- Sejak 2017, orangutan tapanuli telah teridentifikasi berbeda dengan orangutan sumatera. Habitatnya hanya ada di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara.
- Populasi orangutan Tapanuli terbagi dalam tiga wilayah yang terpisah oleh jalan, pertanian, dan bentang alam lainnya. Pembangunan PLTA, pertambangan, hilangnya hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia semakin mengancam kelangsungan hidupnya.
- Jumlah populasinya sekitar 716 individu. Mereka termasuk kera besar paling langka dan terancam punah.
- Hujan ekstrem dan longsor pada November 2025 merusak sekitar 8.303 hektare habitat orangutan Tapanuli. Bencana tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 58 individu atau 7 persen dari populasinya.
Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Pada tahun 2017, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) resmi menjadi spesies yang baru dan terpisah dari taksonomi orangutan sumatera. Penelitian oleh Nater dkk. (2017) menemukan bahwa orangutan Tapanuli sudah berpisah jalur evolusi dari orangutan sumatera sejak sekitar 3,38 juta tahun lalu karena letusan supervolcano Gunung Toba di masa lampau.
Akibat bencana alam itu, habitat kedua populasi ini terpisah selama jutaan tahun. Orangutan tapanuli merupakan garis keturuan tertua yang masih bertahan dalam genus Pongo. Habitatnya hanya ada di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara.
Populasinya terbagi menjadi tiga metapopulasi, yaitu Batang Toru Barat, Batang Toru Timur, dan Sitandang-Sibualbuali. Ketiganya terpisah oleh jalan, lahan pertanian, dan berbagai bentang alam lain, sehingga perpindahan individu maupun aliran gen antarpopulasi jadi sulit terjadi.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh A.N. Hadi dkk. (2021-2023), jumlah orangutan Tapanuli diperkirakan hanya mencapai 716 individu, dengan kisarab 645 hingga 792 individu. Batang Toru Barat menjadi rumah bagi populasi terbanyak, sekitar 514 individu, disusul Batang Toru Timur dengan 159 individu, dan Sitandang-Sibualbuali yang hanya dihuni sekitar 43 individu.
Berikut beberapa fakta tentang orangutan ini:
1. Ciri dan fakta orangutan tapanuli

Secara fisik, orangutan tapanuli punya tengkorak dan tulang rahang lebih kecil, rambut lebih tebal dan keriting dibandingkan kerabatnya. Jantan dewasa punya bantalan pipi besar dan datar, sedangkan betina punya rambut di area dagu yang menyerupai janggut.
Jenis pakan orangutan tapanuli pun berbeda dari spesies orangutan lain, seperti atumangan, sampinurtall, sampinur bunga (Podocarpaceae) dan agatis. Begitu juga dengan, pangillan khas atau long call untuk komunikasi antar spesies.
Saat ini jumlah populasi hanya sekitar 716 individu, orangutan Tapanuli pun tercatat sebagai salah satu kera besar paling langka di dunia. Laju reproduksinya pun tergolong lambat karena betina akan melahirkan anak pertama pada usia sekitar 15 tahun, dengan jarak hingga 8-9 tahun antar kelahiran.
Orangutan tapanuli punya perilaku yang cenderung soliter alias lebih suka hidup menyendiri. Sejak usia dua tahun, anak orangutan Tapanuli sudah mulai belajar untuk mencari makanan sendiri.
2. Ancaman habitat orangutan tapanuli

Meski menjadi spesies paling langka di dunia, orangutan tapanuli tak luput dari berbagai ancaman. Mulai dari hilangnya tutupan hutan, pembangunan infrastruktur, hingga aktivitas pertambangan menjadi faktor yang menekan keberlangsungan spesies ini. Belum lagi, masih adanya konflik dengan manusia yang kerap terjadi, di mana orangutan sering dibunuh saat memasuki kebun warga ataupun menjadi korban perburuan.
Ancaman juga datang dari pembangunan PLTA Batang Toru yang berlokasi di bagian selatan Hutan Batang Toru. Proyek dengan kapasitas 510 MW ini bisa berdampak pada ketersediaan pakan dan gangguan habitat orangutan Tapanuli. Jika itu terjadi, mereka terpaksa bermigrasi ke dataran lebih tinggi dan harus beradaptasi dengan kondisi habitat yang pasokan makanannya jauh lebih sedikit dari dataran rendah. Dampaknya bisa memicu persaingan dalam memperebutkan makanan sekaligus akan menimbulkan konflik antar populasi orangutan yang sudah terlebih dahulu menempati kawasan tersebut.
Rencana perluasan eksplorasi Tambang Emas Martabe oleh PT Agincourt Resources mendapat sorotan juga karena dinilai berpotensi tumpang tindih dengan Key Biodiversity Area (KBA) Batang Toru. Andi Muttaqien, Direktur Eksekutif Satya Bumi, menilai kondisi tersebut berpotensi mempersempit habitat sekaligus meningkatkan risiko kepunahan orangutan Tapanuli.
Satya Bumi juga menyoroti rencana pembangunan tailing management facility (TMF) atau lokasi penimbunan limbah baru seluas 195,2 hektar. Berdasarkan dokumen Amdal, pembangunan TMF ini turut mencakup jalan akses seluas 9,17 hektar, sediment dam seluas 86,90 hektar, serta buffer area seluas 291,73 hektar.
3. Bencana Sumatera memperparah jumlah populasi

Selain tekanan akibat aktivitas manusia, orangutan Tapanuli juga menghadapi ancaman dari bencana akibat cuaca ekstrem. Penelitian Current Biology (2026) memperkirakan bahwa hujan ekstrem pada November 2025 memicu tanah longsor dan merusak sekitar 8.303 hektar habitat orangutan Tapanuli di bentang alam Batang Toru.
Dari analisis spasial yang telah dilakukan, ada sekitar 7% atau 58 individu orangutan Tapanuli tewas akibat bencana tersebut. Sebagian besar longsor terjadi di Blok Barat Batang Toru, yang dimana merupakan habitat utama yang dihuni lebih dari 500 individu orangutan Tapanuli.
Menurut Erik Meijaard, peneliti asal Inggris, angka tersebut masih bersifat konservatif karena belum memperhitungkan kematian akibat kerusakan kanopi, kelaparan, cedera, maupun dampak ekologis setelah bencana. Longsor tersebut juga turut menghancurkan vegetasi dan menghilangkan sumber pakan bagi orangutan.
Peneliti memperkirakan pemulihan habitat membutuhkan waktu 5-10 tahun. Sementara itu, orangutan yang bertahan hidup diperkirakan harus menjelajah lebih jauh untuk mencari makanan, yang pada akhirnya akan meningkatkan penggunaan energi dan berpotensi menurunkan keberhasilan reproduksi mereka.
4. Perlindungan bersama

Pada Juni 2026, Konservasi Indonesia bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI) mulai menjalankan program restorasi berbasis masyarakat di Desa Aek Haminjon, Kabupaten Tapanuli Selatan. Program ini menargetkan pemulihan 159 hektare lahan yang terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025 melalui penanaman 35.000–49.000 bibit pohon, seperti kopi, karet, coklat, dan durian.
Upaya restorasi ini diharapkan dapat mengembalikan kembali fungsi ekologis kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, yang merupakan bagian penting dari habitat orangutan Tapanuli.
Tak hanya itu, hasil survei Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) menemukan orangutan Tapanuli di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kabupaten Tapanuli Tengah, sekitar 32 km di sebelah barat Hutan Batang Toru. Temuan yang berawal dari laporan masyarakat pada 2022 dan survei lapangan dan analisis DNA pada 2025, Pemantauan menggunakan thermal drone dan survei darat juga turut menemukan indikasi keberadaan orangutan di kawasan hutan sekitar.
Delapan tahun setelah diakui sebagai spesies baru, orangutan Tapanuli masih terus bertahan di habitat yang terus menyempit. Di satu sisi, ancaman datang terus hadir hingga hari ini, namun upaya restorasi dan penemuan habitat baru menunjukkan bahwa spesies langka ini belum sepenuhnya kehilangan tempat untuk bertahan. Pada akhirnya, nasib orangutan Tapanuli dan satwa langka lainnya sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga mereka dan habitatnya.
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dian memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang tersebut.
*****