- Keberadaan ekidna moncong panjang barat (Zaglossus bruijnii) di Kampung Klalik, Distrik Klaso, Papua Barat Daya menjadi kunci lahirnya ekowisata berbasis komunitas.
- Isai Onesimus Paa, tokoh pemuda Kampung Klalik menjadi motor penggerak konservasi ekidna, setelah selama bertahun-tahun meyakinkan warga tentang potensi ekowisata sekaligus melestarikan satwa terancam punah.
- Pada tahun 2023 setelah menghimpun dukungan, warga kampung Klalik meresmikan Klalik Echidna Park. Warga mulai merasakan dampak ekonomi dari ekowisata ekidna.
- Ekidna adalah jenis mamalia bertelur (monotremata) unik dan endemik khas Papua. Keberadaanya terancam dengan konversi lahan dan hutan tempat hidupnya.
“Di sini pertama kali kami berjumpa dengan ekidna,” tutur Isai Onesimus Paa (39), seorang pemuda asli Kampung Klalik, Distrik Klaso, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.
Dia menunjuk salah satu batu yang berada di dekat aliran sungai kecil di sebuah area perbukitan dekat kampungnya.
Sejak 2017, bersama para pemuda sekampungnya, Ones, panggilan akbrabnya, mulai menyadari bahwa di Perbukitan Hutan Kawakyir yang mengelilngi kampungnya, hidup dan tinggal jenis satwa unik Papua.
Tidak sembarang mamalia, tetapi ekidna moncong panjang, spesies monotrema atau mamalia bertelur endemik khas endemik Papua yang langka.
Bentuknya seperti landak, orang-orang setempat menyebutnya dengan nama babi duri. Spesies ini sangat sulit dijumpai, amat pemalu, dan sebagai satwa nokturnal, biasanya hanya aktif mencari makan di waktu malam.

Bersama dengan Flora Fauna Indonesia (FFI), sebuah LSM yang bergerak di bidang konservasi, mereka pun melakukan pendataan dan pemetaan ekidna di seputaran kampung Klalik. Hasilnya ekidna tersebar di area hutan, bahkan temuan warga, ada yang dapat dijumpai di pinggir hutan yang berbatasan dengan kebun warga.
Ones pun berpikir bagaimana agar ekidna dapat menjadi ikon kampung, yang dapat menghasilkan ekonomi berputar, sekaligus tetap dapat menjaga kelestarian hutan.
Dia pun lalu merayu Titus Malak, tetua desa untuk memberi izin membuka area ekowisata mamalia.
“Saya minta izin tete Titus untuk membuka ekowisata karena Klalik punya potensi keanekaragaman jenis burung dan mamalia yang unik yaitu ekidna moncong panjang,” sebut Ones mengingat.
Saat itu, ajakan itu tidak lantas disetujui karena tidak semua orang yakin hal itu masuk akal. Lokasi Klalik yang dianggap area terpencil yang sulit dikunjungi wisatawan, menjadi penyebab.
Namun, Ones pun tidak patah arang. Selama bertahun-tahun dia coba terus meyakinkan 43 warga kampung Klalik, baik itu tetua maupun orang muda, bahwa ekowisata bakal dapat memberikan peningkatan ekonomi bagi warga.
Bersamaan dengan itu, dia pun terus belajar otodidak melalui internet tentang ekidna, ekosistem hutan tempat hidupnya, dan berbagai ragam keanekaragaman satwa yang ada di hutan.
Hingga akhirnya, usulnya menjadi kenyataan pada tahun 2023, Klalik Echidna Park pun berdiri resmi. Ones pun ditunjuk menjadi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Kawakyir.
“Yang menarik dari Kampung Klalik adalah ekidna. Meski di bagian Papua lain satwa ini juga ada, tapi tak semudah di sini untuk menjumpainya,” ujar Ones.

Ones membangun ekowisata ini tak sendirian, dia juga bersama dengan Titus Malak, Melki Paa, Corneless Malak, Petrus Malak dan warga kampung Klalik. Bersama dengan Maurits Kristian Kafiar dan Absalom Kalami yang memiliki jaringan agen wisata, Kampung Klalik pun mulai dikenal.
Berbekal jaringan dan promosi lewat akun sosial media, potensi ekidna di kampungnya pun tersebar di dunia maya. Perlahan tapi pasti, pengunjung pun mulai datang.
“Sa ingat betul di tanggal 6 Juli 2023, itu kali pertama ada pengunjung ekowisata ekidna di Klalik. Ada 7 orang tamu perdana. Setelah itu banyak tamu lain datang. Sejak itu seluruh orang kampung jaga satwa itu (ekidna), kita lindungi, kita foto dan sebarkan di media sosial,” ujarnya.
Pengunjung pun berdatangan dari berbagai negara, seperti para wisatawan dari India, Malaysia, Spanyol, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan lainnya. Umumnya pengunjung yang datang adalah para peneliti, maupun mereka yang penasaran dengan ekidna.
Rata-rata wisatawan tinggal di Klalik antara 3-7 hari. Tidak saja melihat ekidna, mereka pun juga dapat mengamati burung, kekayaan hayati hutan, hingga belajar cara hidup warga lokal.
Dampak ekonomi pun mulai terasa. Uang pun mulai berputar di kampung. Mama-mama menyiapkan makanan bagi pengunjung, para pemuda terlibat menjadi pemandu turis ketika masuk hutan. Beberapa rumah warga pun menjadi home stay tempat tinggal turis selama tinggal di Klalik.
Hingga awal Desember 2025, jumlah wisatawan asal luar negeri tercatat lebih dari 150-an pengunjung. “Ini menjadi kampung satu-satunya di Papua yang jadi tempat pengamatan mamalia ekidna,” tambah Ones bangga.

Sebagai satwa nokturnal, pengamatan ekidna biasanya dimulai sejak mulai pukul 8 malam hingga 4 pagi. Jika beruntung, wisatawan bisa bertemu ekidna hanya dalam jarak 2 km dari kampung.
“Biasanya satu orang memandu wisatawan, empat orang lainnya mencari ekidna lebih dahulu. Baru, nanti jika sudah bertemu, para wisatawan akan menuju ke sana,” ujar Abner Dho, seorang pemuda kampung yang juga menjadi pemandu ekowisata, menyebut metode kerja mereka.
Saat bertemu ekidna, wisatawan pun telah di-briefing oleh tim pemandu untuk tetap menjaga jarak dengan ekidna. Para pemuda yang telah dilatih sebagai pemandu, pun aktif memberi tahu pengunjung tentang berbagai etika yang harus dipatuhi selama di hutan.
“Satu individu dewasa beratnya dapat mencapai 2 kg, yang jantan punya warna duri krem, kalau yang betina warnanya hitam,” tutur Abner.
Tak hanya ekidna, dalam perjalanan masuk hutan, wisatawan juga bisa bertemu dengan beragam satwa, seperti sanca hijau papua (Morelia viridis), serta satwa marsupial nokturnal lain seperti: kempelon ubum (Dactylopsila palpator), kempelon ledi (Dactylopsila trivirgata), wurpih sirsik atau sugar glider (Petaurus breviceps) hingga beragam flora khas Papua lainnya.
Di pagi hari di seputaran Kampung Klalik, pengunjung pun dapat melakukan pengamatan burung endemik seperti cendrawasih raja, kakatua raja, kakatua putih, rangkong, kakatua hitam, raja udang (kingfisher), melampitta besar, red breastted parakeet, papuan pitta, hooded pitta, nuri kerdil dan sebagainya.
“Semoga ekowisata bisa jalan terus. Harapannya dengan kita jaga hutan, kita tak perlu keluar kampung [cari kerja],” sebut Abner.
Sejak 2025, pemerintah daerah pun turut mengembangkan ekowisata di Klalik dengan memberikan bantuan fasilitas penginapan dan gapura Klalik Echidna Park.

Pengetahuan Lokal Kampung Klalik
Berburu dan meramu di hutan menjadi bagian dari kehidupan warga Kampung Klalik. Meski di beberapa wilayah di Papua banyak yang masih berburu ekidna, tapi itu tidak dilakukan di Klalik.
“Kita masih berburu tapi hanya babi dan rusa. Kalau ekidna kita jaga, tidak kita makan. Kita jaga (ekidna) karena dia seperti nenek moyang,” cerita Titus Malak, tetua adat Kampung Klalik.
Baginya, menjaga hutan penting agar dapat dinikmati ke generasi selanjutnya. Pada 2024, Titus sebut hutan Klalik telah diakui dan memperoleh pengakuan sebagai hutan desa.
“[Sebenarnya] kita lebih setuju jika Hutan Adat, meski SK Hutan Desa sudah ada. Kalau sudah ada [pengakuan] hutan adat, hutan terlindungi dan tak ada perusahaan masuk,” ujarnya.
Dia sebut, saat ini ada perusahaan sawit yang sedang mengincar lahan hutan di Klalik. Bersama-sama dengan Malagufuk, Klabili dan beberapa kampung lainnya yang ada di wilayah Lembah Klaso, Klalik pun disebut-sebut masuk dalam calon lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
“Jika hutan di Lembah Klaso hilang, margasatwa di hutan akan punah,” ujar Ones. “Lembah Klaso ini kita harus selamatkan. Kalau hutan habis, maka kegiatan ekowisata pun akan berakhir.”
Ferdinanda Ulimpa, salah satu perempuan warga Kampung Klalik, adalah salah satu yang mendapat manfaat dari keberadaan ekowisata dan lestarinya hutan. Biasanya dia pergi ke hutan untuk memancing, menokok sagu, mengambil sayur dan juga mencari obat-obatan.
“Ke hutan, mama pergi mancing, pulang bawa ikan gabus, noken isinya sayur kadang sagu atau ambil pisang,” ceritanya.

Jenis Ekidna di Papua
Jenis-jenis ekidna adalah mamalia yang hanya dijumpai di Australia, Tasmania dan Papua Saat ini di dunia terdapat lima spesies monotremata (mamalia bertelur), yakni platipus paruh bebek (Ornithorhyncus anatinus), ekidna moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), ekidna moncong panjang timur (Zaglossus bartoni), ekidna moncong panjang barat (Zaglossus bruijnii), dan ekidna moncong panjang attenborough (Zaglossus attenboroughi).
Empat jenis ekidna telah teridentifikasi sebarannya di Papua. Ekidna moncong panjang barat (Zaglossus bruijnii) adalah jenis yang ditemukan di hutan Klalik dan wilayah Sorong Selatan lainnya, termasuk yang ditemukan di Kampung Malagufuk.
Ekidna sendiri kerap dijumpai di kondisi tanah yang lembab seperti di lubang batu dan tanah, serta bagian kayu tumbang. Ekidna hidup dengan memakan cacing. Jari dan kukunya yang panjang digunakan untuk mengorek dan menggali tanah.
Dalam daftar merah IUCN, jenis ekidna Zaglossus bruijnii dan Zaglossus attenboroughi dikategorikan sebagai Critically Endangered (amat terancam punah). Keberadaan ekidna dalam habitatnya yang terbatas, terancam akibat perubahan bentang lahan, perburuan, fragmentasi hutan, dan konversi lahan.
*****
Catatan redaksi:
Artikel ini dilakukan pembaruan pada 17 Desember 2025 pukul 14.06 untuk menambah informasi pada paragraf 15.
Dari Berburu ke Konservasi: Saat Warga Kampung Klalik Jaga Ekidna sebagai Ikon Ekowisata Papua