- Praktik baik ditunjukkan para nelayan di Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan menerapkan jeda tangkap gurita di Selat Alas. Inisiatif itu mereka lakukan setelah menyadari hasil tangkapan gurita terus menurun sejak tahun 2020.
- Jeda tangkap diberlakukan dengan menutup area tangkapan gurita di Pulau Paserang selama tiga bulan. Setelah itu, area tangkap kembali dibuka sebulan, dan kembali ditutup tiga bulan kemudian. Begitu seterusnya demi memberi kesempatan gurita berkembang dan memulihkan ekosistem.
- Jaring Laut Lestari (JARI), NGO Lokal di NTB, permintaan global yang terus meningkat menjadikan penangkapan gurita kian massif, bahkan mendekati overfishing. Dampaknya, secara kualitas, gurita yang tertangkap semakin turun karena tak mendapat kesempatan kembang maksimal. Penggunaan alat tangkap tak ramah menambah tekanan komoditas ini.
- Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, sejak 2019 hingga 2023 jumlah tangkapan gurita nelayan dari kawasan Selat Alas mengalami peningkatan. Pada 2023, produksi gurita mencapai 9,8 kuintal, naik hampir 100% dibanding tahun 2019 yang sebanyak 5,9 kuintal
Deru mesin perahu ketinting 17 PK memecah ombak Selat Alas. Rabu (5/11/25) menjelang siang, Mahari bersama dua orang lain, Amirudin dan Jaenal, berpatroli mengelilingi perairan Gili Paserang, Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Saat ini, para nelayan Poto Tano yang tergabung dalam Kelompok Pelita Poto Tano, sedang melakukan penutupan Gili Paserang. Tidak boleh ada yang tangkap ikan di area yang berjarak sekitar 200-300 meter dari pinggir Pantai Gili Paserang itu.
“Gili (Paserang) sedang kita tutup untuk tiga bulan,” kata Mahari, Ketua Kelompok Nelayan Pelita Pototano, saat Mongabay temui.
Sejak 2021, nelayan di Pototano yang sekitar 90% penangkap gurita sepakat untuk menerapkan jeda penangkapan. Model pengelolaan ini mereka namakan Rapala Emas (model pengelolaan perikanan berbasis masyarakat).

Berawal dari keresahan
Secara turun temurun, nelayan di Pototano terkenal sebagai spesialis penangkap gurita. Pengetahuan tentang gurita mereka warisi dari nenek moyang mereka.
“Kami ini memang ahlinya gurita, sejak dahulu,” kata Mahari sembari menyeka keringat.
Awalnya, di Selat Alas, hanya mereka yang menangkap gurita. Sejak permintaan gurita makin meningkat mulai 2018 terutama untuk ekspor, banyak nelayan dari daerah lain masuk ke sana.
“Saat gempa Lombok (2018), permintaan banyak. Pengepul berdatangan,” kata Amirudin yang saat itu juga berpatroli bersama rekan-rekan yang lain.
Terdorong permintaan yang terus meningkat, penangkapan gurita pun kian masif. Begitu juga jumlah nelayan, terus bertambah. Tak jarang, demi memenuhi ambisi pasar, penangkapan gurita oleh nelayan gunakan cara-cara yang tak ramah.
“Bom ikan dan potasium. Kebanyakan kami pakai itu dulu. Kami juga menyelam dan menggunakan linggis untuk mencungkil rumahnya (gurita),” cerita Amirudin sembari melempar pancing.
Lambat laun, penggunaan alat tangkap tak ramah dan penangkapan masif tanpa jeda memberi tekanan pada gurita. Hingga pada 2020, para nelayan mulai merasakan hasil tangkapan gurita tak sebanyak dulu. Begitu juga dengan bobot gurita makin turun.
“Kalau dahulu, setiap orang bisa dapat sampai 10 kilogram dalam sehari,” kenang Mahari, mengingat-ingat masa jayanya gurita di Selat Alas.
Amiruddin memperkirakan, penurunan hasil tangkapan capai 10-15% per tahun dengan bobot 0,5-1,5 kilogram. “Sekarang paling berat up ,1,5 kg. Kalau dahulu bisa sampai dua atau tiga kilogram.”

Jaring Laut Lestari (JARI), organisasi lokal di NTB sempat mengumpulkan data lapangan terkait penangkapan gurita pada 2020. Hasilnya, penangkapan gurita di Selat Alas, hampir mendekati overfishing. Bukan hanya itu, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan juga menjadi penyebab berkurangnya hasil tangkap nelayan.
“Gurita kan sejak 2018 mulai diminati pasar global. Ya, dampaknya penangkapan juga masif. Terkadang menggunakan bom dan potasium,” kata Wandra dari Yayasan JARI.
Nelayan mulai resah, karena hasil tangkapan mereka makin berkurang dan bobot kecil. Di tengah keresahan itulah mereka menginisiasi Rapala Emas, konsep pengelolaan perikanan yang mengadopsi tradisi orang tua mereka di masa lalu, dengan dampingan JARI.
Dalam sistem pengelolaan Rapala Emas itu, para nelayan menutup perairan yang menjadi area tangkap gurita selama tiga bulan untuk memberikan kesempatan berkembang biak. Lalu, membuka kembali selama sebulan dan menutup lagi selama tiga bulan. Begitu seterusnya selama satu tahun penuh.
“Sebenarnya orang tua kami dahulu, punya kebiasaan yang secara turun temurun diwariskan yaitu istirahat untuk memancing selama beberapa waktu” kata Azam, Ketua Pokmaswas Desa Poto Tano.
Dia menjelaskan, penerapan jeda tangkap oleh orang tua mereka itu untuk memberi kesempatan ikan dan biota laut lain untuk berkembang biak.
Mereka meyakini, ketika laut dan isinya mendapat masa jeda, maka laut akan memberikan lebih kepada nelayan.
“Jadi, orang tua kami dahulu, percaya bahwa laut dan isinya dengan manusia harus membangun hubungan sebagai sesama makhluk, bukan hubungan yang eksploitatif seperti yang terjadi hari ini.”
Berdasarkan pengalaman di masa lalu itu, para nelayan kemudian membentuk kelompok yang mereka namakan Pelita Poto Tano. Melalui kelompok inilah mereka mengorganisir nelayan di Poto Tano dan melakukan sosialisasi serta diskusi tentang bagaimana mereka harus mengelola ruang laut.
Dari kelompok ini pula mereka menginisiasi Rapala Emas dan sepakat menerapkan sistem buka tutup kawasa habitat gurita.
Awalnya, mereka menutup area di delapan gili (pulau) yang ada di perairan Poto Tano secara bergiliran. Pola berlangsung selama tiga tahun belakangan.
Sejak awal tahun lalu, mereka mengubah pola dengan memilih satu wilayah sebagai lokasi penutupan, yakni, perairan Gili Paserang.
“Awalnya, di depan gili itu. Tapi hasil evaluasi kami, kurang efisien terlebih kami masih swadaya. Maka kita tetapkan penutupan selama setahun ini dilakukan di Gili Paserang,” kata Mahari.

Alat tangkap ramah
Selain memberlakukan jeda tangkap, nelayan Poto Tano juga beralih dari alat tangkap merusak ke alat tangkap berkelanjutan. Mereka sadar bahwa, pemberlakuan jeda tangkap saja tak cukup untuk menjaga populasi gurita tetap lestari.
“Dulu, kami pakai bom, potasium dan cungkil. Di awal-awal kita dapat banyak, tetapi lama-kelamaan kok makin berkurang,” cerita Amirudin.
Penggunaan potasium, bom dan cungkil tersebut menyebabkan habitat gurita rusak serta penangkapan tidak selektif. Walhasil itu semua berpengaruh terhadap populasi gurita di sana.
Yayasan JARI menyatakan, penggunaan alat tangkap tak ramah turut jadi penyebab berkurangnya populasi gurita di Selat Alas.
“Sebenarnya periode 2015-2021, penangkapan di gurita di Selat Alas meningkat pesat. Mereka juga banyak menggunakan alat tangkap yang tidak ramah dan merusak, akhirnya jauh berkurang,” kata Wandra.
Melalui kelompok nelayan Pelita Poto Tano, Mahari dan kawan-kawan melakukan sosialisasi untuk beralih ke alat tangkap yang lebih ramah dan berkelanjutan.
Dari sosialisasi itu, mereka sepakat untuk tidak lagi menggunakannya, kini pakai yang lebih ramah seperti keong dan pocong.
Alat tangkap keong merupakan alat tangkap yang mereka modifikasi serupa keong laut, dengan bantalan dan belalai dari besi pipih. Di pinggir keong itu terselipkan mata pancing.
Alat tangkap ini hasil modifikasi dengan bahan dasar keong dan terkadang terbuat dari kayu yang diukir serupa keong.
Untuk, alat tangkap pocong hasil modifikasi dari bahan dasar kayu yang dibentuk serupa gurita dengan belalai berasal dari potongan kain.
“Penggunaan kedua alat tangkap tersebut selektif. Jadi hanya gurita dewasa dan berat minimal 1 kilogram yang akan tertangkap,” kata Wandra.
Penggunaan kedua alat tangkap tersebut terbukti efektif untuk menyeleksi tangkapan. Sehingga populasi gurita di Selat Alas mengalami perbaikan.
Kini, sedikit demi sedikit habitat dan populasi gurita di Selat Alas, mulai mengalami perbaikan. Nelayan Desa Poto Tano pun sudah merasakan manfaatnya
“Datanya sih belum, namun nelayan sudah mulai merasakan dampak positifnya. Tahun ini, berdasarkan pengakuan nelayan, jumlah tangkapan mereka sudah mengalami peningkatan. Meskipun belum ada pendataan lebih lanjut,” ucap Azam.

Komoditas andalan
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, sejak 2019-2023, tangkapan gurita nelayan dari Selat Alas mengalami peningkatan.
Pada 2023, produksi gurita mencapai 9,8 kuintal, naik hampir 100% dari tahun 2019 sebanyak 5,9 kuintal. Data Dinas Perikanan Sumbawa Barat, untuk tahun 2024 produksi gurita mencapai 5,8 ton.
Peningkatan volume produksi ini berbanding lurus dengan peningkatan permintaan gurita baik dari pasar internasional maupun domestik. Hal ini seperti mata pisau, di satu sisi baik untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan nelayan, sisi lain bisa jadi pemicu eksploitasi terhadap populasi gurita.
“Permintaan meningkat ini bisa saja berdampak positif untuk peningkatan ekonomi. Tetapi, juga bisa menjadi pemicu overfishing,” kata Wandra.
Noto Karyono, Kepala Dinas Perikanan Sumbawa Barat, mengatakan, dalam setahun nelayan di Poto Tano menghasilkan uang hingga Rp341 juta dari produksi gurita saja.
“Dalam satu kali trip saja mereka bisa dapat tiga kilogram per orang dan dalam satu hari mereka bisa sampai 2-3 kali trip. Setahun ratusan jutalah.”
Dia sepakat perlu tata kelola perikanan berkelanjutan untuk menjaga populasi gurita di Selat Alas tetap lestari.
“Kami kan wewenangnya terbatas, kalau secara Undang-undang, area 0 meter dari air pasang hingga sekian itu kan wewenangnya provinsi. Jadi, kami sejauh ini bertugas memastikan penguatan pemahaman dan kapasitas nelayannya,’” ucap Noto.
Muslim, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB menyebut, gurita sebagai komoditas ekonomi baru di wilayahnya. Karena itu, dia tekankan agar pendekatan lingkungan dan keberlanjutan menjadi dasar dalam memanfaatkannya.
Dia juga bilang, penting tata kelola perikanan yang berbasis kepada kesejahteraan nelayan. Selain perbaikan tata kelola, penting juga memikirkan sertifikasi dan diversifikasi produk gurita, hingga bisa memberikan nilai tambah bagi para nelayan.
Dia bilang, sudah menggandeng lembaga semisal Marine Stewardship Council untuk melakukan kajian lebih lanjut pengelolaan gurita di NTB lebih baik lagi ke depan.
*****
Bagaimana Gurita Beradaptasi terhadap Peningkatan Suhu Laut?