- Papua (New Guinea) merupakan pulau dengan kekayaan flora tertinggi di dunia, mengalahkan Madagaskar. Untuk tingkat endemisitas tumbuhan, Papua berada di peringkat kedua dunia setelah Amazon, menempatkannya sebagai wilayah kunci dalam konservasi keanekaragaman hayati global.
- Deklarasi Papua Barat adalah tonggak bagi provinsi ini untuk menjadi Provinsi Pembangunan Berkelanjutan yang diperkuat melalui kerangka kebijakan seperti Dana Abadi Daerah, perlindungan hutan darat dan laut, serta pengembangan ekonomi berbasis alam—mulai dari ekowisata, komoditas non-deforestasi, hingga karbon biru.
- Charlie D. Heatubun, profesor botani dan peneliti palem, memiliki pengalaman panjang sebagai periset lapangan—termasuk penemuan spesies dan marga palem baru—yang menjadikan kekayaan hayati Papua sebagai fondasi ilmiah dalam perumusan kebijakan pembangunan di Papua Barat.
- Dalam pendekatan ini, sains tidak berhenti hanya pada publikasi ilmiah, tetapi diterjemahkan ke dalam regulasi dan kebijakan publik, seperti Perdasus masyarakat adat, pembangunan berkelanjutan, serta komitmen menjaga tutupan hutan secara jangka panjang.
Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, Guru Besar bidang Botani Hutan di Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA), memiliki perjalanan karier yang unik. Ia dikenal luas sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang mendedikasikan hidup akademiknya untuk meneliti kekayaan flora Papua.
Selama lebih dari dua dekade, Charlie Heatubun (52) terlibat dalam berbagai ekspedisi botani di Tanah Papua. Dari hutan pesisir hingga pegunungan, ia menemukan puluhan spesies baru—bahkan marga baru—dan menjadi bagian penting dari proyek besar Palms of New Guinea yang kini menjadi rujukan global dalam studi palem.
Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti di laboratorium dan hutan. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengambil peran strategis sebagai Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat. Dalam posisi ini, sains tidak lagi berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan diterjemahkan menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan di Papua Barat—sebuah provinsi dengan kekayaan hayati luar biasa di wilayah Kepala Burung Tanah Papua.
Dalam satu dekade terakhir, Provinsi Papua Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dominggus Mandacan, mengambil langkah berani dengan mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Pembangunan Berkelanjutan. Komitmen ini diwujudkan melalui sejumlah kebijakan kunci, mulai dari perlindungan tutupan hutan, pengakuan dan perlindungan wilayah adat, hingga pengembangan skema Dana Abadi Daerah sebagai fondasi pembiayaan jangka panjang daerah.
Dalam artikel ini, Charlie D. Heatubun menjelaskan bagaimana kekayaan flora Papua menjadi kunci penting dalam merancang masa depan pembangunan Papua Barat. Ia juga menguraikan upaya penguatan jejaring ilmiah internasional, termasuk melalui penyelenggaraan The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference yang diselenggarakan dari tanggal 9-14 Februari 2026 di Manokwari, Papua Barat.
Berikut adalah rangkuman wawancaranya.

Mongabay: Apa yang disebut dengan wilayah Malesiana? Apa yang unik di sini?
Charlie D. Heatubun: Pertama yang perlu saya jelaskan kawasan Malesiana ini berbeda dengan Malaysia. Ini istilah yang banyak orang sering salah pahami. Malaysia itu negara, sedangkan Malesiana adalah kawasan distribusi floristik yang meliputi wilayah dari Sumatera, Semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, Maluku, Papua (New Guinea) hingga batas timurnya di Kepulauan Salomon. Batas di utara adalah Filipina, hingga di selatan berbatasan dengan wilayah utara Australia.
Distribusi tumbuhan yang ada di sini pada level taksonomi yaitu di tingkat genus (marga) dan famili (suku) amat berbeda dengan kawasan floristik lain di dunia.
Sedangkan khusus untuk Papua, pulau ini merupakan wilayah terkaya di dunia untuk jenis tumbuhan berpembuluh. Itu sudah dibuktikan, dan kami sudah publikasikan secara ilmiah pada tahun 2020 di jurnal bergengsi, Nature, dengan judul New Guinea has the world’s richest island flora.

Berdasarkan data dari semua koleksi herbarium yang ada di seluruh dunia, di Pulau Papua ada 13.634 spesies tumbuhan berpembuluh (vaskular) yang tergabung dalam 1.742 genera (marga) dan 264 famili tumbuhan, di mana 68%-nya endemik. Sejak tahun 2020-2026, sebenarnya sudah makin banyak penemuan-penemuan jenis baru yang telah dipublikasikan.
Hasil ini membuktikan bahwa Papua adalah pulau terkaya dari jenis flora. Papua mengalahkan Madagaskar, yang sebelumnya disebut sebagai pulau terkaya untuk jenis tumbuhan. Sedangkan untuk tingkat endemisitas, Papua tertinggi kedua di dunia setelah Amazon.
Kalau kita lihat struktur dan komposisi tumbuhan yang ada di Papua, 29% adalah pohon, 26% herba (tumbuhan berbatang lunak) seperti jahe-jahean, pisang-pisangan, 22% jenis paku-pakuan (epifit) seperti anggrek, 12% jenis semak (shrub), dan 9% adalah jenis pemanjat (climber) seperti liana dan rotan. Sedangkan yang 1% adalah jenis palem.
Mongabay: Apa yang membuat Pulau Papua sangat kaya dengan jenis tumbuh-tumbuhan dan tingkat endemisitas?
Charlie D. Heatubun: Untuk itu kita perlu memahami proses pembentukan pulau ini yang tidak terjadi secara serempak, tetapi melalui peristiwa tumbukan lempeng tektonik, juga hanyutan pecahan benua purba Gondwana. Juga merupakan hasil pengangkatan dasar laut.
Hasilnya, dari pinggiran pesisir pantai hingga puncak salju abadi [di puncak Jayawija], terbentuk topografi ekologi yang ekstrim dan beragam yang kemudian membuat laju spesiasi (=percabangan spesies baru) yang tinggi.
Mongabay: Apa yang membuat Anda tertarik menjadi peneliti tumbuhan, secara khusus palem di Papua?
Charlie D. Heatubun: Kalau ditanya mengapa saya tertarik untuk belajar dan menjadi peneliti botani, –dan menjadi ahli palem saat ini, karena bagi saya jenis palem memiliki struktur morfologi yang unik. Bahkan, banyak ahli tumbuhan mengatakan bahwa palem itu adalah ‘pangeran’-nya dunia tumbuhan.
Sebelum ada kesepakatan untuk diberi nama famili Arecaceae, ataupun ordo sebagai Arecales, maka ordo palem-paleman atau pinang-pinangan sebelumnya disebut Principus. Principus itu di dalam bahasa latin artinya pangeran. Jadi pangeran dari dunia tumbuhan, karena sangat anggun, sangat cantik, tetapi juga punya manfaat yang cukup banyak. Demikian pula, palem itu amat mudah dibedakan dari tumbuhan yang lain.
Dari jarak yang sangat jauh, –misalnya 10-100 km, kita bisa membedakan palem dari pohon yang lain. Itu palem sedang yang di sana itu pohon, yang tentu saja kita tidak tahu itu pohon apa, begitu. Tapi palem pasti kita bisa tahu.
Secara khusus untuk meneliti jenis-jenis palem di Papua, saya mulai resmi bergabung dalam proyek penelitian Palms of New Guinea sejak tahun 2000. Buku hasil penelitiannya telah kami publikasikan pada tahun 2024.

Mongabay: Apakah ada pengalaman-pengalaman tertentu yang menarik selama meneliti palem di Papua?
Charlie D. Heatubun: Saya lulus S1 pada tahun 1995, dengan skripsi tentang palem. Setahun kemudian saya mulai ikut ekspedisi dan penelitian botani di Papua serta daerah-daerah lainnya di luar Papua. Hingga 2018 pun, saya masih ke lapangan.
Bagi saya, yang paling berkesan adalah saat kami pergi ke lapangan yang kondisinya ekstrim. Naik ke puncak gunung, kemudian menyeberang sungai-sungai yang begitu besar. Mungkin karena waktu itu masih muda dan punya jiwa petualangan, semua dinikmati. Puji Tuhan, semua perjalanan kami berjalan lancar.
Adapun penemuan jenis baru palem yang berkesan adalah ketika mengoleksi palem zebra (Caryota zebrina) yang merupakan flora langka dan khas pegunungan Papua. Kami berangkat dari Jayapura pukul setengah 8 pagi dan sampai di puncak Pegunungan Cycloop itu pukul 4 sore.
Selama hampir seminggu di puncak itu kami hanya berlindung di bawah sebuah batu yang menonjol yang kami jadikan tempat berteduh, —camping di situ. Selama di atas kami tidak bisa mandi karena tidak ada sungai atau air, dan menderitanya karena di situ banyak kutu maleo.
Namun hal itu terbayar, ketika untuk pertamakalinya jenis palem itu dipublikasikan sebagai temuan spesies baru dalam Journal of the International Palm Society pada tahun 2000.
Hal paling berkesan juga adalah saat saya menemukan marga palem baru, –tidak hanya jenis baru tapi marga baru Wallaceodoxa di Raja Ampat, di mana temuan itu amat berbau peruntungan.
Ceritanya, saat itu saya sedang ikut Pertemuan Musrembang di Raja Ampat. Saat makan siang, saya melihat di samping gedung pertemuan ada palem tinggi besar. Saya lalu minta rekan-rekan dari Dinas Kehutaanan untuk buatkan koleksi spesimen.
Ketika saya ada kesempatan berangkat ke Inggris, lalu kami lakukan philogenetic, –semacam uji DNA, ternyata itu marga baru palem yang lalu kami publikasikan. Bagi saya, itu adalah kontribusi luar biasa untuk ilmu pengetahuan.
Sampai saat ini, sudah ada 50 spesies baru yang sudah saya publikasikan yang termasuk lima marga baru. Tiga marga saya turut memberikan nama bagi marga-marga palem tersebut.
catatan redaksi: pemberian nama Wallaceodoxa sendiri terinspirasi dari nama Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang melakukan perjalanan ilmiah di wilayah New Guinea dan sekitarnya pada abad ke-19, ditambah akhiran -doxa dari bahasa Yunani yang berarti “penghormatan”.

Mongabay: Bagaimana jenis-jenis palem ini dimanfaatkan oleh orang asli Papua?
Charlie D. Heatubun: Secara khusus di Papua, palem adalah tumbuhan yang paling banyak digunakan secara tradisional oleh manusia. Dengan perkecualian di dataran tinggi yang mereka lebih mengkonsumsi bahan ubi-ubian.
Sagu, kelapa, dan nipah, semua adalah jenis-jenis palem. Batangnya digunakan untuk konstruksi rumah, juga untuk busur panah, anak panah, tameng tradisional hingga keranjang. Bahkan ikatan-ikatan konstruksi itu banyak menggunakan rotan yang merupakan jenis palem memanjat.
Mongabay: Apa yang perlu diperhatikan dalam pelestarian pelbagai keragaman flora di Papua serta bagaimana riset dapat bermanfaat bagi banyak orang?
Charlie D. Heatubun: Dari hasil riset kami, masih banyak daerah di Tanah Papua ini yang belum kita ketahui berbagai jenis keragaman tumbuhannya, dan belum kita koleksi. Untuk itu, menjadi bagian dari tugas saya di Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), — sebelumnya Balitbangda, untuk menghasilkan dan mempublikasikan hasil-hasil riset yang baik dengan berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi maupun lembaga riset yang ada di dalam maupun di luar negeri.
Riset itu kemudian menjadi bagian dari policy brief yang dihasilkan. Hasilnya adalah Deklarasi Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi pada tanggal 19 Oktober 2015 yang berlanjut dengan Deklarasi Manokwari pada tanggal 10 Oktober 2018.
Hal yang sangat signifikan adalah disahkannya Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pedoman Pengakuan, Perlindungan, Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat dan Wilayah Adat di Provinsi Papua Barat dan Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pembangunan Berkelanjutan di Provinsi Papua Barat.
Di situ ada komitmen kuat bahwa kita menjaga dan melindungi tutupan hutan kita itu sekurang-kurangnya 70% yang memang terlihat di RTRW waktu itu. Nah sekarang dengan pemekaran [antara Papua Barat dan Papua Barat Daya] tentunya kita sedang memproses revisi RTRW. Mudah-mudahan tentunya komitmen itu akan tetap terjaga.

Mongabay: Mengapa pembangunan berkelanjutan menjadi hal penting dalam konteks Papua Papua saat ini?
Charlie D. Heatubun: Sekarang kita menghadapi apa yang disebut ilmuwan sebagai triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah. Ditambah dengan krisis air dan krisis energi.
Pengalaman bencana di Sumatera baru-baru ini, dengan banjir yang membawa kayu-kayu gelondongan, membuka mata bahwa kita harus berdamai dengan alam, membangun dengan prinsip berkelanjutan. Bayangkan berapa banyak dana, –ratusan mungkin ribuan triliun, untuk merekonstruksi dan mengembalikan kondisi di Sumatera seperti semula.
Di Papua Barat kita sudah memiliki Perdasus Nomor 14 Tahun 2022 yang menetapkan kerangka hukum pembentukan dan pengelolaan Dana Abadi Provinsi Papua Barat. Dana abadi di sini berarti dana yang disimpan dan dikelola secara berkelanjutan.
Itu menjadi tindak lanjut dari apa yang dilakukan sejak tahun 2015, saat Papua Barat mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Konservasi kemudian Provinsi Pembangunan Berkelanjutan dengan komitmen sekurang-kurangnya melestarikan 70% tutupan hutan untuk konservasi darat, dan 50% untuk wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil
Nah, pendanaan abadi ini yang seperti apa modelnya ini yang perlu kita dalami lebih lanjut. Bagaimana bentuk pendanaan, bagaimana investasi sehingga bisa jadi model, baik di tingkat nasional maupun di dunia bahwa kita telah melaksanakan pembangunan secara berkelanjutan.
Dalam Simposium seperti Flora-Malesiana ke-12 dan Nature based Solution (NbS), dibicarakan benang merahnya. Kita bicara dari sains botani menyambung dengan masa depan Papua Barat seperti sustainable financing, blue carbon, pengelolaan mangrove hingga peluang carbon financing.

Mongabay: Bagaimana sains dapat menjadi jembatan dan berperan penting untuk itu?
Charlie D. Heatubun: Kita harus melihat bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bisa dikotak-kotakan lagi, tetapi secara multidisipliner. Mengapa? Karena perubahan iklim dan pemanasan global itu juga berpengaruh kepada keberadaan biocultural heritage di mana warisan keanekaragaman hayati dan budaya itu pun terancam.
Di sini sains berperan. Misalnya di botani ada etnobotani, yang menghubungkan antara sains dengan wisdom and traditional knowledge. Dengan Royal Botanic Gardens Kew, –sebuah lembaga botani internasional berbasis di Inggris dan tertua di dunia, kami ada kerjasama yang disebut Tropical Important Plant Area (TIPA), untuk identifikasi wilayah dengan nilai keanekaragaman tumbuhan sangat tinggi.
Ini satu-satunya TIPA di wilayah Asia-Pasifik dan berada di Kepala Burung Papua atau yang kita sebut Mahkota Permata Tanah Papua. Sekarang kami fokus dulu di Pegunungan Arfak, dengan membangun research station dan plot permanen.
Masyarakat lokal kita libatkan dan latih, harapan ke depan ada pengetahuan dan ada nilai tambah ekonomi bagi mereka. Untuk masa depan ini bisa menuju pada konsep green economy ataupun circular economy.
Mongabay: Seperti apa model bisnis yang ramah lingkungan yang ada di Papua Barat?
Charlie D. Heatubun: Ada semacam jargon ataupun pendapat umum yang mengatakan bahwa orang Papua tidak bisa berbisnis. Nah ini yang kita harus benar-benar buktikan melalui pencarian model yang tepat.
Di tingkat masyarakat, ini sudah ada contohnya, misalnya ekoturisme, seperti di Kampung Kwau, dari aktivitas birdwatching misalnya dana yang bisa beredar di tingkat kampung dalam setahun bisa Rp 1-1,6 miliar. Itu baru dengan manajemen yang sangat sederhana, dengan kearifan lokal yang penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
Di BRIDA kami coba bantu menemukan inovasi model-model bisnis yang profesional, melakukan inovasi produk, dan produksi yang berkelanjutan, seperti misalnya dari komoditas andalan di Papua Barat seperti kakao, kopi, rumput laut, kelapa, hingga sagu.
Kita juga mendorong seperti keragaman usaha di sektor usaha kehutanan, misalnya perusahaan tidak lagi semata menebang mangrove, tetapi bagaimana memanfaatkan potensi karbon yang tersimpan di kawasan mangrove untuk diperjualbelikan, baik potensi karbon yang ada di atas tanah maupun yang ada di bawah tanah. Selanjutnya kita atur bentuk benefit sharing-nya, untuk Pemda Provinsi, Kabupaten, perusahaan, hingga masyarakat adatnya.
Dengan kebijakan ini tentu jadi rekomendasi kuat untuk kita mengembangkan komoditas lokal unggulan non-deforestasi. Jadi kita kembangkan yang benar-benar memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat, sehingga deforestasi masif, –seperti terjadi dalam 20 tahun terakhir ini di Papua, dapat dihindarkan.
Foto utama: Masked Bowerbird (Sericulus aureus) yang ada di Pegunungan Arfak, Papua Barat. Dok: INFIS/Rekam Nusantara
*****
Hans Mandacan, Si Penjaga Cenderawasih dari Pegunungan Arfak