- Ekidna (nokdiak atau babi duri) menjadi satwa endemik Papua yang terancam punah. Ia berduri seperti landak, bergulung seperti trenggiling dan berhidung mirip babi.
- Ia menjadi penghuni asli hutan Papua yang terancam perburuan dan rusaknya habitat. Ada empat jenis ekidna di dunia yang tersebar di kawasan Papua, Papua Nugini dan Australia. Jenis spesies ekidna di Papua adalah jenis Zaglossus bruijini.
- Ekidna termasuk mamalia bertelur yang tak memiliki puting. Tapi ekidna betina akan bertelur, mengeraminya, dan menyusui anaknya. Tak hanya itu, ekidna juga memiliki perilaku unik serta memiliki sensor listrik pada moncongnya.
- Masyarakat Papua memiliki tradisi yang beragam dalam menjaga ekidna. Di Pegunungan Cyclops, ia menjadi satwa keramat sehingga ada larangan berburu. Sedangkan di Sorong, banyak masyarakat menjadikan ekidna sebagai ikon ekowisata.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Ada satwa unik dan endemik dari Papua yang terancam punah. Bentuknya mirip landak pada bagian kulitnya, mirip trenggiling karena perilakunya yang menggulung tubuhnya saat terancam dan hidungnya mirip babi. Satwa biasa dikenal dengan ekidna atau nokdiak atau babi duri.
Satwa ini penghuni asli hutan Papua. Ada empat jenis ekidna yang tersebar di Papua, Papua Nugini dan Australia, tiga spesies ekidna moncong panjang (Zaglossus sp.) dan moncong pendek (Tachyglossus sp.)
Di Papua, jenis ekidna endemiknya adalah Zaglossus bruijni. Ekidna merupakan jenis mamalia bertelur (monotremata), sama seperti platipus. Mereka mampu bertahan hidup dari zaman prasejarah hingga evolusi atau 160 tahun.
Ada beragam tradisi yang ada di Papua untuk tetap menjaga dan melestarikan ekidna. Di Kampung Ormu Wari, kaki gunung Cyclops, Kabupaten Jayapura, Papua menjadikan ekidna sebagai satwa keramat dan dihormati seperti nenek moyang.
Sedangkan di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya tak hanya menghormatinya tapi juga menjadi ikon ekowisata setempat. Misalnya di Kampung Klalik dan Malagufuk.
Tapi seperti apa keunikan dari satwa unik dan endemik yang berasal dari Papua? Simak informasi selengkapnya:
1. Ikon ekowisata di Kampung Klalik
Sebagai satwa nokturnal, ekidna banyak dijumpai di daerah dataran tinggi. Perburuan dan degradasi habitat menjadi ancaman bagi satwa ini.
Di Lembah Klaso, Kabupaten Sorong, tepatnya di Kampung Klalik, ekidna malahan menjadi ikon ekowisata mereka. Warga Klalik melestarikannya dengan menginisiasi ekowisata.
Sejak 2017, para pemuda kampung menyadari bahwa ekowisata mamalia ini bisa menjadi unik dan berbeda dari wilayah lainnya. Meski begitu, perjuangan Isai Onesimus Paa, salah satu pemuda untuk meyakinkan ekowisata tidak mudah. Banyak tetua kampung menganggap idenya tidak masuk akal karena Kampung Klalik berada di area terpencil yang sulit dikunjungi wisatawan.
Namun, Ones tidak patah semangat, selama bertahun-tahun dia coba menyakinkan warga kampung Klalik bahwa ekowisata dapat memberikan peningkatan ekonomi bagi warga. Hingga pada 2023, ide dari pemuda kampung pun berhasil. Klalik Echidna Park pun resmi berdiri, wisatawan mulai berdatangan dan ekonomi warga meningkat.
2. Satwa keramat di Cyclops

Setelah lebih dari 60 tahun tidak tercatat, jejak ekidna moncong-panjang Sir David, berhasil terekam kembali oleh kamera jebak. Penemuan ini menampilkan bukti visual pertama tentang kelangsungan hidup salah satu spesies paling misterius dan kuno di dunia.
Jejak ekidna terekam di kawasan Pegunungan Cyclops, Papua, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi. Bagi masyarakat di sekitar kawasan pegunungan Cyclops, ekidna bukan hanya sekadar satwa biasa. Ia menjadi satwa keramat yang kedudukannya di hutan dihormati layaknya raja.
Di tempat keramat masyarakat adat yang berada di kawasan hutan Cyclops, seseorang dilarang untuk bersuara terlalu keras atau menciptakan suasana yang bikin gaduh. Tak hanya itu, masyarakat adat memiliki aturan ketat agar ekidna dan satwa-satwa terancam punah lainnya di Cyclops tetap lestari.
Nilai-nilai adat, seperti larangan berburu dan larangan menebang pohon di zona tertentu yang dianggap “keramat” atau sakral. Praktik ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tapi juga berfungsi sebagai bentuk konservasi ekologis yang efektif.
Kawasan larangan itu sering kali menjadi benteng terakhir bagi spesies-spesies endemik Papua. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan adat bukan sekadar pelengkap, tetapi komponen penting dalam strategi konservasi berbasis komunitas.
3. Mamalia bertelur yang tidak punya puting susu

Hal yang paling unik dari ekidna, tentunya caranya berkembang biak dengan bertelur meskipun termasuk jenis mamalia. Saat musim bertelur tiba, ekidna betina hanya menghasilkan satu butir telur dan menyimpannya di dalam kantung tubuhnya. Telur akan menetas setelah sepuluh hari dierami.
Tak seperti mamalia lainnya yang memiliki puting susu, ekidna menyusui anaknya dengan cara bereda. Anak ekidna atau disebut puggle yang baru menetas, menghisap susu induknya dari pori-pori kelenjar khusus yang berada di dalam kantongnya.
4. Ekidna menggali lubang untuk anaknya

Menurut Natural History Museum, induk ekidna akan menggali lubang untuk meletakkan anaknya. Setelah lima bulan menetas, anak ekidna menghabiskan sebagian besar waktunya di lubang bawah tanah. Meski bentuknya yang terlihat besar, ekidna bisa membuat lubang kecil dan masuk ke dalamnya.
Di sana, mereka tetap aman dan tersembunyi dari para predator. Sementara itu, induknya mencari makanan dan kembali setiap 3 sampai 6 hari.
Setelah anaknya mencapai usia 7 bulan dan sudah mulai memakan serangga, induknya tidak kembali dan akan membiarkan anak-anaknya untuk tumbuh mandiri.
5. Penis berkepala empat hingga moncongnya yang punya sensor listrik

Ekidna menyimpan rahasia anatomi yang jarang diketahui, yakni penisnya bercabang empat. Menurut peneliti dari University of Melbourne, penis ekidna yang bercabang empat sebenarnya kelenjar berbentuk roset di ujungnya. Hanya dua dari keempat kelenjar yang berfungsi selama ereksi dan kelenjar lainnya akan bergantian untuk ereksi.
Pembuluh darah utama penis juga terbagi menjadi empat cabang mengikuti percabangan uretra. Artinya, ujung penis ekidna berfungsi seperti dua sisi yang berbeda atau terpisah. Hal ini memungkinkan ekidna mengontrol ereksi pada salah satu sisi dan membuka cabang uretra yang sesuai untuk melakukan reproduksi.
Selain keunikan itu, ekidna menjadi satwa daratan yang diketahui memiliki kemampuan untuk mendeteksi medan listrik. Ekidna paruh panjang barat [(Zaglossus bruijni) memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan ekidna paruh pendek (Tachyglossus aculeatus).
Meski mereka bisa mendeteksi medan listrik, tapi paruh ekidna hanya efektif mendeteksinya di tanah yang lembab atau air dan tidak di udara. Dibanding platypus, kemampuan deteksi medan listrik yang dimiliki ekidna lebih rendah.
(*****)
*Daffa Ulhaq merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah di Universita Indonesia. Daffa aktif sebagai jurnalis dan aktivis muda di Generasi Setara yang memiliki minat pada isu pendidikan, gender, dan lingkungan.
Ekowisata Ekidna Kampung Klalik, Inisiatif Warga Lestarikan Satwa Terancam Punah Papua