- Ada generasi-generasi muda di Kota Bandung, Jawa Barat, lewat cara mereka masing-masing berupaya untuk menyelamatkan satwa langka seperti dugong dan bekantan dari kepunahan.
- Mikaela Clarissa, mengubah narasi konservasi dugong lewat visual dan suara anak muda dari Bandung ke Alor.
- Tak hanya aksi sendiri. Kini, Mikaela tengah menyusun sistem pelaporan berbasis warga dan memperluas jangkauan pelatihan ke desa-desa sekitar. Warga lokal pun ikut serta dalam gerakan ini melalui pendekatan sains warga (citizen science).
- Sejumlah Mahasiswa BEM Unpad ekspedisi ke Kalimantan, temukan bekantan hidup di ruang sempit. Edukasi akar rumput jadi strategi membangun rasa memiliki terhadap satwa endemik.
Ada generasi-generasi muda di Kota Bandung, Jawa Barat, lewat cara mereka masing-masing berupaya untuk menyelamatkan satwa langka seperti dugong dan bekantan dari kepunahan.
Mikaela Clarissa, misal, masuk tujuh nominator dari 307 kandidat untuk penghargaan konservasi bergengsi pada forum Future For Nature Foundation 2025.
Mika, panggilan akrab perempuan 28 tahun ini, terpilih setelah mendirikan Tamang Dugong di Pulau Pantar, Alor, Nusa Tenggara, pada 2020.
Secara konsisten dia banyak beri edukasi ihwal perlindungan dugong (Dugong dugon) lewat Dugong Sails to School beserta kampanye cerita laut sehat.
Padahal dara asli Kota Bandung ini tidak besar di laut. Latar belakangnya pun lulusan desain komunikasi visual. Dari situ, pesan konservasi lebih efektif didengar. Menyederhanakan data rumit menjadi sesuatu yang sempit.
“Saya suka satwa sejak kuliah. Makin dipahami makin menarik untuk dipelajari. Terutama cerita dibalik kehidupannya itu,” kata Mika kepada Mongabay, beberapa waktu lalu.
Semua berawal dari cerita ayahnya. Saat kecil, Mika sering mendengar kisah tentang dugong, bahkan melihat giginya yang jadi hiasan oleh pamannya.
Kisah hidupnya begitu pilu lantaran banyak diburu hanya karena dagingnya lebih “enak” dari sapi.
“Tak ada kisah lain selain itu.”
Sejak itu, dia mulai mencari tahu soal dugong. Mika menemukan kenyataan bahwa informasi tentang mamalia laut itu sangat terbatas. Dia pun berpikir, konten edukatif untuk kampanye dugong bisa jadi upaya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Mika boleh berbesar hati. Hasil dari konten itu, dia dapat small grant dari Women’s Art Alliance untuk memproduksi film dokumenter Kawal Dugong pada 2021.
“Sebenarnya, saya buat itu bukan tentang dugongnya. Tapi tentang memastikan orang-orang tahu bahwa mereka penting,” katanya.
Lewat upaya itu juga Mika menempatkan pemuda Indonesia masuk dalam barisan pemuda dunia yang bergerak menjaga masa depan.
Mereka bergerak demi menghindari kemajuan yang merusak, pertumbuhan yang memicu ketimpangan, progres yang membuat dunia makin tidak adil.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Seperti Gabriela Ochoa dari Honduras, mendirikan organisasi Ilili yang memberdayakan komunitas adat dalam pemantauan hiu dan pari manta.
Dari Nepal, Kumar Paudel, pemenang FFN 2025, menjalankan survei pangolin pertama di negaranya dan memimpin kampanye melawan perdagangan ilegal satwa.
Di Pantar, Mika memetakan populasi dugong di tiga desa, Kabir, Wailawar, dan Bana. Dia mendata enam spesies lamun yang menjadi pakan utama dugong.
Kawasan itu menghadapi tekanan. Penangkapan tidak terkendali hingga pengelolaan pesisir minim menjadi masalah.
Mika pun mengadopsi blue jobs. Konsep kegiatan yang mendukung pemanfaatan dan perlindungan sumber daya laut secara berkelanjutan, mencakup aktivitas seperti perikanan ramah lingkungan, budidaya laut berkelanjutan, ekowisata pesisir, serta konservasi ekosistem laut.
Dia memilih menanamkan inisiatif itu agar tumbuh dari desa. Dengan begitu, kerja-kerja ini tidak memisahkan kepentingan ekologi dari realitas sosial.
Kini, dia tengah menyusun sistem pelaporan berbasis warga dan memperluas jangkauan pelatihan ke desa-desa sekitar. Warga lokal pun ikut serta dalam gerakan ini melalui pendekatan sains warga (citizen science).
Perlahan, kesadaran pun muncul. Dugong bukan sekadar spesies yang harus diselamatkan. Keberadaanya sebagai penanda laut Indonesia yang sehat.

Memantau bekantan
Dari ujung muara sungai, langkah serupa juga mahasiawa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Padjajaran (Unpad) lakukan.
Sebanyak 24 mahasiswa dari berbagai jurusan melakukan Ekspedisi Nusantara Borneo tekait bekantan (Nasalis larvatus) di Pulau Bakut dan Suaka Margasatwa Kuala Lupak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Bella Mutia Tsani, Ketua Pelaksana Ekspedisi Nusantara Borneo, mengatakan, ekspedisi ini muncul dari semangat anak muda demi memahami konservasi.
Alasannya, mereka gusar dengan informasi tentang ancaman keberlangsungan hutan tanpa satwa.
“Jadi kami memilih primata endemik di Kalimantan sebagai observasi kami,” kata Ale, sapaan akrabnya, belum lama ini.
Luas kawasan konservasi bagi satwa berhidung lebar itu tidak lebih luas dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Kondisinya jauh dari bayangan mereka soal kawasan konservasi.
“Semula dalam bayangan kami habitat satwa itu berarti tempat yang sulit diakses. Minimalnya, kawasan yang ideal untuk melakukan penelitian. Ini berbeda sekali, jauh dari perkiraan kami.”
Di ruang sempit itulah, sekumpulan primata khas Kalimantan itu berusaha bertahan. Mereka hidup terapit oleh tambak ikan, lahan pertanian, dan lalu-lalang tongkang pengangkut batubara.
Meski tak mendata terkait populasinya, Ale bilang jumlahnya cukup padat di lahan yang terbatas. Ketersediaan pakan pun menjadi tantangan keberlajutan hidup mereka. Apalagi, kedua pulau itu terisolasi dari daratan utama Pulau Kalimantan.
Tim mencatat dari pengukuran dissolved oxygen (DO) menunjukkan kualitas air di bawah standar sehat, sekitar 3 ppm (di bawah ambang 5 ppm). Bahkan, di area lintasan kapal tongkang kualitas air bisa jauh lebih buruk.
“Secara visual kelihatan tenang, tapi datanya menunjukkan tekanan besar,” kata Stepanus, mahasiswa Hubungan Internasional, anggota ekspedisi.
Ruang jelajah pun menjadi masalah lain yang mereka identifikasi. Penyebabnya, fragmentasi kawasan membuat primata yang selalu membentuk koloni dari 3-10 individu ini sulit membentuk kelompok baru karena rentan terjadi perkawinan sedarah.
Habitatnya berada di ekosistem tepi sungai, terutama di muara sungai. Satwa ini memiliki hidung khas dan memanjang dengan.
Di tengah kerusakan habitat yang kian meluas, satwa dengan rupa memiliki bulu berwarna coklat kemerahan serta perut buncit menunjukkan perubahan perilaku.

Ale menuturkan, primata arboreal ini mulai berpindah ke area yang lebih terbuka seperti kebun karet atau semak belukar di tepi sungai, meski tetap menggantungkan hidupnya pada pohon-pohon besar untuk tidur dan berlindung.
“Ini menjadi peringatan bahwa habitat alami seperti mangrove harus segera dipulihkan agar spesies endemik Kalimantan ini tak terus terdesak.”
Hegel Emre Shevgeno, Ketua Departemen Lingkungan Hidup BEM Unpad mengatakan, eksplorasi ini bukan kali pertama. Dalam tiga tahun lalu, tim mahasiswa meneliti orangutan di Leuser, komodo di Pulau Komodo, dan gajah di Way Kambas.
Tim ekspedisi juga mendatangi enam SD dan dua SMA di sekitar kawasan konservasi. Mereka bercerita soal bekantan, menunjukkan video dan foto dari lapangan, menjelaskan mengapa satwa ini penting bagi ekosistem rawa dan pesisir.
“Respon anak-anak cukup antusias. Mirisnya, mereka kenal gambar bekantan, tapi tidak tahu kalau hewan itu benar-benar hidup di dekat rumah mereka.”
Dari Bandung ke laut dan rawa, mereka tak sedang mencari panggung. Mereka sedang mencari cara agar yang nyaris hilang, masih punya jalan untuk pulih.

*****