- Seperti wilayah lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten Ngada memiliki potensi bahaya kekeringan tinggi. Bagi sebagian orang, hal ini disebabkan karena minimnya curah hujan akibat fenomena angin muson timur yang memperpendek periode hujan di wilayah NTT.
- Namun, sebagian masyarakat lokal menduga, hal ini diperburuk adanya tegakan pohon ampupu (Eucalyptus urophylla S.T. Blake) hasil kegiatan reboisasi yang dilakukan pemerintah daerah pada 1970 hingga 1980-an.
- Dugaan mengenai genus Eucalyptus yang menguras air tanah, telah menjadi perdebatan para ahli, bahkan masyarakat umum secara global. Di beberapa negara, pohon ini sudah dilarang, namun penelitian lainnya menyebut dugaan ini tanpa dasar ilmiah yang kuat.
- Di sisi lain, kebijakan untuk melakukan aforestasi pada ekosistem sabana, bisa jadi counter-productive dengan tujuan mitigasi perubahan iklim atau pemanasan global. Dan ini sudah dikritik sejak lama oleh para ahli, mengingat potensi besar ekosistem sabana dalam menyimpan karbon.
Di tengah rimbunnya hutan bambu, sejumlah warga sibuk memenuhi dua mobil tangki air dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter. Selang karet mulai menguras air di sebuah kali yang berada di tepi aliran sungai kecil.
“Ini namanya kali Dameze,” kata Ardin Liko, tokoh pemuda di Kabupaten Ngada, akhir Agustus 2025 lalu. Menurutnya, kali itu itu sumber mata air alami masyarakat desa di sekitar Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Untuk 1.000 liter air, masyarakat harus membayar Rp200 ribu,” kata Ardin, yang menetap di Kampung Beiposo, Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa.
Meskipun terkenal dengan hutan bambunya, seperti wilayah lain di Pulau Flores, Ngada merupakan kabupaten yang hampir setiap tahunnya dibayangi ancaman kekeringan atau krisis air.
Kasus kekeringan pernah melanda sejumlah desa di Ngada pada 2020, 2021, 2023, 2024, dan 2025 (Februari). Mengutip Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045, Kabupaten Ngada memiliki potensi bahaya kekeringan seluas 166.517 hektar (kelas tinggi), sementara luas daratannya 173.683 hektar.
“Kekeringan tidak hanya mengancam sejumlah lahan pertanian, baik itu sawah, ataupun kebun kopi, tapi juga menyulitkan air minum warga,” lanjut Ardin yang juga Ketua KOPI (Koalisi Orang Muda untuk Perubahan Iklim), Ngada.
Pada sektor perkebunan kopi, warga Ngada menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim; yaitu musim kemarau panjang diselingi hujan tidak menentu. Sementara pada 2023, tercatat sekitar 250 hektar sawah di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolo Meze, Ngada, mengalami kekeringan.

Bagi sebagian orang, penyebab kekeringan di Ngada atau NTT secara umum, merupakan dampak minimnya curah hujan. Ini dipengaruhi angin muson timur yang bersifat kering, berembus dari Australia menuju Asia sekitar April-Oktober. Angin ini menyebabkan minimnya curah hujan dan pendeknya periode penghujan di NTT.
Namun, bagi sebagian orang lainnya, adanya tegakan pohon ampupu (Eucalyptus urophylla S.T. Blake) yang mendominasi perbukitan dengan ekosistem sabana, dianggap memperburuk kekeringan wilayah mereka.
“Dulu bukit-bukit di sini hanya sabana rumput hijau, tapi sekarang banyak ampupu,” kata Ansel Menge, petani kopi saat ditemui di puncak Gunung Ata Gae, bagian dari lanskap Cagar Alam Watu Ata yang luasnya sekitar 4.898,80 hektar.
Mantan Ketua Kelompok Tani Fa Masa itu mengatakan, banyaknya pohon ampupu di sekitar hutan Watu Ata, merupakan hasil reboisasi Pemerintah Daerah Ngada. Tahun demi tahun berlalu, ratusan pohon itu sebagian tingginya lebih dari 10 meter.
“Sejak itu, belasan mata air di Ata Gae mengering,” katanya. “Dulu, banyak pohon bambu di sekitar aliran sungai yang sekarang berganti ampupu. Setelah itu, habis mata air kami,” lanjutnya.
Tidak hanya di Watu Ata, program reboisasi kisaran 1970–1980-an ini juga dilakukan di 11 Kabupaten di NTT, yakni Kupang, TTS (Timor Tengah Selatan), TTU (Timor Tengah Utara), Belu, Alor, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, dan Sumba Timur, yang luasnya mencapai 12.045,24 hektar (I Komang Surata, 2015).
Seperti namanya, ‘reboisasi’ adalah penanaman kembali pohon di hutan yang telah rusak atau gundul agar berfungsi kembali. Menurut Ansel, ada sejumlah titik hutan yang rusak karena penebangan liar. Tapi, yang perlu dicatat adalah, sebagian kondisi bukit di Ngada dan NTT pada umumnya berupa sabana rumput.
“Itu tidak rusak, memang begitu adanya.”
Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, vegetasi ampupu juga tumbuh di sekitar kaki Gunung Inerie, termasuk di bukit Watu Nari Wowo atau biasa disebut Bukit Avatar.
Ardin mengatakan, ampupu di sekitar Watu Nari Wowo juga bagian agenda reboisasi yang dilakukan pemerintah daerah.
“Tujuannya untuk penghijauan, wilayah air, serta mitigasi perubahan iklim,” katanya. “Tapi memang, banyak masyarakat yang menuduh ampupu memperburuk kekeringan.”

Perdebatan
Pohon ampupu dengan nama ilmiah Eucalyptus urophylla S.T. Blake merupakan tanaman endemik Indonesia. Tersebar terbatas di Timor, Flores, Wetar, Lembata (Lomblem), Alor, Adonara, dan Pantar.
Sejak 2019, ampupu terdaftar sebagai spesies pohon berstatus Genting (Endangered/EN) berdasarkan Daftar Merah Spesies Terancam IUCN. Kayunya yang berat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi, jembatan, lantai, rangka, serta kayu bakar. Minyak atsiri dari daunnya memiliki sifat disinfektan, digunakan dalam pembuatan sabun dan industri parfum.
Di Indonesia, genus Eucalyptus dikenal dengan nama akasia, tanaman primadona di kawasan HTI (Hutan Tanaman Industri). Secara global, ia adalah genus hutan yang paling banyak dibudidayakan di seluruh dunia, dengan luas sekitar 25 juta hektar.
“Genus ini menonjol karena produktivitasnya tinggi, serba guna, serta jenis yang beradaptasi dengan baik di berbagai kondisi tanah dan iklim,” tulis penelitian Medeiros dan kolega (2025).
Namun, dibalik manfaat dan dominasinya, perdebatan Eucalyptus mengenai potensi dampaknya terhadap sumber daya air, terutama di wilayah dengan ketersediaan air terbatas, dengan mitos bahwa “eukaliptus mengeringkan tanah” terus bergulir dikalangan ahli, hingga masyarakat umum.
Eucalyptus sudah dilarang di beberapa wilayah, seperti di Karnataka (India), Serra do Estado do Espírito Santo (Brasil), Portugal, dan di beberapa “zona sensitif” (daerah dengan curah hujan <400 mm, tepi sungai, rawa dan yang dekat tanaman) di Kenya (Afrika).
Medeiros dan kolega, melalui penelitian, coba menguraikan kontroversi ini. Mereka, meninjau 200 karya yang diterbitkan dari 1977 hingga 2024 untuk mensurvei semua informasi, apa yang disebut mitos “eukaliptus mengeringkan tanah” ini.

Hasilnya, sebagian besar pelarangan eucalyptus yang dikutip, dihasilkan dari kesimpulan berdasarkan reboisasi gagal dan dikelola dengan buruk atau kesalahpahaman penanaman, menyebabkan hasil yang tidak diinginkan.
Mereka menyebut, sebagian besar dugaan tentang keseimbangan air tanah hanya berlandaskan pendekatan sederhana. “Tanpa dasar ilmiah apa pun,” tulis Medeiros dan kolega.
Secara umum, penyebab sebenarnya degradasi adalah penyalahgunaan lahan, pengelolaan hutan yang buruk, praktik silvikultur ceroboh, interpretasi keliru tentang cara kerja ekosistem hutan, dan bahkan dampak lingkungan yang disebabkan faktor-faktor selain eukaliptus itu sendiri.
Di sisi lain, kesimpulan yang terburu-buru menyatakan bahwa beberapa spesies eukaliptus dapat berkontribusi terhadap berkurangnya air tanah. “Secara efektif, tanpa pengelolaan yang tepat, dampak lingkungan perkebunan eukaliptus sama dengan dampak tanaman yang dikelola dengan buruk,” lanjut penelitian tersebut.
Di akhir penelitian, mereka menyarankan sejumlah upaya budidaya eukaliptus agar tidak berdampak negatif pada sumber daya air, seperti menjaga tutupan hutan asli yang memadai untuk menjamin jasa ekosistem, budidaya berdasarkan peta zonasi, serta mempertimbangkan kekhasan lokal (misalnya, tanah yang lebih dalam dan berpasir lebih disukai).
Dalam penelitian lainnya, Segtowich dan kolega (2025) menyatakan, spesies E. urophylla (ampupu) memiliki tingkat konsumsi air paling rendah dibandingkan dua spesies lain, yakni Eucalyptus grandis dan Eucalyptus camaldulensis.
“Penelitian ini menggarisbawahi peran potensial ampupu dalam mencapai produktivitas tinggi dengan konsumsi air relatif lebih rendah.”

Kontra produktif
Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Medeiros dan kolega (2025), pelarangan ampupu dalam sejumlah penelitian merupakan dampak dari kegiatan reboisasi yang ceroboh, atau tidak memperhatikan kekhasan sebuah ekosistem.
Di NTT, gerakan reboisasi ampupu yang dilakukan 1970 hingga 1980-an, mulai menunjukkan dampak negatifnya dalam beberapa tahun terakhir. Ini juga dikuatkan keterangan Johan Iskandar, Guru Besar Etnobiologi, Departemen Biologi FMIPA, Universitas Padjadjaran [UNPAD].
Pendapat penduduk yang berlandaskan pada pengetahuan lokal/local knowledge (LK) atau pengetahuan ekologi tradisional/traditional ecological knowledge (TEK), yang menyatakan ampupu dapat menyebkan kekeringan dataran tinggi, ada benarnya.
“Mengingat, ampupu memiliki laju evapotranspirasi atau menguapkan air yang tinggi. Maka, apabila air yang masuk ke tanah melalui air hujan lebih sedikit dari laju evapotranspirasi tumbuhan di musim kemarau, hal ini dapat menyebabkan lahan kering,” terangnya, kepada Mongabay Indonesia, Senin (20/10/2025).
“Penghijauan di lahan kering yang memiliki curah hujan rendah, harus dilakukan hati-hati, terutama dalam memilih jenis tanaman. Apabila salah memilih jenis tumbuhan yang memiliki laju evapotranpirasi tinggi, tentu akan terjadi anomali. Yaitu, makin rimbun vegetasi penghijauannya, tetapi makin kurang air atau kering wilayahnya,” lanjutnya.
Johan menjelaskan, dia pernah mengunjungi kawasan perbatasan timor dan Timor Timur. Di sana, banyak penduduk yang memangkas pagar hidup di kebun-kebun jagung mereka. Ternyata, ini kearifan ekologi penduduk, bahwa vegetasi lamtoro mempunyai laju evapotranspirasi tinggi.
Maka, pada musim kemarau yang tanahnya kurang air, bagian atas pohon lamtoro dipangkas sampai habis agar laju evapotransipirasinya rendah. Hasil pangkasan digunakan penduduk sebagai pakan alternatif ternak.
“Sejatinya, kondisi alami kawasan Flores adalah padang rumput luas. Penduduk lokal tentu punya pengetahuan tersendiri dalam hal pengelolaan dan pemanfaatannya,” terangnya.

Yusuf Bahtimi, kandidat doktor di The Queen’s College, University of Oxford di Inggris mengatakan, secara umum penanaman ampupu (aforestasi) tanpa memperhatikan karakter sabana, bisa jadi counter-productive.
“Ini sering menjadi isu klasik dalam restorasi/reboisasi,” katanya, Selasa (21/10/2025).
Penanaman pohon harus melihat karakter khas masing-masing iklim.
“Fenomena ini harus dikaji dalam. Pertanyaan seperti apakah kita perlu melakukan revegetasi sabana juga sangat penting.”
Pada prinsipnya, kejadian seperti di wilayah NTT, tidak mungkin berdiri sendiri, ada banyak faktor yang saling berkontribusi.
“Dengan karakter lanskap sabana, bisa jadi treatment yang diperlukan berbeda.”

Masalah ekologis
Penelitian Veldman dan kolega (2019) mengenai potensi “restorasi pohon” untuk menangkap karbon dalam kegiatan reboisasi ternyata tidak sebesar yang digaungkan. Ada risiko pemodelan yang tidak akurat serta dampak ekologis negatif (seperti peningkatan pemanasan di beberapa daerah dan kerusakan ekosistem padang rumput/sabana) yang perlu dipertimbangkan.
Secara spesifik, kajian tersebut menyebutkan bahwa mengandalkan penanaman pohon di padang rumput dan sabana sebagai solusi iklim utama, dapat menyebakan masalah ekologis.
Lebih lanjut, padang rumput dan sabana secara alami merupakan ekosistem dengan tutupan pohon rendah. Ini adalah habitat yang kaya keanekaragaman hayati (biodiversitas) unik, mendukung berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang bergantung pada padang rumput, bukan hutan.
“Tutupan pohon rendah dipertahankan alami selama jutaan tahun oleh faktor-faktor seperti kebakaran dan herbivora besar. Kedua faktor ini menjaga keseimbangan antara rumput dan pohon,” tulis Veldman dan kolega.
Asumsi bahwa area tanpa pohon, misalnya sabana, tidak memiliki karbon organik tanah juga keliru. Padang rumput dan sabana adalah penyimpan karbon tanah yang sangat efektif.
“Sebagian besar karbon di ekosistem tersimpan di tanah, bukan di biomassa pohon di atas tanah. Bahkan, di beberapa ekosistem, penanaman pohon bisa mengganggu karbon tanah yang sudah ada.”

Penelitian Bastin dan kolega (2019) menyatakan padang rumput dan sabana sebagai lokasi potensial untuk restorasi menggunakan pohon dianggap “tidak akurat dan keliru.”
Dijelaskan Veldman dan kolega, sabana dan padang rumput sudah mendahului manusia sejak jutaan tahun; pembentukannya hasil interaksi ekologi dan evolusi kompleks di antara tanaman herba (rumput dan forb dengan akar luas dan organ penyimpanan bawah tanah), perubahan lingkungan (pendinginan iklim, pengeringan, perubahan CO2 atmosfer ), kebakaran (pertama kali dinyalakan oleh petir, kemudian oleh manusia), dan herbivora besar.
Ekosistem ini dan spesies ikoniknya sudah sangat terancam oleh pengecualian kebakaran dan penghijauan, sebuah proses yang menggantikan komunitas biotik beragam dengan hutan yang memiliki keanekaragaman lebih rendah.
“Penanaman pohon yang berfokus pada karbon akan memperburuk ancaman ini. Merugikan orang-orang yang bergantung pada padang rumput untuk menyediakan pakan ternak, habitat buruan, dan pengisian ulang air tanah dan air permukaan,” tegas penelitian tersebut.
Referensi:
Bastin, J.-F., Finegold, Y., Garcia, C., Mollicone, D., Rezende, M., Routh, D., Zohner, C. M., & Crowther, T. W. (2019). The global tree restoration potential. Science, 365(6448), 76–79.
I Komang Surata. (2015). Sebaran dan Konservasi Ampupu (Eucalyptus urophylla S.T. BLAKE) di Nusa Tenggara Timur. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas Savana Nusa Tenggara Timur. https://repository.bbg.ac.id/bitstream/437/1/SEMNAS-Biodiversitas-2015.pdf
Medeiros, P. L. de, Pimenta, A. S., Miranda, N. de O., Melo, R. R. de, Amorim, J. da S., & Azevedo, T. K. B. de. (2025). The myth that eucalyptus trees deplete soil water—A review. Forests, 16(3), 423.
Segtowich, A. de C., Santos, C. R. C. dos, Barreto, M. L. R., Ortega, N. F., Lima, F. T., Carvalho, P. A. Á. F. de, Delgado Rojas, J. S., Ferraz, A. de V., & Gonçalves, J. L. de M. (2025). Comparative analysis of productivity, transpiration and water use efficiency in three Eucalyptus species with different drought tolerance levels. Trees, Forests and People, 22, 101053. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.tfp.2025.101053
Veldman, J. W., Aleman, J. C., Alvarado, S. T., Anderson, T. M., Archibald, S., Bond, W. J., Boutton, T. W., Buchmann, N., Buisson, E., & Canadell, J. G. (2019). Comment on “The global tree restoration potential.” Science, 366(6463), eaay7976.
*****