- Birutė Marija Filomena Galdikas dikenal Birute Galdikas, pakar dan aktivis konservasi orangutan, mengembuskan napas terakhir di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, Selasa (24/3/2026) pada pukul 04.30 waktu setempat. Birute terakhir kali berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada November 2024.
- Birute membangun kepakarannya secara khusus pada riset orangutan, satwa yang berstatus Kritis (Critically Endangered) setelah berhasil meyakinkan Louis Leakey, arkeolog dan paleantropolog untuk membimbingnya. Dari sini, ia mulai terjun ke hutan hujan tropis Kalimantan di Tanjung Puting yang waktu itu masih berstatus cagar alam, pada 1971.
- Dengan bendara OFI, Birute tidak hanya bergerak di bidang riset orangutan, tapi mempertegas fungsi lembaganya dalam rehabilitasi orangutan, yang dilakukan sejak di Camp Leakey. Orangutan yang tercerabut dari habitatnya, entah karena konflik dengan manusia atau jadi peliharaan yang terpisah dari induknya, direhabilitasi, sebelum dianggap layak dilepasliarkan kembali.
- Birute menjelaskan bahwa orangutan adalah makhluk yang cenderung soliter, berbeda dengan gorila dan simpanse. Orangutan lebih banyak menghabiskan waktunya dari pohon ke pohon, dibanding menyentuh tanah seperti kedua kera besar lainnya itu.
Usianya akan genap 80 tahun pada 10 Mei mendatang. Tapi, takdir menutup perjalanan hidupnya yang panjang bersama orangutan pada Selasa, 24 Maret 2026. Birutė Marija Filomena Galdikas, dikenal Birute Galdikas, pakar dan aktivis konservasi orangutan, mengembuskan napas terakhir di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, pada pukul 04.30 waktu setempat.
Orang-orang terdekat Birute berada di sisinya, termasuk Frederick Bohap Galdikas yang mengonfirmasi meningggalnya Sang Ibu via WhatsApp. Di sana juga ada Ruth Linsky, orang dekat dan mahasiswa doktoral bimbingan Birute.
“Saya bersama Ibu Prof dan keluarga di sini, di LA. Kita semua sedih sekali kehilangan Ibu Prof,” kata peneliti orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah ini.
Robert Ferdinand Yappi, koordinator lapangan Orangutan Foundation International (OFI) di Pangkalan Bun menjelaskan, kondisi kesehatan Birute memang bermasalah. Birute terakhir kali berada di Pangkalan Bun pada November 2024.
Dia bilang, sebelum pergi ke Amerika, Birute masih mengikuti kegiatan lapangan, mengunjungi masyarakat dan hutan yang dikelola OFI di Kabupaten Lamandau dan Kotawaringin Barat bagian hulu.
Karena kondisi kesehatan yang memburuk, belum bisa kembali ke Indonesia sejak setahun terakhir. Apa sakit yang diidapnya?
“Pneumonia,” ujar Robert.

Kiprah panjang meneliti orangutan
Birute dikenal luas sebagai ahli primata dan konservasionis. Perempuan keturunan Lituania, kelahiran Jerman, dan tumbuh besar di Kanada ini, meraih sarjana dalam bidang zoologi dan psikologi dari University of California at Los Angeles (UCLA). Dia kemudian meraih master hingga doktor di bidang antropologi dari kampus yang sama.
Dalam proses doktoral itulah, Birute membangun kepakarannya secara khusus pada riset orangutan, satwa yang berstatus Kritis (Critically Endangered) setelah berhasil meyakinkan Louis Leakey, arkeolog dan paleantropolog untuk membimbingnya. Dari sini, dia terjun ke hutan hujan tropis Kalimantan di Tanjung Puting yang waktu itu masih berstatus cagar alam, pada 1971.
Saat Birute mulai tertarik mempelajari orangutan, Leakey sudah dikenal karena risetnya terhadap fosil-fosil kera besar di Afrika, yang diakui memberikan bukti empiris proses evolusi manusia. Birute bersama murid Leakey lainnya, Dian Fossey dan Jane Goodall yang lebih dulu meneliti kera-kera besar di Afrika, selanjutnya dijuluki The Trimate atau Leakey’s Angle. Dian dengan keahlian soal gorila, Jane dengan simpanse, dan Birute dengan orangutan.
Sebenarnya, Birute bukan orang pertama dalam aktivitas rehabilitasi orangutan. Sudah ada nama Barbara Harrison sebelumnya, melalui kerja-kerjanya di Sarawak Malaysia. Birute menulis dalam otobiografinya, Reflections of Eden: My Years with the Orangutans of Borneo (1995), Leakey memperkenalkannya pada Barbara, untuk menyimak pengalaman sang pemula rehabilitasi orangutan itu sebelum pergi ke Indonesia.
Sebagai ilmuwan, Birute menjadi rujukan utama karena keberhasilannya meneliti orangutan. Dia yang pertama kali berhasil memahami perilaku orangutan secara komprehensif: bagaimana sifat, perilaku, pola dan cara makan, serta reproduksi satwa yang 97% DNA-nya sama dengan manusia itu. Dia mencatat seluruh vegetasi yang bisa dimakan orangutan dan bagaimana mereka berperan dalam pelestarian hutan melalui penyebaran biji-biji tumbuhan hutan. Ia mengikuti dan mengamati perilaku orangutan liar dari dekat.
Risetnya dilakukan dalam waktu panjang. Setelah tujuh tahun Birute berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya, berjudul “Orangutan Adaptation at Tanjung Puting Reserve, Kalimantan Tengah” yang menegaskan kepakarannya.
Bagi seorang yang datang dari negeri empat musim ke wilayah tropis yang panas dan lembap, pasti tidak mudah mengawali riset seperti ini. Serangan serangga, lintah, dan hewan seperti kelabang pun harus ia rasakan. Berkayuh sampan di sungai, berjalan, terperosok di rawa gambut, dan tinggal di pondok beratap jerami di tengah hutan yang kini disebut Camp Leakey, menjadi tantangan kesehariannya.
“Suatu malam ketika saya sedang menulis catatan, saya dikejutkan oleh seekor ular yang menjilati tangan saya. Pada waktu yang lain, kami menemukan ular di atas kasur. Selama dua minggu, kami memiliki ular terbang firdaus (Chrysopelea paradisi) yang tinggal di atap jerami kami,” tutur Birute menceritakan pengalaman pertama riset lapangannya sebagaimana dimuat dalam artikel 50 Yeats in The Field di website OFI.

Namun Birute sepertinya menikmati riset lapangan itu, meski dukungan logistik saban harinya, hanya kopi, nasi dan sarden kemasan. “Sampai-sampai mantan suamiku, Rod Brindamour, menolak makan. Tapi aku tidak pernah sampai pada titik itu! Sampai hari ini, aku masih suka nasi dan sarden,” ujarnya.
Setelah memperoleh gelar doktor, reputasi Birute makin mengkilap. Tulisan-tulisan ilmiahnya terbit di berbagai jurnal internasional. Dia mengisi konferensi dan menjadi penceramah dari universitas ke universitas dan diangkat sebagai profesor di Universitas Simon Fraser, Kanada, pada 1989.
Di Indonesia, Birute juga pernah menjadi profesor tamu di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Banyak mahasiswa Unas yang meneliti orangutan dan setelahnya bekerja sama bersama Birute dalam konservasi orangutan. Para pakar orangutan Indonesia saat ini, yang sebagiannya kemudian juga menjadi guru besar, seperti Jatna Supriatna, Endang Sukara, dan Barita Oloan Manullang meniti kiprahnya sebagai ahli primata dan konvservasionis, dalam bimbingan Birute Galdikas di Tanjung Puting.
Pencapaian dan pengakuan akademis itu tak membuat Birute meninggalkan Tanjung Puting. Dia melanjutkan kerja-kerja riset dengan membimbing banyak mahasiswa dan sarjana dari dalam dan luar negeri di Camp Leakey. Juga, menjadi pelopor aktivitas konservasi dan rehabilitasi orangutan di Indonesia.
Birute memperkuat aktivitasnya dengan mendirikan OFI pada 1986. Organisasi OFI juga didirikan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Dia pula yang turut mendorong adanya OF United Kingdom pada 1990, meski kemudian organisasi ini dikelola independen, terlepas dari OFI. Di Indonesia, lantas juga berdiri lembaga independen lain, Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) yang didirikan oleh Bohap bin Jalan, seorang Dayak dari Desa Pasir Panjang, yang menjadi suami Birute setelah berpisah dengan Rod Brindamour.
Dengan bendara OFI, Birute tidak hanya bergerak di bidang riset orangutan, tapi mempertegas fungsi lembaganya dalam rehabilitasi orangutan, yang dilakukan sejak di Camp Leakey. Orangutan yang tercerabut dari habitatnya, entah karena konflik dengan manusia atau jadi peliharaan yang terpisah dari induknya, direhabilitasi, sebelum dianggap layak dilepasliarkan kembali. Pada 1998, OFI mendirikan Orangutan Care Centre and Quarantine (OCCQ) di Desa Pasir Panjang, pinggir Kota Pangkalan Bun, sebagai pusat rehabilitasi orangutan yang baru.
Birute bersama OFI makin mendapat sorotan dunia saat behasil mengorganisir perhelatan Konferensi Kera Besar Internasional pertama di dunia pada Desember 1991. Acara ini dibuka Presiden Soeharto. Kegiatan berlangsung di Jakarta dan Pangkalan Bun. Jane Goodall, juga hadir dalam konferensi ini. Total sebanyak 93 ilmuwan dan para pihak dari 13 negara mengikuti kegiatan ini.
“Kenapa diadakan di sini, melihat karena ada Birute juga,” ujar Fajar Dewanto, Staf OFI selama 22 tahun (2001-2023).
Hasil dari konferensi ini adalah Deklarasi Tanjung Puting. Substansi deklarasi ini adalah mendesak semua bangsa di dunia untuk bekerja sama menciptakan tata dunia baru lingkungan yang melindungi keanekargaman hayati agar umat manusia dapat hidup berdampingan dengan kera-kera besar dan satwa lain yang terancam punah.
Dedikasi Birute itu mendapat ganjaran banyak penghargaan, dari dalam dan luar negeri. Salah satunya, yang paling bergengsi di Indonesia, adalah penghargaan Kalpataru pada 1997. Penghargaan ini merupakan pengakuan negara pada dedikasi warga atau komunitas yang berjasa dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Seperti menyayangi manusia
Birute bilang, orangutan adalah makhluk yang cenderung soliter, berbeda dengan gorilla dan simpanse. Orangutan lebih banyak menghabiskan waktunya dari pohon ke pohon, dibanding menyentuh tanah seperti kedua kera besar lainnya itu. Orangutan tidak bisa hidup lama di padang savana yang terik, harus tidur di ketinggian pohon. Tidak seperti gorilla yang membangun sarang di permukaan tanah.
Birute memahami semua itu dari riset panjangnya. Pemahaman yang dalam soal perilaku orangutan, menumbuhkan rasa cinta mendalam pada satwa yang di Kalimantan Tengah disebut dengan Kahiyu itu. Dia terlihat menyayangi orangutan, seperti menyayangi manusia. Jika ada yang berpendapat Birute adalah ibunya orangutan, itu tidak berlebihan. Fajar mengatakan pantang bagi Birute memukul orangutan.
“Orangutan itu sudah (dianggap) layaknya manusia,” ucap Fajar.
Fajar menilai, sayangnya Birute pada orangutan terlihat berbeda dibanding peneliti atau ahli lainnya. Situasi itu, misalnya, terlihat saat tiba waktunya untuk pelepasliaran orangutan rehabilitasi. Birute terlihat mengkhawatirkan kondisi orangutannya setelah dilepasliarkan.
“Makanya agak lama proses rehab di tempat kita. Karena keputusannya di Ibu. Hampir semua rillis orangutan, dia hadir,” jelas Fajar.
“Di lapangan Ibu minta up date. Dia punya akses ke kawan-kawan di lapangan untuk memantau orangutan,” lanjutnya.
Hal ini pula yang membuat OFI punya pendekatan agak berbeda dengan lembaga lain dalam menangani orangutan pasca pelepasliaran. Robert mengatakan staf OFI, tetap harus memonitor orangutan yang dilepasliarkan.
Bila orangutan eks rehabilitasi sakit, biasanya akan kembali ke lokasi awal dilepasliarkan. Di situlah staf OFI akan memberikan bantuan pengobatan. “Masih kita jamin selagi masih kita bisa monitor,” kata Robert.
Namun, ketika orangutan eks rehabilitasi tak lagi muncul di area studi lapangan mereka, bisa disimpulkan orangutan itu telah menyatu dengan alam. “Karena stasiun riset kita range-nya tidak terlalu besar. Jadi dalam range itu kita cuma lihat kehadirannya saja.”
Fajar menambahkan, pendekatan Birute juga dipengaruhi faktor historis. Sejak awal riset di taman nasional, Birute membuat study area untuk penelitian jangka panjang. “Ibu kenal dengan masyarakat sekitar. Secara emosional berbeda,” imbuhnya.
Di dalam area study OFI, terdapat feeding platform. Fungsinya sebagai tempat pemberian makanan tambahan untuk orangutan eks rehabilitasi yang belum sepenuhnya mandiri. “Feeding station itu awalnya buat observasi orangutan yang sudah dirillis,” jelas Fajar.

Dampak langsung dari aktivitas rehabilitasi orangutan di Tanjung Puting saat ini adalah bertumbuh pesatnya wisatawan ke sana. Feeding platform orangutan menjadi atraksi wisatanya. Balai Taman Nasional Tanjung Puting merilis angka kunjungan wisata 2025 mencapai 79.920 orang, dengan komposisi 78% wisatawan mancanegara dan 22% wisatawan domestik. Dari kunjungan itu negara memperoleh devisa sebesar Rp18,52 miliar dari ticketing, yang menjadi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Fajar Dewanto menyatakan, manfaat ekonomi dari ekowisata Tanjung Puting jauh lebih besar diterima para pelaku wisatanya. Mulai dari tour operator, guide, pemilik kapal dan krunya, menikmati langsung benefit ekonomi wisata ini.
“Bisa sampai puluhan miliar. Positifnya dari konservasi itu, masyarakat terlibat cukup banyak. Ada mata pencaharian, ada perubahan perilaku yang dulunya menebang atau menambang ke ekowisata,” ucap dia. (Bersambung)
*****