Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian, telah mempertimbangkan prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa liar? Benvika, Co-Founder sekaligus National Director Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan pihaknya pada prinsipnya menolak pemanfaatan Macaca fascicularis. “Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” jelasnya, usai diskusi Mongabay Indonesia bertema ‘Menguak Rantai Eksploitasi Alam Indonesia’ di Jakarta, Rabu (19/8/26). Penolakan ini terutama berkaitan dengan kaidah kesejahteraan hewan. Persoalan tak hanya muncul saat monyet berada di laboratorium, tapi sejak ditangkap, dipindahkan, ditangkarkan, hingga dikirim ke lokasi penelitian. Satu alasan pemerintah menggunakan skema budidaya adalah memastikan monyet yang diekspor tak berasal dari tangkapan alam. Namun, Benvika mempertanyakan sejauh mana penangkaran itu benar-benar berjalan dalam skala besar, tanpa mengambil individu dari alam. Penangkaran satwa sosial seperti macaca yang hidup dalam kelompok dengan struktur sosial tertentu, bukan perkara sederhana. Keterbatasan ruang bisa mempengaruhi perilaku dan kondisi psikologisnya. “Kalau penangkaran, saya pikir jarang yang berhasil.” Monyet ekor panjang akan diekspor untuk kebutuhan penelitian, yang rencana ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip penerapan kesejahteraan satwa liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Daya jelajah luas Di alam, monyet ekor panjang punya ruang jelajah luas. Kondisinya berbeda ketika mereka ditempatkan di kandang. “Mereka akan cepat stres. Apalagi, kalau penangkaran jangka panjang untuk kebutuhan ekspor,” jelasnya. Persoalan berikutnya, keterlacakan asal-usul. Pemerintah menyatakan, monyet yang diekspor tak boleh berasal dari tangkapan alam. Namun, bagaimana mekanisme pengawasan dijalankan? Jika permintaan monyet meningkat, masyarakat bisa menangkapnya dari alam. “Bila pihak penangkar melakukan pembelian, itu bisa memancing masyarakat untuk memasuki kawasan konservasi.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/ekspor-monyet-ekor-panjang-tidak-sejalan-dengan-prinsip-kesejahteraan-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ekspor-monyet-ekor-panjang-tidak-sejalan-dengan-prinsip-kesejahteraan-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Daun Raksasa Amazon Berdiameter 3 Meter Ini Sanggup Menahan Beban Anak Kecil Seberat 30 Kg</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/26/daun-raksasa-amazon-berdiameter-3-meter-ini-sanggup-menahan-beban-anak-kecil-seberat-30-kg/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/26/daun-raksasa-amazon-berdiameter-3-meter-ini-sanggup-menahan-beban-anak-kecil-seberat-30-kg/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 13:03:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/13024142/Victoria_amazonica_JPG01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132465</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Victoria amazonica adalah tanaman air raksasa asal Amazon dengan daun yang bisa tumbuh hingga sekitar 3 meter, menjadikannya salah satu daun terbesar di dunia. Namun ukurannya bukan satu-satunya keunikan tanaman ini. Daun tersebut juga mampu menahan beban hingga 30 kilogram, cukup untuk menopang tubuh anak kecil tanpa robek atau tenggelam. Kemampuan ini telah menarik perhatian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/daun-raksasa-amazon-berdiameter-3-meter-ini-sanggup-menahan-beban-anak-kecil-seberat-30-kg/">Daun Raksasa Amazon Berdiameter 3 Meter Ini Sanggup Menahan Beban Anak Kecil Seberat 30 Kg</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Victoria amazonica adalah tanaman air raksasa asal Amazon dengan daun yang bisa tumbuh hingga sekitar 3 meter, menjadikannya salah satu daun terbesar di dunia. Namun ukurannya bukan satu-satunya keunikan tanaman ini. Daun tersebut juga mampu menahan beban hingga 30 kilogram, cukup untuk menopang tubuh anak kecil tanpa robek atau tenggelam. Kemampuan ini telah menarik perhatian ilmuwan sejak abad ke-19, ketika penjelajah Eropa pertama kali mendokumentasikan tanaman ini dan membawanya ke kebun-kebun botani di benua lain. Salah satu spesimen yang dikirim ke Inggris bahkan disebut menginspirasi arsitek Joseph Paxton dalam merancang struktur Crystal Palace pada 1851, karena kekagumannya pada pola urat daun yang menopang bobot besar dengan bahan yang relatif tipis. Penelitian terbaru dengan drone serta analisis struktur daun kini mengungkap mekanisme di balik kekuatan daun ini secara lebih rinci. Struktur di Balik Kekuatan Daun Bagian bawah daun Victoria amazonica memiliki tulang utama yang menyebar dari pusat, lalu bercabang menjadi tulang sekunder yang tersusun rapat dan saling terhubung. Pola ini menyerupai rangka baja atau jaring kisi pada konstruksi modern, di mana setiap titik sambungan membantu menyalurkan beban ke area yang lebih luas. Susunan tersebut membuat tekanan dari atas terdistribusi merata ke seluruh permukaan daun, sehingga tekanan di satu titik tidak membuatnya sobek meski daun hanya setebal beberapa milimeter. Struktur bagian bawah daun Victoria amazonica di Kebun Raya Kew, Inggris. Tulang daun bercabang rapat seperti kisi baja alami yang membuatnya mampu menahan beban hingga 30 kilogram. (Foto: Paul Little, RBG Kew) Studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances  oleh tim peneliti dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/daun-raksasa-amazon-berdiameter-3-meter-ini-sanggup-menahan-beban-anak-kecil-seberat-30-kg/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/26/daun-raksasa-amazon-berdiameter-3-meter-ini-sanggup-menahan-beban-anak-kecil-seberat-30-kg/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/26/menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi-berisiko-bagi-habitat-gajah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/26/menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi-berisiko-bagi-habitat-gajah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 09:18:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana dan M. Sobar Alfahri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26084516/Gajah-Elviza-33444-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132443</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawanan gajah sumatera beriringan membelah keheningan barisan eukaliptus di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, awal April lalu. Mereka melintasi bentang alam Bukit Tigapuluh, yang masuk area perkebunan kayu, PT Wirakarya Sakti (WKS). Gajah-gajah itu tak menemukan satu pun tanaman yang mereka kenal, apalagi untuk  mereka makan. Rombongan gajah hanya terus berjalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi-berisiko-bagi-habitat-gajah/">Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawanan gajah sumatera beriringan membelah keheningan barisan eukaliptus di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, awal April lalu. Mereka melintasi bentang alam Bukit Tigapuluh, yang masuk area perkebunan kayu, PT Wirakarya Sakti (WKS). Gajah-gajah itu tak menemukan satu pun tanaman yang mereka kenal, apalagi untuk  mereka makan. Rombongan gajah hanya terus berjalan sembari meninggalkan jejak kotoran di tanah yang dulu adalah rumah mereka. “Dari atas sana. Di situ ada jalan, lalu mereka turun ke bawah ini. Kalau saya hitung, ada sekitar 15 gajah. Ada anak gajah,” kata Adi, warga Muara Kilis, 18 Mei lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, hutan jalur gajah ini berubah. Dari beragam tumbuhan jadi tanaman seragam. Barisan eukaliptus kian meluas hingga menjangkau luar konsesi inti perusahaan. Meski lanskap berubah, kawanan gajah tetap melintasi wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini. Tak pelak, konflik gajah dan manusia pun terjadi. “Karena makanan gajah sudah tidak ada, akhirnya masuk permukiman. Ada menyasar ke tanaman sawit. Lahan dua hektar jadi korban,”  kata Ahmad Susanto, warga Lubuk Mandarsah,  Kecamatan Tengah Ilir,  Tebo. Dia  menilai,  ekspansi WKS turut mengganggu habitat gajah di Bentang Alam Tigapuluh ini. Masyarakat sekitar merasakan dampaknya. Potensi konflik antara manusia dan gajah kian membesar. Kawanan gajah pernah menyasar perkebunan sawit Ahmad. “Tahun 2017, baru setahun habis. Tanam lagi, 2018, habis. Terus saya cari modal, sampai akhirnya 2019, di-stacking (proses pembersihan dan persiapan lahan dengan alat berat) sama WKS, ditanam eukaliptus. Sempat ribut saat itu,” katanya. Peta Temuan Ekaliptus dan Wilayah Jelajah Gajah di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi-berisiko-bagi-habitat-gajah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/26/menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi-berisiko-bagi-habitat-gajah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Api Berkobar di Kawasan Konsesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-berkobar-di-kawasan-konsesi-siapa-yang-bertanggung-jawab/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-berkobar-di-kawasan-konsesi-siapa-yang-bertanggung-jawab/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 08:30:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132329</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di Kalimantan hingga Papua. Meski menjadi bencana tahunan, penanganan pemerintah dinilai masih berfokus pada pemadaman setelah api membesar, bukan pencegahan dari akar persoalan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat karhutla di Kalimantan Selatan telah membakar sekitar 595 hektar lahan hingga 21 Agustus 2026. Kebakaran tersebar di sembilan wilayah, termasuk Banjarbaru, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-berkobar-di-kawasan-konsesi-siapa-yang-bertanggung-jawab/">Api Berkobar di Kawasan Konsesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di Kalimantan hingga Papua. Meski menjadi bencana tahunan, penanganan pemerintah dinilai masih berfokus pada pemadaman setelah api membesar, bukan pencegahan dari akar persoalan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat karhutla di Kalimantan Selatan telah membakar sekitar 595 hektar lahan hingga 21 Agustus 2026. Kebakaran tersebar di sembilan wilayah, termasuk Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut. Pemerintah menyiagakan pesawat patroli dan tiga helikopter untuk operasi water bombing. Lebih dari 1,5 juta liter air telah digunakan untuk memadamkan api. Namun, pengerahan armada udara dinilai belum cukup untuk memutus siklus kebakaran. Pantauan Greenpeace Indonesia pada 11-16 Agustus menemukan 592 titik sumber asap di Kalimantan. Sebanyak 455 titik berada di lanskap gambut. Kalimantan Barat mencatat 322 titik, Kalimantan Tengah 181 titik, dan Kalimantan Selatan 86 titik. Asap kebakaran bahkan terdeteksi mencapai Sarawak, Malaysia. Sapta Ananda Proklamasi, Peneliti Senior Greenpeace Indonesia, menilai modifikasi cuaca dan pengerahan armada pemadam merupakan langkah reaktif karena dilakukan setelah kebakaran meluas. “Cara itu merupakan respons, bukan antisipasi. Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah,” katanya. Menurut Sapta, pencegahan seharusnya diarahkan pada perbaikan tata air serta pemulihan kawasan rawa dan gambut yang telah rusak sehingga rentan terbakar. Dampak karhutla telah dirasakan masyarakat. Kualitas udara di Pontianak berada dalam kategori tidak sehat, sedangkan Palangkaraya sempat mencapai kategori berbahaya. Kalimantan Tengah mencatat 2.052 kasus infeksi saluran pernapasan akut selama 7-14 Agustus 2026. Ancaman kebakaran juga meluas ke Papua Selatan. Greenpeace menemukan 284 titik sumber asap di Papua, dengan 278 titik berada di kawasan Proyek Strategis Nasional Merauke.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-berkobar-di-kawasan-konsesi-siapa-yang-bertanggung-jawab/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-berkobar-di-kawasan-konsesi-siapa-yang-bertanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siapa Sangka, Media Sosial Bantu Temukan 3 Spesies Baru Kelompok Talas dari Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/siapa-sangka-media-sosial-bantu-temukan-3-spesies-baru-kelompok-talas-dari-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/siapa-sangka-media-sosial-bantu-temukan-3-spesies-baru-kelompok-talas-dari-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 07:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/05032512/Homalomena-pachyderma.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132379</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Media sosial tidak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi tanaman hias. Unggahan foto dari sejumlah penghobi ternyata membantu peneliti menemukan tiga spesies tumbuhan baru dari hutan Sumatera. Ketiganya berasal dari genus Homalomena, kelompok tumbuhan talas-talasan atau Araceae. Spesies tersebut diberi nama Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata. Penemuan bermula ketika dua peneliti dari Badan Riset [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/siapa-sangka-media-sosial-bantu-temukan-3-spesies-baru-kelompok-talas-dari-hutan-sumatera/">Siapa Sangka, Media Sosial Bantu Temukan 3 Spesies Baru Kelompok Talas dari Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Media sosial tidak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi tanaman hias. Unggahan foto dari sejumlah penghobi ternyata membantu peneliti menemukan tiga spesies tumbuhan baru dari hutan Sumatera. Ketiganya berasal dari genus Homalomena, kelompok tumbuhan talas-talasan atau Araceae. Spesies tersebut diberi nama Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata. Penemuan bermula ketika dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung melihat beberapa unggahan tanaman hias. Mereka kemudian melakukan penelitian taksonomi untuk memeriksa ciri-cirinya. Hasil penelitian membuktikan bahwa ketiga tanaman tersebut merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. “Hal ini menegaskan peran yang semakin besar dari platform digital dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi, khususnya di Sumatera,” tulis Hariri dan kolega, Jumat (27/3/2026). Homalomena pachyderma berasal dari Aek Nabobar, Tapanuli Tengah. Spesimennya ditemukan di sebuah tempat pembibitan tanaman di Bogor. Tanaman setinggi sekitar 18 sentimeter ini tumbuh di bebatuan dan memiliki daun tebal. Daun dewasa berwarna hijau tua, sedangkan daun mudanya berwarna hijau limau. Nama “pachyderma” berasal dari bahasa Yunani. Kata pachys berarti tebal, sementara derma berarti kulit. Nama tersebut merujuk pada helaian daunnya yang tebal dan menyerupai kulit. Spesies kedua, Homalomena pulopadangensis, berasal dari Pulo Padang KM 5, Lingga Bayu, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Tanaman yang tingginya mencapai 18 sentimeter ini mempunyai daun menyempit dan tumbuh tegak ke atas. Ciri tersebut membedakannya dari spesies lain yang serupa, tetapi memiliki daun menggantung. Sementara itu, Homalomena uncinata merupakan spesies terkecil dengan tinggi sekitar 11 sentimeter. Keunikannya terletak pada rambut berbentuk kait di permukaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/siapa-sangka-media-sosial-bantu-temukan-3-spesies-baru-kelompok-talas-dari-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/siapa-sangka-media-sosial-bantu-temukan-3-spesies-baru-kelompok-talas-dari-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Bulukumba Desak Pengembalian Lahan Eks HGU</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/26/warga-bulukumba-desak-pengembalian-lahan-eks-hgu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/26/warga-bulukumba-desak-pengembalian-lahan-eks-hgu/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 06:26:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25013616/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-07.56.32-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132350</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Izin perkebunan dapat berakhir di atas kertas, tetapi persoalan tanah tidak otomatis selesai. Hal itu pula yang terjadi pada lahan eks hak guna usaha (HGU) PT. London Sumatera Indonesia Tbk, (Lonsum) di Ammatoa Kajang, Kabupaten, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Meski izin HGU berakhir sejak 31 Desember 2023, nyatanya, perusahaan masih kuasai lahan itu. Kenyataan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/warga-bulukumba-desak-pengembalian-lahan-eks-hgu/">Warga Bulukumba Desak Pengembalian Lahan Eks HGU</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Izin perkebunan dapat berakhir di atas kertas, tetapi persoalan tanah tidak otomatis selesai. Hal itu pula yang terjadi pada lahan eks hak guna usaha (HGU) PT. London Sumatera Indonesia Tbk, (Lonsum) di Ammatoa Kajang, Kabupaten, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Meski izin HGU berakhir sejak 31 Desember 2023, nyatanya, perusahaan masih kuasai lahan itu. Kenyataan itu pun memantik protes dari berbagai pihak. Koalisi Rebut Hidup,  misal, menilai berakhirnya HGU Lonsum seharusnya menjadi momentum untuk mencari solusi untuk memulihkan hak warga atas lahan tersebut. Sebab itu, koalisi meminta pemerintah tak buru-buru memberikan hak baru kepada perusahaan. “Berakhirnya HGU harus menjadi jalan pemulihan hak rakyat, bukan pintu bagi penguasaan baru,” kata Abdul Azis Dumpa, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, saat membacakan pernyataan koalisi di Makassar, Selasa (18/8/26). Koalisi ini terdiri dari sejumlah kelompok masyarakat sipil di Sulsel. Selain LBH Makassar, ada juga Aliansi Masyarakat adat Nusantara (AMAN) Sulsel, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Masyarakat Adat Ammatoa Kajang, Masyarakat Adat Bulukumpa Toa serta petani dan warga terdampak. Koalisi menyebut, luas area bekas HGU itu mencapai 5.193,30 hektar yang terbagi dalam 16 bidang dan tersebar di 15 desa. Tamatto menjadi wilayah dengan luasan terbesar, sekitar 1.392,45 hektar, lalu Jawi-Jawi 899,17 hektar; Bontomangiring 700,74 hektar; dan Tibona 556,81 hektar. Di atas hamparan tersebut terdapat banyak kepentingan yang saling bertaut. Ada wilayah adat Ammatoa Kajang, ada tanah yang warga klaim sebagai warisan turun-temurun. Terdapat bidang bersertifikat, tanah garapan, objek putusan pengadilan, makam, sumber air, dan berbagai ruang yang memiliki arti penting bagi masyarakat. Hasil tumpang susun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/warga-bulukumba-desak-pengembalian-lahan-eks-hgu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/26/warga-bulukumba-desak-pengembalian-lahan-eks-hgu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Rekam Gurita Membawa Cangkang Kelapa Melintasi Dasar Laut, untuk Bersembunyi dari Predator</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ilmuwan-rekam-gurita-membawa-cangkang-kelapa-melintasi-dasar-laut-untuk-bersembunyi-dari-predator/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ilmuwan-rekam-gurita-membawa-cangkang-kelapa-melintasi-dasar-laut-untuk-bersembunyi-dari-predator/#respond</comments>
					<pubDate>26 Agu 2026 05:25:30 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26052448/pexels-pspov-3046629-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132426</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ilmuwan merekam gurita vena (Amphioctopus marginatus) di perairan utara Sulawesi dan Bali, Indonesia, membawa dua bagian cangkang kelapa yang terbuang melintasi dasar laut. Spesies ini memiliki tubuh lunak tanpa cangkang pelindung, sehingga rentan terhadap serangan predator. Cangkang kelapa yang dikumpulkan kemudian dirakit kembali menjadi tempat berlindung saat gurita membutuhkannya. Studi yang dipublikasikan di jurnal Current [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/ilmuwan-rekam-gurita-membawa-cangkang-kelapa-melintasi-dasar-laut-untuk-bersembunyi-dari-predator/">Ilmuwan Rekam Gurita Membawa Cangkang Kelapa Melintasi Dasar Laut, untuk Bersembunyi dari Predator</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ilmuwan merekam gurita vena (Amphioctopus marginatus) di perairan utara Sulawesi dan Bali, Indonesia, membawa dua bagian cangkang kelapa yang terbuang melintasi dasar laut. Spesies ini memiliki tubuh lunak tanpa cangkang pelindung, sehingga rentan terhadap serangan predator. Cangkang kelapa yang dikumpulkan kemudian dirakit kembali menjadi tempat berlindung saat gurita membutuhkannya. Studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology oleh Julian Finn, Tom Tregenza, dan Mark Norman ini menjadi salah satu bukti paling jelas mengenai penggunaan alat oleh invertebrata liar, kemampuan yang sebelumnya hanya dikonfirmasi pada sejumlah mamalia, burung, dan primata. Pengamatan di Dasar Laut Sulawesi dan Bali Para peneliti awalnya meneliti spesies gurita lain, yaitu gurita peniru (Thaumoctopus mimicus), ketika salah satu anggota tim menemukan perilaku ini secara tidak sengaja. Selama lebih dari 500 jam penyelaman antara 1999 dan 2008, tim mengamati 20 individu gurita vena di substrat berlumpur dan berpasir. Pada empat kesempatan terpisah, gurita tercatat membawa dua bagian cangkang kelapa yang disusun bertumpuk hingga sejauh 20 meter, jarak yang cukup jauh mengingat ukuran tubuh gurita ini hanya beberapa ratus gram. Gurita vena (Amphioctopus marginatus) tercatat dalam tiga tahap perilaku uniknya di dasar laut perairan Sulawesi dan Bali. (A) Gurita muncul di permukaan pasir dengan warna tubuh gelap. (B) Gurita bersembunyi di dalam cangkang kelapa yang telah dirakit menjadi tempat berlindung dari predator. (C) Gurita melakukan stilt-walking, berjalan sambil membawa dua bagian cangkang kelapa yang disusun bertumpuk, sebelum cangkang tersebut dirakit menjadi pelindung. Foto: M. Norman (A), R. Steene (B, C), dari studi Finn, Tregenza, dan Norman (2009) di jurnal Current&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/26/ilmuwan-rekam-gurita-membawa-cangkang-kelapa-melintasi-dasar-laut-untuk-bersembunyi-dari-predator/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/26/ilmuwan-rekam-gurita-membawa-cangkang-kelapa-melintasi-dasar-laut-untuk-bersembunyi-dari-predator/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Kalsel, Menyoal Penegakan Hukum, Dorong Peradilan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/karhutla-kalsel-menyoal-penegakan-hukum-dorong-peradilan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/karhutla-kalsel-menyoal-penegakan-hukum-dorong-peradilan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 23:52:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna dan Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25234259/karhutla-riyad-41-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132401</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[walhi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kalimantan membara, termasuk Kalimantan Selatan. Sejak 1 Januari-23 Agustus 2026, ada 14.816 titik panas (hotspot) terpantau dalam data SiPongi, di sejumlah wilayah rawan kebakaran Kalimantan Selatan. Tujuh dari 13 kabupaten kota menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam Agustus saja, ada 405 hotspot. Kabut asap pun mulai menyelimuti Kalimantan Selatan.  Raja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/karhutla-kalsel-menyoal-penegakan-hukum-dorong-peradilan-lingkungan/">Karhutla Kalsel, Menyoal Penegakan Hukum, Dorong Peradilan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kalimantan membara, termasuk Kalimantan Selatan. Sejak 1 Januari-23 Agustus 2026, ada 14.816 titik panas (hotspot) terpantau dalam data SiPongi, di sejumlah wilayah rawan kebakaran Kalimantan Selatan. Tujuh dari 13 kabupaten kota menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam Agustus saja, ada 405 hotspot. Kabut asap pun mulai menyelimuti Kalimantan Selatan.  Raja Juli Antoni,  Menteri Kehutanan, datang ke Kalsel,  meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, Minggu (23/8/26) siang. Lokasinya berada tepat di belakang permukiman warga, di Kompleks Perumahan Aero Sinergia. Raja mengatakan, di Banjarbaru pemadaman karhutla bukan perkara mudah, terutama pada lahan gambut. Meski api di permukaan sudah padam, asap masih tetap terlihat karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. “Seperti yang teman-teman lihat, dari atas sudah padam. Dari bawah masih ada asap karena ini memang gambut. Secara teori,  ini pembakaran tidak sempurna, hingga asapnya lebih banyak dan potensi timbul api lagi masih tetap banyak,” katanya. Berdasarkan data SiPongi pada pukul 21.00 sehari sebelumnya, hotspot di Kalsel sempat turun jadi 11 titik dari 157 titik. Namun, data terbaru pukul 06.00 kembali menunjukkan peningkatan menjadi 44 titik. “Artinya, sungguh tidak mudah memadamkan api. Karena itu, saya mohon sekali lagi kepada masyarakat yang masih memiliki tradisi land clearing dengan cara membakar, mohon jangan dilakukan lagi. Dampaknya luar biasa,” katanya. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, datang ke Kalsel, meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, Minggu (23/8/26) siang. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia Raja mengingatkan,  masyarakat tak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/karhutla-kalsel-menyoal-penegakan-hukum-dorong-peradilan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/karhutla-kalsel-menyoal-penegakan-hukum-dorong-peradilan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Air Telaga Merdada Kritis Diterjang El Nino Godzilla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/air-telaga-merdada-kritis-diterjang-el-nino-godzilla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/air-telaga-merdada-kritis-diterjang-el-nino-godzilla/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 15:49:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25154215/Telaga3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132393</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suhu udara 10 derajat Celcius, tidak menyurutkan para petani mendatangi Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Telaga seluas 25 hektar itu diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup, menjadi tumpuan petani saat kemarau. Tahun ini ketika El Nino Godzilla menerjang, mereka mulai khawatir karena volume airnya berkurang. Setiap hari, ribuan liter air [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/air-telaga-merdada-kritis-diterjang-el-nino-godzilla/">Air Telaga Merdada Kritis Diterjang El Nino Godzilla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suhu udara 10 derajat Celcius, tidak menyurutkan para petani mendatangi Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Telaga seluas 25 hektar itu diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup, menjadi tumpuan petani saat kemarau. Tahun ini ketika El Nino Godzilla menerjang, mereka mulai khawatir karena volume airnya berkurang. Setiap hari, ribuan liter air dari telaga ini dialirkan ke areal pertanian di dataran tinggi Dieng. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” kata Zaenuri (45), petani asal Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Minggu (16/8/26). Selain Zaenuri, masih ada 200 petani dari tiga desa yakni Karangtengah, Butuh, dan Bakal yang menggantungkan irigasi dari Telaga Merdada. “Setiap pagi, saya datang ke sini.” Air diperlukan karena sumber pengairan untuk lahan pertaniannya mulai mengering. Sudah dua bulan, dia menyedot air dari Telaga Merdada. Untuk lahan kentang sekitar 2.500 meter persegi, Zaenuri mengoperasikan pompa yang membutuhkan tujuh liter pertalite per hari. Harga per liter sekitar Rp11.000. “Sepertinya, air telaga hanya cukup dua bulan mendatang.” Hanif (41), petani Desa Buntu, juga telah menggunakan pompa selama sekitar dua bulan. Tanpa penyedotan air, tanaman kentang berisiko kekurangan air. “Kebutuhan air tidak bisa ditunda. Kentang harus mendapat pasokan berkala agar produktivitas tidak turun sebelum panen,” jelasnya, Minggu (16/8/26). Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang airnya berkurang drastis akibat kemarau. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Farid (44), petani Karangtengah, mulai memanfaatkan air Telaga Merdada sejak Mei. Dia menggunakan tiga mesin pompa untuk mengairi lahannya seluas satu hektar. “Semoga musim kering segera berakhir karena penurunan permukaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/air-telaga-merdada-kritis-diterjang-el-nino-godzilla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/air-telaga-merdada-kritis-diterjang-el-nino-godzilla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Unik, Kadal Afrika Ini Seakan Menggunakan Kostum “Spider-Man”</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 13:14:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06233821/Serengeti_National_Park_03_-_Mwanza_flat-headed_rock_agama_-_Agama_mwanzae-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132377</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer. Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/">Unik, Kadal Afrika Ini Seakan Menggunakan Kostum “Spider-Man”</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer. Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga Agamidae ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Arthur Loveridge pada 1923. Nama “mwanzae” merujuk pada Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen pertamanya. Namun, warna mencolok itu tidak dimiliki semua individu. Kepala, leher, dan bahu berwarna merah hingga violet hanya terlihat pada pejantan dominan. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat umumnya berwarna cokelat atau abu-abu dengan pola gelap. Warna redup tersebut membantu mereka menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan. Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Warna cerah pejantan teritorial juga dapat meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau pada malam hari. Habitat Agama mwanzae berkaitan erat dengan formasi batuan besar bernama kopjes, yang banyak ditemukan di Serengeti dan sabana Afrika Timur. Bebatuan menyediakan tempat terbuka untuk berjemur. Sebagai hewan ektotermik, kadal ini mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Karena itu, ia sering terlihat menyerap panas matahari di atas batu pada siang hari. Celah bebatuan juga menjadi tempat berlindung dari predator, suhu tinggi, dan gangguan lainnya. Bentuk kepalanya yang pipih memudahkan kadal bergerak di ruang sempit tersebut. Pejantan memiliki perilaku teritorial. Untuk mempertahankan wilayahnya, ia menggunakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/unik-kadal-afrika-ini-seakan-menggunakan-kostum-spider-man/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Konflik Lahan Masyarakat Adat Anak Tuha dan Perusahaan Sawit Berlarut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 10:30:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Derri Nugraha*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/24134041/IMG_3994.JPG-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132337</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap membumbung dari tengah perkebunan sawit PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Lampung. Malam itu, tujuh bangunan termasuk mess karyawan, kantor, dan gudang, nyaris rata dengan tanah. Sekitar 10  kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, hingga alat berat, ikut ludes. Api yang berkobar sepanjang malam itu merupakan cermin kekecewaan warga yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/">Ketika Konflik Lahan Masyarakat Adat Anak Tuha dan Perusahaan Sawit Berlarut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap membumbung dari tengah perkebunan sawit PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Lampung. Malam itu, tujuh bangunan termasuk mess karyawan, kantor, dan gudang, nyaris rata dengan tanah. Sekitar 10  kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, hingga alat berat, ikut ludes. Api yang berkobar sepanjang malam itu merupakan cermin kekecewaan warga yang sudah berkonflik agraria lebih empat dasawarsa dengan perusahaan. Mereka anggap perusahaan ingkari imbauan yang tersampaikan sebelumnya dalam mediasi bersama aparat dan pemerintah. Salah satu yang membuat warga tersulut adalah aktivitas pemanenan sawit di lahan yang selama ini mereka klaim sebagai tanah adat. Padahal, sebelumnya, warga minta perusahaan menghentikan aktivitas di atas lahan sengketa sampai penyelesaian konflik. Imbauan itu mencakup penghentian pemanenan sawit. Namun, hari itu, warga kembali menemukan aktivitas perusahaan di kebun. Akibatnya, luka lama mereka kembali terbuka. Sebenarnya, akar konflik  bermula pada 1972, ketika  PT Candra Bumi Kota (CBK) hendak menyewa tanah adat Marga Anak Tuha untuk membuka perkebunan tebu. Ketika itu, perusahaan tawarkan ganti rugi tanam tumbuh dan menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, mereka ingkar janji. Pada 1990-an, BSA muncul dan mengambil alih hampir 1.000 hektar lahan dengan membeli saham mayoritas CBK. Perusahaan kemudian menanam sawit di atas tanah yang selama beberapa generasi masyarakat kelola.   BSA merupakan anak perusahaan PT Tunas Baru Lampung (TBL), di bawah naungan Sungai Budi Group (SBG), kelompok usaha besar di Indonesia yang bergerak dalam industri dan distribusi produk berbasis pertanian. Afiliasi kelompok usaha ini juga tercatat memiliki sengketa dengan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung lainnya,  seperti,  dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/25/ketika-konflik-lahan-masyarakat-adat-anak-tuha-dan-perusahaan-sawit-berlarut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sedih, Masa Depan Kuskus Papua Terancam Akibat Kepungan Deforestasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Agu 2026 10:03:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18022306/Kuskus-totol-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132383</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya. Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/">Sedih, Masa Depan Kuskus Papua Terancam Akibat Kepungan Deforestasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya. Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan wilayah persebarannya, satwa tersebut diduga merupakan kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis). Keduanya tersebar di dataran rendah Papua bagian selatan hingga Papua Nugini. Kuskus merupakan mamalia berkantung atau marsupial yang hidup di kawasan Australasia. Di Indonesia, satwa ini ditemukan di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor. Meski kerap disangka primata karena bergerak lambat dan memiliki mata besar, kuskus lebih dekat kekerabatannya dengan kanguru dan koala. Wartika Rosa Farida, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menjelaskan bahwa warna bulu dapat menjadi salah satu ciri pembeda kuskus. “Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya.” Di Papua terdapat dua genus utama, yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Beberapa jenisnya, seperti kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis) dan kuskus hitam (Spilocuscus rufoniger), merupakan satwa endemik Papua. Sebagai satwa arboreal sejati, kuskus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Panjang tubuhnya sekitar 35-45 sentimeter. Cakar yang kuat membantunya mencengkeram, sedangkan ujung ekornya yang tidak berbulu berfungsi seperti tangan kelima untuk bergelantungan dan menjaga keseimbangan. Kuskus merupakan satwa nokturnal dan soliter. Pada siang hari, ia beristirahat di lubang pohon, rimbunan daun, atau cabang kokoh. Ketika malam tiba, kuskus keluar untuk mencari buah, daun, dan bunga. Karena sangat bergantung pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sedih-masa-depan-kuskus-papua-terancam-akibat-kepungan-deforestasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>