- Hutan Leuser merupakan rumah besar bagi satwa terancam punah yaitu harimau sumatera, orangutan sumatera, gajah sumatera, dan badak sumatera. Hutan ini membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara.
- Populasi harimau sumatera di Aceh saat ini diperkirakan berada pada kisaran 150-170 individu, yang tersebar di dua lanskap utama, yakni Leuser dan Ulu Masen.
- Stabilnya populasi harimau, tidak serta-merta menunjukkan kondisi habitatnya baik-baik saja. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai kemunculan harimau di sekitar kebun dan permukiman warga semakin terdengar. Di sejumlah wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, masyarakat kerap berhadapan dengan jejak, suara, bahkan penampakan langsung harimau.
- Ancaman terbesar kehidupan harimau saat ini tak hanya perburuan, tetapi juga semakin terfragmentasinya hutan. Berbagai pembukaan lahan yang terjadi di kawasan Leuser, menyebabkan blok-blok hutan yang sebelumnya terhubung berubah jadi kantong-kantong habitat terisolasi.
Kawasan Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) yang berstatus Kritis. Di hutan yang membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara ini, sang kucing besar masih berkeliaran sebagai penguasa puncak rantai makanan.
Populasinya diperkirakan masih stabi. Namun, fragmentasi habitat, tekanan hutan, dan meningkatnya interaksi dengan manusia merupakan ancaman yang terus membayangi masa depan penguasa hutan ini.
Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menjelaskan populasi harimau sumatera di Aceh saat ini diperkirakan berada pada kisaran 150-170 individu yang tersebar di dua lanskap utama, yakni Leuser dan Ulu Masen.
Hasil tersebut berdasarkan pemantauan lanskap Leuser pada 2021 serta periode 2023-2024. Jumlah ini relatif stabil dibanding beberapa tahun sebelumnya, meski pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi terkini di lapangan.
“Namun, angka ini tetap perlu diversifikasi melalui monitoring lanjutan,” jelasnya, Selasa (16/6/2026).
Leuser bukan hanya habitat penting harimau tetapi di sini juga hidup gajah sumatera, orangutan sumatera, dan badak sumatera yang semuanya berstatus Critically Endangered berdasarkan IUCN.
Stabilnya populasi harimau, tidak serta-merta menunjukkan kondisi habitatnya baik-baik saja. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai kemunculan harimau di sekitar kebun dan permukiman warga semakin terdengar.
Di sejumlah wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, masyarakat kerap berhadapan dengan jejak, suara, bahkan penampakan langsung harimau.
“Interaksi yang meningkat, tidak selalu menunjukkan populasi harimau bertambah. Banyak kasus terjadi karena tekanan terhadap habitat yang membuat satwa bergerak lebih dekat ke wilayah aktivitas manusia,” jelas Ujang.
Dia mencontohkan sejumlah kejadian di kawasan Simpur dan Ketambe yang berada di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser. Sebagian besar kasus terjadi di kawasan yang berbatasan langsung dengan ruang hidup masyarakat.
Harimau punya perilaku berbeda dengan gajah (Elephas maximus). Satwa ini tidak menetap dalam satu lokasi dan punya wilayah jelajah luas. Pada musim tertentu, terutama ketika individu muda mulai mencari teritori baru, harimau dapat melintasi berbagai kawasan, termasuk area dekat permukiman dan peternakan warga.
“Meningkatnya peluang perjumpaan antara manusia dengan harimau, tidak bisa dilepaskan dari kondisi habitat yang terus mengalami tekanan,” jelasnya.

Tekanan habitat
Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, menilai ancaman terbesar kehidupan harimau saat ini tak hanya perburuan, tetapi juga semakin terfragmentasinya hutan. Berbagai pembukaan lahan yang terjadi di kawasan Leuser, menyebabkan blok-blok hutan yang sebelumnya terhubung berubah jadi kantong-kantong habitat terisolasi.
“Ketika ekosistem terpecah, ruang jelajah satwa semakin sempit. Harimau memerlukan habitat yang saling terhubung untuk mencari mangsa dan berkembang biak,” jelasnya, Senin (15/6/2026).
Leuser selama puluhan tahun dianggap sebagai kawasan paling penting bagi perlindungan harimau sumatera. Namun, dia melihat adanya ironi ketika kawasan konservasi justru ikut mengalami tekanan deforestasi. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya hutan alam di luar kawasan konservasi akibat ekspansi perkebunan dan berbagai aktivitas pembangunan lainnya.
“Yang mengkhawatirkan, kerusakan justru terjadi di kawasan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan terakhir satwa liar.”

Anggi menilai, salah satu tekanan terbesar terhadap habitat harimau di Sumatera berasal dari konversi hutan menjadi perkebunan sawit. Banyak kawasan hutan di luar area konservasi yang berubah fungsi. Akibatnya, satwa liar kehilangan ruang hidup dan semakin bergantung pada kawasan konservasi tersisa.
“Harimau tidak kenal batas administrasi, tidak tahu statusnya taman nasional atau bukan. Yang diperlukan adalah habitat berfungsi baik.”
Perlindungan harimau tak cukup dilakukan hanya dalam kawasan konservasi. Hutan-hutan penyangga dan koridor satwa di luar kawasan lindung, juga harus dipertahankan agar konektivitas habitat tetap terjaga. Ketika habitat rusak, harimau kehilangan ruang aman untuk hidup dan terpaksa bergerak ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.
“Itu akan meningkatkan konflik antara manusia dengan harimau.”
Berbagai ketentuan dalam undang-undang konservasi, jelasnya, masih menempatkan masyarakat sebagai pihak yang paling rentan menerima sanksi, ketika terjadi kerusakan kawasan.
“Sebaliknya, penindakan terhadap korporasi yang punya keterkaitan dengan kerusakan hutan seringkali tidak berjalan efektif.”

Film Leuser
“Hutan Leuser tempat bernaung semua satwa.”
Begitu bunyi syair yang dilantunkan Fuad S. Klayu, membuka rangkaian film “Closer to Leuser” di Ruang Analoog, Grand Wijaya Center, Jakarta Selatan, Sabtu (6/6/2026).
Dari kisah orangutan sumatera (Pongo abelii) yang menggendong anaknya di rimba, penonton kemudian diajak mengenal Ibrahim, penjaga pengetahuan hutan Leuser yang dijuluki para peneliti “Profesor Leuser.”
Walau hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, pria asal Ketambe, Aceh Tenggara, itu mampu mengidentifikasi ribuan jenis tumbuhan dan satwa liar, beserta keterkaitannya di ekosistem hutan.
Cerita lalu beralih ke Mustafa, pawang orangutan dari Rawa Singkil, Aceh Singkil. Di kalangan pegiat konservasi, dia dikenal karena kemampuannya mengenali orangutan liar dan menjalin kedekatan dengan satwa tersebut.
Kemampuannya menyusuri rawa gambut dan membaca tanda-tanda kehidupan di hutan, membuatnya kerap mendampingi peneliti, pegiat konservasi, hingga pembuat film yang bekerja di kawasan Leuser.
Rangkaian film tidak berhenti pada kisah hubungan manusia dan alam. Layar kemudian menampilkan wajah lain Leuser dan Aceh. Bentang hutan yang terkoyak, tumpukan kayu hasil pembalakan yang hanyut bersama bencana banjir bandang dan tanah longsor tahun lalu, memaksa warga meninggalkan rumah mereka.
Dari syair tentang kehidupan di dalam rimba, alur cerita perlahan bergerak menuju konsekuensi yang harus ditanggung saat alam kehilangan daya lindungnya.

Farwiza Farhan, Direktur Eksekutif Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), mengatakan film-film tersebut menjadi pengingat bahwa Leuser tak bisa dipahami sebagai kawasan konservasi atau taman nasional. Lanskap yang dikenal sebagai Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) itu, , jauh lebih luas dan menyimpan hubungan panjang antara manusia dan alam yang terjalin selama bergenerasi.
“Leuser tak hanya tentang hutan dan satwa, namun juga tentang manusia yang hidup bersama lanskap itu.”
Meski sudah berkecimpung 15 tahun dalam perlindungan Leuser, dia mengaku menemukan banyak pelajaran baru dari para tokoh yang muncul di film. Satu adegan yang membekas baginya adalah saat seorang narasumber menceritakan penolakannya terhadap tambang, karena khawatir masyarakat akan menjadi korban bencana. Kekhawatiran itu, menjadi kenyataan saat banjir melanda dan memaksa banyak warga meninggalkan rumah mereka.
Adegan lain yang menyentuhnya datang dari Ibrahim. “Sekolah dari alam tidak pernah selesai,” ujar Ibrahim dalam film. Kalimat sederhana itu membuat Farwiza merasa pengalamannya belum seberapa dibanding pengetahuan orang yang hidup sehari-hari dalam lanskap tersebut.
Nanang Sujana, produser film, menuturkan film ini diarahkan untuk mendengar suara masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar KEL. Dengan waktu pengambilan gambar yang hanya dua hingga tiga hari di setiap lokasi, tidak mudah membuat warga merasa nyaman di depan kamera.
“Kami ingin film ini tumbuh dari cerita tentang mereka sendiri.”
*****