- Penerapan buka tutup area tangkap gurita di Selat Alas oleh nelayan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai membuahkan hasil. Selain populasinya meningkat, hasil tangkapan gurita juga lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Hal itu membuat mereka makin menyadari bahwa laut yang terjaga akan turut meningkatkan penghasilan mereka.
- Kendati begitu, inisiatif ini bukan tanpa tantangan. Pasalnya, nelayan Poto Tano masih mendapati nelayan dari luar yang kerap masuk ‘zona terlarang’ untuk menangkap ikan atau berburu gurita. Untuk mencegahnya, nelayan Poto Tano melakukan pengawasan secara mandiri.
- Selat Alas merupakan salah satu habitat gurita terbaik di NTB. Karang dan bebatuan yang mendominasi struktur dasar perairan menjadikan area ini memiliki banyak celah alami. Kondisi itu sangat ideal bagi gurita untuk bersembunyi, berburu, sekaligus berkembang biak. Penelitian Universitas Mataram pada April-Juli 2023 menemukan bahwa gurita Octopus cyanea merupakan jenis yang paling banyak nelayan tangkap di Selat Alas.
- Bagi masyarakat Poto Tano, menjaga Selat Alas bukan hanya soal Gurita. Ini tentang mempertahankan hasil dari proses panjang perubahan perilaku. Mereka tidak ingin kembali ke masa lalu, ketika laut rusak dan hasil tangkapan terus menurun.
Suara mesin ketinting perahu beradu dengan deburan ombak yang menghantam bebatuan Gili Kambing di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Siang itu angin bertiup cukup kencang, membuat permukaan laut Selat Alas bergelombang. Perahu kecil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah ombak yang datang dari arah barat.
Kadir, Koordinator Bidang Pengawasan Kelompok Nelayan Pelita Poto Tano di atas perahu terlihat sigap mengendalikan kemudi. Pandangannya tertuju pada perahu lain di kejauhan yang bergerak perlahan. Dia menduga perahu itu tengah memancing di area perairan Gili Paserang, wilayah yang sedang masa penutupan.
Dari kejauhan, Kadir berusaha mengejar perahu itu. Mesin perahu meraung saat dia berusaha mendekat, meski harus berhadapan dengan gelombang yang tidak bersahabat.
“Ya, sepertinya ada yang memasuki area penutupan,” kata Mahari, pengurus nelayan lain yang memperhatikan Kadir dari kejauhan.
Mahari katakan, Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat (Rapala Emas) dalam bentuk ‘jeda tangkap’ oleh nelayan di Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) cukup sukses mengembalikan populasi gurita di Selat Alas. Para nelayan pun mulai merasakan perubahan dengan hasil tangkapan gurita lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Hal itu membuat mereka makin menyadari bahwa laut yang terjaga akan turut meningkatkan penghasilan mereka. Sebab itu, mereka sepakat untuk tidak menangkap gurita di area dan waktu tertentu.
Meski begitu, implementasi program ini bukan tanpa tantangan. Pasalnya, banyak nelayan dari daerah lain yang belum mengetahui penerapan buka tutup ini. “Terkadang nelayan atau penyelam dari daerah lain yang masuk untuk menangkap gurita,” kata Muhammad Azam, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas di Poto Tano.
Pengawasan semacam ini bukan hal baru bagi nelayan Poto Tano. Mereka melakukannya dengan peralatan seadanya, tanpa seragam dan tanpa kewenangan formal. Patroli dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan rasa memiliki terhadap laut. Bagi mereka, menjaga perairan berarti menjaga sumber penghidupan.
Meski tanda-tanda penutupan telah dipasang, pelanggaran masih sering terjadi. Nelayan yang memaksa masuk ke area penutupan umumnya berasal dari luar Desa Poto Tano. Bahkan, tidak jarang mereka datang dari luar Pulau Sumbawa, seperti Lombok dan Pulau Kangean, Madura.
“Kadang mereka bilang tidak tahu, kadang pura-pura tidak lihat. Padahal tanda sudah jelas,” ujar Mahari.
Dalam kondisi seperti ini, nelayan Poto Tano berada pada posisi yang sulit. Mereka ingin menegakkan kesepakatan, tetapi juga harus menghindari konflik terbuka di laut. Karena itu, ketika mendapati nelayan yang melanggar, mereka hanya sebatas mengingatkan. Atau, menghalau semampunya.
“Kami hanya bisa membekali mereka dengan peralatan patroli, seperti boat dan alat-alat lainnya. Karena kawasan itu di luar wewenang kami,” terang Karyono.

Penyelam kompressor
Selain pemancing dari luar Poto Tano, kehadiran nelayan penyelam kompressor juga menghadirkan tantangan tersendiri. Para penyelam umumnya menggunakan linggis atau alat besi untuk membongkar sarang gurita di celah karang dan bebatuan. Meski cepat mendapat tangkapan, cara ini merusak habitat.
“Kami kan penyelam juga, jadi tahu bagaimana cara mereka menangkap gurita. Rumahnya dirusak pakai linggis. Tidak selektif, besar atau kecil tetap diambil,” cerita Amirudin.
Padahal, gurita merupakan spesies yang bersifat soliter dan teritorial. Setiap individu membutuhkan tempat persembunyian sendiri. Substrat berupa karang dan bebatuan menjadi faktor penting dalam siklus hidup gurita, terutama sebagai sarang.
Ketika sarang-sarang ini rusak, gurita kehilangan tempat hidupnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat itu, tetapi juga mempengaruhi regenerasi populasi dalam jangka panjang.
“Karang merupakan ekosistem penting bagi gurita. Karena di sana gurita bertelur dan berkembang biak, sekaligus sumber makanannya,” kata Wandra Sukandi, periset dari Yayasan Jaring Laut Lestari (Jari).
Selat Alas merupakan salah satu habitat gurita terbaik di NTB. Karang dan bebatuan yang mendominasi struktur dasar perairan menjadikan area ini memiliki banyak celah alami. Kondisi itu sangat ideal bagi gurita untuk bersembunyi, berburu, sekaligus berkembang biak.
Penelitian oleh Universitas Mataram pada April-Juli 2023 menemukan bahwa gurita Octopus cyanea merupakan jenis yang paling banyak nelayan tangkap di Selat Alas. Riset yang menekankan pada identifikasi morfologi dan morfometrik tersebut juga mencatat bahwa bobot gurita betina relatif lebih besar ketimbang jantan.
Selain itu, penelitian dari Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram mencatat bahwa suhu perairan Selat Alas berada pada kisaran 27-31 derajat Celsius. Rentang suhu ini sangat mendukung kehidupan Gurita.
“Kalau secara data, perairan dengan suhu 20 derajat ke atas membantu mempercepat proses perkembangan embrio Gurita dan paling disukai,” kata Wandra.
Kondisi lingkungan yang ideal ini menjadikan Selat Alas sebagai wilayah penting bagi keberlangsungan Gurita. Namun, daya tarik yang sama juga mengundang tekanan penangkapan, terutama dari nelayan dan penyelam luar yang tidak terikat dengan kesepakatan lokal.
“Laut kan bebas ya, siapa pun bisa. Tetapi ini yang menjadi tantangan serius upaya konservasi di Poto Tano,” ucap Karyono, Kepala Dinas Kelautan Sumbawa Barat.

Cerita masa lalu
Amirudin, Mahari, dan sebagian besar pengurus Kelompok Nelayan Pelita Poto Tano merupakan mantan pengebom ikan dan penyelam kompresor. Aktivitas menyelam telah mereka lakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kami dulu penyelam aktif. Ya mungkin karena sudah turun-temurun,” katanya
Mereka mengetahui bahwa penggunaan kompresor berbahaya dan tidak diperbolehkan. Namun tekanan ekonomi dan kebiasaan membuat praktik tersebut terus dilakukan. Risiko penyakit dekompresi dan kecelakaan menjadi bagian dari pekerjaan.
Suatu ketika, Amirudin dan Mahari mulai merasakan perubahan di laut. Lokasi-lokasi yang dulunya kaya ikan dan gurita semakin sepi. Kendati durasi menyelam semakin lama dan tenaga semakin terkuras, hasil tangkapan justru makin sedikit.
“Kami mulai sadar, ada yang salah,” kenang Amirudin.
Mereka melihat bahwa area yang rusak justru menjadi tempat yang paling sulit menghasilkan tangkapan. Sebaliknya, wilayah yang jarang disentuh perlahan kembali menunjukkan kehidupan. Dari pengalaman itulah muncul kesadaran bahwa cara lama tidak bisa terus dipertahankan.
Kesadaran tersebut perlahan membentuk sikap baru. Amirudin, Mahari, dan kawan-kawan tidak hanya berhenti melakukan praktik merusak, tetapi juga mulai terlibat dalam pengawasan perairan, meski dengan cara sederhana: berpatroli menggunakan perahu, saling berbagi informasi, dan mengingatkan nelayan yang melanggar. Tidak selalu berhasil, tetapi mereka tetap melakukannya.
“Kami ini jaga laut kami sendiri,” kata Kadir.
Bagi masyarakat Poto Tano, menjaga Selat Alas bukan hanya soal Gurita. Ini tentang mempertahankan hasil dari proses panjang perubahan perilaku. Mereka tidak ingin kembali ke masa lalu, ketika laut rusak dan hasil tangkapan terus menurun.
Kini, meski tantangan dari penyelam dan nelayan luar masih terus ada, masyarakat Poto Tano tetap bertahan. Di tengah ombak Selat Alas yang terus bergulung, mereka menjaga laut dengan cara mereka sendiri. Pelan, terbatas, tetapi dengan keyakinan bahwa laut yang dijaga akan tetap memberi kehidupan.
*****