- Ritual adat Teme Pelang (merendam padi) merupakan bentuk kearifan Suku Soge di wilayah Tana Ai dalam mengelola padi. Etnis ini mengenal dua jenis kebun, yakni kebun biasa dan kebun adat. Untuk kebun adat, semua tahapan menggunakan ritual adat.
- Masyarakat Tana Ai memiliki pengetahuan lokal menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Hutan digambarkan sebagai rumah hunian para roh leluhur yang tidak boleh dirusak sembarangan.
- Budidaya padi ladang di Tana Ai dilakukan tanpa irigasi. Petani sepenuhnya mengandalkan hujan pendek pada Desember – Februari, yang selaras dengan lingkungan. Pembersihan lahan (nggua tana) dilakukan selektif. Tidak semua pohon ditebang, sebagian dibiarkan untuk menjaga kelembaban dan mencegah erosi.
- Kearifan lokal ini tengah menghadapi ancaman. Moderenisasi pertanian membawa benih instan yang perlahan menggeser varietas lokal. Generasi muda semakin menjauh dari ladang dan memilih pekerjaan di kota.
Warga Kampung Wairbou, Desa Watuomok dan Dusun Wailoke, Desa Baokremot, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, berkumpul di kebun adat mereka, Minggu (7/9/2025). Lokasinya, sebelah selatan Kali Nangagete.
Malam itu, sekitar pukul 19.00 Wita, mereka melakukan ritua adat Teme Pelang, yaitu merendam padi hasil panen di kebun adat. Padi diambil dari lumbung, dimasukan ke lima ember berisi air.
“Ada dua jenis pelang yakni pelang olung atau pelang biasa, serta pelang ramut atau pelang adat sebagai penghargaan kepada leluhur,” ucap Hendrikus Hiong, Ketua Adat Suku Soge di wilayah Tana Ai, Desa Watuomok.
Setelah padi direndam, bagian atasnya diletakan daun pepaya serta anyaman dari daun lontar berbentuk kerucut.
“Ini bentuk kearifan masyarakat, dengan harapan padi yang direndam jangan berkurang atau hilang.”

Menjaga alam dan lingkungan
Ritual adat Teme Pelang (merendam padi) merupakan rangkaian adat Tana Ai. Etnis ini mengenal dua jenis kebun, yakni kebun biasa dan kebun adat. Untuk kebun adat ,semua tahapan menggunakan ritual adat.
Ritual dimulai dari membuka kebun, mendoakan benih padi, menanam, segang (mendinginkan padi yang hendak berbulir), ekak watar (makan jagung muda), lalu ekak nalu wo (makan padi hasil panen).
Ritual dilanjutkan dengan Pati Ea, terdiri Teme Pelang (merendam padi), Wadong (menginjak padi), Pati (menyembelih hewan kurban), serta Tie Wa (mendoakan leluhur).
Laporan berjudul “Mapping Sebaran Etnik dan Strategi Adaptasi Kelompok Etnik Dalam Upaya Penguatan Sikap Multikulturalisme di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur” menggambarkan tentang etnis Tana Ai.
Dijelaskan bahwa masyarakat Tana Ai memiliki pengetahuan lokal menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Hutan digambarkan sebagai rumah hunian para roh leluhur yang tidak boleh dirusak sembarangan.
Terdapat hutan larangan, atau hutan tutupan (uin watur tuan loran), yang merupakan kawasan pengelolaan adat yang tidak semua orang boleh memasukinya. Hutan ini merupakan sumber air, sehingga dikeramatkan. Ada juga pemukiman masyarakat, tempat pertemuan adat (Kroang Kleren) dan hutan rekreasi.
“Hutan untuk pertanian berpindah (opi kare tutun tepan) digunakan untuk menanam padi dan jagung. Juga, hutan untuk upacara adat yang bertujuan meminta hujan, panen yang baik, serta perlindungan dari hama tanaman dan bahaya alam,” ulas penelitiaan tersebut.

Pertanian tanpa irigasi
Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan, Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, mengatakan, budidaya padi ladang di Tana Ai dilakukan tanpa irigasi.
Petani sepenuhnya mengandalkan hujan pendek pada Desember – Februari, yang selaras dengan lingkungan. Pembersihan lahan (nggua tana) dilakukan selektif. Tidak semua pohon ditebang, sebagian dibiarkan untuk menjaga kelembaban dan mencegah erosi.
“Penanaman dilakukan dengan tugal, metode membuat lubang kecil untuk memasukkan tiga hingga lima benih. Teknik ini mempertahankan struktur tanah dan mengoptimalkan air hujan yang terbatas,” terangnya, Minggu (7/12/2025).
Di ladang, padi ditanam bersama jagung, labu, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Sistem polikultur tersebut membentuk ketahanan pangan keluarga, mengurangi risiko gagal panen, serta menjaga kesuburan tanah. Ini merupakan praktik agroekologi yang kembali populer dalam diskusi pertanian berkelanjutan.
Menurut Darwin, masyarakat Tana Ai menanam varietas padi lokal seperti padi merah wai wua, padi putih santong, dan padi hitam. Semua varietas memiliki kemampuan adaptif terhadap kekeringan, tanah berbatu, dan gangguan hama.
Ketika banyak benih moderen bergantung pada pupuk kimia dan air melimpah, varietas lokal menunjukkan ketangguhannya di kondisi ekstrem.
“Benih disimpan secara tradisional menggunakan bambu atau alang, metode konservasi on-farm yang menjaga keragaman genetik, sekaligus menjamin ketersediaan benih setiap musim tanam,” jelasnya.
Dalam konteks krisis iklim, varietas lokal merupakan aset strategis yang harus dilindungi. Selain sistem ladang, sebagian masyarakat juga menerapkan gogo ranca, yaitu menanam padi di lahan bekas genangan ketika air mulai surut. Sisa kelembaban tanah, memicu pertumbuhan pada fase awal.
Penentuan waktu tanam juga dilakukan melalui pembacaan tanda-tanda alam: posisi bintang, arah angin, hingga kemunculan serangga tertentu.
Meski tradisional, pengalaman agroklimat ini terbukti akurat dalam kondisi iklim semi–kering. Sementara, sistem pertanian moderen bergantung pada sensor dan prakiraan cuaca.
“Masyarakat Tana Ai memadukan observasi alam dan kearifan leluhur.”

Tantangan
Menurut Darwin, kearifan lokal ini tengah menghadapi ancaman. Moderenisasi pertanian membawa benih instan yang perlahan menggeser varietas lokal. Generasi muda semakin menjauh dari ladang dan memilih pekerjaan di kota.
Sistem ladang berpindah kian terdesak oleh kebutuhan ruang dan kebijakan tata kelola lahan. Jika pengetahuan lokal ini hilang, yang punah bukan sekadar cara bercocok tanam, tetapi ekosistem pangan yang telah terbukti bertahan berabad.
“Indonesia bisa kehilangan salah satu model pertanian adaptif yang justru sangat relevan menghadapi krisis iklim,” sebutnya.
Darwin menyarankan, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat adat perlu membangun strategi keberlanjutan yang konkrit. Pertama, melakukan inventarisasi dan perlindungan varietas padi lokal sebagai plasma nutfah daerah. Kedua, mendorong riset kolaboratif untuk mengembangkan teknik budidaya berbasis kearifan lokal yang dipadukan pendekatan konservasi tanah dan air.
Ketiga, membangun pasar untuk beras lokal, khususnya beras merah dan hitam agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi petani. Keempat, memastikan regenerasi petani melalui pendidikan pertanian kontekstual dan pelibatan kaum muda dalam pengelolaan lahan adat.
Pengalaman masyarakat Tana Ai mengajarkan bahwa teknologi bukan satu-satunya jalan menuju kedaulatan pangan. Dalam keterbatasan air, padi ladang tetap tumbuh dan menjadi sandaran hidup berkat pengetahuan yang bersumber dari alam dan budaya,
“Melestarikan padi ladang Tana Ai bukan hanya menjaga tradisi, tetapi menjaga masa depan dan identitas pangan bangsa,” ungkapnya.
*****